1


WANA RILIS SINGLE DAN VIDEO KLIP “JUICE” DEBUTNYA

 

Wana Rilis Single dan Video Klip "Juice"

Photo doc Wana

Single dan video klip “Juice” dirilis wana sebagai perkenalan dirinya kepada penikmat musik Nusantara.

 

Longlifemagz – Pria 18 tahun keturunan Malawi-Zambia yang sudah tiga tahun tinggal di Indonesia, Warna merilis single perdana dan video musik “Juice” . “Juice” sudah bisa disaksikan di channel YouTube Rendang Records serta dapat didengarkan di Spotify dan Apple Music sedari waktu rilisnya pada 23 Mei 2018.

Lagu ini diproduksi bersama dua sobatnya, Max van Water dan Louie Ferguson, di bawah payung Loopelo, situs pertama di Indonesia yang menyediakan loop dan sample musik agar dapat digunakan oleh mereka yang ingin membuat musik sendiri. Proyek ini sendiri diluncurkan via Rendang Records yang diprakarsai oleh Danny Widodo dan Oscar Erdiansyah.

Dalam video yang dibesut oleh Sore Alanram, Wana mengeksplorasi kearifan budaya lokal tanah yang telah bertahun-tahun ditinggalinya; mencoba es doger, makan di warteg, nongkrong di warung, nggak jelas di halte, dan lain sebagainya. Visual menyenangkan tersebut dikombinasikan dengan irama hip-hop ala Wana yang ia sebut sebagai Jakarta Gangsta Rap.

 

 

 

 

 

 

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

MURPHY RADIO, BAND MATH-ROCK ASAL SAMARINDA JADI JUARA PLANETROX INDONESIA 2018

Photo by doc. Murphy Radio

Tancapkan bendera #borneopride di malam final Planetrox Indonesia, Murphy Radio siap terbang menuju Kanada.

 

Longlifemagz – Berita baik kembali datang dari trio instrumental rock, Murphy Radio setelah sebelumnya cukup meramaikan scene musik nasional dengan video musiknya, lalu masuk kesepuluh besar Siasat Trafficing, kini Murphy Radio lolos kelima besar ajang Planetrox Indonesia 2018.

Ajang yang diselenggarakan pada pekan lalu (10/5) ini menyatakan Murphy Radio, yang beranggotakan Wendra, Aldi Yamin, dan Amrullah Muhammad keluar sebagai pemenang Planetrox Indonesia 2018 melalui sesi live audition mengalahkan empat band lainnya: The Badminton, S.A.M Site, Kraken dan Stereo wall yang kesemuanya adalah band asal Pulau Jawa.

Murphy Radio nekat terbang ke Jakarta ditengah proses rekaman album perdana mereka, sebuah langkah gambling yang biasanya jarang diambil oleh band-band daerah lainnya. Selain itu sistem penilaian yang terbagi 75% dari juri (Ezra Simanjuntak, PJ Panjidan Simon Gaudry) dan 25% dari voting penonton tidak membuat mereka gentar untuk datang.

Planetrox adalah kompetisi musik yang berlangsung di 10 negara: Kanada, Amerika Serikat, Perancis, Britania Raya, Jerman, Meksiko, Ceko/Slovakia, Jepang, Cinadan Indonesia. Pemenang dari setiap negara akan berkesempatan untuk tampil dalam festival music Evol et Macadam yang diselenggarakan bulan September nanti di Kota Quebec, Kanada.

 

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

PELUNCURAN VIDEO KLIP DARI LEGIT YANG CIAMIK

Photo by docs. AchmadHabibie

Legit! Memberi nafas baru bagi musik Hip-Hop Semarang, lewat sharing season, penampilan kolektif musik, sampai peluncuran video klip “Panic”.


 

Longlifemagz – Jumat (30/3) bertempat di Impala Space, group hip-hop yang bernamakan Legit! Sukses menggelar hajatan dalam peluncuran video klip “Panic” dan berkolaborasi dengan kolektif Kreatif Semarang yakni Bejana Karya.

Bersamaan dengan perilisan video klip terbaru dari Legit!, “Panic”, acara ini lebih dulu dibuka dengan sharing season bersama dengan Megabay Pictures – Epphik dan penampilan dari kolektif musik lainnya, Hills Collective, Rrefal, Aknostra, Rad Abe dan Sober.

Dinginnya malam kota Semarang yang sebelumnya diguyur hujan, langsung dibakar oleh penampilan dari Hills Collective. Tidak lama kemudian Rrefal yang mengambil alih panggung, tampil dengan membawakan 2 lagu yang sedikit mendayu, membuat penonton bersenandung dalam alunan irama melankolisnya.

Selangnya Aknostra yang memberi serangan, menjadikan venue kembali meriah dengan segala nyanyian yang keluar dari mulut penonton. Rad Abe dan Sober yang didaulat sebagai puncak, sebelum acara sharing season dimulai.

Sharing season yang kurang lebih menjelaskan tentang proses kreatif dalam pembuatan video klip terbaru dari Legit!, disimak baik oleh penonton. Megabay Pictures, rumah produksi video yang ada di kota Semarang, yang didaulat sebagai kreator dalam pembuatan video klip Legit! Kali kedua ini.

Tak lama setelah acara sharing season usai, Legit! Langsung tampil. Terlihat sudah dipanggung, Mere, Greedysmoker, Gedowor, Rendy-O, dan dibantu komposer sekaligus Disc Jockey handal, Dirty Wake, grup tersebut menggebrak panggung musik Semarang dengan ciamik. Meluncurkan nomor-nomor hits, “Ain’t No Surrender” dan lagu terbarunya “Panic” membuat crowd pada malam itu kian menggila.

