1


KOALISI NASIONAL TOLAK (KNTL) RUU PERMUSIKAN SEMARANG: BATALKAN RUU PERMUSIKAN!

photo by : Fendi

 

“Beberapa Pasal yang ada di dalam RUU Permusikan dinilai dapat membatasi kreatifitas berkarya bagi para musisi. Hal ini bukan hanya terkait dengan proses kreatif berkarya saja, namun juga dapat membatasi ekosistem belantika musik di Indonesia.”

SEMARANG, SABTU (16/2/2019) – RUU Permusikan yang sedang digarap oleh DPR RI, menjadi salah satu hal yang cukup meresahkan banyak musisi di Indonesia. Hingga saat ini, sudah terdapat ratusan musisi dari berbagai aspek menolak RUU tersebut.

Beberapa Pasal yang ada di dalam RUU Permusikan dinilai dapat membatasi kreatifitas berkarya bagi para musisi. Hal ini bukan hanya terkait dengan proses kreatif berkarya saja, namun juga dapat membatasi ekosistem belantika musik di Indonesia.

Semarang menjadi salah satu kota yang merespon untuk mendiskusikan polemik RUU Permusikan ini. Beberapa musisi yang tergabung dalam Koalisi Nasional Tolak (KNTL) RUU Permusikan Semarang, menggelar diskusi terkait hal tersebut, Jumat (15/2/2019) di Impala Space, Jl. Letjen Suprapto No. 34, Kota Lama Semarang.

Hadir di tengah diskusi P. Donny Danardono, SH, MagHum. (Dosen Ilmu Hukum Filsafat UNIKA Soegijapranata), Ivan Bakara (LBH Semarang), Adiyat Jati Wicaksono (Semarang Creative Consortium/OK Karaoke) serta moderator, Gatot Hendraputra (Impala Space/Jazz Ngisoringin).

Forum diskusi menemukan bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah industri musik di Indonesia, pemegang modal besar/major label tidak lagi memegang kendali atas jalannya industri. Disrupsi dalam industri hiburan menyebabkan ekosistem musisi independen/sidestream punya posisi yang lebih kuat dibandingkan dengan ekosistem yang dibangun oleh pemodal besar

photo by : Fendi

RUU Permusikan juga dinilai punya beberapa kepentingan dibaliknya seperti; Pembungkaman musisi yang aktif bersuara tentang isu-isu sosial yang berkembang, Kepentingan pemodal besar untuk kembali mengendalikan industri musik di Indonesia, Serta potensi pemborosan anggaran oleh Komisi X DPR RI untuk mengegolkan RUU Permusikan.

Saat ini masyarakat Indonesia telah sampai pada kesadaran politik bahwa masyarakat berhak untuk ikut mengontrol kinerja pemerintah/anggota parlemen yang mereka pilih. Namun dalam kondisi ini, parlemen masih pada mindset bahwa mereka lah yang seharusnya mengatur dan menertibkan perilaku dan ekspresi masyarakat, memposisikan diri mereka sebagai ‘bapak’ yang harus mendisiplinkan ‘anak-anak nakal’ dengan membuat peraturan yang mengikat dan membatasi.

Kontrol inilah yang ingin ditegakkan RUUP salah satunya dengan media “sertifikasi”. Menurut pengamatan Donny Danardono, ada beberapa aspek yang dibutuhkan dalam mewujudkan serfitikasi ini, salah satunya yang menjadi sorotan adalah “kode etik”. Dalam banyak pekerjaan profesional, kode etik ini diperlukan sebagai ukuran tanggung jawab profesionalisme dalam pekerjaan, sedangkan dalam hal ekspresi musik, sertifikasi pada musisi (non pengajar) tidak dapat diterapkan karena musisi dalam berkarya atau menampilkan karyanya ke khalayak, bukan hubungan antara profesional dengan klien.

Pada kenyataannya, ekosistem musik sebenarnya lebih membutuhkan perlindungan dalam menjalankan haknya untuk memperoleh penghidupan yang layak, bersuara, berekspresi dan berserikat. Bukan pembatasan yang tafsirnya mudah diselewengkan menjadi pembatasan atau bahkan pembungkaman.

