1


EXPOSURE 2019, event kampus yang perlu dipertimbangkan

doc : Exposure 2019

…Bahkan event yang tanpa dibandrol harga tiket masuk ini sampai menyediakan mantel secara Cuma Cuma kepada para pengunjung yang ingin menonton event mereka….


Longlifemagz  Minggu 17 maret 2019 yang lalu kerumunan manusia berseragam mantel hujan warna warni memadati parkiran Ambarukmo Plaza Yogyakarta, mereka rela menerjang hujan bukan tanpa alasan, karena pada hari itu dan dua hari sebelumnya di tempat tersebut terselenggara Exposure yang merupakan rangkaian acara The 13th Management’s Events yang diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (IKAMMA FEB UGM).

Exposure menghadirkan thematic curated market pertama dan terbesar di Yogyakarta yang memberi wadah bagi para entrepreneur muda untuk memperkenalkan merek lokal mereka pada masyarakat luas. Pada tahun ini, Exposure bertemakan “HAMEMAYU HAYUNING BAWANA” yang memiliki arti keindahan dunia sebagai pengingat manusia untuk mencerminkan dan memikirkan kembali tujuannya.

Jason ranti, grrrl gang, dan feast adalah salah satu alasan ratusan penonton rela menerjang hujan pada waktu itu, namun ada satu alasan lain yang mungkin lebih dirasakan oleh para penonton, adalah semangat para panitia Exposure yang seolah tak surut ketika event mereka menghadapi sebuah kendala, bayangkan pada hari pertama Jason ranti diputuskan untuk merubah jadwal mainnya menjadi hari terakhir dikarenakan cuaca yang tidak mendukung, pun di hari terakhir, hujan yang tak kunjung henti dari pagi hingga acara selesai tampak tak menyurutkan semangat panitia.

doc : Exposure 2019

Bahkan event yang tanpa dibandrol harga tiket masuk ini sampai menyediakan mantel secara Cuma Cuma kepada para pengunjung yang ingin menonton event mereka, dan semangat panitia memang layak mendapatkan apresiasi, dimana feast sebagai penampil terakhir kompak berseragam mantel hujan senada dengan dikenakan para penonton dan membuat atmosfer menjadi lebih dekat seperti tanpa sekat antara penampil dengan penonton.

Penampilan dari band lokal pun tidak kalah ramai. Di hari pertama, penampilan velvet dream berlangsung walaupun hujan singgah dan cukup awet hingga penampilan musisi lainnya harus ditunda pada Minggu 17 maret 2019. Tercatat walaupun hujan, pengunjung parkir timur mencapai 1.889 orang di hari itu. Di hari kedua, Stationary dan Astera membuka penampilan dengan elok. Dilanjutkan oleh Putra Timur dan Sal Priadi yang membuat anomali senandung pengunjung riuh. Dihari ketiga, Makna dan Define soul membuka penampilan pada pukul lima sore. Penampilan dilanjutkan kembali pada pukul tujuh malam oleh Skandal, Grrrl Gang, Jason Ranti, dan Feast. Penggemar pun memadati Parkir Timur Plaza ditengah hujan yang turun.

doc : Exposure 2019

Namun Exposure ini bukan hanyalah  event musik yang biasa dibuat oleh mahasiswa-mahasiswa atau kampus-kampus lain, selama pelaksanaannya, Exposure berlangsung di Atrium dan Parkir Timur Plaza Ambarrukmo Yogyakarta. Merek lokal apparel dan lifestyle  bertempat di Atrium, sedangkan penampilan musik dan kuliner berada di Parkir Timur Plaza Ambarrukmo. Didalam atrium selain berbelanja, pengunjung juga dapat menikmati instalasi seni di pintu masuk Atrium oleh Geger Boyo. Seni dengan warna dominan merah dan hitam ini dapat pula diabadikan menjadi foto kekinian. Terdapat pula instalasi seni dari Ian Pramananta dengan  nama Botani yang bertempat pada jantung Atrium. Instalasi berbentuk tanaman yang ditembak animasi tersebut merupakan gebrakan baru dalam dunia seni yang hanya dapat dinikmati pengunjung Exposure.

