Peringati Hari Kesehatan dengan Gaya Hidup Sehat

SEMARANG – Pada hari Jumat tanggal 8 November 2019, Basilia Group bekerjasama dengan Yuhu Agency telah melaksanakan “Mini Seminar & Diskusi: Tren dan Promosi Gaya Hidup Sehat 2020”. Acara tersebut diselenggarakan dalam rangka menyambut hari Kesehatan Nasional yang jatuh pada 12 November 2019.

Acara ini dilaksanakan di Basilia Café and Dine yang berlokasi di Jalan Menteri Supeno 13A, Semarang, Jawa Tengah. Mini Seminar dan Diskusi ini berlangsung selama kurang lebih 2 jam dimulai dari pukul 09.30 WIB hingga pukul 11.30 WIB. Acara ini bersifat umum dan dihadiri oleh kurang lebih 35 peserta yang berasal dari member Pasar Sehat Basilia, Bank Sampah, mahasiswa, dan masyarakat umum, serta turut menghadirkan dua pembicara yang ahli dalam bidangnya, yaitu Dr. Ir. Florentina Kusmiyati, MS yang berprofesi sebagai dosen di Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro dan Augusty Satrio Wicaksono selaku perwakilan dari Bank Sampah Lestari.

Acara dibuka dengan doa dan sambutan dari Mas Rizal selaku perwakilan dari Basilia lalu dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh kedua pembicara dan taklupa tanya jawab. Para peserta sangat antusias saat diberikan materi dan penjelasan oleh pembicara mengenai hidup sehat dan cara mengolah sampah. Bahkan saat sesi tanya jawab sangat banyak pertanyaan yang diajukan dan membuat diskusi semakin menarik.

Setelah kedua sesi tersebut selesai, dilanjutkan dengan pemberian sertifikat kepada kedua pembicara yang diserahkan oleh Mas Rizal selaku perwakilan dari Basilia dan Putri Fitriyani selaku project leader dari Yuhu Agency.

“Harapannya setelah diedukasi oleh dua pembicara yang memang menggeluti bidangnya sudah lama,  peserta mampu menerapkan apa yang telah disampaikan. Mau untuk memulai hidup sehat dan mempersiapkannya untuk tahun 2020 yang lebih baik” jelas Putri Fitriyani selaku  project leader.

Acara ditutup dengan ucapan terimakasih oleh MC dan dilanjutkan dengan foto bersama. Tak lupa para peserta disuguhkan buffet dari Basilia yang mana mereka dapat membuat sandwich sendiri sesuai selera. “Luar biasa mini seminar dan diskusi yang diadakan, pengetahuan tentang gaya hidup sehat tak hanya sebatas olahraga dan makan sehat tapi lebih dari itu.” papar Fithri,  salah satu peserta mini seminar dan diskusi.

STERIL 2019,Yang Tak Pernah Usai!

Glen Fredlly dalam penampilannya di Steril 2019 // Doc : @Longlifemagz

Longlifemagz — Emang gapernah salah kalau ngisi malam minggu dengan nonton konser. Termasuk ke STERIL 2019 yang diadakan sabtu (21/09/2019) di UTC Convention Hotel, Semarang. STERIL 2019 kali ini mengusung tema “Expose The Heritage” yang menghadirkan sejumlah penampil yang keren – keren banget.

“jadi steril itu singkatan Style Deformation in Civil. Ya itu pentas seni tahunan yang diadain sama temen – temen teknik sipil undip mas” Ujar salah satu panitia

Nah, dengan mengangkat tema “Expose The Heritage”, teman – teman Universitas Diponogoro jurusan Teknik Sipil ini ingin menyampaikan bahwa masih banyak terdapat kebudayaan – kebudayaan yang belum di Ekspose di Indonesia.

Sing a Long yang tak tehindari, euforia yang campur aduk, dan penampilan – penampilan artis yang memukai juga menjadi gambaran dalam acara pada malam itu.

Acara dibuka dengan penampilan unik nan atraktif dari sebagian panita pada sore hari dan disusul dengan penampilan yang ga kalah serunya dari Perkusi yang hadir. Setelah habis maghrib, penonton mulai datang berdatangan.

Penampilan Ardhito Pramono yang membuka line-up Guest Start malam ini keliatan manis banget. Teriakan histeris penonton ketika ia menaiki stage pun menjadi awal bahwa pesta akan dimulai. Ardhito memulai dengan lagu “Disenayan”dan disusul deretan hitz lainnya seperti….. Ardhito menutup aksi dengan lagu “Superstar” setelah sebelumnya menyanyikan lagu “Bitterlove”.

Ardhito Pramono dalam penampilannya di Steril 2019 // Doc : @Longlifemagz

“ya seperti biasa, setelah ada hello pasti ada goodbye” Ungkap ardhito di sela – sela aksinya.

