CINOFAJRIN & THE SOULMETS RILIS SINGLE KEDUA “KIDS JAMAN NOW”

Photo doc. Cinofajrin & The Soulmets

Lirik jenaka dan sarat akan pesan moral.


 

Longlifemagz – Project solo karir asal Semarang ini dibentuk pada pertengahan tahun 2017 yang digagas sendiri oleh Cino Fajrin. Berawal dari keisengan membuat video lucu di Instagram, tak disangka nama Cino Fajrin melejit bak rocket israel di siang bolong. Bermula dari situ kemudian Cino Fajrin mempunyai gagasan untuk menuangkan semua ide jenakanya ke dalam sebuah lagu.

Meski terbilang baru, Cinofajrin & The Soulmets cukup produktif dalam berkarya. Terbukti dalam beberapa bulan terakhir, Cinofajrin & The Soulmets mampu menggarap single andalan yang berjudul “Keblondrok” dan kini Cino fajrin kembali mengeluarkan single terbaru yang berjudul “Kids Jaman Now” dengan balutan musik yang menggabungkan antara unsur Reggae, ska, dan Jamaican music.

Dengan lirik yang sedikit jenaka dan sarat akan pesan sosial, Cino Fajrin berusaha mengajak para penikmat musiknya agar lebih mudah memahami pesan yang tersirat dalam lagu-lagunya tersebut. Single “Kids Jaman Now” sudah bisa didengar & di download secara streaming di Spotify, itunes, sampai google play.

Berbekal dari banyaknya influence musik, yang sampe saat ini Cino Fajrin sendiri masih belum mengerti apa nama genre yang spesifik dari musiknya. Karena Cino Fajrin sendiri tidak pernah membatasi pengaruh terhadap musiknya dari awal berdiri hingga saat ini.

Untuk rencana selanjutnya Cinofajrin & The Soulmets akan melaksanakan tour promo single terbarunya ke berbagai radio di Semarang dan Jawa Tengah. Karena dinilai daerah tersebut mempunyai cukup banyak fanbase.

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

BIMO ARYO (ELEGI), MENUTUP AKHIR TAHUN YANG SENDU DENGAN MANIS

Lepas Single” Rindu Yang Kita Tangisi”, bocoran album terbaru “Merayakan Sepi”.

 

Longlifemagz – Solois folk asal Kota Depok, Bimo Aryo atau dengan nama panggung Elegi, yang akhir-akhir ini sedang naik daun menghiasi kanca musik folk/pop, tengah mempersiapkan peluncuran album terbarunya.

Tepat tanggal 30 November 2017, pria yang identik dengan style rambut gondrong yang tergerai itu membocorkan kisi-kisi album terbarunya dengan melepas single pertamanya “Rindu Yang Kita Tangisi”.

Seperti yang dilansir dari laman Provoke, Bimo mengatakan bahwa dalam single yang telah di rilisnya itu Sedikit mengulas ingatan yang pernah di kubur secara paksa lalu ditinggal pergi dan selesai. Bisa sedikit mengulas ingatan tentang cinta dahulu yang sering dianggap remeh temeh dan lain sebagainya.

Cukup unik solois folk satu ini, bahwasannya pria ini mengklaim dirinya sendiri sebagai “folk penyendiri”. Hal itu senada seperti statement yang ia ujar “Saya ingin menyediakan sebuah lagu yang bisa mewakili apa yang pendengar pernah rasakan, melalui lirik sederhana yang saya buat”.

Baca : Siapkan Album Mini, Provokata Rilis “Manusia X Tuhan

Dalam rangka merilis single “Rindu Yang Kita Tangisi”, Bimo mengajak masyarakat luar untuk berlomba-lomba menerjemahkan setiap lirik yang ada dalam bentuk suatu artwork. Lalu artwork tersebut dapat diunggah kedalam media sosial masing-masing peserta. Kika beruntung maka artwork yang terpilih, akan masuk dalam sleeve album terbarunya, “Merayakan Sepi”.

Dalam penggarapan Single “Rindu Yang Kita Tangisi” dibantu oleh Khalif Fadhel untuk gitar dan vokal pendukung. Menjadi salah satu dari 12 lagu yang disiapkan sebagai materi di debut album nanti “Merayakan Sepi” yang akan dirilis oleh Senandung Records nanti.

