Film B, Film Kelas Dua yang Mempengaruhi Tarantino

Doc : Google

 ketika darah dipakai sebagai penyampai pesan: muncrat, berceceran, maupun berlumur di tubuh para aktor, muncul penasaran dalam diri saya akan film ini.


 Longlifemagz Ketertarikan saya akan Film B bermula dari cuitan @azzamkalakazam yang nyangkut di linimasa, saya pun segera mengontak kawan-kawan pemelotot film. Mumpung ada event filmmaker di Semarang, saya pikir otak yang sudah lama dipenuhi produk Hollywood ini perlu dipertemukan dengan para praktisi yang bertungkus lumus di industri ini.

Pemilik akun di atas belakangan saya ketahui merupakan sutradara dari salah dua film yang dipertontonkan di B-Movie Night (26/07) kemarin.

Perlu dicatat, saya bahkan tidak mencermati tajuk event tersebut yang berbunyi “B-Movie Night”. Motif saya waktu itu hanyalah untuk mengisi kegabutan di malam Jumat, tanpa peduli jenis film yang akan diputar.

Saat mengiming-iming teman saya dengan rayuan “Bang, gua ajak nonton film mau gak? Elu ga usah ngeluarin duit deh,” standpoint saya waktu itu cuma keinginan menonton enam film bergenre horor dan berjumpa para kreatornya. Sekedar itu.

Baru setelah enam film usai diputar dan sesi diskusi dibuka, terdengarlah istilah baru dalam khazanah perfilman saya: B-Movie (Film B). Sebegitu bodohkah saya sehingga mengabaikan genre film yang terpampang di tajuk event? Iya, saya sebodoh itu.

BACA : RIUH RENDAH SENJAKALA PILKADA

Eureka! Ada tiga filmmaker yang diundang tampil di –katakanlah- panggung, yang masing-masing bercerita soal Film B kreasi mereka. Sepenangkapan saya sih, Film B muncul untuk mengisi kekosongan segmen di Amerika sana. Ada segmen konsumen (penonton) yang menginginkan genre alternatif, dan Film B menyediakan itu. Bisakah disebut film kelas dua? Mungkin saja.

Diskusi selama sejam soal Film B memang sangat singkat terasa. Namun setidaknya saya bisa ancang-ancang, berapa duit yang bisa dibakar guna membikin film demikian. Karena rata-rata Film B berdurasi tidak sampai setengah jam, bujet yang dihabiskan pun tak terlampau mengiris dompet.

Film sejarah macam Rengasdengklok mungkin bisa menyedot belasan juta demi penyesuaian set dengan universe cerita asal. Film guyon seperti Mr. Bombastic lain lagi. Sang sutradara menyebut film itu hanya menghabiskan tiga lembar duit merah muda.

BACA : TAYANGAN FILM JADUL DI HARI RAYA LEBARAN MEMANG BERKESAN

Sebagai pribadi yang sehari-harinya bergumul dengan penggemar Sukarno dan para pengamat politik Indonesia, saya amat tertarik dengan Rengasdengklok. Seperti halnya film sejarah Indonesia lainnya, film besutan Dion Widhi Putra ini mampu membuat mata saya nanar (Film biopik sejarah Indonesia apa pun mampu membuat saya mbrebes mili, percayalah).

Akan tetapi, untuk ukuran film yang menampilkan salah satu manusia paling berpengaruh dalam sejarah nusantara, saya merasa screenwriting disana terasa kurang menggigit. Saya menanyakan bagaimana persiapan materi, sebutlah riset, untuk membangun universe yang seharusnya dirumuskan dengan penuh takzim ini.

Dion, yang datang dari Jakarta, menjelaskan satu hal yang menjadi titik perhatian utama saya. Pada bagian eksplanasi seorang Sukarno, kata sifat “cerdas” dan “berbudi luhur” yang menjadi concern saya, ternyata merupakan pesanan almameter.

Yasudah, ketawa saya. Riset untuk film bertemakan sejarah seperti demikian memang sudah dilakukan, termasuk pengkondisian set dan naskah agar sesuai latar waktu itu. Dan saya jelas tidak bisa membantah lagi.

Dan berpijak dari banyaknya adegan (dalam enam film tersebut) ketika darah dipakai sebagai penyampai pesan: muncrat, berceceran, maupun terlumur di tubuh para aktor, muncul penasaran dalam diri saya.

Di Pocong Hiu Unleashed dan Goyang Kubur Mandi Darah pun kita dapat menangkap elemen khusus: sorotan masif ke kaki pemeran wanita (fetish). Apakah terdapat pengaruh Quentin Tarantino di sana?

