1


Math-Rock : Instrumental Namun Tetap Membawa Pesan

Doc :Mr.FAT24

Lagu instrumental math-rock dengan tone gitar bening dan variasi time signatures drum ini terdengar dinamis lumayan segar, lengkap dengan produksi yang baik dan mengingatkan akan banyak band-band Jepang dengan sound yang serupa. Tidak adanya vokal berhasil ditutupi oleh banyaknya pergantian parts dari lagu. -Yudhistira Agato (Vice Indonesia)


Longlifemagz – Ada satu predikat yang melekat dalam diri Joko Widodo (Jokowi), dan itu mungkin saja membuatnya menjadi istimewa –mungkin iya bagi sebagian golongan– dibandingkan dengan seluruh aktor politik, atau pemimpin di negeri ini. Dia adalah seorang metalhead, pecinta berat musik beraliran keras. Koleksi albumnya juga tidak sembarangan, dari Metallica, Black Sabbath, Slayer, Megadeth, Lamb of God, Motorhead, Iron Maiden dan mungkin tak terkecuali band-band cadazz lainnya.

Buat saya, selera musik Jokowi tidak berlebihan, beliau mendengarkan apa yang memang seharusnya di dengar pada masa itu. Toh, band-band yang disebutkan diatas adalah band-band yang sudah berumur. Tapi, apakah Pak Presiden kita ini juga mendengarkan Barasuara, Jason Ranti, atau bahkan Feast? sebenarnya ini patut ditanyakan. Namun saya tidak akan membahas itu, saya tidak akan memperdebatkan selera musik Pak Presiden, saya juga tidak terlalu peduli dengan hal demikian. Karna sejatinya, selera itu tidak akan bisa di perdebatkan.

Dua ribu delapan belas baru saja berakhir dengan segala kejutan-kejutan akhir tahun. Feast masih merajai, bahkan masih terngiang-ngiang dalam ingatan bagaimana Feast membakar konser-konser yang mereka tempuh. Bahkan media ternama Pop Hari Ini, memuat artikel yang menurut saya cukup panjang dan menarik  berisikan obrolan berisi dengan tajuk “.Feast Si Pembwa Pesan”.

BACA :Murphy Radio Siap Tur Bersama Band Asal Singapura, Hauste

Saya tidak akan pernah bisa berhenti mengamini lagu-lagu yang dilantunkan Feast, dengan gaya bahasa yang mereka keluarkan, bahkan seperti sumpah serapah yang sebenarnya bisa saja melabeli diri mereka dengan slogan Broadcast The Truth. Namun, rasa penasaran saya tentang ini lebih besar kepada Trio Math Rock Samarinda, Murphy-Radio.

Doc : Murphy Radio

Kesempatan ini terjadi pada gelaran Subversif Vol.4 yang dihelat di G-Cafe pada tanggal 19 Desember 2018 kemarin. Dengan mengusung tema mid-west java tour 2018, Murphy-Radio (Samarinda) melakoni tour bersama bersama grup asal Singapura, Hauste. Dibawah bendera label yang sama, mereka berhasil melakoni tour di kota-kota besar seperti Yogya, Semarang, Bandung dan ditutup di Jakarta.

BACA : PERJALANAN AWAL INDUSTRI MUSIK INDOENSIA


Waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam, suasana semakin riuh tak terkendali. Botol bir dan tak luput juga Congyang bertebaran di tiap-tiap sudut ruangan. Murphy mulai menaiki mimbar, mereka mempersiapkan diri, dan terjadilah perhelatan Math-Rock yang sebenarnya. Instrumental namun tetap membawa pesan.

“Congyang gimana rasanya?”

“sedappppp, baru posting di semarang yang pesan (congyang) sudah lima orang” kata Wendra (gitaris) sambil tertawa. Congyang tidak lagi sekedar minuman, tapi itu adalah simbol bagaimana kita menyambut hal-hal baik di Semarang.

Murphy-Radio terbentuk tahun 2013 bermula dari teman kelas dan tongkorongan di Samarinda, dengan Wendra sebagai penggagasnya.

“waktu itu formatnya masih alternative rock, terus bertahan sampai 2016 sempet gonta-ganti personil sampai akhirnya Aldi (basis) masuk, di tahun 2017 drummer keluar dengan alasan fokus kuliah, terus masuklah Amru (drummer) menggantikan sampe sekarang.” Kenang Wendra dengan santai.

Selanjutnya, nama Murphy-Radio sendiri dipilih.

“Nah ini cerita unik nih, jadi waktu 2013 pas awal band ini kebentuk kan satu kontrakan tuh dan nonton drama india, disitu ada part dimana kakek-kakek jadi announcer di stasiun radio, dan disitu beliau bilang layaknya penyiar radio, jangan kemana-mana, tetap di murphy radio. Jadi murphy radio sebenarnya nama radio di film BARFI.” kata Wendra, tertawa.

