1


Yellow Jet Club Meluncurkan Video Klip High Maze

Yellow Jet Club luncurkan video klip High Maze (doc. Yellow Jet Club)

Video klip High Maze di luncurkan Yellow Jet Club di sela proses penggarapan debut album mereka.

 

Longlifemagz – Setelah dua single mereka turut meramaikan beberapa kompilasi berskala nasional, Music for Brighter Days 2017 dan Kompilasi RSDI 2018, Grup musik asal Semarang, Yellow Jet Club ingin tetap menjaga momentum dengan meluncurkan video klip High Maze di sela waktu proses penggarapan album perdana mereka. Video klip dari single ke-dua yang dirilis Oktober lalu ini sudah dapat diakses di kanal YouTube mereka mulai Selasa (26/6/18).

Video High Maze sendiri merupakan manifestasi dari lirik lagu tersebut yang bercerita tentang seseorang yang tersesat dalam angan-angan dan ambisi untuk mencapai kejayaan. Audiens seakan diajak untuk berpetualang dalam versi hiperbola nan absurd dari sebuah ungkapan “Gunung kan kudaki lautan kuseberangi.

Video ini digarap dalam bentuk sebuah kolase yang dirangkai dari objek-objek yang diunduh bebas dari internet untuk menciptakan kesan “dunia” familiar yang mudah diakses namun juga semu dan membingungkan (random) pada saat yang bersamaan. Seperti yang di ungkap Fatutchorofi yang membantu pengarahan video animasi yang di kerjakan oleh Iga Pradana, vocalis Yellow Jet Club: “Dengan judul High Maze, tidak sepatutnya video klip ini menjadi sajian yang masuk akal”, tutur Fatchurofi di sela waktu.

Bagi anda yang ingin merasakan sensasinya, silakan kenakan sabuk pengaman dan lepas landas menuju perjalanan absurd High Maze melalui video klip berikut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

RILIS LAGU “GADIS PEMBENCI HUJAN”, WEEKENDERS AGOGO KIAN BERIKAN KEJUTAN

Photo by Doc. Weekenders Agogo

Ode Patah Hati bagi para pengagum dan pemuja wanita.

Longlifemagz – Memasuki awal 2018, Weekenders Agogo merilis single dan klip video berjudul “Gadis Pembenci Hujan”. Lagu ini merupakan amunisi keempat yang dilontarkan oleh grup asal Semarang sejak terbentuk pada pertengahan 2016 lalu.

Hingga kini grup yang mengaku memainkan bunyi-bunyian ala nu school jamaican tersebut telah merilis single sekaligus klip video yang masing-masing berjudul “Aku, Kau, & Pagi”, “Senyumkan Dunia”, “Stasiun Kota” (bonus track), dan yang terakhir “Gadis Pembenci Hujan”.

Weekenders Agogo yang diperkuat Adit (vokal), Ijan dan Farras (rap), Kun (gitar), Lutfan (bas), Benjis (kibor), Jomes (trumpet), Refi (saxofon), Cipo (trombon), dan Bayu (dram) pun memiliki konsep tersendiri sebelum benar-benar merilis album penuh atau album mini. Padahal, sebenarnya empat lagu saja sudah cukup bagi Weekenders Agogo jika ingin merilis album (mini) perdana. Namun, tentu mereka punya alasan lain di balik pemberlakuan konsep tersebut.

“Kami punya konsep, setiap tiga bulan sekali merilis single sekaligus klip videonya. Nah, karena salah perhitungan, ‘Stasiun Kota’ kami jadikan bonus saja, agar ‘Gadis Pembenci Hujan’ ini bisa dirilis pada awal tahun,” ujar Adit.

Menurut mereka, “Gadis Pembenci Hujan” adalah ode patah hati seperti halnya lagu-lagu cinta yang ringan dan mudah ditebak alurnya. Melalui lagu ini, Weekenders Agogo bercerita tentang seorang gadis yang mengalami trauma berlatar belakang cinta. “Lalu ya begitulah, setiap ada laki-laki dengan gestur yang tampak ingin mendekati atau semacamnya, gadis itu justru menutup diri,” tambah Bayu.

Namun, tak ingin melulu menyuguhkan hal-hal cengeng di dalam “Gadis Pembenci Hujan”, Weekenders Agogo pun menyelipkan pesan ke dalam bridge lagu. Bagi mereka—tentunya semua orang—cinta merupakan hal yang patut dirasakan oleh segenap makhluk hidup. “Kenapa sih, kita—misalkan mengalami trauma sejenis—nggak bisa berdamai dengan masa lalu? Ya, meskipun sulit keluar dari trauma, bukankah cinta merupakan anugerah? Kita pun berhak mendapatkannya,” kata Adit.

