1


20 Tahun Reformasi: Beberapa Karya Yang Dibelenggu

 

Photo doc. Kompas

Era pra-Reformasi dan rezim Orde Baru menjadi jalan gelap untuk beberapa musisi.

 

Longlifemagz – Tepat tanggal 21 Mei 1998, Soeharto akhirnya turun dari jabatannya sebagai Presiden. Buah dari tuntutan dan unjuk rasa berbagai lapisan masyarakat Indonesia yang dilakukan secara masif ini berhasil menumbangkan kekuasaan “The Smiling General” yang sudah terlalu nyaman berkuasa selama 32 tahun.

Enam tuntutan sekaligus dilayangkan mengecam kesewenang-wenangan beliau selama berkuasa, mulai dari penegakan supremasi hukum, pemberantasan KKN, mengadili Soeharto dan kroninya, pencabutan Dwifungsi TNI/ Polri, pemberian otonomi daerah seluas-luasnya, sampai amandemen konstitusi yang di dalamnya terdapat hak dalam mengemukakan pendapat.

Soeharto sebagai presiden terkesan menganggap negara sebagai rumah, dimana terdapat bapak, ibu, maupun anak. Dan peran bapaklah yang diambil oleh Soeharto, tentunya sebagai bapak yang otoriter dan terkesan bertindak represif, demi tercapainya sistem tata negara sesuai visi misinya. Oleh karenanya, tidak jarang ekspresi, aspirasi, bahkan kritik masyarakat yang dianggap bertolak belakang dengan dalih cita-cita pembangunan yang telah ia rancang, akan tidak didengarkan, ditolak, atau bahkan dibalas dengan tindakan yang tak jarang melibatkan fisik didalamnya.

Tak ada pihak yang mampu bersembunyi darinya dibawah matahari. Begitupun para musisi sebagai segelintir bagian dari masyarakat bila melakukan tindakan yang bertolak belakang sesuai wacana yang telah dibangun oleh pemerintah akan pula menerima akibatnya, minimal merasa diawasi aktivitasnya oleh aparat yang berwenang.

Dalam memperingati 20 tahun reformasi Indonesia, Longlifemagz akan memberikan beberapa contoh karya para musisi yang dicekal akibat terlalu vokal dalam mengkritik rezim Orde Baru.

 

Iwan Fals yang Diinterogasi

Iwan Fals adalah salah satu musisi yang konsisten menyuarakan masalah-masalah sosial yang terjadi dan mendokumentasikannya dalam lirik-lirik lagunya. Sederet lagu, baik dari album solo maupun bersama grup Kantata Takwa dan Swami bernuansa protes sosial disajikannya lewat beberapa karya, diantaranya “Bongkar”, “Bento”, “Kesaksian”, “Ambulance Zig-Zag”, “Sugali” dan “Wakil Rakyat”.

Tidak hanya moral maupun kesewenangan pemerintah Soeharto yang diprotes Iwan, Kebobrokan dan masalah di sektor transportasi juga dijadikan bahan celotehannya. Misalnya, tentang musibah kapal Tampomas II di perairan Masalembo karena mendayagunakan kapal bekas pada lagu “Celoteh Camar Tolol dan Cemar”, ada juga tentang musibah kereta api Bintaro yang akhirnya dijadikan judul album yang dirilis setahun setelah tragedi tersebut, yakni 1910

Aktivitas bermusik yang dilakukan oleh Iwan pun akhirnya dimonitor ketat oleh pemerintah, sampai puncaknya adalah pencekalan dan larangan mengadakan tur di berbagai kota. Selain itu, Iwan Fals juga pernah berurusan dengan pihak berwajib, ia pernah diinterogasi selama 14 hari saat konser di Pekanbaru, dengan tuduhan menghina negara dan ibu negara akibat lagu “Demokrasi Nasi” dan “Mbak Tini” yang dibuatnya.

 

Rhoma Irama dan Pencekalan

Dibalik tema lagu cinta, moral, dan dakwah agama, dangdut melalui sang raja dangdut Rhoma Irama membahas pula tentang kritik dan masalah sosial, itu yang membuat pihak pemerintah gerah. Terlebih pada waktu itu Rhoma Irama adalah idola masyarakat umum, dengan musik yang sepopuler itu mampu menggerakkan massa ratusan ribu orang.

Baca : Raja Dangdut, Polemik Dakwah, Musik, dan Goyang

Banyak lagu Rhoma yang vokal menyuarakan masalah sosial dan tak jarang diantaranya menyentil pihak penguasa. Seperti misalnya “Hak Asasi” yang berbicara tentang adanya hak-hak asasi setiap manusia. Selain itu “Rupiah”, lagu yang berbicara tentang pendewaan orang-orang akan uang dan menggunakan berbagai cara untuk mendapatkannya.

