1


Film B, Film Kelas Dua yang Mempengaruhi Tarantino

 

ketika darah dipakai sebagai penyampai pesan: muncrat, berceceran, maupun berlumur di tubuh para aktor, muncul penasaran dalam diri saya akan film ini.

 

Longlifemagz – Ketertarikan saya akan Film B bermula dari cuitan @azzamkalakazam yang nyangkut di linimasa, saya pun segera mengontak kawan-kawan pemelotot film. Mumpung ada event filmmaker di Semarang, saya pikir otak yang sudah lama dipenuhi produk Hollywood ini perlu dipertemukan dengan para praktisi yang bertungkus lumus di industri ini.

Pemilik akun di atas belakangan saya ketahui merupakan sutradara dari salah dua film yang dipertontonkan di B-Movie Night (26/07) kemarin.

Perlu dicatat, saya bahkan tidak mencermati tajuk event tersebut yang berbunyi “B-Movie Night”. Motif saya waktu itu hanyalah untuk mengisi kegabutan di malam Jumat, tanpa peduli jenis film yang akan diputar.

Saat mengiming-iming teman saya dengan rayuan “Bang, gua ajak nonton film mau gak? Elu ga usah ngeluarin duit deh,” standpoint saya waktu itu cuma keinginan menonton enam film bergenre horor dan berjumpa para kreatornya. Sekedar itu.

Baru setelah enam film usai diputar dan sesi diskusi dibuka, terdengarlah istilah baru dalam khazanah perfilman saya: B-Movie (Film B). Sebegitu bodohkah saya sehingga mengabaikan genre film yang terpampang di tajuk event? Iya, saya sebodoh itu.

Eureka! Ada tiga filmmaker yang diundang tampil di –katakanlah- panggung, yang masing-masing bercerita soal Film B kreasi mereka. Sepenangkapan saya sih, Film B muncul untuk mengisi kekosongan segmen di Amerika sana. Ada segmen konsumen (penonton) yang menginginkan genre alternatif, dan Film B menyediakan itu. Bisakah disebut film kelas dua? Mungkin saja.

Diskusi selama sejam soal Film B memang sangat singkat terasa. Namun setidaknya saya bisa ancang-ancang, berapa duit yang bisa dibakar guna membikin film demikian. Karena rata-rata Film B berdurasi tidak sampai setengah jam, bujet yang dihabiskan pun tak terlampau mengiris dompet.

Film sejarah macam Rengasdengklok mungkin bisa menyedot belasan juta demi penyesuaian set dengan universe cerita asal. Film guyon seperti Mr. Bombastic lain lagi. Sang sutradara menyebut film itu hanya menghabiskan tiga lembar duit merah muda.

Sebagai pribadi yang sehari-harinya bergumul dengan penggemar Sukarno dan para pengamat politik Indonesia, saya amat tertarik dengan Rengasdengklok. Seperti halnya film sejarah Indonesia lainnya, film besutan Dion Widhi Putra ini mampu membuat mata saya nanar (Film biopik sejarah Indonesia apa pun mampu membuat saya mbrebes mili, percayalah).

Akan tetapi, untuk ukuran film yang menampilkan salah satu manusia paling berpengaruh dalam sejarah nusantara, saya merasa screenwriting disana terasa kurang menggigit. Saya menanyakan bagaimana persiapan materi, sebutlah riset, untuk membangun universe yang seharusnya dirumuskan dengan penuh takzim ini.

Dion, yang datang dari Jakarta, menjelaskan satu hal yang menjadi titik perhatian utama saya. Pada bagian eksplanasi seorang Sukarno, kata sifat “cerdas” dan “berbudi luhur” yang menjadi concern saya, ternyata merupakan pesanan almameter.

Yasudah, ketawa saya. Riset untuk film bertemakan sejarah seperti demikian memang sudah dilakukan, termasuk pengkondisian set dan naskah agar sesuai latar waktu itu. Dan saya jelas tidak bisa membantah lagi.

Dan berpijak dari banyaknya adegan (dalam enam film tersebut) ketika darah dipakai sebagai penyampai pesan: muncrat, berceceran, maupun terlumur di tubuh para aktor, muncul penasaran dalam diri saya.

Di Pocong Hiu Unleashed dan Goyang Kubur Mandi Darah pun kita dapat menangkap elemen khusus: sorotan masif ke kaki pemeran wanita (fetish). Apakah terdapat pengaruh Quentin Tarantino di sana?

