1


RIEN JAMAIN, BERBICARA TENTANG PANGGUNG PERTAMA, PERJALANAN BERMUSIKNYA, PERAN PEREMPUAN, SAMPAI KESAN HUMORIS YANG MELEKAT

Rien Jamain, personil Nasidaria saat ditemui dikediamannya ll Photo by Fakhri Hardianto

Adalah generasi pertama dari Nasidaria, grup musik qosidah modern yang sempat menyita perhatian publik dalam kurun tahun 2016-2017, melalui video musik mereka yang berselebaran didunia maya yang berlirik lelaki kampret (dengan judul Wajah Ayu Untuk Siapa).


 

Longlifemagz – Jika anda kelahiran era 70-an akhir sampai 90-an awal mungkin tidak asing dengan grup musik ini. Nomer-nomer hits mereka pastilah menemani telinga-telinga anda, seperti lagu “Kota Santri”, “Bom Nuklir”, “Jilbab Putih”, sampai “Perdamaian”. Atau setidaknya sekelibat terlintas mampir ditelinga, saat bulan puasa tiba.

Namun bagi para generasi millennial, Y, sampai mungkin Z, banyak juga tahu mereka dari unggahan-unggahan akun dimedia sosial, yang akhirnya menimbulkan rasa penasaran, mencari tahu siapa mereka, mendengarkan lagunya, sampai-sampai mandaulat diri jadi fans mereka.

Tampil di RRRC Festival tahun 2016 adalah diantara faktor lain kenapa mereka kembali gaung, terkhusus dianak muda generasi sekarang ini. “Alhamdulillah, saya banyak terimakasih sekali kepada remaja-remaja sekarang yang mau mendengarkan lagu qosidah,” ujar Rien dengan tegas.

Siang itu, Longlife Magazine mengunjungi rumah dari salah satu personil legenda musik grup qosidah Indonesia Nasidaria, Rien Jamain. Tepat dikediamannya daerah Gunungpati, Semarang yang cukup asri dengan pohon besar diperkarangan rumah. Cukup jauh dari pusat kota (kurang lebih 30 menit), suasana lingkungan dikediamannya terbilang tentram dan nyaman.

Busana muslim dengan warna yang cerah, lengkap dengan jilbabnya, terlihat datang menyambut kami. Kesan awal, bahwa ia akan tertutup, seadanya, dan serius hilang disaat disela perbincangan ada saja keluar canda dari mulut beliau, kadang tertawalah kami dibuatnya. “Alhamdulillah ini dari sananya mas.”, ujar Rien sembari tertawa. Ya, memang benar beliau itu ramah, terbuka, menyenangkan dan humoris.

Dalam asyiknya bercerita, ditengah waktu ia sempat terhenti saat ada seorang yang bernyayi didepan pintu kediamannya, pengamen pria dengan gitar kopongnya. Sejenak ia terdiam, merenung, dan berujar kepada kami dengan lirih : kadang saya kalau melihat pengamen, jadi inget waktu dulu (masa awal dimana Nasidaria tampil didepan umum, dan merintis mencari panggung).

Hingga kini beliau menjadi salah satu orang yang dituakan di Nasidaria, 43 Tahun aktif digrup qosidah modern itu. selama 42 tahun ia bermain dengan bass-nya, lengkap dengan gaya khasnya ala Rhoma Irama, mengganti pemain bass lamanya yang beralih ke guitar. Kini lebih banyak Rien menjadi MC dikala manggung, namun sesekali tetap bermain bass.

Selama 43 tahun tergabung dalam grup Nasidaria terlalu banyak moment yang beliau kenang dan berkesan yang diceritakan, mulai dari bagaimana ia belajar musik, bergaya saat bermain bass seperti Rhoma Irama yang merupakan idolanya dalam bermusik, peran perempuan, sampai dirinya yang menjadi tempat curhat bagi teman-temannya. Berikut adalah wawancara kami dengan beliau.

Awal temen-temen dan Ibu masuk Nasidaria gimana?

Nasidaria kan Awalnya asrama, kita pertama itu belajarnya seni membaca al-quran, lokasinya di Kauman 58 semarang. Terus yang pertama itu bapak (Alm) H. Muhammad Zein adalah penggagas sekaligus guru. Beliau ini kerjannya di DEPAG (Departemen Agama) dibagian seni membaca Al-Qur’an. Setiap jumat pagi kita membaca Al-Quran dengan lagu – lagu. Dan kemudian di kumpulkan oleh bapak dari berbagi daerah yang kira – kira anak itu bisa dibimbing dan diberikan pelajaran mengaji dengan lagu – lagu.

Setelah itu, banyak juga ternyata anak – anak yang menguasai itu. Bapak kan orangnya seni sekali. Bapak mencoba membimbing untuk menyanyikan lagu-lagu dari arab atau qasidahan. Karena kan setiap orang yang bisa ngaji pasti kan bisa nyanyi, tetapi orang yang nyanyi belum tentu bisa ngaji. Sampai akhirnya itu terus dibimbing dan dilatih oleh Bapak. Dan bisa.

Berarti posisisnya Bapak Zein yang mencari sendiri personil Nasidaria atau sebaliknya?

Bapak kan mengajar sampai kota dimana saja(khususnya jawa tengah). Karena bapak itu ngajar jadinya bapak tau potensi-potensi yang ada, bibit yang bisa membaca alquran lah. Akhirnya dikumpulkan di semarang (pondok di Kauman, Semarang) dan diajak bergabung dengan Nasidaria. Setelah jadi Nasidaria, kita dipanggung juga mengumpulkan Nasidaria untuk generasi berikutnya. Siapa yang mau ikut nasidaria boleh bergabung dengan kami. Syaratnya adalah perempuan, mempunyai akhlaq yang baik, usia sekian, kalau masalah wajah ya alhamdulillah. Kalau dulukan tidak diutamakan, yang penting itu mempunyai akhlaq yang baik. Karena akhlaq yang bagus itu bisa menjaga keimanan. Kalau anak muda sekarang kan wajah di dahulukan, tapi buat apa kalau punya wajah tapi gapunya kemampuan. Ya kita mencari juga langsung dites disitu.

Waktu konser pertama itu dimana Bu berarti?

Ya karna bapak itu orang DEPAG, jadinya kalau ada kegiatan yang dilangsungkan di DEPAG itu kita diundang. Acara – acara seperti pengajian atau bahkan perayaan hari besar agama Islam. Nah, kita juga sekalian promosi dari situ. Kita tidak mencari uang, tapi latian berani tampil didepan panggung. Kadang di Balaikota, Kantor Kementrian, di RRI dan sebagainya. Lama kelamaan kita diundang di alun – alun, di Masjid-Masjid besar, dan juga konteks yang lebih besar. Itu sekitar tahun 75-an akhir.

Waktu konser pertama itu umurnya berapa?

Sekitar umur 19 – 20

Waktu manggung pertama kali itu ada perasaan malu?

Yah pasti malu dong, makanya kalau di Kauman itu bener-bener latian panggung. Dulu tuh saya dikamar sampai latihan berdiri, bergaya-bergaya, latihan berbicara, bagaimana supaya orang bisa seneng. Cara berjalan juga saya latihan. Pakai dipan itu, saya sering latihan, Ya karna bapak (Bapak Zein) itu orangnya detail banget itu. Pokoknya waktu itu lucu-lucu prosesnya. Kita juga doa baca apa saja biar ga dredeg (grogi).

Dokumentasi Nasidaria, disaat mereka berkunjung tampil di Jerman.

Manggung yang paling berkesan dimana?

Beda-beda yaa, setiap tempat punya ciri khasnya sendiri-sendiri. Seperti di Malaysia misalnya, waktu kita manggung ya, gaboleh ada gerakan, hanya diam saja, karena tidak boleh. Jadi saya waktu ngebass itu, gabisa gaya gitu, heheh. Beda lagi waktu di Jerman. Orang Jerman itu gaperduli, ada musik seperti ini dijoged. Waktu itu selain lagu Nasidaria, kami selipkan juga lagu “Kopi Dangdut”. Wah lagu itu diulang-ulang, orang senengnya bukan main itu. Wah luar biasa waktu itu. Termaksud yang terakhir itu, RRRC fest dan Holy Market itu.

Ada perbedaan ga antara manggung waktu dulu sama yang sekarang? Ya kan waktu zaman dulu perempuan di angagap sebelah mata.

Kalau sekarang kan perempuan sudah diangkat derajatnya, emansipasi wanita. Nah ada lagunya juga tuh emansipasi wanita. Dulu kan perempuan masih dijadikan budak, pada zaman rosul juga begitu. Padahal wanita juga perannya berat, jangan diangagap enteng. Laki – laki yang mencari nafkah dan perempuan mengaturnya.

Kalau misalkan waktu bisa diulang di fase Nasidaria, Ibu pengen balik di waktu apa?