Selanjutnya, proses kreatif itu berjalan dengan normatif. Wendra membuat part-part gitar terlebih dahulu, kemudian materi tersebut disempurnakan dengan ciamik oleh Amrullah (drummer) dan Aldi (bassist) dengan part-part yang sedikit rumit, namun tetap easy listening.

Bicara influent, wendra menjelaskan bahwa “sebenernya saya tuh sering dengerin band Midwest-emo, juga band band jejepangan yang instrumental, nah kalo saya sendiri sering dengerin lagu Midwest-Emo cuman kalo dari segi materi saya lebih sering ambil dari band jepang, jadi kayak menyilangkan materi-materi Midwest-Emo sama instrumental jepang.” ujar Wendra.

Instrumental math-rock dengan tone gitar dan variasi drum ini terdengar sangat dinamis dan juga lumayan nikmat untuk dinikmati, lengkap dengan kualitas rekaman yang baik dan jujur beberapa lagu dari Murphy-Radio mengingatkan kita kepada band-band jepang yang instrumental. Tidak adanya vokalis berhasil ditutupi oleh banyaknya part-part lagu yang memang sulit dipercaya.

Tanpa adanya vokal yang dominan dalam lagu-lagu Murphy-Radio, bukan berarti mereka menyuguhkan lagu tanpa pesan.

“saya paling suka di lagu itu tuh blossom and paw, jadi ceritanya tuh tentang gini, kita kan cowo-cowo nih, biasanya tuh cowo-cowo jarang akrab sama ayah kita, sering beda pendapat juga tuh, cuman secara ngga langsung kita ngga tau bahwa ayah kita sering berbuat baik ke orang lain, jadi banyak banget orang yang suka sama dia tanpa kita ketahui, jadi sementara kita ngga akrab sama beliau ternyata diluar banyak orang orang yang suka sama beliau. Jadi kenapa dikasih judul blossom and paw karena secara ngga langsung ayah kita menanamkan benih-benih bunga ke orang lain, dan ketika orang lain suka sama beliau baru benih itu tumbuh, nah kalua paw itu sebenernya kata sleng dari ayah” Jawab Wendra santai.

Beralih ke genre, Murphy-Radio memang secara jujur benar-benar menikmati Math-Rock. Walaupun dalam perjalanannya di tahun 2013 mereka sempat tersesat dalam alternative rock, namun dengan konsistensi dan kecintaannya terhadap Math-Rock, Murphy-Radio mampu bertahan hingga menciptakan single sampail album penuh.

Tour ini juga bukan tour pertama yang dihelat oleh Murphy-Radio. Setelah eksis di beberapa festival musik besar, salah satunya Synchronize Fest 2018, bersama grup musik Soloensis (Solo) dan Semiotika (Jambi), setelahnya Murphy Radio melakoni tur singkat namun padat yang bertajuk “Barisan Sinkron’ di wilayah Jabodetabek.

Setelah rentetan jadwal tur mereka. “Insyaallah di tahun depan ada split album sama band  Eleventwelfth (Jakarta), sama ada perilisan ulang oleh label dari Jepang yang didalamnya akan ada dua lagu baru” ujar Wendra menutup pembicaraan.

Buat saya, Murphy-Radio bagaimana mereka melawan arus. Semoga saja, Samarinda, dan kota-kota lainnya ramah menerima Murphy-Radio. Sukses Selalu. Salam damai. Tekan Pedal Distorsi!!!


Reporter : Fadhil Umar
Doc : Mr.Fat24

Get up Stand up : Perlawanan dalam Musik

Doc : bbc.com

Sebenarnya, apakah ada musik yang mampu menciptakan perubahan sosial? Atau jangan-jangan musisi menciptakan protest song hanya ingin terlihat intelektual?


Longlifemagz – Sesungguhnya tidak ada apa yang dinamakan sebagai lagu protest song atau kalau memaknai Guruh Soekarnoe Putra dalam video yang diunggah oleh sound form the corner tidak boleh memakai bahasa asing, Sesungguhnya tidak ada apa yang dinamakan sebagai lagu protes sosial.

Tentang ini, Bob Dylan, musisi yang bisa dikatakan sebagai bengawan dalam urusan ini, mengatakan beberapa saat sebelum menyanyikan “Blown’ in the Wind” untuk pertama kalinya, “This here ain’t a protest song”. Rekan seangakatan Dylan, Joan Baez, yang paling kita kenal karena menyanyikan lagu-lagu tentang perjuangan persamaan hak-hak sipil serta anti Perang Vietnam juga mengatakan bahwa, “I hate protest songs, but some songs do make themselves clear”

Bahkan banyak orang yang curiga dengan musik protes sosial. Tom Robinson, seorang penulis lagu-lagu politis yang juga terkenal di dekade 1970-an, mengemukakan kecurigaan bahwa jangan-jangan orang menulis protest song hanya untuk “peddle your second-rate pop music or peddling your second-rate political ideals on the back, of your political carrer.” Atau jangan-jangan musisi menulis lagu-lagu protes sosial hanya ingin dianggap pintar, dan mengutip isitilah netizen Indonesia, hanya ingin eksis belaka.