Sayangnya saya terlewat menanyakan itu di diskusi kemarin, tetapi beruntung bertemu potongan eksplanasi dari Nuran Wibisono di Tirto:

   Quentin Tarantino kemudian menjadi sutradara yang dianggap memperkenalkan pengaruh film-film cult ke khalayak umum. Dia menulis skrip From Dusk Till Dawn, sebuah film horor yang berkelindan antara perampok bank, keluarga pendeta, dan para vampir. Tarantino kemudian semakin menunjukkan pengaruh itu lewat film Reservoir Dogs.

Kecintaan Tarantino pada film-film cult terutama dari kawasan Asia, semakin kokoh saat dia membentuk Rolling Thunder Pictures, perusahaan distribusi film yang bekerja sama dengan Miramax dan mengkhususkan diri merilis film-film indie dan cult. Meski hanya berusia 3 tahun, mereka berjasa mendistribusikan film-film seperti Chungking ExpressSonatine, hingga merilis ulang The Mighty Peking Man dan Switchblade Sisters—yang kemudian tampak memengaruhi karakter di film Kill Bill.

Mengenai apakah film B sama dengan film cult, di paragraf sebelumnya terdapat penjelasan:

Ada pula film B yang masuk sebagai film cult. Film B adalah sebuah istilah yang dipakai untuk menyebut film dengan bujet pas-pasan dan penggarapan yang juga seadanya. Tapi tak semua film B masuk dalam film cult. Lagi-lagi, syarat seperti keganjilan cerita, kejelekan make up, hingga busuknya jalan cerita, kerap menjadi faktor yang membuat sebuah film menjadi cult.

Dugaan saya bahwa penggiat genre ini terinspirasi dari film-film Tarantino yang sades abes itu ternyata salah besar. Justru Tarantino yang bnyak terpengaruh kebrutalan Film B!

Saya perlu berterima kasih kepada kreator film-film ini: Rengasdengklok, Monika, Darah untuk Anakku, Goyang Kubur Mandi Darah, Mr. Bombastic, dan Pocong Hiu Unleashed. Keenamnya telah memperkenalkan saya—dan barangkali publik Semarang- ke mainan baru, dunia yang tak pernah tersentuh sebelumnya. Mungkin saja akan ada lebih banyak Film B yang bakal saya lahap setelah ini.

 

 

Riuh Rendah Senjakala Pilkada

Photo doc GeMusik Magazine

 

“I hate protest songs, but some songs do make themselves clear” -Bob Dylan

Longlifemagz  Di tengah riuh rendah kampanye Pilkada  seperti sekarang, saya sebenernya ingin menulis tentang hubungan musik dan politik di Indonesia. Harus diakui yang pertama saya ingat adalah ketika mantan Presiden Yudhoyono merilis album musik pop nan sendu, menurut saya itu adalah pelampiasan yang sangat kreatif bagi seorang Presiden. Kedua, kita harus berterimakasih kepada era pemerintahan Joko Widodo karena sudah membentuk Elek Yo Band, buat kalian para amoeba, mereka adalah group musik bentukan sejumlah menteri dalam kabinet kerja pemerintahan Jokowi. Memeriahkan festival sekelas Java Jazz merupakan sesuatu pencapaian yang diluar nalar.

Tapi sebenarnya kajian antara musik dengan politik bisa jadi sangat luas ketika melihat dari berbagai aspek. Mungkin dari kita sebagian bertanya “mengapa dangdut menjadi pilihan utama ketika kampanye?” atau sebagian lagi bertanya “bagaimana efek rumah kaca dan bangku taman mempunyai kebiasan berfikir sebanding lurus dengan kegiatan kreatif?”. Tapi menurut saya yang lebih menarik adalah bagaimana musik menjadi fungsi orasi yang mampu diterima dengan mudah, atau bahkan menulis musik menjadi kegiatan untuk men-direct pemikiran kita kedalam hal – hal yang berbau poitis.

Pilihan itu akan secara langsung jatuh kepada sosok legendaris Iwan Fals, yang bertahun – bertahun lamanya telah mendalami berbagai macam kritik melaui musik. Iwan fals pertama kali datang dengan strategi yang sangat minimalis. Sama seperti Bob Dylan, hanya datang dengan gitar akustik. Sama seperti Dylan, iwan fals menjadi elektrik hanya di pertengahan karir bermusik. Sama seperti Dylan, kekuatan Iwan Fals ada di pusi – puisi dengan kekutan kata – kata yang sulit dicari tandingannya sampai pada akhir decade 1990-an. Tapi saya juga tidak pernah tahu apakah Iwan Fals sedekat itu dengan Dylan?

