1


RAISA PECAHKAN SUASANA SCOOTER 2018

Raisa on stage SCOOTER 2018

Gegap gempita pesta tropikal akhir pekan.


SCOOTER “Smapa Cool Termination” 2018 acara tahunan yang diprakarsai siswa-siswi SMA 4 Semarang, kembali diselenggarakan dengan balutan yang berbeda. Hajatan tahunan ini selalu menghadirkan bintang tamu yang sedang trend pada masanya, SCOOTER mengulang kebiasaannya setiap tahunnya. Seperti ditahun 2016 mengundang Gugun Blues Shelter dan Sandhy Sandoro , ditahun 2017 Dhyo How dan Tulus didaulat sebagai guest stars.

SCOOTER bisa dikategorikan sebagai salah satu penyelenggara pensi terbaik di Semarang. Dari tahun ke tahun selalu menyuguhkan konsep baru, menyuguhkan sesuatu yang unik, dan berbeda dari pensi lainnya. Mengangkat tema “Trentxation”, SCOOTER menyuguhkan balutan konten lekat akan nuansa pesta tropical yang dimeriahkan melalui special performance dari Raddest, Reality Club hingga Raisa.

Hari yang cerah menyelemuti Lapangan Sepak Bola SMA 4 Semarang, (15/9/18) pekan kemarin. Buah dukungan semesta menyambut kemeriahan SCOOTER tahun ini. Ada yang menarik dari perlehatan Scooter tahun ini. Sebelum penonton sampai stage utama, mereka harus melalui spot area dengan berbagai dekorasi ciamik yang mendukung kemeriahan hajatan ini..

Setelah memasuki gate, penonton akan berjalan melewati semacam labirin yang sudah dihiasi sedemikian rupa. Dengan sorotan lighting ditambah ornamen dedaunan warna warni dilangit labirin mengesankan seolah penonton dibawa imagi-nya berada pada sebuah pesta tropical yang sangat menawan. Selanjutnya flow menuju kearah spot yang pastinya instagramable. Hingga akhirnya menuju kearah spot food and bevagre dan berlabuh di main stage.

Photo doc : Henggal Wismana

Dengan melihat susunan line-up pengisi acara SCOOTER tahun  ini, maka tak heran penonton pun terlihat sudah memenuhi venue. Dimulai sekitar pukul 19.30 WIB, acara dimulai dengan suguhan drama musical bertajuk “Stafors La Mostra” karya anak SMA 4 Semarang. Diselingi oleh performance paduan suara, pencak silat, traditional dance hingga modern dance, membuat sorak sorai penonton tak terhindarkan.

Dilanjutkan oleh performance dari Raddest yang tampil dengan baik dan provokatif malam itu. Dengan lantunkan Electronic Dance Music (EDM) yang disuguhkan membuat penonton berdansa menikmati malam. Selanjutnya Reality Club tunjuk ditunjuk untuk memeriahkan SCOOTER 2018. Unit indie pop asal Jakarta bernama ini menawarkan sesuatu yang berbeda. Melalui lagu-lagu yang sederhana, mereka meramu musik yang tidak hanya enak, tapi juga masuk untuk didengarkan oleh siapa saja. 

Photo doc : Henggal Wismana

Photo doc : Henggal Wismana

Raisa menjadi closing performance dan  puncak acara dari SCOOTER 2018. Romantic Atmospehere disuguhkan oleh Raisa dengan dinyalakannya flashlight handphone dari para penonton saat menyanyikan lagu ‘Arti Menunggu’. Malam yang cerah semalam, membuat lapangan terasa seperti cermin dari langit yang cerah dan penuh bintang, Raisa berhasil menutup SCOOTER 2018 dengan spektakuler yang tentunya membuat para penonton tidak merasa rugi jauh-jauh datang dengan lagu ‘Could It be”’.

Lengkap sudah pesta tropikal yang diusung oleh SCOOTER 2018 berjalan malam itu. Keriangan nampak masih melekat pada wajah setiap penonton ketika meninggalkan venue.

Photo doc : Henggal Wismana

Photo doc : Henggal Wismana

 

 

Si awam yang mau berpikir sampai ke awan.

ALL TIME LOW AKHIRI FESTIVAL MUSIK HODGEPODGE SUPERFEST 2018

Doc : Longlifemagz

All Time Low menguasai panggung utama Supermusic Stage dan membuka penampilannya dengan lagu “Damned If I Do Ya (Damned If I Don’t)“.


