1



Photo by doc. Antara

Nasionalisme Eropa lahir dari akumulasi modal, semangatnya liberal Liberte, Egalite and Fraternite, Nasionalisme Indonesia lahir dari akumulasi penderitaan, kemiskinan dan penjajahan, semangatnya keadilan sosial. Kemerdekaan adalah semangat mengikis habis kesenjangan, Dirgahayu Republik Indonesia!


 

Longlifemagz – Mengupas arti nasionalisme Indonesia tidak bisa lepas dari kondisi pra kemerdekaan, memahami kondisi politik Indonesia masa lalu terdapat unsur atau faktor yang penting. Kita tahu, bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak takut untuk belajar dari lembar-lembar sejarahnya sendiri, betapa pun hitam atau putih lembar-lembar tersebut. Beberapa interpretasi dilebih-lebihkan atau dipergunakan secara serampangan dan pemikiran secara spekulatif tidak akan membawa kita lebih maju setapak pun dalam menerangkan aspek kausal nasionalisme.

Sifat-sifat pokok dari politik kolonial Belanda dapat dicari dengan menggunakan analisis lain dan dengan jalan membandingkan dengan imperalisme negara Eropa lainnya. Balanda membutuhkan hasil-hasil daerah tropis dan mendapatkannya harus secara pemungutan upeti. Hal ini diperkuat karena awal abad ke- 19 negeri Belanda masih bersifat agraris dan dapat di dapat digolongkan dalam kapitalis muda, belum terdapat industri besar (multinasional). Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan Inggris di tanah jajahan mereka menjual kain tenun, kain-kain ini sebagai hasil revolusi Industri. Pada titik awal ini sudah tergambar bahwa fungsi tanah-tanah jajahan itu berakar pada perbedaan kondisi ekonomis negara induk.

Depresi ekonomi mempengaruhi politik Belanda pada umumnya dan politik kolonialisme pada khususnya, tendensi tersebut menggambarkan determinisme ekonomis basis struktur mempengaruhi suprastruktur. Kondisi ekonomi Belanda semakin di perparah sebagai akibat dari Perang Napoleon 1803 dan Perang Diponegoro 1825 yang menguras darah, dana dan air mata. Akhirnya pemerintah Belanda mengeluarkan kebijakan bahwa daerah-daerah taklukan harus memberi keuntungan material bagi Belanda melalui sistem cultuurstelsel.

Tak heran-heran kita selalu bertanya bagaimana bisa suatu negara menjajah lebih dari 3 Abad yang secara geografis terletak di benua yang berbeda berjarak 28.000 kilometer, prajurit perang tidak sebanyak pribumi nusantara dan musuh tidak mengenal semua medan peperangan. Pada periode itu di Hindia Belanda umumnya dan Jawa khususnya masih terdapat kerajaan yang memiliki prajurit terlatih dan alat perang yang mumpuni bisa dengan mudah dikendalikan oleh satu kekuatan yang semasa itu belum menjadi negara adidaya.

Pemerintah Belanda dalam menjalankan sistem rezim kolonial kekuasaannya di Hindia Belanda struktur kekuasaannya bersifat hierarkis feodal yang bertulang punggungkan pegawai binnenlands bestuur (BB) atau pangreh praja. Sehingga timbullah semacam enfeodalisasi yang meletakan elit pribumi di jabatan-jabatan administrasi dan keamanaan yang di kontrol langsung oleh Gubernur Jendral, kondisi yang non-asimilatif ini membuat sikap elit birokrasi condong konservatisme dan gaya hidup yang terbelenggu tradisionalisme. Pola konsumsi masyarakat tradisional : keserbamewahan, kekayaan sebagai lambang status, hubungan masyarakat berdasarkan perasaan dan homogen.

Struktur kekuasaan yang diterapkan oleh Belanda telah menciptakan hierarki ketat yang menjadi perintah dari atas ke bawah dengan cara menempatkan elit-elit pribumi di posisi strategis. Dalam pada itu politik Belanda mendorong mereka untuk mempertahankan gaya hidup tradisional berikut seni, sastra, dan filsafatnya. Sartono menyatakan bahwa pemerintah Hindia menghadapi proses enfeodalisme yang penuh ambivalensi, ibaratnya berdiri dengan satu kaki dalam alam tradisional dengan paternalisme, otoritarianisme dan feodalismenya, dengan kaki yang satunya dalam dunia modern dengan tatanan birokratis (2014; 100).

Proses ambivalensi tersebut merupakan hambatan bagi kelompok priyayi profesional atau kaum terpelajar untuk memegang peranan sebagai inovator perubahan sosial yang disebabkan karakter feodal yang belum tuntas serta politik kolonial mengutamakan keamanan dan ketertiban (rustand orde), hak istimewa (exorbitante) kekuasaan yang sewenang-wenang. Kebijakan tersebut berhasil mengubah paradigmamasyarakat bahwa politik itu urusannya wong gede (penguasa). Rakyat benar-benar diarahkan hanya untuk bekerja, berproduksi dan tidak memiliki peran lagi dalam politik (Lane, 2007;42-43).

Situasi kolonial merupakan tantangan bagi tanah jajahan untuk mengkonsentrasikan aktivitas kolektif untuk mempertahankan diri dan mengubah situasi. Hal ini menyebabkan timbulnya kesadaran, perasaan dan kehendak nasional. Nasionalisme Indonesia seperti halnya negara-negara dunia ketiga lainnya mempunyai basis historis pada kolonialisme , maka sifat anti kolonialisme (Baca : Nasionalisme) menjadi bagian utama.

Semangat nasional harus di pandang sebagai suatu proses sosial, sekali muncul tidak dapat di cegah lagi dan hanya akan terhenti setelah kolonialisme lenyap. Konsep nasionalisme rakyat Indonesia dapat dilihat melalui 3 aspek yaitu : aspek kognitif yang mendasarkan pada kondisi yang terjadi (penjajahan), aspek afektif yang mendasarkan pada reaksi-reaksi emosional dan aspek orientasi yang mendasarkan pada tujuan bersama, seperti halnya yang tertuang dalam sumpah pemuda ‘satu nusa, satu bangsa dan satu bangsa’ . Ringkasnya sifat-sifat nasionalisme dunia ketiga berdasar pada : solidaritas, pluralisme, kesadaran kondisi sosial serta dinamis. Penderitaan yang sama pada waktu kolonialisme, melahirkan keinginan bersama menciptakan lingkungan hidup yang bebas.


FIND US ON

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.

 

Pin It on Pinterest

Share This