1


Press Release Single “Moon Healing” by Miftah Bravenda

Seperti pada karya-karya sebelumnya, Miftah Bravenda mendompleng sedikit cerita tentang hiruk pikuk kehidupan manusia.


Longlifemagz.com – Setelah beberapa bulan lalu mengeluarkan klip video single yang berjudul “In Mind”, Miftah Bravenda kembali hadir dengan garapan terbarunya. “Moon Healing” resmi diunggah pada Kamis lalu (01/11). Masih dengan konsep yang sama dengan projek karya sebelumnya, musisi sekaligus produser asal Serang, Banten ini masih berkutat dengan Ambient Electronic ala dirinya.

Seperti pada karya-karya sebelumnya, Miftah Bravenda mendompleng sedikit cerita tentang hiruk pikuk kehidupan manusia. Menanggapi kejadian guncangan alam yang terjadi belakangan ini, dirinya mencoba untuk menggambarkan sebuah kesedihan manusia yang berpisah dengan segala hal yang disayangi. Disamping itu, tak hanya menanggapi saja, Miftah sendiri mencoba untuk memberikan satu kehormatan kepada mereka semua yang mengalami sebuah perpisahan tersebut.

BACA : EP PERDANA SORE TENGGELAM “OBAT TIUS” – PERJALANAN MENCARI PENYEMBUHAN LARA.

Dikerjakan oleh Miftah Bravenda sendiri di Are You High? Soundlab Indonesia, dirinya sedikit mengambil unsur-unsur ambient dari karya sampingan sebelumnya yang berjudul “Yours, Fantom Delivering”. Tak hanya itu, sebagai peselancar dunia maya, Miftah juga menggandeng Vicky Mongcal sebagai penata karya sampul single terbaru kali ini.

Lantunan karya ini tentunya sudah bisa dinikmati melalui ruang digital seperti, Apple Music, Spotify, Deezer, Tidal dan lain sebagainya. Selamat menikmati.

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

EP Perdana Sore Tenggelam “Obat Tius” – Perjalanan Mencari Penyembuhan Lara

Doc : Sore Tenggelam

Sore Tenggelam merupakan sebuah project musik yang digawangi seorang diri oleh Ignatius Desty Hari Adi Kristianto, atau lebih akrab disapa Tius. 


BACA : “CHECKPOINT” BERSAMA SADE SUSANTO

Longlifemagz – Sebagai salah satu pendatang baru di genre folk musik Semarang di tahun 2018 ini, sebelumnya Sore Tenggelam telah merilis dua single perdana yang berjudul “Jumat Pagi” dan “Koma” yang juga menjadi bagian dari EP perdana ini.

Banyak yang bertanya mengenai makna dari Sore Tenggelam, kata “Sore” sendiri dipilih karena berdasarkan penganut kepercayaan Shinto, salah satu waktu yang baik untuk merefleksikan diri adalah di sore hari. Kemudian “Tenggelam” merupakan sebuah kata yang memiliki penafsiran lebih dalam apabila ditelaah lebih lanjut, dapat diartikan sebagai duka, luka, hingga ke pemikiran yang begitu dalam. Intinya adalah, dalam setiap kesempatan yang ada Sore Tenggelam mampu berbagi duka lalu sembuhkan lara bersama.

Doc : Artwork Sore Tenggelam

Tepat tanggal 24 Oktober 2018 kemarin, Sore Tenggelam telah merilis sebuah EP yang dikemas dalam bentuk rilisan fisik berupa kaset. EP perdana yang berjudul “Obat Tius” ini mengemas empat lagu didalamnya, dua lagu yang telah dirilis sebelumnya, ditambah dengan dua lagu baru yaitu “Hujan Di Ingatan” dan “Waktu Yang Lalu”. “Obat Tius” sendiri dipilih karena melalui musik yang dimainkan inilah menjadi obat paling mujarab bagi seorang Tius dalam menyikapi berbagai permasalahan yang dihadapi, dan diharapkan mampu menjadi obat yang sama bagi para pendengar. Secara keseluruhan, lirik dan instrument dikerjakan oleh Tius. Dan untuk mixing dan mastering dipercayakan kepada Jaing Nac dan Rizky Sani. Kemudian di lagu “Hujan Di Ingatan” berkolaborasi dengan Deviasita Putri dari Figura Renata.