Lagu “Rupiah” dicekal oleh pemerintah karena  menurut mereka liriknya mengandung hinaan terhadap mata uang nasional. Seperti yang dikutip dalam Lifestyle Ecstasy : Kebudayaan Pop Dalam Masyarakat Komoditas Indonesia. Lagu ini dilarang di televisi, dan menurut sejumlah pedagang kaset, kasetnya di singkirkan secara halus terutama karena tekanan pemerintah.

 

Elpamas dan Pak Tua-nya

Dekade 80-an merupakan rentang tahun dimana banyak band rock berkualitas yang bermunculan. Salah satu penyebabnya adalah diselenggarakannya Festival Rock se-Indonesia yang diprakasai oleh Log Zhelebour, seseorang yang mempunyai peran dalam memajukan musik rock di tanah air. Berkat festival tersebut makin banyak terpantau band-band rock baru bermunculan dan mendapat atensi publik. Elpamas adalah satu di antara band rock berkualitas tersebut.

Salah satu lagu yang mengantarkan Elpamas makin di kenal publik adalah “Pak Tua”, lagu kontroversial yang bercerita tentang penguasa tua yang belum juga pensiun. Lewat lagu itu pula Elpamas sempat mendapatkan pencekalan akibat dituduh menghina penguasa, dalam hal ini Soeharto.

 

Pop Mendayu Yang Mengancam

Tidak hanya lagu yang mengkritik secara langsung terhadap rezim, lagu dengan lirik yang cengeng dan musik yang mendayu-dayu tak luput dari incaran pemerintah. Ada lagu Hati Yang Luka” yang dipopulerkan oleh Betharia Sonata. Kemudian, “Gelas-Gelas Kaca” buatan Rinto Harahap yang dinyanyikan oleh Nia Daniati turut pula dikomentari oleh Menteri Penerangan kala itu, Harmoko.

Lagu bernada cengeng dituding oleh pemerintah melalui Deperteman Penerangan sebagai lagu yang melemahkan sekaligus mematahkan semangat dan tidak berjiwa pembangunan seperti yang didengung-dengungkan dalam jargon ekonomi pembangunan pada era orde baru. Menurut beliau, lagu tersebut adalah lagu ratapan patah semangat berselera rendah dan menghimbau agar lagu kelas krupuk dan cengeng seperti itu dihentikan penayangannya.

Dalam penelitian Irfan R. Darajat yang diunggah dalam website JurnalRuang juga menyebutkan banyak indikasi hal itu terjadi diantaranya karena dapat mengguncang imaginasi keluarga bahagia Orde Baru yang dibayangkan oleh negara.

 

 

 

Selain project serabutan, mencoba peruntungan pula sebagai penulis lepas, buruh event, dan usaha kecil clothing.

MURPHY RADIO, BAND MATH-ROCK ASAL SAMARINDA JADI JUARA PLANETROX INDONESIA 2018

Photo by doc. Murphy Radio

Tancapkan bendera #borneopride di malam final Planetrox Indonesia, Murphy Radio siap terbang menuju Kanada.

 

Longlifemagz – Berita baik kembali datang dari trio instrumental rock, Murphy Radio setelah sebelumnya cukup meramaikan scene musik nasional dengan video musiknya, lalu masuk kesepuluh besar Siasat Trafficing, kini Murphy Radio lolos kelima besar ajang Planetrox Indonesia 2018.

Ajang yang diselenggarakan pada pekan lalu (10/5) ini menyatakan Murphy Radio, yang beranggotakan Wendra, Aldi Yamin, dan Amrullah Muhammad keluar sebagai pemenang Planetrox Indonesia 2018 melalui sesi live audition mengalahkan empat band lainnya: The Badminton, S.A.M Site, Kraken dan Stereo wall yang kesemuanya adalah band asal Pulau Jawa.

Murphy Radio nekat terbang ke Jakarta ditengah proses rekaman album perdana mereka, sebuah langkah gambling yang biasanya jarang diambil oleh band-band daerah lainnya. Selain itu sistem penilaian yang terbagi 75% dari juri (Ezra Simanjuntak, PJ Panjidan Simon Gaudry) dan 25% dari voting penonton tidak membuat mereka gentar untuk datang.

Planetrox adalah kompetisi musik yang berlangsung di 10 negara: Kanada, Amerika Serikat, Perancis, Britania Raya, Jerman, Meksiko, Ceko/Slovakia, Jepang, Cinadan Indonesia. Pemenang dari setiap negara akan berkesempatan untuk tampil dalam festival music Evol et Macadam yang diselenggarakan bulan September nanti di Kota Quebec, Kanada.

 

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

43 TAHUN SEJARAH NASIDA RIA, DAKWAH DENGAN RIANG GEMBIRA

Photo doc lagu-qosidah.blogspot.com.

 “Nasida itu kan nyanyian, ria itu gembira. Dalam hal ini kita Nasida Ria berdakwah melalui musik, dengan nyanyian riang gembira,” ujar Rien Jamain.