BACA : 20 TAHUN REFORMASI: BEBERAPA KARYA YANG DIBELENGGU

Sayangnya saya terlewat menanyakan itu di diskusi kemarin, tetapi beruntung bertemu potongan eksplanasi dari Nuran Wibisono di Tirto:

Quentin Tarantino kemudian menjadi sutradara yang dianggap memperkenalkan pengaruh film-film cult ke khalayak umum. Dia menulis skrip From Dusk Till Dawn, sebuah film horor yang berkelindan antara perampok bank, keluarga pendeta, dan para vampir. Tarantino kemudian semakin menunjukkan pengaruh itu lewat film Reservoir Dogs.

Kecintaan Tarantino pada film-film cult terutama dari kawasan Asia, semakin kokoh saat dia membentuk Rolling Thunder Pictures, perusahaan distribusi film yang bekerja sama dengan Miramax dan mengkhususkan diri merilis film-film indie dan cult. Meski hanya berusia 3 tahun, mereka berjasa mendistribusikan film-film seperti Chungking ExpressSonatine, hingga merilis ulang The Mighty Peking Man dan Switchblade Sisters—yang kemudian tampak memengaruhi karakter di film Kill Bill.

Mengenai apakah film B sama dengan film cult, di paragraf sebelumnya terdapat penjelasan:

Ada pula film B yang masuk sebagai film cult. Film B adalah sebuah istilah yang dipakai untuk menyebut film dengan bujet pas-pasan dan penggarapan yang juga seadanya. Tapi tak semua film B masuk dalam film cult. Lagi-lagi, syarat seperti keganjilan cerita, kejelekan make up, hingga busuknya jalan cerita, kerap menjadi faktor yang membuat sebuah film menjadi cult.

Dugaan saya bahwa penggiat genre ini terinspirasi dari film-film Tarantino yang sades abes itu ternyata salah besar. Justru Tarantino yang bnyak terpengaruh kebrutalan Film B!

Saya perlu berterima kasih kepada kreator film-film ini: Rengasdengklok, Monika, Darah untuk Anakku, Goyang Kubur Mandi Darah, Mr. Bombastic, dan Pocong Hiu Unleashed. Keenamnya telah memperkenalkan saya—dan barangkali publik Semarang- ke mainan baru, dunia yang tak pernah tersentuh sebelumnya. Mungkin saja akan ada lebih banyak Film B yang bakal saya lahap setelah ini.

 

 

Catatan B-Movie Night di Atlas & Co

Enam Film B Pertama yang menggugah


Longlifemagz – Kamis malam (26/7) kemarin bisa saya sebut sebagai salah satu malam bersejarah dalam hidup. Atlas & Co Banyumanik mengadaken pemutaran film Pengkhianatan G30S/PKI horor yang saya kira, akan hambar dan cepat terlupakan. Nyatanya, “bioskop” yang cuma seukuran ruang tengah kos tersebut sanggup membawa saya ke awang-awang, tanah yang dijanjikan, nirwana, atau apalah sebutannya itu.

Bahwa saya mengambil pensil dan mencorat-coret di buku catatan kecil, itu hanyalah kebetulan belaka. Dan bahwa saya memutuskan mengalihwujudkan catatan itu ke majalah ini, itu hanya keisengan semata. Pensilnya milik orang lain, sedang nyangkut di tas karena suatu tugas penting, buku catata baru kembali ke tangan setelah dua tahun hilang, laptop untuk mengolahnya pun bukan punya saya, jadi ini sejujurnya memang benar keisengan saja .

Namun izinkan saya menyampaikan coretan tentang enam Film B saya tersebut setelah kalimat ini berakhir.

Rengasdengklok

Ini adalah satu-satunya film berlatar sejarah di pertunjukan kemarin (26/7). Narasinya pendek: pemindahan (tokoh yang esok hari akan menjadi) sang proklamator ke Rengasdengklok. Bung Besar harus dibawa dengan selamat ke pos akhir. Karena rencana pemindahan menggunakan mobil gagal, Bung Besar harus dikawal dengan berjalan kaki.

Bukan Film B namanya jika tak ada keganjilan. Di sini, pihak musuh yang harusnya tentara Jepang, diubah sang kreator menjadi puluhan zombie layaknya serial The Walking Dead. Bung Besar dan pengawalnya terpojok, lalu terjadi “pertempuran” antara the living dan the dead.

Sebagai penonton Film B, kita memang tidak bisa menuntut kesempurnaan penulisan naskah atau sinematografi. Di Rengasdengklok, yang notabene berlokasi di Jawa Barat, kita justru tidak mendengar dialog berbau Sunda. Penjelasan bahwa tentara Indonesia waktu itu banyak yang ditarik dari Jawa mungkin bisa diterima, tapi wajarkah semua pasukan dikondisikan seakan fasih bahasa Jawa?