Nama dari EP ini sendiri, “Obat Tius”, adalah pemberian dari seorang teman sekaligus guru bagi Tius, yaitu Jason Ranti. Selain memiliki peran dalam pemberian nama, Jason Ranti juga berperan dalam pembuatan cover dari EP “Obat Tius” ini sendiri.

BACA : SWEET SEVENTEEN THE UPSTAIRS

EP tersebut juga diiringi dengan video klip dari salah satu single terbarunya, yaitu “Hujan Di Ingatan”. Seluruh proses pembuatan video klip sepenuhnya dipegang oleh seorang videographer Semarang, Rifqi Fadlurrahman. Dalam lagu “Hujan Di Ingatan” ini Rifqi menganalogikannya sebagai luka yang tiada henti menerpa kehidupan seorang wanita, dimana luka ini sendiri dapat ditafsirkan dengan berbagai hal.

Doc : Artwork Sore Tenggelam

“Dalam lima menit lagu ini, saya berusaha mengajak penonton untuk merasakan kebingungan yang dialami oleh perempuan tersebut. Kebingungan dalam menyingkirkan luka, kegelisahan dalam melupakan ruang-ruang memoru, yang diakhiri dengan merelakan luka untuk terus mengalir. Masa lalu memang bukan untuk dilupakan begitu saja, tidak perlu terburu-buru, semua akan sembuh dengan waktu yang terus berjalan,” katanya.

Nantinya seluruh lagu dalam EP “Obat Tius” akan segera dapat didengarkan di berbagai platform music streaming kesayangan kalian. Untuk saat ini video klip “Hujan Di Ingatan” dan EP “Obat Tius” dapat didengarkan dan dinikmati di official akun Youtube dari Sore Tenggelam.


Instagram : sore_tenggelam
CP : Habib (081227831756)

 

 

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

“ Checkpoint ” bersama Sade Susanto

Doc : Sade Susanto

Album “ Checkpoint ” Sade Susanto merupakan proyek garapan grup kolektif asal semarang Hills Collective yang fokus pada genre RnB dan Hip hop. Sade Susanto sendiri menekuni genre RnB/Pop sebagai aliran bermusiknya.


BACA : VETERAN HARDCORE SEMARANG, DON’T LOOK BACK RILIS ALBUM “LEKANG DAN HILANG”

Longlifemagz – Penggarapan album “Checkpoint” membutuhkan waktu yang tidak singkat. terhitung dari april 2018,   penggarapan album “Checkpoint” memakan waktu selama enam bulan sebelum merilis album tersebut. Sebagai bagian dari suatu kolektif, Sade harus menunggu gilirannya untuk unjuk sisi musikalitasnya kepada publik. “Checkpoint“ sendiri mendapatkan gilran ke 2 dari 4  episode dari season pertama dari kolektifnya. Sebelum album ini di Larungkan, sade mengeluarkan dua single yaitu “ The Man Who Has Hurt Me “, “ Excuses “ dan menjadi pelengkap dari album yang akhirnya rilis pada 21 Oktober 2018.

Doc : Sade Susanto

Sebagai album yang syarat dengan laju hidup seorang Sade Susanto, “Checkpoint” menyuarakan berbagai pengalaman yang menuntunnya pada suatu titik penyadaran akan kemandirian diri yang terbebas dari ekspektasi orang lain.

Lima dari tujuh lagu dalam “Checkpoint” bercerita tentang patah hati. Kejadian yang seringkali melarutkan orang-orang pada kesedihan semata justru dijadikan momentum untuk mengenali diri seorang Sade Susanto


Lagu ini ditulis oleh Sade Susanto (http://instagram.com/sadesusanto )
Lagu ini kemudian di produksi oleh Luthfi Adianto/Cosmicburp (http://instagram.com/mellonzz )
Lagu ini didistribusikan melalui dan bersama Hills Collective (http://instagram.com/hills.collective) dan Berdandia (http://instagram.com/berdandia)
Lagu ini direkam di Lofos Studio (http://instagram.com/lofosstudio )
Artwork/visual album ini di kerjakan oleh Wildandon (http://instagram.com/wildandon)
Sade susanto berencana untuk mengadakan Showcase pada akhir bulan oktober ini
Cp : Dimas Ragil ( 0812 8745 9911 )

 

 

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

Veteran Hardcore Semarang, Don’t Look Back Rilis Album “Lekang dan Hilang”

Doc : Dont Look Back

“Terbentur, terbentur dan terbentuk” jargon dari tokoh nasional Tan Malaka barangkali bisa menjadi pembuka kabar dari kancah musik hardcore hari ini.


