1



foto-artikel-pola-up-1

Photo by doc. Pola Upcycle

Merubah barang bekas menjadi barang tepat guna yang berestetika.

 

Longlifemagz – Kesenian kini makin marak saja variasinya, salah satunya variasi kesenian yang menggunakan bahan-bahan bekas, seni dengan barang bekas ini memang terbilang jarang dan unik, jarang sekali ada orang yang mengembangkan kesenian Upcycle atau kesenian yang merubah barang bekas menjadi barang tepat guna yang berestetika. Pola Upcycle adalah satu dari sedikit pelaku seni Upcycle yang bukan hanya menciptakan barang-barang unik berestetika namun juga berhasil mendobrak pasar industry kreatif lewat produk-produknya, POLA dengan berani mengabungkan seni dan upcycle ke dalam suatu bisnis industri kreatif, simak wawancara Longlife dengan Burhan dari Pola Upcycle dibawah ini.

Bagaimana Ceritanya Sampai Terbentuk Pola Upcycle?

Singkat cerita,Saya dulu sempat bekerja di salah satu stasiun televisi swasta di Jakarta (Trans tv) dan disana Saya pun menjabat sebagai Creative Officer, disana pun kesehariannya memang selalu ditutut untuk berpikir, bekerja dan berkarya sekreatif mungkin. Dan disela-sela Saya bekerja, sempat terpikir “banyak sekali barang bekas yang ga terpakai di ruang inventori properti”, pertanyaan dalam hati itu lama saya pendam  di dalam kepala. Sampai akhirnya saya harus kembali ke Semarang karena suatu keperluan yang memaksa Saya harus resign dari pekerjaan Saya, dan kembali Saya bersama keluarga, teman, dan sahabat-sahabat Saya. Lalu, Saya, Dodi, Dika dan Vincent (Sahabat Saya) merasa memiliki kegelisahaan yang sama tentang barang bekas. Sehingga menginisiasi kita berempat seperti jumlah kaki kursi pada umunya dan kebetulan produk perdana kita adalah sebuah kursi lipat dan menyadarkan kita agar bukan hanya sekedar “berbisnis” diranah Yang, tapi juga membuka mata lebar-lebar tentang lingkungan dan bumi yang semakin terbebani oleh sampah dan limbah tak terpakai. Sebagai bentuk kepedulian kita terhadap lingkungan akhirnya, pada bulan desember 2015, saya lupa tepatnya tanggal berapa.. terciptalah POLA. Yang.. sebuah laboratorium kreatif para anak muda yang mengusung semangat menciptakan responsible lifestyle product, yang menggagas tentang konsep Upcycle.

Apa project yang sedang dikerjakan POLA sekarang ?

Berjalan seperti biasanya, kita terus disibukkan dengan pesanan dari luar kota dan mengharuskan kita untuk terus memproduksi produk juga. Beberapa bulan lalu kita sempat mencuri perhatian NET. TV yang mungkin prediksi kami Bapak Wisnu Utama memberikan komando kepada para reporternya untuk membutu kita dan akhirnya pun kita diliput oleh NET. menggunakan metode liputan Indepth Reporting yang tayang di NET Jateng, NET 5 dan NET 12. Momentum ini pun seolah seperti menular, yang akhirnya juga membuat DAAI TV INDONESIA meliput kita beberapa hari yang lalu, dan liputan ini menggunakan metode Features & Documentaries untuk program “Bumiku Satu” yang dikemas selama 25:00 durasi tayangnya dan bisa ditonton di Tv Cable, Youtube dan Channel DAAI TV.  Dalam waktu dekat ini kita akan “pamer” di Car Free Day Semarang, bukan dengan niatan untuk “sale” tapi kita lebih prefer untuk memberikan campaign serta mengedukasi orang-orang kalau sudah sangat kasihan sekali bumi ini yang penuh dengan sampah dan limbah, dan mengajak mereka untuk bukan sekedar berkarya saja tapi juga memberikan kontribusi tentang masalah limbah ini yang salah satunya dengan cara membuat karya yang bisa dibilang “pejuang lingkungan”, pastinya kita berharap semoga niatan mulia ini bisa direspon dengan mulia juga. Dan dibulan depan kita mendapat invitation event pameran karya seni daur ulang di kota Bandung, yang sampai sekarang masih kita pertimbangkan dan menunggu konfirmasi lebih lanjut. Dan kita berharap besar dikota kelahiran kita ini (Semarang) tercipta sebuah event dan bisa menjadi wadah untuk orang-orang dengan karya lingkungan seperti kita. Kita yakin, ada banyak mereka-mereka yang mempunyai pemikiran hampir mirip dengan kita.

