960

Setelah penantian cukup lama sekitar 3 tahun dan sedikit kekecewaan pada album “Super Collider” dan “Th1rt3en”, akhirnya raksasa metal legendaris, Megadeth mengeluarkan sebuah album dengan tajuk Dystopia. Banyak orang bertanya-tanya, akankah album ini bisa menjawab keraguan dan mampu kembali mengusik telinga para penikmat musik keras dengan riff-riff cepat dan melodius yang telah menjadi sebuah trademark dari musik mereka ataukah akan seperti dua album sebelumnya yang telah kami sebut, dimana musik mereka bisa dibilang sedikit melunak. Disamping itu, dengan hadirnya dua personel anyar yang  sudah tak diragukan lagi kapasitasnya di kancah musik metal dunia, yakni gitaris Kiko Loureiro (Angra) dan drummer Chris Adler (Lamb of God) semakin menimbulkan banyak pertanyaan tentang apakah kedua personel baru tersebut mampu memberikan suntikan tenaga baru yang telah diharapkan para penggemarnya dan mengembalikan Megadeth kepada kodratnya.

Dan, pada faktanya, album ini menurut kami mampu menjawab semua pertanyaan dan keraguan itu dengan sangat baik. Dibuka dengan “The Threat is Real”, sebuah lagu yang heavy, tipikal lagu pembuka yang tanpa basa basi langsung menohok para pendengarnya ketika pertama kali mendengarnya. Lagu ini juga sebagai sebuah pembuktian bahwa mereka telah kembali ke jalan yang semestinya.

Kemudian, di trek berikutnya yang juga menjadi titel album ini, yakni “Dystopia”, mereka agak sedikit menurunkan tensi di awal lagu untuk memberikan napas buat pendengarnya, namun menjelang akhir lagu, sedikit ada twist dimana temponya sedikit berubah dan dipercepat hingga berakhirnya lagu. Duet sang frontman, Dave Mustaine dengan sang personel anyar, Kiko Loureiro memainkan peranan penting dalam lagu ini.

Lanjut lagu ketiga, “Fatal Illusion”, yang dipenuhi dengan riff-riff cepat dan heavy, sangat cocok untuk dijadikan soundtrack ber­-headbang ria, secara keseluruhan struktur lagu ini cukup kompleks dengan (lagi-lagi) solo yang sangat menawan dari kedua gitaris, tanpa mengenyampingkan peranan yang cukup besar dari personel lain. Di trek selanjutnya, ada “Death from Within” yang sekilas terdengar seperti “Take No Prisoners”, yang terdapat dalam album “Rust in Peace”.

Setelah itu, apabila di trek-trek sebelumnya, ingatan kita dibawa sejenak ke era-era album awal Megadeth tahun 80-an, kemudian di nomor “Post American World” dan “Poisonous Shadows”, justru membawa kita bernostalgia ke era album-album mereka tahun 90-an “Countdown to Extinction” dan “Youthanasia”. Di trek yang terakhir disebut, mereka juga memasukkan sedikit orkestrasi tanpa merusak ke-estetisan lagu tersebut.

Ada juga sebuah selipan instrumentalia yang cukup epic dari mereka yang berjudul “Conquer or Die” yang dibuka dengan pelan diiringi petikan gitar akustik untuk kemudian dentuman distorsi mulai masuk di pertengahan lagu yang berdurasi 3 menit 33 detik ini.

Album comeback ini pada akhirnya ditutup dengan sebuah lagu daur ulang milik unit hardcore punk lawas, Fear, yang berjudul “Foerign Policy”. Overall, album ini sangat layak untuk didengarkan bagi mereka yang merindukan Megadeth kembali ke roots mereka. Dan, dari susunan lagunya pun sudah terasa pas dari awal hingga akhir. Kredit lebih juga patut diberikan pada Kiko Loureiro dan Chris Adler yang nyatanya bisa memberikan sumbangsih yang cukup besar untuk album ini dan memberikan nyawa baru untuk Megadeth di album ini.

megadeth-dystopia

Teks by : Musa Hakam

Photo by : metalinjection

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

Keyword :



FIND US ON

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.

 

Pin It on Pinterest

Share This