Synchronize fest angkat tema “Memanusiakan alam, mengalamikan manusia”


Setelah sukses menyulap JIEXPO Kemayoran menjadi wahana festival yang sangat meriah, Synchronize fest hasil kolaborasi antara Demajors dan Dyandra Promosindao kembali akan semakin mengukuhkan namanya di deretan festival terbaik di Indonesia.Synchronize memang memiliki keunikan tersendiri dibanding dengan festival-festival lainnya, karena hanya Synchronize lah yang berani untuk menyuguhkan ratusan musisi lintas genre, lintas generasi, namun tetap dengan kurasi yang terjaga dan hanya menampilkan musisi musisi Indonesia. Disaat mulai banyaknya konser konser dengan bintang tamu “luar negri” yang datang ke Indonesia.

Pada gelaran tahun ini Synchronize memiliki komposisi line up yang sangat menarik untuk di hadiri, Di antaranya, nostalgia band Emo Tanah Air yang siap menjadi penyegar sekaligus momen nostalgia para penikmat musik era 2000-an, di antaranya Killed By Butterfly, Alone At Last Too Late To Notice, dan Jakarta Flames. Selain itu, ada pula penampilan perdana Didi Kempot yang kini dijuluki The Godfather of Broken Heart oleh kalangan millennials. Total, ada sebanyak 129 penampil dari lintas genre, mulai dari dangdut hingga Emo hadir di Synchronize Fest 2019. Ke-129 penampil itu terbagi dalam tiga hari penyelenggaraan.

Selain itu pada gelaran kali ini Synchronize juga mengajak penonton untuk lebih peduli lingungan, mengangkat tema “Memanusiakan alam, mengalamikan manusia”. Tema ini berkaitan dengan harmonisasi antara manusia dan lingkungannya serta peran pergerakan massa terhadap sebuah perubahan lingkungan. Soal tema yang diangkat, Menurut David Karto selaku Festival Director, menjadi ajakan menjaga keseimbangan sebagai bentuk respon dari It’s Not Just A Festival It’s A Movement. Untuk mewujudkan itu, Synchronize berkolaborasi dengan Greeners.co, media online yang fokus mengangkat isu lingkungan hidup.

Ada beberapa program, sebagai turunan dari ‘tema alam’ ini, Adapun program yang bakal tercipta meliputi Internal Change Behaviour (sebuah program yang dilakukan tim panitia pelaksana festival yang menerapkan prinsip-prinsip kepedulian sosial dan lingkungan yang nyata dalam mengerjakan festival). Program ini meliputi pengurangan kemasan sekali pakai dan menyediakan water station untuk dipakai di tumbler-tumbler yang pada gelaran kali ini pengunjung diperbolehkan untuk membawa.

Selain beberapa aksi tersebut, untuk semakin mengukuhkan “green movement” Synchronize fest bekerja sama dengan PLN untuk menyediakan power bank sebagai sumber listrik, sehingga mengurangi pembakaran fosil di saat festival, selain itu Synchronize juga bekerja sama dengan stuffo labs untuk membuat upcycling project, dimana dalam project ini mereka membuat berbagai macam kerajinan dari limbah limbah yang dihasilkan dari gelaran synchronize fest 2018, kerajinan itu berupa tas, pouch, totebag, dompet dan lainnya, selain lebih bermanfaat, nyatanya project ini juga bisa sekaligus menjadi sebuah arsip bagi Synchronize itu sendiri.

Seperti di tahun-tahun sebelumnya, Synchronize Festival 2019 juga masih akan bekerja sama dengan Archipelago Festival untuk menjalankan Campus Roadshow Program. Kegiatannya seputar penyelenggaraan talkshow dan penjualan tiket langsung keliling bagi pemegang kartu pelajar dan mahasiswa di beberapa kampus, serta Working Experience Program yang membuka pendaftaran bagi para mahasiswa yang berminat menjadi relawan (volunteer) yang terlibat langsung dalam produksi acara Synchronize Festival 2019.

Sampai jumpa di #SynchronizeFest19. It’s Not Just A Festival, It’s A Movement!

