1


Get up Stand up : Perlawanan dalam Musik

Doc : bbc.com

Sebenarnya, apakah ada musik yang mampu menciptakan perubahan sosial? Atau jangan-jangan musisi menciptakan protest song hanya ingin terlihat intelektual?


Longlifemagz – Sesungguhnya tidak ada apa yang dinamakan sebagai lagu protest song atau kalau memaknai Guruh Soekarnoe Putra dalam video yang diunggah oleh sound form the corner tidak boleh memakai bahasa asing, Sesungguhnya tidak ada apa yang dinamakan sebagai lagu protes sosial.

Tentang ini, Bob Dylan, musisi yang bisa dikatakan sebagai bengawan dalam urusan ini, mengatakan beberapa saat sebelum menyanyikan “Blown’ in the Wind” untuk pertama kalinya, “This here ain’t a protest song”. Rekan seangakatan Dylan, Joan Baez, yang paling kita kenal karena menyanyikan lagu-lagu tentang perjuangan persamaan hak-hak sipil serta anti Perang Vietnam juga mengatakan bahwa, “I hate protest songs, but some songs do make themselves clear”

Bahkan banyak orang yang curiga dengan musik protes sosial. Tom Robinson, seorang penulis lagu-lagu politis yang juga terkenal di dekade 1970-an, mengemukakan kecurigaan bahwa jangan-jangan orang menulis protest song hanya untuk “peddle your second-rate pop music or peddling your second-rate political ideals on the back, of your political carrer.” Atau jangan-jangan musisi menulis lagu-lagu protes sosial hanya ingin dianggap pintar, dan mengutip isitilah netizen Indonesia, hanya ingin eksis belaka.

BACA : PERJALANAN AWAL INDUSTRI MUSIK INDOENSIA

Indonesia, sebagai negara dunia ketiga dengan jumlah penduduk yang sangat majemuk, tidak terlepaskan juga dengan apa itu yang dinamakan lagu-lagu protes sosial. Hampir tidak ada musik protes sosial yang gagal secaara artistik. Jawabanya sebenernya sederhana: karena lagu protes sosial adalah musik pop yang bagus.

Komposisi-komposisi mutakhir pop yang berisi social commentary seperti Efek Rumah Kaca atau musik Rap dari Homicide atau bahkan Pandji Pragiwaksono adalah musik-musik dengan komposisi nomor wahid yang tidak akan pernah mati di gerus zaman.

Saya tidak akan pernah bisa berhenti mengamini  semua lagu-lagu yang diciptkan oleh Bob Dylan, Joan Baez, Efek Rumah Kaca atau bahkan Merah Bercerita. Namun rasa penasaran saya tentang protest song lebih besar kepada seorang musisi yang selalu membawa perdamaian, entah itu karena musiknya atau ideologinya yang tidak terlihat namun terasa dimana-mana.

BACA : SWEET SEVENTEEN THE UPSTAIRS

Siapa yang tidak kenal dengan Robert Nesta “Bob” Marley, sebagai seseorang yang lahir dari rahim seorang budak kulit hitam, Bob Marley tidak akan pernah lepas dengan kata ‘Perjuangan’. Ketimpangan kelas sosial yang sangat tajam dalam masyarakat Jamaika menjadikan alasan dalam kata perjuangan itu.

Tapi saya tidak akan menceritakan bagaimana Bob Marley besar dengan segala karya, pengaruh ia terhadap masyarakat, atau bahkan dengan Rastafaria yang ia imani.

Doc : rosshalfin.com

Saya bukan penikmat musik Bob Marley yang sangat fanatik, saya tidak berambut gimbal, atau bahkan saya bukan seseorang yang vegetarian. Namun, lagu dalam album Burnin’ yang bertajuk “Get Up Stand Up” membawa saya kedalam pemahaman bahwa musik bisa menjadi sebuah alat perlawanan hingga saya harus menuliskan artikel ini.

“get up stand up, stand up for your right!
get up, stand up, don’t give up the fight!

Demikian sebuah penggalan lirik dari salah satu lagu tersebut. Lagu yang dirilis pada tahun 1973 dan menjadi lagu terlaris di album Burnin’. Versi semua orang yang mengimani Bob Marley sebagai “Nabi”, lagu ini sering dibawakan oleh Marley di tengah-tengah masyarakat kelas bawah Jamaika. Lagu ini merupakan representasi perlawanan masyarakat kulit hitam terhadap segeregasi dan diskriminasi rasial. Selain itu, lagu ini juga mengambarkan karakter Marley yang menganut ajaran Rastafarian.

