1


EP Perdana Sore Tenggelam “Obat Tius” – Perjalanan Mencari Penyembuhan Lara

Doc : Sore Tenggelam

Sore Tenggelam merupakan sebuah project musik yang digawangi seorang diri oleh Ignatius Desty Hari Adi Kristianto, atau lebih akrab disapa Tius. 


BACA : “CHECKPOINT” BERSAMA SADE SUSANTO

Longlifemagz – Sebagai salah satu pendatang baru di genre folk musik Semarang di tahun 2018 ini, sebelumnya Sore Tenggelam telah merilis dua single perdana yang berjudul “Jumat Pagi” dan “Koma” yang juga menjadi bagian dari EP perdana ini.

Banyak yang bertanya mengenai makna dari Sore Tenggelam, kata “Sore” sendiri dipilih karena berdasarkan penganut kepercayaan Shinto, salah satu waktu yang baik untuk merefleksikan diri adalah di sore hari. Kemudian “Tenggelam” merupakan sebuah kata yang memiliki penafsiran lebih dalam apabila ditelaah lebih lanjut, dapat diartikan sebagai duka, luka, hingga ke pemikiran yang begitu dalam. Intinya adalah, dalam setiap kesempatan yang ada Sore Tenggelam mampu berbagi duka lalu sembuhkan lara bersama.

Doc : Artwork Sore Tenggelam

Tepat tanggal 24 Oktober 2018 kemarin, Sore Tenggelam telah merilis sebuah EP yang dikemas dalam bentuk rilisan fisik berupa kaset. EP perdana yang berjudul “Obat Tius” ini mengemas empat lagu didalamnya, dua lagu yang telah dirilis sebelumnya, ditambah dengan dua lagu baru yaitu “Hujan Di Ingatan” dan “Waktu Yang Lalu”. “Obat Tius” sendiri dipilih karena melalui musik yang dimainkan inilah menjadi obat paling mujarab bagi seorang Tius dalam menyikapi berbagai permasalahan yang dihadapi, dan diharapkan mampu menjadi obat yang sama bagi para pendengar. Secara keseluruhan, lirik dan instrument dikerjakan oleh Tius. Dan untuk mixing dan mastering dipercayakan kepada Jaing Nac dan Rizky Sani. Kemudian di lagu “Hujan Di Ingatan” berkolaborasi dengan Deviasita Putri dari Figura Renata.

Nama dari EP ini sendiri, “Obat Tius”, adalah pemberian dari seorang teman sekaligus guru bagi Tius, yaitu Jason Ranti. Selain memiliki peran dalam pemberian nama, Jason Ranti juga berperan dalam pembuatan cover dari EP “Obat Tius” ini sendiri.

BACA : SWEET SEVENTEEN THE UPSTAIRS

EP tersebut juga diiringi dengan video klip dari salah satu single terbarunya, yaitu “Hujan Di Ingatan”. Seluruh proses pembuatan video klip sepenuhnya dipegang oleh seorang videographer Semarang, Rifqi Fadlurrahman. Dalam lagu “Hujan Di Ingatan” ini Rifqi menganalogikannya sebagai luka yang tiada henti menerpa kehidupan seorang wanita, dimana luka ini sendiri dapat ditafsirkan dengan berbagai hal.

Doc : Artwork Sore Tenggelam

“Dalam lima menit lagu ini, saya berusaha mengajak penonton untuk merasakan kebingungan yang dialami oleh perempuan tersebut. Kebingungan dalam menyingkirkan luka, kegelisahan dalam melupakan ruang-ruang memoru, yang diakhiri dengan merelakan luka untuk terus mengalir. Masa lalu memang bukan untuk dilupakan begitu saja, tidak perlu terburu-buru, semua akan sembuh dengan waktu yang terus berjalan,” katanya.

Nantinya seluruh lagu dalam EP “Obat Tius” akan segera dapat didengarkan di berbagai platform music streaming kesayangan kalian. Untuk saat ini video klip “Hujan Di Ingatan” dan EP “Obat Tius” dapat didengarkan dan dinikmati di official akun Youtube dari Sore Tenggelam.


Instagram : sore_tenggelam
CP : Habib (081227831756)

 

 

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

“ Checkpoint ” bersama Sade Susanto

Doc : Sade Susanto

Album “ Checkpoint ” Sade Susanto merupakan proyek garapan grup kolektif asal semarang Hills Collective yang fokus pada genre RnB dan Hip hop. Sade Susanto sendiri menekuni genre RnB/Pop sebagai aliran bermusiknya.


