323rwer (1 of 12)(1)

Photo by Henggal Wisma, Bagus Aditya

“Makin banyak orang stress akhir-akhir ini, jadi perlu dihibur” ujar Aji Cetih Bahadursah sembari tertawa kecil mengomentari situasi saat ini.

 

Longlifemagz – Penuh akan kreatifitas, kritis terhadap realitas, tingginya rasa humor, menghibur, orkes dan legenda adalah beberapa kata yang bisa menggambarkan Orkes Moral Pengantar Minum Racun (OM PMR).

Berkarya selama 39 tahun, menjadikan OM PMR sudah melewati banyak kisah, manis maupun ketir dibelantika musik Indonesia. Mulai dari disensor Harmoko (Menteri Penerangan era Orde Baru) atas lagu Judul-Judulan, segala arsip dan produksi materi terbakar pada saat kerusuhan 1998, sampai merintis kembali dan masih diterimanya karya mereka oleh publik terkhusus anak muda generasi sekarang, secuil perjalanan karir OM PMR.

Adalah Wre Munindra, penyiar Prambors yang menemukan bakat mereka. Atas instruksi dari Kasino (Warkop) untuk mencari band pengiring siaran bersama Warkop DKI (Dono, Kasino, dan Indro) diradio Prambors, Wre Munindra menyuguhkan mereka sebagai pengganti dari Orkes Moral Pancaran Sinar Petromaks (OM PSP).

Dengan insting humor dan kesukaannya terhadap hal yang berbau india, Kasino lantas menggubah nama mereka satu persatu. Jhoni Madu Mati Kutu (vokal), Aji Cetih Bahadursah (tamborin), Ima Maranaan (bass), Budi Padukone (rhythm), Yuri Mahipal (mandolin), dan Hari “Muke Kapur” (mini drum/gendang) adalah hasilnya.

Siaran bersama warkop, bersama memparodikan lagu, lantas merintis karir mereka menuju kesuksesan. Sampai datang tawaran, untuk melaksanakan tour bersama Warkop mengelili Indonesia.

Datang lah ilham, sebuah nama untuk menamai grup mereka, Orkes Moral Kurang Gizi adalah salah satu opsi yang tercetus dari Dono (Almarhum). Namun diantaranya banyak yang kurang sependapat. Sampai akhirnya tercetus nama, Orkes Moral Irama Teler Pengantar Minum Racun (OM ILER PMR). Karena dasar mereka para personil PMR dahulu seperti orang teler.

“Soalnya waktu itu ada (orkes) Telerama jadi diplesetin Irama Teler. Pengesahan nama itu ditandai dengan beli nasi padang di Prambors. Dan setiap malam Jumat kami siaran sama Warkop di radio.” ujar Jhoni mengisahkan peran Warkop seperti yang terlansir dalam metronews.com.

Baca :

The Popo, Merangkum Isu-Isu Sosial Dalam Sebuah Karya

Pandai Besi, Mulai dari Album Baru, Cholil Mahfud, dan Scene Musik di Kota Semarang

“Warkop itu yang ngebimbing PMR, sepuluh tahun kite jalan bareng. Banyak pelajaran dari situ. Mulai dari kite-kite masih pade sekole sampe bener-bener dianggap bisa bediri sendiri baru deh mereka lepasin kite; udah waktunya lu berkarya sendiri sekarang. Begitu kata mereka (Warkop) waktu itu.” ungkap Budi Padukone.

Hingga tahun 1987, OM PMR memisahkan diri dari warkop dan memilih untuk berdiri sendiri. Meluncurkan album bertajuk ‘Judul-Judulan’, kian mengibarkan nama mereka. Konon penjualan albumnya tembus diangka 2 juta kopi. Tanda kesuksesan bagi album ‘Judul-Judulan’ untuk penjualan kaset pada era itu.

Hingga timbul banyak respon, pro maupun kontra menanggapi. Seperi yang diungkap Rinto Harahap dan Taufik Ismail, lebih melihat bahwa meledaknya album tersebut oleh karena kejenuhan masyarakat akan musik serius dan pencapaian lagu itu adalah buah dari kejeniusan dalam kegiatan artistik dan itu wajar.

Berbeda dengan Taufik Ismail dan Rinto Harahap, Harmoko (Menteri Penerangan di era Orde Baru) mempunyai penilaian sendiri. Pada tahun 1988, dia memasukan album ini dalam daftar cekal Menteri Penerangan, dengan dalih “berselera rendah”, hal tersebut senada seperti yang terlansir dalam Rollingstone.co.id.