 

 

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

GUNS RILIS ALBUM PERTAMANYA “TELIEVISION”

doc. GUNS

Debut Album Rock Ugal-Ugalan dari Malang.

 

Longlifemagz – Setelah 2 tahun berkarya, Guns akhirnya merilis album pertamanya yang bertajuk Telievision. Album yang berisikan 8 lagu ini, kembali menggambarkan sisi nyeleneh dari para personil Guns. Alif pada vokal, Refo dan Farhan di gitar, Eldy di bass dan Eben pada drum.

Nama Telievision yang merupakan plesetan dari televisi ini menjadi pesan yang ingin disampaikan kepada para pendengarnya. Berawal dari kekesalan atas pemberitaan televisi yang simpang siur dan kerap kali menyebarkan isu kebohongan, dan juga menciptakan keresahan tersendiri di mata kelompok sulit diatur asal Malang ini. Digambarkan lewat musik rock yang tetap konsisten ugal-ugalan dengan mengandalkan ritem musik ala punk rock dan melodi rock yang kental dicampurkan hingga terdengar seperti campuran antara era 70an hingga 90an. Lirik lagu yang didasari pengalaman dan keresahan sehari-hari para personil Guns, mengisi 8 track yang ada di album ini. Beberapa artwork simpel juga dimasukkan sebagai pemanis untuk menjaga kenikmatannya.

Baca : Siapkan Album Mini, Provokata Rilis “Manusia x Tuhan”

Guns mengemas album Telievision secara indie dengan produksi secara keseluruhan dilakukan secara mandiri oleh pihak band dan timnya, mulai dari proses rekaman, mixing dan mastering, hingga produksi album dan merchandise dilakukan langsung di kota asal band ini, Malang.

Album ini melengkapi 3 single yang telah rilis lebih dahulu, yakni “Melawan Arus”, “Roda Dua” dan “Jennytalia”. 5 lagu baru yang ada di album ini dibuat untuk mendobrak industry musik lokal yang masih terpusat pada kota-kota besar. Telievision siap menjadi peluru bagi Guns untuk dimuntahkan ke industri musik nasional.

Baca : Bimo Aryo (Elegi), Menutup Akhir Tahun Yang Sendu Dengan Manis

Perlawanan terhadap kebohongan para oknum pertelevisian juga ditunjukkan lewat aksi panggung Guns dengan membawa TV keatas panggung tanpa menyalakan channel TV apapun dan hanya membiarkannya menyala agar nyentrik di mata penonton. Dengan gaya khas urakan para personil melengkapi pertunjukan musik Guns yang tak jarang dibumbui dengan gimmick membanting gitar di akhir lagu yang memancing teriakan antusias para penonton.

Album Telievision akan dipasarkan secara nasional melalui teknologi media sosial dan digital serta rilisan fisik CD untuk mempermudah para penikmat musik Indonesia.

 

 

Siapkan Album Mini, Provokata Rilis “Manusia X Tuhan”

Jalan pembuka berupa mini album yang akan dirilis dalam waktu dekat.

 

Longlifemagz – Setelah perilisan album Catatan dari Sudut Kota pada 2014 lalu, pundi karya yang dimiliki Provokata dapat dikatakan kering. Berdasarkan latar belakang itu, mereka pun berupaya mengumpulkan satu demi satu lagu untuk menindaklanjuti proses kreatif selama berada di dalam studio. Pada akhir 2015, Provokata merekam dua lagu yang diproyeksikan untuk album kedua, berjudul “Vox Acta Diurna, Vox Dei” dan “Silenus (27:2)”. Namun, dua lagu itu malah termaktub dalam album kompilasi And No One Can Prevent This Rage to Born! (Stonedzombies, 2016).

Sindikat pseudo-grindcore asal Semarang yang beranggotakan Galang Aji Putro (vokal), Gagas Agung Sedayu (gitar), Vivid Wicaksono (bass), dan Rudy Kusdiyanto (dram) itu pun tampak “terganggu” dengan situasi yang mereka ciptakan sendiri. Pada akhir 2016, mereka melanjutkan sesi perekaman untuk proyek album mini secara nyata. Kabarnya, proyek album mini itu akan dirilis menjelang akhir 2017. Sebagai pemanasan, Provokata memperkenalkan salah satu lagu yang nantinya terdapat dalam album mini itu, berjudul “Manusia X Tuhan”. Terhitung sejak Minggu (19/11/2017) Provokata resmi meluncurkan lagu itu melalui kanal Bandcamp mereka.