Pemanpilan yang ga kalah gokilnya dateng dari mahasiswa Teknik Sipil Sendiri, dengan menyajikan penampilan Modern Dance yang diisi sama cowo – cowo maskulin nih. Ya seperti biasa antusias penonton juga ga kalah meriah, kayaknya banyak temen – temen yang nungguin penampilan mereka ini deh?

Endah n Resha dalam penampilannya di Steril 2019 // Doc : @Longlifemagz

Setelah ketawa geli sekaligus salut dengan modern dance, kali ini penonton dibawa enjoy lagi dengan penampilan Endah n Resha. Kompak menggunakan setelan putih – putih, musisi suami istri ini memperdengarkan lagu – lagu baru dari album kelima yang mereka. Penampilan romantis mereka berdua menjadi hal yang paling ditunggu dari ribuan penonton yang memadati lokasi pada saat itu. Aksi panggung yang jenaka juga menjadi hal yang unik diatas panggung.

Glen Fredly menjadi penampil pamungkas pada malam itu. Dibuka dengan lagu “My Everything” sontak membawa penonton dalam euforia yang luar biasa. Membawakan lagu “Sedih Tak Berujung” dan di medley lagu “Akhir Cerita Cinta” dan sing a long tak terhindari.

Dalam penampilan malam ini, Glen juga menyanyikan lagu yang mengingatkan kita tentang Isu Permasalahan yang sedang terjadi di Papua. Selain itu, ia juga banyak berbicara tentang anak muda yang harus menjadi semangat zaman pada era ini.

“begitu banyak permasalahan sosial yang terjadi hari ini, masalah lingkungan hingga masalah rasisme di Indonesia,” ujar Glen dalam aksi panggungnya.

Acara yang dihadiri 4000 pasang mata ini, menjadi tanda bahwa STERIL 2019 sukses diselenggarakan.

“Harapannya sih kedepannya lebih sukses lagi, kalau bisa mengundang band dari luar negeri juga sekalian,” Ungkap Fathia salah satu pengunjung STERIL 2019.

M Bloc: Ruang Urban Terjadinya Berbagai Gagasan dan Aktivitas Kreatif Generasi Milenial

Suasana M Bloc Space // Doc : @mblocspace


Longlifemagz – Setelah mengalami proses renovasi fisik selama lebih kurang empat bulan lamanya, M Bloc yang berlokasi di Jl Panglima Polim Raya No.37, Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan akhirnya mulai resmi dibuka untuk umum pada hari ini (26/9). Acara pembukaan resmi M Bloc akan dilakukan pada petang hari oleh Menteri Negara BUMN Rini Soemarno dan malam harinya akan dilakukan Grand Opening Party yang akan menampilkan Krontjong Toegoe, White Shoes and the Couples Company dan Glenn Fredly.

Proyek M Bloc ini mengalih-fungsikan lahan seluas 6.500 meter persegi milik Perusahaan Umum Percetakan Uang RI (Peruri), yang awalnya berfungsi sebagai komplek perumahan karyawan dan gudang tempat produksi uang yang sudah tidak beroperasi menjadi sebuah creative hub multi-fungsi bagi komunitas milenial. Proyek kreatif yang digarap oleh PT Ruang Riang Milenial ini berlokasi di sebagian area kantor Peruri yang terletak di kawasan Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Sebanyak 16 unit bekas rumah karyawan bergaya post-colonial berlantai dua yang telah eksis sejak dekade 1950-an ini akan dimanfaatkan sebagai shophouse oleh berbagai brand lokal ternama seperti Tokyo Skip Jack, Demajors, Beyoutiful, Kedai Tjikini, Mata Lokal, UnionWell, Titik Temu Coffee, Kebun Ide Gelato, Mr. Roastman, Rumah Lestari, Chickro, Suwe Ora Jamu, Mbok Ndoro, hingga Connectoon.

Sedangkan dua unit gudang bekas produksi uang berukuran sekitar 900 meter persegi yang berada di bagian dalam telah disulap menjadi restoran dan roastery bernama _Oeang serta M Bloc Live House, sebuah venue musik berkapasitas maksimal 350 orang yang digunakan untuk konser musik serta berbagai pertunjukan seni lainnya.

“Program reguler kami di M Bloc nanti nyaris setiap harinya menyuguhkan konser musik lintas genre dari artis-artis ternama dalam negeri atau band-band pendatang baru berpotensi yang terkurasi dengan baik. Jakarta di masa depan harus memiliki sirkuit musik lokal yang walaupun kecil namun mampu melahirkan nama-nama besar yang di kemudian hari bakal memenuhi stadion, salah satunya dimulai dari M Bloc. Kota ini juga berpotensi menjadi destinasi utama wisata malam musik di Asia Tenggara. Artis-artis dalam negeri maupun manca negara yang sedang menggelar tur konser kini memiliki rumah singgah untuk bermain di depan public Jakarta. Selain itu, kami sangat terbuka untuk berkolaborasi dengan berbagai stakeholder industri kreatif di tanah air,” ujar Wendi Putranto selaku Direktur Program M Bloc. 