doc : Exposure 2019

Selain itu kegiatan di dalam atrium ini pula terdapat kegiatan juga tak kalah menarik, dimana diadakannya lokakarya bagi para pengunjung, Lokakarya pada hari pertama pembuatan kokedama bersama Karplanter. Pada hari kedua pembuatan totebag  bersama Bhisma Diandra. Hari terakhir membuat aksesoris dengan sentuhan Bali bersama Pix and Stacy.  Pengunjung yang ingin mendapatkan merchandise edisi khusus Exposure bisa didapatkan di lokakarya bersama Taka Craft secara gratis. “Selain jualan ada workshopnya juga, jadi ada nilai-nilai edukasinya,” jawab Isser James, founder Badass Monkey, soal Exposure.

doc : Exposure 2019

Jean Tora salah seorang founder Darahku biru, komunitas denim terbesar di Indonesia, juga menyempatkan singgah untuk melihat keramaian yang terjadi selama Exposure. “Kita gak expect akan seramai ini,” jelasnya.   Merek lokal yang berpartisipasi pada Exposure juga membagikan keseruannya. “Terima kasih atas antusiasnya selama tiga hari, kami akan menimbang untuk membuka cabang di Jogja,” jelas akun Skhope Culture.

Exposure 2019: Menyemarakkan Karya Anak Bangsa

Exposure merupakan rangkaian acara The 13th Management’s Events yang diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (IKAMMA FEB UGM). ​Exposure menghadirkan ​thematic curated market ​ pertama dan terbesar di Yogyakarta yang memberi wadah bagi para ​entrepreneur muda untuk bisa memperkenalkan merek lokal mereka pada masyarakat luas. Pada tahun ini,​Exposure bertemakan “HAMEMAYU HAYUNING BAWANA” yang memiliki arti keindahan dunia sebagai pengingat manusia untuk mencerminkan dan memikirkan kembali tujuannya.

Exposure akan mendatangkan lebih dari 60​tenants apparel, non-apparel, serta​food and beverages di​Main Atrium dan Parkir Timur Plaza Ambarrukmo Yogyakarta pada 15-17 Maret 2019 secara gratis. Tahun ini​Exposure kembali menghadirkan lokakarya (​workshop) kesenian dan gaya hidup antara lain ​Sunday Snuggles Make Your Own Ethnic Balinese Jewelry oleh Pix and Stacy, ​Kokedama Making Workshop oleh Muhammad Fahmi Ihsan (​Founder​ of Karplanter), dan ​Patchwork on Totebag oleh Bhisma Diandra (​Founder of​ Batu Indigo Dyed Goods).

Lokakarya dipatok dengan harga mulai 140.000 rupiah hingga 550.000 rupiah. Kokedama Making Workshop oleh Muhammad Fahmi Ihsan merupakan lokakarya seni membuat tanaman hias khas Jepang pada 15 Maret 2019. Terdapat pula loka karya Patchwork on Totebag oleh Bhisma Diandra yaitu menghias ​totebag​ dengan desain sesuai selera pada 16 Maret 2019. Di hari terakhir, diadakan ​Sunday Snuggles Make Your Own Ethnic Balinese Jewelry oleh Pix and Stacy yang merupakan lokakarya pembuatan aksesoris dengan sentuhan Bali bersama ahlinya pada 17 Maret 2019.

Di lokasi ​Exposure nanti, pengunjung juga akan dimanjakan dengan penampilan musisi dan ​band lokal seperti Jason Ranti, Feast, Putri Timur dan masih banyak lainnya. Tidak ketinggalan akan ada berbagai ​games​ dan ​giveaway challenge​ untuk memperoleh produk-produk unggulan ​tenants dan promo-promo menarik lainnya.

