1


SWEET SEVENTEEN THE UPSTAIRS

Jika diibaratkan manusia usia 17 tahun adalah masa dimana orang biasa menyebutnya dengan kata “remaja”, dimana pada usia tersebut remaja sedang mengalami puncaknya rasa penasaran dan juga produktif, sama halnya denga The Upstairs, menuju umur yang ke-17 The Upstairs juga telah merampungkan proses produksi, dan telah merilis single baru yang berjudul “Semburat Silang Warna”, single yang dirilis dalam bentuk klip video di kanal youtube ini menceritakan perihal gambar dari anak sang vokalis yaitu Jimi Multhazam, “..single ini kayak nerjemahin gambar anak gue aja sih…” kata jimi saat ditemui seusai manggung di parkir Lotte Mart Semarang Jum’at kemarin, Jimi Multazam yang juga menjadi vokalis band Morfem juga menyampaikan ia memilih gambar dari sang anak yang bernama Pijar karena menganggap bahwa gambar dari anaknya tersebut seperti gambar kontemporer, dengan imajinasi yang sangat liar Pijar menggambar Godzilla (karakter monster) kemudian ada orang orang dan juga gedung gedung yang terbakar dengan ke luguannya sebagai anak kecil. Lalu dengan bahasanya yang khas, Jimi Multhazam menerjemahkan gambar tersebut menjadi lagu yang berjudul “Semburat Silang Warna”

Photo doc : Instagram @theupstairs

Perilisan single ini juga terbilang unik karena single ini di rilis dalam bentuk video, bukan hanya bentuk perilisannya saja yang unik, video yang diproduseri oleh Toma & Kako ini juga memiliki konsep yang unik khas era 80-90an, dalam video ini terdapat permainan khas 80an yaitu dingdong, didalam mainan itu ada game yang berjudul “HANTAM”, game ini menceritakan ada sekelompok orang yang menjadi karakter dalam game tersebut yang sedang melawan sistem yang ada, hingga pada puncaknya mereka bertemu dengan Godzilla yang merupakan interpretasi dari gambar sang anak tadi. Dalam proses pembuatannya video klip ini pada awalnya memiliki penafsiran yang berbeda antara produser dengan Jimi Multhazam selaku penulis lagu, namun setelah dibuat story linenya Jimi pun cukup terkesima, hingga pada beberapa hari yang lalu diupload video ini sudah mencapai 19 ribu viewers.

Beberapa hari setelah perilisan single ini the upstairs juga mengadakan hearing season, dimana single mereka di perdengarkan untuk kalangan anak muda beberapa hari yang lalu dalam acara hear it first, selain anak anak muda The Upstairs juga memperdengarkan single mereka pada para penjual cd, kaset, dan vinyl di kawasan blok m, selain untuk promosi hal itu juga bertujuan untuk mendengar pendapat mereka tentang bagaimana perbedaan The Upstairs yang dulu dan juga yang sekarang.

Photo doc : Instagram @theupstairs

Untuk melengkapi single tersebut The Upstairs juga akan merilis sebuah EP Album yang berisi 5 lagu yang akan dirilis beberapa dalam hari lagi, dalam EP Album tersebut terdapat lagu “Luar Biasa Terkesima”, “Televisi”, “Alexander Graham Bell”, “Junkfood Sodom Gomora”, serta tak ketinggalan “Semburat Silang Warna”. EP Album yang dirilis Langen Srawa records ini seolah menjadi tanda kembali produktifnya The Upstairs setelah album Katalika yang dirilis pada tahun 2012 lalu.

EP ini menjadi pertanda karena beberapa waktu yang akan datang The Upstairs juga akan melakoni beberapa rangkaian tour, tour yang akan dijalani juga tidak sembarang tour karena tour ini akan sekaligus memperingati 17 tahun dari The Upstairs ini sendiri, lawatan tournya yang pertama akan ada di Kota kelahiran mereka sendiri yaitu Jakarta dalam gelaran Synchronize fest pada tanggal 5 oktober bertepatan dengan 17 tahun The Upstairs ini sendiri, kemudian dilanjutkan dengan kota Bandung dan Bali, The Upstairs juga mengajak teman teman kota lain untuk menghubungi kontak yang tertera di Instagram The Upstairs apabila ingin turut serta mengundang The Upstairs dalam rangkaian tournya kali ini.

