1


Perjalanan awal Industri Musik Indoensia

Doc by Thecrafters.co

“….. hidup itu pendek, seni itu ndak panjang-panjang amat, apalagi cuma ben-benan. tapi cita-cita baik akan jadi warisan yang tak terkalahkan, sekalipun oleh waktu.” @faridstevy


Longlifemagz  Perjalanan panjang industri musik indonesia yang dimulai di awal abad ke-20 dalam kemasan piringan hitam, awalnya menjadi sangat marak justru setelah dikembangkan oleh para pembajak dalam format pita kaset. Lantas, perkembangan terus berlanjut hingga proses digitalisasi meliputi proses video di dalamnya.

Pada awalnya, peralatan rekaman yang dibawa orang-orang belanda pada awal abad ke-20 merupakan cikal bakal lahirnya industri musik di Indonesia. Perusahaan rekaman di Indonesia yang memproduksi piringan hitam dimulai dari tahun 1950-an hingga 1970-an. Dalam masa tersebut, tercatat ada lima perusahaan yang memproduksi piringan hitam, diantaranya Irama, Dimita, Lokananta, Remaco dan Metropolitan.

  1. Irama (The Indonesian Music Company)

Sujoso Karsono atau yang sering dipanggil Mas Yos, mendirikan industri musik dengan nama label Irama (The Indonesia Music Company Limited). Didirikan pada sekitaran tahun 1951, perusahan ini bekerja sama dengan beberapa penyanyi, di antaranya Hasnah Tahar dan Munif Bahasuan penyanyi bergenre melayu, ada juga Minang Oslan Husein penyanyi dengan gaya rock’n roll, Rachmat Kartolo dengan orkes keroncong, tidak luput juga Bing Selamet sebagai salah satu penyanyi pop pada masa itu dan yang terakhir Kus Bersaudara.

Label Irama memang merekam semua jenis musik, mulai dari jazz, rock ‘n roll, pop, keroncong, melayu, hingga gambang kromong. Kemudian, Irama pun memiliki pabrik Piringan Hitam sendiri yang kemudian mencantumkan kode huruf di setiap produksinya. Misalnya seperti K untuk (Keroncong), M untuk (Melayu), G untuk (Gambang), DB untuk (Bali) dan masih banyak lagi.

Doc Irama Nusantara

  1. Dimita 

Perusahaan yang beroprasi pada tahun 1950-an hingga 1970-an diawali dari perjalanan panjang Mohammad Sidik Tamimi. Pria yang dikenal dengan nama Dick Tamimi ini memiliki banyak kesamaan dengan Mas Yos dalam bermusik, sebagai pensiunan Angkatan Udara Republik Indonesi (AU-RI) memanfaatkan masa pensiunnya sebagai sound enginer  di studio musik milik Mas Yos hingga awal tahun 1954 beliau mendirikan Dimita Moulding Industri yang membawahi dua label sekaligus yaitu Mesra dan Melody.

Beberapa musisi ternama dikontrak perusahaan rekaman miliknya, mulai dari Koes Bersaudara yang pindah dari Label Irama dan bermetamorfosis menjadi Koes Plus di tahun 1969, Panbers, Dara Puspita, Diselina, Medenasz, The Brims, Paramour, Man’s Group, Diah Iskandar, Ernie Djohan, Elly Kasim, Sandra Sanger, Rossy hingga Benjamin Sueb.

BACA : Raja Dangdut, Polemik Dakwah, Musik, dan Goyang

  1. Remaco (Republic Manufacturing Company Limited)

Remaco (Republic manufacturing company limited) yang didirikan oleh pasangan suami istri Moestari dan Titin Soemarni pada tahun 1954 ini mempunyai visi idealisme yang tinggi terhadap musik keroncong. Terlihat padaada masa kepemimpinan pasangan tersebut, remaco hanya memproduksi piringan hitam dengan lagu-lagu keroncong dan hawaian. Namun, ketika terjadi pergantian kepemimpinan di tangan Eugene Timothy, Remaco mulai merekam jenis musik lain yang berkembang sesuai selera pasar. Beberapa musisi popular pernah berkerja sama dengan peruashaan tersebut, diantaranta Broery Pesonalima, Lilis Suryani, Ida Royani, Benyamin S, Rhoma Irama, Koes Plus dan sederet nama beken pada masa itu.

Dalam perkembangannya, Remaco berhasil menjadi perusahan rekaman terbesar di Indonesia pada era 1970-an hingga kedatangan perusahan rekaman Lokananta yang digagas oleh pemerintah pada masa tersebut.

  1. Lokananta

Di tahun 1955, pemerintah menggagas perusaahan rekaman yang diberi nama Lokananta dan berkedudukan di Solo. Tugas utama perusaahan rekaman ini adalah mendokumentasikan berbagai program acara di Radio Republik Indonesia (RII) yang dibuat dalam bentuk pita reel maupun piringan hitam. Berawal dari usulan Kepala Kerja Jawatan RRI Maladi kepada Soekarno, pemerintahan mendirikan perusahaan Lokananta dan diresmikan sebagai perusahaan milik negara pada tahun 1961 melalui PP NO. 215/1961.

