1


RIEN JAMAIN, BERBICARA TENTANG PANGGUNG PERTAMA, PERJALANAN BERMUSIKNYA, PERAN PEREMPUAN, SAMPAI KESAN HUMORIS YANG MELEKAT

Rien Jamain, personil Nasidaria saat ditemui dikediamannya ll Photo by Fakhri Hardianto

Adalah generasi pertama dari Nasidaria, grup musik qosidah modern yang sempat menyita perhatian publik dalam kurun tahun 2016-2017, melalui video musik mereka yang berselebaran didunia maya yang berlirik lelaki kampret (dengan judul Wajah Ayu Untuk Siapa).


 

Longlifemagz – Jika anda kelahiran era 70-an akhir sampai 90-an awal mungkin tidak asing dengan grup musik ini. Nomer-nomer hits mereka pastilah menemani telinga-telinga anda, seperti lagu “Kota Santri”, “Bom Nuklir”, “Jilbab Putih”, sampai “Perdamaian”. Atau setidaknya sekelibat terlintas mampir ditelinga, saat bulan puasa tiba.

Namun bagi para generasi millennial, Y, sampai mungkin Z, banyak juga tahu mereka dari unggahan-unggahan akun dimedia sosial, yang akhirnya menimbulkan rasa penasaran, mencari tahu siapa mereka, mendengarkan lagunya, sampai-sampai mandaulat diri jadi fans mereka.

Tampil di RRRC Festival tahun 2016 adalah diantara faktor lain kenapa mereka kembali gaung, terkhusus dianak muda generasi sekarang ini. “Alhamdulillah, saya banyak terimakasih sekali kepada remaja-remaja sekarang yang mau mendengarkan lagu qosidah,” ujar Rien dengan tegas.

Siang itu, Longlife Magazine mengunjungi rumah dari salah satu personil legenda musik grup qosidah Indonesia Nasidaria, Rien Jamain. Tepat dikediamannya daerah Gunungpati, Semarang yang cukup asri dengan pohon besar diperkarangan rumah. Cukup jauh dari pusat kota (kurang lebih 30 menit), suasana lingkungan dikediamannya terbilang tentram dan nyaman.

Busana muslim dengan warna yang cerah, lengkap dengan jilbabnya, terlihat datang menyambut kami. Kesan awal, bahwa ia akan tertutup, seadanya, dan serius hilang disaat disela perbincangan ada saja keluar canda dari mulut beliau, kadang tertawalah kami dibuatnya. “Alhamdulillah ini dari sananya mas.”, ujar Rien sembari tertawa. Ya, memang benar beliau itu ramah, terbuka, menyenangkan dan humoris.

Dalam asyiknya bercerita, ditengah waktu ia sempat terhenti saat ada seorang yang bernyayi didepan pintu kediamannya, pengamen pria dengan gitar kopongnya. Sejenak ia terdiam, merenung, dan berujar kepada kami dengan lirih : kadang saya kalau melihat pengamen, jadi inget waktu dulu (masa awal dimana Nasidaria tampil didepan umum, dan merintis mencari panggung).

Hingga kini beliau menjadi salah satu orang yang dituakan di Nasidaria, 43 Tahun aktif digrup qosidah modern itu. selama 42 tahun ia bermain dengan bass-nya, lengkap dengan gaya khasnya ala Rhoma Irama, mengganti pemain bass lamanya yang beralih ke guitar. Kini lebih banyak Rien menjadi MC dikala manggung, namun sesekali tetap bermain bass.

Selama 43 tahun tergabung dalam grup Nasidaria terlalu banyak moment yang beliau kenang dan berkesan yang diceritakan, mulai dari bagaimana ia belajar musik, bergaya saat bermain bass seperti Rhoma Irama yang merupakan idolanya dalam bermusik, peran perempuan, sampai dirinya yang menjadi tempat curhat bagi teman-temannya. Berikut adalah wawancara kami dengan beliau.

Awal temen-temen dan Ibu masuk Nasidaria gimana?

Nasidaria kan Awalnya asrama, kita pertama itu belajarnya seni membaca al-quran, lokasinya di Kauman 58 semarang. Terus yang pertama itu bapak (Alm) H. Muhammad Zein adalah penggagas sekaligus guru. Beliau ini kerjannya di DEPAG (Departemen Agama) dibagian seni membaca Al-Qur’an. Setiap jumat pagi kita membaca Al-Quran dengan lagu – lagu. Dan kemudian di kumpulkan oleh bapak dari berbagi daerah yang kira – kira anak itu bisa dibimbing dan diberikan pelajaran mengaji dengan lagu – lagu.

