1


Band Math-rock Murphy Radio Rilis “Gracias” Sebagai Single Pertama Di Album Perdana

Setelah cukup mencuri perhatian melalui single Sports Between Trenches tahun lalu, band math-rock asal Samarinda, Murphy Radio siap tepati janji mereka untuk merilis album di tahun ini. Bekerjasama dengan record label independent dari Singapura, An ATMOS Initiative, album perdana Murphy Radio akan dirilis pada tanggal 18 Agustus mendatang.

Dan sebagai permulaan, Gracias ditunjuk sebagai single pertama yang dilepas 10 hari lebih awal. Sama seperti judulnya, lagu ini adalah sebuah komposisi musik yang berangkat dari rasa terima kasih para personil Murphy Radio kepada semua orang yang telah mendukung dan mengapresiasi serta menjadi bagian dalam perjalanan mereka.

“Banyak hal yang dilalui dalam perjalanan bermusik Murphy Radio, pengalaman yang perlahan membangun kami untuk tetap konsisten berkarya serta achievement yang tak terduga. Ada juga pengalaman pahit yang dilewati dengan berat hati, dihadapkan oleh satu pilihan untuk harus berpisah.” ujar Wendra sang gitaris. “Semua tidak luput dari dukungan keluarga, teman-teman dan orang-orang terdekat yang tidak akan pernah cukup hanya diungkapkan dengan kata terima kasih saja, sebab itu Gracias lahir untuk mewakilkan rasa terima kasih Murphy Radio kepada semua orang yang pernah mendukung kami dalam hal apapun.” tambahnya.

Single Gracias bisa didengarkan melalui link berikut https://www.youtube.com/watch?v=_4DdV3IxhH8

Bersamaan dengan rilisnya single Gracias, sesi pre-order untuk format CD dan digital album Murphy Radio juga mulai dibuka melalui Bandcamp An ATMOS Initiative: https://anatmosinitiative.bandcamp.com/album/s-t

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

One day trip di Surokonto Kulon

Hiruk pikuk kesibukan yang selalu ada di kehidupan perkotaan selalu menghantui dalam pikiran seseorang dengan segala kerumitan di dalamnya , oleh karena itu banyak orang mencari tempat wisata untuk menghilangkan kepenatan dalam kesibukannya , bukan hanya untuk menghilangkan kepenatannya saja orang orang pergi ke tempat wisata namun mulai muncul kebiasaan baru untuk sekedar foto foto entah itu anak muda maupun orang dewasa.

Content goes here

Di desa Surokonto Kulon kecamatan Pageruyung tepatnya di sebelah selatan Kabupaten Kendal sekitar 1-2 jam dari kota Semarang , desa menawarkan sebuah destinasi wisata yang masih asli untuk di kunjungi , dari perjalanannya kita dapat temui sebuah pemandangan perkebunan palawija dan perkebunan pohon karet yang tertata , membuat kenyamanan dalam perjalanan menuju ke desa ini.

Setelah kita di suguhi oleh perkebunan palawija dan perkebunan pohon karet yang asik kita bisa datang ke sebuah warung mie ayam yang jarang di temui di Kota Semarang , biasanya mie ayam ini kita temui di Kota Jakarta yang biasanya di sebut mie yamin , citra mie yamin yang biasanya di santap dengan kuah yang sedikit di ubah oleh pengusaha warung di desa ini dengan mie yamin yang menyajikan kuah yang bisa kita atur sendiri entah kita mau sedikit atau banyak menaruh kuahnya tanpa mengubah citra rasa authentic mie yamin yang terkenal di kota megapolitan tersebut.

Doc Andrew Trinanda

Sehabis menyatap lezatnya mie yamin yang khas di desa ini kita akan datangi sebuah curug/air terjun yang masih asri dan belum tersentuh di desa ini , pada air terjun ini memeliki beberapa tingkatan dan bisa di akses dari beberapa jalan dari desa ini kalo kita melalui dari mie yamin sekitar 10 menit perjalan menaiki kendaraan dan 10 menit menitih jalan setapak , walaupun perjalanan menuju air terjun/curug ini cukup menantang andrenalin hal tersebut akan terbayar lunas dengan sampai ke tujuan curug/air terjun yang memiliki ketinggian sekitar 15 meter tersebut di desa ini curug tersebut memeliki beberapa nama yang populer di desa ini beberapa warga menyebutnya curug simolor juga beberapa orang menyebut curug simolor.

