1



Doc : bbc.com

Sebenarnya, apakah ada musik yang mampu menciptakan perubahan sosial? Atau jangan-jangan musisi menciptakan protest song hanya ingin terlihat intelektual?


Longlifemagz – Sesungguhnya tidak ada apa yang dinamakan sebagai lagu protest song atau kalau memaknai Guruh Soekarnoe Putra dalam video yang diunggah oleh sound form the corner tidak boleh memakai bahasa asing, Sesungguhnya tidak ada apa yang dinamakan sebagai lagu protes sosial.

Tentang ini, Bob Dylan, musisi yang bisa dikatakan sebagai bengawan dalam urusan ini, mengatakan beberapa saat sebelum menyanyikan “Blown’ in the Wind” untuk pertama kalinya, “This here ain’t a protest song”. Rekan seangakatan Dylan, Joan Baez, yang paling kita kenal karena menyanyikan lagu-lagu tentang perjuangan persamaan hak-hak sipil serta anti Perang Vietnam juga mengatakan bahwa, “I hate protest songs, but some songs do make themselves clear”

Bahkan banyak orang yang curiga dengan musik protes sosial. Tom Robinson, seorang penulis lagu-lagu politis yang juga terkenal di dekade 1970-an, mengemukakan kecurigaan bahwa jangan-jangan orang menulis protest song hanya untuk “peddle your second-rate pop music or peddling your second-rate political ideals on the back, of your political carrer.” Atau jangan-jangan musisi menulis lagu-lagu protes sosial hanya ingin dianggap pintar, dan mengutip isitilah netizen Indonesia, hanya ingin eksis belaka.

BACA : PERJALANAN AWAL INDUSTRI MUSIK INDOENSIA

Indonesia, sebagai negara dunia ketiga dengan jumlah penduduk yang sangat majemuk, tidak terlepaskan juga dengan apa itu yang dinamakan lagu-lagu protes sosial. Hampir tidak ada musik protes sosial yang gagal secaara artistik. Jawabanya sebenernya sederhana: karena lagu protes sosial adalah musik pop yang bagus.

Komposisi-komposisi mutakhir pop yang berisi social commentary seperti Efek Rumah Kaca atau musik Rap dari Homicide atau bahkan Pandji Pragiwaksono adalah musik-musik dengan komposisi nomor wahid yang tidak akan pernah mati di gerus zaman.

Saya tidak akan pernah bisa berhenti mengamini  semua lagu-lagu yang diciptkan oleh Bob Dylan, Joan Baez, Efek Rumah Kaca atau bahkan Merah Bercerita. Namun rasa penasaran saya tentang protest song lebih besar kepada seorang musisi yang selalu membawa perdamaian, entah itu karena musiknya atau ideologinya yang tidak terlihat namun terasa dimana-mana.

BACA : SWEET SEVENTEEN THE UPSTAIRS

Siapa yang tidak kenal dengan Robert Nesta “Bob” Marley, sebagai seseorang yang lahir dari rahim seorang budak kulit hitam, Bob Marley tidak akan pernah lepas dengan kata ‘Perjuangan’. Ketimpangan kelas sosial yang sangat tajam dalam masyarakat Jamaika menjadikan alasan dalam kata perjuangan itu.

Tapi saya tidak akan menceritakan bagaimana Bob Marley besar dengan segala karya, pengaruh ia terhadap masyarakat, atau bahkan dengan Rastafaria yang ia imani.

Doc : rosshalfin.com

Saya bukan penikmat musik Bob Marley yang sangat fanatik, saya tidak berambut gimbal, atau bahkan saya bukan seseorang yang vegetarian. Namun, lagu dalam album Burnin’ yang bertajuk “Get Up Stand Up” membawa saya kedalam pemahaman bahwa musik bisa menjadi sebuah alat perlawanan hingga saya harus menuliskan artikel ini.

“get up stand up, stand up for your right!
get up, stand up, don’t give up the fight!

Demikian sebuah penggalan lirik dari salah satu lagu tersebut. Lagu yang dirilis pada tahun 1973 dan menjadi lagu terlaris di album Burnin’. Versi semua orang yang mengimani Bob Marley sebagai “Nabi”, lagu ini sering dibawakan oleh Marley di tengah-tengah masyarakat kelas bawah Jamaika. Lagu ini merupakan representasi perlawanan masyarakat kulit hitam terhadap segeregasi dan diskriminasi rasial. Selain itu, lagu ini juga mengambarkan karakter Marley yang menganut ajaran Rastafarian.

