1


Riuh Rendah Senjakala Pilkada

Photo doc GeMusik Magazine

“I hate protest songs, but some songs do make themselves clear” -Bob Dylan


Longlifemagz  Di tengah riuh rendah kampanye Pilkada  seperti sekarang, saya sebenernya ingin menulis tentang hubungan musik dan politik di Indonesia. Harus diakui yang pertama saya ingat adalah ketika mantan Presiden Yudhoyono merilis album musik pop nan sendu, menurut saya itu adalah pelampiasan yang sangat kreatif bagi seorang Presiden. Kedua, kita harus berterimakasih kepada era pemerintahan Joko Widodo karena sudah membentuk Elek Yo Band, buat kalian para amoeba, mereka adalah group musik bentukan sejumlah menteri dalam kabinet kerja pemerintahan Jokowi. Memeriahkan festival sekelas Java Jazz merupakan sesuatu pencapaian yang diluar nalar.

Tapi sebenarnya kajian antara musik dengan politik bisa jadi sangat luas ketika melihat dari berbagai aspek. Mungkin dari kita sebagian bertanya “mengapa dangdut menjadi pilihan utama ketika kampanye?” atau sebagian lagi bertanya “bagaimana efek rumah kaca dan bangku taman mempunyai kebiasan berfikir sebanding lurus dengan kegiatan kreatif?”. Tapi menurut saya yang lebih menarik adalah bagaimana musik menjadi fungsi orasi yang mampu diterima dengan mudah, atau bahkan menulis musik menjadi kegiatan untuk men-direct pemikiran kita kedalam hal – hal yang berbau poitis.

BACA : OM PMR, USIA BOLEH TUA, SEMANGAT BERKARYA TETAP MEMBARA

Pilihan itu akan secara langsung jatuh kepada sosok legendaris Iwan Fals, yang bertahun – bertahun lamanya telah mendalami berbagai macam kritik melaui musik. Iwan fals pertama kali datang dengan strategi yang sangat minimalis. Sama seperti Bob Dylan, hanya datang dengan gitar akustik. Sama seperti Dylan, iwan fals menjadi elektrik hanya di pertengahan karir bermusik. Sama seperti Dylan, kekuatan Iwan Fals ada di pusi – puisi dengan kekutan kata – kata yang sulit dicari tandingannya sampai pada akhir decade 1990-an. Tapi saya juga tidak pernah tahu apakah Iwan Fals sedekat itu dengan Dylan?

Seharusnya kita tidak pernah meragukan kualitas Iwan Fals dalam menulis musik. Iwan Fals muncul diawal decade 1980-an dengan cara bertutur yang intim, dan cara baru ini lah yang kemudian berhasil memsona jutaan pengikut yang kemudian mengikuti kemanapun Iwan Pergi, Bahkan ketika dia sudah meninggalkan tradisi folk dan memainkan prog rock dan “rock puisi” bersama Setiawan Djodi dan Rendra, misalnya.

Saya sangat antusias pada Iwan Fals, namun rasa antusias yang lebih besar hanya layak saya berikan untuk sesorang musisi yang sangat kritis asal kota Malang. Tidak kurang ada enam album yang sudah dirilis sejak tahun 2012, meskipun belum mencapai popularitas seperti yang diraih oleh Iwan Fals. Penyanyi yang saya maksud adalah Muhammad Iksan atau dikenal dengan Iksan Skuter, solois melankolis dan banyak menyuarakan kegelisahan (social commentary) dalam setiap album – albumnya.

BACA : THE POPO, MERANGKUM ISU – ISU SOSIAL DALAM SEBUAH KARYA

Sama sepeti Bob Dylan, vocal Iksan Skuter tidaklah bagus, suara baritone yang berat dan kadang sengau dan menyanyi lebih terdengar seperti membaca puisi atau berbagi cerita. Belum lagi aransemen musik yang rata – rata sangat sederhana dan minimalis. Di tiga album pertama, Matahari, Benderang Terang, Folk Populi Folk Dei, musik yang ber-dendang adalah petikan gitar sederhana, kadang diselingi suara – suara asli suasana yang asik namun tetap menggelitik. Contoh itu ada di lagu “Partai Anjing” dari album benderang terang.

