WEHYPE MARKET HADIRKAN PRODUK INDUSTRI KREATIF SEMARANG

Photo by doc. Wehype Market

Berlangsung selama dua hari, mulai tanggal 9-10 Desember 2017 menyuguhkan berbagai konten industri kreatif.


 

Longlifemagz – Impala Space, sebuah ruang alternatif untuk bekerja bersama bagi para pelaku industri kreatif, freelancer, dan pemilik bisnis pemula (biasa disebut Coworking Space) pekan kemarin (9-10/12) sukses menyelenggarakan Wehype Market. Bekerjasama dengan Wehype.id, acara Wehype Market diselenggarakan di Monod Huis, Kota Lama, Semarang diikuti oleh beragam local brand di Kota Semarang.

Terdapat berbagai tenant dengan berbagi produk mulai dari fashion, craft, aksesoris maupun handmade, membuat acara ini kian ramai. Selain tenant, acara ini juga diisi dengan berbagai konten acara, seperti workshop oleh Benik Semarang yang membahas tentang Create Fashion Skethcing & Qroquis, Music performances oleh Karnivale, serta Meetup community Semarang Coret di hari pertama.

Pada hari kedua terdapat beberapa acara juga seperti Art Jamming oleh Kudalari Project, Music Performances oleh Hills Collective dan Legit, Workshop oleh Duduknyeni dan Kudalari Project yang membahas mengenai Greeting Cards Making dan Merchandise, Serta Creative Talks“Meet The Creators” dengan Alviandy Ramadhan (Homesick Media), Imam Supriono (Sereal Ofiicial Photographer), dan Bima Sinatrya (Figura Renata).

 

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

ASAH KREATIFITAS FOOD BLOGGER LEWAT “BOWL. FOOD PLATING AND PHOTOGRAPHY WORKSHOP

 Wadah bagi para food blogger Semarang, saling berbagi ilmu dan unjuk keahlian dalam menata posisi makanan yang lebih berseni dan memiliki nilai jual lebih.


 

Longlifemagz – BOWL. Gyudon the Spot mengadakan Food Plating Workshop (02/12) yang dihadiri oleh para food blogger Semarang dengan pemateri Lenny Yulia selaku Founder dari @SemarangFood. Workshop ini mengangkat tema “Plating Artsy Buat Instagram”, dimana para peserta tidak hanya selesai pada tahap menata makanan dengan baik, tetapi juga mempelajari teknik fotografi yang detil agar dapat mengabadikan hasil seni penataan makanan mereka dengan kualitas yang baik.

Lenny Yulia selaku pemateri dalam workshop menyatakan bahwa di era digital saat ini ajang mengunggah foto makanan di media sosial tidak hanya menjadi kebiasaan saja melainkan sudah menyentuh sektor bisnis makanan maupun minuman. Menurutnya, mengunggah foto makanan ke media sosial tidak hanya sebatas bertujuan untuk memperlihatkan keunikan dan eksistensi dari makanan atau minuman tersebut, tetapi bertujuan untuk membuat orang yang melihatnya menjadi tergoda dan ingin mencoba merasakan makanan atau minuman tersebut.

Oleh karena itu, seni food plating serta keahlian fotografi yang mumpuni saling berpengaruh untuk menghasilkan foto makanan serta minuman yang memiliki estetika dan nilai jual yang lebih saat diunggah ke media sosial, khususnya Instagram sebagai media sosial yang paling banyak digunakan saat ini.

Workshop yang diselenggarakan di BOWL. Gyudon the Spot, Jln. Banjarsari Selatan No. 48A Tembalang, Semarang ini diakhiri dengan lomba food photography dimana para peserta diminta untuk memotret hasil seni food plating mereka lalu diunggah di masing-masing akun Instagram mereka. Para peserta yang dinyatakan memenangkan perlombaan ini dihadiahi merchandise unik dari BOWL. Gyudon the Spot.

