Setelah sukses menyulap JIEXPO Kemayoran menjadi wahana festival yang sangat meriah, Synchronize fest hasil kolaborasi antara Demajors dan Dyandra Promosindao kembali akan semakin mengukuhkan namanya di deretan festival terbaik di Indonesia.Synchronize memang memiliki keunikan tersendiri dibanding dengan festival-festival lainnya, karena hanya Synchronize lah yang berani untuk menyuguhkan ratusan musisi lintas genre, lintas generasi, namun tetap dengan kurasi yang terjaga dan hanya menampilkan musisi musisi Indonesia. Disaat mulai banyaknya konser konser dengan bintang tamu “luar negri” yang datang ke Indonesia.

Pada gelaran tahun ini Synchronize memiliki komposisi line up yang sangat menarik untuk di hadiri, Di antaranya, nostalgia band Emo Tanah Air yang siap menjadi penyegar sekaligus momen nostalgia para penikmat musik era 2000-an, di antaranya Killed By Butterfly, Alone At Last Too Late To Notice, dan Jakarta Flames. Selain itu, ada pula penampilan perdana Didi Kempot yang kini dijuluki The Godfather of Broken Heart oleh kalangan millennials. Total, ada sebanyak 129 penampil dari lintas genre, mulai dari dangdut hingga Emo hadir di Synchronize Fest 2019. Ke-129 penampil itu terbagi dalam tiga hari penyelenggaraan.

Selain itu pada gelaran kali ini Synchronize juga mengajak penonton untuk lebih peduli lingungan, mengangkat tema “Memanusiakan alam, mengalamikan manusia”. Tema ini berkaitan dengan harmonisasi antara manusia dan lingkungannya serta peran pergerakan massa terhadap sebuah perubahan lingkungan. Soal tema yang diangkat, Menurut David Karto selaku Festival Director, menjadi ajakan menjaga keseimbangan sebagai bentuk respon dari It’s Not Just A Festival It’s A Movement. Untuk mewujudkan itu, Synchronize berkolaborasi dengan Greeners.co, media online yang fokus mengangkat isu lingkungan hidup.

Ada beberapa program, sebagai turunan dari ‘tema alam’ ini, Adapun program yang bakal tercipta meliputi Internal Change Behaviour (sebuah program yang dilakukan tim panitia pelaksana festival yang menerapkan prinsip-prinsip kepedulian sosial dan lingkungan yang nyata dalam mengerjakan festival). Program ini meliputi pengurangan kemasan sekali pakai dan menyediakan water station untuk dipakai di tumbler-tumbler yang pada gelaran kali ini pengunjung diperbolehkan untuk membawa.

Selain beberapa aksi tersebut, untuk semakin mengukuhkan “green movement” Synchronize fest bekerja sama dengan PLN untuk menyediakan power bank sebagai sumber listrik, sehingga mengurangi pembakaran fosil di saat festival, selain itu Synchronize juga bekerja sama dengan stuffo labs untuk membuat upcycling project, dimana dalam project ini mereka membuat berbagai macam kerajinan dari limbah limbah yang dihasilkan dari gelaran synchronize fest 2018, kerajinan itu berupa tas, pouch, totebag, dompet dan lainnya, selain lebih bermanfaat, nyatanya project ini juga bisa sekaligus menjadi sebuah arsip bagi Synchronize itu sendiri.

Seperti di tahun-tahun sebelumnya, Synchronize Festival 2019 juga masih akan bekerja sama dengan Archipelago Festival untuk menjalankan Campus Roadshow Program. Kegiatannya seputar penyelenggaraan talkshow dan penjualan tiket langsung keliling bagi pemegang kartu pelajar dan mahasiswa di beberapa kampus, serta Working Experience Program yang membuka pendaftaran bagi para mahasiswa yang berminat menjadi relawan (volunteer) yang terlibat langsung dalam produksi acara Synchronize Festival 2019.

Sampai jumpa di #SynchronizeFest19. It’s Not Just A Festival, It’s A Movement!