LonglifemagzHodgepodge Superfest 2018 resmi berakhir. Festival multi-genre yang di selenggarakan selama 2 hari dari 1 sampai 2 September 2018 diakhiri oleh penampilan grup musik asal Amerka, All Time Low. Selain All Time Low, hari terakhir Hodgepodge Superfest 2018 dimeriahkan oleh Gallant, Lil Yachty, Cloud Nothings, The Hunna, Tayla Parx, Park Hotel, Kid Francescoli, The SIGIT, The Brandals, Rendy Pandugo, Endah N Rhesa Extended, Tomorrow People Ensemble x Eka Annash, Pee Wee Gaskins, Onar, SoftAnimal, dan M.A.t.S.

BACA : RAISA PECAHKAN SUASANA SCOOTER 2018

Di sore hari, Tomorrow People Ensemble x Eka Annash menampilkan lagu-lagu David Bowie dan mempersembahkan lagu Heroes untuk para atlet di Asian Games.Walaupun sempat terhentikan karena cuaca, penampilan Gallant di Supermusic Stage tetap memukau dengan vokalnya yang kuat. Bahkan, saat menyanyikan lagu andalannya Weight in Gold, Gallant sempat turun panggung dan bersalaman dengan fansnya.Tidak basa basi, selesainya Gallant tampil, Rendy Pandugo menaiki panggung CBN Stage dan pengunjung pun memenuhi area panggung tersebut dan bernyanyi bersama Rendy.

Menjelang pukul 11 malam dimana grup musik asal Amerika, All Time Low dijadwalkan terdengar lagu Indonesia Raya dan pengunjung diminta untuk menyanyikan lagu kebangsaan negara Indonesia sambil menunggu All Time Low menaiki panggung. Tidak lama kemudian, All Time Low menguasai panggung utama Supermusic Stage dan membuka penampilannya dengan lagu “Damned If I Do Ya (Damned If I Don’t)“. Alex Gaskarth, vokalis All Time Low cukup aktif berbicara dengan penggemarnya dari atas panggung. Karena sudah 5 tahun lamanya All Time Low terakhir ke Jakarta, Alex bertanya kepada para penggemarnya apa yang telah mereka lakukan selama 5 tahun tersebut.

Menjelang akhir penampilannya, All Time Low sempat mengibuli penggemarnya dengan keluar dari panggung diwaktu yang cukup lama. Hustlers, sebutan untuk para penggemar All Time Low memanggil mereka untuk kembali ke atas panggung dengan menyanyikan lagu andalan mereka, “Dear Maria, Count Me In“. Tidak lama kemudian, Alex Gaskarth, Jack Barakat, Zack Merrick dan Rian Dawson kembali ke atas panggung. Saat menampilkan lagu terakhir, sang gitaris, Jack Barakat turun dari panggung dan membuat penggemar mereka histeris.

Doc : Longlifemagz

Hodgepodge Superfest 2018 resmi berakhir, festival multi-genre tahun pertama ini ternyata dikunjungi oleh beragam orang mulai dari warga lokal sampai warga asing. Java Festival Production akan kembali menghibur masyarakat pada 1 – 3 Maret 2019 untuk merayakan 15 tahun Jakarta International Java Jazz 2018.

 

 

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

ELEPHANT KIND SAMPAI THE LIBERTINES MERIAHKAN HODGEPODGE SUPERFEST HARI PERTAMA

Doc : Hodgepodge Superfestival (Photo by Luqman Afif)

The Libertines, August Alsina, Lemaitre, Day Wave, Sundara Karma, Vancouver Sleep Clinic, sampai Swim Deep memeriah Hodgepodge Superfest.


LonglifemagzHodgepodge Superfest, festival multi-genre terbaru dari Java Festival Production yang berkolaborasi dengan Super Music dimulai hari Sabtu, 1 September 2018 di Allianz Ecopark Ancol. Hari pertama Hodgepodge Superfest dimeriahkan oleh berbagai artis mulai dari artis indonesia sampai artis internasional antara lain The Libertines, August Alsina, Lemaitre, Day Wave, Sundara Karma, Vancouver Sleep Clinic, Swim Deep, Marteen, Jess Connelly, Didirri, Soundwave, The Trees and The Wild, Barefood, Elephant Kind, 70sOC dan Gho$$.

