1


Math-Rock : Instrumental Namun Tetap Membawa Pesan

Doc :Mr.FAT24

Lagu instrumental math-rock dengan tone gitar bening dan variasi time signatures drum ini terdengar dinamis lumayan segar, lengkap dengan produksi yang baik dan mengingatkan akan banyak band-band Jepang dengan sound yang serupa. Tidak adanya vokal berhasil ditutupi oleh banyaknya pergantian parts dari lagu. -Yudhistira Agato (Vice Indonesia)


Longlifemagz – Ada satu predikat yang melekat dalam diri Joko Widodo (Jokowi), dan itu mungkin saja membuatnya menjadi istimewa –mungkin iya bagi sebagian golongan– dibandingkan dengan seluruh aktor politik, atau pemimpin di negeri ini. Dia adalah seorang metalhead, pecinta berat musik beraliran keras. Koleksi albumnya juga tidak sembarangan, dari Metallica, Black Sabbath, Slayer, Megadeth, Lamb of God, Motorhead, Iron Maiden dan mungkin tak terkecuali band-band cadazz lainnya.

Buat saya, selera musik Jokowi tidak berlebihan, beliau mendengarkan apa yang memang seharusnya di dengar pada masa itu. Toh, band-band yang disebutkan diatas adalah band-band yang sudah berumur. Tapi, apakah Pak Presiden kita ini juga mendengarkan Barasuara, Jason Ranti, atau bahkan Feast? sebenarnya ini patut ditanyakan. Namun saya tidak akan membahas itu, saya tidak akan memperdebatkan selera musik Pak Presiden, saya juga tidak terlalu peduli dengan hal demikian. Karna sejatinya, selera itu tidak akan bisa di perdebatkan.

Dua ribu delapan belas baru saja berakhir dengan segala kejutan-kejutan akhir tahun. Feast masih merajai, bahkan masih terngiang-ngiang dalam ingatan bagaimana Feast membakar konser-konser yang mereka tempuh. Bahkan media ternama Pop Hari Ini, memuat artikel yang menurut saya cukup panjang dan menarik  berisikan obrolan berisi dengan tajuk “.Feast Si Pembwa Pesan”.

BACA :Murphy Radio Siap Tur Bersama Band Asal Singapura, Hauste

Saya tidak akan pernah bisa berhenti mengamini lagu-lagu yang dilantunkan Feast, dengan gaya bahasa yang mereka keluarkan, bahkan seperti sumpah serapah yang sebenarnya bisa saja melabeli diri mereka dengan slogan Broadcast The Truth. Namun, rasa penasaran saya tentang ini lebih besar kepada Trio Math Rock Samarinda, Murphy-Radio.

Doc : Murphy Radio

Kesempatan ini terjadi pada gelaran Subversif Vol.4 yang dihelat di G-Cafe pada tanggal 19 Desember 2018 kemarin. Dengan mengusung tema mid-west java tour 2018, Murphy-Radio (Samarinda) melakoni tour bersama bersama grup asal Singapura, Hauste. Dibawah bendera label yang sama, mereka berhasil melakoni tour di kota-kota besar seperti Yogya, Semarang, Bandung dan ditutup di Jakarta.

BACA : PERJALANAN AWAL INDUSTRI MUSIK INDOENSIA


Waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam, suasana semakin riuh tak terkendali. Botol bir dan tak luput juga Congyang bertebaran di tiap-tiap sudut ruangan. Murphy mulai menaiki mimbar, mereka mempersiapkan diri, dan terjadilah perhelatan Math-Rock yang sebenarnya. Instrumental namun tetap membawa pesan.

“Congyang gimana rasanya?”

“sedappppp, baru posting di semarang yang pesan (congyang) sudah lima orang” kata Wendra (gitaris) sambil tertawa. Congyang tidak lagi sekedar minuman, tapi itu adalah simbol bagaimana kita menyambut hal-hal baik di Semarang.

Murphy-Radio terbentuk tahun 2013 bermula dari teman kelas dan tongkorongan di Samarinda, dengan Wendra sebagai penggagasnya.

“waktu itu formatnya masih alternative rock, terus bertahan sampai 2016 sempet gonta-ganti personil sampai akhirnya Aldi (basis) masuk, di tahun 2017 drummer keluar dengan alasan fokus kuliah, terus masuklah Amru (drummer) menggantikan sampe sekarang.” Kenang Wendra dengan santai.

Selanjutnya, nama Murphy-Radio sendiri dipilih.

“Nah ini cerita unik nih, jadi waktu 2013 pas awal band ini kebentuk kan satu kontrakan tuh dan nonton drama india, disitu ada part dimana kakek-kakek jadi announcer di stasiun radio, dan disitu beliau bilang layaknya penyiar radio, jangan kemana-mana, tetap di murphy radio. Jadi murphy radio sebenarnya nama radio di film BARFI.” kata Wendra, tertawa.