Apa yang membedakan karya kamu dengan yang lainnya?

Ini kesempatan emas bagi “mereka” untuk mendapatkan produk yang berpotensi seperti POLA, dan ini kesempatan emas juga bagi “kita” untuk dikonsumsi oleh orang-orang yang berpotensi seperti “mereka”. Masyarakat berpendapatan tinggi (yang merupakan target industri) mengisi lubang besar kebosanan hidup kesehariannya dengan membeli. Namun menjadi kebosanan baru apabila mereka memakai benda yang persis dengan orang lain. Era konsumsi seragam telah berlalu. Produksi massal terus dikonter oleh sesuatu yang benar-benar individual. Pseudo individual memang..  Produk PōLA. terlihat melebur batasan antara seni dan kerajinan serta mewujud sebagai aksesori kehidupan sehari-hari. Ini sangat atraktif, bagi mata yang terlatih secara visual. Produk PōLA. adalah kejutan menyenangkan di tengah dunia keseharian yang dipenuhi produk massal yang standar. Karena sumber daya bahan limbah terbatas, maka jumlah produksi pun tidak massal. Produk PōLA. sangat berpotensi menjadi aksesori -HANYA-ANDA-YANG-PUNYA-. Ketidakadilan pemasaran ini hanya menguntungkan perantara dagang dan eksploitatif terhadap produsen. Di Semarang, gejala ini telah berlangsung lama misalnya pada perdagangan barang seni atau kerajinan. Art shop menetapkan marjin keuntungan yang sangat tinggi, bisa mencapai 60 persen, atas produk perajin. Sampai ke tangan konsumen, kerajinan bisa menjadi mahal, namun nilai yang dinikmati produsen tak sebanding. Kemitraan PōLA. dijalankan dengan semangat perdagangan yang adil (fair trade). Ini menjadi saluran cita-cita keberlanjutan (sustainability) yang tidak semata-mata untuk memurnikan lingkungan, tapi demi manusia. Butuh kerja keras untuk memelihara prinsip fair trade sebagai aktivitas ekonomi murni. Sehingga tidak menjadi “asal fair trade.” Kita tidak ingin “dibeli” karena “dikasihani”, tapi kita ingin dibeli karena ada “sesuatu”, dan sesuatu itu adalah “potensi”.

 Biasanya dapat inspirasi darimana dalam mendesign atau berkarya?

Setahu saya, pekerjaan seorang desainer adalah memastikan sebuah model harus bisa dikonversi menjadi prototype kerja (cetak biru untuk manufaktur). Namun, sudah kodrat manusia untuk mengukir individualitas, lalu dimana letak fungsi “inspirasi” dalam mendesain? Kita masih belum bisa mengartikan inspirasi dalam makna yang sebenarnya, yang pasti kalau boleh kita analogikan inspirasi itu adalah sebuah kegelisahaan yang jawabannya sudah diketahui oleh nurani kita, dan kita (POLA)  selalu memakai inspirasi itu. Bahkan sejak tahun 1980an desainer mulai menyuntikkan “kromosom” identitas unik kepada produk berskala industri, dan berangkat dari pemahaman itulah pemilihan dan penggunaan materi bekas membuat pekerjaan desainer PōLA. terlokasi pada perancangan bentuk dan tampilan. Lalu sisanya, materi bekas memainkan perannya “sendiri” sebagai kejutan visual. Kita seperti melihat unsur karya montage atau kolase foto dari seniman Dadaisme pada aksesori seperti tas, sofa, partisi dan kap lampu dari bahan limbah. Potongan gambar, nomor atau huruf terpotong, warna menabrak. Hal yang selalu kita “awasi” dan “jaga” produk PōLA. harus terus terlihat melebur batasan antara seni dan kerajinan serta mewujud sebagai aksesori kehidupan sehari-hari.

Tokoh idola atau panutan di industri kreatif? mengapa memilih tokoh tersebut?

Beliau adalah Bapak Indriyanto LILO (Limbah Logam) seorang seniman asal Semarang yang juga mempunyai usaha dibidang lingkungan yang terfokus pada limbah logam dan sudah keliling Indonesia bahkan di Asia untuk mengedukasi betapa pentingnya rasa peduli kita terhadap lingkungan itu harus selalu ada dan terus ada. Kita bersyukur, karena ternyata sudah ada sosok-sosok yang telah lebih dulu menjadi “pejuang lingkungan” sebelum kita. Dan orang lain yang kita idolakan adalah “kalian” semua yang membaca magazine ini, kita rasa disaat kalian membaca liputan ini setidaknya 50% nurani “pejuang lingkungan” di dalam diri kalian mulai menampakkan wujudnya.