“Manusia X Tuhan” merupakan representasi sebuah klaim terhadap kebenaran hakiki. Provokata memandang adanya upaya dan gelagat kelompok masyarakat hari ini yang berusaha keras memaksakan kebenaran sesuai dengan perspektif satu pihak saja. “Kami berusaha memahami bahwa segala keyakinan merupakan pengalaman pribadi yang tak harus dipandang dari mata yang sama,” ujar Galang.

Bagi mereka, ada pertanyaan arkais yang pernah diajukan, bahkan setua langit. “Lebih dahulu mana dalam proses penciptaan; siapa menciptakan siapa? Lalu, kepada siapa doa-doa yang terlantun itu ditujukan; kepada kebenaran absolut ataukah kepada pembenaran terhadap ego manusia?” Gagas menimpali. Segala kelam dan keresahan tersebut—kata-kata yang kemudian dirakit merupa serapah—dirapal Provokata di sepanjang arteri dan vena sehingga mengotori pembuluh-pembuluh itu. (*)

 

Photo by doc. Provokata

 

 

 

 

 

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

Unit Rapcore Bandung Resmi Rilis Album Perdana

Setelah cukup lama tertunda, album perdana ini akhirnya resmi keluar.

 

 

Longlifemagz – Trio asal Bandung bernama Weelee telah mengambil keputusan yang sangat berani dalam perjalanan musiknya. Saat ini, unit rapcore asal Bandung ini memantapkan keputusan untuk membuat sebuah album dengan label rekaman yang menaungi mereka sekarang, yaitu Omegawave Record. Mereka pun baru saja merampungkan album perdana yang bertajuk “Gray” tersebut dan merilisnya pada 10 November 2017 kemarin.

Sebenarnya, penggarapan materi “Grey” sudah dimulai sejak awal tahun 2016 dan akan di rilis di tahun yang sama. Namun, karena ada satu dan lain hal, maka penggarapan album ini pun menjadi mundur dan di sela-sela waktu penggarapan album mereka pun sempat merilis single pembuka untuk album mereka yang berjudul “General Party” pada 4 September tahun lalu. Tak lama berselang, pada awal tahun ini, single kedua yang berjudul “Eyesitation” resmi diluncurkan bersamaan dengan video klip dari lagu tersebut. Kemudian, pada bulan Juli kemarin, video klip untuk lagu “Talk” juga turut dirilis.

Pemilihan nama “Gray” sebagai judul album didasari dari sudut pandang dalam hal apapun, mereka mencoba menganalogikan dengan orang-orang yang sedang mengambil gambar seekor gajah dalam cover artwork garapan Jarwo Jear ini yang menurut mereka semuanya sama memiliki muatan kebenaran seekor gajah meski dari sudut yang berbeda-beda.

Mereka yang mengambil gambar seekor gajah tersebut akan puas dengan tiap foto yang mereka abadikan. Akan tetapi, mereka tak menyadari bahwa mereka hanya melihat gajah tersebut dari satu sisi saja dan itu justru membuat mereka tak bias melihat gajah tersebut dengan utuh. Lebih lanjut, pihak band menyatakan sudut padang adalah hal yang menurut mereka tak bisa dihitamkan maupun diputihkan. Tidak hitam tidak putih tapi mencoba menjadi abu-abu. Tidak membela tidak membiarkan tapi mencoba untuk mempertimbangkan.

Mereka menyadari bahwa jarak kita semua sebagai manusia dengan kebenaran itu begitu jauhnya. Dalam kitab suci pun telah dituliskan “Tunjukkanlah kami jalan yang benar”. Maka berangkat dari pemikiran-pemikiran tersebut, akar ataupun fondasi pada lagu-lagu di album ini tercipta. Dalam album ini, di setiap lagunya, Weelee mencoba untuk berdamai dengan diri sendiri, berdamai atas hal yang telah dilakukan, mempertanyakan apakah mereka semua itu hitam, putih atau abu-abu.

Dalam proses pembuatan album, Delano (bass/vokal), Boy (gitar/vokal) dan Tama (drum) menggarapnya di sebuah studio rumahan bernama Omegawave Record, berlokasi di Bandung. Mereka juga dibantu oleh Japs SEA (Saxa Et Aqua) untuk mengisi gitar. Untuk lebih lanjut mengenai mereka, bisa kalian ikuti medsos mereka seperti yang tertera di bawah ini.

 

Instagram : @weeleeofficial

Facebook :Weelee Official

Twitter : @weeleeofficial

Bandcamp :weeleeofficial.bandcamp.com

Youtube :Weelee Official

 

Text by Redaksi

Photo by doc. Weelee

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

FIND US ON

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.

 

Pin It on Pinterest