1


UNFEST 3.0 MENGAJAK SAYA UNTUK BERNOSTALGIA

Unfest 3.0 (20/5/18)

 Photo by doc. UNFEST 2018

Nostalgia menikmati hit-hit andalan Sheila on 7 dan Ipang Lazuardi, membuat saya merasa senang.


 

Longlifemagz – Malam yang penuh nostalgia, sungguh tidak ada kata lain yang dapat keluar dari mulut saya kamis malam (11/05) kemarin. Sepanjang jalan pulang, saya dan beberapa teman saya kembali menyenandungkan lagu-lagu lama baik dari Sheila on 7 maupun dari Ipang Lazuardi, yang merupakan hideliner dalam perhelatan Unfest 3.0.

Seperti tema yang mereka usung, “Anarchronous Fantasysta: Cross The Lost Precious Time” mencoba menghidupkan kembali kenangan-kenangan jaman 90-an. Dan, tema itu tepat sasaran! Sebagai seorang yang tumbuh kembang di kisaran akhir 90-an sampai awal 2000-an, tentu saja saya merasa puas kembali mengingat kenangan-kenagan semasa dulu, diantaranya menikmati reportoar hit-hit perjalanan Sheila on 7 dan Ipang lazuardi.

Selain itu, bukan cuma bintang tamu yang menjadi senjata andalan untuk mengajak orang bernostalgia, namun juga dekorasi dan beberapa spot didalam venue. Dekor panggung yang mengusung tema pac man (sebuah video game yang laris tahun 90an) dan ornament-ornament lainnya pun menambah nuansa nostalgia malam itu.

Yang paling saya senang, adanya jajanan-jajanan yang mendukung tema itu.Tidak percaya? Saya seperti kembali kejaman SD dulu, bernyanyi lagu “Itu Aku” dari Sheila on 7, sembari mengunyah telur gulung (jajanan yang biasa dijual depan SD) dengan pipi yang masih blepotan saus sambal.

Dimulai dari sore hari, lapangan FIK UNNES yang notabane-nya adalah venue acara belum begitu tampak ramai meski sudah ada beberapa pengunjung yang memenuhi sudut lapangan. Penampilan musik diawali dengan band band local Semarang, yaitu Light of Glory, Funpedia, Sound of Soul, dan New Face New Wave. Hingga hari mulai gelap, kali ini giliran VOC UNNES yang memukau para penonton. Band Phiavia yang tampil setelah itu cukup menarik perhatian saya. Mereka membawakan medley lagu-lagu Glenn Fredly dengan balutan Pop Jazz yang friendly ditelinga. Unnes Dancetination juga tidak kalah menariknya. Terbukti, para penonton dibuat terhibur dengan suguhan dance heboh a la mereka.

Wah! Kini sudah sampai di pamungkas acara. Setelah penampilan dance, giliran Ipang Lazuardi yang menghibur penonton. Dan langsung saja, penonton yang sudah memenuhi lapangan FIK UNNES meringsek kedepan untuk melihat idolanya.

Penampilan Ipang yang sangat karismatik benar-benar membius semua penonton malam itu. Hit-hit kencang seperti “Gak Ada Takutnya” dan “Bukan Mereka” dibawakan dengan seru ditengah lagu-lagu mellow seperti “Ada yang hilang”, “Sahabat kecil”, dan “tentang cinta” yang membuat seisi venue bernyanyi.

Setelah Ipang, kita semua menantikan bintang tamu satu lagi yaitu Sheila on 7. Meskipun mereka sedikit terlambat, namun penonton tetap terhibur oleh guyonan MC kondang Obin dan Chino fajrin. Hingga tiba terlihat Sheila on 7 menghajar panggung Unfest 3.0.

Lewat hit “Pejantan Tangguh” langsung membuat semua orang disitu bersenandung. Mereka terus membawakan tembang-tembang seperti “Lapang dada”, “Seberapa Pantas”, “Betapa”, dan “Pria-pria Kesepian” yang sudah melekat pada hati penonton. Tidak luput, mereka juga membawakan single terbarunya “Film Favorit”. Mereka menutup performance mereka malam itu dengan tembang “Itu Aku”. Hingga membuat semua penonton melambaikan tangan mengikuti alunan lagu sampai akhir.

 

LIVE REVIEW: WARNA-WARNI JAVA JAZZ 2018

 Perpaduan perhelatan festival jazz dan berbagai genre yang penuh daya pikat.


 

Longlifemagz Sudah 3 minggu lamanya perhelatan festival jazz terbesar di Asia Tenggara, Java Jazz Festival (FFS) 2018 digelar,. Selama itu pula momen-momen dan keseruan acaranya masih terekam di dalam benak kepala setiap penontonnya.

Ya, Java Jazz Festival (JJF), tahun ini diselenggakan sedari tanggal 2-4 Maret 2018 di Jiexpo Kemayoran, Jakarta. Menyuguhkan lebih dari 300 penampil penuh performance art yang menghibur dan memukau, dengan paduan sound dan pertunjukan warna lighthing yang indah, ditambah dengan spot-spot area maupun dekorasi tematik penuh konsep, menyambut kehadiran puluhan ribu penonton yang memadati pagelaran umat Jazz setiap tahunnya.