Longlifemagz – Usai merilis video klip dari single “Lekang dan Hilang” bulan April 2018 kemarin. Grup musik Don’t Look Back resmi merilis album penuh perdana, Kamis (18/10/18).

Pasca kematian War Chaos World (WCW) pada medio tahun 2005, menjadi cikal bakal Don’t Look Back yang saat itu dihuni oleh Kido, Bayu, Ardian, Ana dan Tatang. Grup yang terbentuk tahun 2006 ini sempat merilis album EP Self-titled berisi 4 buah lagu di tahun 2010 dengan menggunakan formasi awal mereka.

BACA : “CHECKPOINT” BERSAMA SADE SUSANTO

Dalam album Lekang dan Hilang, terdapat 10 trek yang banyak dipengaruhi gaya musik New York Hardcore era lawas. Terdapat materi baru dan beberapa materi lama yang dikomposisi ulang, serta 1 lagu milik grup musik Shutdown berjudul “United” yang dibawakan ulang sebagai pamungkas.

Berorientasi dengan proses, bagi Don’t Look Back hardcore bukan tentang pencapaian berapa banyak rilisan yang telah dihasilkan, berapa banyak panggung yang berhasil ditaklukan, atau berapa banyak merchandise yang diproduksi. Bukan tentang pahlawan yang menjadi idola, melainkan bagaimana saling mengisi kehidupan skena. Di sela rutinitas pekerjaan yang cukup menyita, hardcore bagi Don’t Look Back adalah semangat dan gaya hidup yang bersinergi dalam laku kehidupan mereka sehari-hari.

Diakui hardcore dan skena banyak mempengaruhi kehidupan grup yang sekarang digawangi oleh Kido (Gitar), Angga (Vokal), Bayu (Gitar), Oki (Bass) dan Ardian (Drum). Mulai dari rasa persatuan, persaudaraan dan sikap yang mereka rangkum dan dedikasikan untuk rumah kedua mereka, Atlas City Hardcore.

Seluruh materi di album Lekang dan Hilang sebenarnya telah dipersiapkan sejak lima tahun lalu. Beberapa kendala seputar kepadatan aktivitas dan realita membuat proyek ini baru serius diselesaikan. Keseluruhan lagu direkam di Paw Studio bersama M. Ryan Wibowo (Hypotenusa) sementara desain sampul dikerjakan oleh Peng (Skygarden). Lekang dan Hilang dirilis dalam format cakram padat sementara pada format digital dirilis oleh label StonedZombies


Preview album Don’t Look Back – Lekang dan Hilang
http://stonedzombies.bandcamp.com/album/lekang-dan-hilang

Info:
http://stonedzombies.blogspot.com
https://www.instagram.com/dontlookback_hardcore/
https://www.instagram.com/stonedzomb13s/

 

 

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

Seberangi Tebing Hardcore yang Curam: Tiderays Rilis Demo 2018

Photo doc Tiderays

Apa rasanya jika berjalan di pinggiran tebing yang curam, dengan terpaan angin dingin yang kencang? Bila itu tercurahkan dalam komposisi, Tiderays mewakili itu semua. Band asal Semarang ini merilis debut demonya dengan lantang membawa kejayaan swedish sound dalam hardcore.


Longlifemagz – Terbentuk awal tahun 2017 oleh Ghozzy El-Yussa (Vokal), Fauby Duvadilan (Bass), DFAhmad (Gitar) dan Gresia pada drum. Masing-masing departemen instrumen berperan membangun konstruksi yang telah dilakukan pendahulunya dari seberang Skandinavian dan Jerman. Secara kiblat, tersebutlah fragmen dari Entombed, Alpinist, Martyrdöd dan tentu saja His Hero is Gone. Mulanya, formula ini sebelumnya jarang dilirik oleh band-band Semarang. Kuartet ini malah memulainya dengan penuh berang.

Terdapat dua komposisi dari demo yang dirilis via Bandcamp. “Syllable Perishable” yang dibuka dengan raungan riff depresif, dengan sontak menghunus melalui raungan gitar chainsaw, membuat darah notasi muncrat dimana-mana. Mendengarnya tak perlu diurai dengan sulit: kotor dan kelam.  Untuk tak menimbulkan syak wasangka, “Proposition Distrait” akan memperkuat pendengar kalau tebing yang curam perlu untuk dilewati, meski bisa saja jatuh mati. Sensasi itulah yang terasa, apalagi derap d-beat dan black metal berpadu dengan beringas.

