Efek Rumah Kaca on stage Depok Bisa Dikonserkan (01/03) ll Photo by devertone.com

Mulai dari live performance, artmosphere penonton, sampai dukungan untuk Efek Rumah Kaca di Ausrin, Amerika nanti.

 

Longlifemagz – Untuk menutup biaya akomodasi selama tampil di South by Southwest (SXSW), Austin, Amerika Serikat, Efek Rumah Kaca melakukan penggalangan dana dengan tampil dibeberapa event maupun gigs dalam rentan tanggal 18 Februari – 3 Maret 2018.

Selama 13 hari lamanya, Efek Rumah Kaca hadir dalam berbagai gigs di 5 Kota berbeda, The Sound Project (Kuningan City, Jakarta), Bingen Live (Bingen Café, Palembang), Carnifolk (Café Van Mila, Sukabumi), Depok Bisa di Konserkan (faculty club UI, Depok), dan Urban Gigs (Pavilion Resto & Café, Lampung).

Semua ticket dalam 5 event sold-out hanya dalam waktu 2-4 hari. Ratusan sampai ribuan penonton hadir, menonton, mendengar, bernyanyi, dan pastinya memberi dukungan dikonser terakhir Efek Rumah Kaca sebelum mereka terbang ke Amerika. Dan ini moment-moment terakhir gig mereka dipulau Jawa antara euphoria penonton dengan penampilan Efek Rumah Kaca, didua kota berbeda, Sukabumi dan Depok.

 

Sukabumi, Singkat Namun Berkesan

Efek Rumah Kaca di Carnifolk, Sukabumi (27/02) ll Photo by Rizki M Akbar

Sedari sore tiba, Sukabumi sudah diguyur hujan. Tidak tinggi memang intensitasnya, namun bila terhempas lama akan basah dan pasti dingin dirasa. Regian dan Ucok adalah diantara penonton yang hadir di Carnifolk malam itu. Sebelumnya, Regian sudah membuat janji dengan ucok seorang temannya, selepas pulang kerja jam 5 sore pergi menonton Efek Rumah Kaca. “kerja di Cibadak, buru-buru pulang kerja jam 4, teus sampe rumah jam 5,”, Ujar Regian.

Info mereka dapat dari media sosial, konser Efek Rumah Kaca akan diselenggarakan di Carnifolk, Sukabumi. Kesempatan memang tidak datang dua kali. Selain memang Sukabumi jarang akan acara konser, terlebih Efek Rumah Kaca, band yang mereka idolakan sejak tahun 2015.

Tiket sudah ditangan, walaupun terkadang hujan jadi halangan, toh kesempatan ini mereka tidak sia-siakan. “Soalnya kan jarang juga ya ERK main di Sukabumi, dan mumpung ada kesempatan itu kita datang,”, kata Regian sembari menyeruput kopi hitamnya.

Berangkatlah ia selepas mandi dan sejenak beristirahat, “langsung aja kesitu, ujan-ujanan. Bela-belain pengen nonton ERK”, tambah Regian.

Hari itu ia lengkap mengenakan t-shirt hitam dengan jaket jeans birunya, mengendari motor menerpa hujan dengan jarak sekitar 15 km, dari rumah menuju venue. Hingga sampai, selepas adzan magrib tiba ia bertemu Ucok, dan menunggu acara sampai mulai di warung kopi, sembari menghangatkan badan dengan segelas kopi panas serta menghisap rokok.

“Lagunya menginspirasi banget. Seperti contohnya lagu perlawan yang menggambarkan aktivitas aktivis Munir,”, ujar Regian, seraya menjelaskan alasannya suka dengan Efek Rumah Kaca.”Saya belum pernah liat live-nya, sering denger lagunya bagus, jadi penasaran pengen nonton langsung” ujar Ucok menyambar menambahkan. Dan selebihnya mereka mempunyai kesamaan, sama-sama menunggu lagu Diudara dinyanyikan.