Lebih dari 11 stage diantaranya Demajor Stage, Garuda Indonesia Stage, MLD Stage Bus, Tebs Hall, sampai BNI Hall, lengkap dengan berbagai konsep yang ditawarkan, hadir diperhelatan ini. Mulai dari berkonsep outdoor, mini bus, sampai ekslusif vip didalam hall, memberi warna dan artmosphere tersendiri.

Walau terdapat sekitar 300 penampil, terdiri dari 3 hari dengan jumlah 11 panggung, tidak membuat JJF keteteran soal waktu, alias on time secara keseluruhan diwaktu tampil setiap pengisi acaranya. Ini salah satu yang patut diapresiasi, ketelitian crew dalam me-manage waktu patut diacungi jempol!

Sederet hideliner terpampang menghibur memberi pertunjukan yang menawan dan penuh daya pikat. Dira Sugandi, Mateus Asato, Glenn Fredly, Larry Carlton, Fariz RM, Andien, Tohpati, The Rollies, Incognito, sampai Chandra Darusman. Berhasil memuaskan hasrat ribuan pengunjung untuk bernyanyi dalam alunan pertunjukan atau mendengar lantunan suara dan menonton performance art sederet artis.

Tidak hanya sekedar jazz, para musisi baik skala nasional atau internasional dari genre lain juga hadir menyemarakan festival ini, dari pop, blues, folk, hip-hop/ Rnb, sampai rock. Mulai dari Gugun Blues Shelter, Daniel Caesar, Fourtwnty, Lauv, Iwa K X Neurotric, sampai Goo Goo Dolls tidak kalah spektakulernya berhasil meraup crowd yang banyak.

Memang perhelatan JJF tidak hanya menyajikan para penampil bergenre jazz saja, dan dibeberapa live performance penampil diluar Jazz mampu menyedot ribuan pengunjung. Seakaan JJF tidak percaya diri untuk berkreatifitas sendiri dan mesti merangkul penampil multi genre. Namun ini strategi yang baik, demi untuk mengembangkan pangsa pasar baru, dan yang terpenting dapat menghibur dan mengedukasi para pengunjung tentang musik jazz dan gaya hidupnya, membuat upaya regenerasi diperhatikan oleh JJF ini. Dan itu penting bagi keberlangsungan musik ini di tanah air Indonesia.

Tidak sekedar itu, sajian JJF bak ibarat makanan mewah lengkap dengan dessert manis pelengkap. Begitupun yang dihadirkan dalam tahun ini, tidak hanya penampilan, namun juga dekorasi stage lengkap dengan warna-warna paduan lighthing, spot-spot maupun area lengkap dengan tema yang disuguhkan, sampai kerjasama yang baik antara pihak eo (Java Festival production) dan sponsor dimana setiap sponsor patut bersaing, menghias booth-nya masing-masing, lengkap dengan acara maupun live performance artis yang ditawarkan. Ini membuat JJF kian semarak.

Beberapa Diantara Yang Memukau

Sejak hari pertama (02/03) JJF sudah dipadati pengunjung, kian malam pengunjung makin terlihat memenuhi crowd beberapa penampil. Diantaranya adalah penampilan dari Dira Sugandi, di Mitsubishi Hall. Tampil dengan menawan, Dira Sugandi melancarkan tembang-tembang andalannya. Disela-sela performance, tak luput ia menyanyikan sebuah lagu untuk anaknya yang sedang berulang tahun pada malam itu, kian membuat pertunjukan lebih manis dan hangat akan kekeluargaan.

Dilain sisi terlihat juga Nona Ria di Java Jazz Stage, yang berhasil menceriakan suasana malam itu. Sayur Lodeh, adalah diantara nomor cantik yang dimainkan. Tak terasa penonton ikut terhanyut dalam suasana riang, kadang kala ikut berdendang.

Glenn Fredly tidak kalah kerennya memukau Garuda Indonesia Stage. Walau ia terbilang sebagai salah satu artis yang sudah sering bermain di JJF disetiap tahunnya, namun panggungnya selalu dipadati penonton. Kala itu ia membawakan beberapa nomor-nomor hits dari Slank, dan berhasil mengajak penonton bernostalgia dengannya, terlebih singalong bersama.

Menuju tengah malah, giliran Kunto Aji menutup panggung Kopi Kapal Api Hall. Diantaranya adalah lagu hit “Terlalu Lama Sendiri” yang jadi pamungkasnya.

“Katanya orang-orang jomblo itu kuat karena teman-temannya sendiri karena teman-temannya sama-sama jomblo juga. Tapi emang jujur, teman-teman itu membantu kita untuk lupa akan kesendirian. Tapi kadang ada juga teman kita yang reseh yang bertanya seperti ini..” ujar disela lagu Kunto Aji.

Ia meneruskan sapanya dengan lirik, ‘teman-temanku berkata yang kau cari seperti apa, kuhanya bisa tertawa nanti pasti ada waktunya..’.