Wah itu ya. Waktu umur 25 tahun. Pokoknya itu lagi saat Masyaallah, Subhanallah seneng-senengnya itu di Nasidaria. Syuting sana, syuting sini. Baru berdiri Masjid Istiqomah yang di Ungaran itu, kita jadi poster. Trus di Bandungan, kemana saja waktu itu kita jalan-jalan, heheh. Pokoknya senengnya kita mau jadi apa, mau seperti apa, nanti kedepannya seperti apa, kita belum terpikirkan pada waktu itu. 20-25 tahun, itu pokoknya berkesanlah, heheh, belum mikir yang susah-susah.

Berarti waktu tahun itu, Nasidaria lagi terkenal-terkenalnya ya bu?

Iya itu, heheh. Kita dulu kalau main (manggung) dimana gitu, sorenya kita dikelilingkan (pawai) dahulu. “Jangan lupa saksikanlah Nasidaria”, seperti pakai pengeras suara. Itu dimana-mana seperti itu. Ya di Semarang, diluar kota juga. Apalagi di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, pasti seperti itu. Jadi kita awal datengnya, nanti pas sore kita sudah diarak pake mobil terbuka tuh, trus ada pamfletnya gitu Nasidaria Semarang gitu. Wah itu sudah ramai itu nanti yang datang.

Kalau diluar kesibukan ibu sebagai perempuan, aktif juga engga berkegiatan di luar nasidaria?

Oh iya pasti ikut berpartisipasi dalam bermasyarakat. Seperti pengajian dari RT, RW, di Gunungpati (daerah kediamannya) juga ada. Ya namanya kita bermasyarakat ya “ojo dumeh” jangan sombong intinya. Kamu masuk tv, cuman tidak mau bermasyarakat. Jadi tetap bermasyarakat. Kalo kita punya ilmu walau sedikit ya harus diamalkan. Jangan seperti, ibarat ”Pohon yang lebat daunnya, namun tidak berbuah,” .

Pendapat ibu untuk perempuan sekarang seperti apa?

Sekarang banyak ya pengajian-pengajian perempuan seperti itu. Dan banyak juga yang memakai jilbab. Insyallah berani memakai jilbab, berani mulai menata dirinya. Jangan lupa juga ditata keimanannya, jangan sampai sudah berjilbab, tapi Alhamdulillah sekarang sudah ada kemajuan ya, banyak yang sudah berjilbab. Sudah mulai ditanamkan pondasi-pondasi agama seperti itu. Berdakwah itu tidak mudah, kalau kita sudah bicarakan, harus bisa dijalankan juga. Insyaallah kita bisa menjalankan. Tidak terlalu fanatik, asalkan kita tidak melanggar norma-norma agama, dan bisa menjaga batasan-batasan norma.

Dari sembilan personil, yang paling deket, temen nongkrong, sampai temen curhat yang mana Bu?

Dulu mereka pada curhat semuanya ko ke saya, hehe.

Berarti jadi tempat curhat gitu bu?

Oh iya itu. Sampai sekarang tuh pada curhat. Belum lama mba Nunung kemari, habis cerita. mengundang juga anaknya mau ada pernikahan. Dulu saya juga gatau si, kenapa saya jadi tempat curahan temen-temen ya. Sampai sekarang mas masih banyak yang meminta pendapat gitu kalau ada apa-apa. Mungkin saya kalau ada yang cerita, cukup tahu gitu ya. Apa itu, tidak bocor ya seperti itu. Kalau saya bisa menulis itu bisa jadi berapa tumpuk buku itu, heheh. Karena memang pada seneng sama saya mungkin ya.

Mungkin karena ibu humoris kali bu?

Iya mungkin yaa, dulu ada yang bilang “ko waktu saya dirumah keinget bu Rien jadi tertawa sendiri”. Apa yang saya lakukan ko, pada senengnya, ya Alhamdulillah ini dari sananya mas, hehe. Dibalik kekurangan saya, Allah selalu memberi kelebihan dari sesuatunya. Mungkin itu.

 

Reporter : Dirham Rizaldi & Fakhri Hardianto

 

 

 

 

Selain project serabutan, mencoba peruntungan pula sebagai penulis lepas, buruh event, dan usaha kecil clothing.

ROCKET ROCKERS, BERCERITA TENTANG ALBUM BARUNYA

Buah karya dari delapan belas tahun eksis dibelantika musik Indonesia.


 

Longlifemagz – Rocket Rockers quartet pop-punk asal bandung menjadi salah satu band yang tetap bertahan dibelantika musik Indonesia. Konsistensi mereka dibuktikan lewat lima album yang sudah dirilis dari tahun 1998. Masa dimana hegemoni reformasi sedang panas-panasnya dan geliat musik Indie terkhusus di Jakarta maupun Bandung mulai menunjukan eksistensinya.

Rocket Rockers adalah salah satu diantara band indie (mengusung semangat do it yourself) yang mampu bersaing ditengah musik mainstream seragam. Kepopuleran merupakan buah yang telah dirasakan, dari jerih payahnya aktif mengkampanyekan, menyuguhkan karya yang baru, berbeda, dan unik kepada para remaja pada saat itu.

Dari satu gigs kecil, ke gigs lain, acara pensi, sampai tour kebeberapa Kota turut dilakukan. Kreatifitas, kerja karas, dan konsistensi dalam berkarya adalah beberapa kunci kesuksesan yang dapat dilihat. Terbukti 6 album yang telah dirilis, ditambah dengan makin solidnya basis fans mereka (Rocket Rockfriend), mendaulat Rocket Rockers sebagai salah satu band yang patut diperhitungkan kredebilitasnya.

Rocket Rocket kini masih tetap eksis, walau kadang industri musik Indonesia terus berubah kondisinya. Seperti misalnya dari beberapa parade Pentas Seni (Pensi) yang diselenggarakan oleh beberapa sekolah dikota-kota besar, diantaranya Kota Semarang, Rocket Rocker masih dijadikan sebagai salah satu hideliner-nya.

SMA 11 Semarang adalah salah satu diantaranya. Turut mengundang Rocket Rockers sebagai salah satu Guest Stars, mendampingi Rizki Febrian, dan Sheryl Sheinafia menjadikan event tersebut terasa kian special untuk disimak malam itu (21/10).

Moment sepesial ini bertepatan pula dengan dirilisnya album ke-6 Rocket Rockers yang bertajuk “Cheers From Rocket Rockers” tanggal 18 Oktober lalu. Album ini bukan hanya sekedar bukti eksistensi Rocket Rockers dibelantika musik Indonesia, namun juga sebagai medium untuk bernostalgia, dan mengenalkan kembali karya – karya lama Rockert Rockers yang kini sudah jarang didengar Rocket Rockfriend (Fans Rocket Rockers).

“ya, album ke-6 kami ini membawa nama Cheers from rocket rockers. Tujuan album ini adalah mencoba mengingatkan kembali kepada temen – temen Rocket Rockfriend kelagu–lagu kita yang lama. Apalagi sekarang Rocket Rockfriend kan dari segala usia ada. Jadi kita mencoba mengingatkan kembali dengan lagu – lagu lama kami”, Ujar Bisma Bassist Rocket Rocker.

Album yang berisikan 18 Lagu ini, dibawakan pula oleh beberapa band lintas genre lainnya, mulai dari Last Goal! Party, Superglad hingga Midnight Quicke. Untuk pemilihan band-band yang turut memperbantui proses kreatifnya, Rocket Rockert membuka bagi siapa saja yang ingin membantu. Senada dengan yang dikatakan Ozom, drummer dari Rocket Rocker,

“Ya macem – macem aja sih. Terkadang juga ada (band) yang kita hubungi, ada juga yang diminta sama mereka. Dan kita benar– benar terbuka dalam projek ini”, ujar Ozom Drummer dari Rocket Rocker menanggapi.

Kolaborasi dengan beberapa band lintas genre murupakan jawaban atas tantangan waktu yang dialami Rocket Rockers. Dengan membawakan lagu–lagu lawas, band yang berkolaborasi dengan Rocket Rockers dapat memberikan warna baru dan lebih fresh untuk didengarkan.

Dari beberapa band yang berkolaborasi dengan Rocket Rockers, yang menjadi pertanyaan mengapa Rocket Rockers tidak mecoba kembali reuni dengan mantan vocalisnya Ucay. Seperti yang diketahui, tahun kemarin terjadi hal yang mengejutkan ketika salah satu Icon dari mereka harus mengundurkan diri dengan beberapa alasan yang ideologis.

“Kita sempet ada omongan mau kolaborasi dengan Ucay, sempet ngajak juga walau pun melalui chating, tetapi emang menurut Ucay, nge-band bukan jalan dia lagi.”, ujar Ozom.

Ucay adalah salah satu bagian penting dalam penggarapan album pertama sampai keempat Rocket Rockers. Kehilangan Rocket Rockfriend sangat terasa ketika Ucay memutuskan untuk hengkang dari Rocket Rockers dan industri music Indonesia.

Tetapi hal ini tidak menjadi hambatan bagi Aska, dan para personil lainnya untuk terus berkarya, dengan bukti dikeluarkannya pula album yang bertajuk Merekam Jejak. Meskipun ada beberapa perubahan didalam alunan distorsi yang dibawakan.