Photo doc Warning Magazine

Menurut saya, ketiga album ini memilik arti penting memang bukan karena musiknya. Namun lebih karena cerita yang kuat yang digunakan Iksan Skuter sebagai lirik. Di album Matahari, kegelisahan – kegelisahan iksan yang dituangkan dalam lagunya sangat dapat diterima dengan cepat. Bahkan musik sebagai fungsi orasi juga dirasa sangat mendapatkan feel-nya. Dilagu “Cari Pemimpin” dalam album Matahari juga dapat membawa kita kedalam perenungan  kegelishan, semangat dan juga harapan tentang sosok pemimpin yang ideal namun tetap kharimastik.

Terlalu sulit untuk menerka apa yang dibaca oleh Iksan Skuter. Tetapi ada satu hal yang pasti bahwa ia tidak pernah melupakan slogan bahwa musik yang ia bawakakan selalu berasal suara dari rakyat. Di Folk Populi Folk Dei misalnya ada lagu yang berjudul “Ku Kira Jakarta”, disitu hanya ada gitar akustik. Akan tetapi yang kita dengar dalam lagu itu adalah simponi liris tentang proses urbanisasi yang sebenarnya tidak bisa menjamin kesuksesan semua profesi.

BACA : NISKALA, MELAWAN ARUS DENGAN POST ROCK INSTRUMENTAL

Tapi,dengan bahasa yang terlalu jujur cenderung frontal, iksan tidak bisa di sejajarkan jajaran folk sentimentil katakanlah Tigapagi, Bandaneira, atau bahkan Jason ranti yang banyak menggunakan kata – kata putis namun tetap satir.

Ketika Jason Ranti X Alan Soebakir (Sinema Pinggiran) merilis video musik yang berjudul Anggurman, sasaran keritik jelas ditujukan kepada aktor politik yang pastinya mabuk kekuasaan, tidak tanpa ampun. Gokil keracunan kebanyakan kekuasan kata Jeje –panggilan akrab Jason Ranti–. Anggurman seolah-olah membawa perenungan kita terhadap sifat apatis, namun sisi lain kita menjadi sangat keritis namun tetap satir. Jika pembawaan Jeje terlalu gelap dan desturktif, maka Iksan Skuter punya optimisme dalam memahami fenomena sosial. Bahkan, terdengar kabar bahwa keduanya akan berkolaborasi dalam sebuah proyek “Bahaya Laten”.

Riuh rendah memasuki tahun politik seperti ini,saya hampir tidak pernah bosan mendengarkan beberapa album dari Iksan. Setidaknya, lagu – lagu dari iksan masih relevan dalam kondisi sosial-politik sekarang.

Setidaknya juga, dengan adanya Iwan Fals, Iksan Skuter, Jason Ranti, atau beberapa musisi yang melabeli dirinya sebagai penggiat protest song, kita (saya terutama) tidak perlulu terlalu tegang dalam menyikapi kondisi politik dalam negeri. Harapan – harapan yang selalu dikumandangkan melalui kampanye, sebenarnya bisa kita nikmati melalu musik. Anjay…

7 LAGU CINTA DENGAN MOMENT GOMBAL ANTI MAINSTREAM

Ilustration by voodoo prophet, DeviantArt

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, Bak Sapardi Djoko.

 

Longlifemagz – Cinta, cinta, dan cinta, perasaaan yang kadang sulit dimengerti bagi setiap makhluk hidup. Kambing , kuda, kelabang, bayem, toge, sampai kecambah mungkin juga turut kebingungan untuk mendefinisikannya. Terlebih kita manusia yang telah disepakati bersama atas seijin Tuhan bahwa makhluk yang paling seksi sempurna. Sama-sama bingung, sama-sama sulit untuk mengerti.