BACA : PERJALANAN AWAL INDUSTRI MUSIK INDOENSIA

Indonesia, sebagai negara dunia ketiga dengan jumlah penduduk yang sangat majemuk, tidak terlepaskan juga dengan apa itu yang dinamakan lagu-lagu protes sosial. Hampir tidak ada musik protes sosial yang gagal secaara artistik. Jawabanya sebenernya sederhana: karena lagu protes sosial adalah musik pop yang bagus.

Komposisi-komposisi mutakhir pop yang berisi social commentary seperti Efek Rumah Kaca atau musik Rap dari Homicide atau bahkan Pandji Pragiwaksono adalah musik-musik dengan komposisi nomor wahid yang tidak akan pernah mati di gerus zaman.

Saya tidak akan pernah bisa berhenti mengamini  semua lagu-lagu yang diciptkan oleh Bob Dylan, Joan Baez, Efek Rumah Kaca atau bahkan Merah Bercerita. Namun rasa penasaran saya tentang protest song lebih besar kepada seorang musisi yang selalu membawa perdamaian, entah itu karena musiknya atau ideologinya yang tidak terlihat namun terasa dimana-mana.

BACA : SWEET SEVENTEEN THE UPSTAIRS

Siapa yang tidak kenal dengan Robert Nesta “Bob” Marley, sebagai seseorang yang lahir dari rahim seorang budak kulit hitam, Bob Marley tidak akan pernah lepas dengan kata ‘Perjuangan’. Ketimpangan kelas sosial yang sangat tajam dalam masyarakat Jamaika menjadikan alasan dalam kata perjuangan itu.

Tapi saya tidak akan menceritakan bagaimana Bob Marley besar dengan segala karya, pengaruh ia terhadap masyarakat, atau bahkan dengan Rastafaria yang ia imani.

Doc : rosshalfin.com

Saya bukan penikmat musik Bob Marley yang sangat fanatik, saya tidak berambut gimbal, atau bahkan saya bukan seseorang yang vegetarian. Namun, lagu dalam album Burnin’ yang bertajuk “Get Up Stand Up” membawa saya kedalam pemahaman bahwa musik bisa menjadi sebuah alat perlawanan hingga saya harus menuliskan artikel ini.

“get up stand up, stand up for your right!
get up, stand up, don’t give up the fight!

Demikian sebuah penggalan lirik dari salah satu lagu tersebut. Lagu yang dirilis pada tahun 1973 dan menjadi lagu terlaris di album Burnin’. Versi semua orang yang mengimani Bob Marley sebagai “Nabi”, lagu ini sering dibawakan oleh Marley di tengah-tengah masyarakat kelas bawah Jamaika. Lagu ini merupakan representasi perlawanan masyarakat kulit hitam terhadap segeregasi dan diskriminasi rasial. Selain itu, lagu ini juga mengambarkan karakter Marley yang menganut ajaran Rastafarian.

Penindasan memang marak terjadi pada mereka, bahkan aturan Jim Crow di amerika serikat berkumandang pada tahun 1876 yang tujuannya adalah membatasi orang-orang kulit hitam untuk menikmati fasilitas publik. Fasilitas yang diberikan oleh mereka lebih jelek dibandingkan dengan orang-orang kulit putih. Lebih tragisnya, mereka dipinggirkan dari kehidupan modern.

Kembali ke persoalan protest song, aliran musik yang diusung oleh Marley dalam lagu ini membuat cita rasa ‘Seruan terhadap gerakan” menjadi kian nikmat,santai, dan tidak ada gejolak yang tinggi dalam sebuah gerakan.

Marley menggambarkan masyarakat kulit hitam yang tertindas dalam lagu ini dalam liriknya; “I know you don’t know, what life is really worth.” Mereka benar-benar tidak tahu bagaimana hgarus hidup dengan layak. Mereka dibawa dari Afrika menuju Amerika dan dijadikan budak bagi orang-orang kulit putih.  Mereka dijadikan barang dagangan, dijadikan sebagai media pertunjukan layaknya binatang sirkus. Jika berontak terhadap majikannya, mereka seketika dianggap kriminal dan pantas untuk dibunuh.

BACA : ANTARA MOSHING, UNDERGROUND, DAN BUTA MAKNA

Tapi apa yang lebih indah dari itu, bahwa Marley membantah anggapan bahwa “jangan-jangan musisi menulis protest song karna ingin dilihat pintar atau bahkan ini hanya ada kepentingan belaka”. Marley bukan lagi musisi kelas teri, ia berhasil menagkap semua permasalahan yang ada di sekitar, bahkan dirinya sendiri dan dikemas menjadi sebuah lagu atau sajak yang bisa saja meng-gugah bagi pendengar. Sampai mungkin pendengar berkata, “anjir, gue banget nih lagu”.