Seharusnya kita tidak pernah meragukan kualitas Iwan Fals dalam menulis musik. Iwan Fals muncul diawal decade 1980-an dengan cara bertutur yang intim, dan cara baru ini lah yang kemudian berhasil memsona jutaan pengikut yang kemudian mengikuti kemanapun Iwan Pergi, Bahkan ketika dia sudah meninggalkan tradisi folk dan memainkan prog rock dan “rock puisi” bersama Setiawan Djodi dan Rendra, misalnya.

Saya sangat antusias pada Iwan Fals, namun rasa antusias yang lebih besar hanya layak saya berikan untuk sesorang musisi yang sangat kritis asal kota Malang. Tidak kurang ada enam album yang sudah dirilis sejak tahun 2012, meskipun belum mencapai popularitas seperti yang diraih oleh Iwan Fals. Penyanyi yang saya maksud adalah Muhammad Iksan atau dikenal dengan Iksan Skuter, solois melankolis dan banyak menyuarakan kegelisahan (social commentary) dalam setiap album – albumnya.

Sama sepeti Bob Dylan, vocal Iksan Skuter tidaklah bagus, suara baritone yang berat dan kadang sengau dan menyanyi lebih terdengar seperti membaca puisi atau berbagi cerita. Belum lagi aransemen musik yang rata – rata sangat sederhana dan minimalis. Di tiga album pertama, Matahari, Benderang Terang, Folk Populi Folk Dei, musik yang ber-dendang adalah petikan gitar sederhana, kadang diselingi suara – suara asli suasana yang asik namun tetap menggelitik. Contoh itu ada di lagu “Partai Anjing” dari album benderang terang.

Photo doc Warning Magazine

Menurut saya, ketiga album ini memilik arti penting memang bukan karena musiknya. Namun lebih karena cerita yang kuat yang digunakan Iksan Skuter sebagai lirik. Di album Matahari, kegelisahan – kegelisahan iksan yang dituangkan dalam lagunya sangat dapat diterima dengan cepat. Bahkan musik sebagai fungsi orasi juga dirasa sangat mendapatkan feel-nya. Dilagu “Cari Pemimpin” dalam album Matahari juga dapat membawa kita kedalam perenungan  kegelishan, semangat dan juga harapan tentang sosok pemimpin yang ideal namun tetap kharimastik.

Terlalu sulit untuk menerka apa yang dibaca oleh Iksan Skuter. Tetapi ada satu hal yang pasti bahwa ia tidak pernah melupakan slogan bahwa musik yang ia bawakakan selalu berasal suara dari rakyat. Di Folk Populi Folk Dei misalnya ada lagu yang berjudul “Ku Kira Jakarta”, disitu hanya ada gitar akustik. Akan tetapi yang kita dengar dalam lagu itu adalah simponi liris tentang proses urbanisasi yang sebenarnya tidak bisa menjamin kesuksesan semua profesi.

Tapi,dengan bahasa yang terlalu jujur cenderung frontal, iksan tidak bisa di sejajarkan jajaran folk sentimentil katakanlah Tigapagi, Bandaneira, atau bahkan Jason ranti yang banyak menggunakan kata – kata putis namun tetap satir.

Ketika Jason Ranti X Alan Soebakir (Sinema Pinggiran) merilis video musik yang berjudul Anggurman, sasaran keritik jelas ditujukan kepada aktor politik yang pastinya mabuk kekuasaan, tidak tanpa ampun. Gokil keracunan kebanyakan kekuasan kata Jeje –panggilan akrab Jason Ranti–. Anggurman seolah-olah membawa perenungan kita terhadap sifat apatis, namun sisi lain kita menjadi sangat keritis namun tetap satir. Jika pembawaan Jeje terlalu gelap dan desturktif, maka Iksan Skuter punya optimisme dalam memahami fenomena sosial. Bahkan, terdengar kabar bahwa keduanya akan berkolaborasi dalam sebuah proyek “Bahaya Laten”.

Riuh rendah memasuki tahun politik seperti ini,saya hampir tidak pernah bosan mendengarkan beberapa album dari Iksan. Setidaknya, lagu – lagu dari iksan masih relevan dalam kondisi sosial-politik sekarang.

Setidaknya juga, dengan adanya Iwan Fals, Iksan Skuter, Jason Ranti, atau beberapa musisi yang melabeli dirinya sebagai penggiat protest song, kita (saya terutama) tidak perlulu terlalu tegang dalam menyikapi kondisi politik dalam negeri. Harapan – harapan yang selalu dikumandangkan melalui kampanye, sebenarnya bisa kita nikmati melalu musik. Anjay…

Tayangan Film Jadul di Hari Raya Lebaran Memang Berkesan

Kasino, Dono, dan Indro berpose di belakang jeep (doc. Warkop DKI)

Berkumpul, Menonton Tayangan Film Jadul Spesial, dan Beberapa Moment Kebersamaan di Hari Raya.