Pengunjung Hodgepodge Superfest hari pertama ternyata sangat beragam. Tidak hanya penduduk lokal tetapi, Hodgepodge Superfest juga dipenuhi oleh wisatawan asing. Generasi muda yang hadir pun datang dengan teman-teman mereka dengan pakaian yang asikdan kekinian. Art installations yang menghiasi area Hodgepodge Superfest 2018 menjadispot untuk pengunjung mengambil foto dan mengabadikan momen-momen tersebut.

Antusiasme yang terlihat di hari pertama tidak hanya untuk The Libertines, tetapi juga terlihat untuk grup musik asal Inggris lainnya yaitu Sundara Karma, Swim Deep artis asal Amerikaya itu Day Wave dan artis-artis Indonesia seperti Elephant Kind dan Soundwave. Walaupun hujan sempat mengguyur Allianz EcoparkAncol, tetapipengunjungmasihtetapsemangatmenyaksikanartis-artisfavoritnya.

Doc : Luqman Afif

Hari Minggu, 2 September 2018, Hodgepodge Superfest 2018 akan dimeriahkan oleh All Time Low, Gallant, Lil Yachty, Cloud Nothings, The Hunna, TaylaParx, Park Hotel, Kid Francescoli, The SIGIT, The Brandals, RendyPandugo, Endah N Rhesa Extended, Tomorrow People Ensemble x EkaAnnash, Pee Wee Gaskins, Onar, SoftAnimal, dan M.A.t.S.

Doc : Luqman Afif

Doc : Luqman Afif

Tiket Hodgepodge Superfest 2018 dapat diperoleh melalui website resmi www.hodgepodgefest.com dan on the spot di venue dengan hargaRp 800,000 untuk tiketDaily Pass danRp 1,450,000 untuk tiket 2 Day Pass.

 

 

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

Synchronize Festival, Pesta Musik Indie Yang Selalu Dinanti

Crowd penonton Synchronize Festival (Photo by doc. Dyandra.com)

Tanggal 5-7 Oktober yang akan datang, akan berlangsung “pesta musik indie” Indonesia. Ya, Synchronize Festival 2018 akan segera datang tidak lama lagi.


Longlifemagz – Synchronize Festival yang merupakan festival musik indie multi genre terbesar di Indonesia ini akan kembali hadir, diselenggarakan selama tiga hari dengan jumlah penampil yang bisa dibilang “diluar akal sehat”. Sederet musisi dan band-band dengan total 114 penampil akan ikut serta memeriahkan acara ini, macam Bugerkill, Danilla, God Bless, Ras Muhammad, Sheilla On 7, Nasida Ria, Tiga Pagi, White Shoes and The Couple Company, Superman Is Dead, sampai Rhoma Irama.

Acara yang diselenggarakan atas kolaborasi hebat Dyandra Promosindo dengan Demajors Record ini akan diselenggarakan di JIEXPO Gambir Kemayoran. Tiket yang ditawarkan pun terbilang cukup murah, 3 day pass di banderol dengan harga 400 ribuan, tiket daily reguler seharga 250 ribu , dan 170 ribu untuk daily early entry. Nominal yang cukup murah jika melihat deretan penampil yang akan memeriahkan acara tersebut.

Synchronize fest sendiri merupakan acara tahunan yang pada setiap gelarannya akan selalu menghadirkan artis artis terfavorit dan juga terbaik tanah air. Bukan hanya lintas genre musik, synchronize fest juga akan menampilkan artis-artis lintas generasi, mulai dari era 70-an, 80-an, 90-an hingga artis-artis pendatang baru yang mulai menjajaki industri musik Indonesia.

Akan ada beberapa stage yang disediakan nantinya, tetapi yang menarik sejak beberapa tahun terakhir adalah adanya gigs stage, dimana di gigs stage ini akan di konsep seolah ada di situasi panggung cafe’ atau bar kecil tempat awal artis artis tersebut memulai karir. Konsep tersebutlah yang akhirnya membuat rasa intim baik antar penonton dengan penonton juga penonton dengan artis akan lebih kental.