Sampai kerusuhan di Indonesia terjadi tahun 1998, era transisi menandakan vakumnya OM PMR sampai dengan tahun 2012. Tahun 2013 adalah momentum bangunnya kembali OM PMR dari tidur panjang selama lebih dari 10 tahun.

Adalah Dokter Abie, seorang dokter spesialis THT berpraktik di RS Harapan Kita sekaligus pemilik Borneo Beerhouse, sebagai salah satu orang yang berjasa menghidupkan kembali OM PMR diatas panggung.

“Saat itu di Borneo Beerhouse lagi ada acara DJ-DJ-an. Tiba-tiba DJ terakhir muterin lagunya PMR. Itu waktu diputar, yang tadinya capek joget, langsung joget. Wah, ini (PMR) masih banyak yang nunggu nih. Akhirnya ngumpulin beberapa teman, Dado (drummer The Flowers)… “Do, si PMR harus manggung sendiri di sini,” kenang Abie dalam film dokumenter OM PMR Belum Ada Judul episode 1 yang ada di kanal YouTube Sedap Films.

Konser OM PMR akhirnya digelar tanggal 28 Juni 2013 di Borneo Beerhouse, terbilang sukses dan mendatangkan massa yang banyak. Keseruan terekam, dimana setiap orang saling bergoyang, mengekspresikan diri, dan melantunkan syair dengan lantang .

Mulai dari masyarakat umum maupun public figure menyambut dengan riang tanpa ada strata disana. Terlihat, mulai dari Soleh Solihun (Comic), Gofar Hilman (Penyiar Radio), sampai Sari (Vocalis White Shoes And The Couples Company) sama-sama asik bergoyang dalam irama orkes yang disuguhkan.

Sampai sekarang, OM PMR masih mengibarkan orkes disegala penjuru tanah air. Tak membeda-bedakan event, mulai dari pensi SMA, road tour, sampai main difestival musik, mereka jabanin. Usia bukan jaminan bagi semangat berkaya untuk mereka-mereka ini melemah.

Seperti yang diungkap oleh Arie Dagienkz “OM PMR ini bisa dijadikan contoh. Walau pun umur masih bisa dibilang masih muda, muda banget, heheh. Tapi semangat, energi, dan kreativitasnya ga berenti. Jangan pernah menyerah, semangat terus. Contoh OM PMR ini.”.

Longlifemagz mendapat kesempatan mewawancarai OM PMR, saat mereka bertandang ke event music yang digelar salah satu kampus di kota Semarang. Tak hadirnya sang frontman Jhony Iskandar disebabkan oleh penyakit yang menyita kesehatannya, tak menghilangkan semangat dari OM PMR untuk tampil didepan ribuan massa.

Kali ini Arie Dagienkz yang didaulat menggantikan vocal dan guyonan Jhonny kepada para Sahabat Racun (fans OM PMR), dengan personil OM PMR yang lain, hangat pula kala menyambut kami sembelum melakukan sesi wawancara. Berikut adalah isi wawancara yang terekam dalam rubik Undercover :

Gimana awalnya ada ide merubah lagu orang?

Kalo idenya si udah dari dulu, sudah terbiasa dengan Almarhum Kasino (salah satu personil Warkop) mengkomedikan lagu-lagu. Jadi sudah terbiasa seperti itu. Dan seterusnya kita juga dulu sering ngumpul sampai manggung bareng Warkop. Jadi sudah biasa.

Selama merubah lagu orang , seperti misal ‘Bintangku-Bintangmu’ lagu Obie Mesakh, atau ‘Pergi Tanpa Pesan’ lagunya Eliya Kadam, tanggapan dari beliau yang punya lagu seperti apa?

Kalau sama penciptanya saya belum mendengar apa-apa, kalau syairnya kami rubah. kami belum pernah mendengar respon ya. Tapi tidak apa-apa sepertinya, yang terpenting masih bisa dinikmati oleh anak muda

Ada salah satu lagu yang paling berkesan bagi saya, lagu ‘Malam Jum’at Kliwon’. Masih jarangnya sekali musisi yang mengangkat tema setan dalam lirik lagunya? Dapat ilham dari mana atau mungkin itu kisah nyata?

Lagu Malam Jum’at Kliwon itu terinspirasi dari tragedi Bintaro. Nah tepat diperingati bulan sekarang juga. Karena pada saat kejadian itu terjadi, setelah tragedi kereta tertabrak itu, kita sempat mendengar cerita dari orang-orang disekitar situ. Ya tentang rumor horor. Terus kita bikin syairnya seperti yang terdapat di lagu itu.