Untuk ingin tau lebih jelas tentang Bimo Aryo atau Elegi, kalian mungunjungi Instagramnya di @suaraelegi atau search di Youtube dengan ketik ELEGI Official. Selamat menikmati.

 

Text by Rizki Ardiansyah

Photo by Instagram @suaraelegi

 

Olly Oxen Mulai Menunjukan Taringnya Melalui EP Bad Mantra

Longlifemagz – Hingar bingar kemeriahan mewarnai peluncuran EP (Extended Play) band rock Olly Oxen bertajuk Bad Mantra di Rustico Bar and Kitchen Minggu (14/5) Malam, adrenalin para pengunjung dibuat campur aduk dengan ritme gitar dan bas yang lantang di gendang telinga.

Sebelum Olly Oxen tampil, mereka mendaulat SAL, Sugar Bitter, dan Santi Karisma untuk berbagi panggung sebagai band pembuka. Pengunjung yang mayoritas anak muda kuliahan dan kelas pekerja, malam itu tersihir dengan mantra – mantra yang dipanjatkan oleh Olly Oxen sehingga mereka tak kuasa menahan diri mereka untuk  moshing dan stage diving sampai acara berakhir.

Kejutan tak berakhir disitu, malam itu setelah Olly Oxen tampil, atas permintaan penonton yang tak ingin terburu – buru pulang, akhirnya tampilah satu band lagi yaitu Gagak Rimang Stoned yang berhasil menutup malam peluncuran Bad Mantra malam itu dengan sempurna.

Simak Interview kontributor longlife dengan Mere Nauval vokalis dari Olly Oxen yang kami temui setelah mereka membombardir panggung dan menyihir para penonton yang datang di peluncuran EP (Extended Play) bertajuk Bad Mantra mereka.

Malam ini agendanya peluncuran EP ya ?

Iya release party peluncuran EP Bad Mantra.

Sebelum kita berbicara ke arah sana, kalau Olly Oxen sendiri itukan sebelumnya berasal dari band yang berbeda beda, nah kalian sendiri itu bertemunya gimana ?

Awalnya sih pertamanya Gembi dulu ketemu sama Gawang, juga Gawang kan mengganti posisi drummer di bandnya dengan Gembi yaitu Gagak Rimang Stoned. Terus mereka berdua punya wacana nih, kira – kira sambil menunggu waktu kekosongan selama proses pembuatan album Gagak Rimang Stonedkita bikin band lagi, terus akhirnya mereka berdua jalan waktu itu ketemu saya pas rilis video Legit di Braveat Munchies Club, dari situ mereka melihat video, mungkin lihat performa vokal atau gimana terus ngajakin saya, abis itu kita jamming – jamming aslinya pingin tanpa bassis gitu kan, cuman asik udah tambahin bass ajalah jangan terlalu nyeleneh belum siap kita, akhirnya kita memilih mas Novelino Adam bassis dari Octopuz dan AK//47 untuk mengisi posisi bassis. Kita udah sadar bertiga tuh kalau wah ini beda – beda nih, tampil lagi lah bassis satu yang agak beda agar lebih memperkaya musik kami.

Nah kalian kan datang dari genre yang beda – beda, waktu kalian jamming sendiri kalian mengalami kendala atau tidak ?

Enggak ada sih, jammingnya misalkan aku milih lagu gitu kan awalnya kan saya kalau disemarang dikenalnya dari Hip Hop 024 Street, tapi sebenarnya sebelum itu waktu SMA saya udah ngeband duluan jadi masih ada referensi yang nyantol, intinya musik rock distorsi gitukan, akhrinya kita milih lagu yang kita omongin dulu ini musiknya mau seperti apa nih, walanya saat itu kepingin lagi yang vintage sound, terus dicari lagu yang sesuai dengan kriteria yang kita inginkan, jadi ya gitu ga ada kendala dan ga ada beban sih intinya.

Nah kalau kalian sendiri, ketika membuat musik itu influencenya dari siapa ?

Kalau ngomongin influence, kalau yang paling sering di dengar tuh beberapa Projek Jack White, dia terkenal banget dengan Workaholic kayak seneng banget kerja bikin projek sana sini, nah kita dengerin semuanya gitu lalu kita tertarik dengan spirit di musiknya. Terus selain itu Led Zeppelin, bahkan sampai Kendrick Lamar juga. Soalnya kita kepingin bawa musik rock juga tapi soulnya kepingin yang Groovie – Groovie gitu.