 

Longlifemagz – Siang itu Nasida Ria sedang latihan rutin, untuk persiapan pentas mereka disalah satu event di Demak. Latihan didalam kediaman Gus Choliq Zain, yang tak lain merupakan basecamp dari mereka sekarang. Dibagian depan kediamannya, disulap menjadi Warung Soto, “Kami membuka usaha ini sekaligus menambah-nambah pemasukan,” beliau bercerita membuka obrolan kala itu.

Terlihat disana terdapat sekitar delapan orang pengunjung tampak sedang asyik menyantap soto. Sebagian dari mereka ada pula yang sudah selesai menikmati, dan berbincang hangat sembari menikmati teh yang masih sedikit tersisa.

Empat orang dari kami, tim Longlife Magazine, datang meliput langsung aktivitas dari Nasida Ria. Kami menikmati suguhan kopi hitam yang telah disediakan sembari berbincang banyak dengan Gus Choliq Zain, yang saat ini merupakan manager dari Nasida Ria, sekaligus anak dari (Alm) H. Muhammad Zein, penggagas Nasida Ria awal kali terbentuk.

Kini Nasida Ria memang sedang sibuk-sibuknya. Selain jadwal pentas yang padat, nantinya mereka juga akan mengeluarkan album baru ditahun ini.

Awal Mula

Adalah Nasida Ria, grup musik qosidah modern yang sudah berdiri sejak 43 tahun silam, tepatnya tahun 1975. Ide untuk membuat grup ini datang dari (Alm.) H. Muhammad Zein sebagai medium berdakwah dalam menyiarkan ajaran islam.Muhammad Zein atau Bapak Zein adalah guru di Departemen Agama (DEPAG) dibagian seni membaca Al-qur’an. Beliau pendidik agama sekaligus orang yang gemar berkesenian, dalam bidang musik. Beliau melihat musik sebagai bagian dari seni, dijadikan medium untuk menyebarkan syiar agama. Hal ini sudah dilakukan beliau bersama grup As-Syabab, grup yang memainkan musik gambus (padang pasir) dan melantunkan syiar Islam, berbahasa Arab.

Mempunyai pondok pesantren, Pak Zein mengajarkan ajaran Islam, mulai dari membaca Al-qur’an sampai Qira’at kepada murid-muridnya. Tidak hanya terfokus di Kota Semarang, beliau juga berkeliling ke kota-kota sekitar Jawa Tengah mulai dari Magelang, Batang, sampai Pekalongan.

Mengaji adalah satu pelajaran yang wajib ditekuni oleh setiap muridnya, sampai benar dalam lafal. “Setiap Jum’at pagi kita membaca Al-qur’an,” ujar Rien Jamain, salah satu anggota awal Nasida Ria yang masih bertahan hingga saat ini. Selain itu etika sebagai muslim juga digenjot sebagai pegangan dalam bersikap dan berpikir. Dalam pembinaan itu dikasih kegiatan bermusik. “Kita dibimbing dan diberikan pelajaran mengaji, seni, dan musik,” ia melanjutkan kisahnya.

Dalam menjalankan rutinitas mendidik di berbagai kota, Pak Zein melihat potensi murid-muridnya dalam membaca Al-qur’an, Qira’at, dan juga bermusik. Dikumpulkanlah murid-murid di pondok pesantrennya, di Jalan Kauman Mustaram No. 58, Semarang.

Pak Zein perlahan tapi pasti mulai membimbing murid-muridnya untuk menyanyikan dan memainkan lagu Arab, gambus, bernuansa padang pasir. “Dulu awal-awal masih pakai rebana,” kata Gus Choliq Zain.

Seiring waktu, potensi murid-muridnya makin terlihat dalam mensyiarkan agama melalui musik, diciptakanlah sebuah grup qosidah, dengan nama Nasida Ria. “Nasida itu kan nyanyian, ria itu gembira. Dalam hal ini kita berdakwah melalui musik, dengan nyanyian riang gembira, ujar Rien sedikit berfilosofis ketika ditanya mengenai ihwal awal mula nama grupnya tersebut.

Maka berdirilah Nasida Ria, dengan 9 personil wanita didalamnya, Mudrikah Zein, Muthaharah, Rien Jamain, Umi Khalifah, Musyarrofah, Nunung, Alfiyah, Kudriyah dan Nur Ain.

Hingga memasuki tahun 1978, mereka merilis album “Alabadil Makabul”. Berisikan lagu-lagu yang kental akan nuansa Arab dan musik padang pasir, melambungkan nama Nasidaria hingga makin dikenal masyarakat.