Begitupun perspekti cinta yang dituangkan dalam sebuah lagu. Banyak musisi yang menjelaskan atau menarasikan cinta dalam lirik puitis, gombal, berlebihan dan terkesan khayal tidak masuk akal. Seperti Band Pop (Melayu), Setia Band dalam liriknya “Belahlah dada ini/ Tuk buktikan kepadamu//, Rasa ini jiwa ini/ Bertahan untukmu//”. Atau Nidji ”Selama mataku memandang/ hanya kamu cinta matiku//”.

Banyak ragam perspektif, banyak ragam pula menarasikan si Cinta ini. Namun bila dalam lagu saja cinta banyak dipandang berlebihan, gombal maksimal, dan sampai terkesan mengajak seseorang untuk menjadi psikopat cinta, rela dada, jantungnya dibelah untuk membuktikan cinta kepada sang pasangan. Lalu dimana bentuk cinta yang kata Sapardi Djoko berujar mencinta itu dengan sederhana.

Berikut saya rangkum lagu yang sarat akan moment gombal, namun dengan perspektif narasi yang berbeda, sebagai berikut…

 

  1. The Upstairs – Matraman

The Upstairs menggambarkan cinta yang berbeda dalam narasi liriknya. Ditulis langsung oleh Jimi Multahzam (Vocalis The Upstairs) yang terinspirasi dari perjuangan cinta seorang kawan semasa kuliah di IKJ. Membuahkan karya yang aduhai untuk disimak.

Matraman adalah diantara lagu cinta anti mainstream, lagu ini unik, sederhana, namun kental akan kegombalan, perjuangan cinta yang nyata. Simak taklaka mereka membubuhi realitas keadaan Kota Jakarta ditahun 2000-an awal yang mungkin masih lekat dirasakan sampai sekarang. Mulai dari polusi udara, tawuran pelajar, dan segala rutinitas sosial mereka sikat.

Simak penggalan liriknya “Demi trotoar dan debu yang berterbangan/ Ku bersumpah// Demi celurit mistar dan batu terbang pelajar/ Ku ungkapkan//” . Dan tiba di bagian refreain “Kan ku persembahkan sekuntum mawar/Aku di matraman kau di kota kembang//”.

Nah disana beberapa moment gombalnya terlihat. Menceritakan buah perjuangan cinta beda kota, kala sang pemuja ingin memberi mawar sebagai simbolis cinta, namun sayang yang ia suka sedang disebrang kota Jakarta, Bandung Kota Kembang tepatnya.

 

  1. Netral – I Love You

Siapa bilang tema cinta hanya milik para band ber-genre Pop? Saya rasa cinta itu universal, terlepas dari genre apapun. Setiap band atau solois bebas berbicara akan hal ini didalam setiap karyanya. Netral adalah salah diantaranya.

Band rock alternative yang kental akan distorsi pada sajian musiknya, dengan hentakan drum bertempo cepat dan lengkingan suara vocal yang terasa ditelenga, tak sungkan untuk mengangkat tema cinta dalam sebuah lagunya, I love You.

Baca : 4 Fase Laki-Laki Sebelum Move On

Lirik yang singkat, padat, namun ngena ini berisi penyataan dan ketegasan sikap yang ditunjukan Netral dalam memandang akan cinta. Simak liriknya, “Kalau kau suka padaku/ kenapa sih mesti malu/ katakan saja//”, dan bagian refrainnya “Oh mengapa mesti takut padaku/ untuk mengatakan I Love You//”.Tidak perlu banyak basa-basi, cinta perlu kelugasan.

 

  1. The Panas Dalam – Rintihan Kuntilanak

Untuk masalah ke anti mainstream-an pengangkatan tema lagu, The Panas Dalam salah satu jagoannya. Pidi Baiq atau biasa disebut surayah oleh para anak-anaknya dirumah dan juga di platform media sosial Instagram, Twitter, maupun kanal Youtube, adalah dalang dibalik penulisan lirik mereka.

Salah satu lagu cinta kontroversialnya, adalah Rintihan Kuntilanak, buah kegiusanmya dalam berkarya. Bagaimana tidak, walau terkesan klenik, seram, dan mistis karena menjadikan Kuntilanak sebagai sebuah subjek tema lagu. Namun siapa sangka, lagu ini bernarasikan cinta dan perasaan rindu suatu makhluk yang menyandang predikat dalam kategori halus.

