KALAH BERPERANG SEBELUM BERTANDING

illustration by Merdeka.com

Puncak dari sebuah tragedi adalah komedi”, ujar Charlie Chaplin seorang pesohor didunia komedi.

 

Longlifemagz – Setiap tanggal 9 Desember kita senantiasa memperingati Hari Anti Korupsi Internasional. Hari ini kita berada pada titik dimana pemberantasan korupsi masih jauh dari harapan. Dukungan politik yang nyata tidak terlalu menjanjikan, sementara hukum belum pulih dari masalah korupsinya sendiri.

Fungsi badan pengawasan pemerintah belum efektif, sistem birokrasi terus membuka peluang bagi korupsi, sementara politisi dan pengusaha terus memelihara hubungan khusus yang kerap menimbulkan konflik kepentingan.

Disisi lain siasat pemberantasan korupsi masih tertinggal jauh, sekedar acara seremonial kampanye anti korupsi, menyelenggarakan forum dialog hingga pidato oleh para pejabat negara. Siasat yang dilakukan secara konvensional ibarat bayi yang terus belajar merangkak dari kebutuhan nyata untuk memberantas korupsi yang kian kompleks sifat dan polanya.

Tak berselang lama dari seremonial Hari Anti Korupsi Internasional, di bulan November 2017 masyarakat di hebohkan dengan dibukanya pintu menjadi perangkat desa. Tentunya warga desa setempat berduyun-duyun mendaftarkan diri, melengkapi dokumen-dokumen pendaftaran yang telah di tetapkan turut serta dalam proses seleksi. Alih-alih bisa memerankan diri sebagai perangkat dengan ambisi agar bisa menyelesaikan urusan duniawinya, warga dikejutkan dengan perkara ‘orang titipan-jual beli jabatan’.

Perkara jual beli jabatan bukan suatu hal yang baru bahkan sudah menjadi rahasia umum, hal tersebut tak lantas didiamkan dan jadi tradisi belaka. Apa gunanya sekolah wajib 12 Tahun sampai melanjutkan ke perguruan tinggi yang juga diselingi dengan kesibukan organisasi dengan khayalan menambah pengalaman demi masa depan. Ujung-ujungnya kalah dengan uang? Bukankah kita sudah belajar sejarah sejak dini yang terngiang-ngiang ungkapan Soekarno (JASMERAH).

Lantas kenapa kita masih melanjutkan tradisi zaman kuno, yang sewaktu-waktu rakyat harus memasok upeti, menerima uang tanpa bekerja dan risiko nyawa (sogokan). Masih mengamini tradisi lama berarti mencederai idiom kidz zaman now yang telah mengenal alat-alat modern dan internet sejak dini.

Ironi terjadi dibanyak wilayah, diantaranya adalah Boyolali. Seperti yang dilansir dalam website Solopos.com, Seleksi penerimaan perangkat desa se-Boyolali dinilai amburadul (27/9/2017), menyebutkan tawar menawar kursi perangkat desa antara calon peserta tes dengan pemangku kepentingan di daerah bersangkutan.

Jadi orang-orang yang direkomendasikan untuk menduduki perangkat desa sudah ada sebelum ada seleksi. Tentu saja, harus dengan tebusan, harga kursi Kaur Rp 65 juta, Sekretaris desa Rp 85 juta. Berkaca dari fenomena ini mungkinkah dapat di benarkan anggapan Soekarno bahwa sampai 1965 revolusi nasional belum selesai; nation-building belum tuntas, bahkan character-building belum selesai.

Baca :

Dibalik Tumbuh-kembangnya Korupsi di Indonesia

Antara Moshing, Undergroung, dan Buta Makna

Sir Charles Spencer alias Charlie Chaplin seorang pesohor di dunia komedi pernah berujar “puncak dari sebuah tragedi adalah komedi”, dalam sebuah tragedi yang paling pilu pun ada sisi jenaka yang bisa kita lihat, mungkin tidak menghibur, tapi setidaknya tragedi tidaklah membawa kepiluan belaka.

Bagaimanapun kita telah saksikan panggung komedi penerimaan pegawai atau tepatnya perangkat desa, yang dihiasi intrik sogokan bagai kalah berperang sebelum bertanding. Generasi millennial rugi kalau cari kerja kok bayar, andalkan kreativitas dan teknologi; menjadi content creator, gaming, daily vlogger, pengguna Instagram, pelaku industri kreatif atau youtubers, seperti para kids zaman now yang acapkali membuat konten kreatif dan dapat menghasilkan. Karena sesungguhnya kids jaman now harus beda dengan kids zaman old yang suka mbayar.

ANTARA MOSHING, UNDERGROUND, DAN BUTA MAKNA

Photo by thenewfury.com

Matilah kau poser!

 

Longlifemagz – Sudah bukan pemandangan asing bagi para pecinta musik underground bila terdapat aksi brutal di tengah konser atau gig. Di kalangan metalhead, punker, dan hardcore, tarian brutal itu lebih lebih dikenal dengan sebutan moshing.

Tak banyak khalayak yang mengerti dan memahami arti dan makna moshing, bahkan saya sendiri sebagai pelaku scene punk rock hanya memaknainya sebagai bentuk keselarasan antara musik dan emosi ketika pertama kali menemukan pemandangan tersebut.

 

Makna Ideal “Moshing” dan Realitanya Sekarang

Muhamad Robbyansyah dalam jurnalnya yang berjudul “Sebuah Kajian Cultural Criminology atas Moshing dalam Konser Underground ” (2011: 340) mengatakan bahwa, moshing tidaklah berbeda dari sebuah ritual, sebuah hasil penggambaran simbolik atas para pengikutnya yang memiliki bahasa-bahasa dan sarana interaksi multiintepretasi yang layak dan dapat dipertanggungjawabkan.