 

 

5 PENAMPIL SPESIAL JAVA JAZZ FESTIVAL YANG BERHASIL MEMBAWA NOSTALGIA

Photo by doc pophariini.com

Suguhan para penampil legend yang membuat penonton terbius nostalgia romansa semasa muda.

 

 

Longlifemagz – Perhelatan yang diselenggarakan selama 3 hari, sedari tanggal 2-4 Maret 2018 di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta berhasil menarik puluhan ribu pengunjung. Tidak habis-habisnya Java Jazz Festival memberi berbagai kejutan bagi para penikmatnya.

Kali ini dengan peluru, suguhan para penampil legend yang membuat penonton terbius nostalgia romansa  semasa muda. Begitupula dengan berbagai kombinasi atau kolaborasi penampil yang mereka suguhkan kala mendendangkan hits lagu-lagu pamungkas era 70-90an nya.

Berbagai penyanyi legenda, kolaborasi maupun kombinasi lintas usia maupun genre mereka suguhkan dengan berbagai cara, dengan spesial membawakan tembang-tembang hits semasa dulu. Berikut diantaranya kami rangkum, mereka-mereka yang dengan epic mengajak penonton bernostalgia bersama.

  1. The Music of Chandra Darusman

Chandra Darusman dan Erwin Gutawa dalam Karimata saat tampil di Java Jazz Festival ll Photo by Beritatagar

The Music of Chandra Darusman adalah Salah satu penampil yang berhasil meraup ribuan orang. Bagaiaman tidak sekaliber Chandra Darusman, musisi legend 70-an dengan berbagai hit seperti “kau dan kekagumanku”, pastilah ditunggu kehadirannya di BHI hall, Java Jazz Festival. Terdapat pula sederet artis yang menyanyikan lagunya pada saat itu, mulai dari Mondo Gascaro, Monita Tahalea, sampai Adikara.

Kejutan tak kunjung surut kala Karimata dan Chaseiro hadir dalam satu panggung. Terlihat Erwin Gutawa yang asik melakukan atraksi solo bassnya disambut oleh kebolehan skill dari Candra Darusman di piano. Decak kagum tak kunjung surut terpancar dari wajah penonton, kala melihat atraksi mereka. Hingga diakhir performance The Music of Chandra Darusman ditutup dengan lagu “Pemuda” oleh Chaseiro dan para penampil-penampil lain. Dan sing-along dari penonton tidak terbantahkan.

 

  1. Java Jive X Fariz Rm

Fariz RM on stage ll Photo by doc. Java Jazz Festival

Nostalgia kembali terjadi Java Jazz Festival 2018, tepat di Garuda Indonesia stage malam itu (03/03), Java Jive dan Faris RM tampil. On stage tepat pukul 23.00 Wib, Java Jive yang mengambil alih panggung terlebih dahulu. “Sisa Semalam”, “Kau Yang Terindah” sampai “Keliru” sederet obat mutakhir, membuat penonton terbuai dan kembali ingatannya kemasa lalu.

Sampai akhirnya, Faris RM pun turut on stage, terciptalah kolaborasi diantara mereka berdua. “Gadis Malam” adalah lagu pembuka kebersamaan mereka berdua. Hingga tiba di tiga lagu pamungkas, “Sakura”, “Barcelona”, dan ”Dansa Yo Dansa” penampilan mereka masih terbayang dan berkesan.

  1. The Rollies

Penampilan The Rollies saat di Java Jazz Festival ll Photo by doc detik

Mereka adalah salah satu panutan dijamannya, hadir memberi warna baru di belantika music Indonesia era 60-80an akhir, terkhusus bagi genre jazz rock, pop, dan soul funk. Kehadiran mereka malam itu (04/03) di Avrist hall, Java Jazz Festival disambut hangat oleh para penonton yang sudah mengerubungi stage.

Sederet nomor-nomor andalan mereka lancarkan, mulai dari Ke “Astuti”, “Kau Yang Ku Sayang”, “Kemarau”, sampai “Dansa Yo Dansa”. Nostalgia terjadi tak tertahan, sing along terdengar tak terbendung. Diantara penonton yang menikmati penampilan The Rollies, adalah Rhesa bassist dari Endah And Rhesa yang sumriah melihat penampilan mereka.

Baca : Live Review: Warna-Warni Java Jazz 2018

  1. Indonesian Legend Reuni: 80/90

Memes dan Addie Ms, kala menghibur penonton di BNI hall ll Photo by doc tempo

Bagaimana bila sederet legenda Indonesia dihadirkan dalam waktu yang bersamaan ditempat yang sama? Ya, sama halnya seperti kamu memasuki lorong waktu dan kembali kemasa lalu. Begitupun yang terjadi di Tebs hall, Java Jazz Festival, malam itu (04/03). Bagaimana tidak, sekaliber Fariz RM, Mus Mudjiono, Deddy Dhukun,Christe, Kinan Nasution, Addie MS, sampai Memes berada di satu panggung.

Hasilnya, hall crowded, penuh dan riuh yang terasa. Membawakan tembang-tembang hit dijamannya, “Terlanjur Sayang” yang dibawakan oleh duet emas Memes dan Addie MS, “Masih Ada” duet Deddy dan Christe, Fariz RM dengan “Sakura”, hingga “Arti Kehidupan” dari Mus Mudjiono yang menutup manis malam itu dibantu dengan penampil legend lainnya.

  1. Iwa K X Neutronic

Iwa K x Neurotic on stage MLD spot hall ll Photo by doc metronews

Tampil dihari terakhir (04/03) dengan sederet hideliner dipanggung berbeda, tidak menyebabkan Iwa K kehilangan masanya. Terlihat penonton sudah memadati MLD spot hall, stage Iwa K dan Neutronic tampil.