Satu hal yang harus kita sepakati, bahwa dari lagu ini saja banyak sesuatu edukasi yang kita ambil –khususnya musik sebagai gerakan sosial. Belum lagi, kita mengkaitkan lagu ini kepada lagu berikutnya yang juga diciptakan oleh Bob Marley –Redemption Song- pada tahun 1980 yang mungkin saja diulas untuk artikel berikutnya.

Untuk selanjutnya, apakah Get Up Stand Up, Redemption Song, dan lagu lain yang diciptkan Bob Marley untuk menuntut kesetaraan berhasil atau tidak, kita harus kembalikan lagi terhadap bagaimana perlawanan yang sesungguhnya terjadi. Menurut saya, musik ini menjadi pengikat, atau di ibaratkan bensin yang mampu membakar semangat perjuangan dalam suatu gerakan sosial.

Pahlawan – pahlawan Indonesia, seperti Merah Bercerita, Efek Rumah kaca juga tidak pernah berhenti menyuarakan kegelisahan mereka terhadap penegakan HAM entah itu berupa lagu atau aksi langsung mereka turun kejalan misalnya. Tapi setidaknya, lagu-lagu yang mereka ciptakan menjadi notif bagi para penguasa.

Mungkin hal ini yang saya selalu tanamkan bagi diri saya, bahwa musik tidak hanya sekedar media hiburan namun juga menjadi bagian komunikasi yang pastinya terdapat pesan didalamnya, terserah pesan apa saja, cinta, politik, kesetaraan gender, atau bahkan kampanye.

Saya sepakat dengan beberapa anggapan dari Taufiq Rahman sebagai pengamat musik yang luar biasa, bahwa musik tidak hadir di ruang kosong. Musik secara intrinsik tidak ada yang baik dan buruk, hanya subjek yang bisa memberi makna makna. Musik, sebagaimana produk budaya lain, menjadi cermin dari masyarakat yang melingkupinya. Dan musik bisa menjadi alat protes sosial atau agen perubahan hanya ketika subjek pendengarnya memberinya makna dan menginginkannya menjadi musik protes sosial.


Refrensi :

  1. Jude Wanniski, “Tim Russett Interview with Farrakhan, NBC – Meet the Press” (www.polyconomics.com/memos/mm-970416/, diakses 18 – November – 2018, 1997).
  2. Lokasi tidak ditemukan: Mencari Rock and Roll sampai 15.000 Kilometer

 

 

Perjalanan awal Industri Musik Indoensia

Doc by Thecrafters.co

“….. hidup itu pendek, seni itu ndak panjang-panjang amat, apalagi cuma ben-benan. tapi cita-cita baik akan jadi warisan yang tak terkalahkan, sekalipun oleh waktu.” @faridstevy


Longlifemagz  Perjalanan panjang industri musik indonesia yang dimulai di awal abad ke-20 dalam kemasan piringan hitam, awalnya menjadi sangat marak justru setelah dikembangkan oleh para pembajak dalam format pita kaset. Lantas, perkembangan terus berlanjut hingga proses digitalisasi meliputi proses video di dalamnya.

Pada awalnya, peralatan rekaman yang dibawa orang-orang belanda pada awal abad ke-20 merupakan cikal bakal lahirnya industri musik di Indonesia. Perusahaan rekaman di Indonesia yang memproduksi piringan hitam dimulai dari tahun 1950-an hingga 1970-an. Dalam masa tersebut, tercatat ada lima perusahaan yang memproduksi piringan hitam, diantaranya Irama, Dimita, Lokananta, Remaco dan Metropolitan.

  1. Irama (The Indonesian Music Company)

Sujoso Karsono atau yang sering dipanggil Mas Yos, mendirikan industri musik dengan nama label Irama (The Indonesia Music Company Limited). Didirikan pada sekitaran tahun 1951, perusahan ini bekerja sama dengan beberapa penyanyi, di antaranya Hasnah Tahar dan Munif Bahasuan penyanyi bergenre melayu, ada juga Minang Oslan Husein penyanyi dengan gaya rock’n roll, Rachmat Kartolo dengan orkes keroncong, tidak luput juga Bing Selamet sebagai salah satu penyanyi pop pada masa itu dan yang terakhir Kus Bersaudara.

Label Irama memang merekam semua jenis musik, mulai dari jazz, rock ‘n roll, pop, keroncong, melayu, hingga gambang kromong. Kemudian, Irama pun memiliki pabrik Piringan Hitam sendiri yang kemudian mencantumkan kode huruf di setiap produksinya. Misalnya seperti K untuk (Keroncong), M untuk (Melayu), G untuk (Gambang), DB untuk (Bali) dan masih banyak lagi.

