1


180 menit Bersama Efek Rumah Kaca di Comfest 2018

Efek Rumah Kaca on stage Comfest 2018

Mulai dari album Sinestesia, Kamar Gelap, sampai Efek Rumah Kaca mereka suguhkan ke penonton.

 

Longlifemagz – Baru pukul 18.00 Wib ribuan penonton sudah memadati Hall Student UIN Syarif Hidayahtullah, Jakarta (13/7) pekan lalu. Banyak diantaranya tersebar di spot-spot sekitaran Hall, terdapat pula yang sedang duduk di pelataran samping hall, tempat foodtruck berjajar. Selebihnya mereka semua sama terlihat menyibukan diri dengan segala rutinitas. Sembari menunggu konser tunggal Efek Rumah Kaca di Comfest 2018, sebuah hajatan Hima Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Syarif Hidayahtullah, Jakarta.

Konser tunggal Efek Rumah Kaca kali ini sekaligus menyambut kedatangan Cholil dan Irma (voc dan Backing Vocal) kembali ke Indonesia. “Acara Comfest untuk tahun ini memang bertepatan dengan #Turkemarau2018 nya Efek Rumah Kaca, dan ternyata antusias penontonnya sangat baik.”, ujar Hilman salah seorang panitia yang sesekali bercerita tentang acaranya.

Hilman mengungkapkan, “Nantinya dalam konser tersebut mereka akan memainkan set panjang”, seraya tersenyum dan tak lupa sesekali ia menghisap rokok yang ada ditangannya.

Terdengar acara sudah di mulai, suara sayup-sayup dari dalam hall kian keras memanggil penonton untuk masuk kedalam. Mengetahui itu penonton kian bergegas memasuki hall. Namun sayang harus sedikit menunggu, antrian ternyata sudah terlanjur panjang.

Untuk mensiasati alur flow pengunjung, terdapat spot merchandise official Efek Rumah Kaca dan Photo booth disamping gate. Sesekali penonton melihat, membeli merchandise yang disediakan, dan  berswafoto di depan mural karakter The Popo yang sedang sinis dengan tagline “Konser Terus Sampai Mampus”.

Sekitar pukul delapan MC sudah mengajak penonton bersorak menyebut nama Efek Rumah Kaca, selayaknya ritual yang banyak dilakukan memanggil rockstar untuk on stage. Dan benar, Akbar, Poppie, Cholil (dan personil Efek Rumah Kaca yang lain) sudah tampak diatas panggung lengkap dengan sambutan gegap gempita dari penonton.

Tanpa basa-basi, segmen Merah yang terdiri dari lagu “Ilmu Politik”, “Lara dimana-mana”, dan “Ada-ada saja” mereka luncurkan secara berurutan. Selesainya Cholil menyapa penonton dan menjelaskan perihal maksud dari segmen merah, ia berujar ”Disituasi (politik yang klinis) kaya gini, kita tuh malah ga terpanggil, kaya tragis banget gitu, kalo kita ga kritis dan ngelawan itu”.

Segmen Biru, Jingga, dan Hijau mereka mainkan setelahnya, sama halnya dengan segmen Merah, mereka kembali menjelaskan maksud dari kumpulan lagu tersebut. Masuk ke segmen Putih, tempo lebih menurun. Lagu yang sarat akan kematian dan kehidupan, mereka lagukan dengan makna lagu yang merasuk.

Diperbantui dengan permainan lighthing yang tematik sesuai segmen lagu, memberikan penghayatan yang lebih. Sing along dengan penuh hayat tak terluapkan, diantara penonton bahkan memejamkan mati dan menggerakan badannya mengikuti alunan nada. Hingga berlanjut segmen kuning dilantunkan, buah tanda ditutupnya set bagian pertama, album sinestesia.

Rehat 15 menit, pertunjukan kembali dilanjutkan. ”Tubuhmu Membiru… Tragis” , ”Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa”, dan “Kamar Gelap”, didapuk sebagai set pembuka, suguhkan album Kamar Gelap.

Selangnya “Bukan Lawan Jenis”, “Menjadi Indonesia”, dan “Laki-laki Pemalu” dimainkan secara bergilir, yang disambut dengan dansa-dansi kecil oleh penonton. Masuk lagu “Di Udara”, artmosphere meluap tak terbendung. Crowd surfing terjadi beberakali, tepat di depan panggung seorang penonton juga memakai topeng Munir (aktivis yang dibunuh dengan racun didalam pesawat) menaiki punggung yang lain, seraya mengepalkan tangan dan bernyanyi “tapi aku tak pernah mati, tak akan terhenti.”.