Hari kedua JJF (03/03) dibuka apik oleh Tashoora, Petra Sihombing, dan Syaharani & QueenFireworks di panggung berbeda. 

Tashoora band asal Jogja yang cukup menawan. “Kami mengajak teman-teman semua kembali ke zaman Ahmad Dhani masih waras,” kata Gusti Arirang sang bassist, sebelum membawakan lagu cover “Roman Picisan”.

Dipanggung berbeda terdapat kolaborasi yang memukau, Glenn Fredly, Tompi, Andra Ramadhan,Sandhy Sandoro, dan Kavin Sultani dengan nama Yamaha Music Project di BNI Hall dan Yura Yunita with Ron King Horn Section di MLD spot hall.

Begitupun Daniel Caesar, salah satu hideliner yang ditunggu-tunggu kehadirannya di BNI hall,yang sudah dipadati ribuan pengunjung. Ketika ia onstage, riuh suara penonton hysteris menyambutnya terdengar menggema. Sederet nomor sakti, “Neuroses”, “Transfrom”, “We Find Love”, sampai “Blessed”, tidak henti-hentinya membuat penonton ikut bernyanyi bersama.

Keseluruhan penampil di BNI Hall hari kedua ditutup The Music of Candra Darusman yang menampilkan Monita Tahalea, Teddy Adhitya, Danilla, Mondo Gascaro, Adikara Fardy, dan Nina Tamam serta penampilan khusus Chaisero dan Karimata dan Chaisero. Diakhir performance mereka ditutup dengan lagu “Pemuda”, Chaisero yang dinyanyikan oleh semua artis. Kunjung hal itu membuat penonton nostalgia dan turut pula ber singalong ria.

Java Jazz Festival dihari keempat ini (04/03) sangat berkesan. Andien dengan ribuan penonton yang memadati di MLD spot hall, The Rollies yang berhasil membuat mengajak penong bersing along bersama, sampai BJ The Chicago yang turun panggung menghampiri penonton dan bergoyang bersama mereka. Lauv yang berhasil menyihir ribuan penonton lewat aksinya di BNI hall dan Goo Goo Dolls yang mewarnai JJF dengan nuansa rock n roll nya.

Hingga ditutup oleh Maliq & D’Essentials dan Iwa K x Neurotic dipanggung yang berbeda, menandakan selesainya perhelatan JJF tahun ini dengan beragam warna yang membuat berkesan dimana-mana.

 

Selain project serabutan, mencoba peruntungan pula sebagai penulis lepas, buruh event, dan usaha kecil clothing.

THE GOOD OLD DAYS 4: BERNYANYI BERSAMA DENGAN MUSIK BERTAJUK “EMO NIGHT”

Photo by docs. Forkicks

Moshpit dan body surfing pun tak dapat terhindarkan.

 

Longlifemagz – Kamis (8/3) bertempat di Lot 28, meneruskan acara-acara mereka sebelumnya yang terhitung cukup sukses menarik massa, Forkicks Event mengawali tahun 2018 dengan mengusung tema The Good Old Days “Emo Night”. Sejak aktif pada tahun 2015, Forkicks Event selalu menyuguhkan tema-tema yang berbeda dan kreatif dalam tiap event yang telah mereka helat. Acara hari itu cukup spesial karena membawa para pelaku yang terlibat di dalamnya ke dalam era keemasan kaum “poni lempar” dan musik emo nya pada medio 2000an untuk sejenak.

Dalam event kali ini, Forkicks berkolaborasi dengan kolektif kreatif Bejana Karya. Selain itu, terdapat beberapa lapak yang turut meramaikan event, diantaranya adalah Peta Pita yang menjual CD dan kaset, ada juga Tripin, yang khsuus menjual pin, Pharalland, Olly Oxen dan Bejana Karya pun tak ketinggalan untuk membuka lapaknya di acara tersebut.

Jam 7 tepat acara pada malam itu dibuka dengan penampilan dari rrefal yang membawakan beberapa lagu cover salah satunya lagu dari Paramore berjudul “The Only Exception” membuat para penonton bernyanyi bersama-sama dan lagu dari mereka sendiri. Lalu dilanjutkan dengan penampilan dari band Semarang yang lain yakni Indra & Brothers dan Domestic Sin, keduanya mulai memanaskan suasana malam itu yang diselimuti kepulan asap rokok.

Malam semakin larut dan venue pun semakin dipadati oleh para penonton yang datang. Kemudian, Sink 90’s semakin memanaskan suasana dengan lagu-lagu dari Blink-182, Panic! at the Disco, Fall Out Boy. Tak berselang lama setelah mereka, ada Undersky yang membawakan dua lagu dari Bring Me the Horizon dalam repertoar mereka, yakni “Can You Feel My Heart” dan “Drown”.

