1


“Kadal/Hilang Rasa”, Video Musik Terbaru dari Redam.

doc from : press kit


Tidak lama seusai merilis sebuah album berjudul “Useless” di awal tahun 2019 bersama Otakotor Records, Redam kembali mengeluarkan kejutan lainnya berupa sebuah video musik untuk dua single yang berjudul “Kadal” dan “Hilang Rasa” tepatnya pada tanggal 1 Maret lalu. Redam sendiri merupakan sebuah band rock-alternative berdomisili di Semarang, yang beranggotakan, Ari Mulya (lead vocal dan bass), Adit Devan (guitar), dan Ferdinandus Erdin (Drum).

Dalam hampir seluruh proses pembuatan video musik ini mulai dari pemilihan konsep kemudian pengambilan video hingga editing tahap akhir, Redam berkolaborasi dengan seorang videographer dari Semarang, Rifqi Fadhlurrahman. Pemilihan dua lagu tersebut untuk dijadikan sebuah video musik merupakan hasil diskusi dari Rifqi dengan Ari selaku vokalis dan penulis lirik dari kedua lagu tersebut.

“Setelah Ari memberi tahu garis besar sebuah lagunya, saya membuat intepretasi sendiri dari sudut pandang yang berbeda,” kata Rifqi.

Dalam video musik ini part single “Kadal” menceritakan tentang seseorang yang melakukan sesuatu tidak sesuai dengan kapasitasnya, memaksakan ambisi dengan cara yg tidak seharusnya, dianalogikan dengan konsep judi monopoli bersama 3 alien dimana aktor utama mengalami kekalahan. Kemudian berlanjut langsung ke part single “Hilang Rasa” yang menjadi respon dari single “Kadal”, dimana visual yang digambarkan adalah bentuk akibat yang didapatkan dari bermain judi dengan tiga alien tersebut.

“Visual yang ditampilkan memang sengaja dibuat nyeleneh, karena dalam video musik ini saya tidak ingin membawa penonton dalam konteks yang serius,” kata Rifqi menambahkan.

Video musik “Kadal/Hilang Rasa” ini sudah dapat kalian semua nikmati di kanal Youtube Redam. Dan saat ini untuk menikmati keseluruhan album “Useless” hanya dapat kalian dengarkan melalui akun bandcamp dari Otakotor Records, atau kalian bisa langsung melakukan pemesanan untuk rilisan fisik kami dengan menghubungi akun instagram @redam.id atau @otakotorrecords.

Selamat menonton!

Redam Band

@redam.id

Link Youtube “Kadal / Hilang Ingatan”:

CP: 081227831756 (Habib)

 

Single perdana Tessa, “A Song Before You Go”

doc from : press kit

 


Memperkenalkan sedikit tentang proyek kecil ini, Theresia Steffany atau yang lebih sering disapa Tessa, merupakan soloist baru asal Jakarta, yang mulai berkarya di Semarang. “A Song Before You Go” adalah single pertama yang digarap bersama Adi Tius atau yang biasa disapa Sore Tenggelam dan Luthfi Adianto, yang sudah dirilis pada tanggal 25 Februari 2019 di platform digital Spotify dan Soundcloud.

Saturday,

It’s early but i can’t sleep tonight

Glitters in my eye

They’re trying to get out from me

Menuliskan apa saja yang terlintas di pikiran, Tessa menyajikan lirik yang ia buat di catatan hariannya, kemudian ketika menemukan iringan gitar yang tepat, ia memasukkan beberapa tulisan yang ia buat ke iringan tersebut. Inspirasi lagu “A Song Before You Go” sendiri dekat dengan kehidupan sehari-hari dan teman-teman terdekatnya.

And they won’t stop

The ache won’t stop

Meskipun dengan lirik yang sayu, Tessa ingin pendengarnya tetap merasa syahdu dengan iringan gitar yang cukup simpel dan dan suasana teduh. Mengenai artwork single tersebut yang memilih latar suasana redup namun sembari memegang bunga matahari , menurutnya “Kalau kata temanku sih gloomy could refer as the world and the sunflowers are things that brighten up your life and u keep holding on to that. Kebetulan bunga matahari juga bunga favoritku

Can’t you see

How i can’t look at you

‘Cause i can’t let go

Lagu tersebut diakhiri dengan lirik yang menurutnya, merupakan satu dari banyak hal yang lekat dengan apa yang selama ini ingin diungkapkan namun belum sempat terucapkan.

doc from : press kit

Salam kenal, dan selamat menikmati.