“Jalang” , “Seperti Rahim Ibu”, dan “Merdeka”  yang dimainkan selanjutnya. Tidak henti-hentinya membuat penonton mengepalkan tangan, sekaligus sing along meramaikan part vocal. “Balerina” dan “Cinta Melulu” diperdengarkan kemudian, membuat penonton kembali menari dan menggila. Sesekali Irma dan Natasha Abigail jadi kordinator tarian bak acara pagi, penonton di sisi kiri stage mangikuti gerakannya dengan selaras.

Tidak terasa waktu hampir menunjukan pukul 23.00 Wib, menandakan acara akan berakhir. Dipilih “Desember” dan “Sebelah Mata” sebagai lagu penutup. Penonton tidak menyia-nyiakan moment terkahir itu. Hall bergema dengan suara penonton yang bernyanyi dengan kekuatan terakhir, walau sudah tiga jam bernyanyi, mereka memilih untuk tidak perduli.

Memang penonton malam itu, merupakan salah satu penonton yang paling atraktif yang pernah saya temui selama konser Efek Rumah Kaca berlangsung. Mereka bernyanyi, menari, moshing sampai surfing saat acara berlangsung, sesekali juga terjadi interaksi dialog antara penonton menimpali obrolan Cholil diatas stage.

Hingga berakhirnya lagu “Sebelah Mata”, penonton masih tetap stay didepan stage, seraya berujar we want more tanda meminta lagu tambahan. Hingga selesainya lagu terakhir, permintaan itu tidak terwujud dan masih saja tengiang. Semoga tahun berikutnya atau dilain kesempatan dapat dikabulkan. Terimakasih Efek Rumah Kaca untuk 180 menit quality time-nya.

 

 

 

Selain project serabutan, mencoba peruntungan pula sebagai penulis lepas, buruh event, dan usaha kecil clothing.

BLABA WOEDA, KEIKHLASAN DALAM BERKARYA

Photo doc Blaba Woeda

Mahasiswa Prodi Seni Rupa (2015) Universitas Negeri Semarang (Unnes) berhasil melaksanakan pameran yang bertajuk Blaba Woeda.

 

Longlifemagz – Sebanyak 29 mahasiswa Seni Rupa memerkan karya – karya mereka di Gedung Kesenian Ambarawa, Jl. Mgr. Soegiyopranoto dalam tajuk Blaba Woeda. Dengan semangat  kebersamaan pameran Blaba Woeda berhasil menarik banyak perhatian pengunjung, mulai dari mahasiswa Unnes sendiri, sampai masyarakat sekitar.

Tidak hanya pameran dan instalasi, acara Blaba Woeda sendiri dimeriahkan dengan susunan acara yang ciamik. Mulai dari Live Acoustic, Artist Talk, Bedah Karya, Screaning Film, sampai Workshop yang membuat pengunjung betah berlama – lama dalam kemeriahan pameran.

Edukatif namun tetap menghibur menjadi ciri acara tersebut. Blaba Woeda sendiri mengandung arti keikhlasan dalam melakukan sesuatu. Tidak heran jika keikhlasan teman – teman Seni Rupa Unnes dalam berkarya menjadi alasan mengapa acara tersebut berlangsung sangat menarik.

Pengambilan tema Blaba Woeda dirasa sangat related dengan situasi belakangan ini. Sifat individualis dan kurangnya kebersamaan menjadi benang merah bagaimana teman – teman blaba woeda menyampaikan pesan. Beberapa karya yang dipamerkan juga sangat menyentil nilai – nilai sosial yang terjadi di masyarakat.

Art Exhibition ini dilaksanakan empat hari berturut – turut. Acara yang dimulai pada tanggal 26/6 dihadiri beberapa curator – curator dari dalam dan luar daerah. Tidak lupa juga, kehadiran Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Semarang, Kurwato dan dosen pembimbing, Kamsidjo Budi Utomo dan Muhammad Rahman Athian menambah semangat teman – teman Blaba Woeda.

Smart & Creative Business of Traveling, Bersama UKM Kopma Unika

Seminar Kopma (doc. Kopma Unika)

Mulai dari tips and trick untuk travelling sampai cara membuka usaha yang berhubungan dengan travelling.