EXPOSURE 2019, event kampus yang perlu dipertimbangkan

doc : Exposure 2019

…Bahkan event yang tanpa dibandrol harga tiket masuk ini sampai menyediakan mantel secara Cuma Cuma kepada para pengunjung yang ingin menonton event mereka….


Longlifemagz  Minggu 17 maret 2019 yang lalu kerumunan manusia berseragam mantel hujan warna warni memadati parkiran Ambarukmo Plaza Yogyakarta, mereka rela menerjang hujan bukan tanpa alasan, karena pada hari itu dan dua hari sebelumnya di tempat tersebut terselenggara Exposure yang merupakan rangkaian acara The 13th Management’s Events yang diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (IKAMMA FEB UGM).

Exposure menghadirkan thematic curated market pertama dan terbesar di Yogyakarta yang memberi wadah bagi para entrepreneur muda untuk memperkenalkan merek lokal mereka pada masyarakat luas. Pada tahun ini, Exposure bertemakan “HAMEMAYU HAYUNING BAWANA” yang memiliki arti keindahan dunia sebagai pengingat manusia untuk mencerminkan dan memikirkan kembali tujuannya.

Jason ranti, grrrl gang, dan feast adalah salah satu alasan ratusan penonton rela menerjang hujan pada waktu itu, namun ada satu alasan lain yang mungkin lebih dirasakan oleh para penonton, adalah semangat para panitia Exposure yang seolah tak surut ketika event mereka menghadapi sebuah kendala, bayangkan pada hari pertama Jason ranti diputuskan untuk merubah jadwal mainnya menjadi hari terakhir dikarenakan cuaca yang tidak mendukung, pun di hari terakhir, hujan yang tak kunjung henti dari pagi hingga acara selesai tampak tak menyurutkan semangat panitia.

doc : Exposure 2019

Bahkan event yang tanpa dibandrol harga tiket masuk ini sampai menyediakan mantel secara Cuma Cuma kepada para pengunjung yang ingin menonton event mereka, dan semangat panitia memang layak mendapatkan apresiasi, dimana feast sebagai penampil terakhir kompak berseragam mantel hujan senada dengan dikenakan para penonton dan membuat atmosfer menjadi lebih dekat seperti tanpa sekat antara penampil dengan penonton.

Penampilan dari band lokal pun tidak kalah ramai. Di hari pertama, penampilan velvet dream berlangsung walaupun hujan singgah dan cukup awet hingga penampilan musisi lainnya harus ditunda pada Minggu 17 maret 2019. Tercatat walaupun hujan, pengunjung parkir timur mencapai 1.889 orang di hari itu. Di hari kedua, Stationary dan Astera membuka penampilan dengan elok. Dilanjutkan oleh Putra Timur dan Sal Priadi yang membuat anomali senandung pengunjung riuh. Dihari ketiga, Makna dan Define soul membuka penampilan pada pukul lima sore. Penampilan dilanjutkan kembali pada pukul tujuh malam oleh Skandal, Grrrl Gang, Jason Ranti, dan Feast. Penggemar pun memadati Parkir Timur Plaza ditengah hujan yang turun.

doc : Exposure 2019

Namun Exposure ini bukan hanyalah  event musik yang biasa dibuat oleh mahasiswa-mahasiswa atau kampus-kampus lain, selama pelaksanaannya, Exposure berlangsung di Atrium dan Parkir Timur Plaza Ambarrukmo Yogyakarta. Merek lokal apparel dan lifestyle  bertempat di Atrium, sedangkan penampilan musik dan kuliner berada di Parkir Timur Plaza Ambarrukmo. Didalam atrium selain berbelanja, pengunjung juga dapat menikmati instalasi seni di pintu masuk Atrium oleh Geger Boyo. Seni dengan warna dominan merah dan hitam ini dapat pula diabadikan menjadi foto kekinian. Terdapat pula instalasi seni dari Ian Pramananta dengan  nama Botani yang bertempat pada jantung Atrium. Instalasi berbentuk tanaman yang ditembak animasi tersebut merupakan gebrakan baru dalam dunia seni yang hanya dapat dinikmati pengunjung Exposure.