Hujan dikit demi sedikit mereda. Acara sudah dimulai, kebisingan mulai terdengar dari arah venue. Penonton sudah banyak berdatangan pada malam itu begitupun dengan Regian dan Ucok. Memasuki gate mereka sudah diarahkan kekursi yang telah tersedia.

Konsep event-nya menarik, acara berlangsung di venue semi outdor. Rentetan-rentetan café yang terdapat di Café van Milla, disulap menjadi venue acara. Stage terdapat dihalaman taman, ada celah terbuka antara café dan stage sebagai masuknya sirkulasi udara sejuk Sukabumi dan nantinya dihirup oleh penonton yang hadir.

Walau venue terbilang sempit, namun tidak terasa panas. Terlebih stage nya tidak terlalu berjarak dan tidak ada barikade pembatas, suasana hangat dan akrab pastilah akan terasa antara Efek Rumah Kaca dan penonton nantinya.

Sederet penampil terlihat diatas stage, membuka acara Carnifolk yang dikhususkan untuk menyambut Efek Rumah Kaca pada malam itu. Dialog Senja adalah diantara mereka yang tampil sebagai band pembuka dan membuat syahdu suasana dengan lagu yang dilantunkannya.

Waktu menunjukan pukul 20.00 Wib, masih belum saatnya Efek Rumah Kaca untuk tampil. Ditengah keramaian penonton, terlihat pria dengan celana pendek, longsleve hitam, lengkap dengan fedora dikepala, tegak berdiri menunggu disudut kiri stage. Ia bernama Agun, pria yang mengaku sudah suka dengan Efek Rumah Kaca dari tahun 2009.

Agun menonton Efek Rumah Kaca, kurang lebih sekitar 4 kali. Ia bahkan rela walau harus pergi ke Jakarta untuk dapat menyaksikannya secara langsung, “dari Gandaria City sampai waktu di Trisakti saya datang kesana,”, ujarnya.

“Lagu Kenakalan Remaja Diera Informatika”, “Belanja Terus Sampai Mati”, sampai “Cinta Melulu” adalah nomor-nomor kesukaannya, dan berharap nantinya dapat dimainkan. Agun punya certia tersendiri perihal lagu itu, kebosanan akan industri musik yang memprosikan lagu-lagu pop cengkok melayu dengan lirik yang cengeng adalah diantaranya. “ERK merepresentasikan gua akan perasaan itu, kala mendengar lagu Cinta Melulu”, ujar Agun dengan serius. Berkali-kali lagu itu ia terus putar dan menemani harinya, “Sampai Nyokap (Ibu) gua nanya, lah ieu deui (kok ini lagi si yang diputar),” tambah sembari tersenyum mengenang hal itu.

Waktu sudah menunjukan pukul 20.30 WIB, ERK sudah bersiap di sarnavil kanan stage. Dan tibalah saat yang ditunggu-tunggu, MC memanggil mereka dengan penuh semangat. Cholil, dkk (vocalis, dan personil yang lain) sudah terlihat berada diatas stage, sorak-sorai penonton menyambut kedatangan mereka. Tanpa berbasa-basi mereka langsung melancarkan lagu “Debu-Debu Berterbangan”, sebagai lagu pembuka. Penonton terhanyut dalam musik dan makna lagunya, sing along tak terbantahkan.

“Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa”, yang selanjutnya diteruskan dengan “Biru”. Beat kian meninggi, Irma, dkk (backing vocal) kian bergelinjang menari mengikuti irama, begitupun penonton yang tak kalah hebohnya. Hingga tiba dibagian anthem “Pasar Bisa Diciptakan”, kata-kata itu selalu berulang, terngiang, dan menggema terdengar kala diteriakan oleh semua penonton dengan lantang. Selangnya lagu “Hujan Jangan Marah” dan “Putih”, dibawakan dengan baik. Tiba dilagu Di Udara penonton kian bergelora, armosphere kian memanas kala tiba dibagian refrean.