Doc Irama Nusantara

  1. Dimita 

Perusahaan yang beroprasi pada tahun 1950-an hingga 1970-an diawali dari perjalanan panjang Mohammad Sidik Tamimi. Pria yang dikenal dengan nama Dick Tamimi ini memiliki banyak kesamaan dengan Mas Yos dalam bermusik, sebagai pensiunan Angkatan Udara Republik Indonesi (AU-RI) memanfaatkan masa pensiunnya sebagai sound enginer  di studio musik milik Mas Yos hingga awal tahun 1954 beliau mendirikan Dimita Moulding Industri yang membawahi dua label sekaligus yaitu Mesra dan Melody.

Beberapa musisi ternama dikontrak perusahaan rekaman miliknya, mulai dari Koes Bersaudara yang pindah dari Label Irama dan bermetamorfosis menjadi Koes Plus di tahun 1969, Panbers, Dara Puspita, Diselina, Medenasz, The Brims, Paramour, Man’s Group, Diah Iskandar, Ernie Djohan, Elly Kasim, Sandra Sanger, Rossy hingga Benjamin Sueb.

BACA : Raja Dangdut, Polemik Dakwah, Musik, dan Goyang

  1. Remaco (Republic Manufacturing Company Limited)

Remaco (Republic manufacturing company limited) yang didirikan oleh pasangan suami istri Moestari dan Titin Soemarni pada tahun 1954 ini mempunyai visi idealisme yang tinggi terhadap musik keroncong. Terlihat padaada masa kepemimpinan pasangan tersebut, remaco hanya memproduksi piringan hitam dengan lagu-lagu keroncong dan hawaian. Namun, ketika terjadi pergantian kepemimpinan di tangan Eugene Timothy, Remaco mulai merekam jenis musik lain yang berkembang sesuai selera pasar. Beberapa musisi popular pernah berkerja sama dengan peruashaan tersebut, diantaranta Broery Pesonalima, Lilis Suryani, Ida Royani, Benyamin S, Rhoma Irama, Koes Plus dan sederet nama beken pada masa itu.

Dalam perkembangannya, Remaco berhasil menjadi perusahan rekaman terbesar di Indonesia pada era 1970-an hingga kedatangan perusahan rekaman Lokananta yang digagas oleh pemerintah pada masa tersebut.

  1. Lokananta

Di tahun 1955, pemerintah menggagas perusaahan rekaman yang diberi nama Lokananta dan berkedudukan di Solo. Tugas utama perusaahan rekaman ini adalah mendokumentasikan berbagai program acara di Radio Republik Indonesia (RII) yang dibuat dalam bentuk pita reel maupun piringan hitam. Berawal dari usulan Kepala Kerja Jawatan RRI Maladi kepada Soekarno, pemerintahan mendirikan perusahaan Lokananta dan diresmikan sebagai perusahaan milik negara pada tahun 1961 melalui PP NO. 215/1961.

Doc Irama Nusantara

Pada awalnya, Lokananta digunakan sebagai perusahan piringan hitam untuk kepentingan siaran di studio radio RII se-Indonesia yang berjumlah sekitar 49 Studio. Salah satu penyanyi popular yang melakukan rekaman di perusahan ini adalah Waljinah, sebagai informasi Waljinah adalah penyanyi keroncong yang bersinar sejak memenangi kontes Ratu Kembang Kacang di Solo pada tahun 1938. Selain itu, nama-nama seperti Titiek Puspa, Gesang, Christine Kabane, Bob Tutupoly, A. Kadir, A. Rafiq dan masih banyak lagi lainnya termasuk juga Gendhing Karawitan yang merupakan gubahan dari dalang ternama Ki Narto Sabdo serta Karawitan dari Jawa Surakarta dan Yogyakarta, bahkan juga rekaman kesenian Ludruk.

  1. Metropolitan

Perusahan piringan hitam ini didirikan pada tahun 1955 oleh Djamin Wijaya atau yang akrab dipanggil Amin Tjengli. Perjalanan perusahan tersebut hanya sebagai produsen piringan gitam dari lagu-lagu yang direkam oleh studio Mutaira, Acanary, Fontana, dan sederet nama studio yang lain. Berkat kerja kerasnya, Amin Widjaja berhasil mendirikan studio rekaman di tahun 1971 yang terletak di Pancoran dan diberi nama Metropolitan Studio. Perkembangan bisnis studio rekamannya semakin pesat dan label Metropolitan pun diubah menjadi Musica Studio yang sudah sangat di kenal hingga saat ini.

Memasuki akhir 1960-an, industri musik Nasional mulai bergeser dari produksi piringan hitam menjadi pita kaset. Produksi audio-kaset pertama kali di dunia berasal dari Jerman Barat ytang kenalkan oleh Philips pada tahun 1963. Setelah itu, kaset dan alat pemutarnya (tape) mudah ditemui di toko-toko elektronik. Jumlah penikmat musik di Indonesia terus mengalami peningkatan hingga menyebabkkan peningkatan produksi kaset sekitar sepuluh kali lipat pada tahun 1980-an.