Lokasi M Bloc sangat strategis dan mudah dijangkau oleh beragam jenis transportasi public. Berdekatan dengan kawasan niaga dan pusat perbelanjaan Blok M yang sekaligus diapit oleh dua stasiun MRT, yaitu Stasiun Blok M dan ASEAN. Pada sisi kiri bersebelahan dengan Terminal Bus Blok M dan pada sisi kanan terdapat terminal bus Transjakarta Koridor 13 yang melayani rute Ciledug-Tendean.

“Perum Peruri yang memiliki lokasi di tengah kota Jakarta, yaitu Kebayoran Baru, memiliki lahan-lahan luas yang perlu dioptimalkan. Melalui kerja sama dengan PT Ruang Riang Milenial, Peruri melakukan kerja sama optimalisasi aset menjadikan lahan tersebut sebuah creative hub dengan konsep-konsep yang baru. M Bloc merupakan wadah generasi milenial dan komunitas kreatif untuk saling berinteraksi, pertunjukan musik yang lebih intim, lebih dekat dengan para musisi yang dapat dinikmati setiap hari. Memberikan kesempatan kepada musisi-musisi baru untuk berekspresi agar menjadi lebih dikenal di Indonesia. Pada akhirnya saya berharap M Bloc ini akan dapat memberikan banyak manfaat, khususnya kepada generasi Milenial,” jelas Nungki Indraty, Direktur Keuangan Peruri.

“Kami sangat gembira dapat menjalin kolaborasi ini dengan Peruri. Dukungan dan antusiasme Peruri atas gagasan kami untuk membuka ruang publik kreatif di sebagian wilayah kantor mereka merupakan kontribusi besar bagi keberlanjutan kreativitas generasi milenial. Apalagi dengan mulai beroperasinya MRT, gaya hidup dan budaya baru akan bertumbuh, kota Jakarta sangat membutuhkan ruang publik yang mampu menjadi ruang ekspresi yang positif. Para milenial khususnya, membutuhkan ruang interaksi yang sifatnya kolaboratif untuk berkreasi dan eksis bersama.” ujar Handoko Hendroyono, Direktur Utama PT Ruang Riang Milenial.

“Sebagai Badan Usaha Milik Negara, Peruri dituntut tidak hanya memberikan keuntungan usaha yang maksimal bagi para stakeholders, namun juga memiliki kepekaan sosial dan kualitas lingkungan masyarakat dimana kami berada. Dengan didukung sinergi BUMN dan kolaborasi dengan pihak swasta dan berbagai komunitas kreatif, M Bloc hadir tidak hanya sebagai optimalisasi aset idle perusahaan namun juga menjadi solusi bagi kelangkaan wadah kreatif bagi anak muda di perkotaan. M Bloc berupaya menghidupkan kembali kawasan Blok M yang pernah berjaya sebagai pusat kegiatan kreatif anak muda Jakarta Selatan pada tahun 80-an sekaligus melestarikan arsitektur post-colonial Kebayoran Baru. Diharapkan M Bloc tidak hanya menjadi showcase bagi musisi-musisi muda berbakat dan brand-brand lokal yang potensial namun juga menjadi urban space atau ruang aktivitas kreatif tempat terjadinya dialog berbagai gagasan kreatif generasi milenial. M Bloc juga mendukung gaya hidup sehat milenial yang berwawasan lingkungan dan mendorong budaya baru penggunaan transportasi umum Jakarta yang sudah maju. Dari tempat bersejarah dimana Indonesia mencetak simbol kedaulatannya, terimalah M Bloc, persembahan Peruri bagi generasi milenial dan komunitas kreatif Indonesia,” ujar Direktur Utama Peruri Dwina Septiani Wijaya. 