Hingga ditutup dengan tiga nomor sakti, “Desember”, “Cinta Melulu”, dan “Sebelah Mata”. Penonton belum cukup puas untuk meninggalkan kebersamaan. Berniat mengakhiri performance, gagal kala disanggah bersama-sama disaat terdengar protes dari penonton meneriakan We one more.

Hingga semua personil Efek Rumah Kaca stand by kembali dialatnya masing-masing, begitupun Cholil yang juga tak lupa mengucapkan banyak terimakasih sembari tersenyum penuh hangat. Lagu “Kenakalan Remaja Diera Informatika” dimainkan, crowd kian menggila. Penonton berjoget riang mengikuti irama, sing along kian menggema terdengar sampai akhir pertunjukan.

 

Dinginnya Depok, Mereka yang menghangatkan

Photo by devertion.com

Reta, Danu, dan Arif sudah membuat janji untuk bertemu. Sekitar 5 tahun lamanya mereka tidak berjumpa, sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Sore itu, (23/03) adalah tanggal yang mereka pilih untuk bertemu, melepas rindu, selebihnya nostalgia masa-masa di SMA. Dipilihlah Faculty Club Ui, sebagai lokasi sekalagus venue konser Efek Rumah Kaca, dalam tajuk Depok Bisa Dikonserkan.

Berangkatlah mereka dari tempat kerja masing-masing, Reta dari Tebet. Sedangkan Danu dan Arif dari Bogor, sama-sama berangkat menuju Depok. Butuh waktu untuk sampai ke Depok, terlebih saat itu hujan cukup deras, Danu dan Arif berangkat dari Bogor, “dari tempat kerja sampe Depok sekitar pukul 6-an, tadi pake sempet nyasar dulu lagi,”, ujar Danu Seraya tertawa.

Perjalanan tetap mereka tempuh walau kondisi cuaca sedang tidak bersahabat, hujan sedari sore tiba. Namun janji mesti tetap ditepati, dan rasa kangen harus cepat diobati.

Konser Depok Bisa Dikonserkan dipilih bukan karena sebab, mereka bertiga suka dengan Efek Rumah Kaca oleh karenanya mereka memilih bertemu disana, “kita bertiga suka dengan mereka dari SMA si,” ujar Danu sembari mengenang 7 tahun yang lalu.

Reta punya pengalaman tersendiri dengan Efek Rumah Kaca. Sewaktu ia SMA, ia pernah menjabat sebagai Ketua OSIS dan SMA nya mengadakan Pensi. Efek Rumah Kaca didaulat sebagai salah satu hideliner mereka, ”wah dulu seru banget tuh acaranya, dan ERK masih nerima fee 500 ribuan tahun 2008,”, ujar Reta dengan sumringah. “Pas dia disini (konser di Jabotabek), aduh kangen banget gua sama ERK, bisa ngeliat lagi,”, tambahnya.

Suasana disekitar venue sudah ramai terlihat. Ribuan orang sudah mulai memadati sekelilingnya, mencari spot-spot terbaik untuk memandang, mendengar, dan bernyanyi bersama dengan Efek Rumah Kaca.

Tidak Nampak ada band-band maupun acara sebelum Efek Rumah Kaca tampil. Panggung dibiarkan kosong, redup, hanya LCD panggung yang sibuk mepertontonkan slide terimakasih untuk para sponsor dan media partner.

Awal, Kristo, dan Afgan adalah diantara banyaknya penonton yang menunggu penampilan dari Efek Rumah Kaca. “Setiap konser Efek Rumah Kaca di Jabotabek gua usahain dan bisain dateng. Soalnya gua penikmat Efek Rumah Kaca,”, ujar Awal menjelaskan.

Walau kondisi saat itu mulai diguyur hujan, namun mereka terjaga didepan stage, disela-sela waktu bertahannya Awal berdalih, “Ini rentetan dari konser sebelum efek rumah Kaca ke Amerika nanti di Jabotabek, setau gua. Gua bela-belain dah basah-basahan,”, dengan semangat.