Setelah itu, banyak juga ternyata anak – anak yang menguasai itu. Bapak kan orangnya seni sekali. Bapak mencoba membimbing untuk menyanyikan lagu-lagu dari arab atau qasidahan. Karena kan setiap orang yang bisa ngaji pasti kan bisa nyanyi, tetapi orang yang nyanyi belum tentu bisa ngaji. Sampai akhirnya itu terus dibimbing dan dilatih oleh Bapak. Dan bisa.

Berarti posisisnya Bapak Zein yang mencari sendiri personil Nasidaria atau sebaliknya?

Bapak kan mengajar sampai kota dimana saja(khususnya jawa tengah). Karena bapak itu ngajar jadinya bapak tau potensi-potensi yang ada, bibit yang bisa membaca alquran lah. Akhirnya dikumpulkan di semarang (pondok di Kauman, Semarang) dan diajak bergabung dengan Nasidaria. Setelah jadi Nasidaria, kita dipanggung juga mengumpulkan Nasidaria untuk generasi berikutnya. Siapa yang mau ikut nasidaria boleh bergabung dengan kami. Syaratnya adalah perempuan, mempunyai akhlaq yang baik, usia sekian, kalau masalah wajah ya alhamdulillah. Kalau dulukan tidak diutamakan, yang penting itu mempunyai akhlaq yang baik. Karena akhlaq yang bagus itu bisa menjaga keimanan. Kalau anak muda sekarang kan wajah di dahulukan, tapi buat apa kalau punya wajah tapi gapunya kemampuan. Ya kita mencari juga langsung dites disitu.

Waktu konser pertama itu dimana Bu berarti?

Ya karna bapak itu orang DEPAG, jadinya kalau ada kegiatan yang dilangsungkan di DEPAG itu kita diundang. Acara – acara seperti pengajian atau bahkan perayaan hari besar agama Islam. Nah, kita juga sekalian promosi dari situ. Kita tidak mencari uang, tapi latian berani tampil didepan panggung. Kadang di Balaikota, Kantor Kementrian, di RRI dan sebagainya. Lama kelamaan kita diundang di alun – alun, di Masjid-Masjid besar, dan juga konteks yang lebih besar. Itu sekitar tahun 75-an akhir.

Waktu konser pertama itu umurnya berapa?

Sekitar umur 19 – 20

Waktu manggung pertama kali itu ada perasaan malu?

Yah pasti malu dong, makanya kalau di Kauman itu bener-bener latian panggung. Dulu tuh saya dikamar sampai latihan berdiri, bergaya-bergaya, latihan berbicara, bagaimana supaya orang bisa seneng. Cara berjalan juga saya latihan. Pakai dipan itu, saya sering latihan, Ya karna bapak (Bapak Zein) itu orangnya detail banget itu. Pokoknya waktu itu lucu-lucu prosesnya. Kita juga doa baca apa saja biar ga dredeg (grogi).

Dokumentasi Nasidaria, disaat mereka berkunjung tampil di Jerman.

Manggung yang paling berkesan dimana?

Beda-beda yaa, setiap tempat punya ciri khasnya sendiri-sendiri. Seperti di Malaysia misalnya, waktu kita manggung ya, gaboleh ada gerakan, hanya diam saja, karena tidak boleh. Jadi saya waktu ngebass itu, gabisa gaya gitu, heheh. Beda lagi waktu di Jerman. Orang Jerman itu gaperduli, ada musik seperti ini dijoged. Waktu itu selain lagu Nasidaria, kami selipkan juga lagu “Kopi Dangdut”. Wah lagu itu diulang-ulang, orang senengnya bukan main itu. Wah luar biasa waktu itu. Termaksud yang terakhir itu, RRRC fest dan Holy Market itu.

Ada perbedaan ga antara manggung waktu dulu sama yang sekarang? Ya kan waktu zaman dulu perempuan di angagap sebelah mata.

Kalau sekarang kan perempuan sudah diangkat derajatnya, emansipasi wanita. Nah ada lagunya juga tuh emansipasi wanita. Dulu kan perempuan masih dijadikan budak, pada zaman rosul juga begitu. Padahal wanita juga perannya berat, jangan diangagap enteng. Laki – laki yang mencari nafkah dan perempuan mengaturnya.