Halnon (2006) juga menambahkan bentuk-bentuk attribute dan aksesoris dari masing-masing scene underground dengan mengasosiasikan moshing kedalam bentuk simbolis. Bentuk simbolis itu secara keseluruhan, elemen, dan ‘keanggotaan’-nya terdapat dalam komunitas underground—memakai moshing sebagai sebuah bentuk simbolik, sebuah makna yang selalu sama atas apa yang mereka perjuangkan dan suarakan: perlawanan.

Apa yang dipaparkan Halnon dan Robbyansyah merupakan bentuk ideal dari moshing. Kenyataannya, persepsi tersebut telah terjungkal ke dalam fantasi estetis semata, ke dalam hasrat dan kepuasan semu yang telah mencerabut esensi.

Dengan kata lain, moshing berubah dari sebuah ritual menjadi sebuah joget ‘yang penting seru’. Di Indonesia sendiri, proses pengartikulasian makna simbolik dan interpretasi mengalami kerancuan yang tak terhindarkan.

Hal itu terjadi baik di dalam arus major dan indie. Ditambah dengan kemajuan arus informasi yang mempermudah terciptanya kanal-kanal penyebar kerancuan tersebut, makna moshing menjadi semakin kabur.

“Kenyataannya, persepsi tersebut telah terjungkal ke dalam fantasi estetis semata, ke dalam hasrat dan kepuasan semu yang telah mencerabut esensi.”

Sebutkanlah goyangan lokal seperti goyang dumang atau goyang itik, lalu hadapkan dengan ritual moshing, headbang, dan stage-dive. Yang kemudian terafirmasi oleh publik hanyalah bentuk tari yang memiliki perbedaan material dan persepsi negatif.

Hal tersebut tidak lepas dari relasi sosial-ekonomi-budaya. Relasi tersebut berada pada dimensi akses dan dimensi konsumsi. Akses tersebut memiliki batasan-batasan yang sejalan dengan seberapa besar isi dompet dan budaya yang digaulinya.

Pemahaman atas moshing akan menjadi tidak lengkap bila kita tidak memahami budaya underground. Peter Golding dan Graham Murdoch (1991) menjelaskan pemahaman terhadap budaya underground sebagai berikut,

“…memfokuskan pada interaksi timbal-balik antara dimensi simbolik dan dimensi ekonomis komunikasi publik (termasuk musik pop). Pendekatan ini bermaksud menunjukkan bagaimana cara pembiayaan dan pengorganisasian sebuah produk budaya yang berbeda dan mempunyai berbagai konsekuensi yang membekas pada sederet wacana dan representasi di ranah publik dan pada akses khalayak terhadap wacana dan representasi itu.” (Golding, P. Murdoch, G. 1991. 15)

Sederhananya, bentuk dari budaya underground secara keseluruhan bukanlah sebuah tampilan yang tanpa pesan atau kosong. Budaya underground memiliki wacana yang tidak bebas dari nilai dan tujuan tertentu. Karenanya, budaya underground patut dipahami oleh para pelaku dan penikmat musik underground itu sendiri agar kemunduran pemaknaan dan orientasi movement-nya dapat sedikit demi sedikit kembali dimaknai dengan benar.

Tulisan ini sebenarnya dibuat untuk dapat memicu terjadinya dialektika pendapat, terutama oleh mereka yang lebih dahulu menjadi pegiat scene underground. Selain itu, tulisan ini juga hadir untuk memproyeksikan kembali upaya-upaya edukasi dalam bidang musik agar jebakan slogan dan sirkulasi ekonomi tak berhenti pada urusan profit semata.

 

Wacana dan Konstruksi Pemikiran atas Moshing

Wacana dan konstruksi pemikiran yang dituangkan kedalam ritual moshing merupakan bagian dari perlawanan terhadap dominasi budaya populer. Adapun sejarah kelam yang sempat mengotori wajah musik underground seperti peristiwa kematian beberapa penonton di konser beside dan beberapa konser lainnya terjadi tanpa unsur kesengajaan.

Artinya, kita juga harus mengajukan pertanyaan kepada publik mengenai kerusuhan sebagai suatu indikator atas sebuah subkultur musik. Contohnya, acara konser dangdut yang juga memakan korban. Jadi, pelabelan terhadap musik underground sebagai biang keladi kerusuhan adalah sebuah kekeliriuan.

Pelabelan itu bisa jadi juga merupakan sebuah kesengajaan yang diproduksi oleh pihak ‘status-quo’ atau mereka yang pro terhadap industri musik mainstream (major label) agar dapat mempertahan pop culture, meski asumsi ini pun masih bersifat prematur.

Bagaimanapun, istilah musik sebagai wadah persatuan tidak bisa dipercaya begitu saja saat ini. Sebab pada kenyataannya, pola pemasaran dan persaingan dalam industri musik menggambarkan sebuah paradoks dari wacana musik sebagai wadah persatuan.

 

Bagan 2.1 Konstruksi Moshing yang dilakukan oleh Pihak Dominan (Media Massa, Pemerintah, Masyarakat Awam)

Bagan ini menggambarkan pembentukan konstruksi makna yang dilakukan oleh pihak-pihak dominan seperti media massa, pemerintah, dan juga masyarakat. Konstruksi makna ini digunakan dalam memaknai fenomena moshing di dalam konser musik underground.

Fokus artikel ini adalah untuk memaparkan konstruksi yang dilakukan, kemudian mengadakan dekonstruksi atas penerapan konstruksi yang dilakukan oleh pihak dominan dengan menggunakan analisa wacana sebagaimana tergambar pada bagan selanjutnya.