 

 Longlifemagz – Hari Raya Lebaran pasti selalu dinanti bagi setiap pemeluk agama Islam. Lebaran sendiri memiliki banyak interpretasi. Namun bagi saya Lebaran itu moment dimana dapat berkumpul bersama keluarga dan sanak saudara, menikmati hari dengan penuh kebersamaan dan suka cita.

Duduk bersama di ruang keluarga pasti jadi agenda wajib di Hari Raya Lebaran. Menyantap sayur ketupat dan opor ayam dengan kuah santan nikmat, sembari bersahut-sahut obrolan dengan orang di sekitar adalah ritual didalamnya.

Terlebih ditambah tayangan televisi yang menyajikan film jadul sinema spesial lebaran, bagai vitamin untuk melengkapi kebutuhan hidup. Bagi seorang anak yang dibesarkan di kurun waktu 2000-an awal, tampaknya lazim bila menunggu-nunggu film yang di tayangkan di televisi saat hari raya.

Televisi yang menjadi salah satu sumber hiburan mampu memanjakan hidup, menghibur hati minimal berhasil memberi bumbu pemanis di sela waktu (karena memang  diera ini, internet dan youtube belum se booming sekarang).

Tidak jarang kesempatan itu di maksimalkan televisi dengan memutar film jadul secara masif. Bagaimana tidak, dalam kurun waktu seminggu selama hari raya biasanya televisi nasional menampilkan film-film terbaik Indonesia jaman dulu, yang sudah pasti jadi langganan untuk di siarkan.

Entah apa penyebabnya film-film jaman dulu selalu jadi daftar tayang saat lebaran. Padahal dari sinematografi, editing, efek, maupun suara yang di hasilkan outputnya beberapa kurang maksimal dan tampak kurang modern bila di nilai sekarang. Begitupun perbincangan antar aktornya terlalu kaku, atau kadang bila bergenre komedi lawakannya slapstick. Yang saat ini sering di singgung oleh komika (stand up comedy) sebagai lawakan kurang cerdas. Namun peduli apa, toh tujuan film terlebih komedi untuk menghibur. Dan memang mereka terlampau berhasil untuk itu.

Yang saya yakini setiap film selalu mempunyai tempat tersendiri di hati para penikmatnya, begitupun dengan film jadul, tidak di pungkiri segala umur dapat menikmatinya. Siapa yang tidak suka kelucuan dalam film Warkop (Dono, Kasino, Indo, dkk), kelakukan Biang Kerok Benyamin Sueb, sampai ulah Kadir dan Doyok yang kadang terjeremban sial dalam narasi filmnya. Ataupula kisah epic Rhoma Irama dengan gitar tuanya.

Saya masih ingat di beberapa tahun belakangan, disaat saya tertawa terbahak-bahak bersama ayah saat melihat ulah Dono, Indro, dan Kasino menaiki becak dan tercebur empang (danau) dalam film Bagi-Bagi Dong. Kemudian saat melihat ulah Benyamin Sueb yang memerankan tokoh Samson dalam film Samson Betawi yang kuat namun kalap bila bulu ketiaknya di cabut, atau saat malam hari sepulang dari rumah nenek, sesampainya di rumah dengan sigap melahap cerita menarik Rhoma Irama dengan gitar yang di patahkan oleh Ibunya. Semua masih membekas, dan menjadi teringat.

Dulu, saking asyiknya menonton, saya pernah menghiraukan ajakan teman-teman semasa kecil untuk berkeliling sekitar. Setelah selesai langsung bermain bedug di mushola samping rumah. Padahal bila di ingat mungkin jika mengikuti ajakan mereka, pulang berkeliling saya sudah bisa membawa pulang uang dua puluh lima ribu dan langsung bisa dibelikan tamiya dengan batrai alkalin.

Karena memang tradisinya, di lingkungan rumah bila anak anak ikut salim atau datang berkunjung ke rumah warga saat lebaran pasti di beri persenan (duit) oleh orang yang lebih tua ataupun sang pemilik rumah. Apalagi lingkungan sekitar rumah, mayoritas masih keluarga bapak dan ibu, jadi rasa empati untuk memberi pastilah lebih besar. Namun tetap iman saya kokoh duduk menghadap televisi, menonton film-film terbaik itu yang cukup sulit di akses.

Kadang sampai berjam-jam, kadang dapat lebih dari 2 film bisa saya lahap dalam satu hari. Entah mengapa. Terlebih filmnya Warkop DKI atau Benyamin Sueb, sulit rasanya untuk absen. Nomor-nomor mereka yang saya suka dan biasa di putar diantaranya, Setan Kredit (Warkop), Bagi-Bagi Dong (Warkop), Maju Kena Mundur Kena (Warkop), Mana Tahan (Warkop), Tukang Ngibul (Benyamin), sampai Sama Gilanya (Benyamin).