Dalam hal pembatasan karya, Adiyat berpendapat kalaupun dirasa perlu untuk membatasi, yang bisa dibatasi bukan wilayah kreasi, kreasi sepenuhnya bebas, musisi sendiri yang memberi batasan. Yang bisa dibatasi adalah penonton atau konsumen musik, dengan klasifikasi, misalnya dengan memberi label imbauan konten, batas minimum usia, dan semacamnya dalam produk musik atau pertunjukan musik.

“Menurutku menarik karena mengumpulkan banyak musisi, produser rekaman independen dan kawan-kawan perfilman untuk bersama mendiskusikan soal RUU Permusikan, bahkan media tidak hanya ikut meliput tapi memberikan perspektifnya. Artinya dari peristiwa ini sebenarnya muncul kesadaran kritis baik individu maupun kolektif yang pada akhirnya bertemu. Ini positif menurut saya. Dan perlu digaris bawahi, ada atau tidak ada RUU Permusikan ini, musisi tak sepenuhnya aman, jangan lupa, jika salah satu pasal yang dikritisi  para musisi adalah Hal pembatasan ekspresi dan ancaman pidana, masih ada UU ITE, pasal tentang pencemaran nama baik, penodaan agama dan banyak lagi yang bisa dipakai membungkam musisi yang bersuara kritis,” ujar Adiyat.

Ia juga berharap kedepan musisi bersama elemen yang lain bisa mengawal terus proses demokrasi dan kebijakan-kebijakan publik yang lain yang sama-sama penting, seperti RUU Penghapusan Kekerasan Seksual atau RKUHP. Atau mengkritisi UU lain yang sama-sama mengekang hak berekspresi, mengemukakan pendapat, dan berserikat.

Ivan menambahkan bahwa diskusi ini sekaligus memberi refleksi bahwa sebelum musisi yang diupayakan untuk dibungkam, ada kawan-kawan dari pers, industri perfilman, masyarakat luas, dan aktivis yang telah dilakukan upaya-upaya pembungkaman. Ia mengajak agar masyarakat bersama-sama tetap mengawal pembatalan RUU Permusikan ini hingga selesai serta mengoreksi aturan-aturan karet lainnya.

“Sikap yang tepat bagi warga negara terhadap kasus semacam ini adalah dengan terus menyuarakan pendapat secara kolektif dengan cara terus berkumpul, berserikat, dan berpendapat. Selain itu, yang juga perlu terus diperjuangkan ialah ekspresi musisi sebagai salah satu wujud partisipasi dalam menyuarakan berbagai isu sosial yang harusnya justru dilindungi, bukannya dibatasi,” terang Ivan.

Sementara itu, menyikapi hasil “Konferensi Meja Potlot” yang bersepakat untuk membatalkan RUU Permusikan, Gatot Hendraputra mengingatkan seluruh peserta diskusi bahwa sebagai “bangsa yang pemaaf dan pelupa”, masyarakat tidak boleh terbuai dengan janji akan dibatalkannya RUU Permusikan dan terus mengawal pembatalan RUU Permusikan hingga tuntas.

photo by : Fendi

Juga dibahas semalam tentang potensi kasus RUU Permusikan ini sebagai media pengalihan isu, dan disimpulkan bahwa kasus ini bukan pengalihan isu dari permasalahan lain karena; Menurut peserta diskusi dari kalangan media, kasus ini hanya viral di kalangan tertentu, Untuk mengalihkan isu biasanya dibutuhkan kasus yang lebih bombastis dan lebih receh, Dalam diskusi tidak ditemukan isu penting lain yang berlangsung bersamaan waktu dengan kasus RUU Permusikan yang berkembang selama seminggu terakhir.

Koalisi Nasional Tolak RUU Permusikan Semarang lewat forum diskusi ini kemudian melahirkan poin kesimpulan sebagai berikut:

