1


RIEN JAMAIN, BERBICARA TENTANG PANGGUNG PERTAMA, PERJALANAN BERMUSIKNYA, PERAN PEREMPUAN, SAMPAI KESAN HUMORIS YANG MELEKAT

Rien Jamain, personil Nasidaria saat ditemui dikediamannya ll Photo by Fakhri Hardianto

Adalah generasi pertama dari Nasidaria, grup musik qosidah modern yang sempat menyita perhatian publik dalam kurun tahun 2016-2017, melalui video musik mereka yang berselebaran didunia maya yang berlirik lelaki kampret (dengan judul Wajah Ayu Untuk Siapa).


 

Longlifemagz – Jika anda kelahiran era 70-an akhir sampai 90-an awal mungkin tidak asing dengan grup musik ini. Nomer-nomer hits mereka pastilah menemani telinga-telinga anda, seperti lagu “Kota Santri”, “Bom Nuklir”, “Jilbab Putih”, sampai “Perdamaian”. Atau setidaknya sekelibat terlintas mampir ditelinga, saat bulan puasa tiba.

Namun bagi para generasi millennial, Y, sampai mungkin Z, banyak juga tahu mereka dari unggahan-unggahan akun dimedia sosial, yang akhirnya menimbulkan rasa penasaran, mencari tahu siapa mereka, mendengarkan lagunya, sampai-sampai mandaulat diri jadi fans mereka.

Tampil di RRRC Festival tahun 2016 adalah diantara faktor lain kenapa mereka kembali gaung, terkhusus dianak muda generasi sekarang ini. “Alhamdulillah, saya banyak terimakasih sekali kepada remaja-remaja sekarang yang mau mendengarkan lagu qosidah,” ujar Rien dengan tegas.

Siang itu, Longlife Magazine mengunjungi rumah dari salah satu personil legenda musik grup qosidah Indonesia Nasidaria, Rien Jamain. Tepat dikediamannya daerah Gunungpati, Semarang yang cukup asri dengan pohon besar diperkarangan rumah. Cukup jauh dari pusat kota (kurang lebih 30 menit), suasana lingkungan dikediamannya terbilang tentram dan nyaman.

Busana muslim dengan warna yang cerah, lengkap dengan jilbabnya, terlihat datang menyambut kami. Kesan awal, bahwa ia akan tertutup, seadanya, dan serius hilang disaat disela perbincangan ada saja keluar canda dari mulut beliau, kadang tertawalah kami dibuatnya. “Alhamdulillah ini dari sananya mas.”, ujar Rien sembari tertawa. Ya, memang benar beliau itu ramah, terbuka, menyenangkan dan humoris.

Dalam asyiknya bercerita, ditengah waktu ia sempat terhenti saat ada seorang yang bernyayi didepan pintu kediamannya, pengamen pria dengan gitar kopongnya. Sejenak ia terdiam, merenung, dan berujar kepada kami dengan lirih : kadang saya kalau melihat pengamen, jadi inget waktu dulu (masa awal dimana Nasidaria tampil didepan umum, dan merintis mencari panggung).

Hingga kini beliau menjadi salah satu orang yang dituakan di Nasidaria, 43 Tahun aktif digrup qosidah modern itu. selama 42 tahun ia bermain dengan bass-nya, lengkap dengan gaya khasnya ala Rhoma Irama, mengganti pemain bass lamanya yang beralih ke guitar. Kini lebih banyak Rien menjadi MC dikala manggung, namun sesekali tetap bermain bass.

Selama 43 tahun tergabung dalam grup Nasidaria terlalu banyak moment yang beliau kenang dan berkesan yang diceritakan, mulai dari bagaimana ia belajar musik, bergaya saat bermain bass seperti Rhoma Irama yang merupakan idolanya dalam bermusik, peran perempuan, sampai dirinya yang menjadi tempat curhat bagi teman-temannya. Berikut adalah wawancara kami dengan beliau.

Awal temen-temen dan Ibu masuk Nasidaria gimana?

Nasidaria kan Awalnya asrama, kita pertama itu belajarnya seni membaca al-quran, lokasinya di Kauman 58 semarang. Terus yang pertama itu bapak (Alm) H. Muhammad Zein adalah penggagas sekaligus guru. Beliau ini kerjannya di DEPAG (Departemen Agama) dibagian seni membaca Al-Qur’an. Setiap jumat pagi kita membaca Al-Quran dengan lagu – lagu. Dan kemudian di kumpulkan oleh bapak dari berbagi daerah yang kira – kira anak itu bisa dibimbing dan diberikan pelajaran mengaji dengan lagu – lagu.

Setelah itu, banyak juga ternyata anak – anak yang menguasai itu. Bapak kan orangnya seni sekali. Bapak mencoba membimbing untuk menyanyikan lagu-lagu dari arab atau qasidahan. Karena kan setiap orang yang bisa ngaji pasti kan bisa nyanyi, tetapi orang yang nyanyi belum tentu bisa ngaji. Sampai akhirnya itu terus dibimbing dan dilatih oleh Bapak. Dan bisa.

Berarti posisisnya Bapak Zein yang mencari sendiri personil Nasidaria atau sebaliknya?

Bapak kan mengajar sampai kota dimana saja(khususnya jawa tengah). Karena bapak itu ngajar jadinya bapak tau potensi-potensi yang ada, bibit yang bisa membaca alquran lah. Akhirnya dikumpulkan di semarang (pondok di Kauman, Semarang) dan diajak bergabung dengan Nasidaria. Setelah jadi Nasidaria, kita dipanggung juga mengumpulkan Nasidaria untuk generasi berikutnya. Siapa yang mau ikut nasidaria boleh bergabung dengan kami. Syaratnya adalah perempuan, mempunyai akhlaq yang baik, usia sekian, kalau masalah wajah ya alhamdulillah. Kalau dulukan tidak diutamakan, yang penting itu mempunyai akhlaq yang baik. Karena akhlaq yang bagus itu bisa menjaga keimanan. Kalau anak muda sekarang kan wajah di dahulukan, tapi buat apa kalau punya wajah tapi gapunya kemampuan. Ya kita mencari juga langsung dites disitu.

Waktu konser pertama itu dimana Bu berarti?

Ya karna bapak itu orang DEPAG, jadinya kalau ada kegiatan yang dilangsungkan di DEPAG itu kita diundang. Acara – acara seperti pengajian atau bahkan perayaan hari besar agama Islam. Nah, kita juga sekalian promosi dari situ. Kita tidak mencari uang, tapi latian berani tampil didepan panggung. Kadang di Balaikota, Kantor Kementrian, di RRI dan sebagainya. Lama kelamaan kita diundang di alun – alun, di Masjid-Masjid besar, dan juga konteks yang lebih besar. Itu sekitar tahun 75-an akhir.