Seiring berjalannya waktu, perusahan – perusahan industri musik mengalami pasang surut dalam proses produksinya. Lahirnya perusahaan-perusahan baru memaksa perusahan lama harus gulung tikar karena kalah bersaing. Akan tetapi, beberapa diantaranya masih bisa bertahan, bahkan mampu menempatkan diri sebagai perusahaan rekaman elit pada saat itu, seperti Lokananta dan Metropolitan yang berganti nama menjadi Musica Studio’s pada tahun 1971. Selanjutnya industri musik nasional semakin berkembang sehingga menciptakan beberapa nama seperti Aquarius Musikindo, Sony Musik Entertaiment, Warner Musik Indonesia, dan Logiss Record.

BACA : 20 Tahun Reformasi: Beberapa Karya Yang Dibelenggu

Referensi :
100 Tahun musik Indonesia oleh Dennie Sakrie
Bersenandung dalam Politik oleh Yopi Kristanto


 

TOTAL DAMAGE – STRUGGLE FOR EXISTENCE

Doc : Total Damage

21 tahun merupakan perjalanan panjang untuk band Total Damage, Total Damage di tahun 2018 berhasil mengeluarkan album perdananya yang berjudul Struggle for Existence. Struggle for Existencepun mempunyai banyak makna, kutipan ini diambil dari lagu Total Damage yang berjudul “The Origin of Species”


Longlifemagz – Total Damage adalah band yang mengusung aliran Crust Grind yang berasal dari Selatan Jakarta, yang terbentuk pada tahun 1997. TOTAL DAMAGE diartikan sebagai kerusakan total pada seluruh aspek kehidupan manusia, yang diciptakan oleh manusia itu sendiri dan berdampak pada makhluk lainnya yang mengakibatkan kehancuran dan pemusnahan masal.

Doc : Total Damage

Untuk album ini TOTAL DAMAGE merekam 11 lagu dengan balutan crustpunk dan grindcore yang bertemakan tentang pembantaian masal, peperangan, konspirasi dan ideology dan di rilis dalam format kaset (Tarung Record) dan format CD (Grindcore Lokal). Pada album ini TOTAL DAMAGE berkolaborasi dengan Geboy (THE SABOTAGE, D’JENKS, OUT OF CONTROL), Irfan (ex-vocalist), Asti (AIRD), Ridwan (KECIKITTY) dan Derry.


Track list TOTAL DAMAGE – STRUGGLE FOR EXISTENCE.

  1. A GLAM LIGHT IN ASIA
  2. MARTYRDOM
  3. BANGKAI BERITA
  4. MINDLESS GREED
  5. MODUS OTAK SI TAMAK
  6. THE ORIGIN OF SPECIES
  7. UNITED IDIOT NATION
  8. PANUTAN KOTOR
  9. DEATH OF CANCER
  10. GREY
  11. THE NEW WORLD STRUCTURAL

Line Up

  • Gemma Iryandi (vocal)
  • JulisHead (guitar)
  • DediDobs (bass)
  • RifqiOklay (drums)

Discography

  • 1999, Compilation “UNITED ONE” Release on tape by Blank Records.
  • 2000, Ep “POLICE RACIST ACTION”. Release on tape by Blank Records.
  • 2001, Compilation “THE WAY IT CRUST TO BE” Release on tape by Oposisi Records.
  • 2002, 6 Way Split “BREATHLESS WAR” w/ Tersanjung XIII (Jakarta), Disreject (Surabaya), Social Distrust (Jakarta), Extreme Hate (Tangerang), Human Corruption (Surabaya). Release on CD/Tape by Tukangsayurekord.
  • 2003, Compilation “FIGHT BACK” w/ Dick Head, Rampageous, RSG, Allnationdeath, Setara, Refusal, etc. Release on CD/Tape by Trendy Crushers Records.
  • 2004, Compilation “WHAT’S WRONG WITH MY EARS?” Release on CD/Tape by Teriak Records.
  • 2004, Compilation “THIS IS WHERE WE COME FROM” Release on CD/Tape by Kolektif Records.
  • 2007, Split “RIOT SOUND FOR TOTAL SATISFACTION” w/ Silly Riot Release on tape by Movement Records.
  • 2011, Compilation “GRINDING AFTERMATH” w/ Agoraphobic Nosebleed (Massachusetts/USA), Brutal Truth (NY/USA), Hellcore (Jakarta/Ind), Kill The Client (Texas/USA), Otnamus (Malang/Ind), Rotten Sound (Vaasa/Finland), Social Shit (Buenos Aires/Argentina) and many more. Release on download link by American Aftermath and Grind To Death.
  • 2012, Compilation “YANG PENTING BERISIK” w/ Raw Resistance, Busuk, Lorenk Rusuck, Ninja Hatorry, To Die, Playing Dead Man, Maximum Thrash, Jeffrey Dahmer, Tumor Ganas, Sergapan Malam, and More Friends. Release on download link by Noiseblastmedia Production.
  • 2012, 4 Way Split “FRIENDS FOREVER WITH AN ASSHOLE GRINDER” w/ Maximum Thrash (Depok), Busuk (Depok), Raw Resistance (Jkt). Release on tape by Movement Record & Maximum Noise record.
  • 2012, Split “GLOBAL CONSPIRATION, MINDSET DESTRUCTION, TERROR ACTION” w/ Famine Sector (France). Release on download link by Leudrax-selber soundz infection (France).
  • 2012, Split “DEATH TO MANIPULATOR” w/ Disboikot (Malaysia). Release on download link by Tomat Records.
  • 2013, Split “BLOOD THIRSTY FUCKERS” w/ Human Trade (USA). Release on download link by TornFlesh Records (USA).