Belakangan Nasida Ria mengalami perubahan, baik itu dalam penggunaan bahasa yang dipakai didalam syair. “Kita gunakan bahasa Indonesia, lugas dan merakyat, agar lebih mudah tersampaikan,” terang Gus Choliq. “Sampai musik yang sebelumnya kental akan irama gambus (padang pasir), kita kembangkan lagi” beliau menambahkan. Bertambahlah instrumen baru berpadu-padan dengan qosidah, mulai dari gitar, kendang, bass, organ, sampai biola. Warna musik ini menghasilkan perpaduan unik, yang hanya dimiliki oleh Nasida Ria.

 

Perjuangan Musik dan Dakwah Nasida Ria

Jalan mulus tidak langsung ditemukan dalam karir Nasida Ria, walau mereka mempunyai tujuan baik dalam bermusik. Pertentangan kian muncul dipermukaan. Banyak yang mempertanyakan jalan yang diambil dari Nasida Ria “Yang nyanyi kok perempuan? Berdakwah kok melalui musik?”

Dengan keseluruhan personil yang terdiri dari perempuan dan tampil bermusik didepan publik. Belum lagi sistem patriarki yang masih dominan dipercaya kala itu yang masih belum terlalu banyak menampilkan wanita di ruang publik dalam konteks bermusik. Ditambah dengan stigma usang tentang perempuan yang harus mengurus rumah tangga dan anak semakin menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat yang masih memandang sinis terhadap apa yang mereka lakukan.

Namun atas keteguhan prinsip, iktikad yang baik, dan dukungan dari berbagai pihak, “Banyak juga kiai-kiai yang mendukung ,“ ujar Gus Choliq, Nasida Ria tetap memilih jalannya. “Yang penting tujuan kita berdakwah,” Gus Choliq menambahkan dengan yakin.

Nasida Ria dalam proses bermusiknya mengalami transformasi dari gambus menuju qosidah modern. Hal ini bermula dari sumbangan alat musik organ, gitar dan juga drum dari Imam Suparto (Walikota Semarang pada saat itu). Selanjutnya, Rien bercerita bahwa instrumen kembali berubah setelah ada guru dari RRI (Radio Republik Indonesia) Semarang yang mengajari mereka bermain biola. Seterusnya drum dihilangkan, hingga terbentuklah format bermusik mereka seperti sekarang ini dalam bentuk qosidah modern.

Untuk menunjang keberhasilan mereka berdakwah melalui musik, latihan terus dilakukan untuk menghasilkan karya yang bagus. Gus Choliq mengatakan personil Nasida Ria jika sudah menguasai satu alat musik, harus bisa juga memainkan instrumen lainnya. Setiap pergantian lagu ada personil yang digilir bermain dengan posisi yang berbeda. “Kondisional tergantung kebutuhan dari lagu tersebut,” Rien mengiyakan.

Setidaknya atas ketekunan mereka hingga kini selebihnya sudah 34 volume album yang dikeluarkan Nasida Ria, dengan total kurang lebih 300 buah lagu yang diciptakan.

Baca :

Benci Tapi Rindu, Perjalanan Dangdut Yang Berliku

Raja Dangdut, Polemik Dakwah, Musik, dan Goyang

Sederet lagu Nasida Ria, masih terus diputar mulai dari televisi, radio, dari rumah ke rumah, sampai acara-acara pengajian maupun pernikahan. Lagu “Pengantin Baru” yang terdapat dalam volume ke-4, album “Sholawat Nabi”, masih menjadi themesong dalam hajatan pernikahan. Tilik volume ke-5 dari Nasida Ria, album “Perdamaian”, terdapat nomor-nomor yang kian memperkenalkan Nasida Ria dalam lingkup nasional. Seperti lagu “Perdamaian”, yang pada medio 2000-an dinyanyikan ulang oleh band Gigi. “Kota Santri” turut pula dicover ulang oleh beberapa musisi, salah satunya Anang Hermansyah dan Ashanty.

“Dia (Pak Zein) nulis lagu ‘Kota Santri’, sambil jualan bensin eceren. Nah ada situasi santri-santri Kaliwungu (Semarang) itu ngaji. Jadilah itu lagu,” kenang Zain seraya tertawa kecil. Lirik lagu “Kota Santri” yang sederhana, dan dekat dengan realita, membuat lagu tersebut masih terasa relevan dan terus dinyanyikan sampai sekarang.

Nomor-nomor lainnya, tidak kalah terkenal dan bagus untuk didengar. Sebut saja “Mashitoh Indonesia” (Vol 10 – Dunia Dalam Berita), “Tahun 2000” dan “Jangan Jual Ginjalmu” (Vol. 12 – Rumahku Surgaku) , “Bom Nuklir” (Vol. 14 – Anakku), “Keadilan” (Vol. 18 – Keadilan), sampai “Nabi Muhammad Mataharinya Dunia” (Vol. 24 – Nabi Muhammad Mataharinya Dunia).