Doc Andrew Trinanda

 

Text : Bagas Herlambang

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

Film B, Film Kelas Dua yang Mempengaruhi Tarantino

 

ketika darah dipakai sebagai penyampai pesan: muncrat, berceceran, maupun berlumur di tubuh para aktor, muncul penasaran dalam diri saya akan film ini.

 

Longlifemagz – Ketertarikan saya akan Film B bermula dari cuitan @azzamkalakazam yang nyangkut di linimasa, saya pun segera mengontak kawan-kawan pemelotot film. Mumpung ada event filmmaker di Semarang, saya pikir otak yang sudah lama dipenuhi produk Hollywood ini perlu dipertemukan dengan para praktisi yang bertungkus lumus di industri ini.

Pemilik akun di atas belakangan saya ketahui merupakan sutradara dari salah dua film yang dipertontonkan di B-Movie Night (26/07) kemarin.

Perlu dicatat, saya bahkan tidak mencermati tajuk event tersebut yang berbunyi “B-Movie Night”. Motif saya waktu itu hanyalah untuk mengisi kegabutan di malam Jumat, tanpa peduli jenis film yang akan diputar.

Saat mengiming-iming teman saya dengan rayuan “Bang, gua ajak nonton film mau gak? Elu ga usah ngeluarin duit deh,” standpoint saya waktu itu cuma keinginan menonton enam film bergenre horor dan berjumpa para kreatornya. Sekedar itu.

Baru setelah enam film usai diputar dan sesi diskusi dibuka, terdengarlah istilah baru dalam khazanah perfilman saya: B-Movie (Film B). Sebegitu bodohkah saya sehingga mengabaikan genre film yang terpampang di tajuk event? Iya, saya sebodoh itu.

Eureka! Ada tiga filmmaker yang diundang tampil di –katakanlah- panggung, yang masing-masing bercerita soal Film B kreasi mereka. Sepenangkapan saya sih, Film B muncul untuk mengisi kekosongan segmen di Amerika sana. Ada segmen konsumen (penonton) yang menginginkan genre alternatif, dan Film B menyediakan itu. Bisakah disebut film kelas dua? Mungkin saja.

Diskusi selama sejam soal Film B memang sangat singkat terasa. Namun setidaknya saya bisa ancang-ancang, berapa duit yang bisa dibakar guna membikin film demikian. Karena rata-rata Film B berdurasi tidak sampai setengah jam, bujet yang dihabiskan pun tak terlampau mengiris dompet.

Film sejarah macam Rengasdengklok mungkin bisa menyedot belasan juta demi penyesuaian set dengan universe cerita asal. Film guyon seperti Mr. Bombastic lain lagi. Sang sutradara menyebut film itu hanya menghabiskan tiga lembar duit merah muda.

Sebagai pribadi yang sehari-harinya bergumul dengan penggemar Sukarno dan para pengamat politik Indonesia, saya amat tertarik dengan Rengasdengklok. Seperti halnya film sejarah Indonesia lainnya, film besutan Dion Widhi Putra ini mampu membuat mata saya nanar (Film biopik sejarah Indonesia apa pun mampu membuat saya mbrebes mili, percayalah).

Akan tetapi, untuk ukuran film yang menampilkan salah satu manusia paling berpengaruh dalam sejarah nusantara, saya merasa screenwriting disana terasa kurang menggigit. Saya menanyakan bagaimana persiapan materi, sebutlah riset, untuk membangun universe yang seharusnya dirumuskan dengan penuh takzim ini.

Dion, yang datang dari Jakarta, menjelaskan satu hal yang menjadi titik perhatian utama saya. Pada bagian eksplanasi seorang Sukarno, kata sifat “cerdas” dan “berbudi luhur” yang menjadi concern saya, ternyata merupakan pesanan almameter.

Yasudah, ketawa saya. Riset untuk film bertemakan sejarah seperti demikian memang sudah dilakukan, termasuk pengkondisian set dan naskah agar sesuai latar waktu itu. Dan saya jelas tidak bisa membantah lagi.