Didi Kempot hingga Para Jenderal Musik Melayu Menjadi Penampilan Spesial di Synchronize Festival 2019

Suasana Konfrensi Pers di Beer Garden – SCBD // Doc : @synchronizefest


Longlifemagz.com — Dalam waktu kurang dari dua pekan, Gambir Expo Kemayoran, Jakarta, akan kembali dihadiri oleh puluh ribuan festival-goers Indonesia. Mereka akan merayakan musik Tanah Air lewat perhelatan Synchronize Festival 2019 yang tepatnya diselenggarakan pada 4, 5, dan 6 Oktober mendatang. Tercatat ada 131 musisi Indonesiayang telah diumumkan, lintas generasi, genre, dan daerah kelahiran yang siap untuk meramaikan. (25/09)

Memasuki edisi keempat Synchronize Festival, pihak penyelenggara yaitu demajors dan Dyandra Promosindo tetap konsisten menghadirkan deretan penampilan spesial yang pantang untuk dilewatkan. Bagi yang mengikuti sepak terjang festival ini sejak edisi perdananya, pasti masih ingat betul perasaan tak terbayarkan menyaksikan langsung sang raja Rhoma Irama beraksi di atas panggung. Ada pun di edisi kedua, giliran getaran meneduhkan dari legenda folk pop, Ebiet G Ade, hingga maestro jazz, Bob Tutupoly. Sedangkan di edisi ketiganya pada tahun lalu, Synchronize Festival mendatangkan reuni yang sangat jarang terjadi antara Dewa19 dengan Ari Lasso sekaligus Once Mekel.

Tahun ini daftar penampil Synchronize Festival juga memiliki daya kejut yang tak diantisipasi sebelumnya. Salah satunya datang dari nama sang veteran campursari, Didi Kempot. Musisi yang menjabat sebagai The Godfather of Broken heart ini siap memandu keluh kesah kehidupan percintaan ribuan penonton Synchronize Festival 2019.

Tidak hanya sang pelantun “Cidro” sebagai musisi berstatus legenda yang akan tampil di festival ini, konduktor kawakan, Erwin Gutawa, akan tampil dalam tema spesial yaitu membawakan karya-karya mendiang Chrisye dengan tetap menghadirkan vokal aslinya. Gitaris jazz Tanah Air, Jopie Item, pun akan tampil bersama kolektif gitaris andal Six Strings. Ada pula kehadiran sang vokalis bosanova veteran, Rien Djamain, yang akan berkolaborasi dengan penulis lagu teruji, Mondo Gascaro.

Dalam sektor bernostalgia, Synchronize Festival 2019 menembus di segala sisi. Clubeighties, band pop besar kelahiran ‘The School of Rock’ Institut Kesenian Jakarta, akan tampil bersama dua mantan personelnya yaitu Deddy Mahendra Desta dan Vincent Ryan Rompies. Sedangkan pasukan death metal nomor satu Indonesia, Deadsquad, akan merayakan album Horror Vision bersama drummer Andyan Gorust dan pemain bas Bonny Sidharta.

Di sisi lain, terdapat band-band yang merayakan usia eksistensi dari karya yang pernah mereka ciptakan. Unit new wave kebanggaan Ibu Kota, The Upstairs, akan tampil secara khusus membawakan album Energi. Solois folk asal Bandung, Adhitia Sofyan, akan merayakan satu dekade album Quiet Down. Begitu pula band post-rock asal Bekasi, The Trees and The Wild, yang akan mengenang usia 10 tahun karya perdananya yang lebih bernuansa folk bertajuk Rasuk.

Di Synchronize Festival 2019 juga akan datang melalui tren kebangkitan emo yang membuncah dalam setahun terakhir. Band-band berjaya di era 2000-an kembali dihidupkan dari alamnya, mulai dari Jakarta Flames, Too Late To Notice, The Side Project, Speak Up, Seems Like Yesterday, Killed By Butterfly, Killing Me Inside Reunion, Alone At Last, hingga pemandu pesta emo asal Jakarta bernama Dieunderdogg – Emo Revival.

Salah satu kehebatan Synchronize Festival memang menjadi titik temu tren musik Indonesia yang tengah dan pernah berlangsung. Jika Anda para penganut folk kopi senja, Syarikat Idola Remaja dapat menambah daftar penampil yang wajib Anda tonton. Bukan tanpa alasan, pasukan folk asal Bandung ini terbentuk dari gabungan band-band folk lain seperti Teman Sebangku, Mr. Sonjaya, Balaruna, Tetangga Pak Gesang, Parahyena, hingga Orkes Midaleudami. Sedangkan bagi Anda yang sangat antusias dengan meroketnya musik dangdut, koplo, hingga fangkot di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, nama-nama yang harus Anda ramaikan mulut panggungnya adalah Club Dangdut Racun, Feel Koplo, hingga Prontaxan.

Deretan penampilan spesial tidak berhenti sampai di situ. Salah satu yang menjadi pamungkasnya adalah kehadiran para Jenderal Musik Melayu yaitu Radja, Setia Band, Wali, hingga Babang Andika eks-Kangen Band. Mereka akan meramaikan pesta karaoke yang dipandu oleh sang pionir, Oom Leo Berkaraoke. Semua deretan penampilan spesial ini akan tersebar di Synchronize Festival 2019 selama tiga hari, bersama lebih dari 100 musisi Indonesia lainnya yang juga pantang untuk dilewatkan aksi panggungnya.