Photo doc : Instagram @theupstairs

Tak berhenti sampai disitu, The Upstairs juga akan mengisi soundtrack film layar lebar yang bergenre komedi romantis garapan produser john de rantau, film yang diangkat dari cerpen karya Gumira Ajidarma ini akan diangkat dengan judul yang sama yaitu “Dilarang menyanyi di kamar mandi”, film yang diproduksi oleh Himaya Pictures ini tak hanya mengajak The Upstairs untuk mengisi theme song, namun juga untuk mengisi background background musik yang ada di film, rencananya The Upstairs akan membawakan beberapa lagu lama dan juga beberapa lagu baru untuk mengisi film tersebut.

Seberangi Tebing Hardcore yang Curam: Tiderays Rilis Demo 2018

Apa rasanya jika berjalan di pinggiran tebing yang curam, dengan terpaan angin dingin yang kencang? Bila itu tercurahkan dalam komposisi, Tiderays mewakili itu semua. Band asal Semarang ini merilis debut demonya dengan lantang membawa kejayaan swedish sound dalam hardcore (29/9).

Terbentuk awal tahun 2017 oleh Ghozzy El-Yussa (Vokal), Fauby Duvadilan (Bass), DFAhmad (Gitar) dan Gresia pada drum. Masing-masing departemen instrumen berperan membangun konstruksi yang telah dilakukan pendahulunya dari seberang Skandinavian dan Jerman. Secara kiblat, tersebutlah fragmen dari Entombed, Alpinist, Martyrdöd dan tentu saja His Hero is Gone. Mulanya, formula ini sebelumnya jarang dilirik oleh band-band Semarang. Kuartet ini malah memulainya dengan penuh berang.

Photo doc Tiderays

Terdapat dua komposisi dari demo yang dirilis via Bandcamp. “Syllable Perishable” yang dibuka dengan raungan riff depresif, dengan sontak menghunus melalui raungan gitar chainsaw, membuat darah notasi muncrat dimana-mana. Mendengarnya tak perlu diurai dengan sulit: kotor dan kelam.  Untuk tak menimbulkan syak wasangka, “Proposition Distrait” akan memperkuat pendengar kalau tebing yang curam perlu untuk dilewati, meski bisa saja jatuh mati. Sensasi itulah yang terasa, apalagi derap d-beat dan black metal berpadu dengan beringas.

Menengok energi mereka tak cukup pada musiknya semata. Mereka aktif di skenanya, memberi waktu lebih kepada komunitas. Niscaya, jalan luas terbentang. Tiderays juga memulai langkahnya secara organik. Beberapa waktu silam melakukan tur 11 kota di Jawa-Bali bersama kolega satu kotanya, Hearted. Upaya ini akan membentuk mental dan keberanian untuk konsisten di masa depan, seiring dengan album penuh bertajuk 401 yang rencananya rilis pada penghujung tahun 2018. (*)

Photo doc Tiderays

Tiderays – Demo (2018)
https://tiderays.bandcamp.com/album/demo

All songs written and performed by Tiderays
All lyrics by DFAhmad
Recorded at 4WD Studio Semarang in Juny 2018
Except vocal recorded at Riverse Studio Jepara
Mixed and mastered by I Made Dharma (e: imadedharma27@gmail.com)
Artwork and cover by Bonifasius Rendy (e: rendybonifasius@gmail.com)

Info:
+62 822-4281-8609
E: tiderays401@gmail.com
IG: @tiderays401
FB: Tiderays

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

RAISA PECAHKAN SUASANA SCOOTER 2018

Raisa on stage SCOOTER 2018

Gegap gempita pesta tropikal akhir pekan.


SCOOTER “Smapa Cool Termination” 2018 acara tahunan yang diprakarsai siswa-siswi SMA 4 Semarang, kembali diselenggarakan dengan balutan yang berbeda. Hajatan tahunan ini selalu menghadirkan bintang tamu yang sedang trend pada masanya, SCOOTER mengulang kebiasaannya setiap tahunnya. Seperti ditahun 2016 mengundang Gugun Blues Shelter dan Sandhy Sandoro , ditahun 2017 Dhyo How dan Tulus didaulat sebagai guest stars.