BOWL. Gyudon The Spot sendiri adalah sebuah eatery space yang menyediakan berbagai resep masakan Jepang yang dipadukan dengan resep keluarga yang sudah turun-temurun di konsumsi sebagai masakan khas keluarga Sutandi, hingga kini dihidangkan kepada publik menjadi resep yang tidak hanya dinikmati sendiri melainkan dapat menjadi media berbagi keluarga Sutandi.

Pertama kali didirikan pada bulan Juli tahun 2016 oleh 4 bersaudara Sutandi ; David Michael, Edward Nicholas, Edwin Nicholas, dan Richard Jeremy, BOWL. pada awalnya mengusung konsep street food bertemakan monochromatic vintage dalam rangka menyambut event Idul Fitri 1437 H di Waroeng Semawis, Semarang. Setelah vakum selama kurang lebih 1 tahun, resep khas keluarga yang telah berkembang menjadi resep perusahaan, hadir kembali dengan konsep yang lebih freshdi Jln. Banjarsari Selatan 48A, Tembalang, Semarang. Dengan nama yang baru pula, BOWL. Gyudon The Spot.

Konsep baru yang diangkat oleh eatery space berusia 2 minggu ini terinspirasi dari perpaduan antara konsep Café, dimana customer dapat menikmati hidangan dengan nikmat, dengan konsep Co-Working space yang menyediakan suasana kondusif dan inspiratif dimana customer dapat fokus dan berkonsentrasi dengan pekerjaannya, namun tetap merasa nyaman dan menginspirasi, khususnya para pekerja di industri kreatif.

Masakan khas Jepang, Gyudon, menginspirasi keluarga Sutandi karena kelezatannya. Hingga dalam hitungan hari, melalui beberapa percobaan, resep berbahan dasar daging sapi tersebut dapat dipadukan dengan resep keluarga yang sudah digunakan turun-temurun dan akhirnya melahirkan resep Origyudon sebagai menu andalan BOWL. Gyudon The Spot hingga saat ini. Selain Origyudon, BOWL. Gyudon The Spot juga menyediakan berbagai resep ciptaan keluarga lainnya seperti Omuretsu Gyudon, dan Chikin Tomato.

 

 

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

COMMUNDIP X TRIBUN JATENG GOES TO SCHOOL, MENDAPAT ANTUIAS TINGGI DARI PARA PELAJAR SEMARANG

Photo by doc. Commundip

Memperkenalkan dunia Jurnalisme dan Pentingnya budaya membaca bagi generasi muda.


 

LonglifemagzKomunikasi Undip bekerja sama dengan Tribun Jateng telah menyelenggarakan “Commundip X Tribun Jateng Goes To School” bertempat di Kapel Baptis SMA Kristen Terang Bangsa. Acara ini sukses menyita perhatian 210 siswa kelas 10 SMA Kristen Terang Bangsa. Acara dimulai pukul 08.00 hingga pukul 11.00 WIB.

Mengusung tema “Budayakan Membaca Wujudkan Generasi Berkualitas”, pembicara didatangkan langsung dari Tribun Jateng, Abduh Imanulhaq selaku News Online Manager Tribun Jateng. Abduh secara gamblang menjelaskan seluk beluk jurnalistik sekaligus pentingnya membaca bagi generasi muda. Para siswa menunjukkan antusiasme tinggi yang dapat dilihat dari beberapa penanya saat sesi tanya jawab berlangsung.

Salah satu Guru SMAK Terang Bangsa, Siwi, merasa senang dengan adanya acara “Commundip X Tribun Jateng Goes To School” yang memberi pengenalan mengenai dunia jurnalistik dan pentingnya budaya baca. “Tentu senang ada pelatihan seperti ini. Apalagi kami memiliki tabloid sekolah yang terbit rutin. Pengelolanya adalah para siswa dan siswi,” ujar Siwi.

Selain menyampaikan materi, acara ini juga menyuguhkan penampilan dari Komunitas Sahabat Difabel (KSD) Semarang. Suguhan musik dan langgem Jawa dibawakan oleh Zulfikar, Puput, Dara sebagai penyandang disabilitas daksa. Ada pula Ariel, Topo, Andre, sebagai penyandang disabilitas netra yang tak kalah menyumbangkan penampilan menarik.