Sederet lagu mereka hempaskan kepenonton, namun tetap yang paling epic didua lagu penutup, “Bebas” dan “Malam Ini Indah”. Crowd yang sebelumnya sedikit tenang, kian bergolak kala lagu itu dimainkan. Generasi 90-an yang girang bukan kepalang, hadir memberi warna baru.

 

Selain project serabutan, mencoba peruntungan pula sebagai penulis lepas, buruh event, dan usaha kecil clothing.

43 TAHUN SEJARAH NASIDA RIA, DAKWAH DENGAN RIANG GEMBIRA

Photo doc lagu-qosidah.blogspot.com.

 “Nasida itu kan nyanyian, ria itu gembira. Dalam hal ini kita Nasida Ria berdakwah melalui musik, dengan nyanyian riang gembira,” ujar Rien Jamain.


 

Longlifemagz – Siang itu Nasida Ria sedang latihan rutin, untuk persiapan pentas mereka disalah satu event di Demak. Latihan didalam kediaman Gus Choliq Zain, yang tak lain merupakan basecamp dari mereka sekarang. Dibagian depan kediamannya, disulap menjadi Warung Soto, “Kami membuka usaha ini sekaligus menambah-nambah pemasukan,” beliau bercerita membuka obrolan kala itu.

Terlihat disana terdapat sekitar delapan orang pengunjung tampak sedang asyik menyantap soto. Sebagian dari mereka ada pula yang sudah selesai menikmati, dan berbincang hangat sembari menikmati teh yang masih sedikit tersisa.

Empat orang dari kami, tim Longlife Magazine, datang meliput langsung aktivitas dari Nasida Ria. Kami menikmati suguhan kopi hitam yang telah disediakan sembari berbincang banyak dengan Gus Choliq Zain, yang saat ini merupakan manager dari Nasida Ria, sekaligus anak dari (Alm) H. Muhammad Zein, penggagas Nasida Ria awal kali terbentuk.

Kini Nasida Ria memang sedang sibuk-sibuknya. Selain jadwal pentas yang padat, nantinya mereka juga akan mengeluarkan album baru ditahun ini.

Awal Mula

Adalah Nasida Ria, grup musik qosidah modern yang sudah berdiri sejak 43 tahun silam, tepatnya tahun 1975. Ide untuk membuat grup ini datang dari (Alm.) H. Muhammad Zein sebagai medium berdakwah dalam menyiarkan ajaran islam.Muhammad Zein atau Bapak Zein adalah guru di Departemen Agama (DEPAG) dibagian seni membaca Al-qur’an. Beliau pendidik agama sekaligus orang yang gemar berkesenian, dalam bidang musik. Beliau melihat musik sebagai bagian dari seni, dijadikan medium untuk menyebarkan syiar agama. Hal ini sudah dilakukan beliau bersama grup As-Syabab, grup yang memainkan musik gambus (padang pasir) dan melantunkan syiar Islam, berbahasa Arab.

Mempunyai pondok pesantren, Pak Zein mengajarkan ajaran Islam, mulai dari membaca Al-qur’an sampai Qira’at kepada murid-muridnya. Tidak hanya terfokus di Kota Semarang, beliau juga berkeliling ke kota-kota sekitar Jawa Tengah mulai dari Magelang, Batang, sampai Pekalongan.

Mengaji adalah satu pelajaran yang wajib ditekuni oleh setiap muridnya, sampai benar dalam lafal. “Setiap Jum’at pagi kita membaca Al-qur’an,” ujar Rien Jamain, salah satu anggota awal Nasida Ria yang masih bertahan hingga saat ini. Selain itu etika sebagai muslim juga digenjot sebagai pegangan dalam bersikap dan berpikir. Dalam pembinaan itu dikasih kegiatan bermusik. “Kita dibimbing dan diberikan pelajaran mengaji, seni, dan musik,” ia melanjutkan kisahnya.

Dalam menjalankan rutinitas mendidik di berbagai kota, Pak Zein melihat potensi murid-muridnya dalam membaca Al-qur’an, Qira’at, dan juga bermusik. Dikumpulkanlah murid-murid di pondok pesantrennya, di Jalan Kauman Mustaram No. 58, Semarang.

Pak Zein perlahan tapi pasti mulai membimbing murid-muridnya untuk menyanyikan dan memainkan lagu Arab, gambus, bernuansa padang pasir. “Dulu awal-awal masih pakai rebana,” kata Gus Choliq Zain.

Seiring waktu, potensi murid-muridnya makin terlihat dalam mensyiarkan agama melalui musik, diciptakanlah sebuah grup qosidah, dengan nama Nasida Ria. “Nasida itu kan nyanyian, ria itu gembira. Dalam hal ini kita berdakwah melalui musik, dengan nyanyian riang gembira, ujar Rien sedikit berfilosofis ketika ditanya mengenai ihwal awal mula nama grupnya tersebut.

Maka berdirilah Nasida Ria, dengan 9 personil wanita didalamnya, Mudrikah Zein, Muthaharah, Rien Jamain, Umi Khalifah, Musyarrofah, Nunung, Alfiyah, Kudriyah dan Nur Ain.

Hingga memasuki tahun 1978, mereka merilis album “Alabadil Makabul”. Berisikan lagu-lagu yang kental akan nuansa Arab dan musik padang pasir, melambungkan nama Nasidaria hingga makin dikenal masyarakat.