Dan berpijak dari banyaknya adegan (dalam enam film tersebut) ketika darah dipakai sebagai penyampai pesan: muncrat, berceceran, maupun terlumur di tubuh para aktor, muncul penasaran dalam diri saya.

Di Pocong Hiu Unleashed dan Goyang Kubur Mandi Darah pun kita dapat menangkap elemen khusus: sorotan masif ke kaki pemeran wanita (fetish). Apakah terdapat pengaruh Quentin Tarantino di sana?

Sayangnya saya terlewat menanyakan itu di diskusi kemarin, tetapi beruntung bertemu potongan eksplanasi dari Nuran Wibisono di Tirto:

   Quentin Tarantino kemudian menjadi sutradara yang dianggap memperkenalkan pengaruh film-film cult ke khalayak umum. Dia menulis skrip From Dusk Till Dawn, sebuah film horor yang berkelindan antara perampok bank, keluarga pendeta, dan para vampir. Tarantino kemudian semakin menunjukkan pengaruh itu lewat film Reservoir Dogs.

Kecintaan Tarantino pada film-film cult terutama dari kawasan Asia, semakin kokoh saat dia membentuk Rolling Thunder Pictures, perusahaan distribusi film yang bekerja sama dengan Miramax dan mengkhususkan diri merilis film-film indie dan cult. Meski hanya berusia 3 tahun, mereka berjasa mendistribusikan film-film seperti Chungking ExpressSonatine, hingga merilis ulang The Mighty Peking Man dan Switchblade Sisters—yang kemudian tampak memengaruhi karakter di film Kill Bill.

Mengenai apakah film B sama dengan film cult, di paragraf sebelumnya terdapat penjelasan:

Ada pula film B yang masuk sebagai film cult. Film B adalah sebuah istilah yang dipakai untuk menyebut film dengan bujet pas-pasan dan penggarapan yang juga seadanya. Tapi tak semua film B masuk dalam film cult. Lagi-lagi, syarat seperti keganjilan cerita, kejelekan make up, hingga busuknya jalan cerita, kerap menjadi faktor yang membuat sebuah film menjadi cult.

Dugaan saya bahwa penggiat genre ini terinspirasi dari film-film Tarantino yang sades abes itu ternyata salah besar. Justru Tarantino yang bnyak terpengaruh kebrutalan Film B!

Saya perlu berterima kasih kepada kreator film-film ini: Rengasdengklok, Monika, Darah untuk Anakku, Goyang Kubur Mandi Darah, Mr. Bombastic, dan Pocong Hiu Unleashed. Keenamnya telah memperkenalkan saya—dan barangkali publik Semarang- ke mainan baru, dunia yang tak pernah tersentuh sebelumnya. Mungkin saja akan ada lebih banyak Film B yang bakal saya lahap setelah ini.

 

 

Catatan B-Movie Night di Atlas & Co

Enam Film B Pertama yang menggugah

 

Longlifemagz – Kamis malam (26/7) kemarin bisa saya sebut sebagai salah satu malam bersejarah dalam hidup. Atlas & Co Banyumanik mengadaken pemutaran film Pengkhianatan G30S/PKI horor yang saya kira, akan hambar dan cepat terlupakan. Nyatanya, “bioskop” yang cuma seukuran ruang tengah kos tersebut sanggup membawa saya ke awang-awang, tanah yang dijanjikan, nirwana, atau apalah sebutannya itu.

Bahwa saya mengambil pensil dan mencorat-coret di buku catatan kecil, itu hanyalah kebetulan belaka. Dan bahwa saya memutuskan mengalihwujudkan catatan itu ke majalah ini, itu hanya keisengan semata. Pensilnya milik orang lain, sedang nyangkut di tas karena suatu tugas penting, buku catata baru kembali ke tangan setelah dua tahun hilang, laptop untuk mengolahnya pun bukan punya saya, jadi ini sejujurnya memang benar keisengan saja .

Namun izinkan saya menyampaikan coretan tentang enam Film B saya tersebut setelah kalimat ini berakhir.

