1


AK//47 AND TIDERAYS SOUTHEAST ASIA TOUR 2019


Poster by Garna Raditya

 


Dua band asal Semarang, AK//47 dan Tiderays menggelar tur Asia Tenggara pada 20-30 Juli mendatang. Tur ini merupakan rangkaian pasca peluncuran album Tiderays bertajuk ”401” yang dirilis Samstrong Records awal Juli kemarin. Lawatannya akan berlangsung di lima negara yakni di Malaysia, Thailand, Kamboja, Vietnam dan berakhir di Singapura dengan total 10 pertunjukan. “Selain ingin menjaring audiens yang lebih luas, tur ini diiniasiasi untuk membuka akses jaringan di tiap negara yang kami kunjungi,” ujar DF Ahmad, gitaris Tiderays.

Photo by Rifqi Fadhlurrahman

Ide melibatkan AK//47 muncul usai album ketiga veteran grindcore tersebut, “Loncati Pagar Berduri” dirilis oleh Lawless Jakarta Records dan Disaster Records, bersama dengan tur sebanyak 45 pertunjukan di Amerika Serikat tahun lalu. “Tahun ini adalah perayaan ke-20 bagi kami sekaligus selebrasi eksistensi kami sebagai kolektif dan akan terus berdialektika menyusuri zaman. Tentunya dalam tur ini akan semakin menyenangkan untuk dirayakan,” ujar Garna Raditya, vokalis dan gitaris AK//47 bersama Novelino Adam (vokal, bas) dan Yogi Ario (drum).

Photo-by-Brigitan-Arga

Sementara itu, Tiderays merupakan band pendatang baru yang digawangi DF Ahmad (gitar), Ghozy El-Yussa (vokal), Fauby Duvadilan (bas) dan Gresia (drum). Kiprahnya dimulai saat melakoni laga tandang bersama band hardcore Hearted, menyambangi kota-kota di Jawa dan Bali tahun 2018. “Dari tur sebelumnya kami banyak berlajar tentang pengelolaan tur mandiri, sekaligus mengubah pola bermusik kami. Sekarang, kami ingin intens membuat karya, melakukan tur, dan berjejaring seluas-luasnya,” tutup DF Ahmad.(*)

AK//47
www.facebook.com/ak47grind/
www.instagram.com/ak47grind/
ak47grind.bandcamp.com

TIDERAYS
www.facebook.com/tiderays401/
www.instagram.com/tiderayscrust/
tiderays.bandcamp.com

PYONG PYONG PERKENALKAN MENU BARU “PIGZA”


SEMARANG, Juli 2019 – PyongPyong memang bukanlah sebuah brand makanan atau restoran yang menyajikan cita rasa masakan oriental atau Chinese food, melainkan sebuah nama band yang dikenal akan sajian music Pop Punk. Setelah melakukan penjelajahan spiritual dari panggung ke pangung sekitar 20 tahun, serta melakukan berbagai perombakan komposisi bahan dari literasi para personil, dan bereksperimen di dapur hingga menghasilkan empat album sebelumnya, PyongPyong kini telah menemukan sebuah format ramuan resep terbaru untuk sajian musiknya.

Adit (Bass/Vocal) selaku founder sekaligus front-line grup ini, telah menemukan komposisi dengan kulinernya dan menciptakan menu baru di PyongPyong. Boxset album Pigza adalah sebuah transformasi dari sajian music PyongPyong setelah dua decade menjalani karir di kancah music independen. Hidangan ini terinspirasi dari bahan baku tradisional berupa pengalaman sehari-hari yang diolah dengan perasaan, serta musik secara kerja kelompok dua personil baru yaitu Bayu (Drum) dan Pandu (Guitar).

Komposisi Pigza sendiri terbentuk dari beberapa campuran bahan utama yang unik,seperti 04:45/sendok teh MEREKA (hasil dari rendaman kepahitan selama dua dasawarsa yang dibalut oleh sepaket cacian makian akan sebuah proses); 04:49/sendok makan KURANG PIKNIK yang syarat akan citarasa asam dari kisah seorang teman sebagai perkerja
kantoran; 03:44/kepal KAMI INGIN DAMAI (bentuk kolaborasi bumbu rahasia hasil olahan bersama Memet vokalis dari Ras Gokil asal kota Yogyakarta tentang situasi yang kini tengah terjadi di lingkungan social); 02:31/ gram ANUGERAH YANG TERINDAH PERNAH KUMILIKI; dan 03:11/ons JIKA (hasil eksperimen cita rasa manis dan dinamis ala Hi-Standard asal Jepang).

