1


Perjalanan awal Industri Musik Indoensia

Doc by Thecrafters.co

“….. hidup itu pendek, seni itu ndak panjang-panjang amat, apalagi cuma ben-benan. tapi cita-cita baik akan jadi warisan yang tak terkalahkan, sekalipun oleh waktu.” @faridstevy


Longlifemagz  Perjalanan panjang industri musik indonesia yang dimulai di awal abad ke-20 dalam kemasan piringan hitam, awalnya menjadi sangat marak justru setelah dikembangkan oleh para pembajak dalam format pita kaset. Lantas, perkembangan terus berlanjut hingga proses digitalisasi meliputi proses video di dalamnya.

Pada awalnya, peralatan rekaman yang dibawa orang-orang belanda pada awal abad ke-20 merupakan cikal bakal lahirnya industri musik di Indonesia. Perusahaan rekaman di Indonesia yang memproduksi piringan hitam dimulai dari tahun 1950-an hingga 1970-an. Dalam masa tersebut, tercatat ada lima perusahaan yang memproduksi piringan hitam, diantaranya Irama, Dimita, Lokananta, Remaco dan Metropolitan.

  1. Irama (The Indonesian Music Company)

Sujoso Karsono atau yang sering dipanggil Mas Yos, mendirikan industri musik dengan nama label Irama (The Indonesia Music Company Limited). Didirikan pada sekitaran tahun 1951, perusahan ini bekerja sama dengan beberapa penyanyi, di antaranya Hasnah Tahar dan Munif Bahasuan penyanyi bergenre melayu, ada juga Minang Oslan Husein penyanyi dengan gaya rock’n roll, Rachmat Kartolo dengan orkes keroncong, tidak luput juga Bing Selamet sebagai salah satu penyanyi pop pada masa itu dan yang terakhir Kus Bersaudara.

Label Irama memang merekam semua jenis musik, mulai dari jazz, rock ‘n roll, pop, keroncong, melayu, hingga gambang kromong. Kemudian, Irama pun memiliki pabrik Piringan Hitam sendiri yang kemudian mencantumkan kode huruf di setiap produksinya. Misalnya seperti K untuk (Keroncong), M untuk (Melayu), G untuk (Gambang), DB untuk (Bali) dan masih banyak lagi.

Doc Irama Nusantara

  1. Dimita 

Perusahaan yang beroprasi pada tahun 1950-an hingga 1970-an diawali dari perjalanan panjang Mohammad Sidik Tamimi. Pria yang dikenal dengan nama Dick Tamimi ini memiliki banyak kesamaan dengan Mas Yos dalam bermusik, sebagai pensiunan Angkatan Udara Republik Indonesi (AU-RI) memanfaatkan masa pensiunnya sebagai sound enginer  di studio musik milik Mas Yos hingga awal tahun 1954 beliau mendirikan Dimita Moulding Industri yang membawahi dua label sekaligus yaitu Mesra dan Melody.

Beberapa musisi ternama dikontrak perusahaan rekaman miliknya, mulai dari Koes Bersaudara yang pindah dari Label Irama dan bermetamorfosis menjadi Koes Plus di tahun 1969, Panbers, Dara Puspita, Diselina, Medenasz, The Brims, Paramour, Man’s Group, Diah Iskandar, Ernie Djohan, Elly Kasim, Sandra Sanger, Rossy hingga Benjamin Sueb.

BACA : Raja Dangdut, Polemik Dakwah, Musik, dan Goyang

  1. Remaco (Republic Manufacturing Company Limited)

Remaco (Republic manufacturing company limited) yang didirikan oleh pasangan suami istri Moestari dan Titin Soemarni pada tahun 1954 ini mempunyai visi idealisme yang tinggi terhadap musik keroncong. Terlihat padaada masa kepemimpinan pasangan tersebut, remaco hanya memproduksi piringan hitam dengan lagu-lagu keroncong dan hawaian. Namun, ketika terjadi pergantian kepemimpinan di tangan Eugene Timothy, Remaco mulai merekam jenis musik lain yang berkembang sesuai selera pasar. Beberapa musisi popular pernah berkerja sama dengan peruashaan tersebut, diantaranta Broery Pesonalima, Lilis Suryani, Ida Royani, Benyamin S, Rhoma Irama, Koes Plus dan sederet nama beken pada masa itu.

Dalam perkembangannya, Remaco berhasil menjadi perusahan rekaman terbesar di Indonesia pada era 1970-an hingga kedatangan perusahan rekaman Lokananta yang digagas oleh pemerintah pada masa tersebut.

  1. Lokananta

Di tahun 1955, pemerintah menggagas perusaahan rekaman yang diberi nama Lokananta dan berkedudukan di Solo. Tugas utama perusaahan rekaman ini adalah mendokumentasikan berbagai program acara di Radio Republik Indonesia (RII) yang dibuat dalam bentuk pita reel maupun piringan hitam. Berawal dari usulan Kepala Kerja Jawatan RRI Maladi kepada Soekarno, pemerintahan mendirikan perusahaan Lokananta dan diresmikan sebagai perusahaan milik negara pada tahun 1961 melalui PP NO. 215/1961.