Hingga tidak terasa sudah sekitar 15 tahun berselang sejak saya mulai kesaayikan melakukan hal itu di ruang keluarga. Walau banyak perubahan yang teradi terlebih sejak internet dan media online streaming bermunculan, namun adakalanya saya masih lebih suka mengingat. Hanya duduk bersama keluarga, ditemani kudapan lebaran, dengan mulut menguyah nastar. Sambil menatap layar televisi, sembari memindah-mindahkan chanel yang bisa membawa kami bernostalgia lagi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selain project serabutan, mencoba peruntungan pula sebagai penulis lepas, buruh event, dan usaha kecil clothing.

20 Tahun Reformasi: Beberapa Karya Yang Dibelenggu

 

Photo doc. Kompas

Era pra-Reformasi dan rezim Orde Baru menjadi jalan gelap untuk beberapa musisi.

 

Longlifemagz – Tepat tanggal 21 Mei 1998, Soeharto akhirnya turun dari jabatannya sebagai Presiden. Buah dari tuntutan dan unjuk rasa berbagai lapisan masyarakat Indonesia yang dilakukan secara masif ini berhasil menumbangkan kekuasaan “The Smiling General” yang sudah terlalu nyaman berkuasa selama 32 tahun.

Enam tuntutan sekaligus dilayangkan mengecam kesewenang-wenangan beliau selama berkuasa, mulai dari penegakan supremasi hukum, pemberantasan KKN, mengadili Soeharto dan kroninya, pencabutan Dwifungsi TNI/ Polri, pemberian otonomi daerah seluas-luasnya, sampai amandemen konstitusi yang di dalamnya terdapat hak dalam mengemukakan pendapat.

Soeharto sebagai presiden terkesan menganggap negara sebagai rumah, dimana terdapat bapak, ibu, maupun anak. Dan peran bapaklah yang diambil oleh Soeharto, tentunya sebagai bapak yang otoriter dan terkesan bertindak represif, demi tercapainya sistem tata negara sesuai visi misinya. Oleh karenanya, tidak jarang ekspresi, aspirasi, bahkan kritik masyarakat yang dianggap bertolak belakang dengan dalih cita-cita pembangunan yang telah ia rancang, akan tidak didengarkan, ditolak, atau bahkan dibalas dengan tindakan yang tak jarang melibatkan fisik didalamnya.

Tak ada pihak yang mampu bersembunyi darinya dibawah matahari. Begitupun para musisi sebagai segelintir bagian dari masyarakat bila melakukan tindakan yang bertolak belakang sesuai wacana yang telah dibangun oleh pemerintah akan pula menerima akibatnya, minimal merasa diawasi aktivitasnya oleh aparat yang berwenang.

Dalam memperingati 20 tahun reformasi Indonesia, Longlifemagz akan memberikan beberapa contoh karya para musisi yang dicekal akibat terlalu vokal dalam mengkritik rezim Orde Baru.

 

Iwan Fals yang Diinterogasi

Iwan Fals adalah salah satu musisi yang konsisten menyuarakan masalah-masalah sosial yang terjadi dan mendokumentasikannya dalam lirik-lirik lagunya. Sederet lagu, baik dari album solo maupun bersama grup Kantata Takwa dan Swami bernuansa protes sosial disajikannya lewat beberapa karya, diantaranya “Bongkar”, “Bento”, “Kesaksian”, “Ambulance Zig-Zag”, “Sugali” dan “Wakil Rakyat”.

Tidak hanya moral maupun kesewenangan pemerintah Soeharto yang diprotes Iwan, Kebobrokan dan masalah di sektor transportasi juga dijadikan bahan celotehannya. Misalnya, tentang musibah kapal Tampomas II di perairan Masalembo karena mendayagunakan kapal bekas pada lagu “Celoteh Camar Tolol dan Cemar”, ada juga tentang musibah kereta api Bintaro yang akhirnya dijadikan judul album yang dirilis setahun setelah tragedi tersebut, yakni 1910

Aktivitas bermusik yang dilakukan oleh Iwan pun akhirnya dimonitor ketat oleh pemerintah, sampai puncaknya adalah pencekalan dan larangan mengadakan tur di berbagai kota. Selain itu, Iwan Fals juga pernah berurusan dengan pihak berwajib, ia pernah diinterogasi selama 14 hari saat konser di Pekanbaru, dengan tuduhan menghina negara dan ibu negara akibat lagu “Demokrasi Nasi” dan “Mbak Tini” yang dibuatnya.