Belakangan Nasida Ria mengalami perubahan, baik itu dalam penggunaan bahasa yang dipakai didalam syair. “Kita gunakan bahasa Indonesia, lugas dan merakyat, agar lebih mudah tersampaikan,” terang Gus Choliq. “Sampai musik yang sebelumnya kental akan irama gambus (padang pasir), kita kembangkan lagi” beliau menambahkan. Bertambahlah instrumen baru berpadu-padan dengan qosidah, mulai dari gitar, kendang, bass, organ, sampai biola. Warna musik ini menghasilkan perpaduan unik, yang hanya dimiliki oleh Nasida Ria.

 

Perjuangan Musik dan Dakwah Nasida Ria

Jalan mulus tidak langsung ditemukan dalam karir Nasida Ria, walau mereka mempunyai tujuan baik dalam bermusik. Pertentangan kian muncul dipermukaan. Banyak yang mempertanyakan jalan yang diambil dari Nasida Ria “Yang nyanyi kok perempuan? Berdakwah kok melalui musik?”

Dengan keseluruhan personil yang terdiri dari perempuan dan tampil bermusik didepan publik. Belum lagi sistem patriarki yang masih dominan dipercaya kala itu yang masih belum terlalu banyak menampilkan wanita di ruang publik dalam konteks bermusik. Ditambah dengan stigma usang tentang perempuan yang harus mengurus rumah tangga dan anak semakin menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat yang masih memandang sinis terhadap apa yang mereka lakukan.

Namun atas keteguhan prinsip, iktikad yang baik, dan dukungan dari berbagai pihak, “Banyak juga kiai-kiai yang mendukung ,“ ujar Gus Choliq, Nasida Ria tetap memilih jalannya. “Yang penting tujuan kita berdakwah,” Gus Choliq menambahkan dengan yakin.

Nasida Ria dalam proses bermusiknya mengalami transformasi dari gambus menuju qosidah modern. Hal ini bermula dari sumbangan alat musik organ, gitar dan juga drum dari Imam Suparto (Walikota Semarang pada saat itu). Selanjutnya, Rien bercerita bahwa instrumen kembali berubah setelah ada guru dari RRI (Radio Republik Indonesia) Semarang yang mengajari mereka bermain biola. Seterusnya drum dihilangkan, hingga terbentuklah format bermusik mereka seperti sekarang ini dalam bentuk qosidah modern.

Untuk menunjang keberhasilan mereka berdakwah melalui musik, latihan terus dilakukan untuk menghasilkan karya yang bagus. Gus Choliq mengatakan personil Nasida Ria jika sudah menguasai satu alat musik, harus bisa juga memainkan instrumen lainnya. Setiap pergantian lagu ada personil yang digilir bermain dengan posisi yang berbeda. “Kondisional tergantung kebutuhan dari lagu tersebut,” Rien mengiyakan.

Setidaknya atas ketekunan mereka hingga kini selebihnya sudah 34 volume album yang dikeluarkan Nasida Ria, dengan total kurang lebih 300 buah lagu yang diciptakan.

Baca :

Benci Tapi Rindu, Perjalanan Dangdut Yang Berliku

Raja Dangdut, Polemik Dakwah, Musik, dan Goyang

Sederet lagu Nasida Ria, masih terus diputar mulai dari televisi, radio, dari rumah ke rumah, sampai acara-acara pengajian maupun pernikahan. Lagu “Pengantin Baru” yang terdapat dalam volume ke-4, album “Sholawat Nabi”, masih menjadi themesong dalam hajatan pernikahan. Tilik volume ke-5 dari Nasida Ria, album “Perdamaian”, terdapat nomor-nomor yang kian memperkenalkan Nasida Ria dalam lingkup nasional. Seperti lagu “Perdamaian”, yang pada medio 2000-an dinyanyikan ulang oleh band Gigi. “Kota Santri” turut pula dicover ulang oleh beberapa musisi, salah satunya Anang Hermansyah dan Ashanty.

“Dia (Pak Zein) nulis lagu ‘Kota Santri’, sambil jualan bensin eceren. Nah ada situasi santri-santri Kaliwungu (Semarang) itu ngaji. Jadilah itu lagu,” kenang Zain seraya tertawa kecil. Lirik lagu “Kota Santri” yang sederhana, dan dekat dengan realita, membuat lagu tersebut masih terasa relevan dan terus dinyanyikan sampai sekarang.

Nomor-nomor lainnya, tidak kalah terkenal dan bagus untuk didengar. Sebut saja “Mashitoh Indonesia” (Vol 10 – Dunia Dalam Berita), “Tahun 2000” dan “Jangan Jual Ginjalmu” (Vol. 12 – Rumahku Surgaku) , “Bom Nuklir” (Vol. 14 – Anakku), “Keadilan” (Vol. 18 – Keadilan), sampai “Nabi Muhammad Mataharinya Dunia” (Vol. 24 – Nabi Muhammad Mataharinya Dunia).

Lagu dan liriknya, banyak diapresiasi oleh publik, salah satunya oleh media Vice Indonesia. Tidak hanya kental akan dakwah, Vice Indonesia melalui artikel yang dimuatnya menyatakan lirik-lirik Nasida Ria lekat akan nilai futuristik. Rien merasa dulu dia juga tidak mengira bahwa lagu-lagunya akan seperti itu, menjadi suatu fenomena yang benar-benar terjadi didalam masyarakat. ”Terkadang saya ketika merenung sampai merinding mengapa lagu- lagu Nasidaria benar-benar menyentuh dalam kehidupan” ucap Rien merespon fenomena tersebut.