CONTACT

Nano 081298891869

td.grindcore@gmail.com

instagram @totaldamagegrind

https://totaldamage.bandcamp.com

https://soundcloud.com/tdgrindcore

 

 

HODGEPODGE SUPERFEST, FESTIVAL BARU DENGAN GENRE MUSIK BERAGAM DARI JAVA FESTIVAL PRODUCTION

(Ki-ka) Sandy Widharna – Tim Program PT. Java Festival Production, Vicky Setiawan – Representatif dari Super Music, Dewi Gontha – Presiden Direktur PT. Java Festival Production, Nikita Dompas – Tim Program PT. Java Festival Production, Elfa Zulham – Tim Program PT. Java Festival Production berfoto bersama setelah konferensi pers pertama Hodgepodge Superfest 2018.


LonglifemagzSetelah 14 tahun menyelenggarakan festival tahunan Jakarta International Java Jazz Festival dan juga-festival lainnya diantaranya Java Rockin’land, Java Soulnation dan Soundsfair, kini Java Festival Production kembali menghadirkan sebuah festival multi-genre di Jakarta. Hodgepodge Superfest adalah festival dimana Java Festival Production bekerja sama dengan Super Music dan didukung oleh Kopi Kapal Api yang akan menyuguhkan beragam musik seperti rock, pop, indie, elektronik dan genre musik lainnya dalam 1 festival pada tanggal 1-2 September 2018 di Allianz Ecopark Ancol. Artis internasional utama yang telah mengkonfirmasi kehadirannya adalah The Libertines, All Time Low, Lil Yachty dan Gallant. Artis lainnya yang juga akan menampilkan penampilan terbaiknya diantaranya adalah August Alsina, Russ, Lemaitre, Day Wave, Cloud Nothings, Tayla Parx, Sundara Karma, Vancouver Sleep Clinic, Swim Deep, Park Hotel, Kid Francescoli, Didirri dan masih ada nama-nama lainnya yang akan segera diumumkan.

“Ini adalah kebanggaan bagi kami untuk dapat berkolaborasi dengan Super Music dan mendapat dukungan dari Kopi Kapal Api dan bersama menghadirkan sebuah festival musik dengan konsep baru dan fresh dan mengundang para penggemar musik sambil menikmati suasana festival dengan pengalaman yang unik.” ujar Dewi Gontha selaku Presiden Direktur PT. Java Festival Production.

Dewi Gontha, Presiden Direktur PT. Java Festival Production saat sesi tanya jawab dengan media di konferensi pers pertama Hodgepodge Superfest 2018.

“Tahun ini, Super Music berkolaborasi dengan Java Festival Production dalam menyelenggarakan event Hodgepodge Superfest. Event ini menjadi momentum istimewa. Melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, diharapkan Super Music semakin berperan aktif dalam perkembangan industri dan komunitas musik di Indonesia” ujar Vicky Setiawan, representatif dari Super Music.

Vicky Setiawan, Representatif dari Super Music saat berbincang mengenai Hodgepodge Superfest 2018.

“Tahun ini, Kopi KAPAL API hadir dan mendukung Hodgepodge Superfest 2018 membawa #secangkirsemangat kepada partisipan dan pengunjung festival yang inspiratif, kreatif, dan aktif. Kopi KAPAL API sudah menjadi simbol semangat yang mendorong para anak muda milenial Indonesia untuk terus semangat dalam berkarya, semangat berani berekspresi, dan semangat untuk menjadi agen perubahan menuju Indonesia lebih baik!” ujar Ferdinand Tan selaku Brand Manager Kopi KAPAL API.

“Sekarang saat yang tepat untuk penikmat musik Indonesia untuk melihat Hodgepodge Superfest sebagai discovery platform. Musik baru bisa dicari disini.” ujar Nikita Dompas selaku perwakilan dari Tim Program PT. Java Festival Production.

Nikita Dompas, salah satu Tim Program PT. Java Festival Production membahas artis-artis yang akan tampil di Hodgepodge Superfest 2018.