Lagu dan liriknya, banyak diapresiasi oleh publik, salah satunya oleh media Vice Indonesia. Tidak hanya kental akan dakwah, Vice Indonesia melalui artikel yang dimuatnya menyatakan lirik-lirik Nasida Ria lekat akan nilai futuristik. Rien merasa dulu dia juga tidak mengira bahwa lagu-lagunya akan seperti itu, menjadi suatu fenomena yang benar-benar terjadi didalam masyarakat. ”Terkadang saya ketika merenung sampai merinding mengapa lagu- lagu Nasidaria benar-benar menyentuh dalam kehidupan” ucap Rien merespon fenomena tersebut.

Selain Zain, Abu Ali Haidar alias KH. Ahmad Bukhari adalah salah satu pencipta dari lirik-lirik yang terkandung dalam Nasida Ria. “Sangat cemerlang banget itu bapak Ali Haydar, kadang mengambil dari Umi Kalsum sama Bapak Zein (Alm) kadang bahasa Arab di Indonesiakan, kadang idenya lahir sendirinya dari realita disekitar” Rien berujar dengan penuh kagum. Dia bercerita lagu-lagu yang diciptakan Abu Ali Haidar tersebut hadir atas renungan-renungan yang ia lakukan.

Pernah pada suatu waktu Abu Ali berkata ke Rien “Mbak Rien, besok tak buatkan lagu dari mempertanyakan, sopo ngerti (siapa yang tahu), siapa yang bilang?. ”Eh jadi lagu Siapa Bilang,” kenang Rien. Lagu yang mempertanyakan dan melawan wacana bahwa anak muda telah merosot akhlaknya.

Tidak hanya menyebarkan syiar agama, lirik lagu Nasida Ria juga humanis, peka akan realita dan isu-isu disekitar. Bergelut di era Orde Baru, tidak membuat mereka takut untuk mengkritik apa yang salah, seperti lagu “Keadilan”, “Reformasi”, maupun “HAM HAM HAM” adalah sedikit diantaranya. “Tidak ada larangan pada waktu itu,” kata Gus Choliq. “Kita hanya berbicara tentang pemerintahan, tidak menyinggung ataupun melanggar aturan,” tandas Rien.

Konsistensi berdakwah dalam musik, mensyiarkan agama, humanis, menyebarkan nilai-nilai kebaikan membuat Nasida Ria mendapatkan penghargaan. Mulai dari penghargaan Pengemban Budaya Islam dari PWI Pusat Jakarta (1989), Penghargaan Seni dari PWI Jateng (1992) sampai Anugrah Keteladanan 2004 dari PPP Jateng (2004).

 

Busana, Fans dan Panggung.

Dari acara satu ke acara lain, dari satu panggung ke panggung lainnya, Pak Zein terus melatih mental para personil Nasida Ria pentas didepan orang banyak. Bukan suatu yang mudah bagi para personil yang notabene perempuan dan anak pesantren.

Untuk mempersiapkan penampilan didepan orang banyak, tidak jarang setiap personil berlatih sesering mungkin. “Karena Bapak (Zein) itu orangnya detail banget,” tutur Rien.

Segala bentuk latihan dilakukan untuk menghasilkan penampilan maksimal diatas panggung, mulai dari latihan musik, berbicara didepan banyak orang, sampai latihan bergaya kala memainkan musik. “Pakai dipan itu dulu saya sering latihan, Pokoknya waktu itu lucu-lucu,” kenang Rien tersenyum.

Tiba dipanggung pertamanya, Nasida Ria mampu tampil dengan cukup sukses, “Salah satu tempat pertama adalah saat acara yang digelar oleh Departemen Agama Kota Semarang,” Gus Choliq berujar. “Hingga berlanjut di Balaikota, kantor Kementerian, sampai di RRI. Lama kelamaan diundang di alun-alun, di masjid masjid besar. Itu sekitar tahun 75an akhir,” ucap Rien mencoba mengingat.

Rasa grogi tak lepas dirasakan setiap personil, kala banyak mata yang menyorot mereka. Manusiawi memang, namun pertunjukan harus tetap dilakukan, panggung harus tetap ditaklukkan. Berdoa adalah salah satu kewajiban yang mereka lakukan, “Doa apa saja pokoknya. Supaya gak dredek (grogi),” kenang Rien sembari tertawa. Ya, doa adalah obat mujarab untuk hilangkan rasa grogi dipanggung.

Nasida Ria semakin mendapat sorotan dari masyarakat, terlebih juga dalam trend berbusana, mereka menjadi trendsetter pada masa itu. Rien mengatakan belum banyak perempuan pakai jarit (kain batik panjang), baju, kerudung sekaligus bermain musik pada saat itu.

Berbondong-bondong wanita mengikuti gaya berbusana Nasida Ria, “Itu sampai di Johar (pasar di Semarang), banyak itu (perempuan) yang nyari jarit Nasida Ria, kerudung Nasida Ria”, ucap Rien. “Padahal saya sendiri tidak punya, karena waktu itu banyak banjir, jadi dulu jarit kita kumpulkan, untuk disumbangkan” beliau lanjut menambahkan. Saking hype nya gaya Nasida Ria dalam berbusana, selain masyarakat umum, grup-grup musik qosidah perempuan lainnya turut terpengaruh oleh mereka.

