Stage ID Semarang, Wadah Para Pecinta Fotografi Panggung Dalam Berkarya

foto-artikel-stageid

Photo by: doc. Stage ID Semarang

 

 

 

 

 

 

 

 

Komunitas pecinta fotografi asal Semarang yang mengenalkan tren fotografi baru.

 

Longlifemagz – Fotografi bisa dibilang salah satu hal yang sedang sedang naik daun di abad ini, seni ini juga didukung oleh perkembangan teknologi yang menyediakan berbagai kecanggihan kamera yang disesuaikan dengan kebutuhan penggunanya, fotografi sendiri walaupun booming di awal abad 20an, namun sejatinya sudah ada sejak jaman dahulu yaitu abad ke 18. Bicara tentang fotografi, pasti kita bicara akan kreativitas dan inovasi, jaman sekarang fotografi bukan hanya sekedar menangkap gambar, namun inovasi dan variasinya pun beragam, adalah Stage ID Semarang , komunitas pecinta fotografi asal Semarang yang mengenalkan tren fotografi baru, yaitu stage photography, simak lebih lanjut tentang Stage ID Semarang  dan Stage Photography dalam wawancara Longlife Magazine dan Stage ID  dibawah ini.

Hallo, boleh ceritakan tentang Stage ID Semarang ?

Awalnya Stage ID ini sudah ada di berbagai kota seperti Bandung, Jakarta, Makasar, Stage ID ini sendirinya sebenarnya ada untuk memberi wadah pada fotografer yang memang punya passion dalam fotografi panggung agar memiliki akses, karena untuk foto panggung kan memang harus punya akses, Stage ID Semarang ini mencoba memberi akses pada fotografer-fotografer panggung , karena  pada dasarnya anak-anak Stage id banyak yang berasal dari media.

Sudah sejak berapa  lama Stage ID Semarang bediri?

Stage ID  Semarang ini baru banget berdiri, baru beberapa bulan di Semarang.

Lalu sebenarnya apa sih yang membedakan fotografi panggung dengan fotografi lainnya?

Kalau bicara tentang definisi, fotografi panggung memang meliput segala pertunjukkan dan aktivitas yang ada diatas panggung, bisa musik, wayang , teater, bahkan kita juga bisa meliput event yang tidak ada panggungnya yang sekedar di room juga bisa menjadi stage photography. Bedanya lagi dengan fotografi lainnya, fotografi panggung ini bisa dibilang tidak tertebak, kita kan tidak tahu apa yang akan terjadi di panggung, dia punya lighting sendiri, artisnya  juga tidak tertebak akan melakukan apa.

Tantangan Stage Photography?

Tantangan utama sih akses ( baca : izin akses acara ) ya, untuk orang awam yang tidak tahu tentang akses, tidak tahu step-step stage photography dia pasti harus beli tiket, membaur  dengan crowd, padahal fotografer panggung sendiri biasanya disediakan spot tertentu , Stage Photography itu sebenarnya cuma perlu jam terbang, sama rajin motret, kalau yang mendalam,  harus tahu karakter band, karakter  perfomer yang tampil, Kita sendiri harus tahu bagiamana karakter band atau perfomer yang kita suka.

Lalu jika kebetulan dapat perfomer yang kalian tidak suka bagaimana?

Ada yang dinamakan previsualisasi, atau research diawal tentang perfomer yang akan tampil, apa yang unik dari dia, apa moment terbaiknya, bukan berarti jika nantinya kita harus memotret sebuah event dan ada guest star yang mungkin beda dengan selera kita lalu tidak kita potret, kita tidak mengkotak-kotakkan seni.

Stage ID Semarang tadi kan bilang kalau izin akses acara ini menjadi tantangan dan hal yang penting dalam Stage Photography, apa tips dari Stage ID Semarang mengenai izin akses acara ini?

Kalau saran dari kami coba liat Komunitas, UKM, Instansi, Organisasi, biasanya akses bisa didapatkan  dari situ,  intinya sih perbanyak teman, jaringan, maka akses juga tidak akan susah didapat.

Stage ID Semarang kan komunits baru, bagaimana Stage ID Semarang ini dalam menjaring member?