 

Rengasdengklok

Ini adalah satu-satunya film berlatar sejarah di pertunjukan kemarin (26/7). Narasinya pendek: pemindahan (tokoh yang esok hari akan menjadi) sang proklamator ke Rengasdengklok. Bung Besar harus dibawa dengan selamat ke pos akhir. Karena rencana pemindahan menggunakan mobil gagal, Bung Besar harus dikawal dengan berjalan kaki.

Bukan Film B namanya jika tak ada keganjilan. Di sini, pihak musuh yang harusnya tentara Jepang, diubah sang kreator menjadi puluhan zombie layaknya serial The Walking Dead. Bung Besar dan pengawalnya terpojok, lalu terjadi “pertempuran” antara the living dan the dead.

Sebagai penonton Film B, kita memang tidak bisa menuntut kesempurnaan penulisan naskah atau sinematografi. Di Rengasdengklok, yang notabene berlokasi di Jawa Barat, kita justru tidak mendengar dialog berbau Sunda. Penjelasan bahwa tentara Indonesia waktu itu banyak yang ditarik dari Jawa mungkin bisa diterima, tapi wajarkah semua pasukan dikondisikan seakan fasih bahasa Jawa?

Satu lagi, adakah yang mencuri pandang ke perut salah seorang korban zombie, tepat ketika plastik penyimpan jeroan terlihat?

 

Monika

Masih berkutat dengan karakter zombie. Dunia yang sudah aman dari wabah berangsur pulih, termasuk kehidupan di sekitar Monika. Gebetannya melamar tepat di hari pengumuman kembali hidupnya kota mereka. Namun, Monika ternyata punya rahasia. Ia masih memelihara zombie, yang semasa hidup merupakan adiknya. Terdengar seperti zombie peliharaan The Governor di The Walking Dead?

Saya tidak mencatat terlalu banyak tentang film ini. Saya hanya berandai-andai, jika tepat sebelum adegan kencan kita disuguhkan momen ketika Monika mendekati zombie, lalu dia melakukan sesuatu yang berpotensi menyebabkan pengikat zombie peliharaannya lepas, maka kedatangan zombie saat Monika hendak dilamar bisa sedikit lebih masuk akal.

 

Mandi Darah Goyang Kubur

Tiga orang sahabat memperingati kematian temannya dengan bergoyang di malam yang penuh sambaran petir. Setelah pesta mini itu usai, giliran tiga orang tersebut yang mendapat teror dari sang pembunuh.

Ketika terdengar ketokan pintu dan ternyata orang yang membukakan pintu akhirnya menjadi korban berikutnya, saya menganggap keputusan dua orang tersisa untuk ke luar rumah mencari temannya ialah hal yang begitu bodoh. Jika saja terdapat dialog, atau paling tidak tatapan mata yang komunikatif bahwa mereka sepakat mencari dan menyelamatkan sang teman, maka kegusaran saya bisa terhalau. Mereka baru ditinggal dua temannya dan mengetahui ada pembunuh berkeliaran di sekitar mereka, kenapa mereka malah mereka mengendap-endap ke tempat sang pembunuh?

Kriptonit dalam bentuk dildo mungkin menyediakan efek kejut, tapi kita tak pernah mendapat penjelasan mengapa sang pembunuh alergi terhadap benda itu.

Mr. Bombastic

Ini film favorit saya. Pergulatan emosional seorang pria tanggung yang diejek akibat punya (titit) kecil. Hal menarik yang bisa ditemui dalam film ini antara lain: Alur nonlinier. Kita tak bisa menentukan alur cerita secara kronologis. Kira-kira lebih dulu mana, pemukulan di lahan kosong, momen singkat bersama pacar, atau bisik-bisik pem-bully-an di kampus?; Banyak sinematografi berupa kilasan ke masa lampau. Layar berganti secara cepat mengikuti iringan narasi dari karakter utama; Karakter utama tidak terlalu sehat dalam hal psikologis. Ia mengalami depresi akibat pem-bully-an.

Sebentar, ini saya baru menikmati karya Rafif Sujatmoko atau Christopher Nolan?

Darah untuk Anakku

Di awal, saya khawatir akan disuguhi film horor dengan formula deus ex machina, yakni ketika kekuatan spiritual (Tuhan) dipakai untuk menangkis segala rintangan, termasuk the main villain (dalam hal ini berarti setan). Pada akhirnya yang terjadi memang demikian, tetapi kita sedikit dikagetkan dengan plot twist saat karakter Ustad ternyata terbunuh juga.