doc : Exposure 2019

Selain itu kegiatan di dalam atrium ini pula terdapat kegiatan juga tak kalah menarik, dimana diadakannya lokakarya bagi para pengunjung, Lokakarya pada hari pertama pembuatan kokedama bersama Karplanter. Pada hari kedua pembuatan totebag  bersama Bhisma Diandra. Hari terakhir membuat aksesoris dengan sentuhan Bali bersama Pix and Stacy.  Pengunjung yang ingin mendapatkan merchandise edisi khusus Exposure bisa didapatkan di lokakarya bersama Taka Craft secara gratis. “Selain jualan ada workshopnya juga, jadi ada nilai-nilai edukasinya,” jawab Isser James, founder Badass Monkey, soal Exposure.

doc : Exposure 2019

Jean Tora salah seorang founder Darahku biru, komunitas denim terbesar di Indonesia, juga menyempatkan singgah untuk melihat keramaian yang terjadi selama Exposure. “Kita gak expect akan seramai ini,” jelasnya.   Merek lokal yang berpartisipasi pada Exposure juga membagikan keseruannya. “Terima kasih atas antusiasnya selama tiga hari, kami akan menimbang untuk membuka cabang di Jogja,” jelas akun Skhope Culture.

DIMINISH PERCEPTION RILIS “MONARKI” KE KANAL MUSIK DIGITAL

Doc : Diminish Perception

“Kami tidak sedang bernostalgia dengan sistem Monarki yang kami tuangkan dalam album kami. Hanya membunyikan sebuah sirine tanda peringatan. Memang benar dalam sistem Monarki mungkin tidak buruk. Namun sampai berapa lama? Ketika Raja yang baik meninggal dunia dan digantikan putra mahkota yang lalim, bagaimana nasib rakyatnya?” tegas Bhima, gitaris Diminish Perception.


Longlifemagz Sebuah referensi untuk mengiringi nuansa pergantian kepala negara tahun ini. adalah “MONARKI” sebuah album garapan salah satu band kenamaan dari boyolali. Mengapa album ini dapat disebut sebagai iringan riuhnya momen pemilihan tahun ini? , sedikit cerita bahwa album ini memang tak sepenuhnya sesuai dengan apa yang ada di negara ini, karena album ini Sesuai judulnya, Monarki merupakan sistem pemerintahan yang dianut sebuah negara dimana kekuasaan tertinggi dipegang oleh seorang Raja/Ratu, yang mana juga berpontesi menciptakan pemerintahan yang otoriter. Diminish Perception menggunakan latar belakang ini sebagai landasan kritis yang diangkat kedalam materinya.

Selanjutnya apa yang membuat album ini layak menjadi sebuah “theme song” bagi para penikmat musik distorsi dengan lantunan beat yang rapat? “Kami tidak sedang bernostalgia dengan sistem Monarki yang kami tuangkan dalam album kami. Hanya membunyikan sebuah sirine tanda peringatan. Memang benar dalam sistem Monarki mungkin tidak buruk. Namun sampai berapa lama? Ketika Raja yang baik meninggal dunia dan digantikan putra mahkota yang lalim, bagaimana nasib rakyatnya?” tegas Bhima, gitaris Diminish Perception.

BACA : Math-Rock : Instrumental Namun Tetap Membawa Pesan

Namun bukan itu yang akan di tekan kan disini, disini penulis akan memberitakan bahwa usai meluncurkan album perdana mereka dalam bentuk cakram padat bulan Agustus tahun lalu, unit DeathMetal asal Boyolali, DIMINISH PERCEPTION merilis ulang album tersebut ke beberapa kanal musik digital, band yang juga sedang merampungkan rangkaian tour promo album mereka yang diberi judul “MONARKI” ini menyatakan telah merilis album mereka secara  penuh ke kanal musik digital pada tanggal 28 desember tahun lalu.