Doc Irama Nusantara

Pada awalnya, Lokananta digunakan sebagai perusahan piringan hitam untuk kepentingan siaran di studio radio RII se-Indonesia yang berjumlah sekitar 49 Studio. Salah satu penyanyi popular yang melakukan rekaman di perusahan ini adalah Waljinah, sebagai informasi Waljinah adalah penyanyi keroncong yang bersinar sejak memenangi kontes Ratu Kembang Kacang di Solo pada tahun 1938. Selain itu, nama-nama seperti Titiek Puspa, Gesang, Christine Kabane, Bob Tutupoly, A. Kadir, A. Rafiq dan masih banyak lagi lainnya termasuk juga Gendhing Karawitan yang merupakan gubahan dari dalang ternama Ki Narto Sabdo serta Karawitan dari Jawa Surakarta dan Yogyakarta, bahkan juga rekaman kesenian Ludruk.

  1. Metropolitan

Perusahan piringan hitam ini didirikan pada tahun 1955 oleh Djamin Wijaya atau yang akrab dipanggil Amin Tjengli. Perjalanan perusahan tersebut hanya sebagai produsen piringan gitam dari lagu-lagu yang direkam oleh studio Mutaira, Acanary, Fontana, dan sederet nama studio yang lain. Berkat kerja kerasnya, Amin Widjaja berhasil mendirikan studio rekaman di tahun 1971 yang terletak di Pancoran dan diberi nama Metropolitan Studio. Perkembangan bisnis studio rekamannya semakin pesat dan label Metropolitan pun diubah menjadi Musica Studio yang sudah sangat di kenal hingga saat ini.

Memasuki akhir 1960-an, industri musik Nasional mulai bergeser dari produksi piringan hitam menjadi pita kaset. Produksi audio-kaset pertama kali di dunia berasal dari Jerman Barat ytang kenalkan oleh Philips pada tahun 1963. Setelah itu, kaset dan alat pemutarnya (tape) mudah ditemui di toko-toko elektronik. Jumlah penikmat musik di Indonesia terus mengalami peningkatan hingga menyebabkkan peningkatan produksi kaset sekitar sepuluh kali lipat pada tahun 1980-an.

Seiring berjalannya waktu, perusahan – perusahan industri musik mengalami pasang surut dalam proses produksinya. Lahirnya perusahaan-perusahan baru memaksa perusahan lama harus gulung tikar karena kalah bersaing. Akan tetapi, beberapa diantaranya masih bisa bertahan, bahkan mampu menempatkan diri sebagai perusahaan rekaman elit pada saat itu, seperti Lokananta dan Metropolitan yang berganti nama menjadi Musica Studio’s pada tahun 1971. Selanjutnya industri musik nasional semakin berkembang sehingga menciptakan beberapa nama seperti Aquarius Musikindo, Sony Musik Entertaiment, Warner Musik Indonesia, dan Logiss Record.

BACA : 20 Tahun Reformasi: Beberapa Karya Yang Dibelenggu

Referensi :
100 Tahun musik Indonesia oleh Dennie Sakrie
Bersenandung dalam Politik oleh Yopi Kristanto


 

SWEET SEVENTEEN THE UPSTAIRS

Doc : Instagram The Upstairs

Jika diibaratkan manusia usia 17 tahun adalah masa dimana orang biasa menyebutnya dengan kata “remaja”, dimana pada usia tersebut remaja sedang mengalami puncaknya rasa penasaran dan juga produktif.


Longlifemagz – Sama halnya denga The Upstairs, menuju umur yang ke-17 The Upstairs juga telah merampungkan proses produksi, dan telah merilis single baru yang berjudul “Semburat Silang Warna”, single yang dirilis dalam bentuk klip video di kanal youtube ini menceritakan perihal gambar dari anak sang vokalis yaitu Jimi Multhazam.

“..single ini kayak nerjemahin gambar anak gue aja sih…”  ujar Jimi saat ditemui seusai manggung di parkir Lotte Mart Semarang.

Jimi Multazam yang juga menjadi vokalis band Morfem juga menyampaikan ia memilih gambar dari sang anak yang bernama Pijar karena menganggap bahwa gambar dari anaknya tersebut seperti gambar kontemporer, dengan imajinasi yang sangat liar Pijar menggambar Godzilla (karakter monster) kemudian ada orang orang dan juga gedung gedung yang terbakar dengan ke luguannya sebagai anak kecil. Lalu dengan bahasanya yang khas, Jimi Multhazam menerjemahkan gambar tersebut menjadi lagu yang berjudul “Semburat Silang Warna”

BACA : PERJALANAN AWAL INDUSTRI MUSIK INDONESIA

Perilisan single ini juga terbilang unik karena single ini di rilis dalam bentuk video, bukan hanya bentuk perilisannya saja yang unik, video yang diproduseri oleh Toma & Kako ini juga memiliki konsep yang unik khas era 80-90an, dalam video ini terdapat permainan khas 80an yaitu dingdong, didalam mainan itu ada game yang berjudul “HANTAM”, game ini menceritakan ada sekelompok orang yang menjadi karakter dalam game tersebut yang sedang melawan sistem yang ada, hingga pada puncaknya mereka bertemu dengan Godzilla yang merupakan interpretasi dari gambar sang anak tadi.