Elemen suara serigala terdengar di bagian pembuka, tapi jika melihat latar perumahan, auman tersebut terasa cukup ganjil. Elemen dentingan jam juga dipakai, tapi saya bertanya-tanya mengapa sang kreator film tidak menampakkan jam tersebut sebagai upaya meyakinkan keaslian bunyi tersebut, di samping jam denting juga dapat menambah kesan mistis.

 

Pocong Hiu Unleashed

Film ini mungkin paling mendeskripsikan bagaimana kekuatan Film B: animasi tak molek, keganjilan jalan cerita, dan diumbarnya banyak darah. Keheranan di benak saya hanya muncul saat dua korban pocong pertama malah terlihat mencekik dan berusaha menghalau sang pocong “memakan” korban ketiga. Asumsi saya, mereka sudah tewas setelah digigit sang pocong.

Pertanyaan menyoal bagaimana bisa pocong menyemburkan laser tak perlu muncul. Ini Film B, Bung!

Tepuk tangan meriah untuk para filmmaker.

 

 

 

 

 

 

TOTAL DAMAGE – STRUGGLE FOR EXISTENCE

21 tahun merupakan perjalanan panjang untuk band Total Damage, Total Damage di tahun 2018 berhasil mengeluarkan album perdananya yang berjudul Struggle for Existence. Struggle for Existencepun mempunyai banyak makna, kutipan ini diambil dari lagu Total Damage yang berjudul “The Origin of Species”

Total Damage adalah band yang mengusung aliran Crust Grind yang berasal dari Selatan Jakarta, yang terbentuk pada tahun 1997. TOTAL DAMAGE diartikan sebagai kerusakan total pada seluruh aspek kehidupan manusia, yang diciptakan oleh manusia itu sendiri dan berdampak pada makhluk lainnya yang mengakibatkan kehancuran dan pemusnahan masal.

Untuk album ini TOTAL DAMAGE merekam 11 lagu dengan balutan crustpunk dan grindcore yang bertemakan tentang pembantaian masal, peperangan, konspirasi dan ideology dan di rilis dalam format kaset (Tarung Record) dan format CD (Grindcore Lokal). Pada album ini TOTAL DAMAGE berkolaborasi dengan Geboy (THE SABOTAGE, D’JENKS, OUT OF CONTROL), Irfan (ex-vocalist), Asti (AIRD), Ridwan (KECIKITTY) dan Derry.

Track list TOTAL DAMAGE – STRUGGLE FOR EXISTENCE.

  1. A GLAM LIGHT IN ASIA
  2. MARTYRDOM
  3. BANGKAI BERITA
  4. MINDLESS GREED
  5. MODUS OTAK SI TAMAK
  6. THE ORIGIN OF SPECIES
  7. UNITED IDIOT NATION
  8. PANUTAN KOTOR
  9. DEATH OF CANCER
  10. GREY
  11. THE NEW WORLD STRUCTURAL

Line Up

  • Gemma Iryandi (vocal)
  • JulisHead (guitar)
  • DediDobs (bass)
  • RifqiOklay (drums)