Pigza merupakan sebuah hidangan berupa 5 buah track yang tersaji dalam sebuah Flashdisk dengan isian: video klip Kurang Piknik, dan film Bagong sebagai sentuhan cita rasa tradisional Indonesia, lengkap dengan toping t-shirt, taburan pick guitar beserta gantungan kunci berbentuk stick drum yang menambah kerenyahannya. Sebagai tambahan Chef Adit bersama kawan-kawan juga menghadirkan sajian penutup berupa format minus-one lagu JIKA agar dapat dinikmati bersama handai taulan.

Tentang PyongPyong
PyongPyong adalah grup band asal kota Semarang yang berdiri sejak 30 Desember 1999. Sebagai band Pop Punk, PyongPyong selama 20 tahun telah melahirkan “Stuck” (EP) pada tahun 2003 yang berisikan 5 track lagu, kemudian “Keluarga Babi” (EP) yang berisikan 5 track lagu pada tahun 2005 ; “Presiden Superstar” (Full album) berisikan 10 track lagu pada tahun 2009, dan beberapa single yang terdapat pada beberapa album kompilasi kumpulan band-band
sejenis. Salah satu kesuksesan terbesar mereka kala itu adalah Single “My Wife is a Lesbian” yang tergabung dalam album kompilasi “Berpacu dalam Melodic” bersama My Pet Sally dan 11 grup band dari beberapa kota di Indonesia. Album kompilasi yang didapuri oleh Tony Track dan Pongky Barata (ex-Jikustik) ini dirilis pada tahun 2005 dan sempat sukses membawa nama PyongPyong di kancah musik nasional. Video klip “My Wife is a Lesbian” pun kerap berseliweran di MTV Indonesia kala itu.

Tentang Boxset Pigza
Pigza merupakan album kelima PyongPyong yang akan dirilis pada akhir bulan Juli 2019. Album ini berisikan 5 track, yaitu ANUGERAH TERINDAH YANG PERNAH KUMILIKI, KURANG PIKNIK, MEREKA, KAMI INGIN HIDUP DAMAI dan JIKA yang menjadi single-nya. Album Pigza dikemas dengan bentuk Boxset yang di dalamnya terdapat 1 buah flashdisk berisikan lagu PyongPyong, video klip, film bagong, T-shirt, pick guitar, gantungan kunci stick drum, sticker pack, dan bonus track lagu minus-one untuk memfasilitasi para Keluarga Babi (sebutan fanbas PyongPyong) ber-karaoke. Boxset Pigza ini persembahan PyongPyong 20 tahun berkarir di kancah music independen kepada Keluarga Babi, dan diproduksi secara terbatas hanya 50 buah dengan dibandrol Rp. 225,000.

For further information:
Pyong Pyong Management
Phone : +62 821 9714 9471 / +62 898 9898 996
pyongpyongrock@gmail.com

GRUP BAND TIDERAYS RILIS ALBUM “401”

Cover art by Garna Raditya


SEMARANG – Grup band Tiderays belum lama ini meluncurkan single terbarunya di tahun 2019 berjudul “At the Eleventh Hour”. Single tersebut diambil dari album penuh bertajuk 401 yang akan rilils pekan depan melalui label Samstrong Records.

“Adapun 401 adalah akronim dari For No One; Nihil dan tak bertuan. Bebas saja jika ingin mengaitkan dengan paradigma Nihilisme milik Nietzche. Toh, pada akhirnya, kita juga saling tak punya kesepakatan siapa tuan dari berbagai permasalahan,” terang gitaris band, DF Ahmad.

Photo by Brigitan Arga

Setidaknya butuh waktu selama 6 bulan bagi Tiderays untuk melakukan produksi mulai dari membuat konsep hingga pengumpulan materi sejak September lalu.

Keseluruhan lagu di album 401 adalah gugusan bahan peledak yang terdiri dari beragam fragmentasi hardcore, punk, crust, doom, sludge, hingga death metal. Singkatnya, Tiderays bermain hardcore di ranah yang paling muram.

Proses rekaman untuk kedelapan buah instrumen di album ini dilakukan di Watchtower Studio Yogyakarta sejak April 2019. Sementara sesi rekaman untuk vokal dilakukan di Paw Studio Semarang pada bulan Mei 2019 lalu.