Satu lagi, adakah yang mencuri pandang ke perut salah seorang korban zombie, tepat ketika plastik penyimpan jeroan terlihat?

 

Monika

Masih berkutat dengan karakter zombie. Dunia yang sudah aman dari wabah berangsur pulih, termasuk kehidupan di sekitar Monika. Gebetannya melamar tepat di hari pengumuman kembali hidupnya kota mereka. Namun, Monika ternyata punya rahasia. Ia masih memelihara zombie, yang semasa hidup merupakan adiknya. Terdengar seperti zombie peliharaan The Governor di The Walking Dead?

Saya tidak mencatat terlalu banyak tentang film ini. Saya hanya berandai-andai, jika tepat sebelum adegan kencan kita disuguhkan momen ketika Monika mendekati zombie, lalu dia melakukan sesuatu yang berpotensi menyebabkan pengikat zombie peliharaannya lepas, maka kedatangan zombie saat Monika hendak dilamar bisa sedikit lebih masuk akal.

BACA : SWEET SEVENTEEN THE UPSTAIRS

Mandi Darah Goyang Kubur

Tiga orang sahabat memperingati kematian temannya dengan bergoyang di malam yang penuh sambaran petir. Setelah pesta mini itu usai, giliran tiga orang tersebut yang mendapat teror dari sang pembunuh.

Ketika terdengar ketokan pintu dan ternyata orang yang membukakan pintu akhirnya menjadi korban berikutnya, saya menganggap keputusan dua orang tersisa untuk ke luar rumah mencari temannya ialah hal yang begitu bodoh. Jika saja terdapat dialog, atau paling tidak tatapan mata yang komunikatif bahwa mereka sepakat mencari dan menyelamatkan sang teman, maka kegusaran saya bisa terhalau. Mereka baru ditinggal dua temannya dan mengetahui ada pembunuh berkeliaran di sekitar mereka, kenapa mereka malah mereka mengendap-endap ke tempat sang pembunuh?

Kriptonit dalam bentuk dildo mungkin menyediakan efek kejut, tapi kita tak pernah mendapat penjelasan mengapa sang pembunuh alergi terhadap benda itu.

 

Mr. Bombastic

Ini film favorit saya. Pergulatan emosional seorang pria tanggung yang diejek akibat punya (titit) kecil. Hal menarik yang bisa ditemui dalam film ini antara lain: Alur nonlinier. Kita tak bisa menentukan alur cerita secara kronologis. Kira-kira lebih dulu mana, pemukulan di lahan kosong, momen singkat bersama pacar, atau bisik-bisik pem-bully-an di kampus?; Banyak sinematografi berupa kilasan ke masa lampau. Layar berganti secara cepat mengikuti iringan narasi dari karakter utama; Karakter utama tidak terlalu sehat dalam hal psikologis. Ia mengalami depresi akibat pem-bully-an.

Sebentar, ini saya baru menikmati karya Rafif Sujatmoko atau Christopher Nolan?

BACA : FILM B, FILM KELAS DUA YANG MEMPENGARUHI TARANTINO

 

Darah untuk Anakku

Di awal, saya khawatir akan disuguhi film horor dengan formula deus ex machina, yakni ketika kekuatan spiritual (Tuhan) dipakai untuk menangkis segala rintangan, termasuk the main villain (dalam hal ini berarti setan). Pada akhirnya yang terjadi memang demikian, tetapi kita sedikit dikagetkan dengan plot twist saat karakter Ustad ternyata terbunuh juga.

Elemen suara serigala terdengar di bagian pembuka, tapi jika melihat latar perumahan, auman tersebut terasa cukup ganjil. Elemen dentingan jam juga dipakai, tapi saya bertanya-tanya mengapa sang kreator film tidak menampakkan jam tersebut sebagai upaya meyakinkan keaslian bunyi tersebut, di samping jam denting juga dapat menambah kesan mistis.

 

Pocong Hiu Unleashed

Film ini mungkin paling mendeskripsikan bagaimana kekuatan Film B: animasi tak molek, keganjilan jalan cerita, dan diumbarnya banyak darah. Keheranan di benak saya hanya muncul saat dua korban pocong pertama malah terlihat mencekik dan berusaha menghalau sang pocong “memakan” korban ketiga. Asumsi saya, mereka sudah tewas setelah digigit sang pocong.

Pertanyaan menyoal bagaimana bisa pocong menyemburkan laser tak perlu muncul. Ini Film B, Bung!

“Tepuk tangan meriah untuk para filmmaker.