Dalam proses pembuatannya video klip ini pada awalnya memiliki penafsiran yang berbeda antara produser dengan Jimi Multhazam selaku penulis lagu, namun setelah dibuat story linenya Jimi pun cukup terkesima, hingga pada beberapa hari yang lalu diupload video ini sudah mencapai 19 ribu viewers.

BACA : RAISA PECAHKAN SUASANA SCOOTER 2018

Beberapa hari setelah perilisan single ini the upstairs juga mengadakan hearing season, dimana single mereka di perdengarkan untuk kalangan anak muda beberapa hari yang lalu dalam acara hear it first, selain anak anak muda The Upstairs juga memperdengarkan single mereka pada para penjual cd, kaset, dan vinyl di kawasan blok m, selain untuk promosi hal itu juga bertujuan untuk mendengar pendapat mereka tentang bagaimana perbedaan The Upstairs yang dulu dan juga yang sekarang.

Photo doc : Instagram @theupstairs

Untuk melengkapi single tersebut The Upstairs juga akan merilis sebuah EP Album yang berisi 5 lagu yang akan dirilis beberapa dalam hari lagi, dalam EP Album tersebut terdapat lagu “Luar Biasa Terkesima”, “Televisi”, “Alexander Graham Bell”, “Junkfood Sodom Gomora”, serta tak ketinggalan “Semburat Silang Warna”. EP Album yang dirilis Langen Srawa records ini seolah menjadi tanda kembali produktifnya The Upstairs setelah album Katalika yang dirilis pada tahun 2012 lalu.

BACA : BAND MATH-ROCK MURPHY RADIO RILIS “GRACIAS” SEBAGAI SINGLE PERTAMA DI ALBUM PERDANA

EP ini menjadi pertanda karena beberapa waktu yang akan datang The Upstairs juga akan melakoni beberapa rangkaian tour, tour yang akan dijalani juga tidak sembarang tour karena tour ini akan sekaligus memperingati 17 tahun dari The Upstairs ini sendiri, lawatan tournya yang pertama akan ada di Kota kelahiran mereka sendiri yaitu Jakarta dalam gelaran Synchronize fest pada tanggal 5 oktober bertepatan dengan 17 tahun The Upstairs ini sendiri, kemudian dilanjutkan dengan kota Bandung dan Bali, The Upstairs juga mengajak teman teman kota lain untuk menghubungi kontak yang tertera di Instagram The Upstairs apabila ingin turut serta mengundang The Upstairs dalam rangkaian tournya kali ini.

Photo doc : Instagram @theupstairs

Tak berhenti sampai disitu, The Upstairs juga akan mengisi soundtrack film layar lebar yang bergenre komedi romantis garapan produser john de rantau, film yang diangkat dari cerpen karya Gumira Ajidarma ini akan diangkat dengan judul yang sama yaitu “Dilarang menyanyi di kamar mandi”, film yang diproduksi oleh Himaya Pictures ini tak hanya mengajak The Upstairs untuk mengisi theme song, namun juga untuk mengisi background background musik yang ada di film, rencananya The Upstairs akan membawakan beberapa lagu lama dan juga beberapa lagu baru untuk mengisi film tersebut.

Film B, Film Kelas Dua yang Mempengaruhi Tarantino

Doc : Google

 ketika darah dipakai sebagai penyampai pesan: muncrat, berceceran, maupun berlumur di tubuh para aktor, muncul penasaran dalam diri saya akan film ini.


 Longlifemagz Ketertarikan saya akan Film B bermula dari cuitan @azzamkalakazam yang nyangkut di linimasa, saya pun segera mengontak kawan-kawan pemelotot film. Mumpung ada event filmmaker di Semarang, saya pikir otak yang sudah lama dipenuhi produk Hollywood ini perlu dipertemukan dengan para praktisi yang bertungkus lumus di industri ini.

Pemilik akun di atas belakangan saya ketahui merupakan sutradara dari salah dua film yang dipertontonkan di B-Movie Night (26/07) kemarin.

Perlu dicatat, saya bahkan tidak mencermati tajuk event tersebut yang berbunyi “B-Movie Night”. Motif saya waktu itu hanyalah untuk mengisi kegabutan di malam Jumat, tanpa peduli jenis film yang akan diputar.

Saat mengiming-iming teman saya dengan rayuan “Bang, gua ajak nonton film mau gak? Elu ga usah ngeluarin duit deh,” standpoint saya waktu itu cuma keinginan menonton enam film bergenre horor dan berjumpa para kreatornya. Sekedar itu.

Baru setelah enam film usai diputar dan sesi diskusi dibuka, terdengarlah istilah baru dalam khazanah perfilman saya: B-Movie (Film B). Sebegitu bodohkah saya sehingga mengabaikan genre film yang terpampang di tajuk event? Iya, saya sebodoh itu.

BACA : RIUH RENDAH SENJAKALA PILKADA

Eureka! Ada tiga filmmaker yang diundang tampil di –katakanlah- panggung, yang masing-masing bercerita soal Film B kreasi mereka. Sepenangkapan saya sih, Film B muncul untuk mengisi kekosongan segmen di Amerika sana. Ada segmen konsumen (penonton) yang menginginkan genre alternatif, dan Film B menyediakan itu. Bisakah disebut film kelas dua? Mungkin saja.