Kolaborasi Menjalankan Misi Green Movement di Synchronize Festival 2019 Seperti yang pernah disiarkan sebelumnya, edisi keempat Synchronize Festival menjadi wadah bagi seluruh pihak yang terlibat untuk menjalankan bersama misi Green Movement. Dengan tema ‘Memanusiakan Alam, Mengalamikan Manusia’, seluruh penonton, pengisi acara, hingga anggota penyelenggara dapat menunjukkan kepeduliannya akan hubungan manusia dengan manusia, juga manusia dengan alamnya. “Kini, Synchronize Festival tak hanya menjadi sebuah perayaan musik Indonesia, tetapi juga pergerakan budaya urban dan populer. Selaras dengan jargon yang selalu dipegang teguh; bukan sekadar festival, tetapi juga sebuah pergerakan. Dimulai dari diri kita sendiri, dan bersama-sama untuk tetap melihat bumi kita di masa depan” Jelas David Karto, selaku Festival Director Synchronize Festival.

Misi ini merupakan salah satu alasan platform kredit digital terkemuka di Indonesia, Kredivo, untuk berpartisipasi sebagai Paylater App Partner mendukung Synchronize Festival. “Kredivo dan Synchronize Festival memiliki semangat yang sama untuk menggerakkan dan mengedukasi kaum milenial dengan cara yang berbeda namun menyenangkan dan musik terbukti menjadi media yg efektif untuk menyuarakan aspirasi,” ujar Indina Andamari, Head of Marketing Kredivo.

Selain itu, Authenticity juga turut berpartisipasi dengan Green Movement yang diinisiasi oleh Synchronize di area. Akan ada Anak-anak muda yang menjadi volunteer peduli sampah, penampungan puntung rokok yang akan diolah menjadi finish good yang bermanfaat, edukasi pengolahan sampah, dan masih banyak lagi. “Authenticity akan menjadi wadah dimana tiap orang dapat memperlihatkan keunikan mereka, dan mengekspresikan diri sebebas-bebasnya, Authenticity selalu membawa pesan dan mendorong kaum muda millenials di berbagai daerah di Indonesia yang creative, passionate, uptodate, dan open minded agar selalu berkarya dan menginspirasi dengan memaksimalkan apa yang ada pada diri mereka” jelas Anes Rembes.

Ada pun aktivitas-aktivitas yang dapat dilakukan oleh seluruh pihak dalam Synchronize Festival 2019 demi memenuhi misi Green Movement, mereka adalah: Crowdsourcing Project: Sebuah proyek terbuka bagi para penonton untuk mengirimkan pakaian (berwarna) bekas pakai yang masih layak untuk digunakan. Pakaian ini akan dijadikan sebuah instalasi karya di District Stage, yang kemudian akan didonasikan kepada khalayak membutuhkan. Upcycling Project: Sebuah upaya demi menyiasati pengolahan bahan bekas promosi seperti umbul-umbul maupun baliho bekas untuk dijadikan sebuah produk dengan nilai tambah. Bring Your Own Tumbler: Penonton diperbolehkan membawa botol minuman yang dapat diisi di water refill station yang akan disediakan oleh pihak penyelenggara. Penonton hanya perlu membayar seikhlasnya agar tetap menghargai nilai dari air yang telah disediakan. Bike to Synchronize Festival: Sebuah kegiatan bersepeda bersama menuju Synchronize Festival 2019. Seluruh pihak yang ingin mengikuti kegiatan ini, dapat bertemu di Plaza Blok M pada pukul 15:00 WIB sebagai titik kumpulnya. Pihak penyelenggara akan menyediakan area parkir khusus dan loker penyimpanan khusus bagi para pesepeda. Selain menyediakan water refill station dan bike parking area demi memenuhi misi Green Movement, Synchronize Festival 2019 juga akan menyediakan fasilitas-fasilitas lain untuk seluruh penonton seperti difabel viewing area & toilet, kids & nursery room, movie area, record market, merchant area, dan food & beverage area. Green Power Electricity: Seluruh kebutuhan listrik Synchronize Festifal 2019 dengan total 2,7 juta Volt Ampere (VA) ini menggunakan sumber listrik yang ramah lingkungan dari PLN, dan tidak lagi menggunakan generator set. Sehingga tidak ada polusi udara maupun polusi suara di lokasi acara.