Selanjutnya, proses kreatif itu berjalan dengan normatif. Wendra membuat part-part gitar terlebih dahulu, kemudian materi tersebut disempurnakan dengan ciamik oleh Amrullah (drummer) dan Aldi (bassist) dengan part-part yang sedikit rumit, namun tetap easy listening.

Bicara influent, wendra menjelaskan bahwa “sebenernya saya tuh sering dengerin band Midwest-emo, juga band band jejepangan yang instrumental, nah kalo saya sendiri sering dengerin lagu Midwest-Emo cuman kalo dari segi materi saya lebih sering ambil dari band jepang, jadi kayak menyilangkan materi-materi Midwest-Emo sama instrumental jepang.” ujar Wendra.

Instrumental math-rock dengan tone gitar dan variasi drum ini terdengar sangat dinamis dan juga lumayan nikmat untuk dinikmati, lengkap dengan kualitas rekaman yang baik dan jujur beberapa lagu dari Murphy-Radio mengingatkan kita kepada band-band jepang yang instrumental. Tidak adanya vokalis berhasil ditutupi oleh banyaknya part-part lagu yang memang sulit dipercaya.

Tanpa adanya vokal yang dominan dalam lagu-lagu Murphy-Radio, bukan berarti mereka menyuguhkan lagu tanpa pesan.

“saya paling suka di lagu itu tuh blossom and paw, jadi ceritanya tuh tentang gini, kita kan cowo-cowo nih, biasanya tuh cowo-cowo jarang akrab sama ayah kita, sering beda pendapat juga tuh, cuman secara ngga langsung kita ngga tau bahwa ayah kita sering berbuat baik ke orang lain, jadi banyak banget orang yang suka sama dia tanpa kita ketahui, jadi sementara kita ngga akrab sama beliau ternyata diluar banyak orang orang yang suka sama beliau. Jadi kenapa dikasih judul blossom and paw karena secara ngga langsung ayah kita menanamkan benih-benih bunga ke orang lain, dan ketika orang lain suka sama beliau baru benih itu tumbuh, nah kalua paw itu sebenernya kata sleng dari ayah” Jawab Wendra santai.

Beralih ke genre, Murphy-Radio memang secara jujur benar-benar menikmati Math-Rock. Walaupun dalam perjalanannya di tahun 2013 mereka sempat tersesat dalam alternative rock, namun dengan konsistensi dan kecintaannya terhadap Math-Rock, Murphy-Radio mampu bertahan hingga menciptakan single sampail album penuh.

Tour ini juga bukan tour pertama yang dihelat oleh Murphy-Radio. Setelah eksis di beberapa festival musik besar, salah satunya Synchronize Fest 2018, bersama grup musik Soloensis (Solo) dan Semiotika (Jambi), setelahnya Murphy Radio melakoni tur singkat namun padat yang bertajuk “Barisan Sinkron’ di wilayah Jabodetabek.

Setelah rentetan jadwal tur mereka. “Insyaallah di tahun depan ada split album sama band  Eleventwelfth (Jakarta), sama ada perilisan ulang oleh label dari Jepang yang didalamnya akan ada dua lagu baru” ujar Wendra menutup pembicaraan.

Buat saya, Murphy-Radio bagaimana mereka melawan arus. Semoga saja, Samarinda, dan kota-kota lainnya ramah menerima Murphy-Radio. Sukses Selalu. Salam damai. Tekan Pedal Distorsi!!!


Reporter : Fadhil Umar
Doc : Mr.Fat24

Veteran Hardcore Semarang, Don’t Look Back Rilis Album “Lekang dan Hilang”

Doc : Dont Look Back

“Terbentur, terbentur dan terbentuk” jargon dari tokoh nasional Tan Malaka barangkali bisa menjadi pembuka kabar dari kancah musik hardcore hari ini.


Longlifemagz – Usai merilis video klip dari single “Lekang dan Hilang” bulan April 2018 kemarin. Grup musik Don’t Look Back resmi merilis album penuh perdana, Kamis (18/10/18).

Pasca kematian War Chaos World (WCW) pada medio tahun 2005, menjadi cikal bakal Don’t Look Back yang saat itu dihuni oleh Kido, Bayu, Ardian, Ana dan Tatang. Grup yang terbentuk tahun 2006 ini sempat merilis album EP Self-titled berisi 4 buah lagu di tahun 2010 dengan menggunakan formasi awal mereka.

BACA : “CHECKPOINT” BERSAMA SADE SUSANTO

Dalam album Lekang dan Hilang, terdapat 10 trek yang banyak dipengaruhi gaya musik New York Hardcore era lawas. Terdapat materi baru dan beberapa materi lama yang dikomposisi ulang, serta 1 lagu milik grup musik Shutdown berjudul “United” yang dibawakan ulang sebagai pamungkas.