Tak ketinggalan, mereka menghadirkan vokalis dari band grindcore Sergapanmalam, Afri ke atas panggung untuk menyanyikan emo anthem dari My Chemical Romance, “I Don’t Love You”. Terakhir, sebuah cover dari track terpopuler Saosin hingga saat ini, yakni “Seven Years” menutup perjalanan Undersky malam itu dengan cukup manis dan cukup emosional yang memancing koor massal dari crowd. Memorable.

Venue semakin penuh sesak ketika band terakhir yang sedang naik daun saat ini, Olly Oxen tampil. Band rock anyar yang digawangi oleh Mere (Vokal), Inu (Bass), Gembz (Gitar), dan Gawank pada drum yang pada tahun kemarin baru saja merilis mini album. Ditengah-tengah penampilannya, mereka pun mengumumkan bahwa pada tahun ini mereka akan melakukan tour,

Mereka mengawali penampilan pada malam itu dengan “Teenagers”, sebuah lagu dari My Chemical Romance yang terdapat pada album The Black Parade. Penonton yang telah terbiasa dengan lagu-lagu mereka pun menggila saat “Bad Mantra”, “Mr. Dunnowattudu” dimainkan. Hasilnya moshpit, body surfing pun tak dapat dihindari lagi. Olly Oxen pun akhirnya mengakhiri acara malam itu dengan salah satu lagu milik Fall Out Boy, “This Ain’t a Scene, It’s An Arms Race”.

Acara malam itu terhitung sukses dilihat dari jumlah penonton yang datang menghadiri venue. Harapan kami ke depan, semoga akan terus ada insan kreatif yang semakin memajukan dunia musik dan memberikan suguhan berkualitas bagi para penikmatnya.

 

 

MELEPAS EFEK RUMAH KACA DI DUA KONSER TERAKHIR

Efek Rumah Kaca on stage Depok Bisa Dikonserkan (01/03) ll Photo by devertone.com

Mulai dari live performance, artmosphere penonton, sampai dukungan untuk Efek Rumah Kaca di Ausrin, Amerika nanti.

 

Longlifemagz – Untuk menutup biaya akomodasi selama tampil di South by Southwest (SXSW), Austin, Amerika Serikat, Efek Rumah Kaca melakukan penggalangan dana dengan tampil dibeberapa event maupun gigs dalam rentan tanggal 18 Februari – 3 Maret 2018.

Selama 13 hari lamanya, Efek Rumah Kaca hadir dalam berbagai gigs di 5 Kota berbeda, The Sound Project (Kuningan City, Jakarta), Bingen Live (Bingen Café, Palembang), Carnifolk (Café Van Mila, Sukabumi), Depok Bisa di Konserkan (faculty club UI, Depok), dan Urban Gigs (Pavilion Resto & Café, Lampung).

Semua ticket dalam 5 event sold-out hanya dalam waktu 2-4 hari. Ratusan sampai ribuan penonton hadir, menonton, mendengar, bernyanyi, dan pastinya memberi dukungan dikonser terakhir Efek Rumah Kaca sebelum mereka terbang ke Amerika. Dan ini moment-moment terakhir gig mereka dipulau Jawa antara euphoria penonton dengan penampilan Efek Rumah Kaca, didua kota berbeda, Sukabumi dan Depok.

 

Sukabumi, Singkat Namun Berkesan

Efek Rumah Kaca di Carnifolk, Sukabumi (27/02) ll Photo by Rizki M Akbar

Sedari sore tiba, Sukabumi sudah diguyur hujan. Tidak tinggi memang intensitasnya, namun bila terhempas lama akan basah dan pasti dingin dirasa. Regian dan Ucok adalah diantara penonton yang hadir di Carnifolk malam itu. Sebelumnya, Regian sudah membuat janji dengan ucok seorang temannya, selepas pulang kerja jam 5 sore pergi menonton Efek Rumah Kaca. “kerja di Cibadak, buru-buru pulang kerja jam 4, teus sampe rumah jam 5,”, Ujar Regian.

Info mereka dapat dari media sosial, konser Efek Rumah Kaca akan diselenggarakan di Carnifolk, Sukabumi. Kesempatan memang tidak datang dua kali. Selain memang Sukabumi jarang akan acara konser, terlebih Efek Rumah Kaca, band yang mereka idolakan sejak tahun 2015.

Tiket sudah ditangan, walaupun terkadang hujan jadi halangan, toh kesempatan ini mereka tidak sia-siakan. “Soalnya kan jarang juga ya ERK main di Sukabumi, dan mumpung ada kesempatan itu kita datang,”, kata Regian sembari menyeruput kopi hitamnya.

Berangkatlah ia selepas mandi dan sejenak beristirahat, “langsung aja kesitu, ujan-ujanan. Bela-belain pengen nonton ERK”, tambah Regian.

Hari itu ia lengkap mengenakan t-shirt hitam dengan jaket jeans birunya, mengendari motor menerpa hujan dengan jarak sekitar 15 km, dari rumah menuju venue. Hingga sampai, selepas adzan magrib tiba ia bertemu Ucok, dan menunggu acara sampai mulai di warung kopi, sembari menghangatkan badan dengan segelas kopi panas serta menghisap rokok.