DSC04322

Selama 43 Tahun berkarya, sudah melewati 2 fase waktu, mulai dari era Orde Baru sampai era Reformasi. Ada tidak perbedaan antara OM PMR berkesenian tempo dulu dengan sekarang?

Kalau dulu kan hasil berdasarkan penjualan ya, kalau sekarang manggung kan juga lewat off air. Bukan kaset sekarang yang kita uber (baca : kejar), harus event. Nah itu bedaya sekarang. Dulu juga buat manggung itu dibatesin. Nah kan kalau sekarang dibebasin. Malah kesannya kebablasan, hehhe. Tapi ga juga si, off air itu penting. Kalau engga, dapur engga ngebul, hahaha

 

Setelah keluarnya Album ‘Judul-Judulan’ yang tembus sampai 2 juta kopi, dengan salah satu single andalannya, ‘Judul-Judulan’ pernah disensor oleh pemerintah Orde Baru. Sebenarnya apa yang terjadi?

Itukan himbauan, kala itu Harmoko (Menteri Penerangan diera Soeharto) mengesankan lagunya terdapat konten-konten porno. Pemikirannya ortodok itu. Tapi kan memang hakekatnya waktu itu seperti itu. Seolah-seolah mereka bilang (Pemerintah) itu tidak terjadi, padahal ya terjadi seperti itu. Kumpul kebo itu kejadian dulu marak sekali, dan bahaya sekali bagi anak muda pada waktu itu. Jadikan ada beberapa lirik, seperti misalnya kebo-keboan, pacar-pacaran. Tapi memang lagu ‘Judul-Judulan’ itu sindiran untuk keadaan pada masa itu. Kala itu memang sedang marak-maraknya terjadi.

Sempat vakum ditahun 1998 sampai kemudian ditahun 2013 muncul kepublik kembali. Apa yang menyebabkan OM PMR hadir, berkarya kembali dan merubah lagu orang-orang lagi?

Sebetulnya kalau semangat untuk berseni kita terus ada, Cuma untuk kesempatan manggung kita dapat pada saat itu. Setelah mati suri dan vakum, hingga tahun 2011 kita ada kesempatan untuk manggung. Dan berimbas sampai sekarang.

 

Untuk lagu ‘Duit’ yang merupakan lagu orisinil dari OM PMR dialbum terbaru, ‘Orkeslah Kalau Bergitar’, terkesan lebih agamis dan serius mengangkat tema itu. Berbeda dengan beberapa lagu sebelum-sebelumnya yang lebih ketema nakal, satir, kadang nyeleneh. Apa yang ingin disampaikan?

Salah satu warna dalam lagu boleh-boleh saja, agar tidak monoton dalam satu syairnya. Karena juga sedikit dapat ilham itu, heehe. Mungkin karena masalah usia ya, tapi yang jelas memang kita ingin menyajikan sesuatu yang berbeda.

DSC04308

Kirain biar tidak dikira PKI bikin lagu bertema agamis, hehe?

PKI kan Penikmat Kopi Indonesia, hahahaha

Buat kedepannya, kejutan apa yang akan dikeluarkan OM PMR?

Nanti buat kedepannya kita akan mengeluarkan album terbaru. Banyak lagu-lagu yang bakal kita keluarin dan orisinil karya dari kita. Sampai saat ini proses pembuatan sudah 60%. Insyaallah Tahun Depan keluar.

Untuk Industri musik Indonesia, kian kesini semakin sedikit atau mungkin kurang terekposnya para penerus musik khususnya musik humor. Bagaimana pesan atau mungkin petuahnya, untuk para generasi muda?

Kalau dulu ada namanya Lembaga Musik Humor. Mungkin salah satu penyemangat mesti diadakan kembali. Agar mereka mempunyai wadah untuk berkreasi, bersikap dan ada sasarannya. Ada yang dituju seperti itu. Yang penting bisa berkarya. Yang terpenting ada rangsangan. Kalau sekarang engga ada. Ini pesan kami harus diadakan seperti itu. Mudah-mudahan dengan PMR sekarang masih eksis, akan melahirkan PMR-PMR yang baru. Akan lebih hebat, akan lebih menghibur di Nusantara ini. Penting soalnya musik humor itu. Makin banyak orang stress akhir-akhir ini, jadi perlu dihibur. Heehe

 

 

Selain project serabutan, mencoba peruntungan pula sebagai penulis lepas, buruh event, dan usaha kecil clothing.

FIND US ON

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.

 

Pin It on Pinterest

Share This