Hingga pukul 20.00 Wib tiba, waktunya Efek Rumah Kaca on stage. Gerumuh sambutan kian terasa, penonton yang sebelumnya bercerai berai mulai merapat kearah stage. Tanpa banyak basa-basi Efek Rumah Kaca mulai memainkan nomor-nomor dari album Sinestesia secara bergiliran, mulai dari “Merah”, “Biru”, “Jingga”, “Hijau”, “Putih”, dan “Kuning” .

Walau Hujan kian deras intensitasnya, sampai seusai lagu “Merah”, Cholil sempat bertanya kearah penonton, “gimana ni hujan, lanjut?”, dengan kompak penonton mengiyakan dan tak perduli dengan kondisi cuaca yang sedang tidak ramah.

Penampilan yang bagus tersaji didalam konser pada saat itu, belum lagi perpaduan warna lighting yang berpadu-padan sesuai segmen lagu yang dimainkan dalam album Sinestesia, menambah nilai artistik tersendiri. Walau dibeberapa part lagu Cholil sempat lupa akan liriknya. Namun hal itu teratasi dengan bantuan dari penonton yang sedari awal sudah ikut bernyanyi mengikuti irama lagu.

Selesai album Sinestesia dimainkan, Efek Rumah Kaca turun dari stage. Memang konsep kali ini performance mereka dibagi menjadi dua sesi, sesi pertama memainkan album Sinestesia, kedua memainkan nomor-nomor cantik dari album Efek Rumah Kaca dan Kamar Gelap. Penonton sangat dimanjakan pada saat itu, dengan berbagai lagu yang dibawakan nantinya.

Disela jeda, masuk MC yang pada saat itu dipandu oleh Adjis Doa Ibu dan Gilang Gomloh. Lawakan-lawakan yang dilontarkan sangat menghibur penonton. Banyak diantara penonton yang tertawa akan celotehan mereka. Perpaduan konsep yang bagus antara musik dan komedi.

Sekitar 30 menit berselang, Cholil,dkk menaiki stage kembali. Sesi kedua dimulai, dibuka dengan lagu “Tubuhmu Memberi Tragis”, “Menuju Ruang Hampa”, dan kemudian “Melankolia”. Penonton dibuai nostalgia, menyanyikan nomor-nomor hits lagu di album awal Efek Rumah Kaca. Masuk lagu “Ballerina”, crowd mulai kembali bersemangat, berjoget, bergoyang menghangatkan suasana sekaligus menikmati irama.

“Hujan Jangan Marah” selanjutnya dimainkan, membuat penonton bernyanyi makin kencang sembari berharap cuaca lebih membaik. Memang sampai pertengahan konser Efek Rumah Kaca, hujan belum juga mereda, malah dapat dibilang semakin parah.

Photo by freemagz.com

Terlihat disekitar, banyak diantara penonton yang tetap stay walau kehujunan. Diantaranya lagi terdapat pula payung-payung maupun mantel yang dikenakan para penonton. Dari ribuan penonton yang hadir, Ami dan Rina ada lah diantara mereka yang tetap bertahan. “Haduh dingin banget si, sampe tangan gua pada mengkerut. Cuman karena suka dan pengen nonton Efek Rumah Kaca, yaudahlah biarin aja sekalian basah”, ujar Ami disela-sela waktu.

Ribuan penonton masih setia menonton ERK, walau hujan mengguyur Depok pada saat itu ll Photo by devertion.com

Ditengah guyuran hujan, lagu “Merdeka”, “Jalang”, dan “Mosi Tidak Percaya” dimainkan, membuat crowd kembali bergejolak penuh semangat. Selangnya “Insomnia” dimainkan, uplause penonton terasa terdengar. Lagu ini adalah salah satu lagu yang cukup jarang dimainkan secara live, wajar bila banyak yang menantikan. Maka saat sudah dimainkan, wajar mendapat respon yang baik. “Paling enak banget insomnia itu,”, ujar Danu, salah satu penonton dengan semangat.