 

Bagan 2.2 Grafik Proses Dekonstruksi Makna Moshing

 

Pada Bagan ini diperlihatkan proses dekonstruksi yang akan dipaparkan di dalam tulisan ini. Proses dekonstruksi dimulai dari konstruksi moshing sebagai sebuah budaya yang dijadikan subordinat oleh pihak-pihak dominan.

Kemudian, proses dekonstruksi dilanjutkan dengan memecah wacana-wacana atas konstruksi tersebut dengan memberikan pemaparan secara etnografis, menggambarkan pola interaksi budayanya, dan menyalurkan makna-makna simbolik yang terdapat di dalam moshing itu sendiri.

Proses dekonstruksi berujung pada pembentukan konstruksi baru atas makna dan representasi moshing sebagai sebuah budaya produk dominan yang berada di pinggiran.

Note : Gambar dan penjelasan di atas diambil dari jurnal Jurnal Kriminologi Indonesia Vol. 7 No.III Desember 2011: 340–354 SEBUAH KAJIAN CULTURAL CRIMINOLOGY ATAS MOSHING DI DALAM KONSER UNDERGROUND.

Kedalaman makna yang tersirat dari pola konstruksi wacana tersebut musti dipahami dan diaktualisasikan ulang ke dalam kondisi riil agar tiap-tiap pelaku musik underground dapat meng-counter  kemapanan pihak dominan yang telah mengkooptasi kultur underground.

Hal ini juga perlu dipahami oleh para “poser”, sebutan bagi mereka yang menjadi korban pasar dan secara tidak sadar menopang kemapanan tersebut.

 

Ruang Dialog: Solusi Rekonstruksi Paradigma Moshing

Keberadaan ruang dialog dalam setiap scene rasanya baik dalam membangun kembali paradigma moshing pada setiap scene atau komunitas underground. Jangan sampai industri musik yang di dalamnya penuh dengan brand apparel dan media menghabiskan nafas ideologis underground dan membuangnya ke dalam keranjang sampah.

Memahami apa yang terlewat oleh generasi underground hari ini mengingatkan saya kepada perkataan Joe Strummer, “Know your rights!“. Memahami makna sebenarnya dari moshing juga mengingatkan saya pada perkataan Kurt Cobain bahwa “Punk adalah kebebasan atas luka, kebebasan atas sebuah penderitaan, dan saya pikir, musik underground merupakan perwakilan dari suara-suara yang tak tersuarakan oleh parlemen dan pihak pengontrol kartel”.

 

 

 

Dibalik Tumbuh–Kembangnya Korupsi Di Indonesia

Photo by doc. Kompasiana

Biarkan generasi tua menghabiskan jatah waktunya. Setelah itu, kami generasi muda menggantikan dengan kejayaan baru untuk Indonesia. Korupsi bukan budaya!


 

Longlifemagz – Korupsi bukan suatu perkara baru dimasyarakat, hingga muncul idiom korupsi adalah budaya. Begitu ungkapan genit yang sering terpampang, baik dimedia surat kabar maupun elektronik, sehingga persoalan korupsi seolah-olah menjelma sebagai budaya di Indonesia.

Korupsi sudah menjadi bagian dari “budaya” bangsa. Inilah yang perlu kita perhatikan secara seksama. Bagaimana suatu tindakan melahirkan budaya sebagai kebiasaan yang melekat dan dilaksanakan secara turun temurun. Dan korupsi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perkembangan masyarakat.

Perang melawan korupsi seolah-olah telah menjadi pertempuran semua orang. Terlebih lagi di Indonesia, yang merupakan bagian dari negara-negara dunia ketiga. Kampanye-kampanye anti-korupsi memang menempatkan laku menyimpang yang satu ini sebagai persoalan bersama, baik bagi kelas borjuis, kelas menengah maupun kelas buruh (John Maya, 2011).

Mari kita perhatikan bagaimana korupsi itu berjalan dan di mana posisinya. Watak rakus dari individu-individu telah berkembang luas, tidak hanya kepada mereka yang telah memiliki kesempatan untuk melakukan korupsi, tapi juga kepada calon-calon pemimpin yang terjadi di tataran elit, oleh Robert Klitgaardkorupsi dirumuskanC= D + M – A.

Terungkapnya berbagai kasus korupsi menjadikan isu ini sebagai headline di media baik lokal maupun Nasional setelah keberhasilan KPK menangkap 5 kepala daerah sepanjang bulan September, Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti, Bupati Pamekasan Achmad Syafii, Wali Kota Tegal Siti Masitha, Bupati Batubara OK Arya Zulkarnaen danWali Kota Batu Eddy Rumpoko.

Hal ini telah jelas menggambarkan bahwa korupsi hanya terjadi di lingkup elitis, artinya korupsi tidak berada di lingkungan masyarakat tetapi pada kepentingan pribadi (elit). Korupsi bukan budaya, karena kebudayaan merupakan keseluruhan sistem gagasan tindakan dan hasil karya manusia dalam kehidupan masyarakat, seperti yang diungkap Koentjaraningrat (2009:144).

Baca : Nasionalisme Negara Dunia Ketiga

Data riset TII, Indonesia berada di peringkat 90. Mencerminkan bahwa korupsi merupakan “penyakit” yang saat ini mewabah di negara-negara berkembang. Korupsi tidak tumbuh-kembang di negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika. Karena di negara-negara maju tersebut sudah terbentuk mekanisme kontrol yang kuat melalui modal sosial (socialcapital).

Persoalan korupsi seringkali menumpukan pandangannya pada subjektivitas pelaku, menitik beratkan pada persoalan cultural. Nampaknya pendapat dan tarikan solusinya berpijak pada diskursus pembangunan masyarakat (communitydevelopment) dan mengaburkan situasi sosio-kultur Indonesia. Pertama masyarakat Indonesia belum lepas dari watak feodal. Kedua pada rezim orde baru berlakunya kebijakan floatingmass, dan ketiga Indonesia adalah negara semi-kapitalisme.