  1. Musik/suara tidak terlepas dalam wujud ekspresi, maka dari itu kebebasan berekspresi tidak boleh dibatasi maupun dicabut.
  2. Pengendalian dan pembatasan terhadap jalannya industri di bidang musik sangatlah merugikan dan mematikan ruang kreativitas masyarakat.
  3. Musik memiliki sifat multi tafsir, menjadikan musik sebagai alasan atas kriminalitas sangatlah tidak relevan.
  4. Jika RUU permusikan disahkan, maka akan menjadi sangat tidak efektif karena adanya tumpang tindih dengan undang-undang lainnya seperti UU terkait pendidikan, UU Pemajuan kebudayaan bahkan KUHP.
  5. Sertifikasi dan kode etik dalam wilayah seni musik tidak dapat diterapkan karena musisi dalam berkarya atau menampilkan karyanya ke khalayak, bukan hubungan antara profesional dengan klien.
  6. Apabila RUU Permusikan disahkan, berpotensi untuk membuka celah baru munculnya aturan-aturan lain yang mengekang masyarakat dalam aktivitas lainnya bahkan hingga ketahap yang sangat privat, hal ini tentu bertentangan dengan demokrasi.
  7. Meski beberapa elemen lain seperti “Konfrensi Meja Potlot” juga menghasilkan keputusan untuk menghapus RUU Permusikan. Perlu untuk terus mengawal agar RUU Permusikan yang cacat ini betul-betul clear and clean dihapus dari Prolegnas 2019.

 

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

WOODPLANE RILIS MUSIC VIDEO SINGLE “PENGUSIK”

doc : woodplane

Dalam video ‘Pengusik’, Indonesian Rock Gado-gado Group ini ingin bercerita tentang klub-klub motor yang tiap malam minggu mengganggu kenyamanan pengguna jalan.

Setelah sukses merilis album pada pertengahan tahun lalu, Woodplane kini merilis sebuah music video dalam rangka kewajibannya sebagai band. Kali ini lagu Pengusik, yang merupakan materi lagu dari album mereka ‘Urban Drama’ terpilih untuk digarap. Berbeda dengan video single pertama mereka ‘Ambang Toleransi’ yang dibuat dari kolase momen-momen saat proses rekaman. Dalam video ‘Pengusik’, Indonesian Rock Gado-gado Group ini ingin bercerita tentang klub-klub motor yang tiap malam minggu mengganggu kenyamanan pengguna jalan. Klub-klub motor yang suka menutup jalanan, ngebut seenak mereka sendiri, dan juga membunyikan knalpotnya dengan kebisingan yang selalu membuat hati ingin berkata sumpah serapah ,Para pengendara macam inilah yang disebut pengusik.

baca : APOPHIS RILIS ALBUM “BELANTARA KAMI” VIA DIGITAL

Dalam wujud video klip inilah, Woodplane mencoba mempertanyakan esensi para klub motor yang melakukan kegiatan yang cenderung mengarah ke hal-hal negatif. Sekaligus juga sebagai bentuk keresahan mereka selama ini terhadap kegiatan-kegiatan negatif yang dilakukan oleh para klub motor yang doyan ugal-ugalan. Woodplane hanya ingin mengingatkan bahwa jalanan tidaklah milik para klub motor, banyak pengguna jalan yang tidak nyaman jika mendapati segerombolan pengendara motor yang ugal menggunakan jalan umum.

doc : Woodplane

 

Woodplane tidak memungkiri mereka adalah band dari kabupaten berkembang macam Lamongan dengan keuangan yang terbatas bahkan studio musik pun tidak ada dikota mereka. mereka dibantu oleh teman-teman LMGSKRG atas dasar semangat kolektif berkesenian. Dalam penggarapan video klip ini, Woodplane juga menginisiasi terhadap teman-teman LMGSKRG yang mempunyai hobi membuat video, Mereka bersama-sama membangun dan berkolaborasi membuat karya bersama- sama, mereka ingin menunjukkan iklim berkesenian di Lamongan terhadap khalayak umum. Video klip ‘Pengusik’ dirilis dan bisa dinikmati melalu channel Siaran Woodplane di Youtube.

tonton : MV woodplane “pengusik”

 

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

APOPHIS RILIS ALBUM “BELANTARA KAMI” VIA DIGITAL

doc : Apophis

Sejak 2016 mereka sudah berancang-ancang, mulai dari konsep materi yang akan di apa kerjakan untuk Ep Album ini kemudian mereka memutuskan tentang lingkungan hidup sekitar berawal dari hutan, sungai, peradaban, bahkan mental penduduk asli tanah borneo.


Apophis band metalcore, berformasikan, Eky (vocal), Ady (Gitar), Anggi (Drum), Pur (Gitar) dan Riduan (Bass). Terlahir dan berdomilisi di kota kecil Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, sejak 2011.