Baca : OM PMR, Usia Boleh Tua, Semangat Berkarya Tetap Membara

Sampai akhirnya Rocket Rockers tetap berkibar diindustri musik Indonesia, dan kembali merilis album baru yang diisi sebanyak 18 lagu. 18 memiliki makna dan pesan tersendiri dalam penentuan untuk banyaknya jumlah lagu dialbum tersebut. Ke-Istimewaan dari angka 18 menandakan 18 tahun Rocket Rockers sudah berkibar didunia musik Indonesia. Seperti yang ditegaskan oleh Aska,

“Kami ingin menonjolkan karakter 18 tahun Rocket Rockers dalam album ini. Misal, lagu Bersama Taklukan Dunia yang dibawakan pendatang baru parahnya sangat unik. Selain, memasukan unsur etnik yang menjadi kekuatannya, dia juga memberi sentuhan melayu dan dangdut didalamnya. Kita berharap, selain bernostalgia juga bisa memperluas jangkuan pendengar terutama para ABG”.

Album yang dinaungi oleh Reach & Rich Records kali ini tidak hanya menyuguhkan berkolaborasi dengan band–band Lokal Indonesia, tetapi terdapat juga band asal Jepang, Four Get Me A Nots (FGMN) yang berkesempatan mengcover lagu Just another holiday.

Baca : The Popo, Merangkum Isu-Isu Sosial Dalam Sebuah Karya

Dengan gaya mereka, FGMN memberikan sentuhan Punk dalam lagu tersebut. Rocket Rockers juga turut mengambil peran dalam album ini, di playlist terakhir, mereka mencoba mengcover lagu dari salah satu band yang benar – benar jauh dari nuansa distorsi. Lagu Maliq & D’Essentials yang berjudul “Pilihanku” turut pula dibawakan, lengkap dengan nuansa punk yang tetap melankolis.

Album terbaru Rocket Rockers seperti menjawab kegelisahan bagi para fans Rocket Rockfriend. Kebingungan mereka ketika ditanya tentang lagu – lagu dari album pertama sampai ketiga memicu pembuatan album tersebut. Meskipun hampir semua lagu dialbum ini Aska tidak mengisi suara. Namun album ini sebagai nostalgia tembang – tembang lawas yang pernah diciptakan Rocket Rockers.

Beralih dari album baru, hal yang menarik lainnya ketika Rocket Rockers tampil di event Nasional yang baru saja dihelat di Jakarta bulan oktober kemarin, Synchronize Festival. Dengan menggenakan busana pasien rumah sakit, sepertinya Rocket Rockers mempunyai pesan tersendiri terkait busana yang mereka kenakan. Selain itu, Rocket Rockers juga membawakan beberapa lagu mereka dari album kesatu sampai kelima.

Text & Photo by Fakhri Hardianto

OM PMR, Usia Boleh Tua, Semangat Berkarya Tetap Membara

323rwer (1 of 12)(1)

Photo by Henggal Wismana, Bagus Aditya

“Makin banyak orang stress akhir-akhir ini, jadi perlu dihibur” ujar Aji Cetih Bahadursah sembari tertawa kecil mengomentari situasi saat ini.

 

Longlifemagz – Penuh akan kreatifitas, kritis terhadap realitas, tingginya rasa humor, menghibur, orkes dan legenda adalah beberapa kata yang bisa menggambarkan Orkes Moral Pengantar Minum Racun (OM PMR).

Berkarya selama 39 tahun, menjadikan OM PMR sudah melewati banyak kisah, manis maupun ketir dibelantika musik Indonesia. Mulai dari disensor Harmoko (Menteri Penerangan era Orde Baru) atas lagu Judul-Judulan, segala arsip dan produksi materi terbakar pada saat kerusuhan 1998, sampai merintis kembali dan masih diterimanya karya mereka oleh publik terkhusus anak muda generasi sekarang, secuil perjalanan karir OM PMR.

Adalah Wre Munindra, penyiar Prambors yang menemukan bakat mereka. Atas instruksi dari Kasino (Warkop) untuk mencari band pengiring siaran bersama Warkop DKI (Dono, Kasino, dan Indro) diradio Prambors, Wre Munindra menyuguhkan mereka sebagai pengganti dari Orkes Moral Pancaran Sinar Petromaks (OM PSP).

Dengan insting humor dan kesukaannya terhadap hal yang berbau india, Kasino lantas menggubah nama mereka satu persatu. Jhoni Madu Mati Kutu (vokal), Aji Cetih Bahadursah (tamborin), Ima Maranaan (bass), Budi Padukone (rhythm), Yuri Mahipal (mandolin), dan Hari “Muke Kapur” (mini drum/gendang) adalah hasilnya.

Siaran bersama warkop, bersama memparodikan lagu, lantas merintis karir mereka menuju kesuksesan. Sampai datang tawaran, untuk melaksanakan tour bersama Warkop mengelili Indonesia.

Datang lah ilham, sebuah nama untuk menamai grup mereka, Orkes Moral Kurang Gizi adalah salah satu opsi yang tercetus dari Dono (Almarhum). Namun diantaranya banyak yang kurang sependapat. Sampai akhirnya tercetus nama, Orkes Moral Irama Teler Pengantar Minum Racun (OM ILER PMR). Karena dasar mereka para personil PMR dahulu seperti orang teler.

“Soalnya waktu itu ada (orkes) Telerama jadi diplesetin Irama Teler. Pengesahan nama itu ditandai dengan beli nasi padang di Prambors. Dan setiap malam Jumat kami siaran sama Warkop di radio.” ujar Jhoni mengisahkan peran Warkop seperti yang terlansir dalam metronews.com.

Baca :

The Popo, Merangkum Isu-Isu Sosial Dalam Sebuah Karya

Pandai Besi, Mulai dari Album Baru, Cholil Mahfud, dan Scene Musik di Kota Semarang

“Warkop itu yang ngebimbing PMR, sepuluh tahun kite jalan bareng. Banyak pelajaran dari situ. Mulai dari kite-kite masih pade sekole sampe bener-bener dianggap bisa bediri sendiri baru deh mereka lepasin kite; udah waktunya lu berkarya sendiri sekarang. Begitu kata mereka (Warkop) waktu itu.” ungkap Budi Padukone.

Hingga tahun 1987, OM PMR memisahkan diri dari warkop dan memilih untuk berdiri sendiri. Meluncurkan album bertajuk ‘Judul-Judulan’, kian mengibarkan nama mereka. Konon penjualan albumnya tembus diangka 2 juta kopi. Tanda kesuksesan bagi album ‘Judul-Judulan’ untuk penjualan kaset pada era itu.

Hingga timbul banyak respon, pro maupun kontra menanggapi. Seperi yang diungkap Rinto Harahap dan Taufik Ismail, lebih melihat bahwa meledaknya album tersebut oleh karena kejenuhan masyarakat akan musik serius dan pencapaian lagu itu adalah buah dari kejeniusan dalam kegiatan artistik dan itu wajar.

Berbeda dengan Taufik Ismail dan Rinto Harahap, Harmoko (Menteri Penerangan di era Orde Baru) mempunyai penilaian sendiri. Pada tahun 1988, dia memasukan album ini dalam daftar cekal Menteri Penerangan, dengan dalih “berselera rendah”, hal tersebut senada seperti yang terlansir dalam Rollingstone.co.id.

Sampai kerusuhan di Indonesia terjadi tahun 1998, era transisi menandakan vakumnya OM PMR sampai dengan tahun 2012. Tahun 2013 adalah momentum bangunnya kembali OM PMR dari tidur panjang selama lebih dari 10 tahun.

Adalah Dokter Abie, seorang dokter spesialis THT berpraktik di RS Harapan Kita sekaligus pemilik Borneo Beerhouse, sebagai salah satu orang yang berjasa menghidupkan kembali OM PMR diatas panggung.

“Saat itu di Borneo Beerhouse lagi ada acara DJ-DJ-an. Tiba-tiba DJ terakhir muterin lagunya PMR. Itu waktu diputar, yang tadinya capek joget, langsung joget. Wah, ini (PMR) masih banyak yang nunggu nih. Akhirnya ngumpulin beberapa teman, Dado (drummer The Flowers)… “Do, si PMR harus manggung sendiri di sini,” kenang Abie dalam film dokumenter OM PMR Belum Ada Judul episode 1 yang ada di kanal YouTube Sedap Films.

Konser OM PMR akhirnya digelar tanggal 28 Juni 2013 di Borneo Beerhouse, terbilang sukses dan mendatangkan massa yang banyak. Keseruan terekam, dimana setiap orang saling bergoyang, mengekspresikan diri, dan melantunkan syair dengan lantang .

Mulai dari masyarakat umum maupun public figure menyambut dengan riang tanpa ada strata disana. Terlihat, mulai dari Soleh Solihun (Comic), Gofar Hilman (Penyiar Radio), sampai Sari (Vocalis White Shoes And The Couples Company) sama-sama asik bergoyang dalam irama orkes yang disuguhkan.