Exclusive Merchandise dan Kemudahan Pembelian Tiket & Transaksi di Synchronize Festival Synchronize Festival 2019 bekerjasama dengan Rusushop juga menginisiasi kolaborasi menarik dalam bentuk merchandise. Terdapat delapan merchandise hasil kolaborasi delapan musisi dengan delapan seniman yang patut untuk dimiliki diantaranya Tuan Tigabelas x Bujangan urban; Efek Rumah Kaca x Adi Dhigelz; Oomleo Berkaraoke bersama Radja, Wali, Setia Band, Babang Andika x Oomleo; Pamungkas x Kobelita; Reality Club x alienpang; Ardhito Pramono
x Rifky Krismon; Didi Kempot x Ahmad Oka (Wirosatan); dan Frau x Ika Vantiani. Merchandise bisa didapatkan di area merchandise booth selama 3 hari pelaksanaan festival.

Dengan didukung penuh oleh Kredivo, tiket.com, Authenticity, OVO dan PLN, Synchronize Festival tahun ini akan memberikan pengalaman baru menikmati festival musik.

Aji Wicaksono, Senior Brand Manager OVO menjelaskan dukungan di perhelatan festival musik ini. “Dalam ajang ini, OVO menghadirkan promo menarik bagi pengunjung berupa cashback 30% untuk merchant di Synchronize Festival. Sebagai platform pembayaran dan layanan digital terdepan di Indonesia, OVO berharap dapat memberikan kemudahan dan keseruan saat menikmati festival musik ini, lewat pembayaran non-tunai yang saat ini semakin diminati.”, jelasnya.

Kesempatan menonton Synchronize Festival masih tersedia dengan melakukan pembelian tiket melalui situs resmi www.synchronizefestival.com. Beberapa kategori tiket yang masih dapat di beli diantaranya: KATEGORI 3 DAYS PASS Regular Rp500.000, DAILY PASS – Rp250.000, On The Spot 3 DAYS PASS (4-6 Oktober 2019) Rp685.000, On The Spot DAILY PASS Rp350.000.

Serta calon penonton juga dapat membeli tiket harga khusus melalui tiket.com. Pada Synchronize Festival tahun ini, tiket.com bekerja sama sebagai Official Flight & Hotel Sponsor. Tiket.com akan membuat gerakan CSR yang akan melibatkan instalasi karya Diela Maharanie, seorang illustrator kawakan yang membuat sebuah karya instalasi kreatif. Instalasi ini menceritakan tentang pentingnya menjaga kelestarian alam. Karya ini nantinya bisa kita nikmati langsung di booth tiket.com dalam perhelatan Synchronize Festival. Sampai jumpa di Synchronize Festival 2019.

It’s Not Just A Festival, It’s A Movement!

Synchronize fest angkat tema “Memanusiakan alam, mengalamikan manusia”


Setelah sukses menyulap JIEXPO Kemayoran menjadi wahana festival yang sangat meriah, Synchronize fest hasil kolaborasi antara Demajors dan Dyandra Promosindao kembali akan semakin mengukuhkan namanya di deretan festival terbaik di Indonesia.Synchronize memang memiliki keunikan tersendiri dibanding dengan festival-festival lainnya, karena hanya Synchronize lah yang berani untuk menyuguhkan ratusan musisi lintas genre, lintas generasi, namun tetap dengan kurasi yang terjaga dan hanya menampilkan musisi musisi Indonesia. Disaat mulai banyaknya konser konser dengan bintang tamu “luar negri” yang datang ke Indonesia.

Pada gelaran tahun ini Synchronize memiliki komposisi line up yang sangat menarik untuk di hadiri, Di antaranya, nostalgia band Emo Tanah Air yang siap menjadi penyegar sekaligus momen nostalgia para penikmat musik era 2000-an, di antaranya Killed By Butterfly, Alone At Last Too Late To Notice, dan Jakarta Flames. Selain itu, ada pula penampilan perdana Didi Kempot yang kini dijuluki The Godfather of Broken Heart oleh kalangan millennials. Total, ada sebanyak 129 penampil dari lintas genre, mulai dari dangdut hingga Emo hadir di Synchronize Fest 2019. Ke-129 penampil itu terbagi dalam tiga hari penyelenggaraan.

Selain itu pada gelaran kali ini Synchronize juga mengajak penonton untuk lebih peduli lingungan, mengangkat tema “Memanusiakan alam, mengalamikan manusia”. Tema ini berkaitan dengan harmonisasi antara manusia dan lingkungannya serta peran pergerakan massa terhadap sebuah perubahan lingkungan. Soal tema yang diangkat, Menurut David Karto selaku Festival Director, menjadi ajakan menjaga keseimbangan sebagai bentuk respon dari It’s Not Just A Festival It’s A Movement. Untuk mewujudkan itu, Synchronize berkolaborasi dengan Greeners.co, media online yang fokus mengangkat isu lingkungan hidup.