Berbeda dengan ​Exposure sebelumnya, tahun ini akan ada instalasi seni dan dekorasi hasil kolaborasi dengan seniman lokal. Seniman yang ikut berpartisipasi yaitu Gegerboyo, proyek kolaborasi beberapa seniman asal Jogja, dan Ian Pramananta, desainer yang berfokus pada video dan media digital. Titik instalasi dekorasi hasil karya seniman akan berada pada ​main atrium​ yang bisa diakses secara gratis dan menjadi tempat foto menarik.

Exposure tahun lalu terbukti telah menjadi daya tarik tersendiri dengan mendatangkan 71.050 orang yang bukan hanya dari Yogyakarta melainkan dari berbagai kota lain. Tidak ada biaya masuk (HTM) untuk datang ke​Exposure​. Info lebih lanjut, bisa di akses atau mengirim pesan langsung melalui instagram @exposure_yk. 

“Kadal/Hilang Rasa”, Video Musik Terbaru dari Redam.

doc from : press kit


Tidak lama seusai merilis sebuah album berjudul “Useless” di awal tahun 2019 bersama Otakotor Records, Redam kembali mengeluarkan kejutan lainnya berupa sebuah video musik untuk dua single yang berjudul “Kadal” dan “Hilang Rasa” tepatnya pada tanggal 1 Maret lalu. Redam sendiri merupakan sebuah band rock-alternative berdomisili di Semarang, yang beranggotakan, Ari Mulya (lead vocal dan bass), Adit Devan (guitar), dan Ferdinandus Erdin (Drum).

Dalam hampir seluruh proses pembuatan video musik ini mulai dari pemilihan konsep kemudian pengambilan video hingga editing tahap akhir, Redam berkolaborasi dengan seorang videographer dari Semarang, Rifqi Fadhlurrahman. Pemilihan dua lagu tersebut untuk dijadikan sebuah video musik merupakan hasil diskusi dari Rifqi dengan Ari selaku vokalis dan penulis lirik dari kedua lagu tersebut.

“Setelah Ari memberi tahu garis besar sebuah lagunya, saya membuat intepretasi sendiri dari sudut pandang yang berbeda,” kata Rifqi.

Dalam video musik ini part single “Kadal” menceritakan tentang seseorang yang melakukan sesuatu tidak sesuai dengan kapasitasnya, memaksakan ambisi dengan cara yg tidak seharusnya, dianalogikan dengan konsep judi monopoli bersama 3 alien dimana aktor utama mengalami kekalahan. Kemudian berlanjut langsung ke part single “Hilang Rasa” yang menjadi respon dari single “Kadal”, dimana visual yang digambarkan adalah bentuk akibat yang didapatkan dari bermain judi dengan tiga alien tersebut.

“Visual yang ditampilkan memang sengaja dibuat nyeleneh, karena dalam video musik ini saya tidak ingin membawa penonton dalam konteks yang serius,” kata Rifqi menambahkan.

Video musik “Kadal/Hilang Rasa” ini sudah dapat kalian semua nikmati di kanal Youtube Redam. Dan saat ini untuk menikmati keseluruhan album “Useless” hanya dapat kalian dengarkan melalui akun bandcamp dari Otakotor Records, atau kalian bisa langsung melakukan pemesanan untuk rilisan fisik kami dengan menghubungi akun instagram @redam.id atau @otakotorrecords.

Selamat menonton!

Redam Band

@redam.id

Link Youtube “Kadal / Hilang Ingatan”:

CP: 081227831756 (Habib)

 

Single perdana Tessa, “A Song Before You Go”

doc from : press kit

 


Memperkenalkan sedikit tentang proyek kecil ini, Theresia Steffany atau yang lebih sering disapa Tessa, merupakan soloist baru asal Jakarta, yang mulai berkarya di Semarang. “A Song Before You Go” adalah single pertama yang digarap bersama Adi Tius atau yang biasa disapa Sore Tenggelam dan Luthfi Adianto, yang sudah dirilis pada tanggal 25 Februari 2019 di platform digital Spotify dan Soundcloud.