Kasus korupsi yang setiap saat bisa dilakukan siapa saja seringkali membuat hati dan perasaan ini kecewa karena apa yang janjikan pada saat masa kampanye hanya menjadi janji manis belaka. Sebagai pengambil kebijakan tidak becus, bekerja bersikap oportunis.

Banyak yang bilang korupsi soal moral. Atau pula agama yang dijadikan nilai dasar untuk menghapus sifat-sifat korupsi. Ternyata itu tidak mengubah situasi. Sejumlah fakta ini membuktikan bahwa tidak ada keterkaitan erat antara keberagamaan seseorang dengan tindakan korupsi. Artinya persoalan korupsi bukan persoalan keimanan.

Berdasarkan data Kompasiana.com, agama yang menjadi benteng terakhir ternyata juga tak ampuh. Para tokoh agama terjebak dalam pusaran korupsi seperti kasus Menteri Agama Suryadharma Ali sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi terkait penyelenggaraan haji, Luthfi Hasan Ishaaq anggota DPR yang juga Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai tersangka kasus suap impor daging kepada Kementerian Pertanian. Fahd A Rafiq menjadi terdakwa ketiga dalam kasus pengadaan Al-Quran di Kementerian Agama pada APBNP 2011 dan APBN 2012.

Baca : Rocker dan Rockabilly: Sejarah Musik Rockabilly dan 8 Lagu Rockabilly yang Bersejarah

Rasa keadilan jauh dari pandangan hidup mereka. Yang penting menimbun kekayaan sebanyak-banyaknya dengan “menghalalkan segala cara”. Berapa banyak orang tua yang dulu tak berbuat apa-apa mengusir penjajah, sekarang menjadi orang berpangkat. Hidup kaya raya dan masih saja saling berebutan kekayaan dengan cara yang tak benar, dengan jalan yang tidak bermoral, tanpa rasa malu dan rasa bersalah. Melalui korupsi, penipuan dan berbagai penyelewengan terhadap hukum dilakukan.Dari waktu ke waktu kesenjangan sosial dan ekonomi semakin kentara, ketika itulah individualisme tumbuh (Pramoedya,2013:51).

Korupsi ialah tindakan yang mengambil hak orang lain melalui kekuatan politik. Korupsi tidak bisa dilakukan oleh individu-individu atau kelompok-kelompok yang tidak memiliki kekuatan politik. Korupsi lahir dari sebuah sistem ekonomi-politik yang kapitalistik, bukan lahir dari proses kultural (budaya).

Logika korupsi adalah logika dari sebuah ‘kelas’ yang berorientasi pada akumulasi, eksploitasi dan ekspansi. Korupsi secara materialis berorientasi pada hitung-hitungan besar kecil modal kampanye, arena politik jadi lahan memperkaya diri sendiri/ sanak saudara, mencari lahan baru mulai dari pengadaan, penyusunan hingga pelaksanaan kebijakan.

Ketiga watak dasar kapitalisme tersebut akan membentuk watak-watak turunan yang juga berkarakter kriminal: Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. Pendekatan kultural tidak akan pernah mampu menyelesaikan persoalan korupsi, kolusi dan nepotisme. Karena kultur sendiri adalah seperangkat ide yang dibentuk, bukan aktivitas individu dalam kehidupan masyarakat.

Realitas Semu Gerakan 30S

Aksi pelajar saat itu mendukung pelarangan PKI, diabadikan oleh Getty, BBC

Photo by doc. Tribunnews, BBC

30 September, sensasi ketakutan masa lalu yang diamini secara berjamaah dengan suka cita riang gembira hati senang senantiasa. Generasi muda, generasi millennial harus membiasakan diri untuk hidup tanpa mitos dan dengan penuh kesadaran atas kenyataan sejarah yang tentunya rumit. Patria o muerte!


 

Longlifemagz – Rezim Orde Baru merupakan kekuatan besar yang tidak tertandingi selama lebih dari tiga dekade (1996-1998) menguasai Indonesia. Peristiwa 30 September 1965 menjadi satu peristiwa penting rezim Orde Baru dalam membangun hegemoni kekuasaan, sejarah yang telah terdistorsi kepentingan elit kian absurd.

Sebagaimana yang lazimnya terlihat, tak jarang dalam perjalanan menuju kekuasaan itu penuh dengan sikut-sikutan di antara para elit politik, tetapi juga jerit tangis dan ceceran darah rakyat kebanyakan.

Maka dari itu perlunya kita menguak rahasia atau misteri-misteri tertentu kekuasaan rezim Orde Baru bukan untuk mengorek luka lama melainkan untuk belajar bersama dari periode yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari bangsa ini.

Peninjauan kembali sejarah itu penting, terutama jika kita memahami sejarah bukan sebagai warisan, melainkan sebagai suatu pelajaran. Sejarah hendaknya tidak dipandang sebagai pemberian dari masa lampau yang harus di pertahankan mati-matian atau dijadikan sumber justifikasi terhadap apa yang kita lakukan sekarang, melainkan sebagai sumber inspirasi untuk menata kembali masyarakat menjadi lebih baik di masa kini dan masa depan.

Pertama-pertama yang perlu kita cermati tentang kuasa rezim Orde Baru yaitu strategi politik yang di terapkan Soeharto sebagaimana dituliskan oleh Pramoedya Ananta Toer dalam buku Arok-Dedes bahwa politik tak selalu identik dengan perang terbuka. Politik adalah permainan catur di atas papan bidak yang butuh kejelian, pancingan, ketegaan melempar umpan-umpan untuk mendapatkan peruntungan besar.