Tessa

Soundcloud : theresyy

Twitter : theresyy

Instagram : theresyy

An Undiscovered Resonance, Gelaran Ke-9 Music Gallery Dari BSO Band FEB Universitas Indonesia

(Ki-ka) Eva – host press conference, Kenneth – PO The 9th Music Gallery, Laras – VPO The 9th Music Gallery. saat konferensi pers The 9th Music Gallery.

 


Longlifemagz Setelah sukses 8 kali menggelar festival musik tahunan yang diberi nama music gallery, kini BSO Band Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia kembali menghadirkan festival musik tersebut, gelaran yang ke-9 ini music gallery mengangkat tema “An Undiscovered Resonance” yang mana dengan tema tersebut music gallery menyorot segala sesuatu yang memiliki ciri khas unik, kreatif, dan berkualitas tinggi, namun karena satu dan lain hal, masih kurang didengar oleh sebagian besar masyarakat. Mengambil inspirasi visual dari Haight-Ashbury, sebuah distrik di San Francisco  yang dipenuhi bangunan-bangunan dan toko-toko berwarna cerah, The 9th Music Gallery menggambarkan musisi independen lokal sebagai permata tersembunyi dengan bakat yang patut diapresiasi oleh lebih.

“Temanya An Undiscovered Resonance, bertujuan mengenalkan kepada masyarakat luas tentang bakat-bakat musisi yang belum banyak didengar. Dari visualnya, inspirasi kita adalah Haight Ashbury, sebuah distrik di San Francisco, yang sepanjang jalannya tuh suasananya vibrant dan colorful. Kita mau buat Music Gallery ini dengan vibe yang sama seperti yang diberikan Haight Ashbury, dengan memiliki musisi yang bakatnya bagus-bagus banget, tapi belum banyak dikenal.” Ujar Laras saat sesi tanya jawab dengan media di konferensi pers The 9th Music Gallery.

“Tahun ini venue kita pindah ke Tennis Indoor Senayan sekarang, lebih luas dan lebih memungkinkan buat berekspresi. Stage kita juga berbeda, kalau tahun lalu, di Kuningan City ada main stage dan intimate stage. Intimate stage itu yang lebih kecil, karena memang hall-nya nggak memungkinnkan untuk fit dua stage besar. Namun, tahun ini, kita adainnya 2 main stage, sama-sama besar gitu, biar lebih memberi platform supaya si musisi-musisi ini dapat good stage gitu. Selain itu, ada pre-event tahun ini, yang kita lihat sebagai Mugal on the smaller scale, di Hatchi Jakarta Selatan kemarin. Kita mengundang beberapa musisi yang juga berbakat, tapi belum berkesempatan tampil di main event-nya. Tujuannya sih mau mengekspos lebih banyak musisi-musisi bagus, memberi mereka kesempatan untuk main, sebagai bentuk apresiasi juga terhadap musisi lokal.” ujar Kenneth

Photo by : Music Gallery

Selain menjadi wadah untuk memperdengarkan musisi-musisi lokal, semenjak empat tahun lalu, Music Gallery juga secara rutin mengundang artis internasional untuk menjadi bagian dari lineup-nya. Selain bertujuan memberi kesempatan bagi penikmat musik lokal untuk menyaksikan musisi internasional yang jarang tampil di Indonesia, pertunjukan artis internasional juga dapat menambah perspektif serta menjadi sumber inspirasi baru untuk skena musik lokal. Berbagai artis internasional yang pernah diundang oleh Music Gallery termasuk Tahiti 80, Panama, Last Dinosaurs, Honne, Beach Fossils, dan Novo Amor. Tahun ini, kami mengundang international artist yaitu yaitu FUR, band alternative pop asal Inggris yang dikenal dengan beberapa single ternamanya yaitu, “If You Know That I’m Lonely”, “Angel Eyes”, “Not Enough”, dan “Trying”.

Sama seperti event event kebanyakan, challenge yang dihadapi panitia yang peling sering adalah ketika proses mencari sponsor, Music gallery pun mengalami hal yang serupa namun dengan keyakinan dan juga usaha dari 200 panitia yang turut serta proses ini pun dapat dilalui dengan baik, kuncinya hanyalah menyatukan ke 200 orang tersebut yang memiliki perbedaan untuk menyatukan visinya demi kesuksesan acara.