 

Longlifemagz – Pada hari Sabtu, 2 Juni 2018 Ukm Kopma Unika telah berhasil mengadakan seminar dengan tema Travelling With Business. Acara ini berlangsung di Ruang Theater, Gedung Thomas Aquinas Unika Soegiyopranoto dengan ditemani seorang MC yang gokil dan dua Guest Star yang tak kalah seru dan tentu berpengalaman di bidang travelling, Vicky Nitinegoro dan Nidine Chandrawinata.

Acara dibuka oleh Yoga Tri Waluyo selaku MC pada seminar ini. Lalu dilanjutkan dengan doa pembuka dan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne Unika Soegiyopranoto. Tidak lupa beberapa sambutan terlontar pula dari Drs. H. Hudi Prawoto, MM, Akt Selaku pembina UKM KOPMA dan sambutan dari Aditya Saputra selaku Ketua Panitia.

Tidak langsung ke acara utama, melainkan diadakan Ice Breaking dimana membuat para peserta seminar lebih bersemangat dalam mengikuti serangkaian acara ini. Selesai Ice Breaking barulah menuju acara utama menghadirkan salah satu Guest Star yang telah terkenal di dunia entertainment dan tentunya berpengalaman dalam melakukan travelling, Vicky Nitinegoro.

Selama acara berlangsung Vicky mmberikan tips and tricks travelling, yang kemudian di sambut dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh peserta. Peserta tampak antusias, beberapa pertanyaan mengalir di keluarkan dari mulut peserta membuat acara menjadi lebih interaktif.

Selang beberapa waktu, Guest Star kedua yakni seorang Putri Indonesia 2005, aktris, traveller, sekaligus seorang pengusaha, Nadine Chandrawinata yang mengisi seminar. Banyak hal yang dapat dipelajari melalui Nadine, seperti cara menjaga kesehatan dan kebersihan tubuh selama melakukan traveling.

Tak lupa juga, aktris ini mengingatkan untuk selalu cinta alam dengan menjaga kebersihan tempat wisata yang dikunjungi. Nadine pun berbagi pengalaman dalam membuka usahanya, berupa sebuah resort yang berada di Raja Ampat. Kedua Guest Star selanjutnya berbagi pengalaman travelling yang pernah dilakukan bersama.

Pada sesi ini merupakan salah satu sesi terbaik yang ada. Sebab selain pengalaman, para peserta juga  terhibur dengan berbagai macam lelucon yang ada antara MC dan kedua Guest Star.

Setelah itu, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dimana terdapat lima peserta yang diberi kesempatan untuk bertanya. Salah satu pertanyaan yang ditanyakan peserta adalah mengenai cara untuk membuka bisnis yang berhubungan travelling, entah tempat penginapan atau rumah makan.

Selain mendapat kesempatan bertanya, kedelapan penanya termasuk penanya pada sesi sebelumnya mendapat kesempatan berfoto dengan kedua Guest Star serta sebuah bingkisan. Lalu dilanjutkan pemutaran video dari awal hingga akhir seminar, doorprize, dan penyerahan plakat dari Ketua Panitia kepada kedua Guest Star. Doa sebagai penutup seminar ini dan tentunya sesi berfoto bersama para Guest Star untuk para peserta seminar.

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

Mengisi Waktu Puasa Dengan Suguhan Talkshow dan Beauty Class

Suasana talkshow dan beauty class yang di gagas Net (doc. Net)

NET Goodpeople Semarang dengan aishaderm menyelenggarakan Beauty Class bertajuk Natural Look for Idul Fitri.

 

Longlifemagz – Pengaplikasikan makeup menjadi hal yang sangat penting bagi setiap wanita dalam berbagai kesempatan. Para wanita dituntut untuk selalu tampil maksimal, terlebih saat hari lebaran tiba. Dalam rangka ngabuburit bersama di bulan Ramadhan, NET Goodpeople Semarang bekerjasama dengan aishaderm menyelenggarakan Beauty Class bertajuk Natural Look for Idul Fitri.

Tidak hanya itu, sebelum berlangsungnya kegiatan beauty class, diadakan pula Mini Talkshow bersama Koordinator NET Goodpeople Semarang dan Beauty Consultant dari Aishaderm.

Diselenggrakan pada hari Sabtu, 9 Juni 2018 di MGM Cafe Marabunta, acara ini cukup mendapat sorotan dengan mendatangkan tentor MUA proffesional dari Semarang, Maudy Makeup. Nampak kouta peserta sebanyak 30 orang terlihat sangat antuis melahap tips makeup yang di berikan.