Album yang mengangkat isu sosial dan pemerintahan ini menjadi salah satu daya tarik bagi DIMINISH PERCEPTION, karena memang tak banyak band yang berani mengangkat isu tersebut, namun dengan cara mereka yang tegas DIMINISH PERCEPTION berusaha untuk mengkritisi isu isu tersebut kedalam bentuk musik.

Terdapat 8 trek dalam album tersebut, dan dalam penggarapan album tersebut DIMINISH PERCEPTION tak hanya mengajak kawan-kawan sesama musisi untuk berkolaborasi, namun juga menggandeng penyair, salah satunya adalah Usman Arrumy, penyair yang sudah melahirkan beberapa buku ini turut andil dalam salah satu trek di album MONARKI tersebut

Dalam rangka promo album mereka DIMINISH PERCEPTION juga melangsungkan rangkaian tour ke beberapa kota dimana rangkaian tour ini mereka beri nama “HAIL AMUNISICK TOUR”. Rangkaian tour yang menginvasi 6 kota ini menyambangi Wonogiri, Magelang, Solo, Jogjakarta, Semarang, dan Boyolali.


 

SWEET SEVENTEEN THE UPSTAIRS

Doc : Instagram The Upstairs

Jika diibaratkan manusia usia 17 tahun adalah masa dimana orang biasa menyebutnya dengan kata “remaja”, dimana pada usia tersebut remaja sedang mengalami puncaknya rasa penasaran dan juga produktif.


Longlifemagz – Sama halnya denga The Upstairs, menuju umur yang ke-17 The Upstairs juga telah merampungkan proses produksi, dan telah merilis single baru yang berjudul “Semburat Silang Warna”, single yang dirilis dalam bentuk klip video di kanal youtube ini menceritakan perihal gambar dari anak sang vokalis yaitu Jimi Multhazam.

“..single ini kayak nerjemahin gambar anak gue aja sih…”  ujar Jimi saat ditemui seusai manggung di parkir Lotte Mart Semarang.

Jimi Multazam yang juga menjadi vokalis band Morfem juga menyampaikan ia memilih gambar dari sang anak yang bernama Pijar karena menganggap bahwa gambar dari anaknya tersebut seperti gambar kontemporer, dengan imajinasi yang sangat liar Pijar menggambar Godzilla (karakter monster) kemudian ada orang orang dan juga gedung gedung yang terbakar dengan ke luguannya sebagai anak kecil. Lalu dengan bahasanya yang khas, Jimi Multhazam menerjemahkan gambar tersebut menjadi lagu yang berjudul “Semburat Silang Warna”

BACA : PERJALANAN AWAL INDUSTRI MUSIK INDONESIA

Perilisan single ini juga terbilang unik karena single ini di rilis dalam bentuk video, bukan hanya bentuk perilisannya saja yang unik, video yang diproduseri oleh Toma & Kako ini juga memiliki konsep yang unik khas era 80-90an, dalam video ini terdapat permainan khas 80an yaitu dingdong, didalam mainan itu ada game yang berjudul “HANTAM”, game ini menceritakan ada sekelompok orang yang menjadi karakter dalam game tersebut yang sedang melawan sistem yang ada, hingga pada puncaknya mereka bertemu dengan Godzilla yang merupakan interpretasi dari gambar sang anak tadi.

Dalam proses pembuatannya video klip ini pada awalnya memiliki penafsiran yang berbeda antara produser dengan Jimi Multhazam selaku penulis lagu, namun setelah dibuat story linenya Jimi pun cukup terkesima, hingga pada beberapa hari yang lalu diupload video ini sudah mencapai 19 ribu viewers.

BACA : RAISA PECAHKAN SUASANA SCOOTER 2018

Beberapa hari setelah perilisan single ini the upstairs juga mengadakan hearing season, dimana single mereka di perdengarkan untuk kalangan anak muda beberapa hari yang lalu dalam acara hear it first, selain anak anak muda The Upstairs juga memperdengarkan single mereka pada para penjual cd, kaset, dan vinyl di kawasan blok m, selain untuk promosi hal itu juga bertujuan untuk mendengar pendapat mereka tentang bagaimana perbedaan The Upstairs yang dulu dan juga yang sekarang.