Dibantu Bable Sagala pada divisi teknis dan juga Made Dharma selaku Sound Engineer, membuat kemasan album 401 semakin eksploratif. Tiderays turut menggaet seniman sekaligus musisi, Garna Raditya (AK//47) untuk menorehkan karya visualnya dalam sampul album yang penuh nuansa kelam.

Album 401 akan dirilis bersama dengan acara peluncuran pada tanggal 1 Juli 2019 di Gosty Lounge, Semarang. Turut dimeriahkan dengan sederet penampil yakni Hellexist (Malaysia), Peace Or Annihilation (Jakarta), Nightfall (Batang) dan Hearted. (*)

 

Dengarkan album penuh Tiderays – 401 versi digital:
https://samstrongrecords.bandcamp.com/album/401

https://www.instagram.com/tiderayscrust/
https://www.facebook.com/tiderays401/
https://tiderays.bandcamp.com/

pamungkas “flying solo tour”

pict by @pamunqkas


Pamungkas seorang musisi dan singer-song writer akan merilis album kedua yang berjudul Flying Solo pada 14 Juni 2019 meski belum setahun berselang setelah rilisnya album pertama Walk the Talk pada 15 Juli 2018. Keberanian dan keyakinannya dalam merilis 2 album dalam kurun waktu setahun, seolah-olah mengulang sejarah band The Beatles yang juga pernah merilis 2 album dalam setahun pada 26 Mei 1967 untuk album Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band dan 27 November 1967 untuk album Magical Mystery Tour dan juga Ariana Grande yang merilis album Sweetener pada 17 Agustus 2018 lalu disambung dengan merilis album Thank U, Next pada 8 Februari 2019. Entah kebetulan atau tidak.

Seperti dalam album Walk The Talk, di album Flying Solo Pamungkas kembali mengerjakan seluruh proses kreatifnya sendiri. Mulai dari menulis lirik, membuat nada, aransemen, rekaman, memainkan instrument musik, mixing, mastering hingga membuat seluruh design dan artwork album dan video-video lirik. Sebelumnya, Pamungkas sudah merilis 3 single sebagai pembuka album Flying Solo yaitu Break It, Modern Love dan The Retirement of U.

Selain merilis album, Pamungkas juga memberanikan diri untuk menggelar tour dalam rangka promo album kedua ditengah-tengah ketika tidak banyak musisi atau band yang melakukan rangkaian tour dan juga dalam karir yang bisa dibilang masih seumur jagung. Apalagi tour ini

pict by @pamunqkas

ia bikin secara mandiri / independent bersama Maspam Records sama seperti ketika mereka membuat Walk The Talk Concert tahun lalu yang di gelar di IFI Jakarta. Tradisi tour untuk mem-promosikan album di Indonesia juga pernah dilakukan oleh band Sheila on 7 pernah menggelarnya pada tahun 2005 ke 34 kota dalam rangka promo album The Very Best of Sheila on 7 Jalan Terus.

Kini tradisi tour dalam rangka mempromosikan album kembali dilakukan oleh Pamungkas di tahun 2019 ke 5 kota di Pulau Jawa. Flying Solo Tour akan di mulai di kota Malang pada 21 Juni 2019, Surabaya pada 23 Juni 2019, Jogjakarta pada 25 Juni 2019, Semarang pada 27 Juni 2019 dan ditutup di kota Bandung pada 30 Juni 2019. Dalam tour-nya ini, Pamungkas memberikan keistimewaan untuk para pembeli tiket karena album Flying Solo hanya akan beredar di Flying Solo Tour lengkap dengan special merchandise.

Tak hanya menampilkan dirinya sendiri dan juga band yang mengiringi penampilannya nanti, Pamungkas turut mengundang Marigold, Layung Temaram, Rubah di Selatan, Figura Renata dan Garhana yang merupakan local heros dari masing-masing kota dan menjadi opening act di Flying Solo Tour.

Flying Solo Tour ini juga merupakan bentuk apresiasi Pamungkas untuk para penikmat karyanya yang disebut sebagai Pamunqkers yang selama ini sudah mendukung karya dan karir Pamungkas.

Tiket Flying Solo Tour bisa dibeli melalui aplikasi Eventevent, tiket sudah termasuk CD Album Flying Solo yang pertama kali akan beredar di Flying Solo Tour dan Notebook yang merupakan merchandise eksklusif khusus tour ini.