Waktu konser pertama itu umurnya berapa?

Sekitar umur 19 – 20

Waktu manggung pertama kali itu ada perasaan malu?

Yah pasti malu dong, makanya kalau di Kauman itu bener-bener latian panggung. Dulu tuh saya dikamar sampai latihan berdiri, bergaya-bergaya, latihan berbicara, bagaimana supaya orang bisa seneng. Cara berjalan juga saya latihan. Pakai dipan itu, saya sering latihan, Ya karna bapak (Bapak Zein) itu orangnya detail banget itu. Pokoknya waktu itu lucu-lucu prosesnya. Kita juga doa baca apa saja biar ga dredeg (grogi).

Dokumentasi Nasidaria, disaat mereka berkunjung tampil di Jerman.

Manggung yang paling berkesan dimana?

Beda-beda yaa, setiap tempat punya ciri khasnya sendiri-sendiri. Seperti di Malaysia misalnya, waktu kita manggung ya, gaboleh ada gerakan, hanya diam saja, karena tidak boleh. Jadi saya waktu ngebass itu, gabisa gaya gitu, heheh. Beda lagi waktu di Jerman. Orang Jerman itu gaperduli, ada musik seperti ini dijoged. Waktu itu selain lagu Nasidaria, kami selipkan juga lagu “Kopi Dangdut”. Wah lagu itu diulang-ulang, orang senengnya bukan main itu. Wah luar biasa waktu itu. Termaksud yang terakhir itu, RRRC fest dan Holy Market itu.

Ada perbedaan ga antara manggung waktu dulu sama yang sekarang? Ya kan waktu zaman dulu perempuan di angagap sebelah mata.

Kalau sekarang kan perempuan sudah diangkat derajatnya, emansipasi wanita. Nah ada lagunya juga tuh emansipasi wanita. Dulu kan perempuan masih dijadikan budak, pada zaman rosul juga begitu. Padahal wanita juga perannya berat, jangan diangagap enteng. Laki – laki yang mencari nafkah dan perempuan mengaturnya.

Kalau misalkan waktu bisa diulang di fase Nasidaria, Ibu pengen balik di waktu apa?

Wah itu ya. Waktu umur 25 tahun. Pokoknya itu lagi saat Masyaallah, Subhanallah seneng-senengnya itu di Nasidaria. Syuting sana, syuting sini. Baru berdiri Masjid Istiqomah yang di Ungaran itu, kita jadi poster. Trus di Bandungan, kemana saja waktu itu kita jalan-jalan, heheh. Pokoknya senengnya kita mau jadi apa, mau seperti apa, nanti kedepannya seperti apa, kita belum terpikirkan pada waktu itu. 20-25 tahun, itu pokoknya berkesanlah, heheh, belum mikir yang susah-susah.

Berarti waktu tahun itu, Nasidaria lagi terkenal-terkenalnya ya bu?

Iya itu, heheh. Kita dulu kalau main (manggung) dimana gitu, sorenya kita dikelilingkan (pawai) dahulu. “Jangan lupa saksikanlah Nasidaria”, seperti pakai pengeras suara. Itu dimana-mana seperti itu. Ya di Semarang, diluar kota juga. Apalagi di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, pasti seperti itu. Jadi kita awal datengnya, nanti pas sore kita sudah diarak pake mobil terbuka tuh, trus ada pamfletnya gitu Nasidaria Semarang gitu. Wah itu sudah ramai itu nanti yang datang.

Kalau diluar kesibukan ibu sebagai perempuan, aktif juga engga berkegiatan di luar nasidaria?

Oh iya pasti ikut berpartisipasi dalam bermasyarakat. Seperti pengajian dari RT, RW, di Gunungpati (daerah kediamannya) juga ada. Ya namanya kita bermasyarakat ya “ojo dumeh” jangan sombong intinya. Kamu masuk tv, cuman tidak mau bermasyarakat. Jadi tetap bermasyarakat. Kalo kita punya ilmu walau sedikit ya harus diamalkan. Jangan seperti, ibarat ”Pohon yang lebat daunnya, namun tidak berbuah,” .

Pendapat ibu untuk perempuan sekarang seperti apa?

Sekarang banyak ya pengajian-pengajian perempuan seperti itu. Dan banyak juga yang memakai jilbab. Insyallah berani memakai jilbab, berani mulai menata dirinya. Jangan lupa juga ditata keimanannya, jangan sampai sudah berjilbab, tapi Alhamdulillah sekarang sudah ada kemajuan ya, banyak yang sudah berjilbab. Sudah mulai ditanamkan pondasi-pondasi agama seperti itu. Berdakwah itu tidak mudah, kalau kita sudah bicarakan, harus bisa dijalankan juga. Insyaallah kita bisa menjalankan. Tidak terlalu fanatik, asalkan kita tidak melanggar norma-norma agama, dan bisa menjaga batasan-batasan norma.

Dari sembilan personil, yang paling deket, temen nongkrong, sampai temen curhat yang mana Bu?

Dulu mereka pada curhat semuanya ko ke saya, hehe.

Berarti jadi tempat curhat gitu bu?

Oh iya itu. Sampai sekarang tuh pada curhat. Belum lama mba Nunung kemari, habis cerita. mengundang juga anaknya mau ada pernikahan. Dulu saya juga gatau si, kenapa saya jadi tempat curahan temen-temen ya. Sampai sekarang mas masih banyak yang meminta pendapat gitu kalau ada apa-apa. Mungkin saya kalau ada yang cerita, cukup tahu gitu ya. Apa itu, tidak bocor ya seperti itu. Kalau saya bisa menulis itu bisa jadi berapa tumpuk buku itu, heheh. Karena memang pada seneng sama saya mungkin ya.

Mungkin karena ibu humoris kali bu?

Iya mungkin yaa, dulu ada yang bilang “ko waktu saya dirumah keinget bu Rien jadi tertawa sendiri”. Apa yang saya lakukan ko, pada senengnya, ya Alhamdulillah ini dari sananya mas, hehe. Dibalik kekurangan saya, Allah selalu memberi kelebihan dari sesuatunya. Mungkin itu.

 

Reporter : Dirham Rizaldi & Fakhri Hardianto

 

 

 

 

Selain project serabutan, mencoba peruntungan pula sebagai penulis lepas, buruh event, dan usaha kecil clothing.

43 TAHUN NASIDARIA: DAKWAH DENGAN RIANG GEMBIRA

Photo by lagu-qosidah.blogspot.com.