Sebentar ada yang terlupa, sebelum terlalu jauh. Diperkenalkan dulu orang – orang yang terlibat di dalamnya ?

Olly Oxen itu ada empat orang, ada Gawang dia juga sibuk di Glasstrick dan Gagak Rimang Stoned, lalu ada Yanuar di posisi gitaris yang juga mengisi posisi yang sama di Gagak Rimang Stoned, terus ada Novelino Adam di posisi bass yang kebetulan juga bassis dari Octopuz dan AK//47. Dan yang terakhir saya Mere Nauval di posisi vokal dan juga berkesibukan di Legit.

Kemarin kalian habis rilis video clip Bad Mantra, nah respon publik sendiri sejauh ini bagaimana?

Ini kayaknya belum seminggu ya di upload di youtube kami, yang nonton udah ada seribu lebih, itu menurut kami lumayan sih, dibanding kita dulu parameternya dulu video lirik Adult Dreams is Violation itu sampai sekarang sekitar 6 bulan belum sampai lima ribu, ini yang rilis baru seminggu udah seribu lebih, jadi menurut kami responnya lebih baik dari karya kami yang sebelumnya.

Di Olly Oxen sendiri yang bertugas menulis lirik siapa dan proses kreatifnya bagaimana ?

Kalau lirik semua daya yang menulis, kalau proses kreatifnya saya beri gambaranya nih, pertama mereka jamming dulu nih, terus ada riff nih Yanuar itu biasanya, nah terus mereka bertiga lempar – lemparan tuh, nah terus ini masuk nih musik kita, lalu di jamming lagi sampai jadi musik dulu. Terus baru itu saya dengerin tuh kan direkam di Handphone, nah dari situ kan keliatan ini arah musiknya kemana nih, terus saya nentuin atmosfir dan lirik yang cocok untuk musik ini yang begini nih. jadi biasanya musik dulu jadi baru lirik mengikuti. Kalau tema – tema liriknya sih random dari semua yang saya lihat, saya baca, saya tonton di televisi, itu semua menjadi satu dan mengalir menjadi lirik.

Olly Oxen sendiri itu nama yang tidak umum, nah proses penemuan nama sendiri Itu bagaimana ceritanya ?

Jadikan kalau saya bikin lirik itu bahasa inggris, walaupun gak terlalu mempuni sih hehehe. Terus ibaratnya dengan cara seperti di musik Hip Hop, nah kan biasanya ada proses sampling tuh jadi ada lagu yang sudah jadi diambil beberapa bagian yang bagus untuk dikembangkan lagi. Nah proses seperti itu juga saya terapkan di beberapa lagu yang saya buat di Olly Oxen, jadi nih ada satu kalimat yang bagus, terus saya rangkum dalam sudut pandang saya lagi. Nah dari situ tuh dari baca – baca banyak hal, waktu itu saya nemu artikel tentang anak – anak, lagu pertama tuh temanya tentang anak – anak, terus ekplorasi lagi di internet dapat lagi ada istilah Olly Olly Oxen Free. Jadi itu tuh istilah dalam permainan petak umpetnya orang Eropa untuk memanggil “Calling Y’all Out in Free” jadi artinya memanggil orang dalam kebebasan. Dari situ bagus nih filosofinya untuk dipakai nama, dulu namanya kepingin Olly Olly Oxen Free tapi kami rasa itu kepanjangan, lalu kami persingkat menjadi Olly Oxen walaupun itu tidak merangkum semuanya tapi kata Olly Oxen cukup mewakili pandangan dari kata itu. Jadi begitu sih dari berselancar di internet terus dapat artikel dan ada kata bagus lalu diutarakan ke temen – temen dan mereka setuju.

Bisa diceritakan enggak tentang empat lagu milik kalian menceritakan tentang apa ?