 

Rhoma Irama dan Pencekalan

Dibalik tema lagu cinta, moral, dan dakwah agama, dangdut melalui sang raja dangdut Rhoma Irama membahas pula tentang kritik dan masalah sosial, itu yang membuat pihak pemerintah gerah. Terlebih pada waktu itu Rhoma Irama adalah idola masyarakat umum, dengan musik yang sepopuler itu mampu menggerakkan massa ratusan ribu orang.

Baca : Raja Dangdut, Polemik Dakwah, Musik, dan Goyang

Banyak lagu Rhoma yang vokal menyuarakan masalah sosial dan tak jarang diantaranya menyentil pihak penguasa. Seperti misalnya “Hak Asasi” yang berbicara tentang adanya hak-hak asasi setiap manusia. Selain itu “Rupiah”, lagu yang berbicara tentang pendewaan orang-orang akan uang dan menggunakan berbagai cara untuk mendapatkannya.

Lagu “Rupiah” dicekal oleh pemerintah karena  menurut mereka liriknya mengandung hinaan terhadap mata uang nasional. Seperti yang dikutip dalam Lifestyle Ecstasy : Kebudayaan Pop Dalam Masyarakat Komoditas Indonesia. Lagu ini dilarang di televisi, dan menurut sejumlah pedagang kaset, kasetnya di singkirkan secara halus terutama karena tekanan pemerintah.

 

Elpamas dan Pak Tua-nya

Dekade 80-an merupakan rentang tahun dimana banyak band rock berkualitas yang bermunculan. Salah satu penyebabnya adalah diselenggarakannya Festival Rock se-Indonesia yang diprakasai oleh Log Zhelebour, seseorang yang mempunyai peran dalam memajukan musik rock di tanah air. Berkat festival tersebut makin banyak terpantau band-band rock baru bermunculan dan mendapat atensi publik. Elpamas adalah satu di antara band rock berkualitas tersebut.

Salah satu lagu yang mengantarkan Elpamas makin di kenal publik adalah “Pak Tua”, lagu kontroversial yang bercerita tentang penguasa tua yang belum juga pensiun. Lewat lagu itu pula Elpamas sempat mendapatkan pencekalan akibat dituduh menghina penguasa, dalam hal ini Soeharto.

 

Pop Mendayu Yang Mengancam

Tidak hanya lagu yang mengkritik secara langsung terhadap rezim, lagu dengan lirik yang cengeng dan musik yang mendayu-dayu tak luput dari incaran pemerintah. Ada lagu Hati Yang Luka” yang dipopulerkan oleh Betharia Sonata. Kemudian, “Gelas-Gelas Kaca” buatan Rinto Harahap yang dinyanyikan oleh Nia Daniati turut pula dikomentari oleh Menteri Penerangan kala itu, Harmoko.

Lagu bernada cengeng dituding oleh pemerintah melalui Deperteman Penerangan sebagai lagu yang melemahkan sekaligus mematahkan semangat dan tidak berjiwa pembangunan seperti yang didengung-dengungkan dalam jargon ekonomi pembangunan pada era orde baru. Menurut beliau, lagu tersebut adalah lagu ratapan patah semangat berselera rendah dan menghimbau agar lagu kelas krupuk dan cengeng seperti itu dihentikan penayangannya.

Dalam penelitian Irfan R. Darajat yang diunggah dalam website JurnalRuang juga menyebutkan banyak indikasi hal itu terjadi diantaranya karena dapat mengguncang imaginasi keluarga bahagia Orde Baru yang dibayangkan oleh negara.

 

 

 

Selain project serabutan, mencoba peruntungan pula sebagai penulis lepas, buruh event, dan usaha kecil clothing.

5 PENAMPIL SPESIAL JAVA JAZZ FESTIVAL YANG BERHASIL MEMBAWA NOSTALGIA

Photo by doc pophariini.com

Suguhan para penampil legend yang membuat penonton terbius nostalgia romansa semasa muda.

 

 

Longlifemagz – Perhelatan yang diselenggarakan selama 3 hari, sedari tanggal 2-4 Maret 2018 di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta berhasil menarik puluhan ribu pengunjung. Tidak habis-habisnya Java Jazz Festival memberi berbagai kejutan bagi para penikmatnya.

Kali ini dengan peluru, suguhan para penampil legend yang membuat penonton terbius nostalgia romansa  semasa muda. Begitupula dengan berbagai kombinasi atau kolaborasi penampil yang mereka suguhkan kala mendendangkan hits lagu-lagu pamungkas era 70-90an nya.