 “Nasida itu kan nyanyian, ria itu gembira. Dalam hal ini kita berdakwah melalui musik, dengan nyanyian riang gembira,” ujar Rien Jamain.


 

Longlifemagz – Siang itu Nasida Ria sedang latihan rutin, untuk persiapan pentas mereka disalah satu event di Demak. Mereka latihan didalam kediaman Gus Choliq Zain, yang tak lain merupakan basecamp dari Nasida Ria sekarang. Dibagian depan kediamannya, disulap menjadi Warung Soto Nasida Ria, “Kami membuka usaha ini sekaligus menambah-nambah pemasukan,” beliau bercerita membuka obrolan kala itu.

Terlihat disana terdapat sekitar delapan orang pengunjung tampak sedang asyik menyantap soto. Sebagian dari mereka ada pula yang sudah selesai menikmati, dan berbincang hangat sembari menikmati teh yang masih sedikit tersisa.

Empat orang dari kami, tim Longlife Magazine, datang meliput langsung aktivitas dari Nasida Ria. Kami menikmati suguhan kopi hitam yang telah disediakan sembari berbincang banyak dengan Gus Choliq Zain, yang saat ini merupakan manager dari Nasida Ria, sekaligus anak dari (Alm) H. Muhammad Zein, penggagas Nasida Ria awal kali terbentuk.

Kini Nasida Ria memang sedang sibuk-sibuknya. Selain jadwal pentas yang padat, nantinya mereka juga akan mengeluarkan album baru ditahun ini.

Awal Mula

Adalah Nasida Ria, grup musik qosidah modern yang sudah berdiri sejak 43 tahun silam, tepatnya tahun 1975. Ide untuk membuat grup ini datang dari (Alm.) H. Muhammad Zein sebagai medium berdakwah dalam menyiarkan ajaran islam.Muhammad Zein atau Bapak Zein adalah guru di Departemen Agama (DEPAG) dibagian seni membaca Al-qur’an. Beliau pendidik agama sekaligus orang yang gemar berkesenian, dalam bidang musik. Beliau melihat musik sebagai bagian dari seni, dijadikan medium untuk menyebarkan syiar agama. Hal ini sudah dilakukan beliau bersama grup As-Syabab, grup yang memainkan musik gambus (padang pasir) dan melantunkan syiar Islam, berbahasa Arab.

Mempunyai pondok pesantren, Pak Zein mengajarkan ajaran Islam, mulai dari membaca Al-qur’an sampai Qira’at kepada murid-muridnya. Tidak hanya terfokus di Kota Semarang, beliau juga berkeliling ke kota-kota sekitar Jawa Tengah mulai dari Magelang, Batang, sampai Pekalongan.

Mengaji adalah satu pelajaran yang wajib ditekuni oleh setiap muridnya, sampai benar dalam lafal. “Setiap Jum’at pagi kita membaca Al-qur’an,” ujar Rien Jamain, salah satu anggota awal Nasida Ria yang masih bertahan hingga saat ini. Selain itu etika sebagai muslim juga digenjot sebagai pegangan dalam bersikap dan berpikir. Dalam pembinaan itu dikasih kegiatan bermusik. “Kita dibimbing dan diberikan pelajaran mengaji, seni, dan musik,” ia melanjutkan kisahnya.

Dalam menjalankan rutinitas mendidik di berbagai kota, Pak Zein melihat potensi murid-muridnya dalam membaca Al-qur’an, Qira’at, dan juga bermusik. Dikumpulkanlah murid-murid di pondok pesantrennya, di Jalan Kauman Mustaram No. 58, Semarang.

Pak Zein perlahan tapi pasti mulai membimbing murid-muridnya untuk menyanyikan dan memainkan lagu Arab, gambus, bernuansa padang pasir. “Dulu awal-awal masih pakai rebana,” kata Gus Choliq Zain.

Seiring waktu, potensi murid-muridnya makin terlihat dalam mensyiarkan agama melalui musik, diciptakanlah sebuah grup qosidah, dengan nama Nasida Ria. “Nasida itu kan nyanyian, ria itu gembira. Dalam hal ini kita berdakwah melalui musik, dengan nyanyian riang gembira, ujar Rien sedikit berfilosofis ketika ditanya mengenai ihwal awal mula nama grupnya tersebut.

Maka berdirilah Nasida Ria, dengan 9 personil wanita didalamnya, Mudrikah Zein, Muthaharah, Rien Jamain, Umi Khalifah, Musyarrofah, Nunung, Alfiyah, Kudriyah dan Nur Ain.

Hingga memasuki tahun 1978, mereka merilis album “Alabadil Makabul”. Berisikan lagu-lagu yang kental akan nuansa Arab dan musik padang pasir, melambungkan nama Nasidaria hingga makin dikenal masyarakat.

Belakangan Nasida Ria mengalami perubahan, baik itu dalam penggunaan bahasa yang dipakai didalam syair. “Kita gunakan bahasa Indonesia, lugas dan merakyat, agar lebih mudah tersampaikan,” terang Gus Choliq. “Sampai musik yang sebelumnya kental akan irama gambus (padang pasir), kita kembangkan lagi” beliau menambahkan. Bertambahlah instrumen baru berpadu-padan dengan qosidah, mulai dari gitar, kendang, bass, organ, sampai biola. Warna musik ini menghasilkan perpaduan unik, yang hanya dimiliki oleh Nasida Ria.

 

Perjuangan Musik dan Dakwah

Jalan mulus tidak langsung ditemukan dalam karir Nasida Ria, walau mereka mempunyai tujuan baik dalam bermusik. Pertentangan kian muncul dipermukaan. Banyak yang mempertanyakan jalan yang diambil dari Nasida Ria “Yang nyanyi kok perempuan? Berdakwah kok melalui musik?”

Dengan keseluruhan personil yang terdiri dari perempuan dan tampil bermusik didepan publik. Belum lagi sistem patriarki yang masih dominan dipercaya kala itu yang masih belum terlalu banyak menampilkan wanita di ruang publik dalam konteks bermusik. Ditambah dengan stigma usang tentang perempuan yang harus mengurus rumah tangga dan anak semakin menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat yang masih memandang sinis terhadap apa yang mereka lakukan.

Namun atas keteguhan prinsip, iktikad yang baik, dan dukungan dari berbagai pihak, “Banyak juga kiai-kiai yang mendukung ,“ ujar Gus Choliq, Nasida Ria tetap memilih jalannya. “Yang penting tujuan kita berdakwah,” Gus Choliq menambahkan dengan yakin.