Diskusi selama sejam soal Film B memang sangat singkat terasa. Namun setidaknya saya bisa ancang-ancang, berapa duit yang bisa dibakar guna membikin film demikian. Karena rata-rata Film B berdurasi tidak sampai setengah jam, bujet yang dihabiskan pun tak terlampau mengiris dompet.

Film sejarah macam Rengasdengklok mungkin bisa menyedot belasan juta demi penyesuaian set dengan universe cerita asal. Film guyon seperti Mr. Bombastic lain lagi. Sang sutradara menyebut film itu hanya menghabiskan tiga lembar duit merah muda.

BACA : TAYANGAN FILM JADUL DI HARI RAYA LEBARAN MEMANG BERKESAN

Sebagai pribadi yang sehari-harinya bergumul dengan penggemar Sukarno dan para pengamat politik Indonesia, saya amat tertarik dengan Rengasdengklok. Seperti halnya film sejarah Indonesia lainnya, film besutan Dion Widhi Putra ini mampu membuat mata saya nanar (Film biopik sejarah Indonesia apa pun mampu membuat saya mbrebes mili, percayalah).

Akan tetapi, untuk ukuran film yang menampilkan salah satu manusia paling berpengaruh dalam sejarah nusantara, saya merasa screenwriting disana terasa kurang menggigit. Saya menanyakan bagaimana persiapan materi, sebutlah riset, untuk membangun universe yang seharusnya dirumuskan dengan penuh takzim ini.

Dion, yang datang dari Jakarta, menjelaskan satu hal yang menjadi titik perhatian utama saya. Pada bagian eksplanasi seorang Sukarno, kata sifat “cerdas” dan “berbudi luhur” yang menjadi concern saya, ternyata merupakan pesanan almameter.

Yasudah, ketawa saya. Riset untuk film bertemakan sejarah seperti demikian memang sudah dilakukan, termasuk pengkondisian set dan naskah agar sesuai latar waktu itu. Dan saya jelas tidak bisa membantah lagi.

Dan berpijak dari banyaknya adegan (dalam enam film tersebut) ketika darah dipakai sebagai penyampai pesan: muncrat, berceceran, maupun terlumur di tubuh para aktor, muncul penasaran dalam diri saya.

Di Pocong Hiu Unleashed dan Goyang Kubur Mandi Darah pun kita dapat menangkap elemen khusus: sorotan masif ke kaki pemeran wanita (fetish). Apakah terdapat pengaruh Quentin Tarantino di sana?

BACA : 20 TAHUN REFORMASI: BEBERAPA KARYA YANG DIBELENGGU

Sayangnya saya terlewat menanyakan itu di diskusi kemarin, tetapi beruntung bertemu potongan eksplanasi dari Nuran Wibisono di Tirto:

Quentin Tarantino kemudian menjadi sutradara yang dianggap memperkenalkan pengaruh film-film cult ke khalayak umum. Dia menulis skrip From Dusk Till Dawn, sebuah film horor yang berkelindan antara perampok bank, keluarga pendeta, dan para vampir. Tarantino kemudian semakin menunjukkan pengaruh itu lewat film Reservoir Dogs.

Kecintaan Tarantino pada film-film cult terutama dari kawasan Asia, semakin kokoh saat dia membentuk Rolling Thunder Pictures, perusahaan distribusi film yang bekerja sama dengan Miramax dan mengkhususkan diri merilis film-film indie dan cult. Meski hanya berusia 3 tahun, mereka berjasa mendistribusikan film-film seperti Chungking ExpressSonatine, hingga merilis ulang The Mighty Peking Man dan Switchblade Sisters—yang kemudian tampak memengaruhi karakter di film Kill Bill.

Mengenai apakah film B sama dengan film cult, di paragraf sebelumnya terdapat penjelasan:

Ada pula film B yang masuk sebagai film cult. Film B adalah sebuah istilah yang dipakai untuk menyebut film dengan bujet pas-pasan dan penggarapan yang juga seadanya. Tapi tak semua film B masuk dalam film cult. Lagi-lagi, syarat seperti keganjilan cerita, kejelekan make up, hingga busuknya jalan cerita, kerap menjadi faktor yang membuat sebuah film menjadi cult.

Dugaan saya bahwa penggiat genre ini terinspirasi dari film-film Tarantino yang sades abes itu ternyata salah besar. Justru Tarantino yang bnyak terpengaruh kebrutalan Film B!

Saya perlu berterima kasih kepada kreator film-film ini: Rengasdengklok, Monika, Darah untuk Anakku, Goyang Kubur Mandi Darah, Mr. Bombastic, dan Pocong Hiu Unleashed. Keenamnya telah memperkenalkan saya—dan barangkali publik Semarang- ke mainan baru, dunia yang tak pernah tersentuh sebelumnya. Mungkin saja akan ada lebih banyak Film B yang bakal saya lahap setelah ini.