Discography

  • 1999, Compilation “UNITED ONE” Release on tape by Blank Records.
  • 2000, Ep “POLICE RACIST ACTION”. Release on tape by Blank Records.
  • 2001, Compilation “THE WAY IT CRUST TO BE” Release on tape by Oposisi Records.
  • 2002, 6 Way Split “BREATHLESS WAR” w/ Tersanjung XIII (Jakarta), Disreject (Surabaya), Social Distrust (Jakarta), Extreme Hate (Tangerang), Human Corruption (Surabaya). Release on CD/Tape by Tukangsayurekord.
  • 2003, Compilation “FIGHT BACK” w/ Dick Head, Rampageous, RSG, Allnationdeath, Setara, Refusal, etc. Release on CD/Tape by Trendy Crushers Records.
  • 2004, Compilation “WHAT’S WRONG WITH MY EARS?” Release on CD/Tape by Teriak Records.
  • 2004, Compilation “THIS IS WHERE WE COME FROM” Release on CD/Tape by Kolektif Records.
  • 2007, Split “RIOT SOUND FOR TOTAL SATISFACTION” w/ Silly Riot Release on tape by Movement Records.
  • 2011, Compilation “GRINDING AFTERMATH” w/ Agoraphobic Nosebleed (Massachusetts/USA), Brutal Truth (NY/USA), Hellcore (Jakarta/Ind), Kill The Client (Texas/USA), Otnamus (Malang/Ind), Rotten Sound (Vaasa/Finland), Social Shit (Buenos Aires/Argentina) and many more. Release on download link by American Aftermath and Grind To Death.
  • 2012, Compilation “YANG PENTING BERISIK” w/ Raw Resistance, Busuk, Lorenk Rusuck, Ninja Hatorry, To Die, Playing Dead Man, Maximum Thrash, Jeffrey Dahmer, Tumor Ganas, Sergapan Malam, and More Friends. Release on download link by Noiseblastmedia Production.
  • 2012, 4 Way Split “FRIENDS FOREVER WITH AN ASSHOLE GRINDER” w/ Maximum Thrash (Depok), Busuk (Depok), Raw Resistance (Jkt). Release on tape by Movement Record & Maximum Noise record.
  • 2012, Split “GLOBAL CONSPIRATION, MINDSET DESTRUCTION, TERROR ACTION” w/ Famine Sector (France). Release on download link by Leudrax-selber soundz infection (France).
  • 2012, Split “DEATH TO MANIPULATOR” w/ Disboikot (Malaysia). Release on download link by Tomat Records.
  • 2013, Split “BLOOD THIRSTY FUCKERS” w/ Human Trade (USA). Release on download link by TornFlesh Records (USA).

CONTACT

Nano 081298891869

td.grindcore@gmail.com

instagram @totaldamagegrind

https://totaldamage.bandcamp.com

https://soundcloud.com/tdgrindcore

180 menit Bersama Efek Rumah Kaca di Comfest 2018

Efek Rumah Kaca on stage Comfest 2018

Mulai dari album Sinestesia, Kamar Gelap, sampai Efek Rumah Kaca mereka suguhkan ke penonton.

 

Longlifemagz – Baru pukul 18.00 Wib ribuan penonton sudah memadati Hall Student UIN Syarif Hidayahtullah, Jakarta (13/7) pekan lalu. Banyak diantaranya tersebar di spot-spot sekitaran Hall, terdapat pula yang sedang duduk di pelataran samping hall, tempat foodtruck berjajar. Selebihnya mereka semua sama terlihat menyibukan diri dengan segala rutinitas. Sembari menunggu konser tunggal Efek Rumah Kaca di Comfest 2018, sebuah hajatan Hima Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Syarif Hidayahtullah, Jakarta.

Konser tunggal Efek Rumah Kaca kali ini sekaligus menyambut kedatangan Cholil dan Irma (voc dan Backing Vocal) kembali ke Indonesia. “Acara Comfest untuk tahun ini memang bertepatan dengan #Turkemarau2018 nya Efek Rumah Kaca, dan ternyata antusias penontonnya sangat baik.”, ujar Hilman salah seorang panitia yang sesekali bercerita tentang acaranya.

Hilman mengungkapkan, “Nantinya dalam konser tersebut mereka akan memainkan set panjang”, seraya tersenyum dan tak lupa sesekali ia menghisap rokok yang ada ditangannya.

Terdengar acara sudah di mulai, suara sayup-sayup dari dalam hall kian keras memanggil penonton untuk masuk kedalam. Mengetahui itu penonton kian bergegas memasuki hall. Namun sayang harus sedikit menunggu, antrian ternyata sudah terlanjur panjang.

Untuk mensiasati alur flow pengunjung, terdapat spot merchandise official Efek Rumah Kaca dan Photo booth disamping gate. Sesekali penonton melihat, membeli merchandise yang disediakan, dan  berswafoto di depan mural karakter The Popo yang sedang sinis dengan tagline “Konser Terus Sampai Mampus”.