Walaupun acara belum dimulai, pun sudah terlihat meriah, jadi tak ada alasan untuk tak datang ke Synchronize Festival tahun ini. Untuk mendapatkan tiketnya Synchronize Fest menyediakannya di portal online seperti bukalapak, caranya adalah buka portal buka lapak melalui browser atau aplikasinya di smartphone, kemudian pilih menu e-voucher & tiket event, kemudian pilih synchronize fest, pilih day pass yang diinginkan, klik lanjut, beli dan selesaikan pembayaran. Have fun and enjoy the show! See you there!

 

 

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

Jazz Melena di Daerah Istimewa

IMG-20180821-WA0010

Doc : Fadhil Umar

Kali kedua Boyzone sambangi Indonesia


Minggu 19 agustus 2018 menjadi kali keduanya grup vokal legendaris Boyzone kembali menjajaki panggung di Indonesia, 21 tahun yang lalu tepatnya pada bulan September 1997 grup vokal asal Irlandia ini pernah menjajal panggung Indonesia pada gelaran “A Different Beat Asian Tour”, bertempat di depan megahnya warisan budaya dunia yaitu Candi Prambanan Boyzone mengajak para penonton untuk bernostalgia ke-era 90an dengan menyanyikan lagu lagu hits mereka sekaligus menutup hangatnya gelaran “prambanan jazz festival 4”

Gelaran ke-4 yang di organisir oleh “Rajawali Indonesia Communication” ini menjadi pesta tahunan bukan hanya bagi para penikmat musik jazz saja, melainkan untuk semua kalangan, buktinya pada gelaran kali ini prambanan jazz festival turut serta menampilkan musisi musisi lintas genre, mulai dari pop, hip-hop, rock, hingga folk, bahkan pada gelaan ini juga menjadi panggung reuni band legendaris Indonesia yaitu dewa 19, berlatar belakang megahnya candi prambanan musisi kawakan Indonesia itu memainkan lagu lagu legendaris mereka.

BACA : SYNCHRONIZE FESTIVAL, PESTA MUSIK INDIE YANG SELALU DINANTI

Prambanan jazz festival ini diadakan selama 3 hari, yaitu tanggal 17, 18, dan 19 Agustus 2018, menampilkan musisi-musisi nasional bahkan internasional, dengan total 27 penampil Prambanan Jazz Festival sukses membuat para pengunjung terlena dengan penampilan mereka, selama 3 hari itu pula para pengunjung dimanjakan dengan cantiknya Candi Prambanan, juga sedapnya makanan makanan khas Yogyakarta pada bagian “pasar kangen”. Ya, pada gelaran kali ini rajawali Indonesia communication sengaja menambahkan sebuah “wahana” yang berisikan makanan makanan khas Yogyakarta dan juga makanan makanan “jaman dulu” yang memanjakan lidah para pengunjung dengan harga yang cukup murah.

027524200_1534587758-Marcell_di_Prambanan_Jazz_foto_by_Bambang_E_Ros__1_

Doc : : Liputan6

Prambanan Jazz Festival kali ini juga menjadi ajang kolaborasi para musisi musisi contohnya pada hari pertama ada dedengkot instrumental jazz Indonesia yang berkolaborasi dengan Sheila majid, Marcell, dan Rio febrian, kemudian ada kolaborasi unik dengan dua grup vocal lintas generasi yaitu ada kahitna dan RAN yang menamai kolaborasi mereka dengan nama KahitRAN. Pada hari kedua juga tak kalah menarik, dimana ada kolaborasi ayah dan anak yaitu Yovie Widianto dan Arsy Widianto yang juga sekaligus menggandeng jebolan idol Indonesia asal Yogyakarta yaitu Brisia Jodie, ada juga kolaborasi antara Tompi yang menggaet musisi jazz muda Nadya Fatira, kemudian keyboardist kenamaan Indonesia yaitu Indra Lesmana yang berkolaborasi dengan Eva Celia, kemudian hari kedua ditutup dengan legenda jazz dunia asal Kanada yaitu Diana Krall, pianis sekaligus penyanyi jazz ini menjadi salah satu bintang tamu utama dalam gelaran Prambanan Jazz festival tahun ini.