Sampai sekarang, OM PMR masih mengibarkan orkes disegala penjuru tanah air. Tak membeda-bedakan event, mulai dari pensi SMA, road tour, sampai main difestival musik, mereka jabanin. Usia bukan jaminan bagi semangat berkaya untuk mereka-mereka ini melemah.

Seperti yang diungkap oleh Arie Dagienkz “OM PMR ini bisa dijadikan contoh. Walau pun umur masih bisa dibilang masih muda, muda banget, heheh. Tapi semangat, energi, dan kreativitasnya ga berenti. Jangan pernah menyerah, semangat terus. Contoh OM PMR ini.”.

Longlifemagz mendapat kesempatan mewawancarai OM PMR, saat mereka bertandang ke event music yang digelar salah satu kampus di kota Semarang. Tak hadirnya sang frontman Jhony Iskandar disebabkan oleh penyakit yang menyita kesehatannya, tak menghilangkan semangat dari OM PMR untuk tampil didepan ribuan massa.

Kali ini Arie Dagienkz yang didaulat menggantikan vocal dan guyonan Jhonny kepada para Sahabat Racun (fans OM PMR), dengan personil OM PMR yang lain, hangat pula kala menyambut kami sembelum melakukan sesi wawancara. Berikut adalah isi wawancara yang terekam dalam rubik Undercover :

Gimana awalnya ada ide merubah lagu orang?

Kalo idenya si udah dari dulu, sudah terbiasa dengan Almarhum Kasino (salah satu personil Warkop) mengkomedikan lagu-lagu. Jadi sudah terbiasa seperti itu. Dan seterusnya kita juga dulu sering ngumpul sampai manggung bareng Warkop. Jadi sudah biasa.

Selama merubah lagu orang , seperti misal ‘Bintangku-Bintangmu’ lagu Obie Mesakh, atau ‘Pergi Tanpa Pesan’ lagunya Eliya Kadam, tanggapan dari beliau yang punya lagu seperti apa?

Kalau sama penciptanya saya belum mendengar apa-apa, kalau syairnya kami rubah. kami belum pernah mendengar respon ya. Tapi tidak apa-apa sepertinya, yang terpenting masih bisa dinikmati oleh anak muda

Ada salah satu lagu yang paling berkesan bagi saya, lagu ‘Malam Jum’at Kliwon’. Masih jarangnya sekali musisi yang mengangkat tema setan dalam lirik lagunya? Dapat ilham dari mana atau mungkin itu kisah nyata?

Lagu Malam Jum’at Kliwon itu terinspirasi dari tragedi Bintaro. Nah tepat diperingati bulan sekarang juga. Karena pada saat kejadian itu terjadi, setelah tragedi kereta tertabrak itu, kita sempat mendengar cerita dari orang-orang disekitar situ. Ya tentang rumor horor. Terus kita bikin syairnya seperti yang terdapat di lagu itu.

DSC04322

Selama 43 Tahun berkarya, sudah melewati 2 fase waktu, mulai dari era Orde Baru sampai era Reformasi. Ada tidak perbedaan antara OM PMR berkesenian tempo dulu dengan sekarang?

Kalau dulu kan hasil berdasarkan penjualan ya, kalau sekarang manggung kan juga lewat off air. Bukan kaset sekarang yang kita uber (baca : kejar), harus event. Nah itu bedaya sekarang. Dulu juga buat manggung itu dibatesin. Nah kan kalau sekarang dibebasin. Malah kesannya kebablasan, hehhe. Tapi ga juga si, off air itu penting. Kalau engga, dapur engga ngebul, hahaha

 

Setelah keluarnya Album ‘Judul-Judulan’ yang tembus sampai 2 juta kopi, dengan salah satu single andalannya, ‘Judul-Judulan’ pernah disensor oleh pemerintah Orde Baru. Sebenarnya apa yang terjadi?

Itukan himbauan, kala itu Harmoko (Menteri Penerangan diera Soeharto) mengesankan lagunya terdapat konten-konten porno. Pemikirannya ortodok itu. Tapi kan memang hakekatnya waktu itu seperti itu. Seolah-seolah mereka bilang (Pemerintah) itu tidak terjadi, padahal ya terjadi seperti itu. Kumpul kebo itu kejadian dulu marak sekali, dan bahaya sekali bagi anak muda pada waktu itu. Jadikan ada beberapa lirik, seperti misalnya kebo-keboan, pacar-pacaran. Tapi memang lagu ‘Judul-Judulan’ itu sindiran untuk keadaan pada masa itu. Kala itu memang sedang marak-maraknya terjadi.

Sempat vakum ditahun 1998 sampai kemudian ditahun 2013 muncul kepublik kembali. Apa yang menyebabkan OM PMR hadir, berkarya kembali dan merubah lagu orang-orang lagi?

Sebetulnya kalau semangat untuk berseni kita terus ada, Cuma untuk kesempatan manggung kita dapat pada saat itu. Setelah mati suri dan vakum, hingga tahun 2011 kita ada kesempatan untuk manggung. Dan berimbas sampai sekarang.

 

Untuk lagu ‘Duit’ yang merupakan lagu orisinil dari OM PMR dialbum terbaru, ‘Orkeslah Kalau Bergitar’, terkesan lebih agamis dan serius mengangkat tema itu. Berbeda dengan beberapa lagu sebelum-sebelumnya yang lebih ketema nakal, satir, kadang nyeleneh. Apa yang ingin disampaikan?

Salah satu warna dalam lagu boleh-boleh saja, agar tidak monoton dalam satu syairnya. Karena juga sedikit dapat ilham itu, heehe. Mungkin karena masalah usia ya, tapi yang jelas memang kita ingin menyajikan sesuatu yang berbeda.

DSC04308

Kirain biar tidak dikira PKI bikin lagu bertema agamis, hehe?

PKI kan Penikmat Kopi Indonesia, hahahaha

Buat kedepannya, kejutan apa yang akan dikeluarkan OM PMR?

Nanti buat kedepannya kita akan mengeluarkan album terbaru. Banyak lagu-lagu yang bakal kita keluarin dan orisinil karya dari kita. Sampai saat ini proses pembuatan sudah 60%. Insyaallah Tahun Depan keluar.

Untuk Industri musik Indonesia, kian kesini semakin sedikit atau mungkin kurang terekposnya para penerus musik khususnya musik humor. Bagaimana pesan atau mungkin petuahnya, untuk para generasi muda?

Kalau dulu ada namanya Lembaga Musik Humor. Mungkin salah satu penyemangat mesti diadakan kembali. Agar mereka mempunyai wadah untuk berkreasi, bersikap dan ada sasarannya. Ada yang dituju seperti itu. Yang penting bisa berkarya. Yang terpenting ada rangsangan. Kalau sekarang engga ada. Ini pesan kami harus diadakan seperti itu. Mudah-mudahan dengan PMR sekarang masih eksis, akan melahirkan PMR-PMR yang baru. Akan lebih hebat, akan lebih menghibur di Nusantara ini. Penting soalnya musik humor itu. Makin banyak orang stress akhir-akhir ini, jadi perlu dihibur. Heehe

 

 

Si awam yang mau berpikir sampai ke awan.

Olly Oxen Mulai Menunjukan Taringnya Melalui EP Bad Mantra

Longlifemagz – Hingar bingar kemeriahan mewarnai peluncuran EP (Extended Play) band rock Olly Oxen bertajuk Bad Mantra di Rustico Bar and Kitchen Minggu (14/5) Malam, adrenalin para pengunjung dibuat campur aduk dengan ritme gitar dan bas yang lantang di gendang telinga.

Sebelum Olly Oxen tampil, mereka mendaulat SAL, Sugar Bitter, dan Santi Karisma untuk berbagi panggung sebagai band pembuka. Pengunjung yang mayoritas anak muda kuliahan dan kelas pekerja, malam itu tersihir dengan mantra – mantra yang dipanjatkan oleh Olly Oxen sehingga mereka tak kuasa menahan diri mereka untuk  moshing dan stage diving sampai acara berakhir.

Kejutan tak berakhir disitu, malam itu setelah Olly Oxen tampil, atas permintaan penonton yang tak ingin terburu – buru pulang, akhirnya tampilah satu band lagi yaitu Gagak Rimang Stoned yang berhasil menutup malam peluncuran Bad Mantra malam itu dengan sempurna.

Simak Interview kontributor longlife dengan Mere Nauval vokalis dari Olly Oxen yang kami temui setelah mereka membombardir panggung dan menyihir para penonton yang datang di peluncuran EP (Extended Play) bertajuk Bad Mantra mereka.

Malam ini agendanya peluncuran EP ya ?

Iya release party peluncuran EP Bad Mantra.

Sebelum kita berbicara ke arah sana, kalau Olly Oxen sendiri itukan sebelumnya berasal dari band yang berbeda beda, nah kalian sendiri itu bertemunya gimana ?