Saturday,

It’s early but i can’t sleep tonight

Glitters in my eye

They’re trying to get out from me

Menuliskan apa saja yang terlintas di pikiran, Tessa menyajikan lirik yang ia buat di catatan hariannya, kemudian ketika menemukan iringan gitar yang tepat, ia memasukkan beberapa tulisan yang ia buat ke iringan tersebut. Inspirasi lagu “A Song Before You Go” sendiri dekat dengan kehidupan sehari-hari dan teman-teman terdekatnya.

And they won’t stop

The ache won’t stop

Meskipun dengan lirik yang sayu, Tessa ingin pendengarnya tetap merasa syahdu dengan iringan gitar yang cukup simpel dan dan suasana teduh. Mengenai artwork single tersebut yang memilih latar suasana redup namun sembari memegang bunga matahari , menurutnya “Kalau kata temanku sih gloomy could refer as the world and the sunflowers are things that brighten up your life and u keep holding on to that. Kebetulan bunga matahari juga bunga favoritku

Can’t you see

How i can’t look at you

‘Cause i can’t let go

Lagu tersebut diakhiri dengan lirik yang menurutnya, merupakan satu dari banyak hal yang lekat dengan apa yang selama ini ingin diungkapkan namun belum sempat terucapkan.

doc from : press kit

Salam kenal, dan selamat menikmati.

Tessa

Soundcloud : theresyy

Twitter : theresyy

Instagram : theresyy

An Undiscovered Resonance, Gelaran Ke-9 Music Gallery Dari BSO Band FEB Universitas Indonesia

(Ki-ka) Eva – host press conference, Kenneth – PO The 9th Music Gallery, Laras – VPO The 9th Music Gallery. saat konferensi pers The 9th Music Gallery.

 


Longlifemagz Setelah sukses 8 kali menggelar festival musik tahunan yang diberi nama music gallery, kini BSO Band Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia kembali menghadirkan festival musik tersebut, gelaran yang ke-9 ini music gallery mengangkat tema “An Undiscovered Resonance” yang mana dengan tema tersebut music gallery menyorot segala sesuatu yang memiliki ciri khas unik, kreatif, dan berkualitas tinggi, namun karena satu dan lain hal, masih kurang didengar oleh sebagian besar masyarakat. Mengambil inspirasi visual dari Haight-Ashbury, sebuah distrik di San Francisco  yang dipenuhi bangunan-bangunan dan toko-toko berwarna cerah, The 9th Music Gallery menggambarkan musisi independen lokal sebagai permata tersembunyi dengan bakat yang patut diapresiasi oleh lebih.

“Temanya An Undiscovered Resonance, bertujuan mengenalkan kepada masyarakat luas tentang bakat-bakat musisi yang belum banyak didengar. Dari visualnya, inspirasi kita adalah Haight Ashbury, sebuah distrik di San Francisco, yang sepanjang jalannya tuh suasananya vibrant dan colorful. Kita mau buat Music Gallery ini dengan vibe yang sama seperti yang diberikan Haight Ashbury, dengan memiliki musisi yang bakatnya bagus-bagus banget, tapi belum banyak dikenal.” Ujar Laras saat sesi tanya jawab dengan media di konferensi pers The 9th Music Gallery.

“Tahun ini venue kita pindah ke Tennis Indoor Senayan sekarang, lebih luas dan lebih memungkinkan buat berekspresi. Stage kita juga berbeda, kalau tahun lalu, di Kuningan City ada main stage dan intimate stage. Intimate stage itu yang lebih kecil, karena memang hall-nya nggak memungkinnkan untuk fit dua stage besar. Namun, tahun ini, kita adainnya 2 main stage, sama-sama besar gitu, biar lebih memberi platform supaya si musisi-musisi ini dapat good stage gitu. Selain itu, ada pre-event tahun ini, yang kita lihat sebagai Mugal on the smaller scale, di Hatchi Jakarta Selatan kemarin. Kita mengundang beberapa musisi yang juga berbakat, tapi belum berkesempatan tampil di main event-nya. Tujuannya sih mau mengekspos lebih banyak musisi-musisi bagus, memberi mereka kesempatan untuk main, sebagai bentuk apresiasi juga terhadap musisi lokal.” ujar Kenneth