Berorientasi dengan proses, bagi Don’t Look Back hardcore bukan tentang pencapaian berapa banyak rilisan yang telah dihasilkan, berapa banyak panggung yang berhasil ditaklukan, atau berapa banyak merchandise yang diproduksi. Bukan tentang pahlawan yang menjadi idola, melainkan bagaimana saling mengisi kehidupan skena. Di sela rutinitas pekerjaan yang cukup menyita, hardcore bagi Don’t Look Back adalah semangat dan gaya hidup yang bersinergi dalam laku kehidupan mereka sehari-hari.

Diakui hardcore dan skena banyak mempengaruhi kehidupan grup yang sekarang digawangi oleh Kido (Gitar), Angga (Vokal), Bayu (Gitar), Oki (Bass) dan Ardian (Drum). Mulai dari rasa persatuan, persaudaraan dan sikap yang mereka rangkum dan dedikasikan untuk rumah kedua mereka, Atlas City Hardcore.

Seluruh materi di album Lekang dan Hilang sebenarnya telah dipersiapkan sejak lima tahun lalu. Beberapa kendala seputar kepadatan aktivitas dan realita membuat proyek ini baru serius diselesaikan. Keseluruhan lagu direkam di Paw Studio bersama M. Ryan Wibowo (Hypotenusa) sementara desain sampul dikerjakan oleh Peng (Skygarden). Lekang dan Hilang dirilis dalam format cakram padat sementara pada format digital dirilis oleh label StonedZombies


Preview album Don’t Look Back – Lekang dan Hilang
http://stonedzombies.bandcamp.com/album/lekang-dan-hilang

Info:
http://stonedzombies.blogspot.com
https://www.instagram.com/dontlookback_hardcore/
https://www.instagram.com/stonedzomb13s/

 

 

Seberangi Tebing Hardcore yang Curam: Tiderays Rilis Demo 2018

Photo doc Tiderays

Apa rasanya jika berjalan di pinggiran tebing yang curam, dengan terpaan angin dingin yang kencang? Bila itu tercurahkan dalam komposisi, Tiderays mewakili itu semua. Band asal Semarang ini merilis debut demonya dengan lantang membawa kejayaan swedish sound dalam hardcore.


Longlifemagz – Terbentuk awal tahun 2017 oleh Ghozzy El-Yussa (Vokal), Fauby Duvadilan (Bass), DFAhmad (Gitar) dan Gresia pada drum. Masing-masing departemen instrumen berperan membangun konstruksi yang telah dilakukan pendahulunya dari seberang Skandinavian dan Jerman. Secara kiblat, tersebutlah fragmen dari Entombed, Alpinist, Martyrdöd dan tentu saja His Hero is Gone. Mulanya, formula ini sebelumnya jarang dilirik oleh band-band Semarang. Kuartet ini malah memulainya dengan penuh berang.

Terdapat dua komposisi dari demo yang dirilis via Bandcamp. “Syllable Perishable” yang dibuka dengan raungan riff depresif, dengan sontak menghunus melalui raungan gitar chainsaw, membuat darah notasi muncrat dimana-mana. Mendengarnya tak perlu diurai dengan sulit: kotor dan kelam.  Untuk tak menimbulkan syak wasangka, “Proposition Distrait” akan memperkuat pendengar kalau tebing yang curam perlu untuk dilewati, meski bisa saja jatuh mati. Sensasi itulah yang terasa, apalagi derap d-beat dan black metal berpadu dengan beringas.

BACA :  EP PERDANA SORE TENGGELAM “OBAT TIUS” – PERJALANAN MENCARI PENYEMBUHAN LARA

Menengok energi mereka tak cukup pada musiknya semata. Mereka aktif di skenanya, memberi waktu lebih kepada komunitas. Niscaya, jalan luas terbentang. Tiderays juga memulai langkahnya secara organik. Beberapa waktu silam melakukan tur 11 kota di Jawa-Bali bersama kolega satu kotanya, Hearted. Upaya ini akan membentuk mental dan keberanian untuk konsisten di masa depan, seiring dengan album penuh bertajuk 401 yang rencananya rilis pada penghujung tahun 2018. (*)

Photo doc Tiderays

Tiderays – Demo (2018)
https://tiderays.bandcamp.com/album/demo

All songs written and performed by Tiderays
All lyrics by DFAhmad
Recorded at 4WD Studio Semarang in Juny 2018
Except vocal recorded at Riverse Studio Jepara
Mixed and mastered by I Made Dharma (e: imadedharma27@gmail.com)
Artwork and cover by Bonifasius Rendy (e: rendybonifasius@gmail.com)


Info:
+62 822-4281-8609
E: tiderays401@gmail.com
IG: @tiderays401
FB: Tiderays

 

 

Album Review: Panic! at the Disco – Death of a Bachelor

Panic at the Disco

Sebuah album pembuktian dari Brendon Urie untuk tetap mengibarkan bendera Panic!