 

 

Catatan B-Movie Night di Atlas & Co

Enam Film B Pertama yang menggugah


Longlifemagz – Kamis malam (26/7) kemarin bisa saya sebut sebagai salah satu malam bersejarah dalam hidup. Atlas & Co Banyumanik mengadaken pemutaran film Pengkhianatan G30S/PKI horor yang saya kira, akan hambar dan cepat terlupakan. Nyatanya, “bioskop” yang cuma seukuran ruang tengah kos tersebut sanggup membawa saya ke awang-awang, tanah yang dijanjikan, nirwana, atau apalah sebutannya itu.

Bahwa saya mengambil pensil dan mencorat-coret di buku catatan kecil, itu hanyalah kebetulan belaka. Dan bahwa saya memutuskan mengalihwujudkan catatan itu ke majalah ini, itu hanya keisengan semata. Pensilnya milik orang lain, sedang nyangkut di tas karena suatu tugas penting, buku catata baru kembali ke tangan setelah dua tahun hilang, laptop untuk mengolahnya pun bukan punya saya, jadi ini sejujurnya memang benar keisengan saja .

Namun izinkan saya menyampaikan coretan tentang enam Film B saya tersebut setelah kalimat ini berakhir.

Rengasdengklok

Ini adalah satu-satunya film berlatar sejarah di pertunjukan kemarin (26/7). Narasinya pendek: pemindahan (tokoh yang esok hari akan menjadi) sang proklamator ke Rengasdengklok. Bung Besar harus dibawa dengan selamat ke pos akhir. Karena rencana pemindahan menggunakan mobil gagal, Bung Besar harus dikawal dengan berjalan kaki.

Bukan Film B namanya jika tak ada keganjilan. Di sini, pihak musuh yang harusnya tentara Jepang, diubah sang kreator menjadi puluhan zombie layaknya serial The Walking Dead. Bung Besar dan pengawalnya terpojok, lalu terjadi “pertempuran” antara the living dan the dead.

Sebagai penonton Film B, kita memang tidak bisa menuntut kesempurnaan penulisan naskah atau sinematografi. Di Rengasdengklok, yang notabene berlokasi di Jawa Barat, kita justru tidak mendengar dialog berbau Sunda. Penjelasan bahwa tentara Indonesia waktu itu banyak yang ditarik dari Jawa mungkin bisa diterima, tapi wajarkah semua pasukan dikondisikan seakan fasih bahasa Jawa?

Satu lagi, adakah yang mencuri pandang ke perut salah seorang korban zombie, tepat ketika plastik penyimpan jeroan terlihat?

 

Monika

Masih berkutat dengan karakter zombie. Dunia yang sudah aman dari wabah berangsur pulih, termasuk kehidupan di sekitar Monika. Gebetannya melamar tepat di hari pengumuman kembali hidupnya kota mereka. Namun, Monika ternyata punya rahasia. Ia masih memelihara zombie, yang semasa hidup merupakan adiknya. Terdengar seperti zombie peliharaan The Governor di The Walking Dead?

Saya tidak mencatat terlalu banyak tentang film ini. Saya hanya berandai-andai, jika tepat sebelum adegan kencan kita disuguhkan momen ketika Monika mendekati zombie, lalu dia melakukan sesuatu yang berpotensi menyebabkan pengikat zombie peliharaannya lepas, maka kedatangan zombie saat Monika hendak dilamar bisa sedikit lebih masuk akal.

BACA : SWEET SEVENTEEN THE UPSTAIRS

Mandi Darah Goyang Kubur

Tiga orang sahabat memperingati kematian temannya dengan bergoyang di malam yang penuh sambaran petir. Setelah pesta mini itu usai, giliran tiga orang tersebut yang mendapat teror dari sang pembunuh.

Ketika terdengar ketokan pintu dan ternyata orang yang membukakan pintu akhirnya menjadi korban berikutnya, saya menganggap keputusan dua orang tersisa untuk ke luar rumah mencari temannya ialah hal yang begitu bodoh. Jika saja terdapat dialog, atau paling tidak tatapan mata yang komunikatif bahwa mereka sepakat mencari dan menyelamatkan sang teman, maka kegusaran saya bisa terhalau. Mereka baru ditinggal dua temannya dan mengetahui ada pembunuh berkeliaran di sekitar mereka, kenapa mereka malah mereka mengendap-endap ke tempat sang pembunuh?

Kriptonit dalam bentuk dildo mungkin menyediakan efek kejut, tapi kita tak pernah mendapat penjelasan mengapa sang pembunuh alergi terhadap benda itu.

 

Mr. Bombastic

Ini film favorit saya. Pergulatan emosional seorang pria tanggung yang diejek akibat punya (titit) kecil. Hal menarik yang bisa ditemui dalam film ini antara lain: Alur nonlinier. Kita tak bisa menentukan alur cerita secara kronologis. Kira-kira lebih dulu mana, pemukulan di lahan kosong, momen singkat bersama pacar, atau bisik-bisik pem-bully-an di kampus?; Banyak sinematografi berupa kilasan ke masa lampau. Layar berganti secara cepat mengikuti iringan narasi dari karakter utama; Karakter utama tidak terlalu sehat dalam hal psikologis. Ia mengalami depresi akibat pem-bully-an.

Sebentar, ini saya baru menikmati karya Rafif Sujatmoko atau Christopher Nolan?