Selain Zain, Abu Ali Haidar alias KH. Ahmad Bukhari adalah salah satu pencipta dari lirik-lirik yang terkandung dalam Nasida Ria. “Sangat cemerlang banget itu bapak Ali Haydar, kadang mengambil dari Umi Kalsum sama Bapak Zein (Alm) kadang bahasa Arab di Indonesiakan, kadang idenya lahir sendirinya dari realita disekitar” Rien berujar dengan penuh kagum. Dia bercerita lagu-lagu yang diciptakan Abu Ali Haidar tersebut hadir atas renungan-renungan yang ia lakukan.

Pernah pada suatu waktu Abu Ali berkata ke Rien “Mbak Rien, besok tak buatkan lagu dari mempertanyakan, sopo ngerti (siapa yang tahu), siapa yang bilang?. ”Eh jadi lagu Siapa Bilang,” kenang Rien. Lagu yang mempertanyakan dan melawan wacana bahwa anak muda telah merosot akhlaknya.

Tidak hanya menyebarkan syiar agama, lirik lagu Nasida Ria juga humanis, peka akan realita dan isu-isu disekitar. Bergelut di era Orde Baru, tidak membuat mereka takut untuk mengkritik apa yang salah, seperti lagu “Keadilan”, “Reformasi”, maupun “HAM HAM HAM” adalah sedikit diantaranya. “Tidak ada larangan pada waktu itu,” kata Gus Choliq. “Kita hanya berbicara tentang pemerintahan, tidak menyinggung ataupun melanggar aturan,” tandas Rien.

Konsistensi berdakwah dalam musik, mensyiarkan agama, humanis, menyebarkan nilai-nilai kebaikan membuat Nasida Ria mendapatkan penghargaan. Mulai dari penghargaan Pengemban Budaya Islam dari PWI Pusat Jakarta (1989), Penghargaan Seni dari PWI Jateng (1992) sampai Anugrah Keteladanan 2004 dari PPP Jateng (2004).

 

Busana, Fans dan Panggung.

Dari acara satu ke acara lain, dari satu panggung ke panggung lainnya, Pak Zein terus melatih mental para personil Nasida Ria pentas didepan orang banyak. Bukan suatu yang mudah bagi para personil yang notabene perempuan dan anak pesantren.

Untuk mempersiapkan penampilan didepan orang banyak, tidak jarang setiap personil berlatih sesering mungkin. “Karena Bapak (Zein) itu orangnya detail banget,” tutur Rien.

Segala bentuk latihan dilakukan untuk menghasilkan penampilan maksimal diatas panggung, mulai dari latihan musik, berbicara didepan banyak orang, sampai latihan bergaya kala memainkan musik. “Pakai dipan itu dulu saya sering latihan, Pokoknya waktu itu lucu-lucu,” kenang Rien tersenyum.

Tiba dipanggung pertamanya, Nasida Ria mampu tampil dengan cukup sukses, “Salah satu tempat pertama adalah saat acara yang digelar oleh Departemen Agama Kota Semarang,” Gus Choliq berujar. “Hingga berlanjut di Balaikota, kantor Kementerian, sampai di RRI. Lama kelamaan diundang di alun-alun, di masjid masjid besar. Itu sekitar tahun 75an akhir,” ucap Rien mencoba mengingat.

Rasa grogi tak lepas dirasakan setiap personil, kala banyak mata yang menyorot mereka. Manusiawi memang, namun pertunjukan harus tetap dilakukan, panggung harus tetap ditaklukkan. Berdoa adalah salah satu kewajiban yang mereka lakukan, “Doa apa saja pokoknya. Supaya gak dredek (grogi),” kenang Rien sembari tertawa. Ya, doa adalah obat mujarab untuk hilangkan rasa grogi dipanggung.

Nasida Ria semakin mendapat sorotan dari masyarakat, terlebih juga dalam trend berbusana, mereka menjadi trendsetter pada masa itu. Rien mengatakan belum banyak perempuan pakai jarit (kain batik panjang), baju, kerudung sekaligus bermain musik pada saat itu.

Berbondong-bondong wanita mengikuti gaya berbusana Nasida Ria, “Itu sampai di Johar (pasar di Semarang), banyak itu (perempuan) yang nyari jarit Nasida Ria, kerudung Nasida Ria”, ucap Rien. “Padahal saya sendiri tidak punya, karena waktu itu banyak banjir, jadi dulu jarit kita kumpulkan, untuk disumbangkan” beliau lanjut menambahkan. Saking hype nya gaya Nasida Ria dalam berbusana, selain masyarakat umum, grup-grup musik qosidah perempuan lainnya turut terpengaruh oleh mereka.

Ada kesadaran dalam diri mereka untuk mengubah gaya penampilan berbusana, dari yang sebelumnya sedikit terbuka, menjadi lebih tertutup. Selain banyaknya masukan yang diberikan dari para kiai/alim ulama, dan juga efek Nasida Ria yang kian dijadikan salah satu contoh oleh perempuan pada masa itu, sampai hidayah yang diperoleh sehabis pulang berhaji.

“Kita cari model yang lain, sekarang mulai tertutup saja. Kita semua berjilbab, menutup aurat”, ucap Rien. Model baru telah disepakati, Nasida Ria tampil lengkap dengan busana muslim, kerudung, dengan model dan warna yang catchy.

Dari satu album ke album lainnya mendapat sambutan yang baik, lagu-lagu Nasida Ria makin dikenal publik. Job untuk pentas, kian bertambah intensitasnya. “Dalam sebulan manggung bisa 30 kali” ungkap Gus Choliq.

Berbagai kota-kota di Indonesia tidak luput mereka sambangi, mulai dari kota-kota disekitar Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, sampai Ibukota Negara Republik Indonesia, Jakarta.

