1



detik

Kritis Melalui Karya Seni.

 

Longlifemagz – Di tengah hiruk pikuk menjalani hidup yang menyebalkan di kota – kota besar di Indonesia,  yang akrab dengan kemacetan, penggusuran, kriminallitas, dan tuntutan hidup yang semakin meningkat adalah hal yang biasa kita temui jika hidup di kota besar. Potret sosial tersebut selalu menginspirasi The Popo, seniman Mural yang biasa menggunakan tembok – tembok perkotaan sebagai kanvas dalam medium berkarya.

Memotret isu – isu sosial yang sedang terjadi dan hangat di sekitar tempat yang akan dia eksekusi untuk berkarya, hal tersebut dilakukan agar karya yang dia ciptakan memiliki kaitan emosional dengan warga sekitar yang mendiami wilayah tersebut.

Sebut saja salah satu contoh karya The Popo berjudul “Demi Fly Over Pohon Game Over” yang memotret penebangan pohon – pohon, atas dalih pembangunan Fly Over yang membuat lingkungan sekitar yang terdampak menjadi panas. The Popo selalu menyisipkan muatan Humor dalam setiap karyanya, agar pesan yang berat dalam karyanya jadi terasa lebih ringan dan mudah tersampaikan.

Simak interview Kontributor Longlife Magazine dengan The Popo seniman Mural asal kota Bekasi di sela – sela dia menikmati acara Update Your City di Impala Space hari sabtu kemarin.

Halo selamat malam Popo

Selamat malam Longlife

Sedang sibuk apa sekarang ?

Sekarang itu lagi sibuk bikin project – project mural sosial di beberapa kota, terus lagi ini sih untuk awal tahun mau nyelesain buku ilustrasi tentang Alphuket.

Kenapa lebih memilih Alphuket ?

Alphuket jadi adalah satu buah yang aku suka banget, terus banyak manfaatnya juga punya pengalaman mendalam juga soal alphuket karena dulu aku punya penyakit Asam Lambung, ternyata sembuh dengan alphuket yaudah makin kesini makin sering makan alphuket.

Kalau pemilihan nama Nickname The Popo sendiri itu bagaimana ceritanya ?

Biar gampang di inget aja itu mah, biar enggak terlalu apa ya susah lah gitu, biar kalau aku ngetag nama, orang gampang inget.

Kalau karakter The Popo yang ikonik sendiri itu bagaimana sejarah lahirnya ?

Awal tahun 2001 mau ngegambar muka sendiri gabisa, gak kayak temen – temen di sekolah seni gitu, akhirnya bikin karakter The Popo yang menyerupai muka ku, jadi keterusan karena aku enggak terlalu bisa gambar kan, akhirnya si karakter The Popo sendiri ini selalu mengisi karya – karya mural ku, dia mewakilkan aku sebagai seorang seniman

Kalau pertama berkarya sendiri itu tahun berapa ?

Tahun 2001.

Itu langsung pakai Nickname The Popo ?

Iya langsung pake The Popo, bukan crew ya itu, tapi sendiri hehe.

Karya apa yang paling berkesan sampai sekarang ?

Yang paling berkesan itu karya mural untuk almarhum ayahku, jadi tahun 2013 aku bikin, itu mural yang menurutku ketika ayahku meninggal itu pengen aku sampein rasa terima kasihku tapi ayahku udah meninggal gitu, jadi ya itu mural tanda terima kasih untuk ayahku.

Karyanya yang untuk ayah yang lilin itu ya ?

Iya yang itu namanya Doa, itu ada lima seri, yang lilin, parasut, anak kecil main kuda kudaan, anak kecil lagi coret – coret.

Kalau project yang paling dekat sendiri ?

project yang paling dekat ini itu menyelesaikan buku ilustrasi alphuket, kalau engga berubah nanti namanya “Melihat Alphuket Bekerja”.

Karya The Popo itu identik dengan pesan – pesan Sosial yang kuat, itu kenapa ?

Ya karena itu inspirasi yang gampang di dapet, yang enggak pernah habis, jadi menurutku ini satu hal yang bisa dikatakan ketika aku buka pintu rumah itu inspirasi ada di depan rumah gitu, aku berteman, bertetangga, bersaudara, semuanya inspirasi tetap ada gitu. Ini kayak semacam kehidupan sosial itu kayak ini bahan yang enggak pernah habis untuk dijadikan muatan di karya gitu.

Dalam proses kreatif pembuatan karya harus Riset dulu atau bagaimana ?