“Lagunya menginspirasi banget. Seperti contohnya lagu perlawan yang menggambarkan aktivitas aktivis Munir,”, ujar Regian, seraya menjelaskan alasannya suka dengan Efek Rumah Kaca.”Saya belum pernah liat live-nya, sering denger lagunya bagus, jadi penasaran pengen nonton langsung” ujar Ucok menyambar menambahkan. Dan selebihnya mereka mempunyai kesamaan, sama-sama menunggu lagu Diudara dinyanyikan.

Hujan dikit demi sedikit mereda. Acara sudah dimulai, kebisingan mulai terdengar dari arah venue. Penonton sudah banyak berdatangan pada malam itu begitupun dengan Regian dan Ucok. Memasuki gate mereka sudah diarahkan kekursi yang telah tersedia.

Konsep event-nya menarik, acara berlangsung di venue semi outdor. Rentetan-rentetan café yang terdapat di Café van Milla, disulap menjadi venue acara. Stage terdapat dihalaman taman, ada celah terbuka antara café dan stage sebagai masuknya sirkulasi udara sejuk Sukabumi dan nantinya dihirup oleh penonton yang hadir.

Walau venue terbilang sempit, namun tidak terasa panas. Terlebih stage nya tidak terlalu berjarak dan tidak ada barikade pembatas, suasana hangat dan akrab pastilah akan terasa antara Efek Rumah Kaca dan penonton nantinya.

Sederet penampil terlihat diatas stage, membuka acara Carnifolk yang dikhususkan untuk menyambut Efek Rumah Kaca pada malam itu. Dialog Senja adalah diantara mereka yang tampil sebagai band pembuka dan membuat syahdu suasana dengan lagu yang dilantunkannya.

Waktu menunjukan pukul 20.00 Wib, masih belum saatnya Efek Rumah Kaca untuk tampil. Ditengah keramaian penonton, terlihat pria dengan celana pendek, longsleve hitam, lengkap dengan fedora dikepala, tegak berdiri menunggu disudut kiri stage. Ia bernama Agun, pria yang mengaku sudah suka dengan Efek Rumah Kaca dari tahun 2009.

Agun menonton Efek Rumah Kaca, kurang lebih sekitar 4 kali. Ia bahkan rela walau harus pergi ke Jakarta untuk dapat menyaksikannya secara langsung, “dari Gandaria City sampai waktu di Trisakti saya datang kesana,”, ujarnya.

“Lagu Kenakalan Remaja Diera Informatika”, “Belanja Terus Sampai Mati”, sampai “Cinta Melulu” adalah nomor-nomor kesukaannya, dan berharap nantinya dapat dimainkan. Agun punya certia tersendiri perihal lagu itu, kebosanan akan industri musik yang memprosikan lagu-lagu pop cengkok melayu dengan lirik yang cengeng adalah diantaranya. “ERK merepresentasikan gua akan perasaan itu, kala mendengar lagu Cinta Melulu”, ujar Agun dengan serius. Berkali-kali lagu itu ia terus putar dan menemani harinya, “Sampai Nyokap (Ibu) gua nanya, lah ieu deui (kok ini lagi si yang diputar),” tambah sembari tersenyum mengenang hal itu.

Waktu sudah menunjukan pukul 20.30 WIB, ERK sudah bersiap di sarnavil kanan stage. Dan tibalah saat yang ditunggu-tunggu, MC memanggil mereka dengan penuh semangat. Cholil, dkk (vocalis, dan personil yang lain) sudah terlihat berada diatas stage, sorak-sorai penonton menyambut kedatangan mereka. Tanpa berbasa-basi mereka langsung melancarkan lagu “Debu-Debu Berterbangan”, sebagai lagu pembuka. Penonton terhanyut dalam musik dan makna lagunya, sing along tak terbantahkan.

“Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa”, yang selanjutnya diteruskan dengan “Biru”. Beat kian meninggi, Irma, dkk (backing vocal) kian bergelinjang menari mengikuti irama, begitupun penonton yang tak kalah hebohnya. Hingga tiba dibagian anthem “Pasar Bisa Diciptakan”, kata-kata itu selalu berulang, terngiang, dan menggema terdengar kala diteriakan oleh semua penonton dengan lantang. Selangnya lagu “Hujan Jangan Marah” dan “Putih”, dibawakan dengan baik. Tiba dilagu Di Udara penonton kian bergelora, armosphere kian memanas kala tiba dibagian refrean.

Hingga ditutup dengan tiga nomor sakti, “Desember”, “Cinta Melulu”, dan “Sebelah Mata”. Penonton belum cukup puas untuk meninggalkan kebersamaan. Berniat mengakhiri performance, gagal kala disanggah bersama-sama disaat terdengar protes dari penonton meneriakan We one more.

Hingga semua personil Efek Rumah Kaca stand by kembali dialatnya masing-masing, begitupun Cholil yang juga tak lupa mengucapkan banyak terimakasih sembari tersenyum penuh hangat. Lagu “Kenakalan Remaja Diera Informatika” dimainkan, crowd kian menggila. Penonton berjoget riang mengikuti irama, sing along kian menggema terdengar sampai akhir pertunjukan.