Penindasan memang marak terjadi pada mereka, bahkan aturan Jim Crow di amerika serikat berkumandang pada tahun 1876 yang tujuannya adalah membatasi orang-orang kulit hitam untuk menikmati fasilitas publik. Fasilitas yang diberikan oleh mereka lebih jelek dibandingkan dengan orang-orang kulit putih. Lebih tragisnya, mereka dipinggirkan dari kehidupan modern.

Kembali ke persoalan protest song, aliran musik yang diusung oleh Marley dalam lagu ini membuat cita rasa ‘Seruan terhadap gerakan” menjadi kian nikmat,santai, dan tidak ada gejolak yang tinggi dalam sebuah gerakan.

Marley menggambarkan masyarakat kulit hitam yang tertindas dalam lagu ini dalam liriknya; “I know you don’t know, what life is really worth.” Mereka benar-benar tidak tahu bagaimana hgarus hidup dengan layak. Mereka dibawa dari Afrika menuju Amerika dan dijadikan budak bagi orang-orang kulit putih.  Mereka dijadikan barang dagangan, dijadikan sebagai media pertunjukan layaknya binatang sirkus. Jika berontak terhadap majikannya, mereka seketika dianggap kriminal dan pantas untuk dibunuh.

BACA : ANTARA MOSHING, UNDERGROUND, DAN BUTA MAKNA

Tapi apa yang lebih indah dari itu, bahwa Marley membantah anggapan bahwa “jangan-jangan musisi menulis protest song karna ingin dilihat pintar atau bahkan ini hanya ada kepentingan belaka”. Marley bukan lagi musisi kelas teri, ia berhasil menagkap semua permasalahan yang ada di sekitar, bahkan dirinya sendiri dan dikemas menjadi sebuah lagu atau sajak yang bisa saja meng-gugah bagi pendengar. Sampai mungkin pendengar berkata, “anjir, gue banget nih lagu”.

Satu hal yang harus kita sepakati, bahwa dari lagu ini saja banyak sesuatu edukasi yang kita ambil –khususnya musik sebagai gerakan sosial. Belum lagi, kita mengkaitkan lagu ini kepada lagu berikutnya yang juga diciptakan oleh Bob Marley –Redemption Song- pada tahun 1980 yang mungkin saja diulas untuk artikel berikutnya.

Untuk selanjutnya, apakah Get Up Stand Up, Redemption Song, dan lagu lain yang diciptkan Bob Marley untuk menuntut kesetaraan berhasil atau tidak, kita harus kembalikan lagi terhadap bagaimana perlawanan yang sesungguhnya terjadi. Menurut saya, musik ini menjadi pengikat, atau di ibaratkan bensin yang mampu membakar semangat perjuangan dalam suatu gerakan sosial.

Pahlawan – pahlawan Indonesia, seperti Merah Bercerita, Efek Rumah kaca juga tidak pernah berhenti menyuarakan kegelisahan mereka terhadap penegakan HAM entah itu berupa lagu atau aksi langsung mereka turun kejalan misalnya. Tapi setidaknya, lagu-lagu yang mereka ciptakan menjadi notif bagi para penguasa.

Mungkin hal ini yang saya selalu tanamkan bagi diri saya, bahwa musik tidak hanya sekedar media hiburan namun juga menjadi bagian komunikasi yang pastinya terdapat pesan didalamnya, terserah pesan apa saja, cinta, politik, kesetaraan gender, atau bahkan kampanye.

Saya sepakat dengan beberapa anggapan dari Taufiq Rahman sebagai pengamat musik yang luar biasa, bahwa musik tidak hadir di ruang kosong. Musik secara intrinsik tidak ada yang baik dan buruk, hanya subjek yang bisa memberi makna makna. Musik, sebagaimana produk budaya lain, menjadi cermin dari masyarakat yang melingkupinya. Dan musik bisa menjadi alat protes sosial atau agen perubahan hanya ketika subjek pendengarnya memberinya makna dan menginginkannya menjadi musik protes sosial.


Refrensi :

  1. Jude Wanniski, “Tim Russett Interview with Farrakhan, NBC – Meet the Press” (www.polyconomics.com/memos/mm-970416/, diakses 18 – November – 2018, 1997).
  2. Lokasi tidak ditemukan: Mencari Rock and Roll sampai 15.000 Kilometer

 

 


FIND US ON

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.

 

Pin It on Pinterest

Share This