Berikut rincian harga tiket The 9 th Music Gallery:

Presale 1        : Rp 95.000

Presale 2        : Rp 150.000

Presale 3        : Rp 200.000

Normal            : Rp 250.000

Early Entry      : Rp 125.000

Presale 1 dan 2 terjual habis, sedangkan tiket Presale 3, Early Entry, dan Normal Price masih dijual.

 

 

KOALISI NASIONAL TOLAK (KNTL) RUU PERMUSIKAN SEMARANG: BATALKAN RUU PERMUSIKAN!

photo by : Fendi

 

“Beberapa Pasal yang ada di dalam RUU Permusikan dinilai dapat membatasi kreatifitas berkarya bagi para musisi. Hal ini bukan hanya terkait dengan proses kreatif berkarya saja, namun juga dapat membatasi ekosistem belantika musik di Indonesia.”

SEMARANG, SABTU (16/2/2019) – RUU Permusikan yang sedang digarap oleh DPR RI, menjadi salah satu hal yang cukup meresahkan banyak musisi di Indonesia. Hingga saat ini, sudah terdapat ratusan musisi dari berbagai aspek menolak RUU tersebut.

Beberapa Pasal yang ada di dalam RUU Permusikan dinilai dapat membatasi kreatifitas berkarya bagi para musisi. Hal ini bukan hanya terkait dengan proses kreatif berkarya saja, namun juga dapat membatasi ekosistem belantika musik di Indonesia.

Semarang menjadi salah satu kota yang merespon untuk mendiskusikan polemik RUU Permusikan ini. Beberapa musisi yang tergabung dalam Koalisi Nasional Tolak (KNTL) RUU Permusikan Semarang, menggelar diskusi terkait hal tersebut, Jumat (15/2/2019) di Impala Space, Jl. Letjen Suprapto No. 34, Kota Lama Semarang.

Hadir di tengah diskusi P. Donny Danardono, SH, MagHum. (Dosen Ilmu Hukum Filsafat UNIKA Soegijapranata), Ivan Bakara (LBH Semarang), Adiyat Jati Wicaksono (Semarang Creative Consortium/OK Karaoke) serta moderator, Gatot Hendraputra (Impala Space/Jazz Ngisoringin).

Forum diskusi menemukan bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah industri musik di Indonesia, pemegang modal besar/major label tidak lagi memegang kendali atas jalannya industri. Disrupsi dalam industri hiburan menyebabkan ekosistem musisi independen/sidestream punya posisi yang lebih kuat dibandingkan dengan ekosistem yang dibangun oleh pemodal besar

photo by : Fendi

RUU Permusikan juga dinilai punya beberapa kepentingan dibaliknya seperti; Pembungkaman musisi yang aktif bersuara tentang isu-isu sosial yang berkembang, Kepentingan pemodal besar untuk kembali mengendalikan industri musik di Indonesia, Serta potensi pemborosan anggaran oleh Komisi X DPR RI untuk mengegolkan RUU Permusikan.

Saat ini masyarakat Indonesia telah sampai pada kesadaran politik bahwa masyarakat berhak untuk ikut mengontrol kinerja pemerintah/anggota parlemen yang mereka pilih. Namun dalam kondisi ini, parlemen masih pada mindset bahwa mereka lah yang seharusnya mengatur dan menertibkan perilaku dan ekspresi masyarakat, memposisikan diri mereka sebagai ‘bapak’ yang harus mendisiplinkan ‘anak-anak nakal’ dengan membuat peraturan yang mengikat dan membatasi.

Kontrol inilah yang ingin ditegakkan RUUP salah satunya dengan media “sertifikasi”. Menurut pengamatan Donny Danardono, ada beberapa aspek yang dibutuhkan dalam mewujudkan serfitikasi ini, salah satunya yang menjadi sorotan adalah “kode etik”. Dalam banyak pekerjaan profesional, kode etik ini diperlukan sebagai ukuran tanggung jawab profesionalisme dalam pekerjaan, sedangkan dalam hal ekspresi musik, sertifikasi pada musisi (non pengajar) tidak dapat diterapkan karena musisi dalam berkarya atau menampilkan karyanya ke khalayak, bukan hubungan antara profesional dengan klien.

Pada kenyataannya, ekosistem musik sebenarnya lebih membutuhkan perlindungan dalam menjalankan haknya untuk memperoleh penghidupan yang layak, bersuara, berekspresi dan berserikat. Bukan pembatasan yang tafsirnya mudah diselewengkan menjadi pembatasan atau bahkan pembungkaman.