BACA : RAISA PECAHKAN SUASANA SCOOTER 2018

Hari ketiga yang seolah menjadi pamungkas gelaran ini terlaksana dengan sangat meriah, diawali dengan penampilan band MLD Jazz Project di panggung Hanoman Stage, band bentukan program audisi MLD Jazz Project ini menampilkan musik musik dengan swing yang sangat terasa dan juga dengan jeritan saxophone yang begitu indah, membuat teriknya matahari seolah tak terasa.

Dilanjutkan dengan penampilan band pop Jikustik yang membuat para pengunjung ikut bergerak mengikuti irama musik musik Jikustik yang hits, bersamaan dengan itu di Rorojongrang stage juga tak kalah seru dimana ada penampilan dari Sierra  Soetedjo. Pelantun lagu “The Only One” ini menampilkan lagu lagunya dengan suara yang sangat indah.

Menjelang tenggelamnya matahari band yang sedang memproses album baru, Barasuara menghantarkan penonton menikmati indahnya sore hari di Prambanan, dengan latar belakang sunset prambanan yang begitu indah Barasuara seolah mendapatkan energi lebih untuk membawakan lagu lagu mereka, bahkan beberapa materi lagu pada album mereka yang akan datang juga turut serta dibawakan, bersamaan dengan itu pula di Rorojongrang stage ada penampilan kolaborasi dari Idang Rasjidi yang berkolaborasi dengan Syaharani.

BACA :  ALL TIME LOW AKHIRI FESTIVAL MUSIK HODGEPODGE SUPERFEST 2018

Menjelang malam hari duo folk tuan rumah yaitu Stars and Rabbit menaiki panggung, dengan nada vokal suara tinggi yang khas, Stars and Rabbit sukses membuat para penonton merinding dengan lengkingan lengkingan khas nya, dengan format fullband dan juga ditambahkan dengan iringan iringan gesekan biola dan cello membuat stars and rabbit sangat berkelas, bersamaan dengan itu di Rorojongrang Stage juga ada penampilan dari band kawakan Indonesia yaitu GIGI, dengan beberapa gubahan lagunya yang diarransemen menjadi “sedikit” lebih jazzy, GIGI sukses membuat penonton seolah bingung, karena pada saat yang bersamaan band idola mereka tampil dalam panggung yang berbeda, tak jarang terlihat beberapa orang berlarian berpindah lokasi agar tetap dapat menonton kedua band favoritnya tersebut.

Seusai lagu “man upon the hill” giliran solois jazz pop Indonesia yaitu Glenn fredly menguasai Hanoman Stage, solois yang bergabung dalam Trio Lestari ini juga sukses membuat para penonton berteriak kegirangan.

Seusai itu giliran solois pop indonesia Tulus menaiki panggung, dengan lagu lagunya yang hits tulus sukses membuat penonton hanyut dalam alunan lagu dan turut bernyanyi bersama, sebut saja lagu lagu tulus seperti “gajah”, “monokrom”, “sepatu” dan lain lain yang tak lagi asing di telinga para penikmat musik indonesia.

Bersamaan dengan berpamitanya Tulus dari panggung ternyata saudah terlihat antrian yang mengular menuju Rorojongrang stage dimana Special show akan dilaksanakan.

DYbNy14VAI

Doc : Medcom.Id

Special show dibuka dengan penampilan reuni dari band kawakan indonesia yaitu Dewa 19 dengan vokalisnya yaitu Ari lasso dengan membawakan lagu “restoe boemi”, dilanjutkan dengan deretan lagu hits mereka seperti “cukup siti nurbaya”, “satu hati”, “kangen”, “kirana”, dan “separuh nafas”. dalam penampilannya

Dewa 19 juga kedatangan “bintang tamu” lain yaitu sang anak dari Ahmad Dhani yaitu Al ghazali, dalam kesempatan itu Al ghazali ingin berkolaborasi dengan Dewa 19 dengan memegang instrument drum, jadilah mereka berkolaborasi dengan “roman picisan” sebagai lagunya.

BACA : 180 MENIT BERSAMA EFEK RUMAH KACA DI COMFEST 2018

Seusai penampilan ciamik dari Dewa 19, sang bintang tamu terakhir malam itu mendapat giliran manaiki panggung, grup vokal Boyzone sebagai pamungkas Prambanan Jazz Festival ini merupakan penampilan yang sangat special.

Bagaimana tidak, selain ini adalah kedatangan mereka setelah 21 tahun yang lalu mereka menyambangi indonesia dalam rangkaian tour asia mereka, aini juga merupakan salah satu penampilan terakhir mereka sebelum mereka bubar tahun depan.