Photo doc : Instagram @theupstairs

Untuk melengkapi single tersebut The Upstairs juga akan merilis sebuah EP Album yang berisi 5 lagu yang akan dirilis beberapa dalam hari lagi, dalam EP Album tersebut terdapat lagu “Luar Biasa Terkesima”, “Televisi”, “Alexander Graham Bell”, “Junkfood Sodom Gomora”, serta tak ketinggalan “Semburat Silang Warna”. EP Album yang dirilis Langen Srawa records ini seolah menjadi tanda kembali produktifnya The Upstairs setelah album Katalika yang dirilis pada tahun 2012 lalu.

BACA : BAND MATH-ROCK MURPHY RADIO RILIS “GRACIAS” SEBAGAI SINGLE PERTAMA DI ALBUM PERDANA

EP ini menjadi pertanda karena beberapa waktu yang akan datang The Upstairs juga akan melakoni beberapa rangkaian tour, tour yang akan dijalani juga tidak sembarang tour karena tour ini akan sekaligus memperingati 17 tahun dari The Upstairs ini sendiri, lawatan tournya yang pertama akan ada di Kota kelahiran mereka sendiri yaitu Jakarta dalam gelaran Synchronize fest pada tanggal 5 oktober bertepatan dengan 17 tahun The Upstairs ini sendiri, kemudian dilanjutkan dengan kota Bandung dan Bali, The Upstairs juga mengajak teman teman kota lain untuk menghubungi kontak yang tertera di Instagram The Upstairs apabila ingin turut serta mengundang The Upstairs dalam rangkaian tournya kali ini.

Photo doc : Instagram @theupstairs

Tak berhenti sampai disitu, The Upstairs juga akan mengisi soundtrack film layar lebar yang bergenre komedi romantis garapan produser john de rantau, film yang diangkat dari cerpen karya Gumira Ajidarma ini akan diangkat dengan judul yang sama yaitu “Dilarang menyanyi di kamar mandi”, film yang diproduksi oleh Himaya Pictures ini tak hanya mengajak The Upstairs untuk mengisi theme song, namun juga untuk mengisi background background musik yang ada di film, rencananya The Upstairs akan membawakan beberapa lagu lama dan juga beberapa lagu baru untuk mengisi film tersebut.

Jazz Melena di Daerah Istimewa

IMG-20180821-WA0010

Doc : Fadhil Umar

Kali kedua Boyzone sambangi Indonesia


Minggu 19 agustus 2018 menjadi kali keduanya grup vokal legendaris Boyzone kembali menjajaki panggung di Indonesia, 21 tahun yang lalu tepatnya pada bulan September 1997 grup vokal asal Irlandia ini pernah menjajal panggung Indonesia pada gelaran “A Different Beat Asian Tour”, bertempat di depan megahnya warisan budaya dunia yaitu Candi Prambanan Boyzone mengajak para penonton untuk bernostalgia ke-era 90an dengan menyanyikan lagu lagu hits mereka sekaligus menutup hangatnya gelaran “prambanan jazz festival 4”

Gelaran ke-4 yang di organisir oleh “Rajawali Indonesia Communication” ini menjadi pesta tahunan bukan hanya bagi para penikmat musik jazz saja, melainkan untuk semua kalangan, buktinya pada gelaran kali ini prambanan jazz festival turut serta menampilkan musisi musisi lintas genre, mulai dari pop, hip-hop, rock, hingga folk, bahkan pada gelaan ini juga menjadi panggung reuni band legendaris Indonesia yaitu dewa 19, berlatar belakang megahnya candi prambanan musisi kawakan Indonesia itu memainkan lagu lagu legendaris mereka.

