1



Aksi pelajar saat itu mendukung pelarangan PKI, diabadikan oleh Getty, BBC

Photo by doc. Tribunnews, BBC

30 September, sensasi ketakutan masa lalu yang diamini secara berjamaah dengan suka cita riang gembira hati senang senantiasa. Generasi muda, generasi millennial harus membiasakan diri untuk hidup tanpa mitos dan dengan penuh kesadaran atas kenyataan sejarah yang tentunya rumit. Patria o muerte!


 

Longlifemagz – Rezim Orde Baru merupakan kekuatan besar yang tidak tertandingi selama lebih dari tiga dekade (1996-1998) menguasai Indonesia. Peristiwa 30 September 1965 menjadi satu peristiwa penting rezim Orde Baru dalam membangun hegemoni kekuasaan, sejarah yang telah terdistorsi kepentingan elit kian absurd.

Sebagaimana yang lazimnya terlihat, tak jarang dalam perjalanan menuju kekuasaan itu penuh dengan sikut-sikutan di antara para elit politik, tetapi juga jerit tangis dan ceceran darah rakyat kebanyakan.

Maka dari itu perlunya kita menguak rahasia atau misteri-misteri tertentu kekuasaan rezim Orde Baru bukan untuk mengorek luka lama melainkan untuk belajar bersama dari periode yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari bangsa ini.

Peninjauan kembali sejarah itu penting, terutama jika kita memahami sejarah bukan sebagai warisan, melainkan sebagai suatu pelajaran. Sejarah hendaknya tidak dipandang sebagai pemberian dari masa lampau yang harus di pertahankan mati-matian atau dijadikan sumber justifikasi terhadap apa yang kita lakukan sekarang, melainkan sebagai sumber inspirasi untuk menata kembali masyarakat menjadi lebih baik di masa kini dan masa depan.

Pertama-pertama yang perlu kita cermati tentang kuasa rezim Orde Baru yaitu strategi politik yang di terapkan Soeharto sebagaimana dituliskan oleh Pramoedya Ananta Toer dalam buku Arok-Dedes bahwa politik tak selalu identik dengan perang terbuka. Politik adalah permainan catur di atas papan bidak yang butuh kejelian, pancingan, ketegaan melempar umpan-umpan untuk mendapatkan peruntungan besar.

Sejak dibangku sekolah kita diajarkan menghafal nama Presiden dan tahun periode kekuasaan sebagai wujud wawasan kebangsaan, saat itulah kita tahu Soeharto sebagai pemenang karena dia terlama.

Lalu timbul pertanyaan, kok presidennya pak Harto terus ya? Padahal setiap 5 tahun di adakan pemilihan umum, lagi-lagi pak Harto yang jadi presiden¸ semua itu tentu penting menjadi persoalan memahami masa lalu secara lebih kritis agar mampu merencanakan taktik perubahan secara lebih tepat.

Keberhasilan Orde Baru memimpin selama 32 tahun tidak lepas dari metode militerisme-fasisme, di mana satu minoritas menguasai mayoritas melalui peristiwa-peristiwa menggoncangkan. Hal itu dilakukan melalui pembantaian tahun 1965 yang menurut penuturan komandan Sarwo Edhie mncapai angka 3 juta orang. Keterikatan peristiwa ‘65 dengan strategi politik Soeharto inilah yang masih kabur di paparkan oleh kaum terpelajar.

Pertama-tama dalam membangun rezim Soeharto menyingkirkan lawan terbesarnya, sebagaimana dikatakan oleh Machiavelli dalam bukunya Il Principe untuk mendapatkan kekuasaan yaitu musnahkan garis keturunan keluarga penguasa/kelompok dominan.

Harus diingat bahwa manusia harus dicintai atau di hancurkan; mereka akan menuntut balas dendam atas luka ringan, namun mereka tidak dapat melakukan hal serupa apabila mereka terluka parah.

Berangkat dari peristiwa 65 inilah kemudian Soeharto membangun hegemoni menciptakan realitas semu lewat film buatan pemerintah, Pengkhianatan Gerakan 30 September/PKI (1984), sebuah film jalur kuning, film serangan fajar, yang menjadi tontonan wajib setiap tahun bagi anak-anak sekolah. moral sederhana: bahwa sejak kemerdekaan dan masa-masa selanjutnya, PKI bersifat anti nasional, anti agama, agresif, haus darah, dan sadis.

Baca :Film G30S PKI Ala Kids Zaman Now

Arief Budiman pernah mengatakan bahwa sistem politik totaliter menekankan konsensus total di dalam masyarakat dengan cara indoktrinasi ideologi dan paksaan, dan juga melakukan konflik total tanpa melihat derajat kebebasan individu.

Kekuasaan yang sewenang-wenang ini telah berhasil meninabobokan rakyat, alhasil tiap kali peringatan 30 September yang terjadi tidak lepas dari logika Orde Baru dan hanya menebar kebencian seperti genjer yang di urap dan di oseng pun jadi horor, palu dan arit pun sebagai alat produksi wong cilik juga jadi horor.

Telah dapat kita gariskan bahwa ciri khas atau mentalitas dasar dari Orde Baru itu menarik untuk dilihat, terutama dari sudut pandang sosiologi, karena politik kekerasan yang dipakai telah menyebabkan timbulnya keadaan seseorang menjadi ketakutan.

Dalam langkah ini telah terbongkar bahwa kesan yang dibentuk rezim Orde Baru bukan hanya belum memadai, melainkan menyembunyikan sesuatu, jadi merupakan sebuah distorsi. Setiap rezim pasti memiliki opini yang dibuat untuk membenarkan dirinya saja, maka kita perlu menelanjangi kesan sebagai distorsi sehingga distorsi dalam realitas terbuka juga.

 

 

 

 

 

Keyword :



FIND US ON

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.

 

Pin It on Pinterest

Share This