artwork by : fat twentyfour


Queen dan Sombongnya Kita

Mungkin kita tidak pernah sampai kedalam pemikiran mengapa album Queen Innuendo dan Made In Heaven begitu penting bagi penggila Quuen atau bahkan mereka yang tidak menikmati Queen sekalipun. “We Are The Champions” hanya satu dari begitu banyaknya karya yang diciptakan oleh Freddie dan Quuen menuju puncak masa kejayaannya, ia adalah frontman yang paling iconic.

Tahun 1981, adalah tahun yang paling bergairah bagi mereka, setahun setelah merilis album The Game, yang melahirkan lagu “Another One Bites the Dust” dan “Crazy Little Thing Called Loved,” diwaktu yang bersamaan pula, mereka juga sedang melakukan tur di Amerika Selatan. Tur mereka sukses besar, di Brazil konser mereka disakskan 120 ribuan penonton. Di Argentina, satu dari lima konser Queen ditonton kurang lebih 300 ribu pasang mata, hal ini mencatatkan sebagai konser paling banyak ditonton di Argentina.

Waktu terus berputar, kesuksesan Queen menjadi indikator paling maksimal sebagai band rock pada masanya. Tapi disisi lain, surat kabar harian inggris News Of The World menaikan berita dengan headline yang membuat semua orang kebingungan, “Queen Star Freddie in AIDS Shock”.

Seakan – akan tidak peduli, Freddie bersama Queen melanjutkan tur-nya dan tetap membuat karya – karya yang selalu nikmat untuk di dengarkan. Hal ini juga di akui oleh Matt Richards dan Mark Langthorne, dua penulis biografi Somebody To Love : The Life, Death, and Legacy of Freddie Mercury, mencatat bahwa meski kabar soal epidemic baru ini bikim heboh seantero dunia dan disebut sebagai “Penyakit kaum homoseksual,” Freddie tetap santai dan menjalankan kehidupan ala bintang rocknya.

Secara sekilas, kita melihat Freddie sebagai hedonis yang tidak pernah merasakan kesepeian sedetikpun. Namun orang dekat Freddie paham : sang bintang rock yang dipuja jutaan orang ini sering mengalami kesepian akut. Ia tak tahan sendiri. Getir adalah kata yang pantas untuk nama tengah Freddie, dibalik kesuksesan bersama Queen kesehatan ia mulai menurun atau bahkan kabar buruk yang ia terima tentang “mantan pacarnya”, semua itu terangkum menjadi satu.

Tapi, Freddie adalah seorang yang tangguh, tahun 1986, Freddie memberanikan diri pergi kerumah sakit dan melakukan tes HIV, dengan harapan satu dari sepuluh tes yang ia jalani ada satu yang menyatakan negatif. Tapi kenyataannya tidak. Freddy pulang dan mencoba menerimanya. Freddie paham waktu tidak akan lama lagi, kapan saja bisa terjadi. Satu tahun setelahnya, Freddie resmi didiagnosis mengidap HIV/AIDS.

Freddie bukan orang yang sembarangan, Toh, ketika ia sadar tentang semua ini, dia masih keluar-masuk studio rekaman, terutama dalam penggarapan album Innuendo yang dirilis lima tahun setelah label yang paling menjijikan diterima Freddie. Dan seperti kata Roger (drummer Quuen) “album ini seakan – akan meminjam sisa umur Freddie, karena kesehatannya memburuk.” Meskipun terkadang Vodka adalah salah satu alasan mengapa Freddie bertahan.

24 November 1991 menjadi hari yang paling menyedihkan bagi para penggila Queen, Freddie pergi meninggalkan ratusan karya yang ia buat. Di masanya, penggemar musik tahu betul bagaimana Freddie “getir” Mercury adalah zeitgeist pada saat itu, dan album Innuendo dan Made In Heaven adalah album yang sentimentil bagi Freddie ataupun Quuen.