Sebenarnya keempat lagu ini keterkaitannya erat sih, lagu pertama Adult’s Dreams of Violation dan Bad Mantra saya memerankan tokoh protagonis dan antagonis, katakan si anak kecilnya itu protagonis dan si Bad Mantranya ini nih tokoh jahatnya, lalu selanjutnya di lagu ketiga ada Self Preaching yaitu kita udah mana yang baik dan mana yang buruk, lalu kita mengambil sikap untuk menceramahi diri sendiri dulu. Lalu setelah melihat itu semua kita berada pada titik tidak ada tahu apa yang harus dilakukan, udahlah jangan ambil kesimpulan, toh sebuah karyapun pada saat menimbulkan pertanyaan buat teman – teman lain menyadarkan ada yang harus dipertanyakan itupun fungsi dari sebuah karya. Jadi Mr. Dunnowattudu itu seakan menutup dengan kita tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Kalian kemarin sempat rilis di event Record Store Day, nah disitu ada Remix Adult’s Dreams is Violationdari salah satu beat makerkondang dari semarang Greedys. Nah ceritanya sendiri gimana tuh?

Itu sebenarnya kemarin kita kepingin rilis EP Bad Mantra pas bertepatan dengan Record Store Day, Cuma kerasa kurang matang nih. Tapi event Record Store Day sayang kalau dilewatkan dan kita harus ngasih sesuatu yang unik gitu, ada satu lagu kita yang udah dikeluarin yang menurut kita masih bisa di otak – atik. Nah dari situ sayakan juga satu grup sama Greedys di Legit, apa yang kita bisa lakuin dengan Croos Genre, akhirnya cobalah ngajak sampling lagu Adult’s Dreams is Violation. terus jadilah Remix itu, kepingin cari yang Fresh aja sih. Dan kemarin kita juga dalam format kaset, alhamdullilah sold out kurang dari seminggu.

Sebelum rilis dalam bentuk fisik, kalian melempar karya kalian ke platform digital, nah itu bagaimana respon publik dan dampaknya terhadap kalian ?

Dampak yang paling terlihat platform digital itu dikeluarkan terlebih dahulu terjawab malam ini, terlihat banget di Crowd mereka hafal lagu yang belum dikeluarin di Youtube karna yang paling mudah diakses Youtube dibanding Spotify dan Deezer. nah malem ini mereka semua sing a long, berarti mereka mendengar lagunya dulu baru dateng ke Gigs. Dampaknya sih seperti itu bagi kami, mengeluarkan karya kami ke platform digital terlebih dahulu menurut kami sangat tepat sasaran.

EP Bad Mantra ini dirilis oleh Peculiar Records, nah pertemuannya sendiri gimana ?

Itu kerabat dari Gembi, terus kami kenalan dia suka dengan lagu Adult’s Dreamsis Violation, trus timbul wacana udah Peculiar Friend jangan cuma Brand jadiin Record Label sekalian, ibaratnya aku suka sama musik kalian dan aku mau bantu kalian rilis, kebetulan kami juga penggemar artworknya dia. Jadi begitusih ceritanya terjadi begitu saja.

 Untuk video clip Bad Mantra sendiri siapa yang mengerjakan dan gimanakonsepnya?

Itu sebenarnya Bad Mantra itu sudut pandangnya seperti orang lagi memikirkan apa yang ada disekitar dia, pada saat dia melihat disekitar dia seolah – olah seperti ada naskah yang muncul di otak si perempuan itu, kayaknya ini si orang jahatnya itu petinggi – pertinggi penjahatnya tuh lagi gini nih, pada saat dia berjalan itu sebenarnya proses saya memikirkan lirik itu seperti itu sih kayak nonton atau baca semuanya tiba – tiba muncul jadi satu gitu. Jadi akhirnya si perempuannya dapat cerita nih yang judulnya Bad Mantra, terus digarapnya saya yang Direct juga ada KRN Kukuh dan Epphik tapi Direct Utamanya saya, Camera Operatornya ada Epphik dan Adhyochim bassis Gagak Rimang Stoned, terus editing dikerjakan oleh KRN Kukuh, dan aktris perempuannya ada Parama Prenjana.

Inikan band – band sedang senang rilis vinylya, nah kalian akankan ada agenda kesana ?

Kita menganggap rilis vinyl adalah tanggung jawab yang berat, entah kenapa ya tanpa alasan yang pasti jangan dululah apaan sih ini band baru langsung rilis vinyl. kan enggak semua orang juga punya pemutarnya, ibaratnya kamu harus punya yang bagus dulu sampai pendengarmu rela beli vinyldan pemutarnya, Mungkin kedepan kami akan ada rencana kesana.

Ini kalian baru saja selesai acara peluncuran EP, nah komentar kalian bagaimana ?