Para peserta mengikuti arahan serta teknik-teknik mengaplikasikan makeup oleh Maudy Makeup. Para peserta pun berkesempatan untuk melakukan tanya jawab saat beauty class berlangsung. Diakhir sesi, terdapat penentuan best makeup dan favorite makeup yang dipilih langsung oleh Maudy Makeup.

Hingga acara selesai, Net sebagai promotor yang notabennya merupakan salah satu perusahaan media terbesar di Indonesia mampu membuat hubungan kedekatan dengan masyarakat makin dekat. Melalui kegiatan ini juga dapat memperkenalkan komunitas Net Goodpeole dengan konten serta konsep yang berbeda dan mengajak masyarakat untuk melakukan kegiatan positif sambil menunggu waktu berbuka puasa.

 

 

 

 

 

 

 

 

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

UNFEST 3.0 MENGAJAK SAYA UNTUK BERNOSTALGIA

Ipang Lazuardi saat tampil di acara Unfest (20/5/18) / doc. Unfest

Nostalgia menikmati hit-hit andalan Sheila on 7 dan Ipang Lazuardi di Unfest, membuat saya merasa senang.


 

Longlifemagz – Malam yang penuh nostalgia, sungguh tidak ada kata lain yang dapat keluar dari mulut saya kamis malam (11/05) kemarin. Sepanjang jalan pulang, saya dan beberapa teman saya kembali menyenandungkan lagu-lagu lama baik dari Sheila on 7 maupun dari Ipang Lazuardi, yang merupakan hideliner dalam perhelatan Unfest.

Seperti tema yang mereka usung, “Anarchronous Fantasysta: Cross The Lost Precious Time” mencoba menghidupkan kembali kenangan-kenangan jaman 90-an. Dan, tema itu tepat sasaran! Sebagai seorang yang tumbuh kembang di kisaran akhir 90-an sampai awal 2000-an, tentu saja saya merasa puas kembali mengingat kenangan-kenagan semasa dulu, diantaranya menikmati reportoar hit-hit perjalanan Sheila on 7 dan Ipang lazuardi.

Selain itu, bukan cuma bintang tamu yang menjadi senjata andalan untuk mengajak orang bernostalgia, namun juga dekorasi dan beberapa spot didalam venue. Dekor panggung yang mengusung tema pac man (sebuah video game yang laris tahun 90an) dan ornament-ornament lainnya pun menambah nuansa nostalgia malam itu.

Yang paling saya senang, adanya jajanan-jajanan yang mendukung tema itu.Tidak percaya? Saya seperti kembali kejaman SD dulu, bernyanyi lagu “Itu Aku” dari Sheila on 7, sembari mengunyah telur gulung (jajanan yang biasa dijual depan SD) dengan pipi yang masih blepotan saus sambal.

Dimulai dari sore hari, lapangan FIK UNNES yang notabane-nya adalah venue acara belum begitu tampak ramai meski sudah ada beberapa pengunjung yang memenuhi sudut lapangan. Penampilan musik diawali dengan band band local Semarang, yaitu Light of Glory, Funpedia, Sound of Soul, dan New Face New Wave. Hingga hari mulai gelap, kali ini giliran VOC UNNES yang memukau para penonton. Band Phiavia yang tampil setelah itu cukup menarik perhatian saya. Mereka membawakan medley lagu-lagu Glenn Fredly dengan balutan Pop Jazz yang friendly ditelinga. Unnes Dancetination juga tidak kalah menariknya. Terbukti, para penonton dibuat terhibur dengan suguhan dance heboh a la mereka.

Wah! Kini sudah sampai di pamungkas acara. Setelah penampilan dance, giliran Ipang Lazuardi yang menghibur penonton. Dan langsung saja, penonton yang sudah memenuhi lapangan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang meringsek kedepan untuk melihat idolanya.

Penampilan Ipang yang sangat karismatik benar-benar membius semua penonton malam itu. Hit-hit kencang seperti “Gak Ada Takutnya” dan “Bukan Mereka” dibawakan dengan seru ditengah lagu-lagu mellow seperti “Ada yang hilang”, “Sahabat kecil”, dan “tentang cinta” yang membuat seisi venue bernyanyi.

Setelah Ipang, kita semua menantikan bintang tamu satu lagi yaitu Sheila on 7. Meskipun mereka sedikit terlambat, namun penonton tetap terhibur oleh guyonan MC kondang Obin dan Chino fajrin. Hingga tiba terlihat Sheila on 7 menghajar panggung Unfest 3.0.