Allianz Ecopark Ancol akan menjadi venue utama pagelaran spektakuler Hodgepodge Superfest 2018. Akan tersedia 4 panggung untuk menikmati selebrasi dari penampilan para musisi dunia, area makanan dan minuman yang akan memanjakan pengunjung serta area bersantai sambil menikmati musik dan menghabiskan waktu akhir pekan. Pengunjung dipastikan akan mendapatkan pengalaman baru dan luar biasa dengan suasana festival yang dikelilingi oleh rumput dan lahan yang hijau serta area kegiatan di stan pameran maupun lounge. Pengunjung dapat melakukan aktifitas-aktifitas seru atau sekedar berfoto untuk mengabadikan momen tidak terlupakan ini.

BACA : 180 MENIT BERSAMA EFEK RUMAH KACA DI COMFEST 2018

Beberapa artis utama yang akan hadir di Hodgepodge Superfest 2018 diantaranya adalah The Libertines yang merupakan salah satu grup musik garage rock terbesar di dunia musik Inggris Raya yang akan hadir pertama kalinya pada hari Sabtu, 1 September 2018. Selain The Libertines, terdapat juga artis yang telah dinamakan sebagai “breakthrough artist of 2015” oleh Billboard dan “the voice that will redefine R&B” oleh NME yaitu Gallant yang akan beraksi di Hodgepodge Superfest pada tanggal 2 September 2018. Selain itu, grup band All Time Low juga akan meramaikan Hodgepodge Superfest pada hari Minggu 2 September 2018. Disamping artis-artis tersebut Miles McCollum yang dikenal sebagai penyanyi/rapper Lil Yachty juga akan hadir untuk pertama kalinya di Indonesia pada hari Minggu, 2 September di Hodgepodge Superfest 2018.

Artis lainnya yang akan meramaikan Hodgepodge Superfest 2018 dibulan September nanti adalah adalah musisi R&B yang berasal dari New Orleans, August Alsina dimana pada tahun 2014 silam telah mendapat penghargaan “Best New Artist” dari BET Awards. Terdapat juga Russ, artis hip hop dari Amerika dimana albumnya yang berjudul There’s Really a Wolf mendapatkan sertifikasi platinum, grup musik duo dengan genre electronic yang dikenal sebagai Lemaitre, Jackson Phillips atau yang lebih dikenal sebagai Day Wave yang memiliki musik bernuansa indie-pop, Cloud Nothings yang merupakan grup musik indie-rock asal Cleveland, artis asal Amerika yang bukan hanya pandai menulis lagu tapi juga berakting yaitu Tayla Parx, grup musik indie-pop/indie-rock/art rock asal Inggris yaitu Sundara Karma, Tim Bettinson artis dari Australia atau yang lebih dikenal dengan nama panggungnya yaitu Vancouver Sleep Clinic, Swim Deep yang merupakan grup musik asal Inggris yang terbentuk tahun 2011 dan sudah memiliki 2 album dan sedang dalam proses merekam album ke 3 mereka, Park Hotel, grup duo yang berasal dari London, grup musik dari Perancis yaitu Kid Francescoli dimana lagu mereka telah dipakai untuk beberapa iklan merek busana ternama seperti Chanel dan Lanvin, terdapat juga Didirri yang berasal dari Melbourne yang telah dinamai sebagai salah satu “10 Best artists we saw at Bigsound” dan “10 best live shows of 2017” oleh triple J.

BACA : JAZZ MELENA DI DAERAH ISTIMEWA

Untuk artis Indonesia, yang telah mengkonfirmasi kehadirannya untuk Hodgepodge Superfest 2018 mendatang antara lain adalah The Brandals, 70’s OC, The Trees & The Wild, The Barefood, Soft Animal, The Sigit, Tomorrow People Ensemble x Eka Anash, Onar dan masih ada nama-nama lainnya yang akan diumumkan.

Tiket early bird Hodgepodge Superfest sudah dapat dibeli di website resmi yaitu www.hodgepodgefest.com sejak tanggal 30 Juni 2018 dan juga kantor Java Festival Production di Simprug Gallery Bloka A1, dengan harga mulai dari Rp 499,000 untuk Daily Pass dan Rp 845,000 untuk 2 Day pass.


Tentang Hodgepodge Superfest

Hodgepodge Superfest adalah festival terbaru dari Java Festival Production yang bekerja sama dengan Super Music. Festival multi-genre ini hadir dalam 2 hari penyelenggaraannya di Allianz Ecopark Ancol.

Tentang Java Festival Production

Java Festival Production adalah penyelenggara dari Jakarta International Java Jazz Festival, Java Rockin’land, Java Soulnation, dan Soundsfair. Selain festival musik, java festival production juga telah membawa nama-nama besar lainnya ke Indonesia seperti Jamiroquai, Dianna Krall, dan masih banyak lagi.

 

 


FIND US ON

[et_social_follow icon_style="slide" icon_shape="circle" icons_location="top" col_number="auto" custom_colors="true" bg_color="#a70a0d" bg_color_hover="" icon_color="" icon_color_hover="" outer_color="dark"]

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.