Tampil dengan personil lengkap Boyzone membawakan lagu lagu mereka mereka yang hits pada era 90an dengan sangat sempurna, sebut saja “words”, dan “love me for a reason”. Grup vokal yang sedang proses pembuatan album baru sekaligus pamungkas mereka juga membawakan single mereka yang akan ada pada album tersebut, lagu yang berjudul “because” tersebut ternyata merupakan ciptaan salah satu penguasa billboard yaitu Ed Sheeran.

Hingga seusai mereka memberikan ucapan tanda pamit yang membuat para penonton bersedih ternyata mereka sengaja membuat sebuah kejutan, dengan memberikan 3 lagu tambahan sebelum akhirnya mereka benar benar menuruni panggung Rorojongrang Stage, bersamaan dengan itu para pengunjung terlihat mulai meninggalkan venue.

Ada satu hal yang menarik pada gelaran Prambanan Jazz Festival kali ini, yaitu launching buku “100 KONSER MUSIK DI INDONESIA” buku karya “Anas Syahrul Alimi” yang sekaligus menjadi CEO Rajawali Indonesia Communication ini berisi review konser konser musik yang ada di indonesia, mulai dari 1929 sampai dengan konser musik yang akan datang hingga tahun 2019.

berkolaborasi dengan Muhidin M Dahlan yaitu pendiri Radiobuku  dan Warung arsip buku ini diluncurkan bersamaan dengan event Prambanan Jazz Festival tersebut, dan uniknya buku ini seluruh pendapatannya akan di sumbangkan pada bencana gempa bumi Lombok, review buku tersebut akan ada pada artikel lain.

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

180 menit Bersama Efek Rumah Kaca di Comfest 2018

Efek Rumah Kaca on stage Comfest 2018

Mulai dari album Sinestesia, Kamar Gelap, sampai Efek Rumah Kaca mereka suguhkan ke penonton.


LonglifemagzBaru pukul 18.00 Wib ribuan penonton sudah memadati Hall Student UIN Syarif Hidayahtullah, Jakarta (13/7) pekan lalu. Banyak diantaranya tersebar di spot-spot sekitaran Hall, terdapat pula yang sedang duduk di pelataran samping hall, tempat foodtruck berjajar. Selebihnya mereka semua sama terlihat menyibukan diri dengan segala rutinitas. Sembari menunggu konser tunggal Efek Rumah Kaca di Comfest 2018, sebuah hajatan Hima Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Syarif Hidayahtullah, Jakarta.

Konser tunggal Efek Rumah Kaca kali ini sekaligus menyambut kedatangan Cholil dan Irma (voc dan Backing Vocal) kembali ke Indonesia. “Acara Comfest untuk tahun ini memang bertepatan dengan #Turkemarau2018 nya Efek Rumah Kaca, dan ternyata antusias penontonnya sangat baik.”, ujar Hilman salah seorang panitia yang sesekali bercerita tentang acaranya.

BACA : RIEN JAMAIN, BERBICARA TENTANG PANGGUNG PERTAMA, PERJALANAN BERMUSIKNYA, PERAN PEREMPUAN, SAMPAI KESAN HUMORIS YANG MELEKAT

Hilman mengungkapkan, “Nantinya dalam konser tersebut mereka akan memainkan set panjang”, seraya tersenyum dan tak lupa sesekali ia menghisap rokok yang ada ditangannya.

Terdengar acara sudah di mulai, suara sayup-sayup dari dalam hall kian keras memanggil penonton untuk masuk kedalam. Mengetahui itu penonton kian bergegas memasuki hall. Namun sayang harus sedikit menunggu, antrian ternyata sudah terlanjur panjang.

Untuk mensiasati alur flow pengunjung, terdapat spot merchandise official Efek Rumah Kaca dan Photo booth disamping gate. Sesekali penonton melihat, membeli merchandise yang disediakan, dan  berswafoto di depan mural karakter The Popo yang sedang sinis dengan tagline “Konser Terus Sampai Mampus”.

Doc : Longlife

Sekitar pukul delapan MC sudah mengajak penonton bersorak menyebut nama Efek Rumah Kaca, selayaknya ritual yang banyak dilakukan memanggil rockstar untuk on stage. Dan benar, Akbar, Poppie, Cholil (dan personil Efek Rumah Kaca yang lain) sudah tampak diatas panggung lengkap dengan sambutan gegap gempita dari penonton.