Untuk info lebih lanjut, cek account social media Instagram: @pamunqkas @maspam.records Contact person: +628111175827 (Rey)

EXPOSURE 2019, event kampus yang perlu dipertimbangkan

doc : Exposure 2019

…Bahkan event yang tanpa dibandrol harga tiket masuk ini sampai menyediakan mantel secara Cuma Cuma kepada para pengunjung yang ingin menonton event mereka….


Longlifemagz  Minggu 17 maret 2019 yang lalu kerumunan manusia berseragam mantel hujan warna warni memadati parkiran Ambarukmo Plaza Yogyakarta, mereka rela menerjang hujan bukan tanpa alasan, karena pada hari itu dan dua hari sebelumnya di tempat tersebut terselenggara Exposure yang merupakan rangkaian acara The 13th Management’s Events yang diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (IKAMMA FEB UGM).

Exposure menghadirkan thematic curated market pertama dan terbesar di Yogyakarta yang memberi wadah bagi para entrepreneur muda untuk memperkenalkan merek lokal mereka pada masyarakat luas. Pada tahun ini, Exposure bertemakan “HAMEMAYU HAYUNING BAWANA” yang memiliki arti keindahan dunia sebagai pengingat manusia untuk mencerminkan dan memikirkan kembali tujuannya.

Jason ranti, grrrl gang, dan feast adalah salah satu alasan ratusan penonton rela menerjang hujan pada waktu itu, namun ada satu alasan lain yang mungkin lebih dirasakan oleh para penonton, adalah semangat para panitia Exposure yang seolah tak surut ketika event mereka menghadapi sebuah kendala, bayangkan pada hari pertama Jason ranti diputuskan untuk merubah jadwal mainnya menjadi hari terakhir dikarenakan cuaca yang tidak mendukung, pun di hari terakhir, hujan yang tak kunjung henti dari pagi hingga acara selesai tampak tak menyurutkan semangat panitia.

doc : Exposure 2019

Bahkan event yang tanpa dibandrol harga tiket masuk ini sampai menyediakan mantel secara Cuma Cuma kepada para pengunjung yang ingin menonton event mereka, dan semangat panitia memang layak mendapatkan apresiasi, dimana feast sebagai penampil terakhir kompak berseragam mantel hujan senada dengan dikenakan para penonton dan membuat atmosfer menjadi lebih dekat seperti tanpa sekat antara penampil dengan penonton.

Penampilan dari band lokal pun tidak kalah ramai. Di hari pertama, penampilan velvet dream berlangsung walaupun hujan singgah dan cukup awet hingga penampilan musisi lainnya harus ditunda pada Minggu 17 maret 2019. Tercatat walaupun hujan, pengunjung parkir timur mencapai 1.889 orang di hari itu. Di hari kedua, Stationary dan Astera membuka penampilan dengan elok. Dilanjutkan oleh Putra Timur dan Sal Priadi yang membuat anomali senandung pengunjung riuh. Dihari ketiga, Makna dan Define soul membuka penampilan pada pukul lima sore. Penampilan dilanjutkan kembali pada pukul tujuh malam oleh Skandal, Grrrl Gang, Jason Ranti, dan Feast. Penggemar pun memadati Parkir Timur Plaza ditengah hujan yang turun.

doc : Exposure 2019

Namun Exposure ini bukan hanyalah  event musik yang biasa dibuat oleh mahasiswa-mahasiswa atau kampus-kampus lain, selama pelaksanaannya, Exposure berlangsung di Atrium dan Parkir Timur Plaza Ambarrukmo Yogyakarta. Merek lokal apparel dan lifestyle  bertempat di Atrium, sedangkan penampilan musik dan kuliner berada di Parkir Timur Plaza Ambarrukmo. Didalam atrium selain berbelanja, pengunjung juga dapat menikmati instalasi seni di pintu masuk Atrium oleh Geger Boyo. Seni dengan warna dominan merah dan hitam ini dapat pula diabadikan menjadi foto kekinian. Terdapat pula instalasi seni dari Ian Pramananta dengan  nama Botani yang bertempat pada jantung Atrium. Instalasi berbentuk tanaman yang ditembak animasi tersebut merupakan gebrakan baru dalam dunia seni yang hanya dapat dinikmati pengunjung Exposure.

doc : Exposure 2019

Selain itu kegiatan di dalam atrium ini pula terdapat kegiatan juga tak kalah menarik, dimana diadakannya lokakarya bagi para pengunjung, Lokakarya pada hari pertama pembuatan kokedama bersama Karplanter. Pada hari kedua pembuatan totebag  bersama Bhisma Diandra. Hari terakhir membuat aksesoris dengan sentuhan Bali bersama Pix and Stacy.  Pengunjung yang ingin mendapatkan merchandise edisi khusus Exposure bisa didapatkan di lokakarya bersama Taka Craft secara gratis. “Selain jualan ada workshopnya juga, jadi ada nilai-nilai edukasinya,” jawab Isser James, founder Badass Monkey, soal Exposure.