 Gila sih, keren. Penonton yang dateng keren, Kita enggak nyangka banget akan dapat dukungan sama band yang udah lama banget di semarang seperti SAL gitu, ibaratnya sebelum saya menginjakkan kaki di Semarang mereka sudah merajai pensi – pensi gitu kan kebetulan saya disini kuliah, baru dateng ke Semarang belum kenal siapa – siapa udah tau SAL gitu. selain itu juga ada Sugar Bitter dan Santi Karisma yang lebih dulu rilis EP, amazing juga dengan temen – temen yang ikut bantu terselenggaranya acara ini, maksutnya berarti karya kita bisa menggerakan banyak orang untuk membantu, alhamdullilah sih.

Malam ini itu ada kejutan ya, band yang udah lama tidak tampil tiba – tiba dipaksa naik panggung oleh para penonton, nah itu bagaimana ceritanya ?

Kejutan sih itu haha, band yang sudah lama tidak tampil yang vokalisnya kami jadikan pembawa acara di acara rilis kami dan personil lainnya datang, yaudah sikat dan mereka berhasil menambah komplit keliaran malam ini hahaha. Tapi selain itu tadi juga ada kolaborasi live dengan Greedys, sama backing vocal yang mendadak cuman latihan tiga kali doang ada Acin sama Riko, itu semua jadi konsep yang menarik sih buat kami.

Langkah Olly Oxen setelah EP ini apa ?

Kita ingin bikin full album sih yang pasti, sambil promoin EP sambil jalan nyicil album, itu dulu sih yang terdekat.

Kalau dekat – dekat ini tur enggak ada ya ?

Belum – belum, kita belum ada rencana mengingat sebentar lagi bulan puasa haha.

Kalau yang ingin disampaikan untuk Longlife Magazine ?

Untuk Longlife Magazine makasih sudah mewadahi anak – anak dari industri kreatif kalian mengambil peran penting dalam satu skena spesifiknya industri kreatif. terima kasih juga sudah wawancara dengan saya dan kita juga bisa sampai sini juga atas bantuan media – media seperti kalian.

Ada yang ingin disampaikan lagi ?

Buat temen – temen yang masih muda khususnya ya karena saya masih muda juga, eksesekusi apa yang ada di pikiran kalian dan eksekusi apa yang bisa menjadi  manfaat untuk lingkungan disekitar kalian, jamannya muda jamannya berkarya habis habisan kalau bisa jangan terburu buru mikirin untung berapa apa gimana yang penting bisa memberi manfaat sebesar besarnya, dan semoga juga Olly Oxen juga bisa memberi manfaat untuk sebuah lingkungan, terima kasih.

foto depan

belakangh 1

belakang 2

Photo by          : Aditya Surya Nugraha

Teks                 : Brigitan Argasiam

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

Angsa dan Serigala, Kami Muda, Tangguh, dan Perkasa

1478998446674
Muda, Tangguh, dan Perkasa adalah salah satu lagu yang dapat merepresentasikan Angsa dan Serigala.“ ungkap Araji vocalis Angsa dan Serigala.

 

Longlifemagz – Memang pas rupaya mereka dengan ungkapan itu, Begitulah kesan yang kami dapatkan (baca : Tim Longlife Magazine) saat bertemu dan mewawancarai Angsa dan Serigala. Ketangguhan dan keperkasaan mereka untuk berani tampil beda dari arus utama musik Indonesia, mulai dalam menentukan sebuah nama band , konsep lagu, sampai genre musik yang terkesan anti mainstream, patut diacungi jempol dan berbuah kesuksesan.

Terbukti  sederet lagu yang mereka ciptakan sangatlah indah untuk didengar, mulai dari “Detik dan Waktu, Bersamaku, Hitam dan Putih, sampai Dua Harmoni” mempunyai tempat tersendiri  dihati pendengarnya. Jadi pantas saja dalam setiap performance-nya selalu disambangi oleh setiap penggemar yang ingin melihatnya secara langsung.

Angsa dan Serigala merupakan band asal Bandung yang mengangkat unsur folk, ballads, dan post-rock sebagai genre musiknya. Berdiri sejak tahun 2008, Angsa dan Serigala turut merubah dan mewarnai pasar musik di Indonesia ,yang kala itu dikuasai oleh musik pop yang mendayu-dayu (baca : musik mainstream).