Tanpa basa-basi, segmen Merah yang terdiri dari lagu “Ilmu Politik”, “Lara dimana-mana”, dan “Ada-ada saja” mereka luncurkan secara berurutan. Selesainya Cholil menyapa penonton dan menjelaskan perihal maksud dari segmen merah, ia berujar ”Disituasi (politik yang klinis) kaya gini, kita tuh malah ga terpanggil, kaya tragis banget gitu, kalo kita ga kritis dan ngelawan itu”.

Segmen Biru, Jingga, dan Hijau mereka mainkan setelahnya, sama halnya dengan segmen Merah, mereka kembali menjelaskan maksud dari kumpulan lagu tersebut. Masuk ke segmen Putih, tempo lebih menurun. Lagu yang sarat akan kematian dan kehidupan, mereka lagukan dengan makna lagu yang merasuk.

Doc : Longlife

Diperbantui dengan permainan lighthing yang tematik sesuai segmen lagu, memberikan penghayatan yang lebih. Sing along dengan penuh hayat tak terluapkan, diantara penonton bahkan memejamkan mati dan menggerakan badannya mengikuti alunan nada. Hingga berlanjut segmen kuning dilantunkan, buah tanda ditutupnya set bagian pertama, album sinestesia.

Rehat 15 menit, pertunjukan kembali dilanjutkan. ”Tubuhmu Membiru… Tragis” , ”Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa”, dan “Kamar Gelap”, didapuk sebagai set pembuka, suguhkan album Kamar Gelap.

Selangnya “Bukan Lawan Jenis”, “Menjadi Indonesia”, dan “Laki-laki Pemalu” dimainkan secara bergilir, yang disambut dengan dansa-dansi kecil oleh penonton. Masuk lagu “Di Udara”, artmosphere meluap tak terbendung. Crowd surfing terjadi beberakali, tepat di depan panggung seorang penonton juga memakai topeng Munir (aktivis yang dibunuh dengan racun didalam pesawat) menaiki punggung yang lain, seraya mengepalkan tangan dan bernyanyi “tapi aku tak pernah mati, tak akan terhenti.”.

“Jalang” , “Seperti Rahim Ibu”, dan “Merdeka”  yang dimainkan selanjutnya. Tidak henti-hentinya membuat penonton mengepalkan tangan, sekaligus sing along meramaikan part vocal. “Balerina” dan “Cinta Melulu” diperdengarkan kemudian, membuat penonton kembali menari dan menggila. Sesekali Irma dan Natasha Abigail jadi kordinator tarian bak acara pagi, penonton di sisi kiri stage mangikuti gerakannya dengan selaras.

BACA : ROCKET ROCKERS, BERCERITA TENTANG ALBUM BARUNYA

Tidak terasa waktu hampir menunjukan pukul 23.00 Wib, menandakan acara akan berakhir. Dipilih “Desember” dan “Sebelah Mata” sebagai lagu penutup. Penonton tidak menyia-nyiakan moment terkahir itu. Hall bergema dengan suara penonton yang bernyanyi dengan kekuatan terakhir, walau sudah tiga jam bernyanyi, mereka memilih untuk tidak perduli.

Memang penonton malam itu, merupakan salah satu penonton yang paling atraktif yang pernah saya temui selama konser Efek Rumah Kaca berlangsung. Mereka bernyanyi, menari, moshing sampai surfing saat acara berlangsung, sesekali juga terjadi interaksi dialog antara penonton menimpali obrolan Cholil diatas stage.

Hingga berakhirnya lagu “Sebelah Mata”, penonton masih tetap stay didepan stage, seraya berujar we want more tanda meminta lagu tambahan. Hingga selesainya lagu terakhir, permintaan itu tidak terwujud dan masih saja tengiang. Semoga tahun berikutnya atau dilain kesempatan dapat dikabulkan. Terimakasih Efek Rumah Kaca untuk 180 menit quality time-nya.

Doc : Longlife

 

 

 

Selain project serabutan, mencoba peruntungan pula sebagai penulis lepas, buruh event, dan usaha kecil clothing.

FIND US ON

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.

 

Pin It on Pinterest