Biasanya sih kita menjaring anggota dari  socmed, kita fitur foto mereka dari hashtag, kalau mau masuk grup line sih paling ya harus ikut kumpul, kenalan dulu, intinya tidak ada eksklusifitas di Stage ID ini, siapapun yang punya minat di Stage Photography boleh gabung.

Stage ID kan anggotanya pasti terdiri dari fotografer dengan gaya atau taste yang berbeda-beda, cara menyatukan gaya dan taste yang berbeda itu didalam satu komunitas bagaimana caranya?

Kami sih tidak masalah dengan perbedaan, yang penting  ada satu kesamaan yaitu ketertarikan dengan stage photography, anggota-anggota disini mereka memang punya taste beda, tapi basicnya kan sama , memang suka stage photography, kami juga tidak membatasi fokus kami dengan stage photography saja, disini kami belajar fotografi secara lebih luas.

Project-Project Stage ID Semarang itu sendiri ada apa saja?

Kalau project karena kita memang baru, jadi mungkin belum banyak, kita lebih sering kolaborasi sih, member kita kan banyak yang berasal dari media, jadi kita biasanya kolaborasi dengan media-media, lalu kita juga ada Kopdar yang isinya sharing tentang fotografi dan gelar karya band-band Semarang, namanya juga kan Stage ID Semarang, jadi kita fokus meliput artis-artis Semarang.

Kamera yang biasanya digunakan dalam Stage ID Semarang ini biasanya apa?

Bebas sih, kebanyakan anggota Stage ID pakai canon, pakai HP juga sebenaranya bisa, walaupun nanti tantangannya pasti di lighting.

Lalu, Stage ID Semarang ini sebagai komunitas kan pasti ada pertemuan , seberapa sering kalian mengadakan pertemuan?

Biasanya Seminggu sekali, kalau harinya tergantung anak-anak bisanya apa, agenda kita dalam pertemuan biasanya sharing, bahas proker kedepan, balik ketujuan awal kan kita ada untuk memperkarya wawasan fotografi jadi kebanyakan agenda kita sih sharing tentang fotografi.

Saran untuk fotografer pemula yang tertarik dengan fotogarfi panggung?

Jangan takut dengan keterbatasan, kalau tidak punya kamera bisa gabung komunitas,  kan hidup nggak sendiri ya,  lalu akses, kita harus memperbanyak link akses, moment pencahayaan dan teknis tergantung bagaimana kita ulet dalam belajar, fotografer itu tidak sulit yang penting suka dan ada niatan untuk terus belajar,

Harapan untuk Stage ID Semarang kedepannya?

Tetap bisa mengedepankan ke visi misi awal untuk menjadi wadah untuk orang yang memang punya passion ke stage photography, bisa terus berkumpul, berkarya, kami juga berharap untuk teman-teman yang bergabung nantinya punya wawasan yang bisa berdampak positif bukan hanya untuk dirinya tapi juga untuk masyarakat luas.

Wah, keren sekali ya ini, terima kasih Stage ID Semarang sudah meluangkan waktunya untuk ngobrol bareng dengan Longlife, semoga makin sukses kedepannya.

Sama-sama Longlife, sukses selalu ya.

temp_regrann_1478830243384

Nah, dari wawancara Longlife dengan Stage ID diatas, kita dapat lihat bagaimana tren fotogarfi ini memang luas dan inovotif adanya, Stage ID Semarang sendiri berhasil menjadi komunitas yang mewadahi para pecinta fotografi khususnya fotogarfi panggung dalam berkarya.

Yustinus Wirawan, Karya Adalah Nyawa

foto artikel yustinus

Photo doc. by Yustinus Wirawan

“Kreatifitas itu seperti bernafas. Kalau nggak kreatif, nggak bisa hidup”, Ungkap Yustinus Wirawan.

 

Longlifemagz – Kreativitas sejatinya sangatlah luas jika ingin dimaknai, kreatvitas juga datang dari berbagai bidang yang ada, Pablo Picasso, Coco Chanel, Henri Matisse, masing-masing dari mereka memaknai kreativitas dengan berbeda, jika Henri Matisse pernah mengatakan bahwa kreativitas membutuhkan keberanian, maka Yustinus Wirawan memakanai kreativitas dengan berbeda.