Sejak dibangku sekolah kita diajarkan menghafal nama Presiden dan tahun periode kekuasaan sebagai wujud wawasan kebangsaan, saat itulah kita tahu Soeharto sebagai pemenang karena dia terlama.

Lalu timbul pertanyaan, kok presidennya pak Harto terus ya? Padahal setiap 5 tahun di adakan pemilihan umum, lagi-lagi pak Harto yang jadi presiden¸ semua itu tentu penting menjadi persoalan memahami masa lalu secara lebih kritis agar mampu merencanakan taktik perubahan secara lebih tepat.

Keberhasilan Orde Baru memimpin selama 32 tahun tidak lepas dari metode militerisme-fasisme, di mana satu minoritas menguasai mayoritas melalui peristiwa-peristiwa menggoncangkan. Hal itu dilakukan melalui pembantaian tahun 1965 yang menurut penuturan komandan Sarwo Edhie mncapai angka 3 juta orang. Keterikatan peristiwa ‘65 dengan strategi politik Soeharto inilah yang masih kabur di paparkan oleh kaum terpelajar.

Pertama-tama dalam membangun rezim Soeharto menyingkirkan lawan terbesarnya, sebagaimana dikatakan oleh Machiavelli dalam bukunya Il Principe untuk mendapatkan kekuasaan yaitu musnahkan garis keturunan keluarga penguasa/kelompok dominan.

Harus diingat bahwa manusia harus dicintai atau di hancurkan; mereka akan menuntut balas dendam atas luka ringan, namun mereka tidak dapat melakukan hal serupa apabila mereka terluka parah.

Berangkat dari peristiwa 65 inilah kemudian Soeharto membangun hegemoni menciptakan realitas semu lewat film buatan pemerintah, Pengkhianatan Gerakan 30 September/PKI (1984), sebuah film jalur kuning, film serangan fajar, yang menjadi tontonan wajib setiap tahun bagi anak-anak sekolah. moral sederhana: bahwa sejak kemerdekaan dan masa-masa selanjutnya, PKI bersifat anti nasional, anti agama, agresif, haus darah, dan sadis.

Baca :Film G30S PKI Ala Kids Zaman Now

Arief Budiman pernah mengatakan bahwa sistem politik totaliter menekankan konsensus total di dalam masyarakat dengan cara indoktrinasi ideologi dan paksaan, dan juga melakukan konflik total tanpa melihat derajat kebebasan individu.

Kekuasaan yang sewenang-wenang ini telah berhasil meninabobokan rakyat, alhasil tiap kali peringatan 30 September yang terjadi tidak lepas dari logika Orde Baru dan hanya menebar kebencian seperti genjer yang di urap dan di oseng pun jadi horor, palu dan arit pun sebagai alat produksi wong cilik juga jadi horor.

Telah dapat kita gariskan bahwa ciri khas atau mentalitas dasar dari Orde Baru itu menarik untuk dilihat, terutama dari sudut pandang sosiologi, karena politik kekerasan yang dipakai telah menyebabkan timbulnya keadaan seseorang menjadi ketakutan.

Dalam langkah ini telah terbongkar bahwa kesan yang dibentuk rezim Orde Baru bukan hanya belum memadai, melainkan menyembunyikan sesuatu, jadi merupakan sebuah distorsi. Setiap rezim pasti memiliki opini yang dibuat untuk membenarkan dirinya saja, maka kita perlu menelanjangi kesan sebagai distorsi sehingga distorsi dalam realitas terbuka juga.

 

 

 

 

 

(Tidak) Merayakan Hari Patah Hati Nasional

raisaaaaaa

Photo by doc. Raisa Andriana

Entah siapa yang mulai, siapa yang mengakhiri, bagai lagu Kegagalan Cinta Bung Rhoma. Yang Jelas, tidak ada korelasinya antara lagu Rhoma, tertangkapnya Ridho Rhoma, dengan pernikahan Hamish dan Raisa.

 

Longlifemagz – Dua pekan kemarin, nitizen diramaikan oleh pernikahan solois cantik berbakat nan merdu suaranya, Raisa Andriana. Menikah dengan Hamish Daud, menjadikan Raisa melepas masa single-nya, memulai hidup baru menyandang peran sebagai istri. Ramainya respon dari nitizen (warga internet), entah itu dalam bentuk kekecewaan, dukungan, ataupun rasa pupusnya pengharapan, bergumul menjadi satu dalam tagar Hari Patah Hati Nasional.

Tanpa diresmikan oleh Presiden dan tencantum pula dalam kalender nasional, tampaknya Hari Patah Hati Nasional terlihat lebih heboh dari Hari Kartini yang benar-benar terlihat merahnya. Walau Cuma heboh didunia maya, yang jelas-jelas belum mengalahkan hebohnya Win Cycle sepeda gunung primadona anak 90-an, yang kian kesini sudah tidak pantas disebut anak lagi.

Sebenarnya Hari Patah Hati Nasional dibedakan menjadi dua bagian. Jilid pertama, saat berlangsungnya hari tunangan, dideklarasikan sebagai Hari Patah Hati Nasional Jilid pertama, tanggal 21 Mei 2017. Dan hari pernikahan yang masuk dalam Hari Patah Hati Nasional Jilid dua, tanggal 3 September 2017. Namun diantaranya terdapat kesamaan. Sama-sama menarik perhatian, juga sama-sama dibicarakan oleh banyak orang.

Selayaknya manunia yang berpasang-pasangan, terkhusus bagi agama Islam menikah adalah penyempurnaan setengah agama. Begitupun yang dilakukan oleh Hamish dan Raisa. Menjauhkan diri dari jinah, menikah, beranak pinak, dan berkeluarga. Namun kadang, justru direspon kurang semestinya yang tak berguna dan acapkali berlebihan. Padahal sesuatu yang berlebihan akan jadi overload.