Awal tahun yang melegakan bagi band metalcore asal kalimantan tengah ini, pasalnya tepat di tanggal ganjil 19/01/2019 mereka telah merilis Extended Play Album (Ep Album) yang bertajuk “Belantara Kami”. Setelah melewati waktu yang cukup panjang, sejak 2016 mereka sudah berancang-ancang, mulai dari konsep materi yang akan di apa kerjakan untuk Ep Album ini kemudian mereka memutuskan tentang lingkungan hidup sekitar berawal dari hutan, sungai, peradaban, bahkan mental penduduk asli tanah borneo. Dari segi musikalitas, apophis tetap berpegangan pada breakdown-breakdown metalcore yang khas, dan riff-riff metalcore yang menginfluence jejeran raksasa metalcore sejatinya seperti, As I Lay Dying, Park Way Drive, August Burn Red, Burgerkill, etc.

Setelah merancang dua hal tersebut pengerjaan Album tidak bisa di berlangsungkan karena keterbatasan waktu dan jarak antar personil menghambat pengerjaan Belantara Kami hingga kurang lebih 1 tahun. Kemudian di tahun 2018 Apophis baru kembali mengerjakan Ep Album tersebut yang sempat terhambat cukup lama. Terhitung dari akhir bulan puasa Apophis sudah mulai masuk dapur rekaman untuk merekam instrumen, vocal dan lain-lain. Aransemen lagu dan recording instrumen sebagainya di lakukan sendiri oleh apophis di home recording milik riduan yang kebetulan bassis dari Apophis sendiri, setelah selesai merekam musik kemudian di lanjutkan merekam vocal di Fany Studio Pangkalan Bun, memakan waktu kurang lebih 1 minggu dan 5 shift recording untuk vocal.

baca : DIMINISH PERCEPTION RILIS “MONARKI” KE KANAL MUSIK DIGITAL

Di Ep Album Belantara Kami ini Apophis di bantu oleh female singer dari band rock asal pangkalan bun Pink Flowers yakni eka untuk lagu “Hitam Menggumpal” dan juga dibantu rian di Track ke 04 untuk mengisi bass. Setelah semua vocal di rekam kemudian mereka sedikit memberi sentuhan di beberapa track memasukan unsur Kecapi dan berayah khas Dayak ngajuk. Dan akhirnya sekitar 1 bulan Apophis berhasil merekam semua materinya dan siap memasuki tahap mixing mastering audio yang juga di lakukan Bassist mereka Riduan di Rare Studio, kurang lebih 5 bulan di sela waktu Riduan berhasil menyelesaikan sentuhan terakhir Audio Belantara Kami. Sebelum melepas debut mini album “Belantara Kami”, Apophis pada agustus 2018 lalu juga telah merilis single “hitam menggumpal” yang dikemas dalam bentuk audio visual dengan dibantu jihad al ghifari sebagai videographer sekaligus editor di clip tersebut.

doc : Apophis

Artwork menjadi bagian penting dalam sebuah album sehingga pada kesempatan kali ini untuk album “Belantara Kami” Apophis mengajak artworker asal pangkalan bun roy yang juga personil dari bangkit, roy sendiri telah merilis art – art untuk beberapa band besar lainnya seperti turbidity, hingga gugat. Adapun makna dari artwork “Belantara Kami” adalah menggambarkan apa yang terjadi terhadap lingkungan sekitar kami seperti hutan Kalimantan yang kini semakin terkikis setiap tahunnya, dan the man yang di gambarkan di artwork tersebut adalah orang di balik semua ini, dimana sang penguasa dengan symbol mahkota dikepala menghabiskan hutan dan berganti perkebunan kelapa sawit yang tergambar pada sisi tangan kanan.

baca : Veteran Hardcore Semarang, Don’t Look Back Rilis Album “Lekang dan Hilang”

Kemudian setelah segalanya selesai Apophis segera merilis Belantara Kami via Digital Store yang di bantu oleh Netrilis Indonesia. Di zaman digital saat ini menjadi alasan tersendiri bagi Apophis untuk melepas album mereka melalui digital, selain lebih gampang diakses sekaligus penyebaran karya lebih cepat dan mudah. Namun Selain rilis via platform digital, Apophis juga akan merilis mini album tersebut melalui cangkram padat (CD) secara independent atau self release yang dicetak dengan sangat terbatas.

Langsung saja untuk kawan-kawan yang ingin merasakan berisiknya “Belantara Kami” dari Apophis bisa langsung di putar di Itunes, Spotify, Deezer dan Bandcamp dengan keyword Apophis Belantara Kami.