Dalam hal pembatasan karya, Adiyat berpendapat kalaupun dirasa perlu untuk membatasi, yang bisa dibatasi bukan wilayah kreasi, kreasi sepenuhnya bebas, musisi sendiri yang memberi batasan. Yang bisa dibatasi adalah penonton atau konsumen musik, dengan klasifikasi, misalnya dengan memberi label imbauan konten, batas minimum usia, dan semacamnya dalam produk musik atau pertunjukan musik.

“Menurutku menarik karena mengumpulkan banyak musisi, produser rekaman independen dan kawan-kawan perfilman untuk bersama mendiskusikan soal RUU Permusikan, bahkan media tidak hanya ikut meliput tapi memberikan perspektifnya. Artinya dari peristiwa ini sebenarnya muncul kesadaran kritis baik individu maupun kolektif yang pada akhirnya bertemu. Ini positif menurut saya. Dan perlu digaris bawahi, ada atau tidak ada RUU Permusikan ini, musisi tak sepenuhnya aman, jangan lupa, jika salah satu pasal yang dikritisi  para musisi adalah Hal pembatasan ekspresi dan ancaman pidana, masih ada UU ITE, pasal tentang pencemaran nama baik, penodaan agama dan banyak lagi yang bisa dipakai membungkam musisi yang bersuara kritis,” ujar Adiyat.

Ia juga berharap kedepan musisi bersama elemen yang lain bisa mengawal terus proses demokrasi dan kebijakan-kebijakan publik yang lain yang sama-sama penting, seperti RUU Penghapusan Kekerasan Seksual atau RKUHP. Atau mengkritisi UU lain yang sama-sama mengekang hak berekspresi, mengemukakan pendapat, dan berserikat.

Ivan menambahkan bahwa diskusi ini sekaligus memberi refleksi bahwa sebelum musisi yang diupayakan untuk dibungkam, ada kawan-kawan dari pers, industri perfilman, masyarakat luas, dan aktivis yang telah dilakukan upaya-upaya pembungkaman. Ia mengajak agar masyarakat bersama-sama tetap mengawal pembatalan RUU Permusikan ini hingga selesai serta mengoreksi aturan-aturan karet lainnya.

“Sikap yang tepat bagi warga negara terhadap kasus semacam ini adalah dengan terus menyuarakan pendapat secara kolektif dengan cara terus berkumpul, berserikat, dan berpendapat. Selain itu, yang juga perlu terus diperjuangkan ialah ekspresi musisi sebagai salah satu wujud partisipasi dalam menyuarakan berbagai isu sosial yang harusnya justru dilindungi, bukannya dibatasi,” terang Ivan.

Sementara itu, menyikapi hasil “Konferensi Meja Potlot” yang bersepakat untuk membatalkan RUU Permusikan, Gatot Hendraputra mengingatkan seluruh peserta diskusi bahwa sebagai “bangsa yang pemaaf dan pelupa”, masyarakat tidak boleh terbuai dengan janji akan dibatalkannya RUU Permusikan dan terus mengawal pembatalan RUU Permusikan hingga tuntas.

photo by : Fendi

Juga dibahas semalam tentang potensi kasus RUU Permusikan ini sebagai media pengalihan isu, dan disimpulkan bahwa kasus ini bukan pengalihan isu dari permasalahan lain karena; Menurut peserta diskusi dari kalangan media, kasus ini hanya viral di kalangan tertentu, Untuk mengalihkan isu biasanya dibutuhkan kasus yang lebih bombastis dan lebih receh, Dalam diskusi tidak ditemukan isu penting lain yang berlangsung bersamaan waktu dengan kasus RUU Permusikan yang berkembang selama seminggu terakhir.

Koalisi Nasional Tolak RUU Permusikan Semarang lewat forum diskusi ini kemudian melahirkan poin kesimpulan sebagai berikut:

  1. Musik/suara tidak terlepas dalam wujud ekspresi, maka dari itu kebebasan berekspresi tidak boleh dibatasi maupun dicabut.
  2. Pengendalian dan pembatasan terhadap jalannya industri di bidang musik sangatlah merugikan dan mematikan ruang kreativitas masyarakat.
  3. Musik memiliki sifat multi tafsir, menjadikan musik sebagai alasan atas kriminalitas sangatlah tidak relevan.
  4. Jika RUU permusikan disahkan, maka akan menjadi sangat tidak efektif karena adanya tumpang tindih dengan undang-undang lainnya seperti UU terkait pendidikan, UU Pemajuan kebudayaan bahkan KUHP.
  5. Sertifikasi dan kode etik dalam wilayah seni musik tidak dapat diterapkan karena musisi dalam berkarya atau menampilkan karyanya ke khalayak, bukan hubungan antara profesional dengan klien.
  6. Apabila RUU Permusikan disahkan, berpotensi untuk membuka celah baru munculnya aturan-aturan lain yang mengekang masyarakat dalam aktivitas lainnya bahkan hingga ketahap yang sangat privat, hal ini tentu bertentangan dengan demokrasi.
  7. Meski beberapa elemen lain seperti “Konfrensi Meja Potlot” juga menghasilkan keputusan untuk menghapus RUU Permusikan. Perlu untuk terus mengawal agar RUU Permusikan yang cacat ini betul-betul clear and clean dihapus dari Prolegnas 2019.