Berbeda antusias masyarakat terkhusus nitizen menanggapi pernikahan Raisa dengan Hamish. Diantaranya oleh sebagian generasi Y (masa transisi para anak-anak kelahiran 80an sampai 2000, yang mulai melek teknologi-gudget) maupun para generasi Z (anak-anak generasi 2000 keatas, yang masih pada bibit, baru tumbuh bulu, pengkonsumsi teknologi-gudget era baru). Merekalah warga tetap dunia maya, yang membanjiri respon diberbagai platform media sosial dengan berbagai bentuk ekspresi.

Banyak ragam, banyak media yang mewadahinya. Di Twitter ramai dengan tagar Hari Patah Hati Nasional yang sempat bertengger menjadi tranding topic. Banyaknya tweet dari para pengguna akun twitter dapat pula ditemukan. Mulai dari memberi dukungan, ada yang kecewa, sampai men-tweet mengungkapan rasa penuh pengharapan bertepuk sebelah tangan.

“Pacaran sama Keenan, duet sama Afgan, lamaran sama Hamish. Orang cantik mah bebas! #HariPatahHatiNasional” tulis akun @hyldahelida. Atau yang ini, “Siraman sore dulu, siapa tau abis siraman besok nikah ama Raisa” ujar akun @Reezky11.

Tak mau kalah dengan Twitter, Warga Instagram pun turut pula bereaksi. Ekspresi lebih variatif lagi, selain comment, Hari Patah Hati Nasional pula dilampiaskan dalam post feed di Instagram, maupun Insta Story. Bentuknya, banyak pula variasinya.

Ada yang bentuk Meme, ada pula yang merekam aktivitasnya dikamar dengan backsound lagu Raisa-UsaiDi Sini. Tentunya dengan Raut ekspresi penuh duka, ditambah tagar plus capslock bold Hari Patah Hati Nasional.

Kegaulan tingkat tinggi dalam tajuk Hari Patah Hati Nasional, membuat seolah-olah anda kehilangan jodoh yang sudah ditakdirkan Tuhan. Astaga, wanita masih banyak, laki-laki lain juga sama banyaknya.

Kejar dan cintailah yang ada, tentunya yang benar-benar realistis. Hamish, Raisa menikah bukanlah akhir dunia, bila kata berlebihan yang kalian inginkan. Mulailah berbenah diri jadi yang terbaik, selain kenyamanan, kesempurnaan, cinta. Siapkan pula materi yang banyak. Karena mau bagaimana juga biaya untuk menikah tidaklah murah terlebih beli rumah untuk tempat menetap. Kenapa saya jadi terkesan seperti sang salam super yang sudah kurang super.

Memang benar adanya bila Hamish dan Raisa menikah, maka populasi gender antara laki-laki, terkhusus wanita Indonesia berkurang. Tapi ini yang lebih penting untuk diwaspadai, berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2015 tertera dari jumlah penduduk Indonesia sebanyak 237.641.326 juta jiwa, terdapat rasio gender 101 laki-laki dengan 100 wanita. Berarti dari 100 wanita di Indonesia terdapat 101 laki-laki, yang secara logikanya ada satu laki-laki dari sekian jumlah presentasi wanita yang tidak dapat pasangan.

Wahai kaum lelaki Jangan kamu salahkan siapa-siapa bila ini membuatmu risau, terlebih Hamish dan Raisa. Cukup kamu salahkan dan laknat para lelaki yang mempunyai banyak istri, bergundik, nikah sirih dan sejenisnya. Secara sadar mereka dengan kejamnya turut menurunkan populasi wanita untuk dinikahi.

Sempat bertenggernya Hari Patah Hati Nasional menjadi trending topic, dirasa membuat spam-spam di-official media Raisa diantara faktornya karena banyaknya Your Raisa di Indonesia (fans Raisa). Sehingga mereka secara sadar membuat banyak input aspirasi tercipta, terlebih ekspresi menanggapi pernikahan Hamish dan Raisa.

Wajar, sebagai musisi, jelas Raisa banyak dijadikan influence bagi para penyanyi pendatang baru di Indonesia. Sebagai seorang public figure yang multitalenta dengan predikat plus kuadrat, pasti banyak orang yang mengidamkan-idamkannya.

Kaum adam mendambakannya karena Raisa sebagai wanita idaman. Kaum Hawa menjadikan Raisa salah satu panutan dalam berdandan. Maka memang suatu kebenaran bila Raisa mempunyai banyak penggemar.

Terbukti, Raisa punya banyak warga (nitizen) yang menyenanginya, baik pria maupun wanita diberbagai platform media sosial (Instagram sampai Twitter). Pertanggal 10 September 2017, Instagram pengikut Raisa sebanyak 15,6 Milliar. Sedangkan di Twitter sebanyak 7,71 Milliar.

Berbeda dengan sang istri, Khamis Daud mempunyai fans tersendiri. Macho, tangguh, pintar, kuat, anak alam, tampan nan rupawan adalah kelebihan yang dieluhkan bagi penggemar Hamish, terkhusus para wanita, baik yang tulen maupun yang karbitan. Banyak yang mengagumi, banyak yang menyukai. Terlihat di akun media sosialnya, Hamish mempunyai pengikut Instagram sebanyak 1,7 Milliar dan Twitter sebanyak 63,7 ribu pengikut.

Puluhan Ribu sampai menginjak angka Milliaran pengikut, adalah suatu hal yang dahsyat, untuk public figure di Indonesia. Banyaknya pengikut, melebihi angka populasi manusia dibumi yang berkisar 7 Milliar orang atau diakhir abad nanti, tahun 2050 berkisar 11,2 milliar orang. Seperti simulasi saja, tak usah menunggu uji laporan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) tahun 2050 yang terlampir dalam Nationalgeograpic.co.id benar adanya.