Berbagai penyanyi legenda, kolaborasi maupun kombinasi lintas usia maupun genre mereka suguhkan dengan berbagai cara, dengan spesial membawakan tembang-tembang hits semasa dulu. Berikut diantaranya kami rangkum, mereka-mereka yang dengan epic mengajak penonton bernostalgia bersama.

  1. The Music of Chandra Darusman

Chandra Darusman dan Erwin Gutawa dalam Karimata saat tampil di Java Jazz Festival ll Photo by Beritatagar

The Music of Chandra Darusman adalah Salah satu penampil yang berhasil meraup ribuan orang. Bagaiaman tidak sekaliber Chandra Darusman, musisi legend 70-an dengan berbagai hit seperti “kau dan kekagumanku”, pastilah ditunggu kehadirannya di BHI hall, Java Jazz Festival. Terdapat pula sederet artis yang menyanyikan lagunya pada saat itu, mulai dari Mondo Gascaro, Monita Tahalea, sampai Adikara.

Kejutan tak kunjung surut kala Karimata dan Chaseiro hadir dalam satu panggung. Terlihat Erwin Gutawa yang asik melakukan atraksi solo bassnya disambut oleh kebolehan skill dari Candra Darusman di piano. Decak kagum tak kunjung surut terpancar dari wajah penonton, kala melihat atraksi mereka. Hingga diakhir performance The Music of Chandra Darusman ditutup dengan lagu “Pemuda” oleh Chaseiro dan para penampil-penampil lain. Dan sing-along dari penonton tidak terbantahkan.

 

  1. Java Jive X Fariz Rm

Fariz RM on stage ll Photo by doc. Java Jazz Festival

Nostalgia kembali terjadi Java Jazz Festival 2018, tepat di Garuda Indonesia stage malam itu (03/03), Java Jive dan Faris RM tampil. On stage tepat pukul 23.00 Wib, Java Jive yang mengambil alih panggung terlebih dahulu. “Sisa Semalam”, “Kau Yang Terindah” sampai “Keliru” sederet obat mutakhir, membuat penonton terbuai dan kembali ingatannya kemasa lalu.

Sampai akhirnya, Faris RM pun turut on stage, terciptalah kolaborasi diantara mereka berdua. “Gadis Malam” adalah lagu pembuka kebersamaan mereka berdua. Hingga tiba di tiga lagu pamungkas, “Sakura”, “Barcelona”, dan ”Dansa Yo Dansa” penampilan mereka masih terbayang dan berkesan.

  1. The Rollies

Penampilan The Rollies saat di Java Jazz Festival ll Photo by doc detik

Mereka adalah salah satu panutan dijamannya, hadir memberi warna baru di belantika music Indonesia era 60-80an akhir, terkhusus bagi genre jazz rock, pop, dan soul funk. Kehadiran mereka malam itu (04/03) di Avrist hall, Java Jazz Festival disambut hangat oleh para penonton yang sudah mengerubungi stage.

Sederet nomor-nomor andalan mereka lancarkan, mulai dari Ke “Astuti”, “Kau Yang Ku Sayang”, “Kemarau”, sampai “Dansa Yo Dansa”. Nostalgia terjadi tak tertahan, sing along terdengar tak terbendung. Diantara penonton yang menikmati penampilan The Rollies, adalah Rhesa bassist dari Endah And Rhesa yang sumriah melihat penampilan mereka.

Baca : Live Review: Warna-Warni Java Jazz 2018

  1. Indonesian Legend Reuni: 80/90

Memes dan Addie Ms, kala menghibur penonton di BNI hall ll Photo by doc tempo

Bagaimana bila sederet legenda Indonesia dihadirkan dalam waktu yang bersamaan ditempat yang sama? Ya, sama halnya seperti kamu memasuki lorong waktu dan kembali kemasa lalu. Begitupun yang terjadi di Tebs hall, Java Jazz Festival, malam itu (04/03). Bagaimana tidak, sekaliber Fariz RM, Mus Mudjiono, Deddy Dhukun,Christe, Kinan Nasution, Addie MS, sampai Memes berada di satu panggung.

Hasilnya, hall crowded, penuh dan riuh yang terasa. Membawakan tembang-tembang hit dijamannya, “Terlanjur Sayang” yang dibawakan oleh duet emas Memes dan Addie MS, “Masih Ada” duet Deddy dan Christe, Fariz RM dengan “Sakura”, hingga “Arti Kehidupan” dari Mus Mudjiono yang menutup manis malam itu dibantu dengan penampil legend lainnya.

  1. Iwa K X Neutronic

Iwa K x Neurotic on stage MLD spot hall ll Photo by doc metronews

Tampil dihari terakhir (04/03) dengan sederet hideliner dipanggung berbeda, tidak menyebabkan Iwa K kehilangan masanya. Terlihat penonton sudah memadati MLD spot hall, stage Iwa K dan Neutronic tampil.