Nasida Ria dalam proses bermusiknya mengalami transformasi dari gambus menuju qosidah modern. Hal ini bermula dari sumbangan alat musik organ, gitar dan juga drum dari Imam Suparto (Walikota Semarang pada saat itu). Selanjutnya, Rien bercerita bahwa instrumen kembali berubah setelah ada guru dari RRI (Radio Republik Indonesia) Semarang yang mengajari mereka bermain biola. Seterusnya drum dihilangkan, hingga terbentuklah format bermusik mereka seperti sekarang ini dalam bentuk qosidah modern.

Untuk menunjang keberhasilan mereka berdakwah melalui musik, latihan terus dilakukan untuk menghasilkan karya yang bagus. Gus Choliq mengatakan personil Nasida Ria jika sudah menguasai satu alat musik, harus bisa juga memainkan instrumen lainnya. Setiap pergantian lagu ada personil yang digilir bermain dengan posisi yang berbeda. “Kondisional tergantung kebutuhan dari lagu tersebut,” Rien mengiyakan.

Setidaknya atas ketekunan mereka hingga kini selebihnya sudah 34 volume album yang dikeluarkan Nasida Ria, dengan total kurang lebih 300 buah lagu yang diciptakan.

Baca :

Benci Tapi Rindu, Perjalanan Dangdut Yang Berliku

Raja Dangdut, Polemik Dakwah, Musik, dan Goyang

Sederet lagu Nasida Ria, masih terus diputar mulai dari televisi, radio, dari rumah ke rumah, sampai acara-acara pengajian maupun pernikahan. Lagu “Pengantin Baru” yang terdapat dalam volume ke-4, album “Sholawat Nabi”, masih menjadi themesong dalam hajatan pernikahan. Tilik volume ke-5 dari Nasida Ria, album “Perdamaian”, terdapat nomor-nomor yang kian memperkenalkan Nasida Ria dalam lingkup nasional. Seperti lagu “Perdamaian”, yang pada medio 2000-an dinyanyikan ulang oleh band Gigi. “Kota Santri” turut pula dicover ulang oleh beberapa musisi, salah satunya Anang Hermansyah dan Ashanty.

“Dia (Pak Zein) nulis lagu ‘Kota Santri’, sambil jualan bensin eceren. Nah ada situasi santri-santri Kaliwungu (Semarang) itu ngaji. Jadilah itu lagu,” kenang Zain seraya tertawa kecil. Lirik lagu “Kota Santri” yang sederhana, dan dekat dengan realita, membuat lagu tersebut masih terasa relevan dan terus dinyanyikan sampai sekarang.

Nomor-nomor lainnya, tidak kalah terkenal dan bagus untuk didengar. Sebut saja “Mashitoh Indonesia” (Vol 10 – Dunia Dalam Berita), “Tahun 2000” dan “Jangan Jual Ginjalmu” (Vol. 12 – Rumahku Surgaku) , “Bom Nuklir” (Vol. 14 – Anakku), “Keadilan” (Vol. 18 – Keadilan), sampai “Nabi Muhammad Mataharinya Dunia” (Vol. 24 – Nabi Muhammad Mataharinya Dunia).

Lagu dan liriknya, banyak diapresiasi oleh publik, salah satunya oleh media Vice Indonesia. Tidak hanya kental akan dakwah, Vice Indonesia melalui artikel yang dimuatnya menyatakan lirik-lirik Nasida Ria lekat akan nilai futuristik. Rien merasa dulu dia juga tidak mengira bahwa lagu-lagunya akan seperti itu, menjadi suatu fenomena yang benar-benar terjadi didalam masyarakat. ”Terkadang saya ketika merenung sampai merinding mengapa lagu- lagu Nasidaria benar-benar menyentuh dalam kehidupan” ucap Rien merespon fenomena tersebut.

Selain Zain, Abu Ali Haidar alias KH. Ahmad Bukhari adalah salah satu pencipta dari lirik-lirik yang terkandung dalam Nasida Ria. “Sangat cemerlang banget itu bapak Ali Haydar, kadang mengambil dari Umi Kalsum sama Bapak Zein (Alm) kadang bahasa Arab di Indonesiakan, kadang idenya lahir sendirinya dari realita disekitar” Rien berujar dengan penuh kagum. Dia bercerita lagu-lagu yang diciptakan Abu Ali Haidar tersebut hadir atas renungan-renungan yang ia lakukan.

Pernah pada suatu waktu Abu Ali berkata ke Rien “Mbak Rien, besok tak buatkan lagu dari mempertanyakan, sopo ngerti (siapa yang tahu), siapa yang bilang?. ”Eh jadi lagu Siapa Bilang,” kenang Rien. Lagu yang mempertanyakan dan melawan wacana bahwa anak muda telah merosot akhlaknya.

Tidak hanya menyebarkan syiar agama, lirik lagu Nasida Ria juga humanis, peka akan realita dan isu-isu disekitar. Bergelut di era Orde Baru, tidak membuat mereka takut untuk mengkritik apa yang salah, seperti lagu “Keadilan”, “Reformasi”, maupun “HAM HAM HAM” adalah sedikit diantaranya. “Tidak ada larangan pada waktu itu,” kata Gus Choliq. “Kita hanya berbicara tentang pemerintahan, tidak menyinggung ataupun melanggar aturan,” tandas Rien.

Konsistensi berdakwah dalam musik, mensyiarkan agama, humanis, menyebarkan nilai-nilai kebaikan membuat Nasida Ria mendapatkan penghargaan. Mulai dari penghargaan Pengemban Budaya Islam dari PWI Pusat Jakarta (1989), Penghargaan Seni dari PWI Jateng (1992) sampai Anugrah Keteladanan 2004 dari PPP Jateng (2004).

 

Busana, Fans dan Panggung.

Dari acara satu ke acara lain, dari satu panggung ke panggung lainnya, Pak Zein terus melatih mental para personil Nasida Ria pentas didepan orang banyak. Bukan suatu yang mudah bagi para personil yang notabene perempuan dan anak pesantren.

Untuk mempersiapkan penampilan didepan orang banyak, tidak jarang setiap personil berlatih sesering mungkin. “Karena Bapak (Zein) itu orangnya detail banget,” tutur Rien.

Segala bentuk latihan dilakukan untuk menghasilkan penampilan maksimal diatas panggung, mulai dari latihan musik, berbicara didepan banyak orang, sampai latihan bergaya kala memainkan musik. “Pakai dipan itu dulu saya sering latihan, Pokoknya waktu itu lucu-lucu,” kenang Rien tersenyum.