Bergumulnya akun-akun media sosial, mulai dari akun personal, bisnis, sampai buzzer bersatu dalam asosiasi tagar Hari Patah Hati Nasional dan sempat menyebabkan trending topic Nasional. Menggeser, mengesampingkan, melupakan isu ataupun fenomena nasional. Yang membuat saya menjadi bingung dan nyinyir. Sebenarnya untuk apa fungsinya?

Tingginya pengharapan, dan kreativitas seseorang dalam berimajinasi membuat ia merasa pantas memiliki. Munculah opini baru, seolah Raisa direbut oleh Hamish dari anda, ataupun sebaliknya Hamish direbut oleh Raisa dari anda.

Sadarlah wahai keturunan Adam dan Hawa akan pengharapan yang utopis. Ingat Duta dan kawan-kawan Shela On 7 saja sudah Berhenti Berharap sejak tahun 2003. Ikuti jalan mereka, karena bagaimanapun juga Raisa nge-fans dengan Sheila On 7 sedari Sekolah Dasar.

Kadang Asiknya seseorang berekspresi terlebih mengomentari fenomena dimedia sosial demi memperoleh suatu eksistensi diri. Adalah agar memberikan kesan ia ada, tercitrakan hipster, mempunyai pergaulan yang luas, sekedar trendy, atau kekinian atau hitz pakai z.

Seperti yang diungkap dalam beberapa riset ditahun 2016, Nidya Zahra Hayumi –Penggunaan Instagram Sebagai bentuk Eksistensi Diri mengungkapkan “Eksistensi seseorang dipengaruhi oleh dunia luar menjadikan seseorang ingin mengembangkan dirinya dengan mengikuti perkembangan disekitarnya terutama bagi orang yang sedang berada di usia 13-18 tahun. Dengan instagram, alasan utama seseorang menggunakannya adalah untuk berbagi momentum. Sehingga menunjukan keberadaan seseorang yang ada di instagram, yang berarti ia ada disatu lingkungan”.

Yang kadang perlu diingatkan, seseorang terlebih ia public figure tetaplah mempunyai sisi privacy dan tentunya pilihan dalam memilih hidupnya. Terlebih Hamish dan Raisa. Dan sampai parahnya lagi banyak oknum yang membuat meme membanyangkan malam pertama Raisa. Sama-sama tau, sama-sama punya kebutuhan biologis. Lagipula mereka sudah menikah, suatu yang privat jangan dibayangkan dan diangkat menjadi santapan public.

Jika terus dibiarkan fenomena tagar ini, maka akan semakin bahaya, dunia nitizen akan gempar. Bagaimana bila nantinya Hamish dan Raisa punya anak, anaknya kembar cantik dan tampan, atau setidaknya nanti suatu saat pastilah ia hidup bahagia, dengan kemapanan, kekayaan yang mentereng, atau Bulan madu keliling dunia. Nitizen makin dibuat pupus saja.

Belum lagi banyaknya fans public figure lain yang nantinya ikutan latah, tak rela artis idolanya tak menyandang gelar pembuat hari raya. Masih adanya public figure cantik nan banyak fans, mulai dari Aura Kasih, Nikita Willy, Nabilla JKT, Agnes Mo, atau Prilly Latuconsina si serigala yang sukses dengan usaha kue keringnya. Mau berapa banyak tagar Hari Patah Hati Nasional yang tercipta?

Atau sekiranya Isyana teman featuring Raisa di project Anganmu-Anganku, tiba-tiba mereka ada masalah, lalu bertengkar bak anak STM. Unfollow-unfollowan Instagram, Raisa membully Isyana belum menikah-menikah, fans Isyana tak terima. Berapa tahun kemudian, Isyana menikah, Suaminya tampan rupawan tiada kalah. Munculah Hari Patah Hati Nasional Tandingan. Sungguh makin tidak ada istimewa dan bernilai Hari Nasional bila begini.

Sudah-sudah cukup sudah, sudah sampai disini saja. Yang perlu diingat dalam membahas hal remeh-temeh ini, saya bukanlah hater dari Raisa. Saya menikmati karya Raisa dibeberapa album karyanya. Terlebih saya menyatakan fans Raisa, sedari pertemuan yang tak disengaja, saat menonton pensi dibilangan Jakarta, dengan kecantikan dan suara merdunya melantunkan single “Serba Salah”.

Sebagai fans sejati saya hanya mengikuti dalilnya yang tertera di bio profil Instagramnya,“Tidak sulit bikin saya bahagia, cukup degan tidak nge-spam di IG saya. Thanks!”. Alhamdulillah, saya lebih dahulu dan selalu membahagiakan Raisa, sebelum Hamish datang sembari mendoktrin My Trip My Adventure.

Selain project serabutan, mencoba peruntungan pula sebagai penulis lepas, buruh event, dan usaha kecil clothing.

Nasionalisme Negara Dunia Ketiga

Photo by doc. Antara

Nasionalisme Eropa lahir dari akumulasi modal, semangatnya liberal Liberte, Egalite and Fraternite, Nasionalisme Indonesia lahir dari akumulasi penderitaan, kemiskinan dan penjajahan, semangatnya keadilan sosial. Kemerdekaan adalah semangat mengikis habis kesenjangan, Dirgahayu Republik Indonesia!


 

Longlifemagz – Mengupas arti nasionalisme Indonesia tidak bisa lepas dari kondisi pra kemerdekaan, memahami kondisi politik Indonesia masa lalu terdapat unsur atau faktor yang penting. Kita tahu, bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak takut untuk belajar dari lembar-lembar sejarahnya sendiri, betapa pun hitam atau putih lembar-lembar tersebut. Beberapa interpretasi dilebih-lebihkan atau dipergunakan secara serampangan dan pemikiran secara spekulatif tidak akan membawa kita lebih maju setapak pun dalam menerangkan aspek kausal nasionalisme.