Awalnya sih pertamanya Gembi dulu ketemu sama Gawang, juga Gawang kan mengganti posisi drummer di bandnya dengan Gembi yaitu Gagak Rimang Stoned. Terus mereka berdua punya wacana nih, kira – kira sambil menunggu waktu kekosongan selama proses pembuatan album Gagak Rimang Stonedkita bikin band lagi, terus akhirnya mereka berdua jalan waktu itu ketemu saya pas rilis video Legit di Braveat Munchies Club, dari situ mereka melihat video, mungkin lihat performa vokal atau gimana terus ngajakin saya, abis itu kita jamming – jamming aslinya pingin tanpa bassis gitu kan, cuman asik udah tambahin bass ajalah jangan terlalu nyeleneh belum siap kita, akhirnya kita memilih mas Novelino Adam bassis dari Octopuz dan AK//47 untuk mengisi posisi bassis. Kita udah sadar bertiga tuh kalau wah ini beda – beda nih, tampil lagi lah bassis satu yang agak beda agar lebih memperkaya musik kami.

Nah kalian kan datang dari genre yang beda – beda, waktu kalian jamming sendiri kalian mengalami kendala atau tidak ?

Enggak ada sih, jammingnya misalkan aku milih lagu gitu kan awalnya kan saya kalau disemarang dikenalnya dari Hip Hop 024 Street, tapi sebenarnya sebelum itu waktu SMA saya udah ngeband duluan jadi masih ada referensi yang nyantol, intinya musik rock distorsi gitukan, akhrinya kita milih lagu yang kita omongin dulu ini musiknya mau seperti apa nih, walanya saat itu kepingin lagi yang vintage sound, terus dicari lagu yang sesuai dengan kriteria yang kita inginkan, jadi ya gitu ga ada kendala dan ga ada beban sih intinya.

Nah kalau kalian sendiri, ketika membuat musik itu influencenya dari siapa ?

Kalau ngomongin influence, kalau yang paling sering di dengar tuh beberapa Projek Jack White, dia terkenal banget dengan Workaholic kayak seneng banget kerja bikin projek sana sini, nah kita dengerin semuanya gitu lalu kita tertarik dengan spirit di musiknya. Terus selain itu Led Zeppelin, bahkan sampai Kendrick Lamar juga. Soalnya kita kepingin bawa musik rock juga tapi soulnya kepingin yang Groovie – Groovie gitu.

Sebentar ada yang terlupa, sebelum terlalu jauh. Diperkenalkan dulu orang – orang yang terlibat di dalamnya ?

Olly Oxen itu ada empat orang, ada Gawang dia juga sibuk di Glasstrick dan Gagak Rimang Stoned, lalu ada Yanuar di posisi gitaris yang juga mengisi posisi yang sama di Gagak Rimang Stoned, terus ada Novelino Adam di posisi bass yang kebetulan juga bassis dari Octopuz dan AK//47. Dan yang terakhir saya Mere Nauval di posisi vokal dan juga berkesibukan di Legit.

Kemarin kalian habis rilis video clip Bad Mantra, nah respon publik sendiri sejauh ini bagaimana?

Ini kayaknya belum seminggu ya di upload di youtube kami, yang nonton udah ada seribu lebih, itu menurut kami lumayan sih, dibanding kita dulu parameternya dulu video lirik Adult Dreams is Violation itu sampai sekarang sekitar 6 bulan belum sampai lima ribu, ini yang rilis baru seminggu udah seribu lebih, jadi menurut kami responnya lebih baik dari karya kami yang sebelumnya.

Di Olly Oxen sendiri yang bertugas menulis lirik siapa dan proses kreatifnya bagaimana ?

Kalau lirik semua daya yang menulis, kalau proses kreatifnya saya beri gambaranya nih, pertama mereka jamming dulu nih, terus ada riff nih Yanuar itu biasanya, nah terus mereka bertiga lempar – lemparan tuh, nah terus ini masuk nih musik kita, lalu di jamming lagi sampai jadi musik dulu. Terus baru itu saya dengerin tuh kan direkam di Handphone, nah dari situ kan keliatan ini arah musiknya kemana nih, terus saya nentuin atmosfir dan lirik yang cocok untuk musik ini yang begini nih. jadi biasanya musik dulu jadi baru lirik mengikuti. Kalau tema – tema liriknya sih random dari semua yang saya lihat, saya baca, saya tonton di televisi, itu semua menjadi satu dan mengalir menjadi lirik.

Olly Oxen sendiri itu nama yang tidak umum, nah proses penemuan nama sendiri Itu bagaimana ceritanya ?

Jadikan kalau saya bikin lirik itu bahasa inggris, walaupun gak terlalu mempuni sih hehehe. Terus ibaratnya dengan cara seperti di musik Hip Hop, nah kan biasanya ada proses sampling tuh jadi ada lagu yang sudah jadi diambil beberapa bagian yang bagus untuk dikembangkan lagi. Nah proses seperti itu juga saya terapkan di beberapa lagu yang saya buat di Olly Oxen, jadi nih ada satu kalimat yang bagus, terus saya rangkum dalam sudut pandang saya lagi. Nah dari situ tuh dari baca – baca banyak hal, waktu itu saya nemu artikel tentang anak – anak, lagu pertama tuh temanya tentang anak – anak, terus ekplorasi lagi di internet dapat lagi ada istilah Olly Olly Oxen Free. Jadi itu tuh istilah dalam permainan petak umpetnya orang Eropa untuk memanggil “Calling Y’all Out in Free” jadi artinya memanggil orang dalam kebebasan. Dari situ bagus nih filosofinya untuk dipakai nama, dulu namanya kepingin Olly Olly Oxen Free tapi kami rasa itu kepanjangan, lalu kami persingkat menjadi Olly Oxen walaupun itu tidak merangkum semuanya tapi kata Olly Oxen cukup mewakili pandangan dari kata itu. Jadi begitu sih dari berselancar di internet terus dapat artikel dan ada kata bagus lalu diutarakan ke temen – temen dan mereka setuju.

Bisa diceritakan enggak tentang empat lagu milik kalian menceritakan tentang apa ?

Sebenarnya keempat lagu ini keterkaitannya erat sih, lagu pertama Adult’s Dreams of Violation dan Bad Mantra saya memerankan tokoh protagonis dan antagonis, katakan si anak kecilnya itu protagonis dan si Bad Mantranya ini nih tokoh jahatnya, lalu selanjutnya di lagu ketiga ada Self Preaching yaitu kita udah mana yang baik dan mana yang buruk, lalu kita mengambil sikap untuk menceramahi diri sendiri dulu. Lalu setelah melihat itu semua kita berada pada titik tidak ada tahu apa yang harus dilakukan, udahlah jangan ambil kesimpulan, toh sebuah karyapun pada saat menimbulkan pertanyaan buat teman – teman lain menyadarkan ada yang harus dipertanyakan itupun fungsi dari sebuah karya. Jadi Mr. Dunnowattudu itu seakan menutup dengan kita tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Kalian kemarin sempat rilis di event Record Store Day, nah disitu ada Remix Adult’s Dreams is Violationdari salah satu beat makerkondang dari semarang Greedys. Nah ceritanya sendiri gimana tuh?

Itu sebenarnya kemarin kita kepingin rilis EP Bad Mantra pas bertepatan dengan Record Store Day, Cuma kerasa kurang matang nih. Tapi event Record Store Day sayang kalau dilewatkan dan kita harus ngasih sesuatu yang unik gitu, ada satu lagu kita yang udah dikeluarin yang menurut kita masih bisa di otak – atik. Nah dari situ sayakan juga satu grup sama Greedys di Legit, apa yang kita bisa lakuin dengan Croos Genre, akhirnya cobalah ngajak sampling lagu Adult’s Dreams is Violation. terus jadilah Remix itu, kepingin cari yang Fresh aja sih. Dan kemarin kita juga dalam format kaset, alhamdullilah sold out kurang dari seminggu.

Sebelum rilis dalam bentuk fisik, kalian melempar karya kalian ke platform digital, nah itu bagaimana respon publik dan dampaknya terhadap kalian ?

Dampak yang paling terlihat platform digital itu dikeluarkan terlebih dahulu terjawab malam ini, terlihat banget di Crowd mereka hafal lagu yang belum dikeluarin di Youtube karna yang paling mudah diakses Youtube dibanding Spotify dan Deezer. nah malem ini mereka semua sing a long, berarti mereka mendengar lagunya dulu baru dateng ke Gigs. Dampaknya sih seperti itu bagi kami, mengeluarkan karya kami ke platform digital terlebih dahulu menurut kami sangat tepat sasaran.

EP Bad Mantra ini dirilis oleh Peculiar Records, nah pertemuannya sendiri gimana ?

Itu kerabat dari Gembi, terus kami kenalan dia suka dengan lagu Adult’s Dreamsis Violation, trus timbul wacana udah Peculiar Friend jangan cuma Brand jadiin Record Label sekalian, ibaratnya aku suka sama musik kalian dan aku mau bantu kalian rilis, kebetulan kami juga penggemar artworknya dia. Jadi begitusih ceritanya terjadi begitu saja.

 Untuk video clip Bad Mantra sendiri siapa yang mengerjakan dan gimanakonsepnya?