Track List

  1. Belantara Kami (Intro)
  2. Kebuasan Belantara
  3. Hilang Tak Berjejak
  4. Hitam Menggumpal Feat Eka Pink Flower
  5. Emosi
  6. Kami Borneo

More Info Apophis :

Facebook : Apophis Metalcore

Instagram : Apophisborneo

Phone : 082325166325

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

“HINGAR”, SINGLE BERNUANSA DISKO ERA 80AN DARI ROSCHELL

doc: roschell

Berbeda dari single pertama yang berbahasa Inggris, untuk kali ini Roschell menggunakan lirik yang seluruhnya berbahasa Indonesia.


Setelah sebelumnya di tahun 2018  kemarin merilis single perdana bertajuk “Sense”. Kelompok music electronic pop asal Surabaya yang cukup banyak terinspirasi dari warna disko era 80an, Roschell mengawali kiprah di tahun 2019 ini dengan merilis single kedua yang diberi judul “Hingar”. Single terbaru ini dirilis di Official Youtube Channel Roschell pada tanggal 19 Januari 2019.

Berbeda dari single pertama yang berbahasa Inggris, untuk kali ini Roschell menggunakan lirik yang seluruhnya berbahasa Indonesia. “Di single ini kita bercerita tentang keresahan orang-orang dalam menjalani rutinitas hariannya, lalu perlahan mengerti realita hidup tidak sejalan dengan rencana dan keinginannya” ungkap Wira, bassist/synth Roschell. “Namun dibalik keresahan itu mereka percaya bahwa apa yang mereka lakukan akan berhasil suatu saat nanti”, tambah Tassya sang vokalis.

baca : Perjalanan awal Industri Musik Indonesia

Single ini sendiri merupakan sebuah jalan pembuka di awal tahun 2019. Setelah namanya mulai mencuat di skena musik Surabaya menjelang akhir tahun 2018 kemarin, dan tampil di beberapa gigs lokal, Roschell berencana untuk membuat EP di tahun 2019 ini. “Kami lagi mulai mencicil materi-materi yang bisa dimasukkan ke EP, semoga bisa cepat selesai”, kata Wira.

tonton : video roschell “hingar”

 

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

FOGFEST! AGENDA AKBAR BLACK METAL NUSANTARA

Doc : Fogfest

Mengungkap kebenaran tentang gerakan black metal militan. Menemukan kembali makna keberadaan yang telah lama disembunyikan oleh kabut ketidakpastian.


Longlifemagz Fogfest adalah sebuah agenda untuk merawat dan mempertemukan kembali pelaku, pegiat, maupun penikmat musik black metal, sekaligus sebagai platform untuk mengkontraksi hubungan yang lebih mutual antar pelaku yang berkecimpung didalamnya.

Festival ini akan diselenggarakan  pada tanggal 25 hingga 27 Januari 2019 di Bumi Perkemahan Sekipan, Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah. Pengunjung selama 3 hari akan disuguhi pertunjukan musik di alam terbuka, pemutaran film, panel diskusi, pameran seni, galeri kerajinan tangan, dan masih banyak lagi.

BACA : Sebuah Perayaan Menuju Festival Musik Internasional Hutan Terbesar di Indonesia

“Saya sudah lama ingin mengadakan pertemuan seperti ini,  jadi saya coba menggagas ide di media sosial dan di luar dugaan mendapat respon yang luar biasa. Dalam beberapa hari, 160 teman telah menyebarkan ide ini di lingkaran masing-masing. Semuanya berjalan sangat lancar dan semua kaos benefit yang berjumlah 150pcs telah terjual. Itu yang akan menjadi modal awal penyelenggaraan acara ini selain iuran sukarela dari teman-teman di seluruh Indonesia,” tukas Hernandes Saranela, selaku inisiator.

Doc : Fogfest

“Tidak ada satu pihak pun yang dibayar. Semua orang akan datang dan bergotong royong di festival ini menggunakan sumber daya mereka sendiri. Ini menunjukkan dedikasi mereka yang tulus untuk musik Black Metal di Indonesia. Mereka menempatkan logam hitam di atas segalanya,” tutup Hernandes.