Sifat-sifat pokok dari politik kolonial Belanda dapat dicari dengan menggunakan analisis lain dan dengan jalan membandingkan dengan imperalisme negara Eropa lainnya. Balanda membutuhkan hasil-hasil daerah tropis dan mendapatkannya harus secara pemungutan upeti. Hal ini diperkuat karena awal abad ke- 19 negeri Belanda masih bersifat agraris dan dapat di dapat digolongkan dalam kapitalis muda, belum terdapat industri besar (multinasional). Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan Inggris di tanah jajahan mereka menjual kain tenun, kain-kain ini sebagai hasil revolusi Industri. Pada titik awal ini sudah tergambar bahwa fungsi tanah-tanah jajahan itu berakar pada perbedaan kondisi ekonomis negara induk.

Depresi ekonomi mempengaruhi politik Belanda pada umumnya dan politik kolonialisme pada khususnya, tendensi tersebut menggambarkan determinisme ekonomis basis struktur mempengaruhi suprastruktur. Kondisi ekonomi Belanda semakin di perparah sebagai akibat dari Perang Napoleon 1803 dan Perang Diponegoro 1825 yang menguras darah, dana dan air mata. Akhirnya pemerintah Belanda mengeluarkan kebijakan bahwa daerah-daerah taklukan harus memberi keuntungan material bagi Belanda melalui sistem cultuurstelsel.

Tak heran-heran kita selalu bertanya bagaimana bisa suatu negara menjajah lebih dari 3 Abad yang secara geografis terletak di benua yang berbeda berjarak 28.000 kilometer, prajurit perang tidak sebanyak pribumi nusantara dan musuh tidak mengenal semua medan peperangan. Pada periode itu di Hindia Belanda umumnya dan Jawa khususnya masih terdapat kerajaan yang memiliki prajurit terlatih dan alat perang yang mumpuni bisa dengan mudah dikendalikan oleh satu kekuatan yang semasa itu belum menjadi negara adidaya.

Pemerintah Belanda dalam menjalankan sistem rezim kolonial kekuasaannya di Hindia Belanda struktur kekuasaannya bersifat hierarkis feodal yang bertulang punggungkan pegawai binnenlands bestuur (BB) atau pangreh praja. Sehingga timbullah semacam enfeodalisasi yang meletakan elit pribumi di jabatan-jabatan administrasi dan keamanaan yang di kontrol langsung oleh Gubernur Jendral, kondisi yang non-asimilatif ini membuat sikap elit birokrasi condong konservatisme dan gaya hidup yang terbelenggu tradisionalisme. Pola konsumsi masyarakat tradisional : keserbamewahan, kekayaan sebagai lambang status, hubungan masyarakat berdasarkan perasaan dan homogen.

Struktur kekuasaan yang diterapkan oleh Belanda telah menciptakan hierarki ketat yang menjadi perintah dari atas ke bawah dengan cara menempatkan elit-elit pribumi di posisi strategis. Dalam pada itu politik Belanda mendorong mereka untuk mempertahankan gaya hidup tradisional berikut seni, sastra, dan filsafatnya. Sartono menyatakan bahwa pemerintah Hindia menghadapi proses enfeodalisme yang penuh ambivalensi, ibaratnya berdiri dengan satu kaki dalam alam tradisional dengan paternalisme, otoritarianisme dan feodalismenya, dengan kaki yang satunya dalam dunia modern dengan tatanan birokratis (2014; 100).

Proses ambivalensi tersebut merupakan hambatan bagi kelompok priyayi profesional atau kaum terpelajar untuk memegang peranan sebagai inovator perubahan sosial yang disebabkan karakter feodal yang belum tuntas serta politik kolonial mengutamakan keamanan dan ketertiban (rustand orde), hak istimewa (exorbitante) kekuasaan yang sewenang-wenang. Kebijakan tersebut berhasil mengubah paradigmamasyarakat bahwa politik itu urusannya wong gede (penguasa). Rakyat benar-benar diarahkan hanya untuk bekerja, berproduksi dan tidak memiliki peran lagi dalam politik (Lane, 2007;42-43).

Situasi kolonial merupakan tantangan bagi tanah jajahan untuk mengkonsentrasikan aktivitas kolektif untuk mempertahankan diri dan mengubah situasi. Hal ini menyebabkan timbulnya kesadaran, perasaan dan kehendak nasional. Nasionalisme Indonesia seperti halnya negara-negara dunia ketiga lainnya mempunyai basis historis pada kolonialisme , maka sifat anti kolonialisme (Baca : Nasionalisme) menjadi bagian utama.

Semangat nasional harus di pandang sebagai suatu proses sosial, sekali muncul tidak dapat di cegah lagi dan hanya akan terhenti setelah kolonialisme lenyap. Konsep nasionalisme rakyat Indonesia dapat dilihat melalui 3 aspek yaitu : aspek kognitif yang mendasarkan pada kondisi yang terjadi (penjajahan), aspek afektif yang mendasarkan pada reaksi-reaksi emosional dan aspek orientasi yang mendasarkan pada tujuan bersama, seperti halnya yang tertuang dalam sumpah pemuda ‘satu nusa, satu bangsa dan satu bangsa’ . Ringkasnya sifat-sifat nasionalisme dunia ketiga berdasar pada : solidaritas, pluralisme, kesadaran kondisi sosial serta dinamis. Penderitaan yang sama pada waktu kolonialisme, melahirkan keinginan bersama menciptakan lingkungan hidup yang bebas.


FIND US ON

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.

 

Pin It on Pinterest