Tiba dipanggung pertamanya, Nasida Ria mampu tampil dengan cukup sukses, “Salah satu tempat pertama adalah saat acara yang digelar oleh Departemen Agama Kota Semarang,” Gus Choliq berujar. “Hingga berlanjut di Balaikota, kantor Kementerian, sampai di RRI. Lama kelamaan diundang di alun-alun, di masjid masjid besar. Itu sekitar tahun 75an akhir,” ucap Rien mencoba mengingat.

Rasa grogi tak lepas dirasakan setiap personil, kala banyak mata yang menyorot mereka. Manusiawi memang, namun pertunjukan harus tetap dilakukan, panggung harus tetap ditaklukkan. Berdoa adalah salah satu kewajiban yang mereka lakukan, “Doa apa saja pokoknya. Supaya gak dredek (grogi),” kenang Rien sembari tertawa. Ya, doa adalah obat mujarab untuk hilangkan rasa grogi dipanggung.

Nasida Ria semakin mendapat sorotan dari masyarakat, terlebih juga dalam trend berbusana, mereka menjadi trendsetter pada masa itu. Rien mengatakan belum banyak perempuan pakai jarit (kain batik panjang), baju, kerudung sekaligus bermain musik pada saat itu.

Berbondong-bondong wanita mengikuti gaya berbusana Nasida Ria, “Itu sampai di Johar (pasar di Semarang), banyak itu (perempuan) yang nyari jarit Nasida Ria, kerudung Nasida Ria”, ucap Rien. “Padahal saya sendiri tidak punya, karena waktu itu banyak banjir, jadi dulu jarit kita kumpulkan, untuk disumbangkan” beliau lanjut menambahkan. Saking hype nya gaya Nasida Ria dalam berbusana, selain masyarakat umum, grup-grup musik qosidah perempuan lainnya turut terpengaruh oleh mereka.

Ada kesadaran dalam diri mereka untuk mengubah gaya penampilan berbusana, dari yang sebelumnya sedikit terbuka, menjadi lebih tertutup. Selain banyaknya masukan yang diberikan dari para kiai/alim ulama, dan juga efek Nasida Ria yang kian dijadikan salah satu contoh oleh perempuan pada masa itu, sampai hidayah yang diperoleh sehabis pulang berhaji.

“Kita cari model yang lain, sekarang mulai tertutup saja. Kita semua berjilbab, menutup aurat”, ucap Rien. Model baru telah disepakati, Nasida Ria tampil lengkap dengan busana muslim, kerudung, dengan model dan warna yang catchy.

Dari satu album ke album lainnya mendapat sambutan yang baik, lagu-lagu Nasida Ria makin dikenal publik. Job untuk pentas, kian bertambah intensitasnya. “Dalam sebulan manggung bisa 30 kali” ungkap Gus Choliq.

Berbagai kota-kota di Indonesia tidak luput mereka sambangi, mulai dari kota-kota disekitar Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, sampai Ibukota Negara Republik Indonesia, Jakarta.

Berbagai sambutan dari penonton menyambut kedatangan Nasida Ria di berbagai kota, “Semarang, diluar kota juga, apalagi kota di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat”, Rien berujar. Selalu ada ritual khusus sebelum mereka manggung, mereka diarak-arak keliling kota oleh para penonton. “Kita awal datengnya, nanti pas sore kita sudah diarak pake mobil terbuka” ia menambahkan. Bila sudah begitu, penonton langsung mengerubungi dan dapat dipastikan saat pentas sudah berlangsung penonton ramai memadati.

Tidak semua pentas, mempunyai kenangan yang teramat baik. Perilaku penonton yang tak bisa ditebak, atmosfer dari crowd yang berbeda di tiap venue mereka pentas dan aturan mainnya. Ada saja penonton khususnya anak muda yang tidak mendengarkan, meresapi makna lagu, dan dakwahnya. Hanya berjoget saja. Kericuhan dan ribut antar penonton juga dialami. “Saya bilang, tolong mas, Nasida Ria kan qosidah, gausah lah ngadu kekuatan (berantem),” kenang Rien. Ditempat berbeda, lain lagi ceritanya, Gus Chaliq berkata dulu pernah ada yang melempar botol kecil dan mengarah ke dia, dikarenakan request lagu yang diminta tak kunjung dimainkan oleh Nasida Ria, “Untungnya tidak kena,” ujar beliau sembari tertawa.

Selalu ada cerita berbeda dan menarik dari berbagai kota. Mulai dari main di Desa Sanganjaya (daerah Tegal, Jawa Tengah) dan di daerah Dieng dengan sound system yang kurang enak didengar (noise) karena akses jalan yang susah.”Saya sempet tinggal tidur itu karena tidak enak” ucap Gus Choliq. Namun ternyata euforia penonton tetap meriah dan tinggi, “Kekecewaan saya hilang gitu aja, lihat penonton senang, nikmatnya luar biasa,” kata Gus Choliq.

Setiap personil juga memiliki kisah personal tersendiri dengan para fans. Dari mulai ada fans yang banyak memberi bingkisan dan bunga, sampai “Ada juga (personil) yang cinta lokasi waktu manggung, dan sampai sekarang telah menjadi pasangan suami istri,” Rien bercerita sembari tersenyum.

Semua pengalaman dan cerita yang telah dilewati mereka jadikan pelajaran dalam berseni dan dakwah di Nasida Ria. Hingga datanglah sebuah kesempatan, dari seringnya pentas di berbagai kota, konsistensi dalam berkarya, dan dukungan dari berbagai pihak, Nasida Ria mendapat undangan untuk pentas di Kerajaan Malaysia pada tahun 1988, dalam rangka memperingati 1 Muharam.

Dibulan Maret tahun 1994 atas undangan Haus de Kulturen der Welt (Lembagai Kebudayaan Jerman) dalam event yang bertajuk Die Garten des Islam (Pameran Islam Dunia), Nasida Ria menjadi perwakilan Indonesia dalam event tersebut.

Selang 2 tahun, Juli 1996 Nasida Ria kembali berangkat ke Jerman dalam rangka Festival Heimatklange ’96 “Sinbad Travel”, mereka juga melakukan tur di beberapa kota, mulai dari Reclinghausen, Mulheim, sampai Dusseldorf. ”Kita seneng banget waktu itu,” kenang Rien. Menurut beliau, orang Jerman itu tidak peduli mereka dari mana, asal usul mereka, ada musik seperti ini mereka joget. Waktu itu selain lagu Nasida Ria, mereka menyelipkan pula lagu “Kopi Dangdut” dalam setlist nya. “Wah lagu itu diulang-ulang, orang senengnya bukan main itu,” tambahnya.