Berbagai sambutan dari penonton menyambut kedatangan Nasida Ria di berbagai kota, “Semarang, diluar kota juga, apalagi kota di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat”, Rien berujar. Selalu ada ritual khusus sebelum mereka manggung, mereka diarak-arak keliling kota oleh para penonton. “Kita awal datengnya, nanti pas sore kita sudah diarak pake mobil terbuka” ia menambahkan. Bila sudah begitu, penonton langsung mengerubungi dan dapat dipastikan saat pentas sudah berlangsung penonton ramai memadati.

Tidak semua pentas, mempunyai kenangan yang teramat baik. Perilaku penonton yang tak bisa ditebak, atmosfer dari crowd yang berbeda di tiap venue mereka pentas dan aturan mainnya. Ada saja penonton khususnya anak muda yang tidak mendengarkan, meresapi makna lagu, dan dakwahnya. Hanya berjoget saja. Kericuhan dan ribut antar penonton juga dialami. “Saya bilang, tolong mas, Nasida Ria kan qosidah, gausah lah ngadu kekuatan (berantem),” kenang Rien. Ditempat berbeda, lain lagi ceritanya, Gus Chaliq berkata dulu pernah ada yang melempar botol kecil dan mengarah ke dia, dikarenakan request lagu yang diminta tak kunjung dimainkan oleh Nasida Ria, “Untungnya tidak kena,” ujar beliau sembari tertawa.

Selalu ada cerita berbeda dan menarik dari berbagai kota. Mulai dari main di Desa Sanganjaya (daerah Tegal, Jawa Tengah) dan di daerah Dieng dengan sound system yang kurang enak didengar (noise) karena akses jalan yang susah.”Saya sempet tinggal tidur itu karena tidak enak” ucap Gus Choliq. Namun ternyata euforia penonton tetap meriah dan tinggi, “Kekecewaan saya hilang gitu aja, lihat penonton senang, nikmatnya luar biasa,” kata Gus Choliq.

Setiap personil juga memiliki kisah personal tersendiri dengan para fans. Dari mulai ada fans yang banyak memberi bingkisan dan bunga, sampai “Ada juga (personil) yang cinta lokasi waktu manggung, dan sampai sekarang telah menjadi pasangan suami istri,” Rien bercerita sembari tersenyum.

Semua pengalaman dan cerita yang telah dilewati mereka jadikan pelajaran dalam berseni dan dakwah di Nasida Ria. Hingga datanglah sebuah kesempatan, dari seringnya pentas di berbagai kota, konsistensi dalam berkarya, dan dukungan dari berbagai pihak, Nasida Ria mendapat undangan untuk pentas di Kerajaan Malaysia pada tahun 1988, dalam rangka memperingati 1 Muharam.

Dibulan Maret tahun 1994 atas undangan Haus de Kulturen der Welt (Lembagai Kebudayaan Jerman) dalam event yang bertajuk Die Garten des Islam (Pameran Islam Dunia), Nasida Ria menjadi perwakilan Indonesia dalam event tersebut.

Selang 2 tahun, Juli 1996 Nasida Ria kembali berangkat ke Jerman dalam rangka Festival Heimatklange ’96 “Sinbad Travel”, mereka juga melakukan tur di beberapa kota, mulai dari Reclinghausen, Mulheim, sampai Dusseldorf. ”Kita seneng banget waktu itu,” kenang Rien. Menurut beliau, orang Jerman itu tidak peduli mereka dari mana, asal usul mereka, ada musik seperti ini mereka joget. Waktu itu selain lagu Nasida Ria, mereka menyelipkan pula lagu “Kopi Dangdut” dalam setlist nya. “Wah lagu itu diulang-ulang, orang senengnya bukan main itu,” tambahnya.

Hingga kini Nasida Ria, masih tetap eksis sebagai grup musik qosidah modern. Walau sempat mengalami fase kesunyian, di medio 2000an. RRReC Festival dapat disebut sebagai salah satu faktor ramainya kembali Nasida Ria diperbincangkan, bahkan melebarkan pasar pendengar mereka hingga sampai ke telinga generasi muda, ABG sampai para hipster indie.

Setelah menjadi salah satu headliner dalam event RRReC Fest pada tahun 2016, mendapat kesan istimewa tersendiri oleh Nasida Ria. “Banyak orang yang dulunya tidak kenal jadi kenal, yang dulunya tidak suka jadi suka,” Rien berkata.

Begitupun dengan fenomena ditahun 2017 akhir, dimana banyak meme yang diambil dari video lagu Nasidaria di kanal Youtube, sampai lagu “Wanita Kampret” (Lagu aslinya berjudul “Wajah Ayu Untuk Siapa”).

Rien berujar wanita boleh berdandan berhias dengan sepantasnya, namun juga perlu untuk menjaga diri. Kemudian, dia menambahkan “Ya kecantikan wanita itu kan untuk suami, jadi jangan sampai hanya dimanfaatkan oleh para lelaki yang hanya mengambil keuntungan demi penuhi hasrat” (dianalogikan seperti kampret yang habis memakan sedikit mangga dipohon, lalu ditinggalkan ternoda).

Terlepas dari itu, personil Nasida Ria tidak terlalu ambil pusing begitupun dengan Rien Jamain sebagai salah satu personil dari generasi awal Nasida Ria terbentuk, pun ia banyak berterimakasih kepada remaja-remaja sekarang ini yang mau mendengarkan lagu qosidah. “Sekarang Alhamdulillah,” ucap Rien.