Ada beberapa program, sebagai turunan dari ‘tema alam’ ini, Adapun program yang bakal tercipta meliputi Internal Change Behaviour (sebuah program yang dilakukan tim panitia pelaksana festival yang menerapkan prinsip-prinsip kepedulian sosial dan lingkungan yang nyata dalam mengerjakan festival). Program ini meliputi pengurangan kemasan sekali pakai dan menyediakan water station untuk dipakai di tumbler-tumbler yang pada gelaran kali ini pengunjung diperbolehkan untuk membawa.

Selain beberapa aksi tersebut, untuk semakin mengukuhkan “green movement” Synchronize fest bekerja sama dengan PLN untuk menyediakan power bank sebagai sumber listrik, sehingga mengurangi pembakaran fosil di saat festival, selain itu Synchronize juga bekerja sama dengan stuffo labs untuk membuat upcycling project, dimana dalam project ini mereka membuat berbagai macam kerajinan dari limbah limbah yang dihasilkan dari gelaran synchronize fest 2018, kerajinan itu berupa tas, pouch, totebag, dompet dan lainnya, selain lebih bermanfaat, nyatanya project ini juga bisa sekaligus menjadi sebuah arsip bagi Synchronize itu sendiri.

Seperti di tahun-tahun sebelumnya, Synchronize Festival 2019 juga masih akan bekerja sama dengan Archipelago Festival untuk menjalankan Campus Roadshow Program. Kegiatannya seputar penyelenggaraan talkshow dan penjualan tiket langsung keliling bagi pemegang kartu pelajar dan mahasiswa di beberapa kampus, serta Working Experience Program yang membuka pendaftaran bagi para mahasiswa yang berminat menjadi relawan (volunteer) yang terlibat langsung dalam produksi acara Synchronize Festival 2019.

Sampai jumpa di #SynchronizeFest19. It’s Not Just A Festival, It’s A Movement!

Queen dan Sombongnya Kita

artwork by : fat twentyfour


Queen dan Sombongnya Kita

Mungkin kita tidak pernah sampai kedalam pemikiran mengapa album Queen Innuendo dan Made In Heaven begitu penting bagi penggila Quuen atau bahkan mereka yang tidak menikmati Queen sekalipun. “We Are The Champions” hanya satu dari begitu banyaknya karya yang diciptakan oleh Freddie dan Quuen menuju puncak masa kejayaannya, ia adalah frontman yang paling iconic.

Tahun 1981, adalah tahun yang paling bergairah bagi mereka, setahun setelah merilis album The Game, yang melahirkan lagu “Another One Bites the Dust” dan “Crazy Little Thing Called Loved,” diwaktu yang bersamaan pula, mereka juga sedang melakukan tur di Amerika Selatan. Tur mereka sukses besar, di Brazil konser mereka disakskan 120 ribuan penonton. Di Argentina, satu dari lima konser Queen ditonton kurang lebih 300 ribu pasang mata, hal ini mencatatkan sebagai konser paling banyak ditonton di Argentina.

Waktu terus berputar, kesuksesan Queen menjadi indikator paling maksimal sebagai band rock pada masanya. Tapi disisi lain, surat kabar harian inggris News Of The World menaikan berita dengan headline yang membuat semua orang kebingungan, “Queen Star Freddie in AIDS Shock”.

Seakan – akan tidak peduli, Freddie bersama Queen melanjutkan tur-nya dan tetap membuat karya – karya yang selalu nikmat untuk di dengarkan. Hal ini juga di akui oleh Matt Richards dan Mark Langthorne, dua penulis biografi Somebody To Love : The Life, Death, and Legacy of Freddie Mercury, mencatat bahwa meski kabar soal epidemic baru ini bikim heboh seantero dunia dan disebut sebagai “Penyakit kaum homoseksual,” Freddie tetap santai dan menjalankan kehidupan ala bintang rocknya.

Secara sekilas, kita melihat Freddie sebagai hedonis yang tidak pernah merasakan kesepeian sedetikpun. Namun orang dekat Freddie paham : sang bintang rock yang dipuja jutaan orang ini sering mengalami kesepian akut. Ia tak tahan sendiri. Getir adalah kata yang pantas untuk nama tengah Freddie, dibalik kesuksesan bersama Queen kesehatan ia mulai menurun atau bahkan kabar buruk yang ia terima tentang “mantan pacarnya”, semua itu terangkum menjadi satu.

Tapi, Freddie adalah seorang yang tangguh, tahun 1986, Freddie memberanikan diri pergi kerumah sakit dan melakukan tes HIV, dengan harapan satu dari sepuluh tes yang ia jalani ada satu yang menyatakan negatif. Tapi kenyataannya tidak. Freddy pulang dan mencoba menerimanya. Freddie paham waktu tidak akan lama lagi, kapan saja bisa terjadi. Satu tahun setelahnya, Freddie resmi didiagnosis mengidap HIV/AIDS.