BACA : FILM B, FILM KELAS DUA YANG MEMPENGARUHI TARANTINO

 

Darah untuk Anakku

Di awal, saya khawatir akan disuguhi film horor dengan formula deus ex machina, yakni ketika kekuatan spiritual (Tuhan) dipakai untuk menangkis segala rintangan, termasuk the main villain (dalam hal ini berarti setan). Pada akhirnya yang terjadi memang demikian, tetapi kita sedikit dikagetkan dengan plot twist saat karakter Ustad ternyata terbunuh juga.

Elemen suara serigala terdengar di bagian pembuka, tapi jika melihat latar perumahan, auman tersebut terasa cukup ganjil. Elemen dentingan jam juga dipakai, tapi saya bertanya-tanya mengapa sang kreator film tidak menampakkan jam tersebut sebagai upaya meyakinkan keaslian bunyi tersebut, di samping jam denting juga dapat menambah kesan mistis.

 

Pocong Hiu Unleashed

Film ini mungkin paling mendeskripsikan bagaimana kekuatan Film B: animasi tak molek, keganjilan jalan cerita, dan diumbarnya banyak darah. Keheranan di benak saya hanya muncul saat dua korban pocong pertama malah terlihat mencekik dan berusaha menghalau sang pocong “memakan” korban ketiga. Asumsi saya, mereka sudah tewas setelah digigit sang pocong.

Pertanyaan menyoal bagaimana bisa pocong menyemburkan laser tak perlu muncul. Ini Film B, Bung!

“Tepuk tangan meriah untuk para filmmaker.

 

 

 

 

 

 

 

 

180 menit Bersama Efek Rumah Kaca di Comfest 2018

Efek Rumah Kaca on stage Comfest 2018

Mulai dari album Sinestesia, Kamar Gelap, sampai Efek Rumah Kaca mereka suguhkan ke penonton.


LonglifemagzBaru pukul 18.00 Wib ribuan penonton sudah memadati Hall Student UIN Syarif Hidayahtullah, Jakarta (13/7) pekan lalu. Banyak diantaranya tersebar di spot-spot sekitaran Hall, terdapat pula yang sedang duduk di pelataran samping hall, tempat foodtruck berjajar. Selebihnya mereka semua sama terlihat menyibukan diri dengan segala rutinitas. Sembari menunggu konser tunggal Efek Rumah Kaca di Comfest 2018, sebuah hajatan Hima Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Syarif Hidayahtullah, Jakarta.

Konser tunggal Efek Rumah Kaca kali ini sekaligus menyambut kedatangan Cholil dan Irma (voc dan Backing Vocal) kembali ke Indonesia. “Acara Comfest untuk tahun ini memang bertepatan dengan #Turkemarau2018 nya Efek Rumah Kaca, dan ternyata antusias penontonnya sangat baik.”, ujar Hilman salah seorang panitia yang sesekali bercerita tentang acaranya.

BACA : RIEN JAMAIN, BERBICARA TENTANG PANGGUNG PERTAMA, PERJALANAN BERMUSIKNYA, PERAN PEREMPUAN, SAMPAI KESAN HUMORIS YANG MELEKAT

Hilman mengungkapkan, “Nantinya dalam konser tersebut mereka akan memainkan set panjang”, seraya tersenyum dan tak lupa sesekali ia menghisap rokok yang ada ditangannya.

Terdengar acara sudah di mulai, suara sayup-sayup dari dalam hall kian keras memanggil penonton untuk masuk kedalam. Mengetahui itu penonton kian bergegas memasuki hall. Namun sayang harus sedikit menunggu, antrian ternyata sudah terlanjur panjang.

Untuk mensiasati alur flow pengunjung, terdapat spot merchandise official Efek Rumah Kaca dan Photo booth disamping gate. Sesekali penonton melihat, membeli merchandise yang disediakan, dan  berswafoto di depan mural karakter The Popo yang sedang sinis dengan tagline “Konser Terus Sampai Mampus”.

Doc : Longlife

Sekitar pukul delapan MC sudah mengajak penonton bersorak menyebut nama Efek Rumah Kaca, selayaknya ritual yang banyak dilakukan memanggil rockstar untuk on stage. Dan benar, Akbar, Poppie, Cholil (dan personil Efek Rumah Kaca yang lain) sudah tampak diatas panggung lengkap dengan sambutan gegap gempita dari penonton.

Tanpa basa-basi, segmen Merah yang terdiri dari lagu “Ilmu Politik”, “Lara dimana-mana”, dan “Ada-ada saja” mereka luncurkan secara berurutan. Selesainya Cholil menyapa penonton dan menjelaskan perihal maksud dari segmen merah, ia berujar ”Disituasi (politik yang klinis) kaya gini, kita tuh malah ga terpanggil, kaya tragis banget gitu, kalo kita ga kritis dan ngelawan itu”.

Segmen Biru, Jingga, dan Hijau mereka mainkan setelahnya, sama halnya dengan segmen Merah, mereka kembali menjelaskan maksud dari kumpulan lagu tersebut. Masuk ke segmen Putih, tempo lebih menurun. Lagu yang sarat akan kematian dan kehidupan, mereka lagukan dengan makna lagu yang merasuk.