Sederet lagu mereka hempaskan kepenonton, namun tetap yang paling epic didua lagu penutup, “Bebas” dan “Malam Ini Indah”. Crowd yang sebelumnya sedikit tenang, kian bergolak kala lagu itu dimainkan. Generasi 90-an yang girang bukan kepalang, hadir memberi warna baru.

 

Selain project serabutan, mencoba peruntungan pula sebagai penulis lepas, buruh event, dan usaha kecil clothing.

TIPE-TIPE GOLONGAN PENGGUNA INSTA STORIES

Artwork by keywordsuggest.org

Sering update Insta Stories? termasuk golongan yang manakah kamu?

 

Longlifemagz – Saat ini media sosial memang telah memasuki masa booming-nya, terhitung setelah Facebook, Twitter, dan Instagram lahir ke dunia maya ini. Media sosial kini telah menyerupa menjadi suatu kebutuhan batin dan kepuasan hati, entah untuk dipakai update sendiri maupun sekedar memenuhi hasrat kepo akun-akun tetangga.

Salah satu media sosial yang masih sangat populer adalah Instagram. Kemampuanya berinteraksi dengan gambar dan video pendek dan juga filter – filter yang ciamik telah membuat Instagram semakin diminati.

Gimana gak banyak peminat, jepretan ala kadarnya pun jika memakai filter instagram bisa terlihat profesional cuy, hehe. Bukan hanya sekedar untuk mengisi waktu luang, kini Instagram juga menjadi lahan hiburan bagi pemuda-pemudi gabut, untuk mencari informasi, sekaligus menjadi ladang rezeki endorse ala-ala selebgram alias “Selebriti Instagram”

Salah satu fitur Instagram yang paling favorit adalah Insta Stories, karena media sosial ini sudah terbilang lama, pengguna – penggunanya pun seperti sudah terkotak – kotakan. Berikut 6 tipe pengguna Insta stories ? Yuk disimak..

 

  1. Anak Riya

Panggilan kerennya adalah Ariy “Anak Riya” berisi sekumpulan manusia yang sering riya atau pamer di Insta Stories. Mulai dari pamer baju baru, pamer lagi jalan – jalan, pamer punya pacar sampai pamer karna baru putus dan sedang galau.

 

  1. Majelis Anak Boomerang

Di majelis ini tentu hanya berisi orang – orang yang menyukai fitur foto boomerang. Orang-orang yang kelewat kekinian ini adalah yang sudah bosan dengan foto statis, sehingga segala momen diabadikan dengan metode boomerang.

 

  1. Anak Endorse

Adalah sekumpulan orang-orang yang mengaku selebgram dengan memanfaatkan banyaknya followers sebagai ladang rezeki. Tipe ini hanya memanfaatkan Insta Stories-nya untuk kegiatan yang kapitalistik, mulai dari promosi produk, event, jasa pijat, jualan banana nugget, sampai sekumpulan orang – orang yang memaksa merubah media sosial menjadi e-minimarket, hehe.

 

  1. Anak – Anak Persandian Negara

Dilihat dari namanya sudah kelihatan, orang – orang yang menggunakan Insta Stories dengan metode sandi atau kode – kode dengan tujuan memberikan informasi kepada calon gebetan bahwa ia rindu jalan bareng, rindu chat mesra sampai rindu rasanya dirindukan, haha. Padahal belum tentu doi follow Instagramnya. Tragis memang…

 

  1. Paguyuban Anak Quote

Di paguyuban ini orang – orangnya memakai Insta Stories untuk kegiatan berbagi kata-kata petuah. Mulai dari petuah cinta, motivasi hidup, sampai bangkit dari kegagalan. Orang – orang yang sering memberikan semangat bagi orang lain meski ia juga sebenarnya butuh disemangati juga, uwuwuw.

 

  1. Anak Sticker

Berisi orang – orang yang yang tidak Pede, alias tidak percaya diri jika hanya menggunakan Insta Stories secara polos. Ia merasa perlu menambahkan berbagai sticker, biasanya berbentuk love, papan lokasi, waktu, atau fitur kekinian seperti telinga kucing, sampai lidah melet–melet.

 

  1. Anak Jail

Orang – orang yang memiliki keisengen cukup tinggi dan jeli melihat keadaan. Insta Storiesnya hanya berisi keisengan dan keisengan saja, mulai dari memfoto teman yang lagi tidur, sampai memfoto teman yang lagi melamun.

 


FIND US ON

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.

 

Pin It on Pinterest