Harapan dari terselenggaranya festival ini adalah menemukan kembali jatidiri sebagai bagian dari skena black metal nusantara. Mengidentifikasi dan merayakan konsolidasi. Mencoba menemukan alasan umum di tengah-tengah perbedaan tentang beberapa masalah dalam skena black metal selama ini. Mencoba menyingkirkan kabut yang telah mengaburkan persepsi. (*)


Info
FB Group: FOGFEST

Simak soundtrack resmi Fogfest berjudul “Perayaan Kabut”. Diciptakan dan dinyanyikan oleh Daniel Natjaard (Natjaard/Hordavinthra/Valerian)
https://www.youtube.com/watch?v=woCUGcNtxJk

 

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

DIMINISH PERCEPTION RILIS “MONARKI” KE KANAL MUSIK DIGITAL

Doc : Diminish Perception

“Kami tidak sedang bernostalgia dengan sistem Monarki yang kami tuangkan dalam album kami. Hanya membunyikan sebuah sirine tanda peringatan. Memang benar dalam sistem Monarki mungkin tidak buruk. Namun sampai berapa lama? Ketika Raja yang baik meninggal dunia dan digantikan putra mahkota yang lalim, bagaimana nasib rakyatnya?” tegas Bhima, gitaris Diminish Perception.


Longlifemagz Sebuah referensi untuk mengiringi nuansa pergantian kepala negara tahun ini. adalah “MONARKI” sebuah album garapan salah satu band kenamaan dari boyolali. Mengapa album ini dapat disebut sebagai iringan riuhnya momen pemilihan tahun ini? , sedikit cerita bahwa album ini memang tak sepenuhnya sesuai dengan apa yang ada di negara ini, karena album ini Sesuai judulnya, Monarki merupakan sistem pemerintahan yang dianut sebuah negara dimana kekuasaan tertinggi dipegang oleh seorang Raja/Ratu, yang mana juga berpontesi menciptakan pemerintahan yang otoriter. Diminish Perception menggunakan latar belakang ini sebagai landasan kritis yang diangkat kedalam materinya.

Selanjutnya apa yang membuat album ini layak menjadi sebuah “theme song” bagi para penikmat musik distorsi dengan lantunan beat yang rapat? “Kami tidak sedang bernostalgia dengan sistem Monarki yang kami tuangkan dalam album kami. Hanya membunyikan sebuah sirine tanda peringatan. Memang benar dalam sistem Monarki mungkin tidak buruk. Namun sampai berapa lama? Ketika Raja yang baik meninggal dunia dan digantikan putra mahkota yang lalim, bagaimana nasib rakyatnya?” tegas Bhima, gitaris Diminish Perception.

BACA : Math-Rock : Instrumental Namun Tetap Membawa Pesan

Namun bukan itu yang akan di tekan kan disini, disini penulis akan memberitakan bahwa usai meluncurkan album perdana mereka dalam bentuk cakram padat bulan Agustus tahun lalu, unit DeathMetal asal Boyolali, DIMINISH PERCEPTION merilis ulang album tersebut ke beberapa kanal musik digital, band yang juga sedang merampungkan rangkaian tour promo album mereka yang diberi judul “MONARKI” ini menyatakan telah merilis album mereka secara  penuh ke kanal musik digital pada tanggal 28 desember tahun lalu.

Album yang mengangkat isu sosial dan pemerintahan ini menjadi salah satu daya tarik bagi DIMINISH PERCEPTION, karena memang tak banyak band yang berani mengangkat isu tersebut, namun dengan cara mereka yang tegas DIMINISH PERCEPTION berusaha untuk mengkritisi isu isu tersebut kedalam bentuk musik.

Terdapat 8 trek dalam album tersebut, dan dalam penggarapan album tersebut DIMINISH PERCEPTION tak hanya mengajak kawan-kawan sesama musisi untuk berkolaborasi, namun juga menggandeng penyair, salah satunya adalah Usman Arrumy, penyair yang sudah melahirkan beberapa buku ini turut andil dalam salah satu trek di album MONARKI tersebut

Dalam rangka promo album mereka DIMINISH PERCEPTION juga melangsungkan rangkaian tour ke beberapa kota dimana rangkaian tour ini mereka beri nama “HAIL AMUNISICK TOUR”. Rangkaian tour yang menginvasi 6 kota ini menyambangi Wonogiri, Magelang, Solo, Jogjakarta, Semarang, dan Boyolali.


 

Pin It on Pinterest