Doc Irama Nusantara

Pada awalnya, Lokananta digunakan sebagai perusahan piringan hitam untuk kepentingan siaran di studio radio RII se-Indonesia yang berjumlah sekitar 49 Studio. Salah satu penyanyi popular yang melakukan rekaman di perusahan ini adalah Waljinah, sebagai informasi Waljinah adalah penyanyi keroncong yang bersinar sejak memenangi kontes Ratu Kembang Kacang di Solo pada tahun 1938. Selain itu, nama-nama seperti Titiek Puspa, Gesang, Christine Kabane, Bob Tutupoly, A. Kadir, A. Rafiq dan masih banyak lagi lainnya termasuk juga Gendhing Karawitan yang merupakan gubahan dari dalang ternama Ki Narto Sabdo serta Karawitan dari Jawa Surakarta dan Yogyakarta, bahkan juga rekaman kesenian Ludruk.

  1. Metropolitan

Perusahan piringan hitam ini didirikan pada tahun 1955 oleh Djamin Wijaya atau yang akrab dipanggil Amin Tjengli. Perjalanan perusahan tersebut hanya sebagai produsen piringan gitam dari lagu-lagu yang direkam oleh studio Mutaira, Acanary, Fontana, dan sederet nama studio yang lain. Berkat kerja kerasnya, Amin Widjaja berhasil mendirikan studio rekaman di tahun 1971 yang terletak di Pancoran dan diberi nama Metropolitan Studio. Perkembangan bisnis studio rekamannya semakin pesat dan label Metropolitan pun diubah menjadi Musica Studio yang sudah sangat di kenal hingga saat ini.

Memasuki akhir 1960-an, industri musik Nasional mulai bergeser dari produksi piringan hitam menjadi pita kaset. Produksi audio-kaset pertama kali di dunia berasal dari Jerman Barat ytang kenalkan oleh Philips pada tahun 1963. Setelah itu, kaset dan alat pemutarnya (tape) mudah ditemui di toko-toko elektronik. Jumlah penikmat musik di Indonesia terus mengalami peningkatan hingga menyebabkkan peningkatan produksi kaset sekitar sepuluh kali lipat pada tahun 1980-an.

Seiring berjalannya waktu, perusahan – perusahan industri musik mengalami pasang surut dalam proses produksinya. Lahirnya perusahaan-perusahan baru memaksa perusahan lama harus gulung tikar karena kalah bersaing. Akan tetapi, beberapa diantaranya masih bisa bertahan, bahkan mampu menempatkan diri sebagai perusahaan rekaman elit pada saat itu, seperti Lokananta dan Metropolitan yang berganti nama menjadi Musica Studio’s pada tahun 1971. Selanjutnya industri musik nasional semakin berkembang sehingga menciptakan beberapa nama seperti Aquarius Musikindo, Sony Musik Entertaiment, Warner Musik Indonesia, dan Logiss Record.

BACA : 20 Tahun Reformasi: Beberapa Karya Yang Dibelenggu

Referensi :
100 Tahun musik Indonesia oleh Dennie Sakrie
Bersenandung dalam Politik oleh Yopi Kristanto


 

Nasionalisme Negara Dunia Ketiga

Photo by doc. Antara

Nasionalisme Eropa lahir dari akumulasi modal, semangatnya liberal Liberte, Egalite and Fraternite, Nasionalisme Indonesia lahir dari akumulasi penderitaan, kemiskinan dan penjajahan, semangatnya keadilan sosial. Kemerdekaan adalah semangat mengikis habis kesenjangan, Dirgahayu Republik Indonesia!


 

Longlifemagz – Mengupas arti nasionalisme Indonesia tidak bisa lepas dari kondisi pra kemerdekaan, memahami kondisi politik Indonesia masa lalu terdapat unsur atau faktor yang penting. Kita tahu, bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak takut untuk belajar dari lembar-lembar sejarahnya sendiri, betapa pun hitam atau putih lembar-lembar tersebut. Beberapa interpretasi dilebih-lebihkan atau dipergunakan secara serampangan dan pemikiran secara spekulatif tidak akan membawa kita lebih maju setapak pun dalam menerangkan aspek kausal nasionalisme.

Sifat-sifat pokok dari politik kolonial Belanda dapat dicari dengan menggunakan analisis lain dan dengan jalan membandingkan dengan imperalisme negara Eropa lainnya. Balanda membutuhkan hasil-hasil daerah tropis dan mendapatkannya harus secara pemungutan upeti. Hal ini diperkuat karena awal abad ke- 19 negeri Belanda masih bersifat agraris dan dapat di dapat digolongkan dalam kapitalis muda, belum terdapat industri besar (multinasional). Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan Inggris di tanah jajahan mereka menjual kain tenun, kain-kain ini sebagai hasil revolusi Industri. Pada titik awal ini sudah tergambar bahwa fungsi tanah-tanah jajahan itu berakar pada perbedaan kondisi ekonomis negara induk.