Itu sebenarnya Bad Mantra itu sudut pandangnya seperti orang lagi memikirkan apa yang ada disekitar dia, pada saat dia melihat disekitar dia seolah – olah seperti ada naskah yang muncul di otak si perempuan itu, kayaknya ini si orang jahatnya itu petinggi – pertinggi penjahatnya tuh lagi gini nih, pada saat dia berjalan itu sebenarnya proses saya memikirkan lirik itu seperti itu sih kayak nonton atau baca semuanya tiba – tiba muncul jadi satu gitu. Jadi akhirnya si perempuannya dapat cerita nih yang judulnya Bad Mantra, terus digarapnya saya yang Direct juga ada KRN Kukuh dan Epphik tapi Direct Utamanya saya, Camera Operatornya ada Epphik dan Adhyochim bassis Gagak Rimang Stoned, terus editing dikerjakan oleh KRN Kukuh, dan aktris perempuannya ada Parama Prenjana.

Inikan band – band sedang senang rilis vinylya, nah kalian akankan ada agenda kesana ?

Kita menganggap rilis vinyl adalah tanggung jawab yang berat, entah kenapa ya tanpa alasan yang pasti jangan dululah apaan sih ini band baru langsung rilis vinyl. kan enggak semua orang juga punya pemutarnya, ibaratnya kamu harus punya yang bagus dulu sampai pendengarmu rela beli vinyldan pemutarnya, Mungkin kedepan kami akan ada rencana kesana.

Ini kalian baru saja selesai acara peluncuran EP, nah komentar kalian bagaimana ?

 Gila sih, keren. Penonton yang dateng keren, Kita enggak nyangka banget akan dapat dukungan sama band yang udah lama banget di semarang seperti SAL gitu, ibaratnya sebelum saya menginjakkan kaki di Semarang mereka sudah merajai pensi – pensi gitu kan kebetulan saya disini kuliah, baru dateng ke Semarang belum kenal siapa – siapa udah tau SAL gitu. selain itu juga ada Sugar Bitter dan Santi Karisma yang lebih dulu rilis EP, amazing juga dengan temen – temen yang ikut bantu terselenggaranya acara ini, maksutnya berarti karya kita bisa menggerakan banyak orang untuk membantu, alhamdullilah sih.

Malam ini itu ada kejutan ya, band yang udah lama tidak tampil tiba – tiba dipaksa naik panggung oleh para penonton, nah itu bagaimana ceritanya ?

Kejutan sih itu haha, band yang sudah lama tidak tampil yang vokalisnya kami jadikan pembawa acara di acara rilis kami dan personil lainnya datang, yaudah sikat dan mereka berhasil menambah komplit keliaran malam ini hahaha. Tapi selain itu tadi juga ada kolaborasi live dengan Greedys, sama backing vocal yang mendadak cuman latihan tiga kali doang ada Acin sama Riko, itu semua jadi konsep yang menarik sih buat kami.

Langkah Olly Oxen setelah EP ini apa ?

Kita ingin bikin full album sih yang pasti, sambil promoin EP sambil jalan nyicil album, itu dulu sih yang terdekat.

Kalau dekat – dekat ini tur enggak ada ya ?

Belum – belum, kita belum ada rencana mengingat sebentar lagi bulan puasa haha.

Kalau yang ingin disampaikan untuk Longlife Magazine ?

Untuk Longlife Magazine makasih sudah mewadahi anak – anak dari industri kreatif kalian mengambil peran penting dalam satu skena spesifiknya industri kreatif. terima kasih juga sudah wawancara dengan saya dan kita juga bisa sampai sini juga atas bantuan media – media seperti kalian.

Ada yang ingin disampaikan lagi ?

Buat temen – temen yang masih muda khususnya ya karena saya masih muda juga, eksesekusi apa yang ada di pikiran kalian dan eksekusi apa yang bisa menjadi  manfaat untuk lingkungan disekitar kalian, jamannya muda jamannya berkarya habis habisan kalau bisa jangan terburu buru mikirin untung berapa apa gimana yang penting bisa memberi manfaat sebesar besarnya, dan semoga juga Olly Oxen juga bisa memberi manfaat untuk sebuah lingkungan, terima kasih.

foto depan

belakangh 1

belakang 2

Photo by          : Aditya Surya Nugraha

Teks                 : Brigitan Argasiam

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

The Popo, Merangkum Isu – Isu Sosial Dalam Sebuah Karya

detik

Kritis Melalui Karya Seni.

 

Longlifemagz – Di tengah hiruk pikuk menjalani hidup yang menyebalkan di kota – kota besar di Indonesia,  yang akrab dengan kemacetan, penggusuran, kriminallitas, dan tuntutan hidup yang semakin meningkat adalah hal yang biasa kita temui jika hidup di kota besar. Potret sosial tersebut selalu menginspirasi The Popo, seniman Mural yang biasa menggunakan tembok – tembok perkotaan sebagai kanvas dalam medium berkarya.

Memotret isu – isu sosial yang sedang terjadi dan hangat di sekitar tempat yang akan dia eksekusi untuk berkarya, hal tersebut dilakukan agar karya yang dia ciptakan memiliki kaitan emosional dengan warga sekitar yang mendiami wilayah tersebut.

Sebut saja salah satu contoh karya The Popo berjudul “Demi Fly Over Pohon Game Over” yang memotret penebangan pohon – pohon, atas dalih pembangunan Fly Over yang membuat lingkungan sekitar yang terdampak menjadi panas. The Popo selalu menyisipkan muatan Humor dalam setiap karyanya, agar pesan yang berat dalam karyanya jadi terasa lebih ringan dan mudah tersampaikan.

Simak interview Kontributor Longlife Magazine dengan The Popo seniman Mural asal kota Bekasi di sela – sela dia menikmati acara Update Your City di Impala Space hari sabtu kemarin.

Halo selamat malam Popo

Selamat malam Longlife

Sedang sibuk apa sekarang ?

Sekarang itu lagi sibuk bikin project – project mural sosial di beberapa kota, terus lagi ini sih untuk awal tahun mau nyelesain buku ilustrasi tentang Alphuket.

Kenapa lebih memilih Alphuket ?

Alphuket jadi adalah satu buah yang aku suka banget, terus banyak manfaatnya juga punya pengalaman mendalam juga soal alphuket karena dulu aku punya penyakit Asam Lambung, ternyata sembuh dengan alphuket yaudah makin kesini makin sering makan alphuket.

Kalau pemilihan nama Nickname The Popo sendiri itu bagaimana ceritanya ?

Biar gampang di inget aja itu mah, biar enggak terlalu apa ya susah lah gitu, biar kalau aku ngetag nama, orang gampang inget.

Kalau karakter The Popo yang ikonik sendiri itu bagaimana sejarah lahirnya ?

Awal tahun 2001 mau ngegambar muka sendiri gabisa, gak kayak temen – temen di sekolah seni gitu, akhirnya bikin karakter The Popo yang menyerupai muka ku, jadi keterusan karena aku enggak terlalu bisa gambar kan, akhirnya si karakter The Popo sendiri ini selalu mengisi karya – karya mural ku, dia mewakilkan aku sebagai seorang seniman

Kalau pertama berkarya sendiri itu tahun berapa ?

Tahun 2001.

Itu langsung pakai Nickname The Popo ?

Iya langsung pake The Popo, bukan crew ya itu, tapi sendiri hehe.

Karya apa yang paling berkesan sampai sekarang ?

Yang paling berkesan itu karya mural untuk almarhum ayahku, jadi tahun 2013 aku bikin, itu mural yang menurutku ketika ayahku meninggal itu pengen aku sampein rasa terima kasihku tapi ayahku udah meninggal gitu, jadi ya itu mural tanda terima kasih untuk ayahku.

Karyanya yang untuk ayah yang lilin itu ya ?

Iya yang itu namanya Doa, itu ada lima seri, yang lilin, parasut, anak kecil main kuda kudaan, anak kecil lagi coret – coret.

Kalau project yang paling dekat sendiri ?

project yang paling dekat ini itu menyelesaikan buku ilustrasi alphuket, kalau engga berubah nanti namanya “Melihat Alphuket Bekerja”.

Karya The Popo itu identik dengan pesan – pesan Sosial yang kuat, itu kenapa ?

Ya karena itu inspirasi yang gampang di dapet, yang enggak pernah habis, jadi menurutku ini satu hal yang bisa dikatakan ketika aku buka pintu rumah itu inspirasi ada di depan rumah gitu, aku berteman, bertetangga, bersaudara, semuanya inspirasi tetap ada gitu. Ini kayak semacam kehidupan sosial itu kayak ini bahan yang enggak pernah habis untuk dijadikan muatan di karya gitu.

Dalam proses kreatif pembuatan karya harus Riset dulu atau bagaimana ?