Untuk saat ini Angsa dan Serigala menentapkan 7 orang sebagai personil tetapnya, yaitu Hendra Araji (Vokal,  Gitar Akustik, Mandolin, Ukulele), Meyga Sukmana (Vokal, Pianika), Danny Mokoginta (Gitar Elektrik, Gitar Akustik), Vicky Herdiana (Bass), Vidi Herdiana (Drum, Perkusi), Arditya Pradana (Keyboard, Synthesizer, Cowbell, Glockenspiel).

Walau sempat mengalami perombakan personil dan sempat tak terlihat di kancah musik Indonesia, Angsa dan Serigala masih tetap menunjukan eksistensinya. Misalnya pada tahun 2014, mereka sempat me-realease single “Dua Harmoni” kepublik. Dan kini diakhir tahun 2016 mereka kembali me-realease single terbarunya, “Bulan”  yang nantinya akan masuk dalam album kedua ditahun 2017.

Kali ini, Longlife Magazine mendapat kesempatan untuk mewawancarai mereka. Untuk  selengkapnya, silahkan nikmati wawancara kami (baca : Tim Longlife Magazine) bersama Angsa dan Serigala.

Angsa dan Serigala terbentuk sejak tahun 2008, namun disekitar tahun 2012 Angsa dan Serigala sempat tak terdengar kabarnya. Baru di sekitar tahun 2016 Angsa dan Serigala santer kembali dibeberapa event-event musik, seperti hilang sejenak tampaknya. Apa yang menyebabkan hal itu?

Araji             : Sebenernya ga hilang si, cuman karena sibuk perform aja jadi  kita lupa buat posting di media sosial, heheh. Tapi beneran, Alhamdullalh lah,  pokoknya kita masih ada perform. Nah sekarang itu karena moment-nya pas banget, kita lagi releasesingle terbaru. Setelah 2014 kemarin kita release single“Dua Harmoni” sekarang giliran “Bulan” yang sedang kita promoin. Jadi perform sekalian promo lagu terbaru, kan kalau dulu engga.

Masih banyak publik yang belum tau dan bertanya-tanya, Kenapa kalian memakai nama Angsa dan Serigala? Seistimewa apa Angsa dan Serigala sehingga dijadikan sebuah nama band?

Araji                : Karena kami ingin punya nama band yang unik. Yaudah kami pakai saja nama binatang, lagipula nama binatang jarang dipakai untuk sebuah nama band. Nah, karena personil kita ada perempuan dan ada juga laki-laki. Jadi kita mikir nama binatang apa yang sekiranya mewakili. Akhirnya dipilihlah Angsa dan Serigala. Kan selain itu Angsa dan Serigala enak juga saat diucapkan orang.

Jika waktu dapat terulang, nama binatang apa yang akan kalian jadikan nama band?

Araji             : Ada, Serigala dan Angsa, heheh. Emm, Apa ya? hehe

Vidi               : Keong dan Racun, hehe

Meyga          : Emm ini, Impun dan..

Araji             : Heheh, apa? Kelabang? Kelabang dan Entok, Hehhe. Gaada si sebenernya, sampai saat ini nama Angsa dan Serigala yang cocok sebagai nama band kita.

Jika mendengar lagu Angsa dan Serigala, lekat banget dengan unsur folk, ballads, bahkan post-rock. Apa yang membuat kalian sepakat  untuk bersinggungan dengan genre tersebut, padahal sampai saat ini genre tersebut masih terbilang susah masuk ditelinga orang Indonesia?

Araji             : Ya itu tadi, karena kita pengen jadi sesuatu yang baru ditelinga orang Indonesia. Selian itu orang juga punya alternative lain ketika dengerin lagu band di Indonesia. Biar genre-nya ga itu-itu melulu.

Sejak Angsa dan Serigala terbentuk pernah mengalami tranformasi personil, yang akhirnya ditetapkan untuk saat ini sebanyak 7 orang personil dengan memainkan lebih dari 17 instrument musik. Dibalik kelebihan kalian akan itu, ada ga kendalanya?

Araji                :Mungkin si lebih kemasalah ini, nentuin waktu. Terus apalagi ya?

Meyga             : Masalah kouta juga.

Araji                : Oiya, masalah kouta bisa juga. Kan kalo tour keluar kota kadang ada beberapa Event Organizer atau pihak panitia yang agak susah tuh kalau rombongannya terlalu banyak. Selain itu susah juga nyatuin ego masing-masing. Tapi dibalik itu, lebih banyak senengnya dari pada engganya.