SCOOTER bisa dikategorikan sebagai salah satu penyelenggara pensi terbaik di Semarang. Dari tahun ke tahun selalu menyuguhkan konsep baru, menyuguhkan sesuatu yang unik, dan berbeda dari pensi lainnya. Mengangkat tema “Trentxation”, SCOOTER menyuguhkan balutan konten lekat akan nuansa pesta tropical yang dimeriahkan melalui special performance dari Raddest, Reality Club hingga Raisa.

Hari yang cerah menyelemuti Lapangan Sepak Bola SMA 4 Semarang, (15/9/18) pekan kemarin. Buah dukungan semesta menyambut kemeriahan SCOOTER tahun ini. Ada yang menarik dari perlehatan Scooter tahun ini. Sebelum penonton sampai stage utama, mereka harus melalui spot area dengan berbagai dekorasi ciamik yang mendukung kemeriahan hajatan ini..

Setelah memasuki gate, penonton akan berjalan melewati semacam labirin yang sudah dihiasi sedemikian rupa. Dengan sorotan lighting ditambah ornamen dedaunan warna warni dilangit labirin mengesankan seolah penonton dibawa imagi-nya berada pada sebuah pesta tropical yang sangat menawan. Selanjutnya flow menuju kearah spot yang pastinya instagramable. Hingga akhirnya menuju kearah spot food and bevagre dan berlabuh di main stage.

Photo doc : Henggal Wismana

Dengan melihat susunan line-up pengisi acara SCOOTER tahun  ini, maka tak heran penonton pun terlihat sudah memenuhi venue. Dimulai sekitar pukul 19.30 WIB, acara dimulai dengan suguhan drama musical bertajuk “Stafors La Mostra” karya anak SMA 4 Semarang. Diselingi oleh performance paduan suara, pencak silat, traditional dance hingga modern dance, membuat sorak sorai penonton tak terhindarkan.

Dilanjutkan oleh performance dari Raddest yang tampil dengan baik dan provokatif malam itu. Dengan lantunkan Electronic Dance Music (EDM) yang disuguhkan membuat penonton berdansa menikmati malam. Selanjutnya Reality Club tunjuk ditunjuk untuk memeriahkan SCOOTER 2018. Unit indie pop asal Jakarta bernama ini menawarkan sesuatu yang berbeda. Melalui lagu-lagu yang sederhana, mereka meramu musik yang tidak hanya enak, tapi juga masuk untuk didengarkan oleh siapa saja. 

Photo doc : Henggal Wismana

Photo doc : Henggal Wismana

Raisa menjadi closing performance dan  puncak acara dari SCOOTER 2018. Romantic Atmospehere disuguhkan oleh Raisa dengan dinyalakannya flashlight handphone dari para penonton saat menyanyikan lagu ‘Arti Menunggu’. Malam yang cerah semalam, membuat lapangan terasa seperti cermin dari langit yang cerah dan penuh bintang, Raisa berhasil menutup SCOOTER 2018 dengan spektakuler yang tentunya membuat para penonton tidak merasa rugi jauh-jauh datang dengan lagu ‘Could It be”’.

Lengkap sudah pesta tropikal yang diusung oleh SCOOTER 2018 berjalan malam itu. Keriangan nampak masih melekat pada wajah setiap penonton ketika meninggalkan venue.

Photo doc : Henggal Wismana

Photo doc : Henggal Wismana

 

 

Si awam yang mau berpikir sampai ke awan.

ALL TIME LOW AKHIRI FESTIVAL MUSIK HODGEPODGE SUPERFEST 2018

All Time Low menguasai panggung utama Supermusic Stage dan membuka penampilannya dengan lagu “Damned If I Do Ya (Damned If I Don’t)“.

 

LonglifemagzHodgepodge Superfest 2018 resmi berakhir. Festival multi-genre yang di selenggarakan selama 2 hari dari 1 sampai 2 September 2018 diakhiri oleh penampilan grup musik asal Amerka, All Time Low. Selain All Time Low, hari terakhir Hodgepodge Superfest 2018 dimeriahkan oleh Gallant, Lil Yachty, Cloud Nothings, The Hunna, Tayla Parx, Park Hotel, Kid Francescoli, The SIGIT, The Brandals, Rendy Pandugo, Endah N Rhesa Extended, Tomorrow People Ensemble x Eka Annash, Pee Wee Gaskins, Onar, SoftAnimal, dan M.A.t.S.