Hingga sekarang Nasida Ria masih tetap ada, berkarya, dan tetap eksis ditengah masyarakat Indonesia. Terlalu besar namanya untuk sebuah grup musik terlebih qosidah modern yang sudah berkarya selama 43 tahun lamanya. Ada baiknya selalu perhatikan pepatah yang berbunyi “makin tinggi pohon maka akan semakin kencang angin yang menerpa”. Bisa berlaku juga di Nasida Ria, namun yang perlu diingat adalah salah satu pesan yang diberikan oleh seorang panutan mereka, diantaranya Rhoma Irama. Ia berkata : tetap jaga kerukunan dan kekompakan, dan bila ada masalah selalu selesaikan dengan bermusyawarah. ”Semoga semua dimudahkan oleh Allah SWT, Insha Allah,” tutup Rien dengan penuh harap.

 

 

Reportase        : Musa Hakam, Dipto, Fakhri, dan Dirham

Penulis             : Dirham Rizaldi

Editor              : Musa Hakam

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

RAJA DANGDUT, POLEMIK DAKWAH, MUSIK, DAN GOYANG

Photo by Liputan 6

Berdakwah lewat dangdut dan bergoyang mendengar dangdut.

 

Longlifemagz -Tahun 70-an menjadi tahun pendobrak bagi musik dangndut. Oma Irama atau dikenal dengan nama Rhoma Irama menjadi pionir pertama yang mengoplos musik rock kedalam musik yang ia kombinasikan, dandut. Musisi muda nan ambisius itu disekitar tahun yang sama juga mendirikan O.M Soneta. Tidak lupa, ia mengajak Elvy Sukaesih sebagai temannya bernyanyi. Sekiranya tahun 1971 menjadi titik awal Rhoma berkiprah di industri musik Indonesia.

Penampilannya sangat flamboyan, dengan pengaruh musik rock dari barat, lirik moralis nan agamis, ditambah goyangan estetis dengan gerakan sopan namun tetap berpola, menjadi nilai tambah dalam membangun musik dangdut.

Rhoma Irama masih menjadi nama yang pas ketika semua orang mambahas tentang dangdut. Sebagai musisi dangdut, Rhoma teristimewakan karena punya akar musikalitas yang berbeda ketimbang penyanyi dangdut yang lain. Meski Rhoma kecil suka berdendang musik india, kian besar ia tumbuh dengan musik rock.

Disini kita sepakat bahwa ada dua arus besar di dalam dunia musik pada era tersebut. Dalam pemberitaan Aktuil No. 200 tahun 1976, salah satu penggemar Rhoma Irama marah karena pegiat rock (Benny Soebardja) menyebut dangdut sebagai musik tai anjing.

Belakangan Benny sudah meminta maaf secara langsung kepada Rhoma. Namun pertikaian tidak selesai sampai disitu. Kalau kita amati lebih detail film – film Rhoma akhir 70-an sampai awal 80-an sangat sering menggambarkan musisi rock sebagai berandalan, belum lagi pengaruh pertikaian itu terhadap penggemarnya masing – masing.

Melabeli sosok Rhoma Irama sebagai pionir dalam meleburkan musik dangdut dan rock sangat sederhana. Kita harus mencoba menelusuri kembali masa awal, bagian mengoplos rock ini tampak jelas pada awal karier.

Pada saat itu Rhoma menenteng gitar Fender putih yang mengesankan terpengaruh Ritchie Blackmore dari Deep Purple hingga peralihan Steinberger hitam andalannya.

“Rhoma banyak melakukan persilangan. Sebuah crossover yang memperkaya anasir musik dangdut itu sendiri. Rhoma melakukan perubahan besar – besaran pda semua aspek dengan melakukan elektronisasi. Unsur gitar dan drum yang menjadi ciri musik rock, begitu kental mewarnai musik dangdut ini.” tulis Shofan dalam Rhoma Irama: Politik Dakwah Dalam Nada (2014).

Tidak bisa dipastikan bagaimana musik dangdut menggeser musik rock pada masa itu. Tetapi yang sudah sangat valid, teradpat dua arus besar di Indonesia. Dangdut semakin mencuat namanya dengan kemunculan aktor-aktor dangdut seperti Rita Sugiarto, Elvy Sukaesih, Meggy Z, sampai Camelia Malik.

Musik dangdut terus berkembang, Rhoma terus diangkat namanya menjadi ikon. Bak presiden musik dangdut, masyarakat melabeli dirinya dengan Raja Dangdut. Bendera Soneta terus berkibar, dengan manifesto berdakwah melalui musik, Rhoma terus merangkul group yang berlandaskan islami, seperti Nasidaria diantaranya. Platform terus dibangun sang raja dangdut sampai melewati masa keemasannya.

Baca :

Benci Tapi Rindu, Perjalanan Dangdut Yang Berliku

43 Tahun Nasidaria: Dakwah Dengan Riang Gembira

Berlahan tapi pasti segala pakem yang dibangun sang raja akhirnya mulai terkikis. Indonesia mulai teracuni musik koplo. Ah persetan apalagi itu koplo. Sang raja gamang bukan kepalang, kemunculan musik koplo seperti merusak trivium yang ia bangun.

Penampilan musik koplo yang kental dengan kata “seronok” menjadi penyebabnya. Sang raja sepertinya selalu meletakan di posisi yang sama antara agama, dengan politik dan dagdut.

Orkes dangdut koplo menjadi lawan yang seimbang untuk ini. Muncul ketika masa orde baru berakhir, daerah pantura menjadi bukti pertama orkes koplo melejit. Siapa yang tidak tahu O.M Pallapa (1998), O.M Monata (1999) yang terkenal dengan karena penyanyi mereka, Via Vallen, hinnga O.M Serra (2003) yang berasal dari nganjuk, Jawa Timur.