Lewat hit “Pejantan Tangguh” langsung membuat semua orang disitu bersenandung. Mereka terus membawakan tembang-tembang seperti “Lapang dada”, “Seberapa Pantas”, “Betapa”, dan “Pria-pria Kesepian” yang sudah melekat pada hati penonton. Tidak luput, mereka juga membawakan single terbarunya “Film Favorit”. Mereka menutup performance mereka malam itu dengan tembang “Itu Aku”. Hingga membuat semua penonton melambaikan tangan mengikuti alunan lagu sampai acara Unfest berakhir.

 

LIVE REVIEW: WARNA-WARNI JAVA JAZZ 2018

 Perpaduan perhelatan festival jazz dan berbagai genre yang penuh daya pikat.


 

Longlifemagz Sudah 3 minggu lamanya perhelatan festival jazz terbesar di Asia Tenggara, Java Jazz Festival (FFS) 2018 digelar,. Selama itu pula momen-momen dan keseruan acaranya masih terekam di dalam benak kepala setiap penontonnya.

Ya, Java Jazz Festival (JJF), tahun ini diselenggakan sedari tanggal 2-4 Maret 2018 di Jiexpo Kemayoran, Jakarta. Menyuguhkan lebih dari 300 penampil penuh performance art yang menghibur dan memukau, dengan paduan sound dan pertunjukan warna lighthing yang indah, ditambah dengan spot-spot area maupun dekorasi tematik penuh konsep, menyambut kehadiran puluhan ribu penonton yang memadati pagelaran umat Jazz setiap tahunnya.

Lebih dari 11 stage diantaranya Demajor Stage, Garuda Indonesia Stage, MLD Stage Bus, Tebs Hall, sampai BNI Hall, lengkap dengan berbagai konsep yang ditawarkan, hadir diperhelatan ini. Mulai dari berkonsep outdoor, mini bus, sampai ekslusif vip didalam hall, memberi warna dan artmosphere tersendiri.

Walau terdapat sekitar 300 penampil, terdiri dari 3 hari dengan jumlah 11 panggung, tidak membuat JJF keteteran soal waktu, alias on time secara keseluruhan diwaktu tampil setiap pengisi acaranya. Ini salah satu yang patut diapresiasi, ketelitian crew dalam me-manage waktu patut diacungi jempol!

Sederet hideliner terpampang menghibur memberi pertunjukan yang menawan dan penuh daya pikat. Dira Sugandi, Mateus Asato, Glenn Fredly, Larry Carlton, Fariz RM, Andien, Tohpati, The Rollies, Incognito, sampai Chandra Darusman. Berhasil memuaskan hasrat ribuan pengunjung untuk bernyanyi dalam alunan pertunjukan atau mendengar lantunan suara dan menonton performance art sederet artis.

Tidak hanya sekedar jazz, para musisi baik skala nasional atau internasional dari genre lain juga hadir menyemarakan festival ini, dari pop, blues, folk, hip-hop/ Rnb, sampai rock. Mulai dari Gugun Blues Shelter, Daniel Caesar, Fourtwnty, Lauv, Iwa K X Neurotric, sampai Goo Goo Dolls tidak kalah spektakulernya berhasil meraup crowd yang banyak.

Memang perhelatan JJF tidak hanya menyajikan para penampil bergenre jazz saja, dan dibeberapa live performance penampil diluar Jazz mampu menyedot ribuan pengunjung. Seakaan JJF tidak percaya diri untuk berkreatifitas sendiri dan mesti merangkul penampil multi genre. Namun ini strategi yang baik, demi untuk mengembangkan pangsa pasar baru, dan yang terpenting dapat menghibur dan mengedukasi para pengunjung tentang musik jazz dan gaya hidupnya, membuat upaya regenerasi diperhatikan oleh JJF ini. Dan itu penting bagi keberlangsungan musik ini di tanah air Indonesia.

Tidak sekedar itu, sajian JJF bak ibarat makanan mewah lengkap dengan dessert manis pelengkap. Begitupun yang dihadirkan dalam tahun ini, tidak hanya penampilan, namun juga dekorasi stage lengkap dengan warna-warna paduan lighthing, spot-spot maupun area lengkap dengan tema yang disuguhkan, sampai kerjasama yang baik antara pihak eo (Java Festival production) dan sponsor dimana setiap sponsor patut bersaing, menghias booth-nya masing-masing, lengkap dengan acara maupun live performance artis yang ditawarkan. Ini membuat JJF kian semarak.