Antusiasme 210 siswa pun semakin meriah tatkala para musisi penyandang kebutuhan khusus tersebut tampil. “Acaranya keren sekali, dan kita sangat senang teman-teman dari KSD bisa ikut berpartisipasi di acara dengan jumlah peserta sebanyak ini”, ujar Noviana selaku Founder dan Inisiator KSD.

Ketua panitia “Commundip X Tribun Jateng Goes To School”, Irvian Izhar, pun mengaku puas dengan jalannya acara. “Bersyukur banget, acaranya lancar, pembicara bagus, anak-anaknya juga antusias banyak yang nanya, dan temen-temen KSD pun penampilannya keren. Nggak mengecewakan., ujar Irvian.

 

 

 

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

KOBARKAN SEMANGAT BERBUDAYA LEWAT ‘KOMUKINO FEST 2017’

Photo by doc. Komukino Fest

Melestarikan kearifan lokal dengan inovasi pada citarasa kuliner tradisional.

 

Longlifemagz – Teknologi Internet dan Budaya Kekinian menjadi karakter kuat Generasi Millennial yang acap kali dikritik kurang peduli terhadap Budaya Tradisional. Namun anggapan ini tampaknya dipatahkan oleh Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Semarang yang justru menantang diri mereka bergelut dengan Budaya Tradisional untuk dikenalkan secara Kekinian ditengah masyarakat.

Melalui gelaran Festival Komukino, persandingan Modernitas dan Tradisional ini terlihat dari hadirnya Kuliner Fusion yang memadukan citarasa kuliner tradisional diinovasi menjadi kuliner dengan tampilan modern. Sego Pager Khas Kabupaten Purwodadi dan Jadah Khas Kabupaten Rembang misalnya disajikan dengan tampilan Sushi layaknya kuliner Jepang.

Perubahan bentuk kuliner ini semata-mata dilakukan untuk mengenalkan generasi sekarang akan ragam kuliner tradisional yang kadangkala dianggap tidak menarik untuk dinikmati. Bahkan sejumlah kuliner tradisional yang sudah jarang ditemukan pun sengaja dihadirkan agar masyarakat yang belum sempat mengenalnya dapat menikmati originalitas kuliner asli Jawa Tengah. Setidaknya ini terlihat dari keberadaan kuliner Sego Glewo Khas Kota Semarang dan Clorot Khas Kabupaten Purworejo. Tak kurang 42 kuliner yang mewakili 35 kabupaten kota di Jawa Tengah dihadirkan dalam Festival Komukino yang tahun ini memasuki usia ke 6.

Bertempat di Jalan Kepodang dan Gedung Monod Diephuis, masyarakat tidak hanya akan dimanjakan dengan keberadaan Kuliner semata, namun akan diajak mengunjungi tiga kampung yang merepresentasikan Kearifan Lokal. Pengunjung dapat mencoba membuat batik di Kampung Batik; Melihat proses pembuatan Jamu di kampung Jamu serta bermain di Kampung Dolanan yang memfasilitasi pengunjung dengan ragam mainan tempo dulu seperti engklek, enggrang, bakiak dan lain sebagainya.

Ini adalah bentuk implementasi kerja nyata dari tiga mata kuliah, yakni Komunikasi Pemasaran, Management Acara, serta Internal dan Eksternal Public Relation, Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Semarang dalam hal pengenalan, pembelajaran, serta bentuk kepedulian kami akan eksistensi kebudayaan di Indonesia khususnya Jawa Tengah.

Dari digelarnya Festival Komukino yang ke-6 ini, diharapkan bahwa festival kebudayaan ini semoga tak Cuma membawa angin segar bagi perkembangan lini seni dan kebudayaan di Jawa Tengah, tetapi juga bisa menjadi triger bagi anak muda untuk setidaknya mulai memberikan tempat terhadap seni dan kebudayaan Indonesia di hati mereka masing-masing.