Photo by : Music Gallery

Selain menjadi wadah untuk memperdengarkan musisi-musisi lokal, semenjak empat tahun lalu, Music Gallery juga secara rutin mengundang artis internasional untuk menjadi bagian dari lineup-nya. Selain bertujuan memberi kesempatan bagi penikmat musik lokal untuk menyaksikan musisi internasional yang jarang tampil di Indonesia, pertunjukan artis internasional juga dapat menambah perspektif serta menjadi sumber inspirasi baru untuk skena musik lokal. Berbagai artis internasional yang pernah diundang oleh Music Gallery termasuk Tahiti 80, Panama, Last Dinosaurs, Honne, Beach Fossils, dan Novo Amor. Tahun ini, kami mengundang international artist yaitu yaitu FUR, band alternative pop asal Inggris yang dikenal dengan beberapa single ternamanya yaitu, “If You Know That I’m Lonely”, “Angel Eyes”, “Not Enough”, dan “Trying”.

Sama seperti event event kebanyakan, challenge yang dihadapi panitia yang peling sering adalah ketika proses mencari sponsor, Music gallery pun mengalami hal yang serupa namun dengan keyakinan dan juga usaha dari 200 panitia yang turut serta proses ini pun dapat dilalui dengan baik, kuncinya hanyalah menyatukan ke 200 orang tersebut yang memiliki perbedaan untuk menyatukan visinya demi kesuksesan acara.

Berikut rincian harga tiket The 9 th Music Gallery:

Presale 1        : Rp 95.000

Presale 2        : Rp 150.000

Presale 3        : Rp 200.000

Normal            : Rp 250.000

Early Entry      : Rp 125.000

Presale 1 dan 2 terjual habis, sedangkan tiket Presale 3, Early Entry, dan Normal Price masih dijual.

 

 

KOALISI NASIONAL TOLAK (KNTL) RUU PERMUSIKAN SEMARANG: BATALKAN RUU PERMUSIKAN!

photo by : Fendi

 

“Beberapa Pasal yang ada di dalam RUU Permusikan dinilai dapat membatasi kreatifitas berkarya bagi para musisi. Hal ini bukan hanya terkait dengan proses kreatif berkarya saja, namun juga dapat membatasi ekosistem belantika musik di Indonesia.”

SEMARANG, SABTU (16/2/2019) – RUU Permusikan yang sedang digarap oleh DPR RI, menjadi salah satu hal yang cukup meresahkan banyak musisi di Indonesia. Hingga saat ini, sudah terdapat ratusan musisi dari berbagai aspek menolak RUU tersebut.

Beberapa Pasal yang ada di dalam RUU Permusikan dinilai dapat membatasi kreatifitas berkarya bagi para musisi. Hal ini bukan hanya terkait dengan proses kreatif berkarya saja, namun juga dapat membatasi ekosistem belantika musik di Indonesia.

Semarang menjadi salah satu kota yang merespon untuk mendiskusikan polemik RUU Permusikan ini. Beberapa musisi yang tergabung dalam Koalisi Nasional Tolak (KNTL) RUU Permusikan Semarang, menggelar diskusi terkait hal tersebut, Jumat (15/2/2019) di Impala Space, Jl. Letjen Suprapto No. 34, Kota Lama Semarang.

Hadir di tengah diskusi P. Donny Danardono, SH, MagHum. (Dosen Ilmu Hukum Filsafat UNIKA Soegijapranata), Ivan Bakara (LBH Semarang), Adiyat Jati Wicaksono (Semarang Creative Consortium/OK Karaoke) serta moderator, Gatot Hendraputra (Impala Space/Jazz Ngisoringin).