BACA :  EP PERDANA SORE TENGGELAM “OBAT TIUS” – PERJALANAN MENCARI PENYEMBUHAN LARA

Menengok energi mereka tak cukup pada musiknya semata. Mereka aktif di skenanya, memberi waktu lebih kepada komunitas. Niscaya, jalan luas terbentang. Tiderays juga memulai langkahnya secara organik. Beberapa waktu silam melakukan tur 11 kota di Jawa-Bali bersama kolega satu kotanya, Hearted. Upaya ini akan membentuk mental dan keberanian untuk konsisten di masa depan, seiring dengan album penuh bertajuk 401 yang rencananya rilis pada penghujung tahun 2018. (*)

Photo doc Tiderays

Tiderays – Demo (2018)
https://tiderays.bandcamp.com/album/demo

All songs written and performed by Tiderays
All lyrics by DFAhmad
Recorded at 4WD Studio Semarang in Juny 2018
Except vocal recorded at Riverse Studio Jepara
Mixed and mastered by I Made Dharma (e: imadedharma27@gmail.com)
Artwork and cover by Bonifasius Rendy (e: rendybonifasius@gmail.com)


Info:
+62 822-4281-8609
E: tiderays401@gmail.com
IG: @tiderays401
FB: Tiderays

 

 

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

DUNIANUDIA DALAM SEBUAH KESEDERHANAAN

Doc : DUNIANUDIA

“Musisi harus menciptakan musik. Pelukis harus menggoreskan lukisannya. Penyair harus menulis sajaknya. Mereka harus mencapai kedamaian dalam diri mereka sendiri. Seseorang harus menjadi apa yang mereka bisa”


Longlifemagz Kutipan dari Abraham Maslow diatas ini selalu terngiang dalam benak diri seorang Nudia Muntaza. Berangkat dari EP berjudul “Berbisik” Nudia Muntaza melalui Dunianudia sebagai project solo musiknya ingin melangkah menuju pengaktualisasian diri.

‘Berbisik’ merupakan EP (Extended Play) yang berisi 4 buah lagu setelah di awal tahun 2017 Dunianudia sempat mengeluarkan sebuah single perdana berjudul ‘Paranoia’. “Berbeda dari single pertama, 4 lagu dalam EP ini mempunyai nada dan akord yang lebih sederhana. Seperti pada lagu ‘Sore’ yang juga sebagai single dari EP ‘Berbisik’, mempunyai nada yang mudah diterima telinga dan terkesan ringan”, kata Nudia Muntaza. Dingin dan abu-abu dianggap mampu mengemas suasana yang terdapat dalam EP ‘Berbisik’. Selain ‘Sore’, 3 lagu lainnya berjudul ‘Berhenti’, ‘Bilur’ dan ‘Berbisik’.

BACA : “ CHECKPOINT ” BERSAMA SADE SUSANTO

Tentunya tidak sendiri, pada proses penggarapan EP ini Dunianudia banyak berkolaborasi dengan musisi-musisi dari Yogyakarta, seperti Hisar Sinambela (Robbrs), Ady Ekayana (Noemi), Astarina Dian, Steven Kurniawan, Puthut Probo, Invalidiant Chandra, Hasty Lutfia, dan masih banyak lagi. Seperti pada single pertama, Dunianudia masih bekerjasama dengan Sodapop Records dan Elmo Ramadhan pada proses produksi. Adapun untuk vokal direkam di rumah Dhandy (Summerchild) dan perekaman drum di DS Records.

Pada tanggal tanggal 23 Agustus 2018, Dunianudia juga telah merilis video lyric dari single ‘Sore’ yang bekerjasama dengan Eustakius Rakyan dan tim. Adapun lagu-lagu dalam EP Berbisik akan segera bisa didengarkan melalui kanal-kanal digital seperti iTunes, Spotify, JOOX dan aplikasi digital music streaming lainnya.

Dunianudia berasal dari Yogyakarta dan merupakan project solo musik dari Nudia Muntaza. Beberapa info mengenai Dunianudia bisa dikunjungi pada laman medsos-nya, seperti Instagram/Twitter/Fanpage Facebook: @dunianudia

 

Doc : DUNIANUDIA

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

FIND US ON

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.

 

Pin It on Pinterest