Penindasan memang marak terjadi pada mereka, bahkan aturan Jim Crow di amerika serikat berkumandang pada tahun 1876 yang tujuannya adalah membatasi orang-orang kulit hitam untuk menikmati fasilitas publik. Fasilitas yang diberikan oleh mereka lebih jelek dibandingkan dengan orang-orang kulit putih. Lebih tragisnya, mereka dipinggirkan dari kehidupan modern.

Kembali ke persoalan protest song, aliran musik yang diusung oleh Marley dalam lagu ini membuat cita rasa ‘Seruan terhadap gerakan” menjadi kian nikmat,santai, dan tidak ada gejolak yang tinggi dalam sebuah gerakan.

Marley menggambarkan masyarakat kulit hitam yang tertindas dalam lagu ini dalam liriknya; “I know you don’t know, what life is really worth.” Mereka benar-benar tidak tahu bagaimana hgarus hidup dengan layak. Mereka dibawa dari Afrika menuju Amerika dan dijadikan budak bagi orang-orang kulit putih.  Mereka dijadikan barang dagangan, dijadikan sebagai media pertunjukan layaknya binatang sirkus. Jika berontak terhadap majikannya, mereka seketika dianggap kriminal dan pantas untuk dibunuh.

BACA : ANTARA MOSHING, UNDERGROUND, DAN BUTA MAKNA

Tapi apa yang lebih indah dari itu, bahwa Marley membantah anggapan bahwa “jangan-jangan musisi menulis protest song karna ingin dilihat pintar atau bahkan ini hanya ada kepentingan belaka”. Marley bukan lagi musisi kelas teri, ia berhasil menagkap semua permasalahan yang ada di sekitar, bahkan dirinya sendiri dan dikemas menjadi sebuah lagu atau sajak yang bisa saja meng-gugah bagi pendengar. Sampai mungkin pendengar berkata, “anjir, gue banget nih lagu”.

Satu hal yang harus kita sepakati, bahwa dari lagu ini saja banyak sesuatu edukasi yang kita ambil –khususnya musik sebagai gerakan sosial. Belum lagi, kita mengkaitkan lagu ini kepada lagu berikutnya yang juga diciptakan oleh Bob Marley –Redemption Song- pada tahun 1980 yang mungkin saja diulas untuk artikel berikutnya.

Untuk selanjutnya, apakah Get Up Stand Up, Redemption Song, dan lagu lain yang diciptkan Bob Marley untuk menuntut kesetaraan berhasil atau tidak, kita harus kembalikan lagi terhadap bagaimana perlawanan yang sesungguhnya terjadi. Menurut saya, musik ini menjadi pengikat, atau di ibaratkan bensin yang mampu membakar semangat perjuangan dalam suatu gerakan sosial.

Pahlawan – pahlawan Indonesia, seperti Merah Bercerita, Efek Rumah kaca juga tidak pernah berhenti menyuarakan kegelisahan mereka terhadap penegakan HAM entah itu berupa lagu atau aksi langsung mereka turun kejalan misalnya. Tapi setidaknya, lagu-lagu yang mereka ciptakan menjadi notif bagi para penguasa.

Mungkin hal ini yang saya selalu tanamkan bagi diri saya, bahwa musik tidak hanya sekedar media hiburan namun juga menjadi bagian komunikasi yang pastinya terdapat pesan didalamnya, terserah pesan apa saja, cinta, politik, kesetaraan gender, atau bahkan kampanye.

Saya sepakat dengan beberapa anggapan dari Taufiq Rahman sebagai pengamat musik yang luar biasa, bahwa musik tidak hadir di ruang kosong. Musik secara intrinsik tidak ada yang baik dan buruk, hanya subjek yang bisa memberi makna makna. Musik, sebagaimana produk budaya lain, menjadi cermin dari masyarakat yang melingkupinya. Dan musik bisa menjadi alat protes sosial atau agen perubahan hanya ketika subjek pendengarnya memberinya makna dan menginginkannya menjadi musik protes sosial.