Freddie bukan orang yang sembarangan, Toh, ketika ia sadar tentang semua ini, dia masih keluar-masuk studio rekaman, terutama dalam penggarapan album Innuendo yang dirilis lima tahun setelah label yang paling menjijikan diterima Freddie. Dan seperti kata Roger (drummer Quuen) “album ini seakan – akan meminjam sisa umur Freddie, karena kesehatannya memburuk.” Meskipun terkadang Vodka adalah salah satu alasan mengapa Freddie bertahan.

24 November 1991 menjadi hari yang paling menyedihkan bagi para penggila Queen, Freddie pergi meninggalkan ratusan karya yang ia buat. Di masanya, penggemar musik tahu betul bagaimana Freddie “getir” Mercury adalah zeitgeist pada saat itu, dan album Innuendo dan Made In Heaven adalah album yang sentimentil bagi Freddie ataupun Quuen.

Pada akhirnya sebagian orang ada yang suka dengan pembahasan remeh temeh seputar berapa album yang sudah di garap, lagu apa saja yang paling anthemic dari Queen, atau bahkan cerita – cerita indah tentang Queen, dan semua terangkum menjadi satu.

Namun, sebagian besar yang lain, ada juga yang lebih menikmati gossip yang ada di sekitar Queen, pembahasan tentang siapa saja pacar Freddie, atau bahkan penderitaan apa yang dirasakan Freddie hingga menulis lirik yang menyayat – nyayat hati atau bahkan obrolan yang lebih intim tentang tingkat kesepian dari sang maestro, mungkin meminjam istilah hari ini, Anxiety dan Mental Illness (?).

Terlepas dari istilah snob dan poser, informasi itu tetap nikmat dan gurih. Bahkan titik tertinggi (mungkin mustahil) adalah kita mampu memahami pemikiran – pemikiran yang ada di dalam kepala Freddie.

Buat kami, menulis musik tidak hanya bagian dari mengeksplotir hal – hal teknis seputar craftsmanship yang kerap menjadi obat tidur paling mujarab. Buat kami, menulis musik, tak melulu mesti menyelidiki seberapa perkasanya sang musisi dalam perkara instrumensasi dan teknik vokal. Berupaya menjelaskan kepiawaian Dewa Budjana memainkan Parker Fly Saraswati, atau bahkan mengagung – agungkan setiap babakan atmospheric part indah Morfem dalam rangkaian pedalboard Pandu Fuzzthoni, atau (lagi) merinci apa saja yang dibawa oleh GnR dalam konsernya di Jakarta.

Buat kami, semua pembahasan ini, tanpa di todong dengan pembacaan gagasan dan konteks, atau gossip sekitaran sang musisi, pada akhirnya akan bermuara kepada subjektif penulis yang enggan mengeksplorasi hal – hal lain di luar perkara yang audiotif. Buat kami, perkara diatas mungkin tidak cukup untuk mengurai sebuah karya musik yang mampu berbicara lebih jauh tak hanya persoalan nada dan bunyi.

Menulis musik, bagi kami (walaupun terdengar klise) adalah bagaimana menguraikan album – album Rage Against The Machine (RATM) mulai dari cover album, atau mungkin tahapan tertinggi adalah menggunakan kajian semiotika terhadap lirik dalam album RATM, atau bagaimana cerita mereka ketika konser di jantung negara paling feodal sekalipun. Bukan, bukan kami mengesampingkan Tom “Baptiste” Morello dalam lead – lead yang ia mainkan, tapi buat kami yang lebih penting adalah, apa konteks yang melatar belakangi mengapa mereka membuat lirik seperti itu. Klise bukan?

Oke, mungkin pembahasan intim tentang RATM terlalu jauh, dan seperti mengada – ada, kita bisa mengamati “ada cerita apa saja dalam perjalanan musik Efek Rumah Kaca,” bagaimana mereka menciptakan musik yang beririsan langsung dengan konteks sosial, ekonomi, percintaan, persekutan duniawi (kalau ada), atau bahkan yang lebih rumit, politik. Lebih klise bukan?

Dan yang terakhir, buat kami, (untuk mengawali kegiatan kita yang sudah lama berhenti), menulis musik bukan bagian dari menghakimi sebuah karya dengan sebuah golok tajam yang dibawa penulis. Kita bukan nabi, dan bukan juga orang yang rajin mendengarkan sepuluh sampai dua puluh album baru setiap harinya, karena sejatinya kita mengerti, apa yang lebih penting dari sebuah karya adalah apresiasi.

Lah, terus apa hubungannya sama Quuen?

“Semua orang bisa membuat Podcast dan Video, tapi tidak banyak orang yang mampu menulis 1000 – 4000 kata tentang sebuah band”

Dom Lawson – Penulis Musik dari “Metal Hammer”