Beberapa Diantara Yang Memukau

Sejak hari pertama (02/03) JJF sudah dipadati pengunjung, kian malam pengunjung makin terlihat memenuhi crowd beberapa penampil. Diantaranya adalah penampilan dari Dira Sugandi, di Mitsubishi Hall. Tampil dengan menawan, Dira Sugandi melancarkan tembang-tembang andalannya. Disela-sela performance, tak luput ia menyanyikan sebuah lagu untuk anaknya yang sedang berulang tahun pada malam itu, kian membuat pertunjukan lebih manis dan hangat akan kekeluargaan.

Dilain sisi terlihat juga Nona Ria di Java Jazz Stage, yang berhasil menceriakan suasana malam itu. Sayur Lodeh, adalah diantara nomor cantik yang dimainkan. Tak terasa penonton ikut terhanyut dalam suasana riang, kadang kala ikut berdendang.

Glenn Fredly tidak kalah kerennya memukau Garuda Indonesia Stage. Walau ia terbilang sebagai salah satu artis yang sudah sering bermain di JJF disetiap tahunnya, namun panggungnya selalu dipadati penonton. Kala itu ia membawakan beberapa nomor-nomor hits dari Slank, dan berhasil mengajak penonton bernostalgia dengannya, terlebih singalong bersama.

Menuju tengah malah, giliran Kunto Aji menutup panggung Kopi Kapal Api Hall. Diantaranya adalah lagu hit “Terlalu Lama Sendiri” yang jadi pamungkasnya.

“Katanya orang-orang jomblo itu kuat karena teman-temannya sendiri karena teman-temannya sama-sama jomblo juga. Tapi emang jujur, teman-teman itu membantu kita untuk lupa akan kesendirian. Tapi kadang ada juga teman kita yang reseh yang bertanya seperti ini..” ujar disela lagu Kunto Aji.

Ia meneruskan sapanya dengan lirik, ‘teman-temanku berkata yang kau cari seperti apa, kuhanya bisa tertawa nanti pasti ada waktunya..’.

Hari kedua JJF (03/03) dibuka apik oleh Tashoora, Petra Sihombing, dan Syaharani & QueenFireworks di panggung berbeda. 

Tashoora band asal Jogja yang cukup menawan. “Kami mengajak teman-teman semua kembali ke zaman Ahmad Dhani masih waras,” kata Gusti Arirang sang bassist, sebelum membawakan lagu cover “Roman Picisan”.

Dipanggung berbeda terdapat kolaborasi yang memukau, Glenn Fredly, Tompi, Andra Ramadhan,Sandhy Sandoro, dan Kavin Sultani dengan nama Yamaha Music Project di BNI Hall dan Yura Yunita with Ron King Horn Section di MLD spot hall.

Begitupun Daniel Caesar, salah satu hideliner yang ditunggu-tunggu kehadirannya di BNI hall,yang sudah dipadati ribuan pengunjung. Ketika ia onstage, riuh suara penonton hysteris menyambutnya terdengar menggema. Sederet nomor sakti, “Neuroses”, “Transfrom”, “We Find Love”, sampai “Blessed”, tidak henti-hentinya membuat penonton ikut bernyanyi bersama.

Keseluruhan penampil di BNI Hall hari kedua ditutup The Music of Candra Darusman yang menampilkan Monita Tahalea, Teddy Adhitya, Danilla, Mondo Gascaro, Adikara Fardy, dan Nina Tamam serta penampilan khusus Chaisero dan Karimata dan Chaisero. Diakhir performance mereka ditutup dengan lagu “Pemuda”, Chaisero yang dinyanyikan oleh semua artis. Kunjung hal itu membuat penonton nostalgia dan turut pula ber singalong ria.

Java Jazz Festival dihari keempat ini (04/03) sangat berkesan. Andien dengan ribuan penonton yang memadati di MLD spot hall, The Rollies yang berhasil membuat mengajak penong bersing along bersama, sampai BJ The Chicago yang turun panggung menghampiri penonton dan bergoyang bersama mereka. Lauv yang berhasil menyihir ribuan penonton lewat aksinya di BNI hall dan Goo Goo Dolls yang mewarnai JJF dengan nuansa rock n roll nya.

Hingga ditutup oleh Maliq & D’Essentials dan Iwa K x Neurotic dipanggung yang berbeda, menandakan selesainya perhelatan JJF tahun ini dengan beragam warna yang membuat berkesan dimana-mana.

 

Selain project serabutan, mencoba peruntungan pula sebagai penulis lepas, buruh event, dan usaha kecil clothing.

FIND US ON

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.

 

Pin It on Pinterest