1478998463145

Cukup banyak lirik lagu Angsa dan Serigala yang bercerita tentang kegalauan, kesedihan, kekecewaan, seperti misal  “Kala Langit Tlah Senja, Sesaat Akan Sirna”, bahkan “Hitam dan Putih”. Namun kalian membungkusnya dengan instrument musik yang terkadang terkesan riang. Apa yang melatar belakangi hal tersebut?

Araji                : Ya itu tadi maksudnya..

Arditya             : Jadi kalau galau jangan sedih, hehe

Araji                : Kalau galau jangan sedih, naon (Baca : Apa)?, hehe.

Meyga             : Jadi kalau dibalutnya sama musik sedih takut pada bunuh diri, heheh.

Araji                : Ya, jadi memang kita kepikiran dan cocoknya untuk membalut lagu tersebut dengan aransement seperti itu. Kan ga mesti lagu sedih nadanya sedih. Begitu juga, ga semua nada riang itu maknanya riang.

 

Angsa dan Serigala pernah mengangkat tema persahabatan dalam lagunya seperti yang terkandung dalam lagu “Detik dan Waktu”. Seberapa berharganya sahabat dimata kalian, sehingga kalian mengabadikannya didalam lagu?

Araji                : Sesuatu yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata itumah. Seperti apa ya?

Meyga             : Seperti dilirik “Detik dan Waktu”, asik hehe.

Araji                : Heheh, ya  pokoknya, persahabatan tuh yang gabisa diukur oleh apapun, jadi ga lekang dimakan zaman.

Kalau kalian sudah menanggap kalian sebagai sahabat di Angsa dan Serigala, atau lebih sebagai keluarga?

Araji             : Sahabat dan keluarga. heheh

Arditya         : Lebih kekakak adean si, hehhe

Araji             : Heheh, itu si permasalahan waktu ya. Kan kalo keluarga mungkin udah lama banget bersama, nah kan bisa jadi keluarga. Kalo sebentar ya mungkin sahabat. Kalo kita udah diluar itu. Maksudnya, udah lebih kekeluarga kali ya.

Pada tahun 2017 kabarnya akan me-release album kedua. Tajuk dan cerita yang kalian angkat dalam album tersebut apa?

Araji                : Sampai detik ini, kami belum menentukan tajuk album terbaru Angsa dan Serigala. Untuk album kedua sebenarnya sama saja, tapi kami akan memberikan mood serta aura yang berbeda dari album sebelumnya. Maksudnya, masih tetap nuansa Angsa, tapi rasa album yang ke-2 akan berbeda saat didengar dari album sebelumnya.

 

Kalo membahas tentang harapan dan mimpi. Apa harapan dan mimpi terbesar Angsa dan Serigala yang ingin kalian wujudkan?

Araji                : Manggung konser keluar negeri.

Meyga             : Keseluruh Indonesia juga.

Araji                : Punya album ke 5, skip jadi abis kedua langsung ke-5 aja, hehe

Meyga             : Masuk Best of The Best pokoknya,

Araji                : Iya, masuk Best of The Best juga. Selalu bisa bikin sesuatu bareng walau sampe tua nanti, ga harus tentang band. Apalah itu pokoknya, Entah boyband atau apalah, hehe.

Meyga             : Hei, hehe

Arditya            :Yang pasti, musik kita bisa didengerkan oleh semua kalangan dan selalu disukain oleh banyak orang tentunya.

Lagu apa yang paling merepresentasikan Angsa dan Serigala, menurut kalian apa?

Araji                : “Semua Tak Sama” (baca : Judul lagu Padi) ada ga?, heheh

Arditya            : Gaada gaada,hehe. Emm “Judul Hujan”

Araji                : Engga ada, heheh. Yang merepresentasikan kita? Emm apa ya?

Meyga             : “Bersamaku”

Araji                : Kalo menurutku si “Hitam dan Putih” sama “Muda, Tangguh, dan Perkasa” yang paling merepresentasikan kita.

1478998478819

Photo by       : Fakhri Hardianto & doc. Angsa dan Serigala

Text by         : Dirham Rizaldi

Selain project serabutan, mencoba peruntungan pula sebagai penulis lepas, buruh event, dan usaha kecil clothing.

FIND US ON

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.

 

Pin It on Pinterest