Refrensi :

  1. Jude Wanniski, “Tim Russett Interview with Farrakhan, NBC – Meet the Press” (www.polyconomics.com/memos/mm-970416/, diakses 18 – November – 2018, 1997).
  2. Lokasi tidak ditemukan: Mencari Rock and Roll sampai 15.000 Kilometer

 

 

Press Release Single “Moon Healing” by Miftah Bravenda

Seperti pada karya-karya sebelumnya, Miftah Bravenda mendompleng sedikit cerita tentang hiruk pikuk kehidupan manusia.


Longlifemagz.com – Setelah beberapa bulan lalu mengeluarkan klip video single yang berjudul “In Mind”, Miftah Bravenda kembali hadir dengan garapan terbarunya. “Moon Healing” resmi diunggah pada Kamis lalu (01/11). Masih dengan konsep yang sama dengan projek karya sebelumnya, musisi sekaligus produser asal Serang, Banten ini masih berkutat dengan Ambient Electronic ala dirinya.

Seperti pada karya-karya sebelumnya, Miftah Bravenda mendompleng sedikit cerita tentang hiruk pikuk kehidupan manusia. Menanggapi kejadian guncangan alam yang terjadi belakangan ini, dirinya mencoba untuk menggambarkan sebuah kesedihan manusia yang berpisah dengan segala hal yang disayangi. Disamping itu, tak hanya menanggapi saja, Miftah sendiri mencoba untuk memberikan satu kehormatan kepada mereka semua yang mengalami sebuah perpisahan tersebut.

BACA : EP PERDANA SORE TENGGELAM “OBAT TIUS” – PERJALANAN MENCARI PENYEMBUHAN LARA.

Dikerjakan oleh Miftah Bravenda sendiri di Are You High? Soundlab Indonesia, dirinya sedikit mengambil unsur-unsur ambient dari karya sampingan sebelumnya yang berjudul “Yours, Fantom Delivering”. Tak hanya itu, sebagai peselancar dunia maya, Miftah juga menggandeng Vicky Mongcal sebagai penata karya sampul single terbaru kali ini.

Lantunan karya ini tentunya sudah bisa dinikmati melalui ruang digital seperti, Apple Music, Spotify, Deezer, Tidal dan lain sebagainya. Selamat menikmati.

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

EP Perdana Sore Tenggelam “Obat Tius” – Perjalanan Mencari Penyembuhan Lara

Doc : Sore Tenggelam

Sore Tenggelam merupakan sebuah project musik yang digawangi seorang diri oleh Ignatius Desty Hari Adi Kristianto, atau lebih akrab disapa Tius. 


BACA : “CHECKPOINT” BERSAMA SADE SUSANTO

Longlifemagz – Sebagai salah satu pendatang baru di genre folk musik Semarang di tahun 2018 ini, sebelumnya Sore Tenggelam telah merilis dua single perdana yang berjudul “Jumat Pagi” dan “Koma” yang juga menjadi bagian dari EP perdana ini.

Banyak yang bertanya mengenai makna dari Sore Tenggelam, kata “Sore” sendiri dipilih karena berdasarkan penganut kepercayaan Shinto, salah satu waktu yang baik untuk merefleksikan diri adalah di sore hari. Kemudian “Tenggelam” merupakan sebuah kata yang memiliki penafsiran lebih dalam apabila ditelaah lebih lanjut, dapat diartikan sebagai duka, luka, hingga ke pemikiran yang begitu dalam. Intinya adalah, dalam setiap kesempatan yang ada Sore Tenggelam mampu berbagi duka lalu sembuhkan lara bersama.

Doc : Artwork Sore Tenggelam

Tepat tanggal 24 Oktober 2018 kemarin, Sore Tenggelam telah merilis sebuah EP yang dikemas dalam bentuk rilisan fisik berupa kaset. EP perdana yang berjudul “Obat Tius” ini mengemas empat lagu didalamnya, dua lagu yang telah dirilis sebelumnya, ditambah dengan dua lagu baru yaitu “Hujan Di Ingatan” dan “Waktu Yang Lalu”. “Obat Tius” sendiri dipilih karena melalui musik yang dimainkan inilah menjadi obat paling mujarab bagi seorang Tius dalam menyikapi berbagai permasalahan yang dihadapi, dan diharapkan mampu menjadi obat yang sama bagi para pendengar. Secara keseluruhan, lirik dan instrument dikerjakan oleh Tius. Dan untuk mixing dan mastering dipercayakan kepada Jaing Nac dan Rizky Sani. Kemudian di lagu “Hujan Di Ingatan” berkolaborasi dengan Deviasita Putri dari Figura Renata.