 

Dinginnya Depok, Mereka yang menghangatkan

Photo by devertion.com

Reta, Danu, dan Arif sudah membuat janji untuk bertemu. Sekitar 5 tahun lamanya mereka tidak berjumpa, sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Sore itu, (23/03) adalah tanggal yang mereka pilih untuk bertemu, melepas rindu, selebihnya nostalgia masa-masa di SMA. Dipilihlah Faculty Club Ui, sebagai lokasi sekalagus venue konser Efek Rumah Kaca, dalam tajuk Depok Bisa Dikonserkan.

Berangkatlah mereka dari tempat kerja masing-masing, Reta dari Tebet. Sedangkan Danu dan Arif dari Bogor, sama-sama berangkat menuju Depok. Butuh waktu untuk sampai ke Depok, terlebih saat itu hujan cukup deras, Danu dan Arif berangkat dari Bogor, “dari tempat kerja sampe Depok sekitar pukul 6-an, tadi pake sempet nyasar dulu lagi,”, ujar Danu Seraya tertawa.

Perjalanan tetap mereka tempuh walau kondisi cuaca sedang tidak bersahabat, hujan sedari sore tiba. Namun janji mesti tetap ditepati, dan rasa kangen harus cepat diobati.

Konser Depok Bisa Dikonserkan dipilih bukan karena sebab, mereka bertiga suka dengan Efek Rumah Kaca oleh karenanya mereka memilih bertemu disana, “kita bertiga suka dengan mereka dari SMA si,” ujar Danu sembari mengenang 7 tahun yang lalu.

Reta punya pengalaman tersendiri dengan Efek Rumah Kaca. Sewaktu ia SMA, ia pernah menjabat sebagai Ketua OSIS dan SMA nya mengadakan Pensi. Efek Rumah Kaca didaulat sebagai salah satu hideliner mereka, ”wah dulu seru banget tuh acaranya, dan ERK masih nerima fee 500 ribuan tahun 2008,”, ujar Reta dengan sumringah. “Pas dia disini (konser di Jabotabek), aduh kangen banget gua sama ERK, bisa ngeliat lagi,”, tambahnya.

Suasana disekitar venue sudah ramai terlihat. Ribuan orang sudah mulai memadati sekelilingnya, mencari spot-spot terbaik untuk memandang, mendengar, dan bernyanyi bersama dengan Efek Rumah Kaca.

Tidak Nampak ada band-band maupun acara sebelum Efek Rumah Kaca tampil. Panggung dibiarkan kosong, redup, hanya LCD panggung yang sibuk mepertontonkan slide terimakasih untuk para sponsor dan media partner.

Awal, Kristo, dan Afgan adalah diantara banyaknya penonton yang menunggu penampilan dari Efek Rumah Kaca. “Setiap konser Efek Rumah Kaca di Jabotabek gua usahain dan bisain dateng. Soalnya gua penikmat Efek Rumah Kaca,”, ujar Awal menjelaskan.

Walau kondisi saat itu mulai diguyur hujan, namun mereka terjaga didepan stage, disela-sela waktu bertahannya Awal berdalih, “Ini rentetan dari konser sebelum efek rumah Kaca ke Amerika nanti di Jabotabek, setau gua. Gua bela-belain dah basah-basahan,”, dengan semangat.

Hingga pukul 20.00 Wib tiba, waktunya Efek Rumah Kaca on stage. Gerumuh sambutan kian terasa, penonton yang sebelumnya bercerai berai mulai merapat kearah stage. Tanpa banyak basa-basi Efek Rumah Kaca mulai memainkan nomor-nomor dari album Sinestesia secara bergiliran, mulai dari “Merah”, “Biru”, “Jingga”, “Hijau”, “Putih”, dan “Kuning” .

Walau Hujan kian deras intensitasnya, sampai seusai lagu “Merah”, Cholil sempat bertanya kearah penonton, “gimana ni hujan, lanjut?”, dengan kompak penonton mengiyakan dan tak perduli dengan kondisi cuaca yang sedang tidak ramah.

Penampilan yang bagus tersaji didalam konser pada saat itu, belum lagi perpaduan warna lighting yang berpadu-padan sesuai segmen lagu yang dimainkan dalam album Sinestesia, menambah nilai artistik tersendiri. Walau dibeberapa part lagu Cholil sempat lupa akan liriknya. Namun hal itu teratasi dengan bantuan dari penonton yang sedari awal sudah ikut bernyanyi mengikuti irama lagu.

Selesai album Sinestesia dimainkan, Efek Rumah Kaca turun dari stage. Memang konsep kali ini performance mereka dibagi menjadi dua sesi, sesi pertama memainkan album Sinestesia, kedua memainkan nomor-nomor cantik dari album Efek Rumah Kaca dan Kamar Gelap. Penonton sangat dimanjakan pada saat itu, dengan berbagai lagu yang dibawakan nantinya.