BACA : VETERAN HARDCORE SEMARANG, DON’T LOOK BACK RILIS ALBUM “LEKANG DAN HILANG”

Longlifemagz – Penggarapan album “Checkpoint” membutuhkan waktu yang tidak singkat. terhitung dari april 2018,   penggarapan album “Checkpoint” memakan waktu selama enam bulan sebelum merilis album tersebut. Sebagai bagian dari suatu kolektif, Sade harus menunggu gilirannya untuk unjuk sisi musikalitasnya kepada publik. “Checkpoint“ sendiri mendapatkan gilran ke 2 dari 4  episode dari season pertama dari kolektifnya. Sebelum album ini di Larungkan, sade mengeluarkan dua single yaitu “ The Man Who Has Hurt Me “, “ Excuses “ dan menjadi pelengkap dari album yang akhirnya rilis pada 21 Oktober 2018.

Doc : Sade Susanto

Sebagai album yang syarat dengan laju hidup seorang Sade Susanto, “Checkpoint” menyuarakan berbagai pengalaman yang menuntunnya pada suatu titik penyadaran akan kemandirian diri yang terbebas dari ekspektasi orang lain.

Lima dari tujuh lagu dalam “Checkpoint” bercerita tentang patah hati. Kejadian yang seringkali melarutkan orang-orang pada kesedihan semata justru dijadikan momentum untuk mengenali diri seorang Sade Susanto


Lagu ini ditulis oleh Sade Susanto (http://instagram.com/sadesusanto )
Lagu ini kemudian di produksi oleh Luthfi Adianto/Cosmicburp (http://instagram.com/mellonzz )
Lagu ini didistribusikan melalui dan bersama Hills Collective (http://instagram.com/hills.collective) dan Berdandia (http://instagram.com/berdandia)
Lagu ini direkam di Lofos Studio (http://instagram.com/lofosstudio )
Artwork/visual album ini di kerjakan oleh Wildandon (http://instagram.com/wildandon)
Sade susanto berencana untuk mengadakan Showcase pada akhir bulan oktober ini
Cp : Dimas Ragil ( 0812 8745 9911 )

 

 

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

Veteran Hardcore Semarang, Don’t Look Back Rilis Album “Lekang dan Hilang”

Doc : Dont Look Back

“Terbentur, terbentur dan terbentuk” jargon dari tokoh nasional Tan Malaka barangkali bisa menjadi pembuka kabar dari kancah musik hardcore hari ini.


Longlifemagz – Usai merilis video klip dari single “Lekang dan Hilang” bulan April 2018 kemarin. Grup musik Don’t Look Back resmi merilis album penuh perdana, Kamis (18/10/18).

Pasca kematian War Chaos World (WCW) pada medio tahun 2005, menjadi cikal bakal Don’t Look Back yang saat itu dihuni oleh Kido, Bayu, Ardian, Ana dan Tatang. Grup yang terbentuk tahun 2006 ini sempat merilis album EP Self-titled berisi 4 buah lagu di tahun 2010 dengan menggunakan formasi awal mereka.

BACA : “CHECKPOINT” BERSAMA SADE SUSANTO

Dalam album Lekang dan Hilang, terdapat 10 trek yang banyak dipengaruhi gaya musik New York Hardcore era lawas. Terdapat materi baru dan beberapa materi lama yang dikomposisi ulang, serta 1 lagu milik grup musik Shutdown berjudul “United” yang dibawakan ulang sebagai pamungkas.

Berorientasi dengan proses, bagi Don’t Look Back hardcore bukan tentang pencapaian berapa banyak rilisan yang telah dihasilkan, berapa banyak panggung yang berhasil ditaklukan, atau berapa banyak merchandise yang diproduksi. Bukan tentang pahlawan yang menjadi idola, melainkan bagaimana saling mengisi kehidupan skena. Di sela rutinitas pekerjaan yang cukup menyita, hardcore bagi Don’t Look Back adalah semangat dan gaya hidup yang bersinergi dalam laku kehidupan mereka sehari-hari.

Diakui hardcore dan skena banyak mempengaruhi kehidupan grup yang sekarang digawangi oleh Kido (Gitar), Angga (Vokal), Bayu (Gitar), Oki (Bass) dan Ardian (Drum). Mulai dari rasa persatuan, persaudaraan dan sikap yang mereka rangkum dan dedikasikan untuk rumah kedua mereka, Atlas City Hardcore.