Ada kesadaran dalam diri mereka untuk mengubah gaya penampilan berbusana, dari yang sebelumnya sedikit terbuka, menjadi lebih tertutup. Selain banyaknya masukan yang diberikan dari para kiai/alim ulama, dan juga efek Nasida Ria yang kian dijadikan salah satu contoh oleh perempuan pada masa itu, sampai hidayah yang diperoleh sehabis pulang berhaji.

“Kita cari model yang lain, sekarang mulai tertutup saja. Kita semua berjilbab, menutup aurat”, ucap Rien. Model baru telah disepakati, Nasida Ria tampil lengkap dengan busana muslim, kerudung, dengan model dan warna yang catchy.

Dari satu album ke album lainnya mendapat sambutan yang baik, lagu-lagu Nasida Ria makin dikenal publik. Job untuk pentas, kian bertambah intensitasnya. “Dalam sebulan manggung bisa 30 kali” ungkap Gus Choliq.

Berbagai kota-kota di Indonesia tidak luput mereka sambangi, mulai dari kota-kota disekitar Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, sampai Ibukota Negara Republik Indonesia, Jakarta.

Berbagai sambutan dari penonton menyambut kedatangan Nasida Ria di berbagai kota, “Semarang, diluar kota juga, apalagi kota di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat”, Rien berujar. Selalu ada ritual khusus sebelum mereka manggung, mereka diarak-arak keliling kota oleh para penonton. “Kita awal datengnya, nanti pas sore kita sudah diarak pake mobil terbuka” ia menambahkan. Bila sudah begitu, penonton langsung mengerubungi dan dapat dipastikan saat pentas sudah berlangsung penonton ramai memadati.

Tidak semua pentas, mempunyai kenangan yang teramat baik. Perilaku penonton yang tak bisa ditebak, atmosfer dari crowd yang berbeda di tiap venue mereka pentas dan aturan mainnya. Ada saja penonton khususnya anak muda yang tidak mendengarkan, meresapi makna lagu, dan dakwahnya. Hanya berjoget saja. Kericuhan dan ribut antar penonton juga dialami. “Saya bilang, tolong mas, Nasida Ria kan qosidah, gausah lah ngadu kekuatan (berantem),” kenang Rien. Ditempat berbeda, lain lagi ceritanya, Gus Chaliq berkata dulu pernah ada yang melempar botol kecil dan mengarah ke dia, dikarenakan request lagu yang diminta tak kunjung dimainkan oleh Nasida Ria, “Untungnya tidak kena,” ujar beliau sembari tertawa.

Selalu ada cerita berbeda dan menarik dari berbagai kota. Mulai dari main di Desa Sanganjaya (daerah Tegal, Jawa Tengah) dan di daerah Dieng dengan sound system yang kurang enak didengar (noise) karena akses jalan yang susah.”Saya sempet tinggal tidur itu karena tidak enak” ucap Gus Choliq. Namun ternyata euforia penonton tetap meriah dan tinggi, “Kekecewaan saya hilang gitu aja, lihat penonton senang, nikmatnya luar biasa,” kata Gus Choliq.

Setiap personil juga memiliki kisah personal tersendiri dengan para fans. Dari mulai ada fans yang banyak memberi bingkisan dan bunga, sampai “Ada juga (personil) yang cinta lokasi waktu manggung, dan sampai sekarang telah menjadi pasangan suami istri,” Rien bercerita sembari tersenyum.

Semua pengalaman dan cerita yang telah dilewati mereka jadikan pelajaran dalam berseni dan dakwah di Nasida Ria. Hingga datanglah sebuah kesempatan, dari seringnya pentas di berbagai kota, konsistensi dalam berkarya, dan dukungan dari berbagai pihak, Nasida Ria mendapat undangan untuk pentas di Kerajaan Malaysia pada tahun 1988, dalam rangka memperingati 1 Muharam.

Dibulan Maret tahun 1994 atas undangan Haus de Kulturen der Welt (Lembagai Kebudayaan Jerman) dalam event yang bertajuk Die Garten des Islam (Pameran Islam Dunia), Nasida Ria menjadi perwakilan Indonesia dalam event tersebut.

Selang 2 tahun, Juli 1996 Nasida Ria kembali berangkat ke Jerman dalam rangka Festival Heimatklange ’96 “Sinbad Travel”, mereka juga melakukan tur di beberapa kota, mulai dari Reclinghausen, Mulheim, sampai Dusseldorf. ”Kita seneng banget waktu itu,” kenang Rien. Menurut beliau, orang Jerman itu tidak peduli mereka dari mana, asal usul mereka, ada musik seperti ini mereka joget. Waktu itu selain lagu Nasida Ria, mereka menyelipkan pula lagu “Kopi Dangdut” dalam setlist nya. “Wah lagu itu diulang-ulang, orang senengnya bukan main itu,” tambahnya.