Di sore hari, Tomorrow People Ensemble x Eka Annash menampilkan lagu-lagu David Bowie dan mempersembahkan lagu Heroes untuk para atlet di Asian Games.Walaupun sempat terhentikan karena cuaca, penampilan Gallant di Supermusic Stage tetap memukau dengan vokalnya yang kuat. Bahkan, saat menyanyikan lagu andalannya Weight in Gold, Gallant sempat turun panggung dan bersalaman dengan fansnya.Tidak basa basi, selesainya Gallant tampil, Rendy Pandugo menaiki panggung CBN Stage dan pengunjung pun memenuhi area panggung tersebut dan bernyanyi bersama Rendy.

Menjelang pukul 11 malam dimana grup musik asal Amerika, All Time Low dijadwalkan terdengar lagu Indonesia Raya dan pengunjung diminta untuk menyanyikan lagu kebangsaan negara Indonesia sambil menunggu All Time Low menaiki panggung. Tidak lama kemudian, All Time Low menguasai panggung utama Supermusic Stage dan membuka penampilannya dengan lagu “Damned If I Do Ya (Damned If I Don’t)“. Alex Gaskarth, vokalis All Time Low cukup aktif berbicara dengan penggemarnya dari atas panggung. Karena sudah 5 tahun lamanya All Time Low terakhir ke Jakarta, Alex bertanya kepada para penggemarnya apa yang telah mereka lakukan selama 5 tahun tersebut.

Menjelang akhir penampilannya, All Time Low sempat mengibuli penggemarnya dengan keluar dari panggung diwaktu yang cukup lama. Hustlers, sebutan untuk para penggemar All Time Low memanggil mereka untuk kembali ke atas panggung dengan menyanyikan lagu andalan mereka, “Dear Maria, Count Me In“. Tidak lama kemudian, Alex Gaskarth, Jack Barakat, Zack Merrick dan Rian Dawson kembali ke atas panggung. Saat menampilkan lagu terakhir, sang gitaris, Jack Barakat turun dari panggung dan membuat penggemar mereka histeris.

Hodgepodge Superfest 2018 resmi berakhir, festival multi-genre tahun pertama ini ternyata dikunjungi oleh beragam orang mulai dari warga lokal sampai warga asing. Java Festival Production akan kembali menghibur masyarakat pada 1 – 3 Maret 2019 untuk merayakan 15 tahun Jakarta International Java Jazz 2018.

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

Synchronize Festival, Pesta Musik Indie Yang Selalu Dinanti

Crowd penonton Synchronize Festival (Photo by doc. Dyandra.com)

Tanggal 5-7 Oktober yang akan datang, akan berlangsung “pesta musik indie” Indonesia. Ya, Synchronize Festival 2018 akan segera datang tidak lama lagi.

 

Longlifemagz – Synchronize Festival yang merupakan festival musik indie multi genre terbesar di Indonesia ini akan kembali hadir, diselenggarakan selama tiga hari dengan jumlah penampil yang bisa dibilang “diluar akal sehat”. Sederet musisi dan band-band dengan total 114 penampil akan ikut serta memeriahkan acara ini, macam Bugerkill, Danilla, God Bless, Ras Muhammad, Sheilla On 7, Nasida Ria, Tiga Pagi, White Shoes and The Couple Company, Superman Is Dead, sampai Rhoma Irama.

Acara yang diselenggarakan atas kolaborasi hebat Dyandra Promosindo dengan Demajors Record ini akan diselenggarakan di JIEXPO Gambir Kemayoran. Tiket yang ditawarkan pun terbilang cukup murah, 3 day pass di banderol dengan harga 400 ribuan, tiket daily reguler seharga 250 ribu , dan 170 ribu untuk daily early entry. Nominal yang cukup murah jika melihat deretan penampil yang akan memeriahkan acara tersebut.