 

WOODPLANE RILIS MUSIC VIDEO SINGLE “PENGUSIK”

doc : woodplane

Dalam video ‘Pengusik’, Indonesian Rock Gado-gado Group ini ingin bercerita tentang klub-klub motor yang tiap malam minggu mengganggu kenyamanan pengguna jalan.

Setelah sukses merilis album pada pertengahan tahun lalu, Woodplane kini merilis sebuah music video dalam rangka kewajibannya sebagai band. Kali ini lagu Pengusik, yang merupakan materi lagu dari album mereka ‘Urban Drama’ terpilih untuk digarap. Berbeda dengan video single pertama mereka ‘Ambang Toleransi’ yang dibuat dari kolase momen-momen saat proses rekaman. Dalam video ‘Pengusik’, Indonesian Rock Gado-gado Group ini ingin bercerita tentang klub-klub motor yang tiap malam minggu mengganggu kenyamanan pengguna jalan. Klub-klub motor yang suka menutup jalanan, ngebut seenak mereka sendiri, dan juga membunyikan knalpotnya dengan kebisingan yang selalu membuat hati ingin berkata sumpah serapah ,Para pengendara macam inilah yang disebut pengusik.

baca : APOPHIS RILIS ALBUM “BELANTARA KAMI” VIA DIGITAL

Dalam wujud video klip inilah, Woodplane mencoba mempertanyakan esensi para klub motor yang melakukan kegiatan yang cenderung mengarah ke hal-hal negatif. Sekaligus juga sebagai bentuk keresahan mereka selama ini terhadap kegiatan-kegiatan negatif yang dilakukan oleh para klub motor yang doyan ugal-ugalan. Woodplane hanya ingin mengingatkan bahwa jalanan tidaklah milik para klub motor, banyak pengguna jalan yang tidak nyaman jika mendapati segerombolan pengendara motor yang ugal menggunakan jalan umum.

doc : Woodplane

 

Woodplane tidak memungkiri mereka adalah band dari kabupaten berkembang macam Lamongan dengan keuangan yang terbatas bahkan studio musik pun tidak ada dikota mereka. mereka dibantu oleh teman-teman LMGSKRG atas dasar semangat kolektif berkesenian. Dalam penggarapan video klip ini, Woodplane juga menginisiasi terhadap teman-teman LMGSKRG yang mempunyai hobi membuat video, Mereka bersama-sama membangun dan berkolaborasi membuat karya bersama- sama, mereka ingin menunjukkan iklim berkesenian di Lamongan terhadap khalayak umum. Video klip ‘Pengusik’ dirilis dan bisa dinikmati melalu channel Siaran Woodplane di Youtube.

tonton : MV woodplane “pengusik”

 

APOPHIS RILIS ALBUM “BELANTARA KAMI” VIA DIGITAL

doc : Apophis

Sejak 2016 mereka sudah berancang-ancang, mulai dari konsep materi yang akan di apa kerjakan untuk Ep Album ini kemudian mereka memutuskan tentang lingkungan hidup sekitar berawal dari hutan, sungai, peradaban, bahkan mental penduduk asli tanah borneo.


Apophis band metalcore, berformasikan, Eky (vocal), Ady (Gitar), Anggi (Drum), Pur (Gitar) dan Riduan (Bass). Terlahir dan berdomilisi di kota kecil Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, sejak 2011.

Awal tahun yang melegakan bagi band metalcore asal kalimantan tengah ini, pasalnya tepat di tanggal ganjil 19/01/2019 mereka telah merilis Extended Play Album (Ep Album) yang bertajuk “Belantara Kami”. Setelah melewati waktu yang cukup panjang, sejak 2016 mereka sudah berancang-ancang, mulai dari konsep materi yang akan di apa kerjakan untuk Ep Album ini kemudian mereka memutuskan tentang lingkungan hidup sekitar berawal dari hutan, sungai, peradaban, bahkan mental penduduk asli tanah borneo. Dari segi musikalitas, apophis tetap berpegangan pada breakdown-breakdown metalcore yang khas, dan riff-riff metalcore yang menginfluence jejeran raksasa metalcore sejatinya seperti, As I Lay Dying, Park Way Drive, August Burn Red, Burgerkill, etc.