Doc : Longlife

Diperbantui dengan permainan lighthing yang tematik sesuai segmen lagu, memberikan penghayatan yang lebih. Sing along dengan penuh hayat tak terluapkan, diantara penonton bahkan memejamkan mati dan menggerakan badannya mengikuti alunan nada. Hingga berlanjut segmen kuning dilantunkan, buah tanda ditutupnya set bagian pertama, album sinestesia.

Rehat 15 menit, pertunjukan kembali dilanjutkan. ”Tubuhmu Membiru… Tragis” , ”Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa”, dan “Kamar Gelap”, didapuk sebagai set pembuka, suguhkan album Kamar Gelap.

Selangnya “Bukan Lawan Jenis”, “Menjadi Indonesia”, dan “Laki-laki Pemalu” dimainkan secara bergilir, yang disambut dengan dansa-dansi kecil oleh penonton. Masuk lagu “Di Udara”, artmosphere meluap tak terbendung. Crowd surfing terjadi beberakali, tepat di depan panggung seorang penonton juga memakai topeng Munir (aktivis yang dibunuh dengan racun didalam pesawat) menaiki punggung yang lain, seraya mengepalkan tangan dan bernyanyi “tapi aku tak pernah mati, tak akan terhenti.”.

“Jalang” , “Seperti Rahim Ibu”, dan “Merdeka”  yang dimainkan selanjutnya. Tidak henti-hentinya membuat penonton mengepalkan tangan, sekaligus sing along meramaikan part vocal. “Balerina” dan “Cinta Melulu” diperdengarkan kemudian, membuat penonton kembali menari dan menggila. Sesekali Irma dan Natasha Abigail jadi kordinator tarian bak acara pagi, penonton di sisi kiri stage mangikuti gerakannya dengan selaras.

BACA : ROCKET ROCKERS, BERCERITA TENTANG ALBUM BARUNYA

Tidak terasa waktu hampir menunjukan pukul 23.00 Wib, menandakan acara akan berakhir. Dipilih “Desember” dan “Sebelah Mata” sebagai lagu penutup. Penonton tidak menyia-nyiakan moment terkahir itu. Hall bergema dengan suara penonton yang bernyanyi dengan kekuatan terakhir, walau sudah tiga jam bernyanyi, mereka memilih untuk tidak perduli.

Memang penonton malam itu, merupakan salah satu penonton yang paling atraktif yang pernah saya temui selama konser Efek Rumah Kaca berlangsung. Mereka bernyanyi, menari, moshing sampai surfing saat acara berlangsung, sesekali juga terjadi interaksi dialog antara penonton menimpali obrolan Cholil diatas stage.

Hingga berakhirnya lagu “Sebelah Mata”, penonton masih tetap stay didepan stage, seraya berujar we want more tanda meminta lagu tambahan. Hingga selesainya lagu terakhir, permintaan itu tidak terwujud dan masih saja tengiang. Semoga tahun berikutnya atau dilain kesempatan dapat dikabulkan. Terimakasih Efek Rumah Kaca untuk 180 menit quality time-nya.

Doc : Longlife

 

 

 

Selain project serabutan, mencoba peruntungan pula sebagai penulis lepas, buruh event, dan usaha kecil clothing.

Riuh Rendah Senjakala Pilkada

Photo doc GeMusik Magazine

“I hate protest songs, but some songs do make themselves clear” -Bob Dylan


Longlifemagz  Di tengah riuh rendah kampanye Pilkada  seperti sekarang, saya sebenernya ingin menulis tentang hubungan musik dan politik di Indonesia. Harus diakui yang pertama saya ingat adalah ketika mantan Presiden Yudhoyono merilis album musik pop nan sendu, menurut saya itu adalah pelampiasan yang sangat kreatif bagi seorang Presiden. Kedua, kita harus berterimakasih kepada era pemerintahan Joko Widodo karena sudah membentuk Elek Yo Band, buat kalian para amoeba, mereka adalah group musik bentukan sejumlah menteri dalam kabinet kerja pemerintahan Jokowi. Memeriahkan festival sekelas Java Jazz merupakan sesuatu pencapaian yang diluar nalar.

Tapi sebenarnya kajian antara musik dengan politik bisa jadi sangat luas ketika melihat dari berbagai aspek. Mungkin dari kita sebagian bertanya “mengapa dangdut menjadi pilihan utama ketika kampanye?” atau sebagian lagi bertanya “bagaimana efek rumah kaca dan bangku taman mempunyai kebiasan berfikir sebanding lurus dengan kegiatan kreatif?”. Tapi menurut saya yang lebih menarik adalah bagaimana musik menjadi fungsi orasi yang mampu diterima dengan mudah, atau bahkan menulis musik menjadi kegiatan untuk men-direct pemikiran kita kedalam hal – hal yang berbau poitis.

BACA : OM PMR, USIA BOLEH TUA, SEMANGAT BERKARYA TETAP MEMBARA

Pilihan itu akan secara langsung jatuh kepada sosok legendaris Iwan Fals, yang bertahun – bertahun lamanya telah mendalami berbagai macam kritik melaui musik. Iwan fals pertama kali datang dengan strategi yang sangat minimalis. Sama seperti Bob Dylan, hanya datang dengan gitar akustik. Sama seperti Dylan, iwan fals menjadi elektrik hanya di pertengahan karir bermusik. Sama seperti Dylan, kekuatan Iwan Fals ada di pusi – puisi dengan kekutan kata – kata yang sulit dicari tandingannya sampai pada akhir decade 1990-an. Tapi saya juga tidak pernah tahu apakah Iwan Fals sedekat itu dengan Dylan?