Riset itu bisa kita ambil dari pengalaman pribadi di kehidupan sosial, jadi mural– mural ku kebanyakan mungkin enggak semua tapi kebanyakan rata – rata itu dari pengalaman pribadi, yang muatanya isu sosial ya, kayak ngomongin tentang kemacetan, tentang politik di tengah – tengah warga, tentang perekonomian, tentang sosial itu sendiri, ya itu dari pengalaman pribadi. Tapi ada hal – hal mural – muralku itu yang muatannya humor yang engga masuk diakan itu cuman sekedar bercandaan, Tapi semua berdasarkan pada isu sosial.

Di dalam karya The Popo sendiri itu kan pesannya berat sekali ya, tapi selalu di isi dengan humor, nah itu gimana tuh ?

Nah itu tadi, sebenarnya kalo aku ya ngeliat lukisan itu berat, ngeliat sebuah karya berat banget, ya jadi ini sih kalo karya – karyaku kayak mempersingkat, mempermudah, mencairkan isu – isu yang menurut orang lain berat gitu. Yangenurut orang lain berat aku selipin humor – humor. jadi ya apapun kalau disampaikan dengan humor menjadi cair.

Kalau menurut The Popo sendiri, tentang skena Street Art di semarang bagaimana ?

Sebenarnya rata – rata scene di indonesia ini, Skena Grafitinya ya merata lah, yang muatanya sebagian besar temen – temen grafiti itu yang masih kiblatnya New York, Brooklyn, ya kultur Hip – Hop kayak gitu. Ya sebenarnya memang itu kiblatnya dari mereka, cuman kita sebenernya punya sejarah sendiri tentang grafiti, gimana mural – Mural itu berdiri di Maros Sulawesi, terus gimana para pejuang kemerdekaan itu menebar Propaganda melalui grafiti saat itu kan, seluruh pemuda di Indonesia tahun sekitar 1940an mempropaganda indonesia atau mati. Itu kan juga sejarah grafiti yang kulturnya juga kuat, jadi ya aku sendiri melihat Skena di Indonesia masih banyak terpengaruh oleh New York yang Hip – Hop Kultur gitu, jadi ya masih sebatas perubahannya dari tahun 2000 kebanyakan enggak semua ya mereka masih statis di jalur itu. Mungkin ada satu dua tiga orang yang kontennya lokal banget, perspektif dia melihat grafiti itu lokal banget gitu ya, tapi ya itu enggak bertahan lama.

Kalau pengalaman yang tidak mengenakan selama turun di jalan ada enggak ya ?

Ya ditangkap Satpol PP pernah, dari 2001 pernah. Ditangkep dibawa ke kantor Satpol PP suruh bayar denda, tapi ya aku engga lari sih, maskutnya kalo aku ada Satpol PP ya kalo semakin aku lari ya semakin salahlah. Jadi ya kita tuker argumen ya kebanyakan ngobrol sama mereka kenapa aku ditangkep, dengan alasan mereka vandal tapi mereka sendiri enggak tahu arti Vandal itu apa. Mereka dengan alasan aku coret – coret tapi yang aku lakukan itu menggambar buka coret – coret. Ya macam – macam tapi dari semua kejadian mereka yang nyerah gitu. Kalo aku sih hadapi ajalah adu argumen aja, cuman jangan yang menggebu gebu dengan amarah yang kesannya heroik gitu ya enggalah.

Inspirasi The Popo sendiri saat memutuskan pertama kali terjun ke dunia mural ini sendiri siapa ?

Secara engga langsung itu ayahku ya, karena dia enggak selalu mengijinkan dengan alasan – alasan yang dia bawa ketika aku mau sekolah seni dia bilang engga usah atau engga punya duit kayak gitu ya. Ternyata dia punya Visi Misi tersendiri untuk aku sendiri gitu, yang aku baru sadari ketika beliau meninggal. Dulu dia pernah beberapa waktu sebelum dia meninggal, lagi ngobrol agak serius gitu, jadi ternyata rencana beliau itu tersusun dengan baik ya pada akhirnya ya kayak aku ini. Karena menurut dia kalau aku kuliah di sekolah seni perspektif ku akan hampir sama atau pada umumnya dengan temen – temen yang kuliah seni, kemungkinan besar aku akan punya kesempatan ke arah situ gitu. Maksutnya kemungkinan nanti akan kayak gitu. cuman ketika aku engga kuliah seni aku punya ilmu lain, perspektif cara berkesenian ku beda sama yang lain. Aku mempunyai cara sendiri, punya metode sendiri, ya macam – macam lah yang pada akhirnya bertahan sampai sekarang.

Apa yang ingin disampaikan untuk teman – teman di Semarang, khususnya teman – teman Street Art yang masih berkarya di Semarang ?

Yang disampaikan ya sebenarnya mereka udah melakukan apa yang mereka sebenarnya mesti lakukan, cuman kalo menurutku ya itu tadi butuh konsisten aja ketika itu sudah berjalan lima tahun sepuluh tahun mereka punya template sendiri, kalau misal kontennya tentang kota, mereka bisa ngelihat kota dengan karya mereka. Jadi sebenarnya mereka sudah mengerjakan apa yang semestinya mereka lakukan, tapi ya itu tadi kulturnya masih Hip – Hop sebenarnya.

Kalau menurut pengamatan pribadi, karya The Popo itu dekat sekali dengan Comic ya ?

Nah sebenarnya kalau di comic itu kan kayak satu strip cerita yang teatrikal yang dramatikal, metodenya kayak comic gitu tapi aku terapkan di tembok. Jadi gambarku kayak berbicara sama ruang, berbicara sama orang lain. Mediumnya tetap Mural karena aku pikir itu cara yang paling mudah sih, comic jugakan itu cara yang paling mudah di mengerti sama khalayak luas, jadi ketimbang aku memikirkan estetika yang terlalu bermetafora, pesanku takut engga nyampe gitu. Jadi ya mending comical langsung aja gitu.

Karya The Popo itu hampir semuanya kayaknya warnanya merah, hitam, dan putih ya ? itu di sengaja dalam pemilihan warnanya atau bagaimana ?

Karena  warna merah itu kan The King of Color ya, jadi  merah itu udah nih rajanya warna gitu, di cat aja yang paling mahal itu merah, dan kenapa paling mahal karena merah itu punya daya tarik khusus gitu. Kalau hitam dan putih itu sendiri ketika disandingkan dengan warna merah itu jadi warna yang sangat sederhana dan kontras, jadi sebenarnya sesuatu yang kontras itu bagus ketika mereka bekerja sama. Jadi pemilihan warna merah, hitam dan putih itu udah aku rencanakan karena biar menarik perhatian mata dijalan.

Kalau The Popo sendiri pernah membuat karya dengan ukuran raksasa ?

Kalau besar belum, tapi kalau panjang pernah, itu 300 meter letaknya di Jakarta namanya Kali Opak Movement itu dibantu beberapa warga yang ada disana.

Jadi karya itu melibatkan warga sekitar ya ?

Iya, karena powernya ada disitu. Makanya muralku beberapa tahun belakangan ini jarang dihapus karena warga merasa memiliki.

Beberapa karya The Popoh sangat berkesan, salah satunya adalah “Demi Fly Over Pohon Game Over” nah karya itu sendiri menceritakan tentang apa sih ?

Itu karena cerita tiap hari aku lewat jalan situ terus ada pembongkaran karena akan dibangun Fly Over, pohon – pohon di tebang. se simpel itu sih, ini bakalan jadi panas nih daerah sini, terus aku ngetag di tembok – tembok sekitar Fly Over bertuliskan “Demi Fly Over Pohon Game Over”.

Pendapatnya orang – orang sekitar situ sendiri gimana ?

Mereka enggak ngelarang aku sih, karena mereka juga merasakan hal yang sama.

Ini mendekati ujung, harapan The Popo Sendiri untuk kedepannya gimana ?

Aku mempunyai harapan yang sangat besar dengan kesehatan, karena kalau kita sehat kita bisa ngapain aja, bisa membantu orang lain dan bisa tetap berkarya.

Ohh oke terimakasih untuk waktunya dalam wawancara singkat ini, semoga karya dari The Popo dapat selalu memberikan kontibusi positif bagi kemajuan negara ini.

Baik sama – sama Longlife, semoga dapat menjadi media informasi yang menginspirasi kami semua.

Berikut kami lampirkan beberapa hasil karya dari The Popo :

b2n2em-cyaazrxf

b2n2tfjcuaaaskn

b2n2jlpcyaautqc

b2n7pcsccaaacxt

b2n2v4scyaabrbq

cthhiweucaadcyx

ct57da3usaanvqr

cne2denu8aactvt

cif8vqmuuaqhp-b

Teks By                : Brigitan Argasiam

Photo By              : The Popo Doc

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

Niskala, Melawan Arus Dengan Post Rock Instrumental

niskala-interview

 

Longlifemagz – Semakin mudahnya mengakses informasi di dunia serba instan ini, menjadi nilai plus dan nilai negatif bagi siapapun yang setiap hari berkutat mencari informasi di dalamnya. Tak menutup kemungkinan juga bagi Niskala, kwintet Post Rock Instrumental dari kota Jogjakarta ini mengekpolrasi musik mereka dari berbagai hal, Dari Film, obrolan sehari – hari, dan hasil berselancar di dunia maya yang semakin memperkaya musik mereka. Keteguhan mereka untuk tampil beda dengan arus utama musik di Indonesia pada umumnya, justru membuat nilai plus tersendiri bagi Niskala, karena mereka terlihat beda dan unik dengan membawakan musik Post Rock Instrumental. Simak Interview kontributor longlife dengan Niskala, disela – sela menunggu giliran manggung Gigs pertamanya di kota Semarang.