Boleh Ceritakan Kesibukannya?

Kesibukan saat ini, manage tim supaya mampu produktif tiap hari khususnya untuk mengerjakan pekerjaan pekerjaan di bidang karya visual ataupun karya installasi dari klien profit ataupun probono. Selain fokus di pekerjaan tim, juga mengerjakan pekerjaan individu, pekerjaan individu lebih banyak ke arah pelayanan atau probono.

 

Kamu kan sedang menggeluti dunia branding, illustration dan lainnya, passionkah yang membuat kamu memilih bidang ini?

Bidang kreatif visual merupakan passion, jadi mengerjakan apa yang kusukai dan menjadi penghasilan yang mampu diandalkan.

 

Dalam mendesign, biasanya dapat inspirasi darimana?

Inspirasi didapat dimanapun, terutama beberapa detik setelah bangun tidur, inspirasi muncul seperti matahari terbit. Tapi kebanyakan inspirasi didapat melalui brainstorm dengan kawan kawan satu tim ataupun kawan kawan di luar tim. Melalui dari mendengarkan cerita dan berbagi rasa, didapatkan banyak ide dan hal baru untuk di eksplore.

 

Dalam membuat design pasti pernah ada masa kamu stuck atau kehabisan ide, mengatasinya gimana?

Kalau stuck ide, harus berhenti, meninggalkan layar komputer sejenak. Lalu TIDUR

Siapa sih tokoh idola kamu atau panutan dalam berkarya?

Para Senior desainer Abankirenk Jogja.

 

Sudah berapa lama sih berkecimpung di dunia kreativitas?

Karena sejak TK sudah dibiasakan dengan bidang visual grafis semacam lomba- lomba menggambar, jadi sepertinya udah 15 tahun lebih

 

Dalam bidang yang kamu geluti sekarang pasti sangat membutuhkan yang namanya kreativitas, menurut kamu sendiri, apa itu kreativitas?

 

Kreatifitas itu seperti bernafas. Kalau nggak kreatif, nggak bisa hidup

 Menurut kamu bagaimana cara mengembangkan kreativitas?

Cara mengembangkan kreativitas dengan srawung atau main ke kawan kreatif lain yang memiliki sudut pandang kreatif yang berbeda, dan mencari atau berusaha belajar dari melihat referensi yang ada di sekitar.

Apa sih yang membedakan karya kamu dengan yang lain atau bisa dibilang ciri khas karya kamu?

Yang membedakan dengan karya orang lain. Apa ya? Haha bingung juga

 

Prinsip apa yang kamu selalu pegang dalam berkarya?

Karya adalah nyawa. Kalau karya itu tak dijaga ataupun tidak diciptakan dengan baik dengan benar, sama saja dengan menyia-nyiakan nyawa yang kita punya.

Karya atau seni yang seperti apa yang ingin kamu hasilkan kedepannya?

Yang ingin dihasilkan, karya yang berguna dan memenuhi kebutuhan orang lain.

 

Pesan atau saran kamu kepada orang-orang yang ingin memulai di bidang kreatif ini?

Tetap berbagi dan melayani sesama dengan melalui kreatif yang kita miliki

 

Baiklah, terima kasih yang Yustinus sudah mau diwawancarai Longlife Magazine, semoga sukses selalu ya.

Iya sama-sama, terima kasih juga Longlife.

Kreativitas memang hal yang sangat luas, kreativitas jika diarahkan dengan benar maka dapat menghasilkan karya yang bermanfaat bahkan menguntungkan baik untuk orang lain maupun diri kita sendiri, semoga wawancara ini dapat menginspirasi dalam mengembangkan kreativitas.
Find Yustinus Wirawan on Instagram: @senangsening and @Storyboard.stories

 

 

Fariza Khumaedi, Berkreativitas melalui Khuma Bindery

foto artikel khuma fix interview nindya

Photo by Fariza Khumaedi

Menyalurkan kreativitas kedalam bisnis binder.

