1


KALAH BERPERANG SEBELUM BERTANDING

illustration by Merdeka.com

Puncak dari sebuah tragedi adalah komedi”, ujar Charlie Chaplin seorang pesohor didunia komedi.

 

Longlifemagz – Setiap tanggal 9 Desember kita senantiasa memperingati Hari Anti Korupsi Internasional. Hari ini kita berada pada titik dimana pemberantasan korupsi masih jauh dari harapan. Dukungan politik yang nyata tidak terlalu menjanjikan, sementara hukum belum pulih dari masalah korupsinya sendiri.

Fungsi badan pengawasan pemerintah belum efektif, sistem birokrasi terus membuka peluang bagi korupsi, sementara politisi dan pengusaha terus memelihara hubungan khusus yang kerap menimbulkan konflik kepentingan.

Disisi lain siasat pemberantasan korupsi masih tertinggal jauh, sekedar acara seremonial kampanye anti korupsi, menyelenggarakan forum dialog hingga pidato oleh para pejabat negara. Siasat yang dilakukan secara konvensional ibarat bayi yang terus belajar merangkak dari kebutuhan nyata untuk memberantas korupsi yang kian kompleks sifat dan polanya.

Tak berselang lama dari seremonial Hari Anti Korupsi Internasional, di bulan November 2017 masyarakat di hebohkan dengan dibukanya pintu menjadi perangkat desa. Tentunya warga desa setempat berduyun-duyun mendaftarkan diri, melengkapi dokumen-dokumen pendaftaran yang telah di tetapkan turut serta dalam proses seleksi. Alih-alih bisa memerankan diri sebagai perangkat dengan ambisi agar bisa menyelesaikan urusan duniawinya, warga dikejutkan dengan perkara ‘orang titipan-jual beli jabatan’.

Perkara jual beli jabatan bukan suatu hal yang baru bahkan sudah menjadi rahasia umum, hal tersebut tak lantas didiamkan dan jadi tradisi belaka. Apa gunanya sekolah wajib 12 Tahun sampai melanjutkan ke perguruan tinggi yang juga diselingi dengan kesibukan organisasi dengan khayalan menambah pengalaman demi masa depan. Ujung-ujungnya kalah dengan uang? Bukankah kita sudah belajar sejarah sejak dini yang terngiang-ngiang ungkapan Soekarno (JASMERAH).

Lantas kenapa kita masih melanjutkan tradisi zaman kuno, yang sewaktu-waktu rakyat harus memasok upeti, menerima uang tanpa bekerja dan risiko nyawa (sogokan). Masih mengamini tradisi lama berarti mencederai idiom kidz zaman now yang telah mengenal alat-alat modern dan internet sejak dini.

Ironi terjadi dibanyak wilayah, diantaranya adalah Boyolali. Seperti yang dilansir dalam website Solopos.com, Seleksi penerimaan perangkat desa se-Boyolali dinilai amburadul (27/9/2017), menyebutkan tawar menawar kursi perangkat desa antara calon peserta tes dengan pemangku kepentingan di daerah bersangkutan.

Jadi orang-orang yang direkomendasikan untuk menduduki perangkat desa sudah ada sebelum ada seleksi. Tentu saja, harus dengan tebusan, harga kursi Kaur Rp 65 juta, Sekretaris desa Rp 85 juta. Berkaca dari fenomena ini mungkinkah dapat di benarkan anggapan Soekarno bahwa sampai 1965 revolusi nasional belum selesai; nation-building belum tuntas, bahkan character-building belum selesai.

Baca :

Dibalik Tumbuh-kembangnya Korupsi di Indonesia

Antara Moshing, Undergroung, dan Buta Makna

Sir Charles Spencer alias Charlie Chaplin seorang pesohor di dunia komedi pernah berujar “puncak dari sebuah tragedi adalah komedi”, dalam sebuah tragedi yang paling pilu pun ada sisi jenaka yang bisa kita lihat, mungkin tidak menghibur, tapi setidaknya tragedi tidaklah membawa kepiluan belaka.

Bagaimanapun kita telah saksikan panggung komedi penerimaan pegawai atau tepatnya perangkat desa, yang dihiasi intrik sogokan bagai kalah berperang sebelum bertanding. Generasi millennial rugi kalau cari kerja kok bayar, andalkan kreativitas dan teknologi; menjadi content creator, gaming, daily vlogger, pengguna Instagram, pelaku industri kreatif atau youtubers, seperti para kids zaman now yang acapkali membuat konten kreatif dan dapat menghasilkan. Karena sesungguhnya kids jaman now harus beda dengan kids zaman old yang suka mbayar.


FIND US ON

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.

 

Pin It on Pinterest