Hingga kini Nasida Ria, masih tetap eksis sebagai grup musik qosidah modern. Walau sempat mengalami fase kesunyian, di medio 2000an. RRReC Festival dapat disebut sebagai salah satu faktor ramainya kembali Nasida Ria diperbincangkan, bahkan melebarkan pasar pendengar mereka hingga sampai ke telinga generasi muda, ABG sampai para hipster indie.

Setelah menjadi salah satu headliner dalam event RRReC Fest pada tahun 2016, mendapat kesan istimewa tersendiri oleh Nasida Ria. “Banyak orang yang dulunya tidak kenal jadi kenal, yang dulunya tidak suka jadi suka,” Rien berkata.

Begitupun dengan fenomena ditahun 2017 akhir, dimana banyak meme yang diambil dari video lagu Nasidaria di kanal Youtube, sampai lagu “Wanita Kampret” (Lagu aslinya berjudul “Wajah Ayu Untuk Siapa”).

Rien berujar wanita boleh berdandan berhias dengan sepantasnya, namun juga perlu untuk menjaga diri. Kemudian, dia menambahkan “Ya kecantikan wanita itu kan untuk suami, jadi jangan sampai hanya dimanfaatkan oleh para lelaki yang hanya mengambil keuntungan demi penuhi hasrat” (dianalogikan seperti kampret yang habis memakan sedikit mangga dipohon, lalu ditinggalkan ternoda).

Terlepas dari itu, personil Nasida Ria tidak terlalu ambil pusing begitupun dengan Rien Jamain sebagai salah satu personil dari generasi awal Nasida Ria terbentuk, pun ia banyak berterimakasih kepada remaja-remaja sekarang ini yang mau mendengarkan lagu qosidah. “Sekarang Alhamdulillah,” ucap Rien.

Hingga sekarang Nasida Ria masih tetap ada, berkarya, dan tetap eksis ditengah masyarakat Indonesia. Terlalu besar namanya untuk sebuah grup musik terlebih qosidah modern yang sudah berkarya selama 43 tahun lamanya. Ada baiknya selalu perhatikan pepatah yang berbunyi “makin tinggi pohon maka akan semakin kencang angin yang menerpa”. Bisa berlaku juga di Nasida Ria, namun yang perlu diingat adalah salah satu pesan yang diberikan oleh seorang panutan mereka, diantaranya Rhoma Irama. Ia berkata : tetap jaga kerukunan dan kekompakan, dan bila ada masalah selalu selesaikan dengan bermusyawarah. ”Semoga semua dimudahkan oleh Allah SWT, Insha Allah,” tutup Rien dengan penuh harap.

 

 

Reportase        : Musa Hakam, Dipto, Fakhri, dan Dirham

Penulis             : Dirham Rizaldi

Editor              : Musa Hakam

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

RAJA DANGDUT, POLEMIK DAKWAH, MUSIK, DAN GOYANG

Photo by Liputan 6

Berdakwah lewat dangdut dan bergoyang mendengar dangdut.

 

Longlifemagz -Tahun 70-an menjadi tahun pendobrak bagi musik dangndut. Oma Irama atau dikenal dengan nama Rhoma Irama menjadi pionir pertama yang mengoplos musik rock kedalam musik yang ia kombinasikan, dandut. Musisi muda nan ambisius itu disekitar tahun yang sama juga mendirikan O.M Soneta. Tidak lupa, ia mengajak Elvy Sukaesih sebagai temannya bernyanyi. Sekiranya tahun 1971 menjadi titik awal Rhoma berkiprah di industri musik Indonesia.

Penampilannya sangat flamboyan, dengan pengaruh musik rock dari barat, lirik moralis nan agamis, ditambah goyangan estetis dengan gerakan sopan namun tetap berpola, menjadi nilai tambah dalam membangun musik dangdut.

Rhoma Irama masih menjadi nama yang pas ketika semua orang mambahas tentang dangdut. Sebagai musisi dangdut, Rhoma teristimewakan karena punya akar musikalitas yang berbeda ketimbang penyanyi dangdut yang lain. Meski Rhoma kecil suka berdendang musik india, kian besar ia tumbuh dengan musik rock.

Disini kita sepakat bahwa ada dua arus besar di dalam dunia musik pada era tersebut. Dalam pemberitaan Aktuil No. 200 tahun 1976, salah satu penggemar Rhoma Irama marah karena pegiat rock (Benny Soebardja) menyebut dangdut sebagai musik tai anjing.

Belakangan Benny sudah meminta maaf secara langsung kepada Rhoma. Namun pertikaian tidak selesai sampai disitu. Kalau kita amati lebih detail film – film Rhoma akhir 70-an sampai awal 80-an sangat sering menggambarkan musisi rock sebagai berandalan, belum lagi pengaruh pertikaian itu terhadap penggemarnya masing – masing.

Melabeli sosok Rhoma Irama sebagai pionir dalam meleburkan musik dangdut dan rock sangat sederhana. Kita harus mencoba menelusuri kembali masa awal, bagian mengoplos rock ini tampak jelas pada awal karier.

Pada saat itu Rhoma menenteng gitar Fender putih yang mengesankan terpengaruh Ritchie Blackmore dari Deep Purple hingga peralihan Steinberger hitam andalannya.

“Rhoma banyak melakukan persilangan. Sebuah crossover yang memperkaya anasir musik dangdut itu sendiri. Rhoma melakukan perubahan besar – besaran pda semua aspek dengan melakukan elektronisasi. Unsur gitar dan drum yang menjadi ciri musik rock, begitu kental mewarnai musik dangdut ini.” tulis Shofan dalam Rhoma Irama: Politik Dakwah Dalam Nada (2014).

Tidak bisa dipastikan bagaimana musik dangdut menggeser musik rock pada masa itu. Tetapi yang sudah sangat valid, teradpat dua arus besar di Indonesia. Dangdut semakin mencuat namanya dengan kemunculan aktor-aktor dangdut seperti Rita Sugiarto, Elvy Sukaesih, Meggy Z, sampai Camelia Malik.

Musik dangdut terus berkembang, Rhoma terus diangkat namanya menjadi ikon. Bak presiden musik dangdut, masyarakat melabeli dirinya dengan Raja Dangdut. Bendera Soneta terus berkibar, dengan manifesto berdakwah melalui musik, Rhoma terus merangkul group yang berlandaskan islami, seperti Nasidaria diantaranya. Platform terus dibangun sang raja dangdut sampai melewati masa keemasannya.