Dilanjutkan dengan “Laki-laki Pemalu” dan kemudian “Di Udara”. Di Udara terasa lebih mencekam dimainkan kala itu. Distorsi banyak disisipkan, belum lagi penonton bernyanyi dengan lantang seolah menuntut protes terhadap rezim yang sedang kacau dan lupa. Sembari mengangkat tangan kanan keatas dan mengepalkannya. begitupun dengan Panji Mardika (trumpet dan flute) yang sedari awal sampai akhir lagu mengepalkan tangannya, seperti mengisyaratkan supaya penonton bersemangat mengikuti.

“Cinta Melulu”, “Kenakalan Remaja Diera Informatika”, selanjutnya dimainkan, tanpa diintruksi, penonton bergoyang dengan riang. Sampai didetik-detik akhir closing performance mereka, nomor “Lagu Kesepian”, “Desember”, dan “Sebelah Mata” ditunjuk sebagai lagu pamungkasnya. “Sebelah Mata” juga dijadikan theme song bagi kasus penyiraman air keras kemata Novel Baswedan saat itu. Dengan semangat penonton ber sing-along ria, sampai akhir pertunjukan. Hingga akhirnya Depok Bisa Dikonserkan diselesaikan dengan epic dan penuh kesan setelah performance berdurasi selama 2,5 jam.

 

Dari Mereka Untuk Efek Rumah Kaca

Maka selesailah road tour yang dijalani oleh Efek Rumah Kaca –Carnifolk, Sukabumi (27/02) dan Depok Bisa Dikonserkan, Depok (01/03)- yang diselenggarakan dipulau Jawa dalam tajuk #DukungERKMenujuSXSW.

Banyak kesan, banyak pula pesan dan dukungan yang diberikan dari penonton. Sedikit diantaranya adalah ini, “baguslah ERK. Trus lirik lagunya bahasa Indonesia semua, jadi lebih mantap, lebih keren. Biar semua orang pada tahu, pada cari tahu lebih banyak tentang Indonesia,”, ujar Regian, Sukabumi. “biar pada penasaran sama ERK, dan pada ngikutin budaya Indonesia juga” ujar Ucok menambahkan.

“Semoga mereka disana nanti makin banyak mendapat inspirasi dan ketika nanti pulang mereka punya lagu yanglebih bagus lagi,”, ujar Agun penonton Carnifolk, Sukabumi.

“Semoga anggung di Amerikanya sukses, dan makin banyak orang yang denger ERK,”, ujar Ami ,”pesan yang dibawakan semoga tersampaikan”, kata Rina penonton Depok Bisa Dikonserkan . “Oh ya, gua mau dong oleh-oleh kaos”, “gua mau set listnya aja”, ujar Ami dan Rina penuh harap seraya tertawa.

“Gua liat jepang mereka khas banget dengan jepangnya. kenapa Indonesia tidak bisa seperti itu. Gua juga pengen band-band lain juga mesti bangga dan bawa ke Indonesiaan lu, kelokalan lu, dan ERK adalah contohnya”, ujar Maliq program director Carnifolk, Sukabumi.

“Bawa nama Indonesia kekancah internasional si kalo gua,” , kata Arif, “keren gitu, biar mereka pada belajar bahasa Indonesia juga, bahasa Indonesia makin terkenal gitu,” ujar Dani menambahkan.

“Semoga sukses terus dan semuanya lancar disana,”, “Selamet ya nanti sampai di Indonesia”, ujar Awal dan Kristo secara bergantian, penonton Depok Bisa Dikonserkan.

 

Selain project serabutan, mencoba peruntungan pula sebagai penulis lepas, buruh event, dan usaha kecil clothing.

FIND US ON

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.

 

Pin It on Pinterest

Share This