1


RAJA DANGDUT, POLEMIK DAKWAH, MUSIK, DAN GOYANG

Photo by Liputan 6

Berdakwah lewat dangdut dan bergoyang mendengar dangdut.

 

Longlifemagz -Tahun 70-an menjadi tahun pendobrak bagi musik dangndut. Oma Irama atau dikenal dengan nama Rhoma Irama menjadi pionir pertama yang mengoplos musik rock kedalam musik yang ia kombinasikan, dandut. Musisi muda nan ambisius itu disekitar tahun yang sama juga mendirikan O.M Soneta. Tidak lupa, ia mengajak Elvy Sukaesih sebagai temannya bernyanyi. Sekiranya tahun 1971 menjadi titik awal Rhoma berkiprah di industri musik Indonesia.

Penampilannya sangat flamboyan, dengan pengaruh musik rock dari barat, lirik moralis nan agamis, ditambah goyangan estetis dengan gerakan sopan namun tetap berpola, menjadi nilai tambah dalam membangun musik dangdut.

Rhoma Irama masih menjadi nama yang pas ketika semua orang mambahas tentang dangdut. Sebagai musisi dangdut, Rhoma teristimewakan karena punya akar musikalitas yang berbeda ketimbang penyanyi dangdut yang lain. Meski Rhoma kecil suka berdendang musik india, kian besar ia tumbuh dengan musik rock.

Disini kita sepakat bahwa ada dua arus besar di dalam dunia musik pada era tersebut. Dalam pemberitaan Aktuil No. 200 tahun 1976, salah satu penggemar Rhoma Irama marah karena pegiat rock (Benny Soebardja) menyebut dangdut sebagai musik tai anjing.

Belakangan Benny sudah meminta maaf secara langsung kepada Rhoma. Namun pertikaian tidak selesai sampai disitu. Kalau kita amati lebih detail film – film Rhoma akhir 70-an sampai awal 80-an sangat sering menggambarkan musisi rock sebagai berandalan, belum lagi pengaruh pertikaian itu terhadap penggemarnya masing – masing.

Melabeli sosok Rhoma Irama sebagai pionir dalam meleburkan musik dangdut dan rock sangat sederhana. Kita harus mencoba menelusuri kembali masa awal, bagian mengoplos rock ini tampak jelas pada awal karier.

Pada saat itu Rhoma menenteng gitar Fender putih yang mengesankan terpengaruh Ritchie Blackmore dari Deep Purple hingga peralihan Steinberger hitam andalannya.

“Rhoma banyak melakukan persilangan. Sebuah crossover yang memperkaya anasir musik dangdut itu sendiri. Rhoma melakukan perubahan besar – besaran pda semua aspek dengan melakukan elektronisasi. Unsur gitar dan drum yang menjadi ciri musik rock, begitu kental mewarnai musik dangdut ini.” tulis Shofan dalam Rhoma Irama: Politik Dakwah Dalam Nada (2014).

Tidak bisa dipastikan bagaimana musik dangdut menggeser musik rock pada masa itu. Tetapi yang sudah sangat valid, teradpat dua arus besar di Indonesia. Dangdut semakin mencuat namanya dengan kemunculan aktor-aktor dangdut seperti Rita Sugiarto, Elvy Sukaesih, Meggy Z, sampai Camelia Malik.

Musik dangdut terus berkembang, Rhoma terus diangkat namanya menjadi ikon. Bak presiden musik dangdut, masyarakat melabeli dirinya dengan Raja Dangdut. Bendera Soneta terus berkibar, dengan manifesto berdakwah melalui musik, Rhoma terus merangkul group yang berlandaskan islami, seperti Nasidaria diantaranya. Platform terus dibangun sang raja dangdut sampai melewati masa keemasannya.

Baca :

Benci Tapi Rindu, Perjalanan Dangdut Yang Berliku

43 Tahun Nasidaria: Dakwah Dengan Riang Gembira

Berlahan tapi pasti segala pakem yang dibangun sang raja akhirnya mulai terkikis. Indonesia mulai teracuni musik koplo. Ah persetan apalagi itu koplo. Sang raja gamang bukan kepalang, kemunculan musik koplo seperti merusak trivium yang ia bangun.

Penampilan musik koplo yang kental dengan kata “seronok” menjadi penyebabnya. Sang raja sepertinya selalu meletakan di posisi yang sama antara agama, dengan politik dan dagdut.

Orkes dangdut koplo menjadi lawan yang seimbang untuk ini. Muncul ketika masa orde baru berakhir, daerah pantura menjadi bukti pertama orkes koplo melejit. Siapa yang tidak tahu O.M Pallapa (1998), O.M Monata (1999) yang terkenal dengan karena penyanyi mereka, Via Vallen, hinnga O.M Serra (2003) yang berasal dari nganjuk, Jawa Timur.

Besar didaerah pantura, koplo terus menyombongkan diri tanpa harus masuk kedalam pusaran Ibu Kota. Koplo yang bersifat organik, terus membangun masa keemasannya sendiri. Musik dangdut koplo terlalu idealis dengan membawa slogan musik rakyat, musik kaum urban, musik rakyat kecil dan sebagainya.