Baca :

Benci Tapi Rindu, Perjalanan Dangdut Yang Berliku

43 Tahun Nasidaria: Dakwah Dengan Riang Gembira

Berlahan tapi pasti segala pakem yang dibangun sang raja akhirnya mulai terkikis. Indonesia mulai teracuni musik koplo. Ah persetan apalagi itu koplo. Sang raja gamang bukan kepalang, kemunculan musik koplo seperti merusak trivium yang ia bangun.

Penampilan musik koplo yang kental dengan kata “seronok” menjadi penyebabnya. Sang raja sepertinya selalu meletakan di posisi yang sama antara agama, dengan politik dan dagdut.

Orkes dangdut koplo menjadi lawan yang seimbang untuk ini. Muncul ketika masa orde baru berakhir, daerah pantura menjadi bukti pertama orkes koplo melejit. Siapa yang tidak tahu O.M Pallapa (1998), O.M Monata (1999) yang terkenal dengan karena penyanyi mereka, Via Vallen, hinnga O.M Serra (2003) yang berasal dari nganjuk, Jawa Timur.

Besar didaerah pantura, koplo terus menyombongkan diri tanpa harus masuk kedalam pusaran Ibu Kota. Koplo yang bersifat organik, terus membangun masa keemasannya sendiri. Musik dangdut koplo terlalu idealis dengan membawa slogan musik rakyat, musik kaum urban, musik rakyat kecil dan sebagainya.

Untuk mengimplementasikan itu, dangdut koplo tidak perlu jauh-jauh ke wilayah barat. Namanya terus berkembang di wilayah pesisir timur seperti Rembang, Semarang, Pati, Surabaya, Jombang dan sebagainya.

Namun, kecanggihan informasi dan teknologi tidak mampu membendung idealis dari dangdut koplo. Lewat inul, dengan ciri goyang “ngebor” dangdut koplo tembus pasar nasional, dan diwaktu yang sama Inul sukses dengan album yang bertajuk goyang ngebor.

Kesukses besar diraih, tapi tidak membuat “Biduanita” ini tenang. Protes keras datang dari Sang Raja secara bertubi-tubi. Protes dilayangkan kepada inul juga kepada biduanita lain di daerah pantura. Kehadiran dangdut koplo di klaim merusak iklim musik dangdut “tertib dan terkontrol” yang sudah di bangun Sang Raja.

Salah satu meradangnya sang raja adalah, inul dan biduanita datang dengan arah berlawanan dari sang raja. Mereka datang dengan busana yang ketat, memiliki goyangan yang arbitrer, dan terpaku kepada gerak khas tertentu, seperti goyang ngebor, ngecor, gergaji dan banyak nama nyentrik yang asik dan kadang vulgar.

Yang lebih menarik dari ini, protes juga tidak datang hanya dari banyak sepupuh – sepupuh dangdut, melainkan dari masyarakat. Seperti terjadi panik moral, seakan – akan di hindari, tetapi beberapa stasiun televisi malah terus mengamati dan menjadi tidak asing di khalayak.

Media menjadi cikal bakal ketegangan antara sang raja dengan Inul. Penampilan inul di televisi membuat sang raja menghimpun PAMMI–Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia– untuk memboikot sang Ratu Ngebor tersebut dengan dalih Joged yang terlalu vulgar.

Merasa terdesak dan menghormati sang raja, di tahun yang sama, Inul mengunjungi sang raja, bukan maksud apa-apa hanya sebatas sowan belaka. Belakangan terdengar bahwa sang raja terus menasihati sang ratu ngebor dengan beberapa dakwah, dan mengaitkan tindakan kriminalitas seperti pemerkosaan, pelecehan seksual yang diakibatkan pertunjukannya inul di VCD maupun di panggung.

Sedikit otoriter sang raja memaksa Inul untuk mengikuti jejak penyanyi perempuan seperti Ikke Nurjanah, Iis Dahlia, Cici Paramida dan sebagainya. Mereka adalah penyanyi yang sukses di era ketika sang raja berkuasa.

Inul resah, kurun waktu 2003 – 2006 perubahan terjadi sangat signifikan. Inul mulai menghilangkan goyang ngebornya. Tidak hilang, sebatas mengurangi intesitas dan ditutupi dengan busana glamour a la eropa.

Sang Raja Masih kepanasan, di tahun 2006, ketika komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat menggelar rapat untuk membahas Rancangan Undang Undang (RUU) anti pornografi dan pornoaksi, Sang Raja, Inul dan beberapa artis lainnya turut diundang untuk memberi masukan.

Dalam kesempatan tersebut, sang raja kembali bercerita tentang goyang ngebor. Menurut sumber, “goyang ngebor Inul sudah termasuk bagian dari pornoaksi yang dilarang. Goyang sensasional itu tidak boleh dilakukan, karena menimbulkan keresahan dan syahwat penonton” ujar sang raja dalam masukannya. Alhasil, RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi tahun 2006 terbentuk, dan ditetapkan. Sang raja masih begitu kuat bahkan dalam dunia sekaliber pemerintahan.

Rasa – rasanya tidak cukup membahas Sang Raja Dangdut hanya dengan beberapa lembar tulisan. Dengan nama besarnya, sang raja sangat mendambakan budaya dangdut yang sederhana. Meskipun trivium yang sudah ia buat semakin terkikis oleh perkembangan. Alih – alih mempertahankan, sanga raja membentuk Partai Idaman. Tampaknya, sang raja tahu betul begitu banyak loyalis soneta, selama ia berkarya kurang lebih setengah abad.

Biarkan ketegangan musik dangdut koplo dan musik dangdut, menjadi cerita yang paling romantis di masa perkembangan budaya musik popular terkhusus dangdut di Indonesia. Kita harus sepakat bahwa “dangdut is the music of my country,” Sang Raja memang sangat berjasa dalam merangseknya musik dangdut di tanah air, pondasi identitas yang dibentuk sang raja juga diamini oleh beberapa penonton dan pegiat dangdut pada masa itu bahkan saat ini.

Pada hakikatnya, sang raja pun tidak mampu membendung proses ini. Proses urbanisasi kebudayaan tepatnya. Setelah bertahun – tahun seusai konflik dengan Inul Daratista, dangdut koplo tidak mati, malah terus mewabah hingga ke lapisan masyarakat, tidak mengenal kelas bahkan gender.

Dangdut yang sangat indentik dengan musik rakyat menengah ke atas, sekarang mampu menembus pasar. Kita harus akui keseriusan itu terlihat, di beberapa stasiun TV Lokal dengan tajuk “Liga dangdut”, belum lagi yang menggaet dangdut sebagai komunikasi dengan masyarakat.