Simak penggalan awal liriknya, “Malam sunyi/ kusendiri/Duduk sepi di atas pohon//Kubiarkan /rambutku terurai//”. Hingga sampai pada bagian refrain, “Kapan mati/ kekasihku/Kumenanti/ kau di sini//Ayo mati /bunuh diri//Agar kita/ jumpa lagi/Seperti dulu//”.

Nah tersirat moment gombal disitu, masalah penantian atas kerinduan yang terus bergejolak. Satu yang kunti inginkan, berjumpa lagi seperti dulu dengan sang kekasihnya. Setidaknya, mereka para makhluk halus yang mati tidak wajar atau mati penasaran dalam status pacaran, belum menikah, tetapi sudah kandung meninggal, bisa terwakili oleh lagu ini. Ciamik memang!

 

  1. Slank – Koepoe Liarkoe

Sebelum lagu I Miss U, But I Hate U kian booming dipasaran, Slank sudah punya lagu bertemakan cinta yang juga unik dari sebelumnya, Koepoe Liarkoe (album Lagi Sedih 1997). Kontradiksi dari lagu Tulus yang berujar Jangan Cintai Aku Apa Adanya, Slank lebih memilih cinta itu harus apa adanya dan menerima kondisi latar belakang dari pasangan.

Bercerita tentang cinta seseorang pria terhadap wanita malam, yang memilih tidak peduli cibiran orang untuk menilai sikapnya, adalah bentuk dari kejujuran perasaan. Walau dalam penulisan lirik Slank tidak tersurat seperti Jimi The Upstairs kala mengemas lagu cinta, namun dari tema slank patut diapresiasi.

Simak penggalan liriknya, “Aku tak peduli apa kata mereka/Ceritakan segala caci maki//Buah bibirkan kamu sebagai bunga ranjang/Andai memang kamu cukup liar//”. sampai dibagian refrain, “Koepoe-koepoe liarkoe/ Terbanglah kau padaku// Hinggaplah dihatiku/ Hisap sari cintaku// Biar indah tubuhmu/ Dijamah orang-orang// Tapi cinta tulusmu/ Harus jadi milikku//”.

 

  1. Iwan Fals – Kembang Pete

Keliru rasanya bila tak menyandingkan Iwan Fals masuk dalam kategori artikel ini. Urusan soal lirik, ialah rajanya. Penggunaan bahasa Indonesia yang bagus, kadang metafora, namun tetap lugas dan dibalut dengan kesan nyeleneh adalah kekuatan utamanya. Kadang pula bisa terdengar formal, serius, kritis didalam lagunya, namun tetap karakter ke Iwan Fals-an nya akan selalu terasa.

Berbicara urusan cinta, Iwan fals punya sudut pandang sendiri. Kalau Kata Soleh Solihun dalam SolehSolihun.com, “sosok iwan fals menyatakan liriknya sangat gombal, tapi tidak cengeng, dan masih maskulin. Terlalu banyak lagu untuk membuktikan hal itu, diantara ada “Maafkan Cintaku”, “Mata Indah Bola Ping Pong”, “Buku Ini Aku Pinjam”, sampai “Ya atau Tidak”.

Namun diantara banyaknya lagu cinta Iwan Fals, yang paling berkesan bagi saya, salah satunya, Kembang Pete. Mengajak pasangan untuk menerima kondisi, tetap berjuang menuju kearah lebih baik, Gombal yang apa adanya, namun tetap lugas. Simak liriknya, “Ku berikan padamu Setangkai kembang pete/ Tanda cinta abadi namun kere// Buang jauh-jauh impian mulukmu/ Sebab kita tak boleh bikin uang palsu//”.

Kebanyakan orang menyatakan simbol cinta itu mawar merah atau mungkin coklat, seperti yang biasa diberikan waktu valentine. Mungkin hanya iwan yang sampai hati berfikir untuk memberi kembang pete sebagai simbol cinta. Yang terpentingkan cara perjuangan memberikannya, atau pula rasa cintanya yang jujur dan setia setiap kepasangannya.