Forum diskusi menemukan bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah industri musik di Indonesia, pemegang modal besar/major label tidak lagi memegang kendali atas jalannya industri. Disrupsi dalam industri hiburan menyebabkan ekosistem musisi independen/sidestream punya posisi yang lebih kuat dibandingkan dengan ekosistem yang dibangun oleh pemodal besar

photo by : Fendi

RUU Permusikan juga dinilai punya beberapa kepentingan dibaliknya seperti; Pembungkaman musisi yang aktif bersuara tentang isu-isu sosial yang berkembang, Kepentingan pemodal besar untuk kembali mengendalikan industri musik di Indonesia, Serta potensi pemborosan anggaran oleh Komisi X DPR RI untuk mengegolkan RUU Permusikan.

Saat ini masyarakat Indonesia telah sampai pada kesadaran politik bahwa masyarakat berhak untuk ikut mengontrol kinerja pemerintah/anggota parlemen yang mereka pilih. Namun dalam kondisi ini, parlemen masih pada mindset bahwa mereka lah yang seharusnya mengatur dan menertibkan perilaku dan ekspresi masyarakat, memposisikan diri mereka sebagai ‘bapak’ yang harus mendisiplinkan ‘anak-anak nakal’ dengan membuat peraturan yang mengikat dan membatasi.

Kontrol inilah yang ingin ditegakkan RUUP salah satunya dengan media “sertifikasi”. Menurut pengamatan Donny Danardono, ada beberapa aspek yang dibutuhkan dalam mewujudkan serfitikasi ini, salah satunya yang menjadi sorotan adalah “kode etik”. Dalam banyak pekerjaan profesional, kode etik ini diperlukan sebagai ukuran tanggung jawab profesionalisme dalam pekerjaan, sedangkan dalam hal ekspresi musik, sertifikasi pada musisi (non pengajar) tidak dapat diterapkan karena musisi dalam berkarya atau menampilkan karyanya ke khalayak, bukan hubungan antara profesional dengan klien.

Pada kenyataannya, ekosistem musik sebenarnya lebih membutuhkan perlindungan dalam menjalankan haknya untuk memperoleh penghidupan yang layak, bersuara, berekspresi dan berserikat. Bukan pembatasan yang tafsirnya mudah diselewengkan menjadi pembatasan atau bahkan pembungkaman.

Dalam hal pembatasan karya, Adiyat berpendapat kalaupun dirasa perlu untuk membatasi, yang bisa dibatasi bukan wilayah kreasi, kreasi sepenuhnya bebas, musisi sendiri yang memberi batasan. Yang bisa dibatasi adalah penonton atau konsumen musik, dengan klasifikasi, misalnya dengan memberi label imbauan konten, batas minimum usia, dan semacamnya dalam produk musik atau pertunjukan musik.

“Menurutku menarik karena mengumpulkan banyak musisi, produser rekaman independen dan kawan-kawan perfilman untuk bersama mendiskusikan soal RUU Permusikan, bahkan media tidak hanya ikut meliput tapi memberikan perspektifnya. Artinya dari peristiwa ini sebenarnya muncul kesadaran kritis baik individu maupun kolektif yang pada akhirnya bertemu. Ini positif menurut saya. Dan perlu digaris bawahi, ada atau tidak ada RUU Permusikan ini, musisi tak sepenuhnya aman, jangan lupa, jika salah satu pasal yang dikritisi  para musisi adalah Hal pembatasan ekspresi dan ancaman pidana, masih ada UU ITE, pasal tentang pencemaran nama baik, penodaan agama dan banyak lagi yang bisa dipakai membungkam musisi yang bersuara kritis,” ujar Adiyat.

Ia juga berharap kedepan musisi bersama elemen yang lain bisa mengawal terus proses demokrasi dan kebijakan-kebijakan publik yang lain yang sama-sama penting, seperti RUU Penghapusan Kekerasan Seksual atau RKUHP. Atau mengkritisi UU lain yang sama-sama mengekang hak berekspresi, mengemukakan pendapat, dan berserikat.