Sekitar pukul delapan MC sudah mengajak penonton bersorak menyebut nama Efek Rumah Kaca, selayaknya ritual yang banyak dilakukan memanggil rockstar untuk on stage. Dan benar, Akbar, Poppie, Cholil (dan personil Efek Rumah Kaca yang lain) sudah tampak diatas panggung lengkap dengan sambutan gegap gempita dari penonton.

Tanpa basa-basi, segmen Merah yang terdiri dari lagu “Ilmu Politik”, “Lara dimana-mana”, dan “Ada-ada saja” mereka luncurkan secara berurutan. Selesainya Cholil menyapa penonton dan menjelaskan perihal maksud dari segmen merah, ia berujar ”Disituasi (politik yang klinis) kaya gini, kita tuh malah ga terpanggil, kaya tragis banget gitu, kalo kita ga kritis dan ngelawan itu”.

Segmen Biru, Jingga, dan Hijau mereka mainkan setelahnya, sama halnya dengan segmen Merah, mereka kembali menjelaskan maksud dari kumpulan lagu tersebut. Masuk ke segmen Putih, tempo lebih menurun. Lagu yang sarat akan kematian dan kehidupan, mereka lagukan dengan makna lagu yang merasuk.

Diperbantui dengan permainan lighthing yang tematik sesuai segmen lagu, memberikan penghayatan yang lebih. Sing along dengan penuh hayat tak terluapkan, diantara penonton bahkan memejamkan mati dan menggerakan badannya mengikuti alunan nada. Hingga berlanjut segmen kuning dilantunkan, buah tanda ditutupnya set bagian pertama, album sinestesia.

Rehat 15 menit, pertunjukan kembali dilanjutkan. ”Tubuhmu Membiru… Tragis” , ”Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa”, dan “Kamar Gelap”, didapuk sebagai set pembuka, suguhkan album Kamar Gelap.

Selangnya “Bukan Lawan Jenis”, “Menjadi Indonesia”, dan “Laki-laki Pemalu” dimainkan secara bergilir, yang disambut dengan dansa-dansi kecil oleh penonton. Masuk lagu “Di Udara”, artmosphere meluap tak terbendung. Crowd surfing terjadi beberakali, tepat di depan panggung seorang penonton juga memakai topeng Munir (aktivis yang dibunuh dengan racun didalam pesawat) menaiki punggung yang lain, seraya mengepalkan tangan dan bernyanyi “tapi aku tak pernah mati, tak akan terhenti.”.

“Jalang” , “Seperti Rahim Ibu”, dan “Merdeka”  yang dimainkan selanjutnya. Tidak henti-hentinya membuat penonton mengepalkan tangan, sekaligus sing along meramaikan part vocal. “Balerina” dan “Cinta Melulu” diperdengarkan kemudian, membuat penonton kembali menari dan menggila. Sesekali Irma dan Natasha Abigail jadi kordinator tarian bak acara pagi, penonton di sisi kiri stage mangikuti gerakannya dengan selaras.

Tidak terasa waktu hampir menunjukan pukul 23.00 Wib, menandakan acara akan berakhir. Dipilih “Desember” dan “Sebelah Mata” sebagai lagu penutup. Penonton tidak menyia-nyiakan moment terkahir itu. Hall bergema dengan suara penonton yang bernyanyi dengan kekuatan terakhir, walau sudah tiga jam bernyanyi, mereka memilih untuk tidak perduli.

Memang penonton malam itu, merupakan salah satu penonton yang paling atraktif yang pernah saya temui selama konser Efek Rumah Kaca berlangsung. Mereka bernyanyi, menari, moshing sampai surfing saat acara berlangsung, sesekali juga terjadi interaksi dialog antara penonton menimpali obrolan Cholil diatas stage.

Hingga berakhirnya lagu “Sebelah Mata”, penonton masih tetap stay didepan stage, seraya berujar we want more tanda meminta lagu tambahan. Hingga selesainya lagu terakhir, permintaan itu tidak terwujud dan masih saja tengiang. Semoga tahun berikutnya atau dilain kesempatan dapat dikabulkan. Terimakasih Efek Rumah Kaca untuk 180 menit quality time-nya.

 

 

 

Selain project serabutan, mencoba peruntungan pula sebagai penulis lepas, buruh event, dan usaha kecil clothing.

FIND US ON

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.

 

Pin It on Pinterest