doc : Exposure 2019

Jean Tora salah seorang founder Darahku biru, komunitas denim terbesar di Indonesia, juga menyempatkan singgah untuk melihat keramaian yang terjadi selama Exposure. “Kita gak expect akan seramai ini,” jelasnya.   Merek lokal yang berpartisipasi pada Exposure juga membagikan keseruannya. “Terima kasih atas antusiasnya selama tiga hari, kami akan menimbang untuk membuka cabang di Jogja,” jelas akun Skhope Culture.

Exposure 2019: Menyemarakkan Karya Anak Bangsa

Exposure merupakan rangkaian acara The 13th Management’s Events yang diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (IKAMMA FEB UGM). ​Exposure menghadirkan ​thematic curated market ​ pertama dan terbesar di Yogyakarta yang memberi wadah bagi para ​entrepreneur muda untuk bisa memperkenalkan merek lokal mereka pada masyarakat luas. Pada tahun ini,​Exposure bertemakan “HAMEMAYU HAYUNING BAWANA” yang memiliki arti keindahan dunia sebagai pengingat manusia untuk mencerminkan dan memikirkan kembali tujuannya.

Exposure akan mendatangkan lebih dari 60​tenants apparel, non-apparel, serta​food and beverages di​Main Atrium dan Parkir Timur Plaza Ambarrukmo Yogyakarta pada 15-17 Maret 2019 secara gratis. Tahun ini​Exposure kembali menghadirkan lokakarya (​workshop) kesenian dan gaya hidup antara lain ​Sunday Snuggles Make Your Own Ethnic Balinese Jewelry oleh Pix and Stacy, ​Kokedama Making Workshop oleh Muhammad Fahmi Ihsan (​Founder​ of Karplanter), dan ​Patchwork on Totebag oleh Bhisma Diandra (​Founder of​ Batu Indigo Dyed Goods).

Lokakarya dipatok dengan harga mulai 140.000 rupiah hingga 550.000 rupiah. Kokedama Making Workshop oleh Muhammad Fahmi Ihsan merupakan lokakarya seni membuat tanaman hias khas Jepang pada 15 Maret 2019. Terdapat pula loka karya Patchwork on Totebag oleh Bhisma Diandra yaitu menghias ​totebag​ dengan desain sesuai selera pada 16 Maret 2019. Di hari terakhir, diadakan ​Sunday Snuggles Make Your Own Ethnic Balinese Jewelry oleh Pix and Stacy yang merupakan lokakarya pembuatan aksesoris dengan sentuhan Bali bersama ahlinya pada 17 Maret 2019.

Di lokasi ​Exposure nanti, pengunjung juga akan dimanjakan dengan penampilan musisi dan ​band lokal seperti Jason Ranti, Feast, Putri Timur dan masih banyak lainnya. Tidak ketinggalan akan ada berbagai ​games​ dan ​giveaway challenge​ untuk memperoleh produk-produk unggulan ​tenants dan promo-promo menarik lainnya.

Berbeda dengan ​Exposure sebelumnya, tahun ini akan ada instalasi seni dan dekorasi hasil kolaborasi dengan seniman lokal. Seniman yang ikut berpartisipasi yaitu Gegerboyo, proyek kolaborasi beberapa seniman asal Jogja, dan Ian Pramananta, desainer yang berfokus pada video dan media digital. Titik instalasi dekorasi hasil karya seniman akan berada pada ​main atrium​ yang bisa diakses secara gratis dan menjadi tempat foto menarik.

Exposure tahun lalu terbukti telah menjadi daya tarik tersendiri dengan mendatangkan 71.050 orang yang bukan hanya dari Yogyakarta melainkan dari berbagai kota lain. Tidak ada biaya masuk (HTM) untuk datang ke​Exposure​. Info lebih lanjut, bisa di akses atau mengirim pesan langsung melalui instagram @exposure_yk. 


FIND US ON

[et_social_follow icon_style="slide" icon_shape="circle" icons_location="top" col_number="auto" custom_colors="true" bg_color="#a70a0d" bg_color_hover="" icon_color="" icon_color_hover="" outer_color="dark"]

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.