Nama dari EP ini sendiri, “Obat Tius”, adalah pemberian dari seorang teman sekaligus guru bagi Tius, yaitu Jason Ranti. Selain memiliki peran dalam pemberian nama, Jason Ranti juga berperan dalam pembuatan cover dari EP “Obat Tius” ini sendiri.

BACA : SWEET SEVENTEEN THE UPSTAIRS

EP tersebut juga diiringi dengan video klip dari salah satu single terbarunya, yaitu “Hujan Di Ingatan”. Seluruh proses pembuatan video klip sepenuhnya dipegang oleh seorang videographer Semarang, Rifqi Fadlurrahman. Dalam lagu “Hujan Di Ingatan” ini Rifqi menganalogikannya sebagai luka yang tiada henti menerpa kehidupan seorang wanita, dimana luka ini sendiri dapat ditafsirkan dengan berbagai hal.

Doc : Artwork Sore Tenggelam

“Dalam lima menit lagu ini, saya berusaha mengajak penonton untuk merasakan kebingungan yang dialami oleh perempuan tersebut. Kebingungan dalam menyingkirkan luka, kegelisahan dalam melupakan ruang-ruang memoru, yang diakhiri dengan merelakan luka untuk terus mengalir. Masa lalu memang bukan untuk dilupakan begitu saja, tidak perlu terburu-buru, semua akan sembuh dengan waktu yang terus berjalan,” katanya.

Nantinya seluruh lagu dalam EP “Obat Tius” akan segera dapat didengarkan di berbagai platform music streaming kesayangan kalian. Untuk saat ini video klip “Hujan Di Ingatan” dan EP “Obat Tius” dapat didengarkan dan dinikmati di official akun Youtube dari Sore Tenggelam.


Instagram : sore_tenggelam
CP : Habib (081227831756)

 

 

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

Perjalanan awal Industri Musik Indoensia

Doc by Thecrafters.co

“….. hidup itu pendek, seni itu ndak panjang-panjang amat, apalagi cuma ben-benan. tapi cita-cita baik akan jadi warisan yang tak terkalahkan, sekalipun oleh waktu.” @faridstevy


Longlifemagz  Perjalanan panjang industri musik indonesia yang dimulai di awal abad ke-20 dalam kemasan piringan hitam, awalnya menjadi sangat marak justru setelah dikembangkan oleh para pembajak dalam format pita kaset. Lantas, perkembangan terus berlanjut hingga proses digitalisasi meliputi proses video di dalamnya.

Pada awalnya, peralatan rekaman yang dibawa orang-orang belanda pada awal abad ke-20 merupakan cikal bakal lahirnya industri musik di Indonesia. Perusahaan rekaman di Indonesia yang memproduksi piringan hitam dimulai dari tahun 1950-an hingga 1970-an. Dalam masa tersebut, tercatat ada lima perusahaan yang memproduksi piringan hitam, diantaranya Irama, Dimita, Lokananta, Remaco dan Metropolitan.

  1. Irama (The Indonesian Music Company)

Sujoso Karsono atau yang sering dipanggil Mas Yos, mendirikan industri musik dengan nama label Irama (The Indonesia Music Company Limited). Didirikan pada sekitaran tahun 1951, perusahan ini bekerja sama dengan beberapa penyanyi, di antaranya Hasnah Tahar dan Munif Bahasuan penyanyi bergenre melayu, ada juga Minang Oslan Husein penyanyi dengan gaya rock’n roll, Rachmat Kartolo dengan orkes keroncong, tidak luput juga Bing Selamet sebagai salah satu penyanyi pop pada masa itu dan yang terakhir Kus Bersaudara.

Label Irama memang merekam semua jenis musik, mulai dari jazz, rock ‘n roll, pop, keroncong, melayu, hingga gambang kromong. Kemudian, Irama pun memiliki pabrik Piringan Hitam sendiri yang kemudian mencantumkan kode huruf di setiap produksinya. Misalnya seperti K untuk (Keroncong), M untuk (Melayu), G untuk (Gambang), DB untuk (Bali) dan masih banyak lagi.