Riset itu bisa kita ambil dari pengalaman pribadi di kehidupan sosial, jadi mural– mural ku kebanyakan mungkin enggak semua tapi kebanyakan rata – rata itu dari pengalaman pribadi, yang muatanya isu sosial ya, kayak ngomongin tentang kemacetan, tentang politik di tengah – tengah warga, tentang perekonomian, tentang sosial itu sendiri, ya itu dari pengalaman pribadi. Tapi ada hal – hal mural – muralku itu yang muatannya humor yang engga masuk diakan itu cuman sekedar bercandaan, Tapi semua berdasarkan pada isu sosial.

Di dalam karya The Popo sendiri itu kan pesannya berat sekali ya, tapi selalu di isi dengan humor, nah itu gimana tuh ?

Nah itu tadi, sebenarnya kalo aku ya ngeliat lukisan itu berat, ngeliat sebuah karya berat banget, ya jadi ini sih kalo karya – karyaku kayak mempersingkat, mempermudah, mencairkan isu – isu yang menurut orang lain berat gitu. Yangenurut orang lain berat aku selipin humor – humor. jadi ya apapun kalau disampaikan dengan humor menjadi cair.

Kalau menurut The Popo sendiri, tentang skena Street Art di semarang bagaimana ?

Sebenarnya rata – rata scene di indonesia ini, Skena Grafitinya ya merata lah, yang muatanya sebagian besar temen – temen grafiti itu yang masih kiblatnya New York, Brooklyn, ya kultur Hip – Hop kayak gitu. Ya sebenarnya memang itu kiblatnya dari mereka, cuman kita sebenernya punya sejarah sendiri tentang grafiti, gimana mural – Mural itu berdiri di Maros Sulawesi, terus gimana para pejuang kemerdekaan itu menebar Propaganda melalui grafiti saat itu kan, seluruh pemuda di Indonesia tahun sekitar 1940an mempropaganda indonesia atau mati. Itu kan juga sejarah grafiti yang kulturnya juga kuat, jadi ya aku sendiri melihat Skena di Indonesia masih banyak terpengaruh oleh New York yang Hip – Hop Kultur gitu, jadi ya masih sebatas perubahannya dari tahun 2000 kebanyakan enggak semua ya mereka masih statis di jalur itu. Mungkin ada satu dua tiga orang yang kontennya lokal banget, perspektif dia melihat grafiti itu lokal banget gitu ya, tapi ya itu enggak bertahan lama.

Kalau pengalaman yang tidak mengenakan selama turun di jalan ada enggak ya ?

Ya ditangkap Satpol PP pernah, dari 2001 pernah. Ditangkep dibawa ke kantor Satpol PP suruh bayar denda, tapi ya aku engga lari sih, maskutnya kalo aku ada Satpol PP ya kalo semakin aku lari ya semakin salahlah. Jadi ya kita tuker argumen ya kebanyakan ngobrol sama mereka kenapa aku ditangkep, dengan alasan mereka vandal tapi mereka sendiri enggak tahu arti Vandal itu apa. Mereka dengan alasan aku coret – coret tapi yang aku lakukan itu menggambar buka coret – coret. Ya macam – macam tapi dari semua kejadian mereka yang nyerah gitu. Kalo aku sih hadapi ajalah adu argumen aja, cuman jangan yang menggebu gebu dengan amarah yang kesannya heroik gitu ya enggalah.

Inspirasi The Popo sendiri saat memutuskan pertama kali terjun ke dunia mural ini sendiri siapa ?

Secara engga langsung itu ayahku ya, karena dia enggak selalu mengijinkan dengan alasan – alasan yang dia bawa ketika aku mau sekolah seni dia bilang engga usah atau engga punya duit kayak gitu ya. Ternyata dia punya Visi Misi tersendiri untuk aku sendiri gitu, yang aku baru sadari ketika beliau meninggal. Dulu dia pernah beberapa waktu sebelum dia meninggal, lagi ngobrol agak serius gitu, jadi ternyata rencana beliau itu tersusun dengan baik ya pada akhirnya ya kayak aku ini. Karena menurut dia kalau aku kuliah di sekolah seni perspektif ku akan hampir sama atau pada umumnya dengan temen – temen yang kuliah seni, kemungkinan besar aku akan punya kesempatan ke arah situ gitu. Maksutnya kemungkinan nanti akan kayak gitu. cuman ketika aku engga kuliah seni aku punya ilmu lain, perspektif cara berkesenian ku beda sama yang lain. Aku mempunyai cara sendiri, punya metode sendiri, ya macam – macam lah yang pada akhirnya bertahan sampai sekarang.