BACA : SYNCHRONIZE FESTIVAL, PESTA MUSIK INDIE YANG SELALU DINANTI

Prambanan jazz festival ini diadakan selama 3 hari, yaitu tanggal 17, 18, dan 19 Agustus 2018, menampilkan musisi-musisi nasional bahkan internasional, dengan total 27 penampil Prambanan Jazz Festival sukses membuat para pengunjung terlena dengan penampilan mereka, selama 3 hari itu pula para pengunjung dimanjakan dengan cantiknya Candi Prambanan, juga sedapnya makanan makanan khas Yogyakarta pada bagian “pasar kangen”. Ya, pada gelaran kali ini rajawali Indonesia communication sengaja menambahkan sebuah “wahana” yang berisikan makanan makanan khas Yogyakarta dan juga makanan makanan “jaman dulu” yang memanjakan lidah para pengunjung dengan harga yang cukup murah.

027524200_1534587758-Marcell_di_Prambanan_Jazz_foto_by_Bambang_E_Ros__1_

Doc : : Liputan6

Prambanan Jazz Festival kali ini juga menjadi ajang kolaborasi para musisi musisi contohnya pada hari pertama ada dedengkot instrumental jazz Indonesia yang berkolaborasi dengan Sheila majid, Marcell, dan Rio febrian, kemudian ada kolaborasi unik dengan dua grup vocal lintas generasi yaitu ada kahitna dan RAN yang menamai kolaborasi mereka dengan nama KahitRAN. Pada hari kedua juga tak kalah menarik, dimana ada kolaborasi ayah dan anak yaitu Yovie Widianto dan Arsy Widianto yang juga sekaligus menggandeng jebolan idol Indonesia asal Yogyakarta yaitu Brisia Jodie, ada juga kolaborasi antara Tompi yang menggaet musisi jazz muda Nadya Fatira, kemudian keyboardist kenamaan Indonesia yaitu Indra Lesmana yang berkolaborasi dengan Eva Celia, kemudian hari kedua ditutup dengan legenda jazz dunia asal Kanada yaitu Diana Krall, pianis sekaligus penyanyi jazz ini menjadi salah satu bintang tamu utama dalam gelaran Prambanan Jazz festival tahun ini.

BACA : RAISA PECAHKAN SUASANA SCOOTER 2018

Hari ketiga yang seolah menjadi pamungkas gelaran ini terlaksana dengan sangat meriah, diawali dengan penampilan band MLD Jazz Project di panggung Hanoman Stage, band bentukan program audisi MLD Jazz Project ini menampilkan musik musik dengan swing yang sangat terasa dan juga dengan jeritan saxophone yang begitu indah, membuat teriknya matahari seolah tak terasa.

Dilanjutkan dengan penampilan band pop Jikustik yang membuat para pengunjung ikut bergerak mengikuti irama musik musik Jikustik yang hits, bersamaan dengan itu di Rorojongrang stage juga tak kalah seru dimana ada penampilan dari Sierra  Soetedjo. Pelantun lagu “The Only One” ini menampilkan lagu lagunya dengan suara yang sangat indah.

Menjelang tenggelamnya matahari band yang sedang memproses album baru, Barasuara menghantarkan penonton menikmati indahnya sore hari di Prambanan, dengan latar belakang sunset prambanan yang begitu indah Barasuara seolah mendapatkan energi lebih untuk membawakan lagu lagu mereka, bahkan beberapa materi lagu pada album mereka yang akan datang juga turut serta dibawakan, bersamaan dengan itu pula di Rorojongrang stage ada penampilan kolaborasi dari Idang Rasjidi yang berkolaborasi dengan Syaharani.

BACA :  ALL TIME LOW AKHIRI FESTIVAL MUSIK HODGEPODGE SUPERFEST 2018

Menjelang malam hari duo folk tuan rumah yaitu Stars and Rabbit menaiki panggung, dengan nada vokal suara tinggi yang khas, Stars and Rabbit sukses membuat para penonton merinding dengan lengkingan lengkingan khas nya, dengan format fullband dan juga ditambahkan dengan iringan iringan gesekan biola dan cello membuat stars and rabbit sangat berkelas, bersamaan dengan itu di Rorojongrang Stage juga ada penampilan dari band kawakan Indonesia yaitu GIGI, dengan beberapa gubahan lagunya yang diarransemen menjadi “sedikit” lebih jazzy, GIGI sukses membuat penonton seolah bingung, karena pada saat yang bersamaan band idola mereka tampil dalam panggung yang berbeda, tak jarang terlihat beberapa orang berlarian berpindah lokasi agar tetap dapat menonton kedua band favoritnya tersebut.

