1



Photo by thenewfury.com

Matilah kau poser!

 

Longlifemagz – Sudah bukan pemandangan asing bagi para pecinta musik underground bila terdapat aksi brutal di tengah konser atau gig. Di kalangan metalhead, punker, dan hardcore, tarian brutal itu lebih lebih dikenal dengan sebutan moshing.

Tak banyak khalayak yang mengerti dan memahami arti dan makna moshing, bahkan saya sendiri sebagai pelaku scene punk rock hanya memaknainya sebagai bentuk keselarasan antara musik dan emosi ketika pertama kali menemukan pemandangan tersebut.

 

Makna Ideal “Moshing” dan Realitanya Sekarang

Muhamad Robbyansyah dalam jurnalnya yang berjudul “Sebuah Kajian Cultural Criminology atas Moshing dalam Konser Underground ” (2011: 340) mengatakan bahwa, moshing tidaklah berbeda dari sebuah ritual, sebuah hasil penggambaran simbolik atas para pengikutnya yang memiliki bahasa-bahasa dan sarana interaksi multiintepretasi yang layak dan dapat dipertanggungjawabkan.

Halnon (2006) juga menambahkan bentuk-bentuk attribute dan aksesoris dari masing-masing scene underground dengan mengasosiasikan moshing kedalam bentuk simbolis. Bentuk simbolis itu secara keseluruhan, elemen, dan ‘keanggotaan’-nya terdapat dalam komunitas underground—memakai moshing sebagai sebuah bentuk simbolik, sebuah makna yang selalu sama atas apa yang mereka perjuangkan dan suarakan: perlawanan.

Apa yang dipaparkan Halnon dan Robbyansyah merupakan bentuk ideal dari moshing. Kenyataannya, persepsi tersebut telah terjungkal ke dalam fantasi estetis semata, ke dalam hasrat dan kepuasan semu yang telah mencerabut esensi.

Dengan kata lain, moshing berubah dari sebuah ritual menjadi sebuah joget ‘yang penting seru’. Di Indonesia sendiri, proses pengartikulasian makna simbolik dan interpretasi mengalami kerancuan yang tak terhindarkan.

Hal itu terjadi baik di dalam arus major dan indie. Ditambah dengan kemajuan arus informasi yang mempermudah terciptanya kanal-kanal penyebar kerancuan tersebut, makna moshing menjadi semakin kabur.

“Kenyataannya, persepsi tersebut telah terjungkal ke dalam fantasi estetis semata, ke dalam hasrat dan kepuasan semu yang telah mencerabut esensi.”

Sebutkanlah goyangan lokal seperti goyang dumang atau goyang itik, lalu hadapkan dengan ritual moshing, headbang, dan stage-dive. Yang kemudian terafirmasi oleh publik hanyalah bentuk tari yang memiliki perbedaan material dan persepsi negatif.

Hal tersebut tidak lepas dari relasi sosial-ekonomi-budaya. Relasi tersebut berada pada dimensi akses dan dimensi konsumsi. Akses tersebut memiliki batasan-batasan yang sejalan dengan seberapa besar isi dompet dan budaya yang digaulinya.

Pemahaman atas moshing akan menjadi tidak lengkap bila kita tidak memahami budaya underground. Peter Golding dan Graham Murdoch (1991) menjelaskan pemahaman terhadap budaya underground sebagai berikut,

“…memfokuskan pada interaksi timbal-balik antara dimensi simbolik dan dimensi ekonomis komunikasi publik (termasuk musik pop). Pendekatan ini bermaksud menunjukkan bagaimana cara pembiayaan dan pengorganisasian sebuah produk budaya yang berbeda dan mempunyai berbagai konsekuensi yang membekas pada sederet wacana dan representasi di ranah publik dan pada akses khalayak terhadap wacana dan representasi itu.” (Golding, P. Murdoch, G. 1991. 15)

Sederhananya, bentuk dari budaya underground secara keseluruhan bukanlah sebuah tampilan yang tanpa pesan atau kosong. Budaya underground memiliki wacana yang tidak bebas dari nilai dan tujuan tertentu. Karenanya, budaya underground patut dipahami oleh para pelaku dan penikmat musik underground itu sendiri agar kemunduran pemaknaan dan orientasi movement-nya dapat sedikit demi sedikit kembali dimaknai dengan benar.

Tulisan ini sebenarnya dibuat untuk dapat memicu terjadinya dialektika pendapat, terutama oleh mereka yang lebih dahulu menjadi pegiat scene underground. Selain itu, tulisan ini juga hadir untuk memproyeksikan kembali upaya-upaya edukasi dalam bidang musik agar jebakan slogan dan sirkulasi ekonomi tak berhenti pada urusan profit semata.