Synchronize fest sendiri merupakan acara tahunan yang pada setiap gelarannya akan selalu menghadirkan artis artis terfavorit dan juga terbaik tanah air. Bukan hanya lintas genre musik, synchronize fest juga akan menampilkan artis-artis lintas generasi, mulai dari era 70-an, 80-an, 90-an hingga artis-artis pendatang baru yang mulai menjajaki industri musik Indonesia.

Akan ada beberapa stage yang disediakan nantinya, tetapi yang menarik sejak beberapa tahun terakhir adalah adanya gigs stage, dimana di gigs stage ini akan di konsep seolah ada di situasi panggung cafe’ atau bar kecil tempat awal artis artis tersebut memulai karir. Konsep tersebutlah yang akhirnya membuat rasa intim baik antar penonton dengan penonton juga penonton dengan artis akan lebih kental.

Walaupun acara belum dimulai, pun sudah terlihat meriah, jadi tak ada alasan untuk tak datang ke Synchronize Festival tahun ini. Untuk mendapatkan tiketnya Synchronize Fest menyediakannya di portal online seperti bukalapak, caranya adalah buka portal buka lapak melalui browser atau aplikasinya di smartphone, kemudian pilih menu e-voucher & tiket event, kemudian pilih synchronize fest, pilih day pass yang diinginkan, klik lanjut, beli dan selesaikan pembayaran. Have fun and enjoy the show! See you there!

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

DUNIANUDIA DALAM SEBUAH KESEDERHANAAN

Doc : DUNIANUDIA

“Musisi harus menciptakan musik. Pelukis harus menggoreskan lukisannya. Penyair harus menulis sajaknya. Mereka harus mencapai kedamaian dalam diri mereka sendiri. Seseorang harus menjadi apa yang mereka bisa” kutipan dari Abraham Maslow ini selalu terngiang dalam benak diri seorang Nudia Muntaza. Berangkat dari EP berjudul “Berbisik” Nudia Muntaza melalui Dunianudia sebagai project solo musiknya ingin melangkah menuju pengaktualisasian diri.

‘Berbisik’ merupakan EP (Extended Play) yang berisi 4 buah lagu setelah di awal tahun 2017 Dunianudia sempat mengeluarkan sebuah single perdana berjudul ‘Paranoia’. “Berbeda dari single pertama, 4 lagu dalam EP ini mempunyai nada dan akord yang lebih sederhana. Seperti pada lagu ‘Sore’ yang juga sebagai single dari EP ‘Berbisik’, mempunyai nada yang mudah diterima telinga dan terkesan ringan”, kata Nudia Muntaza. Dingin dan abu-abu dianggap mampu mengemas suasana yang terdapat dalam EP ‘Berbisik’. Selain ‘Sore’, 3 lagu lainnya berjudul ‘Berhenti’, ‘Bilur’ dan ‘Berbisik’.

Tentunya tidak sendiri, pada proses penggarapan EP ini Dunianudia banyak berkolaborasi dengan musisi-musisi dari Yogyakarta, seperti Hisar Sinambela (Robbrs), Ady Ekayana (Noemi), Astarina Dian, Steven Kurniawan, Puthut Probo, Invalidiant Chandra, Hasty Lutfia, dan masih banyak lagi. Seperti pada single pertama, Dunianudia masih bekerjasama dengan Sodapop Records dan Elmo Ramadhan pada proses produksi. Adapun untuk vokal direkam di rumah Dhandy (Summerchild) dan perekaman drum di DS Records.

Pada tanggal tanggal 23 Agustus 2018, Dunianudia juga telah merilis video lyric dari single ‘Sore’ yang bekerjasama dengan Eustakius Rakyan dan tim. Adapun lagu-lagu dalam EP Berbisik akan segera bisa didengarkan melalui kanal-kanal digital seperti iTunes, Spotify, JOOX dan aplikasi digital music streaming lainnya.

Dunianudia berasal dari Yogyakarta dan merupakan project solo musik dari Nudia Muntaza. Beberapa info mengenai Dunianudia bisa dikunjungi pada laman medsos-nya, seperti Instagram/Twitter/Fanpage Facebook: @dunianudia

Doc : DUNIANUDIA

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

FIND US ON

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.

 

Pin It on Pinterest