Depresi ekonomi mempengaruhi politik Belanda pada umumnya dan politik kolonialisme pada khususnya, tendensi tersebut menggambarkan determinisme ekonomis basis struktur mempengaruhi suprastruktur. Kondisi ekonomi Belanda semakin di perparah sebagai akibat dari Perang Napoleon 1803 dan Perang Diponegoro 1825 yang menguras darah, dana dan air mata. Akhirnya pemerintah Belanda mengeluarkan kebijakan bahwa daerah-daerah taklukan harus memberi keuntungan material bagi Belanda melalui sistem cultuurstelsel.

Tak heran-heran kita selalu bertanya bagaimana bisa suatu negara menjajah lebih dari 3 Abad yang secara geografis terletak di benua yang berbeda berjarak 28.000 kilometer, prajurit perang tidak sebanyak pribumi nusantara dan musuh tidak mengenal semua medan peperangan. Pada periode itu di Hindia Belanda umumnya dan Jawa khususnya masih terdapat kerajaan yang memiliki prajurit terlatih dan alat perang yang mumpuni bisa dengan mudah dikendalikan oleh satu kekuatan yang semasa itu belum menjadi negara adidaya.

Pemerintah Belanda dalam menjalankan sistem rezim kolonial kekuasaannya di Hindia Belanda struktur kekuasaannya bersifat hierarkis feodal yang bertulang punggungkan pegawai binnenlands bestuur (BB) atau pangreh praja. Sehingga timbullah semacam enfeodalisasi yang meletakan elit pribumi di jabatan-jabatan administrasi dan keamanaan yang di kontrol langsung oleh Gubernur Jendral, kondisi yang non-asimilatif ini membuat sikap elit birokrasi condong konservatisme dan gaya hidup yang terbelenggu tradisionalisme. Pola konsumsi masyarakat tradisional : keserbamewahan, kekayaan sebagai lambang status, hubungan masyarakat berdasarkan perasaan dan homogen.

Struktur kekuasaan yang diterapkan oleh Belanda telah menciptakan hierarki ketat yang menjadi perintah dari atas ke bawah dengan cara menempatkan elit-elit pribumi di posisi strategis. Dalam pada itu politik Belanda mendorong mereka untuk mempertahankan gaya hidup tradisional berikut seni, sastra, dan filsafatnya. Sartono menyatakan bahwa pemerintah Hindia menghadapi proses enfeodalisme yang penuh ambivalensi, ibaratnya berdiri dengan satu kaki dalam alam tradisional dengan paternalisme, otoritarianisme dan feodalismenya, dengan kaki yang satunya dalam dunia modern dengan tatanan birokratis (2014; 100).

Proses ambivalensi tersebut merupakan hambatan bagi kelompok priyayi profesional atau kaum terpelajar untuk memegang peranan sebagai inovator perubahan sosial yang disebabkan karakter feodal yang belum tuntas serta politik kolonial mengutamakan keamanan dan ketertiban (rustand orde), hak istimewa (exorbitante) kekuasaan yang sewenang-wenang. Kebijakan tersebut berhasil mengubah paradigmamasyarakat bahwa politik itu urusannya wong gede (penguasa). Rakyat benar-benar diarahkan hanya untuk bekerja, berproduksi dan tidak memiliki peran lagi dalam politik (Lane, 2007;42-43).

Situasi kolonial merupakan tantangan bagi tanah jajahan untuk mengkonsentrasikan aktivitas kolektif untuk mempertahankan diri dan mengubah situasi. Hal ini menyebabkan timbulnya kesadaran, perasaan dan kehendak nasional. Nasionalisme Indonesia seperti halnya negara-negara dunia ketiga lainnya mempunyai basis historis pada kolonialisme , maka sifat anti kolonialisme (Baca : Nasionalisme) menjadi bagian utama.

Semangat nasional harus di pandang sebagai suatu proses sosial, sekali muncul tidak dapat di cegah lagi dan hanya akan terhenti setelah kolonialisme lenyap. Konsep nasionalisme rakyat Indonesia dapat dilihat melalui 3 aspek yaitu : aspek kognitif yang mendasarkan pada kondisi yang terjadi (penjajahan), aspek afektif yang mendasarkan pada reaksi-reaksi emosional dan aspek orientasi yang mendasarkan pada tujuan bersama, seperti halnya yang tertuang dalam sumpah pemuda ‘satu nusa, satu bangsa dan satu bangsa’ . Ringkasnya sifat-sifat nasionalisme dunia ketiga berdasar pada : solidaritas, pluralisme, kesadaran kondisi sosial serta dinamis. Penderitaan yang sama pada waktu kolonialisme, melahirkan keinginan bersama menciptakan lingkungan hidup yang bebas.


FIND US ON

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.

 

Pin It on Pinterest