Seusai lagu “man upon the hill” giliran solois jazz pop Indonesia yaitu Glenn fredly menguasai Hanoman Stage, solois yang bergabung dalam Trio Lestari ini juga sukses membuat para penonton berteriak kegirangan.

Seusai itu giliran solois pop indonesia Tulus menaiki panggung, dengan lagu lagunya yang hits tulus sukses membuat penonton hanyut dalam alunan lagu dan turut bernyanyi bersama, sebut saja lagu lagu tulus seperti “gajah”, “monokrom”, “sepatu” dan lain lain yang tak lagi asing di telinga para penikmat musik indonesia.

Bersamaan dengan berpamitanya Tulus dari panggung ternyata saudah terlihat antrian yang mengular menuju Rorojongrang stage dimana Special show akan dilaksanakan.

DYbNy14VAI

Doc : Medcom.Id

Special show dibuka dengan penampilan reuni dari band kawakan indonesia yaitu Dewa 19 dengan vokalisnya yaitu Ari lasso dengan membawakan lagu “restoe boemi”, dilanjutkan dengan deretan lagu hits mereka seperti “cukup siti nurbaya”, “satu hati”, “kangen”, “kirana”, dan “separuh nafas”. dalam penampilannya

Dewa 19 juga kedatangan “bintang tamu” lain yaitu sang anak dari Ahmad Dhani yaitu Al ghazali, dalam kesempatan itu Al ghazali ingin berkolaborasi dengan Dewa 19 dengan memegang instrument drum, jadilah mereka berkolaborasi dengan “roman picisan” sebagai lagunya.

BACA : 180 MENIT BERSAMA EFEK RUMAH KACA DI COMFEST 2018

Seusai penampilan ciamik dari Dewa 19, sang bintang tamu terakhir malam itu mendapat giliran manaiki panggung, grup vokal Boyzone sebagai pamungkas Prambanan Jazz Festival ini merupakan penampilan yang sangat special.

Bagaimana tidak, selain ini adalah kedatangan mereka setelah 21 tahun yang lalu mereka menyambangi indonesia dalam rangkaian tour asia mereka, aini juga merupakan salah satu penampilan terakhir mereka sebelum mereka bubar tahun depan.

Tampil dengan personil lengkap Boyzone membawakan lagu lagu mereka mereka yang hits pada era 90an dengan sangat sempurna, sebut saja “words”, dan “love me for a reason”. Grup vokal yang sedang proses pembuatan album baru sekaligus pamungkas mereka juga membawakan single mereka yang akan ada pada album tersebut, lagu yang berjudul “because” tersebut ternyata merupakan ciptaan salah satu penguasa billboard yaitu Ed Sheeran.

Hingga seusai mereka memberikan ucapan tanda pamit yang membuat para penonton bersedih ternyata mereka sengaja membuat sebuah kejutan, dengan memberikan 3 lagu tambahan sebelum akhirnya mereka benar benar menuruni panggung Rorojongrang Stage, bersamaan dengan itu para pengunjung terlihat mulai meninggalkan venue.

Ada satu hal yang menarik pada gelaran Prambanan Jazz Festival kali ini, yaitu launching buku “100 KONSER MUSIK DI INDONESIA” buku karya “Anas Syahrul Alimi” yang sekaligus menjadi CEO Rajawali Indonesia Communication ini berisi review konser konser musik yang ada di indonesia, mulai dari 1929 sampai dengan konser musik yang akan datang hingga tahun 2019.

berkolaborasi dengan Muhidin M Dahlan yaitu pendiri Radiobuku  dan Warung arsip buku ini diluncurkan bersamaan dengan event Prambanan Jazz Festival tersebut, dan uniknya buku ini seluruh pendapatannya akan di sumbangkan pada bencana gempa bumi Lombok, review buku tersebut akan ada pada artikel lain.