 

  1. Jason Ranti – Akibat Pergaulan Bebas

Rollingstone.com pernah mendaulatnya sebagai pencampuran antara Iwan Fals yang kritis dengan Slank yang slengean kepada dirinya. Adalah Jason Ranti solois folk, blues yang mencuri perhatian para penikmat music indie dengan lagunya yang sederhana, kritis, terkesan satir, slengean, dan tentunya nikmat untuk didengar.

Berbicara akan banyak hal, mulai dari politik, komunis, sampai ormas islam, Jason tak luput pula berbicara tentang cinta dalam lagunya. Namun berbeda dengan banyak lagu pop, Jason memandangnya berbeda yang dituangkan dalam lagu, Akibat Pergaulan Bebas.

Berkisah tentang dua sejoli yang berbeda latang belakang, mempunyai satu tujuan untuk bersama, lengkap dengan cara pandang Jason dalam menyampaikannya, terdengar slengean namun tetap manis.

Simak lirik didalamnya, “Yang satu Pamulang/ yang satu Bekasi sepakat bertemu dicikini/ sepakat bertemu dicikini semua demi jalinan kasih//”. Atau ini “Yang satu maskulin/ yang satu fenimin/ yang satu puritan/ yang lain flamboyant// Yang satu musisi/ yang satu psikolog/ saat hati bertemu spontan bilang Ya Allah//.

 

  1. Nella Kharisma – Tahu Bulat

Untuk membuat ulasan ini makin variatif, tak ada salahnya memasukan genre dangdut kedalamnya. Dangdut disini bukan era dangdutnya Rhoma Irama, ataupun Iis Dahlia. Bukan maksud tidak meninggikan lagu-lagu mereka kedalam ulasan remeh ini, namun oleh sebab makin variatifnya dalam ekplorasi musik kini, sehingga menciptakan musik dangdut jenis baru yang sering disebut dangdut koplo.

Jika mendengar kata dangdut koplo, sarat terlintas kesan musik yang dikolaborasikan, mulai dari ska, disko, house, sentuhan jaipong, keroncong sampai campur sari. Dengan beat cepat dan backing vocal yang kadang disentakan “ya, ya, aselole jos!”, menjadikan musik ini mempunyai massanya sendiri. Yang kadang saat menonton live-nya massa langsung bergoyang dengan lincah sesuai dengan instruksi sang pemimpin goyang (bisa dilihat saat temon holic, fansnya NDX A.K.A berjoget).

Bila berbicara tentang koplo, maka kurang afdol bila tak menyebut Nella Kharisma. Selain “Bojo Galak”, Nella Kharisma mempunyai lagu cinta yang tentunya anti mainstream berjudul “Tahu Bulat”. Entah terinspirasi dari mana, mungkin karena sempat dipertengahan 2016 fenomena tahu bulat viral ditengah publik. Yang jelas dibutuhkan kepekaan akan realitas untuk menarasikan hal itu lewat lagu, dan terbukti ia mampu.

Lirik yang simple membahas tentang cinta. Ia menarasikan cinta pada pandangan pertama, yang ia kesankan seperti tahu bula yang digoreng dadakan. Simak liriknya “Hu tahu tahu, tahu bulat/ membuat diriku teringat/ cerita cinta kita/ saat pertama jumpa//”. Dan kemudian dilirik “Singkat, singkat, singkat waktunya/ saat kau menyatakan cinta/ seperti tahu bulat/ yang digoreng dadakan//”.

Duh, mendengarkan lagunya membuat saya langsung ngidam tahu bulat. Cukup dengan 500 perak, tahu renyah yang nikmat bisa langsung di lep (kalah itu sosis Dedi Mizwar).

 

 


FIND US ON

[et_social_follow icon_style="slide" icon_shape="circle" icons_location="top" col_number="auto" custom_colors="true" bg_color="#a70a0d" bg_color_hover="" icon_color="" icon_color_hover="" outer_color="dark"]

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.