Apa yang ingin disampaikan untuk teman – teman di Semarang, khususnya teman – teman Street Art yang masih berkarya di Semarang ?

Yang disampaikan ya sebenarnya mereka udah melakukan apa yang mereka sebenarnya mesti lakukan, cuman kalo menurutku ya itu tadi butuh konsisten aja ketika itu sudah berjalan lima tahun sepuluh tahun mereka punya template sendiri, kalau misal kontennya tentang kota, mereka bisa ngelihat kota dengan karya mereka. Jadi sebenarnya mereka sudah mengerjakan apa yang semestinya mereka lakukan, tapi ya itu tadi kulturnya masih Hip – Hop sebenarnya.

Kalau menurut pengamatan pribadi, karya The Popo itu dekat sekali dengan Comic ya ?

Nah sebenarnya kalau di comic itu kan kayak satu strip cerita yang teatrikal yang dramatikal, metodenya kayak comic gitu tapi aku terapkan di tembok. Jadi gambarku kayak berbicara sama ruang, berbicara sama orang lain. Mediumnya tetap Mural karena aku pikir itu cara yang paling mudah sih, comic jugakan itu cara yang paling mudah di mengerti sama khalayak luas, jadi ketimbang aku memikirkan estetika yang terlalu bermetafora, pesanku takut engga nyampe gitu. Jadi ya mending comical langsung aja gitu.

Karya The Popo itu hampir semuanya kayaknya warnanya merah, hitam, dan putih ya ? itu di sengaja dalam pemilihan warnanya atau bagaimana ?

Karena  warna merah itu kan The King of Color ya, jadi  merah itu udah nih rajanya warna gitu, di cat aja yang paling mahal itu merah, dan kenapa paling mahal karena merah itu punya daya tarik khusus gitu. Kalau hitam dan putih itu sendiri ketika disandingkan dengan warna merah itu jadi warna yang sangat sederhana dan kontras, jadi sebenarnya sesuatu yang kontras itu bagus ketika mereka bekerja sama. Jadi pemilihan warna merah, hitam dan putih itu udah aku rencanakan karena biar menarik perhatian mata dijalan.

Kalau The Popo sendiri pernah membuat karya dengan ukuran raksasa ?

Kalau besar belum, tapi kalau panjang pernah, itu 300 meter letaknya di Jakarta namanya Kali Opak Movement itu dibantu beberapa warga yang ada disana.

Jadi karya itu melibatkan warga sekitar ya ?

Iya, karena powernya ada disitu. Makanya muralku beberapa tahun belakangan ini jarang dihapus karena warga merasa memiliki.

Beberapa karya The Popoh sangat berkesan, salah satunya adalah “Demi Fly Over Pohon Game Over” nah karya itu sendiri menceritakan tentang apa sih ?

Itu karena cerita tiap hari aku lewat jalan situ terus ada pembongkaran karena akan dibangun Fly Over, pohon – pohon di tebang. se simpel itu sih, ini bakalan jadi panas nih daerah sini, terus aku ngetag di tembok – tembok sekitar Fly Over bertuliskan “Demi Fly Over Pohon Game Over”.

Pendapatnya orang – orang sekitar situ sendiri gimana ?

Mereka enggak ngelarang aku sih, karena mereka juga merasakan hal yang sama.

Ini mendekati ujung, harapan The Popo Sendiri untuk kedepannya gimana ?

Aku mempunyai harapan yang sangat besar dengan kesehatan, karena kalau kita sehat kita bisa ngapain aja, bisa membantu orang lain dan bisa tetap berkarya.

Ohh oke terimakasih untuk waktunya dalam wawancara singkat ini, semoga karya dari The Popo dapat selalu memberikan kontibusi positif bagi kemajuan negara ini.

Baik sama – sama Longlife, semoga dapat menjadi media informasi yang menginspirasi kami semua.

Berikut kami lampirkan beberapa hasil karya dari The Popo :

b2n2em-cyaazrxf

b2n2tfjcuaaaskn

b2n2jlpcyaautqc

b2n7pcsccaaacxt

b2n2v4scyaabrbq

cthhiweucaadcyx

ct57da3usaanvqr

cne2denu8aactvt

cif8vqmuuaqhp-b

Teks By                : Brigitan Argasiam

Photo By              : The Popo Doc

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

Keyword :



FIND US ON

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.

 

Pin It on Pinterest

Share This