Disela jeda, masuk MC yang pada saat itu dipandu oleh Adjis Doa Ibu dan Gilang Gomloh. Lawakan-lawakan yang dilontarkan sangat menghibur penonton. Banyak diantara penonton yang tertawa akan celotehan mereka. Perpaduan konsep yang bagus antara musik dan komedi.

Sekitar 30 menit berselang, Cholil,dkk menaiki stage kembali. Sesi kedua dimulai, dibuka dengan lagu “Tubuhmu Memberi Tragis”, “Menuju Ruang Hampa”, dan kemudian “Melankolia”. Penonton dibuai nostalgia, menyanyikan nomor-nomor hits lagu di album awal Efek Rumah Kaca. Masuk lagu “Ballerina”, crowd mulai kembali bersemangat, berjoget, bergoyang menghangatkan suasana sekaligus menikmati irama.

“Hujan Jangan Marah” selanjutnya dimainkan, membuat penonton bernyanyi makin kencang sembari berharap cuaca lebih membaik. Memang sampai pertengahan konser Efek Rumah Kaca, hujan belum juga mereda, malah dapat dibilang semakin parah.

Photo by freemagz.com

Terlihat disekitar, banyak diantara penonton yang tetap stay walau kehujunan. Diantaranya lagi terdapat pula payung-payung maupun mantel yang dikenakan para penonton. Dari ribuan penonton yang hadir, Ami dan Rina ada lah diantara mereka yang tetap bertahan. “Haduh dingin banget si, sampe tangan gua pada mengkerut. Cuman karena suka dan pengen nonton Efek Rumah Kaca, yaudahlah biarin aja sekalian basah”, ujar Ami disela-sela waktu.

Ribuan penonton masih setia menonton ERK, walau hujan mengguyur Depok pada saat itu ll Photo by devertion.com

Ditengah guyuran hujan, lagu “Merdeka”, “Jalang”, dan “Mosi Tidak Percaya” dimainkan, membuat crowd kembali bergejolak penuh semangat. Selangnya “Insomnia” dimainkan, uplause penonton terasa terdengar. Lagu ini adalah salah satu lagu yang cukup jarang dimainkan secara live, wajar bila banyak yang menantikan. Maka saat sudah dimainkan, wajar mendapat respon yang baik. “Paling enak banget insomnia itu,”, ujar Danu, salah satu penonton dengan semangat.

Dilanjutkan dengan “Laki-laki Pemalu” dan kemudian “Di Udara”. Di Udara terasa lebih mencekam dimainkan kala itu. Distorsi banyak disisipkan, belum lagi penonton bernyanyi dengan lantang seolah menuntut protes terhadap rezim yang sedang kacau dan lupa. Sembari mengangkat tangan kanan keatas dan mengepalkannya. begitupun dengan Panji Mardika (trumpet dan flute) yang sedari awal sampai akhir lagu mengepalkan tangannya, seperti mengisyaratkan supaya penonton bersemangat mengikuti.

“Cinta Melulu”, “Kenakalan Remaja Diera Informatika”, selanjutnya dimainkan, tanpa diintruksi, penonton bergoyang dengan riang. Sampai didetik-detik akhir closing performance mereka, nomor “Lagu Kesepian”, “Desember”, dan “Sebelah Mata” ditunjuk sebagai lagu pamungkasnya. “Sebelah Mata” juga dijadikan theme song bagi kasus penyiraman air keras kemata Novel Baswedan saat itu. Dengan semangat penonton ber sing-along ria, sampai akhir pertunjukan. Hingga akhirnya Depok Bisa Dikonserkan diselesaikan dengan epic dan penuh kesan setelah performance berdurasi selama 2,5 jam.

 

Dari Mereka Untuk Efek Rumah Kaca

Maka selesailah road tour yang dijalani oleh Efek Rumah Kaca –Carnifolk, Sukabumi (27/02) dan Depok Bisa Dikonserkan, Depok (01/03)- yang diselenggarakan dipulau Jawa dalam tajuk #DukungERKMenujuSXSW.

Banyak kesan, banyak pula pesan dan dukungan yang diberikan dari penonton. Sedikit diantaranya adalah ini, “baguslah ERK. Trus lirik lagunya bahasa Indonesia semua, jadi lebih mantap, lebih keren. Biar semua orang pada tahu, pada cari tahu lebih banyak tentang Indonesia,”, ujar Regian, Sukabumi. “biar pada penasaran sama ERK, dan pada ngikutin budaya Indonesia juga” ujar Ucok menambahkan.

“Semoga mereka disana nanti makin banyak mendapat inspirasi dan ketika nanti pulang mereka punya lagu yanglebih bagus lagi,”, ujar Agun penonton Carnifolk, Sukabumi.

“Semoga anggung di Amerikanya sukses, dan makin banyak orang yang denger ERK,”, ujar Ami ,”pesan yang dibawakan semoga tersampaikan”, kata Rina penonton Depok Bisa Dikonserkan . “Oh ya, gua mau dong oleh-oleh kaos”, “gua mau set listnya aja”, ujar Ami dan Rina penuh harap seraya tertawa.