Halo selamat malam Niskala ?

Halo selamat malam Longlife

Untuk saat ini Niskala sedang sibuk apa?

Kalau sekarang kita lagi di semarang ini lagi meramaikan acara Oasis Night yang diadakan oleh Forkicks, sama waktu deket – deket ini sih, awal desember kita mau fokus untuk album. Karena karya sebelumnya sudah ada tapi ke-suspended.

Lalu bagaimana mengenai konsep albumnya yang akan direkam awal desember besok ?

Kalau dari konsep, at least hampir semuanya instrumental ya karena kita memang band instrumental, kalau konsepnya sih kayak ngomongin satu lagu sama lainnya kayak enggak ada jedanya sih, terus nyambung jadi kayak cerita utuh gitu.

Oh iya sebentar sedikit lupa, bisa dikenalkan dulu nih personilnya siapa saja ?

Niskala itu ada berlima. Damar ada di Bass, ada Indra di Drum, terus ada Daniel di gitar satu, ada Danar di Gitar dua, lalu terakhir Danis di Keyboard Synth.

Oh oke, jadi rencana kedepan yang paling terdekat hanya untuk album saja ?

Ya, kita kan berdiri sebenarnya tahun 2014 bulan Desember, jadi sekarang sudah hampir dua tahun dan itu alangkah baiknya karena udah terlalu sering banyak main sana main sini, sekarang fokusnya ke karya album itu. Jadi rencana besok awal Desember di Jogja kita akan recording secara live untuk bikin satu album.

Kenapa kalian memilih live recording ? bukan multi track ? apakah kalian sengaja agar supaya tetap mendapat atmosfirnya atau bagaimana ?

nah bener, itu alasan salah satunya. jadi Kemarin pas jalan satu tahun itu kita coba recording, ada empat lagu kalau tidak salah. Kita take recording biasa multi track gitu, tapi ternyata setelah di dengar dan di ulang – ulang kok kayak enggak nemu soulnya, kayak pas live karena kan kita emang Band Instrumental tanpa lirik tanpa vokal emosinya di lagunya itu kok enggak dapet, terus lalu sharing sana – sini ada masukan kalau recording live aja gimana. Nah dari situ kita akan coba untuk recording live.

Jadi lagu dari Niskala sendiri itu, tanpa lirik dan tanpa vokal ?

yap bener, tapi ada kasus sih, beberapa part kalau kita live kita bawain semi teatrikal juga tapi itu udah lama sih waktu awal – awal kita main pasti kayak gitu, di setiap kami live pasti ada yang bawain puisi tapi sampai kesini kayaknya konsep itu udah kurang cocok untuk diterapkan jadi sekarang sih kita lebih ke ekplorasi Sound, emosi, jadi lebih pure music.

Lalu kenapa kalian memilih tanpa lirik dan vokal?

hahaha, alasan yang pertama ya karena kami enggak ada yang bisa nyanyi, yang kedua kita kan suka banget nonton film gitu kan, ada skoringnya kan dalam film, nah seakan akan kita ingin membuat musik niskala itu kayak film, cita – cita Niskala bisa jadi band yang bisa bikin skoring film, jadi kalau ada film indie boleh tawar – tawar ke kita kalau mau join hahaha. Kalau alasan yang lain kita sebenarnya  berlima itu udah ada band sendiri – sendiri yang ada vokalnya jadi kami mencari hal yang berbeda, selain itu juga di jogja masih jarang musik Instrumental gitu kenapa kita enggak nyoba ini, siapa tahu banyak yang tertarik.

Lalu untuk nama niskala sendiri itu jarang didengar yah, nama itu didapat dari mana ?

Ceritanya nama Niskala itu awalnya sih kayak semacam nemu aja sih, suatu waktu aku baca buku nemu sebuah kata niskala apa ya, nah di tahun 2014 itu sebelum band ini terbentuk nama itu sudah lahir sebenarnya tapi aku enggak tahu mau dibuat apa yang penting pikirnya nama tersebut bagus, nah lanjut dari situ kita ngejam ada sebuah acara di jogja dan kita ingin buat band tapi kita belum punya nama, jadi waktu itu bandnya apa nih namanya, langsung aja nyeletuk Niskala aja. Kalau untuk artinya sendiri Niskala itu kalau di Bali ada Skala dan Niskala ya itu elemen spiritual ya kalau Skala itu yang visible sedangkan Niskala itu invisible. Yang berbentuk dan tidak berbentuk kurang lebihnya begitu sesuai dengan musik Niskala sendiri yang instrumental kanan kiri kanan kiri hahaha.

Mengenai responnya khalayak ramai sendiri gimana ? dengan adanya Niskala ?

Biasa sih kayak awal – awal kita bikin, kita masih awal latihan, kita pertama kali keluar orang bingung nunggu vokalnya kok enggak ada vokalnya ini, udah 5 menit sampai 10 menit kok belum ada vokalnya, oh ternyata memang instrumental, kebetulan pada saat itu band – band instrumental di jogja juga sudah ada namun banyak yang hilang dan udah lama enggak terlihat gitu lho, akhirnya ya pada kaget, tapi lama kelamaan kita sering main akhirnya bisa menikmati kalau musiknya memang intrumental, ya alhamdullilah sampai saat ini ada yang seneng.

Apakah ini pertama kalinya Niskala main di Semarang ?

Ya ini gigs pertama kali Niskala di Semarang, semoga tidak mengecewakan hahaha, tadi lihat rame Semarang, tapi kali ini juga unik di acara Oasis Night ini, kita kan tanpa lirik tanpa vokal nih tapi harus membawakan lagu – lagu Oasis, jadi nanti kita juga akan berkolaborasi dengan teman kita dari Jogja vokal juga ada, jadi nanti dua lagu ada vokalnya khusus malam ini hahaha.

Lalu untuk Niskala sendiri Influencenya siapa ?

Wah ini yang unik, setiap orang di Niskala itu seleranya beda – beda, contoh aja ya Radiohead, Sigur Ros, yang lainnya dari Pop Punk ada dari indie rock juga ada, bahkan dari film karena kami juga suka nonton Film jadi nonton film dulu terus dapet emosinya dan alurnya baru dibikin musiknya. Jadi dari 5 orang ini karena Influencenya enggak sama ketika masuk studio pas bikin musik hasilnya juga sedikit aneh, tapi itu malah jadi ini nih kalau nilanya Niskala itu ya disini beda dengan yang lain gitu.

Saat ini kalian berlima kan sudah punya band sendiri – sendiri ya, nah itu bagi waktunya gimana ?

Drummer kami si Indra udah punya band Patrick Hilson, Daniel ini juga udah ada band tapi udah bubar hahaha, terus saya dan adik saya yang namanya Danar itu punya Band Pop namanya Not End, terus Danis itu ada band juga namanya FSTVLST yang namnya sudah besar, tapi di FSTVLST itu Danis pegang Drum di Niskala dia coba pegang  yang lain Gitar akustik sama Synth.

Mengenai musik di Semarang, band apa saja yang kalian tahu berasal dari Semarang ?

Wah banyak Lipstick Lipsing, OK Karaoke, Something Abou Lola, Good Morning Everyone, AK // 47, Ambulance Panic Voice, Sereal hahaha konsisten mereka, sama Moiss. Nah dulu itu gigs pertama Niskala kami main sama Moiss di Jogja hahaha.

Kalau teman – teman ingin mendengarkan karya kalian bisa kemana nih ?

kami ada soundcloud, ada twitter, ada instagram, ada youtube juga, semuanya menggunakan nama yang sama niskalayk,di soundclud ada satu lagu yang sudah bisa di dengarkan namun belum free download.

Harapannya sendiri untuk Niskala Kedepannya ?

Ya itu tadi kita berharap semoga kita tahun depan sudah bisa mengeluarkan album itu dulu sih, nanti dari situ kita bisa lihat progreesnya penonton atau penikmat di Jogja atau di Jawa Tengah khususnya gimana responnya tentang Niskala, dari situ nanti kita bisa tahu keseruan – keseruan apa lagi yang akan kita bikin, sama ini sih kalau kami berharap Niskala itu ibarat Rumah jadi Rumah itu dijaga bagaimana biar convert antar personilnya enggak ada gesekan, kalau pun ada gesekan ya saling terbuka aja, yo jenenge nelateni wong lanang ki podo – podo wong lanang yo to hahahaha.

niskala-stage

niskala-stage3

niskala-stage5

Text by Brigitan Arga Siam

Photo by Ryan Amigo

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

FIND US ON

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.

 

Pin It on Pinterest