Doc Irama Nusantara

  1. Dimita 

Perusahaan yang beroprasi pada tahun 1950-an hingga 1970-an diawali dari perjalanan panjang Mohammad Sidik Tamimi. Pria yang dikenal dengan nama Dick Tamimi ini memiliki banyak kesamaan dengan Mas Yos dalam bermusik, sebagai pensiunan Angkatan Udara Republik Indonesi (AU-RI) memanfaatkan masa pensiunnya sebagai sound enginer  di studio musik milik Mas Yos hingga awal tahun 1954 beliau mendirikan Dimita Moulding Industri yang membawahi dua label sekaligus yaitu Mesra dan Melody.

Beberapa musisi ternama dikontrak perusahaan rekaman miliknya, mulai dari Koes Bersaudara yang pindah dari Label Irama dan bermetamorfosis menjadi Koes Plus di tahun 1969, Panbers, Dara Puspita, Diselina, Medenasz, The Brims, Paramour, Man’s Group, Diah Iskandar, Ernie Djohan, Elly Kasim, Sandra Sanger, Rossy hingga Benjamin Sueb.

BACA : Raja Dangdut, Polemik Dakwah, Musik, dan Goyang

  1. Remaco (Republic Manufacturing Company Limited)

Remaco (Republic manufacturing company limited) yang didirikan oleh pasangan suami istri Moestari dan Titin Soemarni pada tahun 1954 ini mempunyai visi idealisme yang tinggi terhadap musik keroncong. Terlihat padaada masa kepemimpinan pasangan tersebut, remaco hanya memproduksi piringan hitam dengan lagu-lagu keroncong dan hawaian. Namun, ketika terjadi pergantian kepemimpinan di tangan Eugene Timothy, Remaco mulai merekam jenis musik lain yang berkembang sesuai selera pasar. Beberapa musisi popular pernah berkerja sama dengan peruashaan tersebut, diantaranta Broery Pesonalima, Lilis Suryani, Ida Royani, Benyamin S, Rhoma Irama, Koes Plus dan sederet nama beken pada masa itu.

Dalam perkembangannya, Remaco berhasil menjadi perusahan rekaman terbesar di Indonesia pada era 1970-an hingga kedatangan perusahan rekaman Lokananta yang digagas oleh pemerintah pada masa tersebut.

  1. Lokananta

Di tahun 1955, pemerintah menggagas perusaahan rekaman yang diberi nama Lokananta dan berkedudukan di Solo. Tugas utama perusaahan rekaman ini adalah mendokumentasikan berbagai program acara di Radio Republik Indonesia (RII) yang dibuat dalam bentuk pita reel maupun piringan hitam. Berawal dari usulan Kepala Kerja Jawatan RRI Maladi kepada Soekarno, pemerintahan mendirikan perusahaan Lokananta dan diresmikan sebagai perusahaan milik negara pada tahun 1961 melalui PP NO. 215/1961.

Doc Irama Nusantara

Pada awalnya, Lokananta digunakan sebagai perusahan piringan hitam untuk kepentingan siaran di studio radio RII se-Indonesia yang berjumlah sekitar 49 Studio. Salah satu penyanyi popular yang melakukan rekaman di perusahan ini adalah Waljinah, sebagai informasi Waljinah adalah penyanyi keroncong yang bersinar sejak memenangi kontes Ratu Kembang Kacang di Solo pada tahun 1938. Selain itu, nama-nama seperti Titiek Puspa, Gesang, Christine Kabane, Bob Tutupoly, A. Kadir, A. Rafiq dan masih banyak lagi lainnya termasuk juga Gendhing Karawitan yang merupakan gubahan dari dalang ternama Ki Narto Sabdo serta Karawitan dari Jawa Surakarta dan Yogyakarta, bahkan juga rekaman kesenian Ludruk.

  1. Metropolitan

Perusahan piringan hitam ini didirikan pada tahun 1955 oleh Djamin Wijaya atau yang akrab dipanggil Amin Tjengli. Perjalanan perusahan tersebut hanya sebagai produsen piringan gitam dari lagu-lagu yang direkam oleh studio Mutaira, Acanary, Fontana, dan sederet nama studio yang lain. Berkat kerja kerasnya, Amin Widjaja berhasil mendirikan studio rekaman di tahun 1971 yang terletak di Pancoran dan diberi nama Metropolitan Studio. Perkembangan bisnis studio rekamannya semakin pesat dan label Metropolitan pun diubah menjadi Musica Studio yang sudah sangat di kenal hingga saat ini.