Besar didaerah pantura, koplo terus menyombongkan diri tanpa harus masuk kedalam pusaran Ibu Kota. Koplo yang bersifat organik, terus membangun masa keemasannya sendiri. Musik dangdut koplo terlalu idealis dengan membawa slogan musik rakyat, musik kaum urban, musik rakyat kecil dan sebagainya.

Untuk mengimplementasikan itu, dangdut koplo tidak perlu jauh-jauh ke wilayah barat. Namanya terus berkembang di wilayah pesisir timur seperti Rembang, Semarang, Pati, Surabaya, Jombang dan sebagainya.

Namun, kecanggihan informasi dan teknologi tidak mampu membendung idealis dari dangdut koplo. Lewat inul, dengan ciri goyang “ngebor” dangdut koplo tembus pasar nasional, dan diwaktu yang sama Inul sukses dengan album yang bertajuk goyang ngebor.

Kesukses besar diraih, tapi tidak membuat “Biduanita” ini tenang. Protes keras datang dari Sang Raja secara bertubi-tubi. Protes dilayangkan kepada inul juga kepada biduanita lain di daerah pantura. Kehadiran dangdut koplo di klaim merusak iklim musik dangdut “tertib dan terkontrol” yang sudah di bangun Sang Raja.

Salah satu meradangnya sang raja adalah, inul dan biduanita datang dengan arah berlawanan dari sang raja. Mereka datang dengan busana yang ketat, memiliki goyangan yang arbitrer, dan terpaku kepada gerak khas tertentu, seperti goyang ngebor, ngecor, gergaji dan banyak nama nyentrik yang asik dan kadang vulgar.

Yang lebih menarik dari ini, protes juga tidak datang hanya dari banyak sepupuh – sepupuh dangdut, melainkan dari masyarakat. Seperti terjadi panik moral, seakan – akan di hindari, tetapi beberapa stasiun televisi malah terus mengamati dan menjadi tidak asing di khalayak.

Media menjadi cikal bakal ketegangan antara sang raja dengan Inul. Penampilan inul di televisi membuat sang raja menghimpun PAMMI–Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia– untuk memboikot sang Ratu Ngebor tersebut dengan dalih Joged yang terlalu vulgar.

Merasa terdesak dan menghormati sang raja, di tahun yang sama, Inul mengunjungi sang raja, bukan maksud apa-apa hanya sebatas sowan belaka. Belakangan terdengar bahwa sang raja terus menasihati sang ratu ngebor dengan beberapa dakwah, dan mengaitkan tindakan kriminalitas seperti pemerkosaan, pelecehan seksual yang diakibatkan pertunjukannya inul di VCD maupun di panggung.

Sedikit otoriter sang raja memaksa Inul untuk mengikuti jejak penyanyi perempuan seperti Ikke Nurjanah, Iis Dahlia, Cici Paramida dan sebagainya. Mereka adalah penyanyi yang sukses di era ketika sang raja berkuasa.

Inul resah, kurun waktu 2003 – 2006 perubahan terjadi sangat signifikan. Inul mulai menghilangkan goyang ngebornya. Tidak hilang, sebatas mengurangi intesitas dan ditutupi dengan busana glamour a la eropa.

Sang Raja Masih kepanasan, di tahun 2006, ketika komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat menggelar rapat untuk membahas Rancangan Undang Undang (RUU) anti pornografi dan pornoaksi, Sang Raja, Inul dan beberapa artis lainnya turut diundang untuk memberi masukan.

Dalam kesempatan tersebut, sang raja kembali bercerita tentang goyang ngebor. Menurut sumber, “goyang ngebor Inul sudah termasuk bagian dari pornoaksi yang dilarang. Goyang sensasional itu tidak boleh dilakukan, karena menimbulkan keresahan dan syahwat penonton” ujar sang raja dalam masukannya. Alhasil, RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi tahun 2006 terbentuk, dan ditetapkan. Sang raja masih begitu kuat bahkan dalam dunia sekaliber pemerintahan.

Rasa – rasanya tidak cukup membahas Sang Raja Dangdut hanya dengan beberapa lembar tulisan. Dengan nama besarnya, sang raja sangat mendambakan budaya dangdut yang sederhana. Meskipun trivium yang sudah ia buat semakin terkikis oleh perkembangan. Alih – alih mempertahankan, sanga raja membentuk Partai Idaman. Tampaknya, sang raja tahu betul begitu banyak loyalis soneta, selama ia berkarya kurang lebih setengah abad.

Biarkan ketegangan musik dangdut koplo dan musik dangdut, menjadi cerita yang paling romantis di masa perkembangan budaya musik popular terkhusus dangdut di Indonesia. Kita harus sepakat bahwa “dangdut is the music of my country,” Sang Raja memang sangat berjasa dalam merangseknya musik dangdut di tanah air, pondasi identitas yang dibentuk sang raja juga diamini oleh beberapa penonton dan pegiat dangdut pada masa itu bahkan saat ini.

Pada hakikatnya, sang raja pun tidak mampu membendung proses ini. Proses urbanisasi kebudayaan tepatnya. Setelah bertahun – tahun seusai konflik dengan Inul Daratista, dangdut koplo tidak mati, malah terus mewabah hingga ke lapisan masyarakat, tidak mengenal kelas bahkan gender.

Dangdut yang sangat indentik dengan musik rakyat menengah ke atas, sekarang mampu menembus pasar. Kita harus akui keseriusan itu terlihat, di beberapa stasiun TV Lokal dengan tajuk “Liga dangdut”, belum lagi yang menggaet dangdut sebagai komunikasi dengan masyarakat.


FIND US ON

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.

 

Pin It on Pinterest