BENCI TAPI RINDU, PERJALANAN DANGDUT YANG BERLIKU

Illustration by tirto.id

Mulai dari akulturasi musik,  polemik “tai anjing” sampaI keberhasilan memikat hati rakyat.

 

Longlifemagz – Dunia sudah berkembang, Proyek MRT (Mass Rapid Transit) yang tadinya mangkrak sekarang sudah terpampang. Dunia musik juga demikian, dari bajakan sampai orisinil, dari piringan hitam sampai spotify. Terlebih, perjalanan musik ter-khusus dangdut di Indonesia juga sangat mencekam, harus jauh-jauh kembali pada era 1970-an, ketika Benny Soebardja salah satu musisi Rock Progresive menyatakan dangdut adalah “Musik tai anjing”. Setidaknya kita harus bisa membayangkan bagaimana Musik Dangdut rela terhakimi dengan nuansa rock yang lagi jaya-jayanya pada masa itu.

Akar sejarah dangdut bisa ditarik jauh lebih ke belakang, mengutip Buku Dangdut: Musik, identitas, dan budaya Indonesia (2012), Weintrub mengatakan bahwa leluhur melayu musik dangdut adalah orkes keliling dari Malaya (Malaysia) yang berlabuh ke Pulau Jawa pada 1980-an. Orkes ini memainkan banyak jenis musik dari Melayu, Tiongha, India, Timur Tengah, sampai Eropa.

Tercatat pada dekade 1930-an, Pulau Jawa masih menjadi pergulatan pertama dalam perjalanan Orkes keliling, tidak lama kemudian mereka melakukan perjalanan menuju pulau Sumatra. Pada masa itu, Sumatra menjadi pasar musik yang paling bergairah. Promosi mereka juga tidak sebatas di Indonesia saja, namun karena banyak penyanyi yang bermain di Malaya hingga singapura, sehingga terjadinya akulturasi budaya secara alamia.

Pada 1930-an, radio berpengaruh besar terhadap popularitas tiga jenis musik yang jadi pondasi awal dangdut: Orkes Harmonium, Orkes gambus dan Orkes melayu.

Orkes Harmonium disebut – sebut juga sebagai asal usul musik dangdut. Harmonium sendiri juga adalah nama alat musik sejenis organ asal Eropa yang masuk melalui India dan menyebar ke banyak negara. Sebenernya tidak jauh berbeda ketika membahasa Orkes harmonium (OH) dengan membahas Orkes Melayu. Bahkan beritanya, pada era 1940an perkembangan musik OH juga kian meredup, dan beberapa aktornya melabeli dirinya dengan Orkes Melayu bukan OH lagi.

Pondasi dangdut yang kedua datang dari Orkes Gambus, Musik yang dimainkannya adalah musik ala Timur Tengah, mengandalkan alat musik gambus serta kendang – kendang bermembran sederhana, atau biasa dikenal dengan musik marawis.

Poin penting dalam Orkes Gambus adalah Syech Albar (merupakan ayah dari Ahmad Albar, voc. Duo Kribo, God Bless). Surabaya, sebagaimana yang sudah diberitakan, menjadi lokasi pertama lahirnya musik gambus di Indonesia. Isu – isu yang di dengar, Syech Albar harus jauh–jauh berguru ke negeri tempat dimana musik gambus di populerkan, Yaman. Perjalanan Albar tidak terbuang percuma, ditahun 1931 alunannya sudah direkam dengan piringan hitam “His Master Voice”. Jalan rintisannya kemudian diteruskan dari beberapa Orkes Gambus dari berbagai daerah yang muncul setelah mencuatnya musik gambus di Indonesia.

Dan yang terakhir dari perkembangan musik dangdut di Indonesia adalah musik Melayu. Orkes Melayu atau biasa disingkat dengan O.M mencoba merangsek masuk di tengah arus musik Rock tanah air. Meleburkan musik gambus dengan kebudayaan India, dan Melayu mampu menerbikan group semacam O.M Sinar Medan yang sangat trend pada masa itu.

Orkes Melayu juga semakin berkembang, sebenernya yang jelas terjadi adalah akulturasi secara alamiah antara Melayu, India, Arab bahkan Eropa. Hal ini sebenarnya yang menjadi cikal bakal musik dangdut lahir di Indonesia.

Labeling nama dangdut sendiri masih menimbulkan perdebatan. Dangdut sejatinya baru lahir ketika era 1970-an. Menurut sumber, nama dangdut merupakan Onomatope (sekelompok kata yang menirukan bunyi) kendang : dang-dut. Dalam majalah tempo edisi 5 Mei 1979, Said Effendi, pimpinan OM Sinar Agung, mengatakan bahwa istilah dangdut “muncul karena perasaan sinis dari mereka yang anti musik melayu.” Sebenernya disini bisa disimpulkan bahwa kata “Dangdut” adalah kalimat ejekan terhadap pencinta musik melayu.

Atau kembali ke asumsi Weintraub bahwa istilah dangdut dipopulerkan oleh majalah musik Aktuil. Namun dalam wawancaranya dengan Meggy Z, Mansyur S dan Dadang S, istilah dangadut jadi popular berkat jasa Bung Mangkudilaga, salah satu penyiar radio yang kerap mempromosikan musik dangdut di Radio Agustina, Tanjung Priok, Jakarta pada dekade 1973 – 1974.

Orkes Melayu semakin kuat, setelah namanya dipermudah penyebutannya menjadi dangdut. Selain itu liriknya yang dekat dengan masyarakat menjadi utama mengapa musik dangdut banyak disukai beberapa golongan masyarakat. Bak seperti hiburan murah di tengah transisi sebuah bangsa, dangdut lahir dengan membawa manifesto dangdut. Ialah musik untuk rakyat kecil, rakyat jelata, atau bahkan rakyat yang terpinggirkan secara sosial dan ekonomi.

Sampai disini harusnya kita sepakat bahwa musik dangdut adalah transformasi dari Irama Melayu yang sudah di kenal sebelumnya. Tidak heran, jika cengkok suara yang aduhay sampai suara suling yang sederhana menjadi bahan utama dalam penyajian musik dangdut. Kita bisa mendengar beberapa karya dari O. M Sinar Medan, O. M Gupusta Ria, hingga O. M Irama Agung yang dikenalkan oleh Said Effendi.

Bahkan jauh sebelum itu, mengutip dalam 100 Tahun Musik Indonesia (2006), Indonesia telah memiliki sosok yang tersohor sebagai penyanyi Melayu, seperti Emma Gangga, Hasnah Thahar, Djuhana Satar dan banyak lagi sosok yang berkecimpung di dunia Melayu.

 


FIND US ON

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.

 

Pin It on Pinterest