“Gua liat jepang mereka khas banget dengan jepangnya. kenapa Indonesia tidak bisa seperti itu. Gua juga pengen band-band lain juga mesti bangga dan bawa ke Indonesiaan lu, kelokalan lu, dan ERK adalah contohnya”, ujar Maliq program director Carnifolk, Sukabumi.

“Bawa nama Indonesia kekancah internasional si kalo gua,” , kata Arif, “keren gitu, biar mereka pada belajar bahasa Indonesia juga, bahasa Indonesia makin terkenal gitu,” ujar Dani menambahkan.

“Semoga sukses terus dan semuanya lancar disana,”, “Selamet ya nanti sampai di Indonesia”, ujar Awal dan Kristo secara bergantian, penonton Depok Bisa Dikonserkan.

 

Selain project serabutan, mencoba peruntungan pula sebagai penulis lepas, buruh event, dan usaha kecil clothing.

KOMUNITAS DUDUK NYENI, ISI AKHIR PEKAN DENGAN HAND BOUQUET WORKSHOP

Photo by doc. Komunitas Duduk Nyeni

Merangkai bunga dengan mudah, simpel dan terlihat cantik.

 


 

Longlifemagz – Minggu (28/1/2018) banyak orang yang meluangkan waktunya untuk berlibur bersama teman atau keluarga ke tempat perbelanjaan atau tempat wisata. Namun berbeda dengan Komunitas Duduk Nyeni, yang mengisi waktu akhir pekannya dengan mengadakan kelas tentang Hand Bouquet Workshop. Kali ini Duduk Nyeni berkolaborasi dengan Florist yang berasal dari Kota Yogyakarta yaitu Blossom Flower. Acara ini diadakan di ¾ Coworking Space, Tembalang, Semarang, Jawa Tengah.

Tema yang diangkat dalam acara ini adalah “Be The Reason of Someone Happiness”. Acara ini bertujuan untuk mengajarkan kepada peserta mengenai cara merangkai bunga dengan mudah dan simpel namun tetap terlihat cantik.

Hand Bouquet Workshop dibuka oleh salah satu anggota dari komunitas Duduk Nyeni yaitu Ninin tepat pukul 13.30 WIB. Lalu dilanjutkan dengan pengenalan materi mengenai macam-macam jenis bunga, cara memperlakukan bunga, dan merangkai bunga oleh pakarnya yaitu Nathina Finiasana.

Menurut Nathina Finisiana, merangkai bunga yang indah bukan hal yang susah asal kita tahu trik dan celahnya, rangkaian akan terlihat cantik dan menawan.

Para peserta sangat antusias dalam mengikuti acara ini. Terlihat dari keaktifan peserta dalam bertanya kepada para mentor ketika ada hal yang kurang mengerti atau kesulitan dalam merangkai bunga. Peserta yang mengikuti acara ini berasal dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa sampai ibu rumah tangga.

Setelah bunga-bunga terangkai dengan rapi dan terlihat indah, selanjutnya bagian dari komunitas Duduk Nyeni mengajarkan cara membuat simple card dengan menggunakan cat air. Simple card ini tidak hanya menjadikan rangkaian bunga terlihat menjadi lebih cantik, tapijuga memberi sesuatu yang berkesan.

Acara Hand Bouquet ini diakhiri dengan sesi foto bersama dengan semua peserta dan para mentor dari komunitas Duduk Nyeni dan Blossom Flower.

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

WEHYPE MARKET HADIRKAN PRODUK INDUSTRI KREATIF SEMARANG

Photo by doc. Wehype Market

Berlangsung selama dua hari, mulai tanggal 9-10 Desember 2017 menyuguhkan berbagai konten industri kreatif.


 

Longlifemagz – Impala Space, sebuah ruang alternatif untuk bekerja bersama bagi para pelaku industri kreatif, freelancer, dan pemilik bisnis pemula (biasa disebut Coworking Space) pekan kemarin (9-10/12) sukses menyelenggarakan Wehype Market. Bekerjasama dengan Wehype.id, acara Wehype Market diselenggarakan di Monod Huis, Kota Lama, Semarang diikuti oleh beragam local brand di Kota Semarang.

Terdapat berbagai tenant dengan berbagi produk mulai dari fashion, craft, aksesoris maupun handmade, membuat acara ini kian ramai. Selain tenant, acara ini juga diisi dengan berbagai konten acara, seperti workshop oleh Benik Semarang yang membahas tentang Create Fashion Skethcing & Qroquis, Music performances oleh Karnivale, serta Meetup community Semarang Coret di hari pertama.

Pada hari kedua terdapat beberapa acara juga seperti Art Jamming oleh Kudalari Project, Music Performances oleh Hills Collective dan Legit, Workshop oleh Duduknyeni dan Kudalari Project yang membahas mengenai Greeting Cards Making dan Merchandise, Serta Creative Talks“Meet The Creators” dengan Alviandy Ramadhan (Homesick Media), Imam Supriono (Sereal Ofiicial Photographer), dan Bima Sinatrya (Figura Renata).

 

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

FIND US ON

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.

 

Pin It on Pinterest