Longlifemagz – Sangat menarik untuk menyelami eksplorasi musik Panic! at the Disco (selanjutnya disingkat PatD) yang selalu menawarkan cita rasa berbeda dari awal karir mereka yang langsung melejit lewat sebuah album breakthrough, A Fever You Can’t Sweat Out kemudian menjadi band yang terilhami oleh The Beatles, The Beach Boys dan musik-musik psychedelic pop era 60-an yang akhirnya dapat terciptalah album Pretty. Odd. Di album ketiga, Vices and Virtues, mereka mencoba kembali menyuguhkan racikan theatrical pop punk dalam musik mereka seperti yang terkemas dalam album pertama namun dengan sedikit sentuhan modern. Bermain-main di album Too Weird to Live, Too Rare to Die dengan mencampurkan unsur musik dance, electronica, dan sedikit hip-hop. Dan, sepertinya di album terbaru yang berjudul Death of a Bachelor kali ini, PatD yang sekarang hanya tinggal Brendon Urie seorang akan kembali bereksplorasi dengan musiknya.

Death of a Bachelor sendiri merupakan album perkenalan wajah dari PatD yang baru dimana hanya sang frontman, Brendon Urie saja yang masih tersisa untuk melanjutkan perjuangan setelah Spencer Smith meninggalkan band untuk bisa lebih fokus melawan ketergantungan alkoholnya dan juga obat-obatan dan juga status anggota lain, Dallon Weekes yang diturunkan kembali  menjadi touring member lagi . Dengan demikian, secara tak langsung Brendon mempunyai otoritas penuh dalam proses kreativitas album ini, dimana dia memainkan hampir keseluruhan instrumen dalam album ini, kecuali alat musik tiup, di samping selain sebagai produser dan juga penulis lirik.

Baca : Album Review: Shura – Nothing’s Real

Oleh karena itu, tak heran album ini juga bisa dibilang merupakan sebuah manifestasi dari musical taste dan perjalanan hidup Brendon sendiri selama ini.  Semua influence bermusik dalam hidup Brendon terserak dalam berbagai sisi album ini. Ambil contoh di nomor “Death of a Bachelor” yang juga menjadi titel album ini dimana dia memadupadankan pengaruh dari idola masa kecilnya, Frank Sinatra dengan balutan musik yang lebih up-to-date. Di “Crazy=Genius”, Brendon menganalogikan tokoh di dalam lagu tersebut di departemen liriknya dengan nama para personel The Beach Boys, yang mana juga merupakan salah satu pahlawan bermusiknya. Judul lagunya pun bisa dibilang menggambarkan sosok jenius di balik megahnya musik The Beach Boys itu sendiri yakni Brian Wilson. Selain sosok-sosok besar dalam musik yang mempengaruhi penulisan lagu, ada juga sebuah lagu yang berangkat dari kecintaan Brendon akan kota Los Angeles dan dituangkan dalam “L.A. Devotee”.

Dalam beberapa lagu di album ini juga semakin menunjukkan kemampuan olah suara Brendon yang semakin mengukuhkan statusnya sebagai salah satu vokalis terbaik di jalurnya, simak saja dalam lagu “Victorious”, “Hallelujah” dan juga “Emperor’s New Clothes” yang juga merupakan single-single jagoan untuk album kelima band Las Vegas tersebut. Dan, setelah rangkaian lagu upbeat yang satu demi satu bergantian mengisi album ini, hadirlah sebuah ballad ala PatD yang cukup megah untup menutup keseluruhan album ini dengan manis.

Dengan album ini, mereka berusaha untuk menjaring fans-fans baru dengan menghadirkan kejutan-kejutan tak terduga pada musiknya yang diramu dan diracik dengan cukup baik oleh the main creator, the one and only Brendon Urie. Kami pun tak ragu untuk menyebut bahwa album ini merupakan salah satu highlights dalam rentang karir PatD yang telah memasuki umur ke-12 tahun dan juga personal achievement untuk Brendon yang tetap berkeyakinan teguh untuk tetap membawa nama besar PatD dan mampu memikul tanggung jawab sangat besar yang dialamatkan kepadanya dan album ini adalah pembuktian Brendon bahwa PatD belum habis dan akan semakin melebarkan sayapnya.

Baca : Album Review: Chewing Sparkle – Hugger Mugger (EP)

Panic at the Disco 3

Panic at the Disco 2

 

 

 


FIND US ON

[et_social_follow icon_style="slide" icon_shape="circle" icons_location="top" col_number="auto" custom_colors="true" bg_color="#a70a0d" bg_color_hover="" icon_color="" icon_color_hover="" outer_color="dark"]

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.