 

Longlifemagz – Kreativitas adalah suatu hal yang luas, yang sampai saat ini tidak ada definisi paten dalam menjelaskannya, menilik pada Guerilla art, kreativitas di definisikan sebagai sebuah proses dimana kita sebagai manusia dengan pemikiran yang sadar, membuat pemikiran serta ide baru, konsep dan benda dari hal-hal yang sudah ada, kreativitas adalah hal yang tidak terbatas, kreativitas dapat tersalurkan di berbagai hal dan media, kreativitas juga erat kaitannya dengan inovasi, salah satunya ialah Fariza Khumaedi atau yang akrab di panggil Ijak, dia menyalurkan kreativitasnya ke dalam bisnis binder yang ia branding sebagai Khuma Bindery, simak wawancara Longlife magazine dengan pria kelahiran Bekasi 2 Mei 1988 ini.

Bagaimana awal berdirinya Khuma Bindery?

Mirip kaya mahluk hidup sih fasenya, ada proses inkubasi, adopsi, trial and error, inovasi, dan lainnya. Proses inkubasi disini semacam digging reference tentang bindery stuff gitu sih. Habi itu nyoba niruin tutorial,trial berbagai material yg sesuai kebutuhan hingga nemu ritme proses pembuatan bukunya.

Apa yang membuat kamu memilih bisnis di bidang kreativitas ini?

Salahkan Etsy, karena mereka sudah meracuni saya dengan berbagai kerajinan tangan yg unik-unik,Hehe.

Kamu kan bilang kalau Etsy yang menginspirasi kamu untuk menciptakan Khuma bindery ini, berarti bisa dibilang passion kamu memang disini, di hal-hal artsy?

Semacam itu, mungkin lebih tepatnya crafty dibandingin artsy, karena yang ditonjolin bukan ke idenya tapi ke sisi teknikal.

Apa yang membuat produk kamu ini berbeda dengan yang lain?

Khuma menyediakan papper art supply disesuaikan dengan kebutuhan personal customer, biasanya buat yg suka gambar rada serius belinya sketchbook, kalau yang suka nulis atau doodling aja pake yg journal. Dan ketersediaan size pun beragam dari size pocket (a6) hingga monsteur (A4).

Dalam berlaku di industri kreatif, inovasi pasti hal yang penting, bagaimana kamu mengembangkan inovasi produkmu?

Yang paling gampang dilihat dari review customer sih ya, feedback mereka itu yang kadang saya jadikan alasan harus berinovasi lebih.

Apa kendala terbesar dalam mengembangkan bisnis ini?

Manajemen waktu dan tenaga kalau aku bilang. Karena Khuma itu self manufacturing, mulai dari pintu depan sampai dapur yang mengurusi hanya atu orang.

Jadi gimana sih cara kamu membagi waktu kamu untuk Khuma dan aktifitas kamu yang lain? Apalagi kan kamu bilang juga kamu mengurusi Khuma ini sendiri

Digging referensi untuk bank data, di internet banyak banget yang mengulas tentang handcrafting, habis itu pinter-pinternya modifikasi ulang dari referensi yang sudah ada

Nah, biasanya untuk mendesign sendiri kamu pakai aplikasi apa?

Adobe family

Lalu pertanyaan terakhir nih, apa sih saran kamu untuk orang-orang yang ingin memulai bisnis kreatif seperti kamu ini?

Mulai dari hal yg kamu sukai dan digging informasi sebanyak-banyak nya, asah kepekaan sama lingkungan sekitar dulu aja sih.

Oke deh, akhirnya kita sampai dipenghujung wawancara ini terima kasih ya Ijak sudah mau Longlife wawancarai, sukses selalu dan tetap berkarya

Sama-sama, sukses juga untuk Longlife.

Kreativitas adalah hal yang luas, kreativitas tidak hanya soal karya, Ijak dengan Khuma Binderynya membuktikan bawa kreativitas bisa dikembangkan dalam bisnis yang menguntungkan. Berawal dari wawancara Longlife Magazine dengan Fariza Khumaedi semoga bisa memberi insipirasi untuk mengembangkan kreativitas.

Find Fariza Khumaedi and Khuma Bindery on instagram: @ijakji, @khuma.id