Setelah merancang dua hal tersebut pengerjaan Album tidak bisa di berlangsungkan karena keterbatasan waktu dan jarak antar personil menghambat pengerjaan Belantara Kami hingga kurang lebih 1 tahun. Kemudian di tahun 2018 Apophis baru kembali mengerjakan Ep Album tersebut yang sempat terhambat cukup lama. Terhitung dari akhir bulan puasa Apophis sudah mulai masuk dapur rekaman untuk merekam instrumen, vocal dan lain-lain. Aransemen lagu dan recording instrumen sebagainya di lakukan sendiri oleh apophis di home recording milik riduan yang kebetulan bassis dari Apophis sendiri, setelah selesai merekam musik kemudian di lanjutkan merekam vocal di Fany Studio Pangkalan Bun, memakan waktu kurang lebih 1 minggu dan 5 shift recording untuk vocal.

baca : DIMINISH PERCEPTION RILIS “MONARKI” KE KANAL MUSIK DIGITAL

Di Ep Album Belantara Kami ini Apophis di bantu oleh female singer dari band rock asal pangkalan bun Pink Flowers yakni eka untuk lagu “Hitam Menggumpal” dan juga dibantu rian di Track ke 04 untuk mengisi bass. Setelah semua vocal di rekam kemudian mereka sedikit memberi sentuhan di beberapa track memasukan unsur Kecapi dan berayah khas Dayak ngajuk. Dan akhirnya sekitar 1 bulan Apophis berhasil merekam semua materinya dan siap memasuki tahap mixing mastering audio yang juga di lakukan Bassist mereka Riduan di Rare Studio, kurang lebih 5 bulan di sela waktu Riduan berhasil menyelesaikan sentuhan terakhir Audio Belantara Kami. Sebelum melepas debut mini album “Belantara Kami”, Apophis pada agustus 2018 lalu juga telah merilis single “hitam menggumpal” yang dikemas dalam bentuk audio visual dengan dibantu jihad al ghifari sebagai videographer sekaligus editor di clip tersebut.

doc : Apophis

Artwork menjadi bagian penting dalam sebuah album sehingga pada kesempatan kali ini untuk album “Belantara Kami” Apophis mengajak artworker asal pangkalan bun roy yang juga personil dari bangkit, roy sendiri telah merilis art – art untuk beberapa band besar lainnya seperti turbidity, hingga gugat. Adapun makna dari artwork “Belantara Kami” adalah menggambarkan apa yang terjadi terhadap lingkungan sekitar kami seperti hutan Kalimantan yang kini semakin terkikis setiap tahunnya, dan the man yang di gambarkan di artwork tersebut adalah orang di balik semua ini, dimana sang penguasa dengan symbol mahkota dikepala menghabiskan hutan dan berganti perkebunan kelapa sawit yang tergambar pada sisi tangan kanan.

baca : Veteran Hardcore Semarang, Don’t Look Back Rilis Album “Lekang dan Hilang”

Kemudian setelah segalanya selesai Apophis segera merilis Belantara Kami via Digital Store yang di bantu oleh Netrilis Indonesia. Di zaman digital saat ini menjadi alasan tersendiri bagi Apophis untuk melepas album mereka melalui digital, selain lebih gampang diakses sekaligus penyebaran karya lebih cepat dan mudah. Namun Selain rilis via platform digital, Apophis juga akan merilis mini album tersebut melalui cangkram padat (CD) secara independent atau self release yang dicetak dengan sangat terbatas.

Langsung saja untuk kawan-kawan yang ingin merasakan berisiknya “Belantara Kami” dari Apophis bisa langsung di putar di Itunes, Spotify, Deezer dan Bandcamp dengan keyword Apophis Belantara Kami.

Track List

  1. Belantara Kami (Intro)
  2. Kebuasan Belantara
  3. Hilang Tak Berjejak
  4. Hitam Menggumpal Feat Eka Pink Flower
  5. Emosi
  6. Kami Borneo

More Info Apophis :

Facebook : Apophis Metalcore

Instagram : Apophisborneo

Phone : 082325166325