Hingga kini Nasida Ria, masih tetap eksis sebagai grup musik qosidah modern. Walau sempat mengalami fase kesunyian, di medio 2000an. RRReC Festival dapat disebut sebagai salah satu faktor ramainya kembali Nasida Ria diperbincangkan, bahkan melebarkan pasar pendengar mereka hingga sampai ke telinga generasi muda, ABG sampai para hipster indie.

Setelah menjadi salah satu headliner dalam event RRReC Fest pada tahun 2016, mendapat kesan istimewa tersendiri oleh Nasida Ria. “Banyak orang yang dulunya tidak kenal jadi kenal, yang dulunya tidak suka jadi suka,” Rien berkata.

Begitupun dengan fenomena ditahun 2017 akhir, dimana banyak meme yang diambil dari video lagu Nasidaria di kanal Youtube, sampai lagu “Wanita Kampret” (Lagu aslinya berjudul “Wajah Ayu Untuk Siapa”).

Rien berujar wanita boleh berdandan berhias dengan sepantasnya, namun juga perlu untuk menjaga diri. Kemudian, dia menambahkan “Ya kecantikan wanita itu kan untuk suami, jadi jangan sampai hanya dimanfaatkan oleh para lelaki yang hanya mengambil keuntungan demi penuhi hasrat” (dianalogikan seperti kampret yang habis memakan sedikit mangga dipohon, lalu ditinggalkan ternoda).

Terlepas dari itu, personil Nasida Ria tidak terlalu ambil pusing begitupun dengan Rien Jamain sebagai salah satu personil dari generasi awal Nasida Ria terbentuk, pun ia banyak berterimakasih kepada remaja-remaja sekarang ini yang mau mendengarkan lagu qosidah. “Sekarang Alhamdulillah,” ucap Rien.

Hingga sekarang Nasida Ria masih tetap ada, berkarya, dan tetap eksis ditengah masyarakat Indonesia. Terlalu besar namanya untuk sebuah grup musik terlebih qosidah modern yang sudah berkarya selama 43 tahun lamanya. Ada baiknya selalu perhatikan pepatah yang berbunyi “makin tinggi pohon maka akan semakin kencang angin yang menerpa”. Bisa berlaku juga di Nasida Ria, namun yang perlu diingat adalah salah satu pesan yang diberikan oleh seorang panutan mereka, diantaranya Rhoma Irama. Ia berkata : tetap jaga kerukunan dan kekompakan, dan bila ada masalah selalu selesaikan dengan bermusyawarah. ”Semoga semua dimudahkan oleh Allah SWT, Insha Allah,” tutup Rien dengan penuh harap.

 

 

Reportase        : Musa Hakam, Dipto, Fakhri, dan Dirham

Penulis             : Dirham Rizaldi

Editor              : Musa Hakam

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

BENCI TAPI RINDU, PERJALANAN DANGDUT YANG BERLIKU

Illustration by tirto.id

Mulai dari akulturasi musik,  polemik “tai anjing” sampaI keberhasilan memikat hati rakyat.

 

Longlifemagz – Dunia sudah berkembang, Proyek MRT (Mass Rapid Transit) yang tadinya mangkrak sekarang sudah terpampang. Dunia musik juga demikian, dari bajakan sampai orisinil, dari piringan hitam sampai spotify. Terlebih, perjalanan musik ter-khusus dangdut di Indonesia juga sangat mencekam, harus jauh-jauh kembali pada era 1970-an, ketika Benny Soebardja salah satu musisi Rock Progresive menyatakan dangdut adalah “Musik tai anjing”. Setidaknya kita harus bisa membayangkan bagaimana Musik Dangdut rela terhakimi dengan nuansa rock yang lagi jaya-jayanya pada masa itu.

Akar sejarah dangdut bisa ditarik jauh lebih ke belakang, mengutip Buku Dangdut: Musik, identitas, dan budaya Indonesia (2012), Weintrub mengatakan bahwa leluhur melayu musik dangdut adalah orkes keliling dari Malaya (Malaysia) yang berlabuh ke Pulau Jawa pada 1980-an. Orkes ini memainkan banyak jenis musik dari Melayu, Tiongha, India, Timur Tengah, sampai Eropa.

Tercatat pada dekade 1930-an, Pulau Jawa masih menjadi pergulatan pertama dalam perjalanan Orkes keliling, tidak lama kemudian mereka melakukan perjalanan menuju pulau Sumatra. Pada masa itu, Sumatra menjadi pasar musik yang paling bergairah. Promosi mereka juga tidak sebatas di Indonesia saja, namun karena banyak penyanyi yang bermain di Malaya hingga singapura, sehingga terjadinya akulturasi budaya secara alamia.