 

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

GELARAN AKBAR TAHUNAN WALL OF FADES KEMBALI DUKUNG DENIM LOKAL

 Photo by doc. Wall of Fades
Berburu koleksi denim terbaik di Wall of Fades

 

Longlifemagz – Di tengah serbuan tren street wear yang sangat booming belakangan ini, denim tetap menunjukkan eksistensinya sebagai busana yang terus diminati. Terbukti dengan menjamurnya komunitas pecinta denim di Indonesia. Tak berlebihan rasanya jika menyebut denim sebagai busana abadi dan tak pernah kehilangan pesona. Di tengah arus mode yang terus berganti-ganti, denim tetap saja memiliki tempat sepesial di hati banyak orang.

Acara tahunan Wall Of Fades 2017 baru saja berakhir. Diadakan selama 3 hari (8-10/12) di Kuningan City, acara tahunan yang diselenggarakan oleh INDIGO ini mengusung “In The Making of Denim” sebagai tema besarnya. Untuk kamu yang datang, pasti banyak rangkaian acara Wall Of Fades 2017 yang berkesan di hatimu. Buat kamu yang tidak sempat datang, sayang sekali! Tapi tenang, kamu bisa datang ke acara denim exhibition terbesar se-Asia Tenggara ini tahun depan.

Baca :Wall of Fades 2016 : Evolusi Jeans Sebagai Pakaian Sehari-hari

Sekitar 68 brand yang hadir untuk meramaikan Wall of Fades 2017 antara lain; Sage, Elhaus, Mischief, Jackhammer, Orbit, Warpweft, Voyej, Sixteen Denim Scale, Oldblue, Aye Denim, Elders Company, Kana, dan Hijack. Selain itu, tercatat sebanyak lebih dari 25.000 pengunjung telah meramaikan Wall of Fades tahun ini. Hal ini menunjukkan pasar local brand tanah air yang kian bergairah di industri fashion. 

 

 

Si awam yang mau berpikir sampai ke awan.

MEMAHAI SPONSOR MELALUI SHARING SESSION #SabtuBersamaCircle

Photo by doc. #SabtuBersamaCircle

Strategi agar event yang dibuat dapat menarik bagi pihak sponsor.

 

Longlifemagz – Circle.cocoworking space sebagai salah satu ruang kerja bersama di Semarang, kembali menyelenggarakan acara sharing session yang dibuka untuk umum bertajuk #SabtuBersamaCircle.

Dengan tema “Make your event sponsor-able” sharing session ini menjawab permasalahan yang ada dikalangan mahasiswa, dimana sering kali mahasiswa masih menemukan kesulitan mendapatkan sponsor dalam membuat suatu event.

Bertempat di Circle.co, Jalan Ruko Imam Suprapto No.5, Bulusan, Semarang, #SabtuBersamaCircle menghadirkan pembicara yang berkompeten dalam bidang analisis project dan event, serta pemegang keputusan kerjasama dari pihak perusahaan, yaitu Incircle.id (Project Analyst) dan Taryoko (Manager Marketing and Promotion Telkom Indonesia Regional 4, Jateng – DIY).

Dalam sharing session ini, peserta mendapatkan pengetahuan tentang bagaimana membuat strategi agar event yang dibuat dapat menarik untuk pihak sponsor agar pada akhirnya mereka mendapatkan dukungan atau pendanaan seperti yang mereka harapkan. Peserta juga diberikan kesempatan untuk bertanya kepada kedua pembicara mengenai permasalahan mencari pendukung acara yang mereka temui di lapangan.

Selain sesi pemberian materi beserta tanya jawab yang akan dibawakan oleh pembicara, pada #SabtuBersamaCircle sendiri akan ada sesi “Roleplaying”dimana nantinya seluruh peserta diajak untuk bermain peran dengan pembicara melalui penyusunan strategi dalam membuat acara yang menarik bagi pihak sponsor dan melakukan penawaran kepada pihak sponsor.

 

 

 

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

FIND US ON

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.

 

Pin It on Pinterest