 

Wacana dan Konstruksi Pemikiran atas Moshing

Wacana dan konstruksi pemikiran yang dituangkan kedalam ritual moshing merupakan bagian dari perlawanan terhadap dominasi budaya populer. Adapun sejarah kelam yang sempat mengotori wajah musik underground seperti peristiwa kematian beberapa penonton di konser beside dan beberapa konser lainnya terjadi tanpa unsur kesengajaan.

Artinya, kita juga harus mengajukan pertanyaan kepada publik mengenai kerusuhan sebagai suatu indikator atas sebuah subkultur musik. Contohnya, acara konser dangdut yang juga memakan korban. Jadi, pelabelan terhadap musik underground sebagai biang keladi kerusuhan adalah sebuah kekeliriuan.

Pelabelan itu bisa jadi juga merupakan sebuah kesengajaan yang diproduksi oleh pihak ‘status-quo’ atau mereka yang pro terhadap industri musik mainstream (major label) agar dapat mempertahan pop culture, meski asumsi ini pun masih bersifat prematur.

Bagaimanapun, istilah musik sebagai wadah persatuan tidak bisa dipercaya begitu saja saat ini. Sebab pada kenyataannya, pola pemasaran dan persaingan dalam industri musik menggambarkan sebuah paradoks dari wacana musik sebagai wadah persatuan.

 

Bagan 2.1 Konstruksi Moshing yang dilakukan oleh Pihak Dominan (Media Massa, Pemerintah, Masyarakat Awam)

Bagan ini menggambarkan pembentukan konstruksi makna yang dilakukan oleh pihak-pihak dominan seperti media massa, pemerintah, dan juga masyarakat. Konstruksi makna ini digunakan dalam memaknai fenomena moshing di dalam konser musik underground.

Fokus artikel ini adalah untuk memaparkan konstruksi yang dilakukan, kemudian mengadakan dekonstruksi atas penerapan konstruksi yang dilakukan oleh pihak dominan dengan menggunakan analisa wacana sebagaimana tergambar pada bagan selanjutnya.

 

Bagan 2.2 Grafik Proses Dekonstruksi Makna Moshing

 

Pada Bagan ini diperlihatkan proses dekonstruksi yang akan dipaparkan di dalam tulisan ini. Proses dekonstruksi dimulai dari konstruksi moshing sebagai sebuah budaya yang dijadikan subordinat oleh pihak-pihak dominan.

Kemudian, proses dekonstruksi dilanjutkan dengan memecah wacana-wacana atas konstruksi tersebut dengan memberikan pemaparan secara etnografis, menggambarkan pola interaksi budayanya, dan menyalurkan makna-makna simbolik yang terdapat di dalam moshing itu sendiri.

Proses dekonstruksi berujung pada pembentukan konstruksi baru atas makna dan representasi moshing sebagai sebuah budaya produk dominan yang berada di pinggiran.

Note : Gambar dan penjelasan di atas diambil dari jurnal Jurnal Kriminologi Indonesia Vol. 7 No.III Desember 2011: 340–354 SEBUAH KAJIAN CULTURAL CRIMINOLOGY ATAS MOSHING DI DALAM KONSER UNDERGROUND.

Kedalaman makna yang tersirat dari pola konstruksi wacana tersebut musti dipahami dan diaktualisasikan ulang ke dalam kondisi riil agar tiap-tiap pelaku musik underground dapat meng-counter  kemapanan pihak dominan yang telah mengkooptasi kultur underground.

Hal ini juga perlu dipahami oleh para “poser”, sebutan bagi mereka yang menjadi korban pasar dan secara tidak sadar menopang kemapanan tersebut.

 

Ruang Dialog: Solusi Rekonstruksi Paradigma Moshing

Keberadaan ruang dialog dalam setiap scene rasanya baik dalam membangun kembali paradigma moshing pada setiap scene atau komunitas underground. Jangan sampai industri musik yang di dalamnya penuh dengan brand apparel dan media menghabiskan nafas ideologis underground dan membuangnya ke dalam keranjang sampah.

Memahami apa yang terlewat oleh generasi underground hari ini mengingatkan saya kepada perkataan Joe Strummer, “Know your rights!“. Memahami makna sebenarnya dari moshing juga mengingatkan saya pada perkataan Kurt Cobain bahwa “Punk adalah kebebasan atas luka, kebebasan atas sebuah penderitaan, dan saya pikir, musik underground merupakan perwakilan dari suara-suara yang tak tersuarakan oleh parlemen dan pihak pengontrol kartel”.

 

 

 


FIND US ON

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.

 

Pin It on Pinterest

Share This