Sampai kapan POLA akan tetap berkarya?

Ini gambling, kenapa? Karena disatu sisi POLA tercipta karena rasa kegelisahaan melihat banyaknya limbah barang bekas yang tidak terpakai. Padahal tujuan POLA ini diciptakan untuk “minimal” membantu mengurangi beban bumi dengan cara mengurangi beban sampah limbah itu sendiri.. Misalkan di bumi ini limbah barang bekas sudah di recycle atau di upcycle oleh banyak orang secara otomatis POLA tidak akan bisa berkarya lagi bukan? Tapi, mari kita perluas pemikiran ini.. Seandainya hal itu pun benar terjadi, kita POLA akan tetap berkarya, mungkin dengan “bentuk” dan “cara” yang lain.. Kembali lagi, pointnya untuk membantu mengurangi beban bumi.

Kendala kalian dalam menjalani bisnis kreatif Upcycle ini apa?

Kendala utama kita ya itu, “barang bekas”. Karena itulah bahan baku kita dalam membuat karya. Analoginya, kita bisa berkarya kalau barang bekasnya ada. Itu nyawanya. Dan kalau ngomongin tentang paska produksi yaitu, soal pengiriman produk. Disitulah biasanya kita memutar otak untuk mengakali agar produk ini ditimbang di logistik tidak terlalu berat bebannya karena bakal menambah jumlah biaya ongkos kirim yang harus dibayarkan oleh pembeli diluar kota Semarang bahkan diluar Indonesia. Tapi kita terus belajar dan terus mencari solusi untuk kendala kita ini, mungkin nantinya ada solusi yang bakal kita peroleh. Dan kita menunggu momentum itu datang.

 Target kedepannya dalam industri kreatif?

Bila upcycling menjadi kegemaran yang mewabah, apakah benda-benda upcycle akan memiliki nilai ekonomi yang spesial? Setiap orang pasti bisa melihat benda-benda tidak terpakai di sekitarnya dan mentransformasinya ke bentuk dan kegunaan lain. Lantas akan adakah pasar bagi produk PōLA.? Di sinilah sebuah sistem bernama brand (yang kerap misterius) bekerja. Benda tidak sekadar diukur dalam perspektif utilitarian atau manfaat semata. Masyarakat urban tetap ingin berkomunikasi meski membutuhkan deklarasi individualitas di tengah perasaan disorientasi kesendirian hidupnya. Brand adalah tawarannya, dan itu yang sedang kita godok dan kita perkuat. Brand menjadi alat interaksi, sebuah perayaan kebersamaan meski tanpa komunikasi. Tanpa bertukar pesan. Sebab brand adalah pesan itu sendiri. Kedepannya, kita akan terus belajar, berkontribusi dan berbagi.

Tips untuk pemula yang ingin menjalani industri kreatif?

Kalian itu masih muda, jadi harus kreatif dan terus berkobar..Jangan sampai semua pemikiran, ide-ide, kegelisahan-kegelisahan kalian itu hanya “tertahan” di laptop, komputer atau hard disk kalian. Wujudkanlah dalam bentuk yang nyata, buatlah karya atau hal apapun yang bisa menjadikan sarana agar dilihat dan diraskan manfaatnya oleh banyak orang diluar sana. Jangan sampai kalian terkontaminasi menjadi “generasi menunduk” yang hanya fokus dengan alat canggihnya saja tanpa satupun matanya melihat “kegelisahan” disekitarnya.Teruslah belajar, berkontribusi dan berbagi.

Pola telah berhasil mencipatkan dobrakan baru dengan POLA Upcyclingnya, yang bukan hanya mengurangi limbah dan barang bekas yang ada di sekitar lingkungan, POLA juga berhasil ‘menyulap’ barang-barang tersebut menjadi karya seni dan aksesoris sehari-hari dengan konsep ‘hanya kamu yang punya’, sebuah konsep unik yang tentunya juga membuat POLA bukan hanya berkarya , melainkan juga   bermanfaat bagi lingkungan dan sekitar.

img-20161205-wa0001

img-20161205-wa0006

img-20161205-wa0004

foto-produk-pola-2

foto-produk-pola-4

foto-produk-pola-3

Text by Nindya Kartika

 

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

Keyword :



FIND US ON

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.

 

Pin It on Pinterest

Share This