Pada akhirnya sebagian orang ada yang suka dengan pembahasan remeh temeh seputar berapa album yang sudah di garap, lagu apa saja yang paling anthemic dari Queen, atau bahkan cerita – cerita indah tentang Queen, dan semua terangkum menjadi satu.

Namun, sebagian besar yang lain, ada juga yang lebih menikmati gossip yang ada di sekitar Queen, pembahasan tentang siapa saja pacar Freddie, atau bahkan penderitaan apa yang dirasakan Freddie hingga menulis lirik yang menyayat – nyayat hati atau bahkan obrolan yang lebih intim tentang tingkat kesepian dari sang maestro, mungkin meminjam istilah hari ini, Anxiety dan Mental Illness (?).

Terlepas dari istilah snob dan poser, informasi itu tetap nikmat dan gurih. Bahkan titik tertinggi (mungkin mustahil) adalah kita mampu memahami pemikiran – pemikiran yang ada di dalam kepala Freddie.

Buat kami, menulis musik tidak hanya bagian dari mengeksplotir hal – hal teknis seputar craftsmanship yang kerap menjadi obat tidur paling mujarab. Buat kami, menulis musik, tak melulu mesti menyelidiki seberapa perkasanya sang musisi dalam perkara instrumensasi dan teknik vokal. Berupaya menjelaskan kepiawaian Dewa Budjana memainkan Parker Fly Saraswati, atau bahkan mengagung – agungkan setiap babakan atmospheric part indah Morfem dalam rangkaian pedalboard Pandu Fuzzthoni, atau (lagi) merinci apa saja yang dibawa oleh GnR dalam konsernya di Jakarta.

Buat kami, semua pembahasan ini, tanpa di todong dengan pembacaan gagasan dan konteks, atau gossip sekitaran sang musisi, pada akhirnya akan bermuara kepada subjektif penulis yang enggan mengeksplorasi hal – hal lain di luar perkara yang audiotif. Buat kami, perkara diatas mungkin tidak cukup untuk mengurai sebuah karya musik yang mampu berbicara lebih jauh tak hanya persoalan nada dan bunyi.

Menulis musik, bagi kami (walaupun terdengar klise) adalah bagaimana menguraikan album – album Rage Against The Machine (RATM) mulai dari cover album, atau mungkin tahapan tertinggi adalah menggunakan kajian semiotika terhadap lirik dalam album RATM, atau bagaimana cerita mereka ketika konser di jantung negara paling feodal sekalipun. Bukan, bukan kami mengesampingkan Tom “Baptiste” Morello dalam lead – lead yang ia mainkan, tapi buat kami yang lebih penting adalah, apa konteks yang melatar belakangi mengapa mereka membuat lirik seperti itu. Klise bukan?

Oke, mungkin pembahasan intim tentang RATM terlalu jauh, dan seperti mengada – ada, kita bisa mengamati “ada cerita apa saja dalam perjalanan musik Efek Rumah Kaca,” bagaimana mereka menciptakan musik yang beririsan langsung dengan konteks sosial, ekonomi, percintaan, persekutan duniawi (kalau ada), atau bahkan yang lebih rumit, politik. Lebih klise bukan?

Dan yang terakhir, buat kami, (untuk mengawali kegiatan kita yang sudah lama berhenti), menulis musik bukan bagian dari menghakimi sebuah karya dengan sebuah golok tajam yang dibawa penulis. Kita bukan nabi, dan bukan juga orang yang rajin mendengarkan sepuluh sampai dua puluh album baru setiap harinya, karena sejatinya kita mengerti, apa yang lebih penting dari sebuah karya adalah apresiasi.

Lah, terus apa hubungannya sama Quuen?

“Semua orang bisa membuat Podcast dan Video, tapi tidak banyak orang yang mampu menulis 1000 – 4000 kata tentang sebuah band”

Dom Lawson – Penulis Musik dari “Metal Hammer”