Ivan menambahkan bahwa diskusi ini sekaligus memberi refleksi bahwa sebelum musisi yang diupayakan untuk dibungkam, ada kawan-kawan dari pers, industri perfilman, masyarakat luas, dan aktivis yang telah dilakukan upaya-upaya pembungkaman. Ia mengajak agar masyarakat bersama-sama tetap mengawal pembatalan RUU Permusikan ini hingga selesai serta mengoreksi aturan-aturan karet lainnya.

“Sikap yang tepat bagi warga negara terhadap kasus semacam ini adalah dengan terus menyuarakan pendapat secara kolektif dengan cara terus berkumpul, berserikat, dan berpendapat. Selain itu, yang juga perlu terus diperjuangkan ialah ekspresi musisi sebagai salah satu wujud partisipasi dalam menyuarakan berbagai isu sosial yang harusnya justru dilindungi, bukannya dibatasi,” terang Ivan.

Sementara itu, menyikapi hasil “Konferensi Meja Potlot” yang bersepakat untuk membatalkan RUU Permusikan, Gatot Hendraputra mengingatkan seluruh peserta diskusi bahwa sebagai “bangsa yang pemaaf dan pelupa”, masyarakat tidak boleh terbuai dengan janji akan dibatalkannya RUU Permusikan dan terus mengawal pembatalan RUU Permusikan hingga tuntas.

photo by : Fendi

Juga dibahas semalam tentang potensi kasus RUU Permusikan ini sebagai media pengalihan isu, dan disimpulkan bahwa kasus ini bukan pengalihan isu dari permasalahan lain karena; Menurut peserta diskusi dari kalangan media, kasus ini hanya viral di kalangan tertentu, Untuk mengalihkan isu biasanya dibutuhkan kasus yang lebih bombastis dan lebih receh, Dalam diskusi tidak ditemukan isu penting lain yang berlangsung bersamaan waktu dengan kasus RUU Permusikan yang berkembang selama seminggu terakhir.

Koalisi Nasional Tolak RUU Permusikan Semarang lewat forum diskusi ini kemudian melahirkan poin kesimpulan sebagai berikut:

  1. Musik/suara tidak terlepas dalam wujud ekspresi, maka dari itu kebebasan berekspresi tidak boleh dibatasi maupun dicabut.
  2. Pengendalian dan pembatasan terhadap jalannya industri di bidang musik sangatlah merugikan dan mematikan ruang kreativitas masyarakat.
  3. Musik memiliki sifat multi tafsir, menjadikan musik sebagai alasan atas kriminalitas sangatlah tidak relevan.
  4. Jika RUU permusikan disahkan, maka akan menjadi sangat tidak efektif karena adanya tumpang tindih dengan undang-undang lainnya seperti UU terkait pendidikan, UU Pemajuan kebudayaan bahkan KUHP.
  5. Sertifikasi dan kode etik dalam wilayah seni musik tidak dapat diterapkan karena musisi dalam berkarya atau menampilkan karyanya ke khalayak, bukan hubungan antara profesional dengan klien.
  6. Apabila RUU Permusikan disahkan, berpotensi untuk membuka celah baru munculnya aturan-aturan lain yang mengekang masyarakat dalam aktivitas lainnya bahkan hingga ketahap yang sangat privat, hal ini tentu bertentangan dengan demokrasi.
  7. Meski beberapa elemen lain seperti “Konfrensi Meja Potlot” juga menghasilkan keputusan untuk menghapus RUU Permusikan. Perlu untuk terus mengawal agar RUU Permusikan yang cacat ini betul-betul clear and clean dihapus dari Prolegnas 2019.

 


FIND US ON

[et_social_follow icon_style="slide" icon_shape="circle" icons_location="top" col_number="auto" custom_colors="true" bg_color="#a70a0d" bg_color_hover="" icon_color="" icon_color_hover="" outer_color="dark"]

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.