Seharusnya kita tidak pernah meragukan kualitas Iwan Fals dalam menulis musik. Iwan Fals muncul diawal decade 1980-an dengan cara bertutur yang intim, dan cara baru ini lah yang kemudian berhasil memsona jutaan pengikut yang kemudian mengikuti kemanapun Iwan Pergi, Bahkan ketika dia sudah meninggalkan tradisi folk dan memainkan prog rock dan “rock puisi” bersama Setiawan Djodi dan Rendra, misalnya.

Saya sangat antusias pada Iwan Fals, namun rasa antusias yang lebih besar hanya layak saya berikan untuk sesorang musisi yang sangat kritis asal kota Malang. Tidak kurang ada enam album yang sudah dirilis sejak tahun 2012, meskipun belum mencapai popularitas seperti yang diraih oleh Iwan Fals. Penyanyi yang saya maksud adalah Muhammad Iksan atau dikenal dengan Iksan Skuter, solois melankolis dan banyak menyuarakan kegelisahan (social commentary) dalam setiap album – albumnya.

BACA : THE POPO, MERANGKUM ISU – ISU SOSIAL DALAM SEBUAH KARYA

Sama sepeti Bob Dylan, vocal Iksan Skuter tidaklah bagus, suara baritone yang berat dan kadang sengau dan menyanyi lebih terdengar seperti membaca puisi atau berbagi cerita. Belum lagi aransemen musik yang rata – rata sangat sederhana dan minimalis. Di tiga album pertama, Matahari, Benderang Terang, Folk Populi Folk Dei, musik yang ber-dendang adalah petikan gitar sederhana, kadang diselingi suara – suara asli suasana yang asik namun tetap menggelitik. Contoh itu ada di lagu “Partai Anjing” dari album benderang terang.

Photo doc Warning Magazine

Menurut saya, ketiga album ini memilik arti penting memang bukan karena musiknya. Namun lebih karena cerita yang kuat yang digunakan Iksan Skuter sebagai lirik. Di album Matahari, kegelisahan – kegelisahan iksan yang dituangkan dalam lagunya sangat dapat diterima dengan cepat. Bahkan musik sebagai fungsi orasi juga dirasa sangat mendapatkan feel-nya. Dilagu “Cari Pemimpin” dalam album Matahari juga dapat membawa kita kedalam perenungan  kegelishan, semangat dan juga harapan tentang sosok pemimpin yang ideal namun tetap kharimastik.

Terlalu sulit untuk menerka apa yang dibaca oleh Iksan Skuter. Tetapi ada satu hal yang pasti bahwa ia tidak pernah melupakan slogan bahwa musik yang ia bawakakan selalu berasal suara dari rakyat. Di Folk Populi Folk Dei misalnya ada lagu yang berjudul “Ku Kira Jakarta”, disitu hanya ada gitar akustik. Akan tetapi yang kita dengar dalam lagu itu adalah simponi liris tentang proses urbanisasi yang sebenarnya tidak bisa menjamin kesuksesan semua profesi.

BACA : NISKALA, MELAWAN ARUS DENGAN POST ROCK INSTRUMENTAL

Tapi,dengan bahasa yang terlalu jujur cenderung frontal, iksan tidak bisa di sejajarkan jajaran folk sentimentil katakanlah Tigapagi, Bandaneira, atau bahkan Jason ranti yang banyak menggunakan kata – kata putis namun tetap satir.

Ketika Jason Ranti X Alan Soebakir (Sinema Pinggiran) merilis video musik yang berjudul Anggurman, sasaran keritik jelas ditujukan kepada aktor politik yang pastinya mabuk kekuasaan, tidak tanpa ampun. Gokil keracunan kebanyakan kekuasan kata Jeje –panggilan akrab Jason Ranti–. Anggurman seolah-olah membawa perenungan kita terhadap sifat apatis, namun sisi lain kita menjadi sangat keritis namun tetap satir. Jika pembawaan Jeje terlalu gelap dan desturktif, maka Iksan Skuter punya optimisme dalam memahami fenomena sosial. Bahkan, terdengar kabar bahwa keduanya akan berkolaborasi dalam sebuah proyek “Bahaya Laten”.

Riuh rendah memasuki tahun politik seperti ini,saya hampir tidak pernah bosan mendengarkan beberapa album dari Iksan. Setidaknya, lagu – lagu dari iksan masih relevan dalam kondisi sosial-politik sekarang.

Setidaknya juga, dengan adanya Iwan Fals, Iksan Skuter, Jason Ranti, atau beberapa musisi yang melabeli dirinya sebagai penggiat protest song, kita (saya terutama) tidak perlulu terlalu tegang dalam menyikapi kondisi politik dalam negeri. Harapan – harapan yang selalu dikumandangkan melalui kampanye, sebenarnya bisa kita nikmati melalu musik. Anjay…


FIND US ON

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.

 

Pin It on Pinterest