Pada 1930-an, radio berpengaruh besar terhadap popularitas tiga jenis musik yang jadi pondasi awal dangdut: Orkes Harmonium, Orkes gambus dan Orkes melayu.

Orkes Harmonium disebut – sebut juga sebagai asal usul musik dangdut. Harmonium sendiri juga adalah nama alat musik sejenis organ asal Eropa yang masuk melalui India dan menyebar ke banyak negara. Sebenernya tidak jauh berbeda ketika membahasa Orkes harmonium (OH) dengan membahas Orkes Melayu. Bahkan beritanya, pada era 1940an perkembangan musik OH juga kian meredup, dan beberapa aktornya melabeli dirinya dengan Orkes Melayu bukan OH lagi.

Pondasi dangdut yang kedua datang dari Orkes Gambus, Musik yang dimainkannya adalah musik ala Timur Tengah, mengandalkan alat musik gambus serta kendang – kendang bermembran sederhana, atau biasa dikenal dengan musik marawis.

Poin penting dalam Orkes Gambus adalah Syech Albar (merupakan ayah dari Ahmad Albar, voc. Duo Kribo, God Bless). Surabaya, sebagaimana yang sudah diberitakan, menjadi lokasi pertama lahirnya musik gambus di Indonesia. Isu – isu yang di dengar, Syech Albar harus jauh–jauh berguru ke negeri tempat dimana musik gambus di populerkan, Yaman. Perjalanan Albar tidak terbuang percuma, ditahun 1931 alunannya sudah direkam dengan piringan hitam “His Master Voice”. Jalan rintisannya kemudian diteruskan dari beberapa Orkes Gambus dari berbagai daerah yang muncul setelah mencuatnya musik gambus di Indonesia.

Dan yang terakhir dari perkembangan musik dangdut di Indonesia adalah musik Melayu. Orkes Melayu atau biasa disingkat dengan O.M mencoba merangsek masuk di tengah arus musik Rock tanah air. Meleburkan musik gambus dengan kebudayaan India, dan Melayu mampu menerbikan group semacam O.M Sinar Medan yang sangat trend pada masa itu.

Orkes Melayu juga semakin berkembang, sebenernya yang jelas terjadi adalah akulturasi secara alamiah antara Melayu, India, Arab bahkan Eropa. Hal ini sebenarnya yang menjadi cikal bakal musik dangdut lahir di Indonesia.

Labeling nama dangdut sendiri masih menimbulkan perdebatan. Dangdut sejatinya baru lahir ketika era 1970-an. Menurut sumber, nama dangdut merupakan Onomatope (sekelompok kata yang menirukan bunyi) kendang : dang-dut. Dalam majalah tempo edisi 5 Mei 1979, Said Effendi, pimpinan OM Sinar Agung, mengatakan bahwa istilah dangdut “muncul karena perasaan sinis dari mereka yang anti musik melayu.” Sebenernya disini bisa disimpulkan bahwa kata “Dangdut” adalah kalimat ejekan terhadap pencinta musik melayu.

Atau kembali ke asumsi Weintraub bahwa istilah dangdut dipopulerkan oleh majalah musik Aktuil. Namun dalam wawancaranya dengan Meggy Z, Mansyur S dan Dadang S, istilah dangadut jadi popular berkat jasa Bung Mangkudilaga, salah satu penyiar radio yang kerap mempromosikan musik dangdut di Radio Agustina, Tanjung Priok, Jakarta pada dekade 1973 – 1974.

Orkes Melayu semakin kuat, setelah namanya dipermudah penyebutannya menjadi dangdut. Selain itu liriknya yang dekat dengan masyarakat menjadi utama mengapa musik dangdut banyak disukai beberapa golongan masyarakat. Bak seperti hiburan murah di tengah transisi sebuah bangsa, dangdut lahir dengan membawa manifesto dangdut. Ialah musik untuk rakyat kecil, rakyat jelata, atau bahkan rakyat yang terpinggirkan secara sosial dan ekonomi.

Sampai disini harusnya kita sepakat bahwa musik dangdut adalah transformasi dari Irama Melayu yang sudah di kenal sebelumnya. Tidak heran, jika cengkok suara yang aduhay sampai suara suling yang sederhana menjadi bahan utama dalam penyajian musik dangdut. Kita bisa mendengar beberapa karya dari O. M Sinar Medan, O. M Gupusta Ria, hingga O. M Irama Agung yang dikenalkan oleh Said Effendi.

Bahkan jauh sebelum itu, mengutip dalam 100 Tahun Musik Indonesia (2006), Indonesia telah memiliki sosok yang tersohor sebagai penyanyi Melayu, seperti Emma Gangga, Hasnah Thahar, Djuhana Satar dan banyak lagi sosok yang berkecimpung di dunia Melayu.

 


FIND US ON

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.

 

Pin It on Pinterest