1



h-m-head-bright

doc. SRM Bands

Eksplorasi dan eksperimentasi mengejutkan yang telah lama dinanti.


 

Longlifemagz – Bila kita sekilas melihat rekam jejak The Trees and the Wild (TTATW) sebelumnya, mereka adalah sebuah trio indie fenomenal beranggotakan Remedy Waloni (vokal,gitar), Andra Kurniawan (gitar) dan Iga Massardi (gitar), yang telah melahirkan sebuah album debut yang sangat bagus, Rasuk. Album yang bermaterikan musik folk dengan bumbu-bumbu ambient, post rock dan sedikit experimental. Dalam sekejap mereka banyak dielu-elukan dan menjadi indie darling berkat album tersebut. Lagu-lagunya pun menghiasi playlist orang-orang pada eranya, sebut saja Honeymoon on Ice, Irish Girl dan Berlin. Kini setelah tujuh tahun berlalu dengan segala perubahan yang terjadi di dalam tubuh TTATW, mulai dari kepergian Iga Massardi di tahun 2011 dan sekarang dikenal khalayak luas sebagai founding father band indie yang sedang meroket namanya, Barasuara. Di sisi lain, tambahan personel baru di antaranya Hertri Nur Pamungkas (drum), Tyo Prasetya (bass) juga Charita Utami (vokal, synth, keyboard) yang pada akhirnya mampu menelurkan album kedua yang telah tertunda sekian lama tersebut, Zaman, Zaman via label Blank Orb Recordings pada (16/09).

Album yang berisikan tujuh lagu ini dibuka dengan epik oleh lagu “Zaman/Zaman” yang seperti mewakili identitas baru TTATW. Lupakan sejenak euforia album pertama dan hilangkan semua ekspektasi, karena album ini tak lagi memanjakan telinga kalian dengan petikan-petikan manis dari gitar dan mampu membuat kita ber sing along, sebaliknya mereka malah mencoba menjejali telinga kita dengan efek-efek yang tebalnya berlapis-lapis maupun lirik repetitf yang membius seperti tertuang dalam lagu yang sekaligus memiliki durasi terpanjang dalam album ini, “Empati Tamako”. Lagu tersebut juga merupakan salah satu lagu yang sering dimainkan saat live jauh sebelum album ini lahir di samping “Tuah/Sebak” dan juga “Saija” yang terinspirasi dari kisah rakyat legendaris dari tanah Banten era kolonial tentang kisah cinta dua pribumi yakni Saijah dan Adinda.

Baca : Album Review: Barasuara – Taifun

Eksplorasi dan eksperimentasi. Dua kata kunci untuk menggambarkan keseluruhan album ini. Mereka seakan benar-benar mendobrak batasan-batasan yang ada dengan membuat lagu-lagu yang berdurasi cukup panjang. Hanya dua lagu yang durasinya di bawah lima menit, bisa dibilang lagu-lagu tersebut merupakan semacam jembatan penghantar ke lagu selanjutnya. Seperti dalam trek “Srangan” yang cukup untuk membuat kita rehat sejenak untuk kemudian kuping kita dihajar lagi di lagu selanjutnya, “Monumen”.

Tujuh tahun pun rasanya dapat dimaklumi untuk sebuah album yang telah lama dinanti dari sebuah grup band. Karena mereka jelas mampu membayar lunas penantian panjang itu dengan menghadirkan album berkualitas yang tetap mampu mempesona para pendengarnya. Butuh sedikit waktu untuk menyelami kreativitas TTATW di “Zaman, Zaman”, dan kalian akan menemukan jawabannya setelah beberapa kali mendengarkan album ini dari awal hingga akhir.

Baca : Album Review: Knurd Hamsun – Slauerhoff (EP)

 

mahasis(w)a semester dua digit, music digger, classic movie maniac, regular reader

FIND US ON

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.

 

Pin It on Pinterest

Share This