Memasuki akhir 1960-an, industri musik Nasional mulai bergeser dari produksi piringan hitam menjadi pita kaset. Produksi audio-kaset pertama kali di dunia berasal dari Jerman Barat ytang kenalkan oleh Philips pada tahun 1963. Setelah itu, kaset dan alat pemutarnya (tape) mudah ditemui di toko-toko elektronik. Jumlah penikmat musik di Indonesia terus mengalami peningkatan hingga menyebabkkan peningkatan produksi kaset sekitar sepuluh kali lipat pada tahun 1980-an.

Seiring berjalannya waktu, perusahan – perusahan industri musik mengalami pasang surut dalam proses produksinya. Lahirnya perusahaan-perusahan baru memaksa perusahan lama harus gulung tikar karena kalah bersaing. Akan tetapi, beberapa diantaranya masih bisa bertahan, bahkan mampu menempatkan diri sebagai perusahaan rekaman elit pada saat itu, seperti Lokananta dan Metropolitan yang berganti nama menjadi Musica Studio’s pada tahun 1971. Selanjutnya industri musik nasional semakin berkembang sehingga menciptakan beberapa nama seperti Aquarius Musikindo, Sony Musik Entertaiment, Warner Musik Indonesia, dan Logiss Record.

BACA : 20 Tahun Reformasi: Beberapa Karya Yang Dibelenggu

Referensi :
100 Tahun musik Indonesia oleh Dennie Sakrie
Bersenandung dalam Politik oleh Yopi Kristanto


 

“ Checkpoint ” bersama Sade Susanto

Doc : Sade Susanto

Album “ Checkpoint ” Sade Susanto merupakan proyek garapan grup kolektif asal semarang Hills Collective yang fokus pada genre RnB dan Hip hop. Sade Susanto sendiri menekuni genre RnB/Pop sebagai aliran bermusiknya.


BACA : VETERAN HARDCORE SEMARANG, DON’T LOOK BACK RILIS ALBUM “LEKANG DAN HILANG”

Longlifemagz – Penggarapan album “Checkpoint” membutuhkan waktu yang tidak singkat. terhitung dari april 2018,   penggarapan album “Checkpoint” memakan waktu selama enam bulan sebelum merilis album tersebut. Sebagai bagian dari suatu kolektif, Sade harus menunggu gilirannya untuk unjuk sisi musikalitasnya kepada publik. “Checkpoint“ sendiri mendapatkan gilran ke 2 dari 4  episode dari season pertama dari kolektifnya. Sebelum album ini di Larungkan, sade mengeluarkan dua single yaitu “ The Man Who Has Hurt Me “, “ Excuses “ dan menjadi pelengkap dari album yang akhirnya rilis pada 21 Oktober 2018.

Doc : Sade Susanto

Sebagai album yang syarat dengan laju hidup seorang Sade Susanto, “Checkpoint” menyuarakan berbagai pengalaman yang menuntunnya pada suatu titik penyadaran akan kemandirian diri yang terbebas dari ekspektasi orang lain.

Lima dari tujuh lagu dalam “Checkpoint” bercerita tentang patah hati. Kejadian yang seringkali melarutkan orang-orang pada kesedihan semata justru dijadikan momentum untuk mengenali diri seorang Sade Susanto


Lagu ini ditulis oleh Sade Susanto (http://instagram.com/sadesusanto )
Lagu ini kemudian di produksi oleh Luthfi Adianto/Cosmicburp (http://instagram.com/mellonzz )
Lagu ini didistribusikan melalui dan bersama Hills Collective (http://instagram.com/hills.collective) dan Berdandia (http://instagram.com/berdandia)
Lagu ini direkam di Lofos Studio (http://instagram.com/lofosstudio )
Artwork/visual album ini di kerjakan oleh Wildandon (http://instagram.com/wildandon)
Sade susanto berencana untuk mengadakan Showcase pada akhir bulan oktober ini
Cp : Dimas Ragil ( 0812 8745 9911 )

 

 

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

FIND US ON

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.

 

Pin It on Pinterest