Kalau misalkan waktu bisa diulang di fase Nasidaria, Ibu pengen balik di waktu apa?

Wah itu ya. Waktu umur 25 tahun. Pokoknya itu lagi saat Masyaallah, Subhanallah seneng-senengnya itu di Nasidaria. Syuting sana, syuting sini. Baru berdiri Masjid Istiqomah yang di Ungaran itu, kita jadi poster. Trus di Bandungan, kemana saja waktu itu kita jalan-jalan, heheh. Pokoknya senengnya kita mau jadi apa, mau seperti apa, nanti kedepannya seperti apa, kita belum terpikirkan pada waktu itu. 20-25 tahun, itu pokoknya berkesanlah, heheh, belum mikir yang susah-susah.

Berarti waktu tahun itu, Nasidaria lagi terkenal-terkenalnya ya bu?

Iya itu, heheh. Kita dulu kalau main (manggung) dimana gitu, sorenya kita dikelilingkan (pawai) dahulu. “Jangan lupa saksikanlah Nasidaria”, seperti pakai pengeras suara. Itu dimana-mana seperti itu. Ya di Semarang, diluar kota juga. Apalagi di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, pasti seperti itu. Jadi kita awal datengnya, nanti pas sore kita sudah diarak pake mobil terbuka tuh, trus ada pamfletnya gitu Nasidaria Semarang gitu. Wah itu sudah ramai itu nanti yang datang.

Kalau diluar kesibukan ibu sebagai perempuan, aktif juga engga berkegiatan di luar nasidaria?

Oh iya pasti ikut berpartisipasi dalam bermasyarakat. Seperti pengajian dari RT, RW, di Gunungpati (daerah kediamannya) juga ada. Ya namanya kita bermasyarakat ya “ojo dumeh” jangan sombong intinya. Kamu masuk tv, cuman tidak mau bermasyarakat. Jadi tetap bermasyarakat. Kalo kita punya ilmu walau sedikit ya harus diamalkan. Jangan seperti, ibarat ”Pohon yang lebat daunnya, namun tidak berbuah,” .

Pendapat ibu untuk perempuan sekarang seperti apa?

Sekarang banyak ya pengajian-pengajian perempuan seperti itu. Dan banyak juga yang memakai jilbab. Insyallah berani memakai jilbab, berani mulai menata dirinya. Jangan lupa juga ditata keimanannya, jangan sampai sudah berjilbab, tapi Alhamdulillah sekarang sudah ada kemajuan ya, banyak yang sudah berjilbab. Sudah mulai ditanamkan pondasi-pondasi agama seperti itu. Berdakwah itu tidak mudah, kalau kita sudah bicarakan, harus bisa dijalankan juga. Insyaallah kita bisa menjalankan. Tidak terlalu fanatik, asalkan kita tidak melanggar norma-norma agama, dan bisa menjaga batasan-batasan norma.

Dari sembilan personil, yang paling deket, temen nongkrong, sampai temen curhat yang mana Bu?

Dulu mereka pada curhat semuanya ko ke saya, hehe.

Berarti jadi tempat curhat gitu bu?

Oh iya itu. Sampai sekarang tuh pada curhat. Belum lama mba Nunung kemari, habis cerita. mengundang juga anaknya mau ada pernikahan. Dulu saya juga gatau si, kenapa saya jadi tempat curahan temen-temen ya. Sampai sekarang mas masih banyak yang meminta pendapat gitu kalau ada apa-apa. Mungkin saya kalau ada yang cerita, cukup tahu gitu ya. Apa itu, tidak bocor ya seperti itu. Kalau saya bisa menulis itu bisa jadi berapa tumpuk buku itu, heheh. Karena memang pada seneng sama saya mungkin ya.

Mungkin karena ibu humoris kali bu?

Iya mungkin yaa, dulu ada yang bilang “ko waktu saya dirumah keinget bu Rien jadi tertawa sendiri”. Apa yang saya lakukan ko, pada senengnya, ya Alhamdulillah ini dari sananya mas, hehe. Dibalik kekurangan saya, Allah selalu memberi kelebihan dari sesuatunya. Mungkin itu.

 

Reporter : Dirham Rizaldi & Fakhri Hardianto

 

 

 

 

Selain project serabutan, mencoba peruntungan pula sebagai penulis lepas, buruh event, dan usaha kecil clothing.

FIND US ON

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.

 

Pin It on Pinterest