Untuk mengimplementasikan itu, dangdut koplo tidak perlu jauh-jauh ke wilayah barat. Namanya terus berkembang di wilayah pesisir timur seperti Rembang, Semarang, Pati, Surabaya, Jombang dan sebagainya.

Namun, kecanggihan informasi dan teknologi tidak mampu membendung idealis dari dangdut koplo. Lewat inul, dengan ciri goyang “ngebor” dangdut koplo tembus pasar nasional, dan diwaktu yang sama Inul sukses dengan album yang bertajuk goyang ngebor.

Kesukses besar diraih, tapi tidak membuat “Biduanita” ini tenang. Protes keras datang dari Sang Raja secara bertubi-tubi. Protes dilayangkan kepada inul juga kepada biduanita lain di daerah pantura. Kehadiran dangdut koplo di klaim merusak iklim musik dangdut “tertib dan terkontrol” yang sudah di bangun Sang Raja.

Salah satu meradangnya sang raja adalah, inul dan biduanita datang dengan arah berlawanan dari sang raja. Mereka datang dengan busana yang ketat, memiliki goyangan yang arbitrer, dan terpaku kepada gerak khas tertentu, seperti goyang ngebor, ngecor, gergaji dan banyak nama nyentrik yang asik dan kadang vulgar.

Yang lebih menarik dari ini, protes juga tidak datang hanya dari banyak sepupuh – sepupuh dangdut, melainkan dari masyarakat. Seperti terjadi panik moral, seakan – akan di hindari, tetapi beberapa stasiun televisi malah terus mengamati dan menjadi tidak asing di khalayak.

Media menjadi cikal bakal ketegangan antara sang raja dengan Inul. Penampilan inul di televisi membuat sang raja menghimpun PAMMI–Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia– untuk memboikot sang Ratu Ngebor tersebut dengan dalih Joged yang terlalu vulgar.

Merasa terdesak dan menghormati sang raja, di tahun yang sama, Inul mengunjungi sang raja, bukan maksud apa-apa hanya sebatas sowan belaka. Belakangan terdengar bahwa sang raja terus menasihati sang ratu ngebor dengan beberapa dakwah, dan mengaitkan tindakan kriminalitas seperti pemerkosaan, pelecehan seksual yang diakibatkan pertunjukannya inul di VCD maupun di panggung.

Sedikit otoriter sang raja memaksa Inul untuk mengikuti jejak penyanyi perempuan seperti Ikke Nurjanah, Iis Dahlia, Cici Paramida dan sebagainya. Mereka adalah penyanyi yang sukses di era ketika sang raja berkuasa.

Inul resah, kurun waktu 2003 – 2006 perubahan terjadi sangat signifikan. Inul mulai menghilangkan goyang ngebornya. Tidak hilang, sebatas mengurangi intesitas dan ditutupi dengan busana glamour a la eropa.

Sang Raja Masih kepanasan, di tahun 2006, ketika komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat menggelar rapat untuk membahas Rancangan Undang Undang (RUU) anti pornografi dan pornoaksi, Sang Raja, Inul dan beberapa artis lainnya turut diundang untuk memberi masukan.

Dalam kesempatan tersebut, sang raja kembali bercerita tentang goyang ngebor. Menurut sumber, “goyang ngebor Inul sudah termasuk bagian dari pornoaksi yang dilarang. Goyang sensasional itu tidak boleh dilakukan, karena menimbulkan keresahan dan syahwat penonton” ujar sang raja dalam masukannya. Alhasil, RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi tahun 2006 terbentuk, dan ditetapkan. Sang raja masih begitu kuat bahkan dalam dunia sekaliber pemerintahan.

Rasa – rasanya tidak cukup membahas Sang Raja Dangdut hanya dengan beberapa lembar tulisan. Dengan nama besarnya, sang raja sangat mendambakan budaya dangdut yang sederhana. Meskipun trivium yang sudah ia buat semakin terkikis oleh perkembangan. Alih – alih mempertahankan, sanga raja membentuk Partai Idaman. Tampaknya, sang raja tahu betul begitu banyak loyalis soneta, selama ia berkarya kurang lebih setengah abad.

Biarkan ketegangan musik dangdut koplo dan musik dangdut, menjadi cerita yang paling romantis di masa perkembangan budaya musik popular terkhusus dangdut di Indonesia. Kita harus sepakat bahwa “dangdut is the music of my country,” Sang Raja memang sangat berjasa dalam merangseknya musik dangdut di tanah air, pondasi identitas yang dibentuk sang raja juga diamini oleh beberapa penonton dan pegiat dangdut pada masa itu bahkan saat ini.

Pada hakikatnya, sang raja pun tidak mampu membendung proses ini. Proses urbanisasi kebudayaan tepatnya. Setelah bertahun – tahun seusai konflik dengan Inul Daratista, dangdut koplo tidak mati, malah terus mewabah hingga ke lapisan masyarakat, tidak mengenal kelas bahkan gender.

Dangdut yang sangat indentik dengan musik rakyat menengah ke atas, sekarang mampu menembus pasar. Kita harus akui keseriusan itu terlihat, di beberapa stasiun TV Lokal dengan tajuk “Liga dangdut”, belum lagi yang menggaet dangdut sebagai komunikasi dengan masyarakat.


FIND US ON

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.

 

Pin It on Pinterest