Seluruh materi di album Lekang dan Hilang sebenarnya telah dipersiapkan sejak lima tahun lalu. Beberapa kendala seputar kepadatan aktivitas dan realita membuat proyek ini baru serius diselesaikan. Keseluruhan lagu direkam di Paw Studio bersama M. Ryan Wibowo (Hypotenusa) sementara desain sampul dikerjakan oleh Peng (Skygarden). Lekang dan Hilang dirilis dalam format cakram padat sementara pada format digital dirilis oleh label StonedZombies


Preview album Don’t Look Back – Lekang dan Hilang
http://stonedzombies.bandcamp.com/album/lekang-dan-hilang

Info:
http://stonedzombies.blogspot.com
https://www.instagram.com/dontlookback_hardcore/
https://www.instagram.com/stonedzomb13s/

 

 

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

SWEET SEVENTEEN THE UPSTAIRS

Doc : Instagram The Upstairs

Jika diibaratkan manusia usia 17 tahun adalah masa dimana orang biasa menyebutnya dengan kata “remaja”, dimana pada usia tersebut remaja sedang mengalami puncaknya rasa penasaran dan juga produktif.


Longlifemagz – Sama halnya denga The Upstairs, menuju umur yang ke-17 The Upstairs juga telah merampungkan proses produksi, dan telah merilis single baru yang berjudul “Semburat Silang Warna”, single yang dirilis dalam bentuk klip video di kanal youtube ini menceritakan perihal gambar dari anak sang vokalis yaitu Jimi Multhazam.

“..single ini kayak nerjemahin gambar anak gue aja sih…”  ujar Jimi saat ditemui seusai manggung di parkir Lotte Mart Semarang.

Jimi Multazam yang juga menjadi vokalis band Morfem juga menyampaikan ia memilih gambar dari sang anak yang bernama Pijar karena menganggap bahwa gambar dari anaknya tersebut seperti gambar kontemporer, dengan imajinasi yang sangat liar Pijar menggambar Godzilla (karakter monster) kemudian ada orang orang dan juga gedung gedung yang terbakar dengan ke luguannya sebagai anak kecil. Lalu dengan bahasanya yang khas, Jimi Multhazam menerjemahkan gambar tersebut menjadi lagu yang berjudul “Semburat Silang Warna”

BACA : PERJALANAN AWAL INDUSTRI MUSIK INDONESIA

Perilisan single ini juga terbilang unik karena single ini di rilis dalam bentuk video, bukan hanya bentuk perilisannya saja yang unik, video yang diproduseri oleh Toma & Kako ini juga memiliki konsep yang unik khas era 80-90an, dalam video ini terdapat permainan khas 80an yaitu dingdong, didalam mainan itu ada game yang berjudul “HANTAM”, game ini menceritakan ada sekelompok orang yang menjadi karakter dalam game tersebut yang sedang melawan sistem yang ada, hingga pada puncaknya mereka bertemu dengan Godzilla yang merupakan interpretasi dari gambar sang anak tadi.

Dalam proses pembuatannya video klip ini pada awalnya memiliki penafsiran yang berbeda antara produser dengan Jimi Multhazam selaku penulis lagu, namun setelah dibuat story linenya Jimi pun cukup terkesima, hingga pada beberapa hari yang lalu diupload video ini sudah mencapai 19 ribu viewers.

BACA : RAISA PECAHKAN SUASANA SCOOTER 2018

Beberapa hari setelah perilisan single ini the upstairs juga mengadakan hearing season, dimana single mereka di perdengarkan untuk kalangan anak muda beberapa hari yang lalu dalam acara hear it first, selain anak anak muda The Upstairs juga memperdengarkan single mereka pada para penjual cd, kaset, dan vinyl di kawasan blok m, selain untuk promosi hal itu juga bertujuan untuk mendengar pendapat mereka tentang bagaimana perbedaan The Upstairs yang dulu dan juga yang sekarang.

Photo doc : Instagram @theupstairs

Untuk melengkapi single tersebut The Upstairs juga akan merilis sebuah EP Album yang berisi 5 lagu yang akan dirilis beberapa dalam hari lagi, dalam EP Album tersebut terdapat lagu “Luar Biasa Terkesima”, “Televisi”, “Alexander Graham Bell”, “Junkfood Sodom Gomora”, serta tak ketinggalan “Semburat Silang Warna”. EP Album yang dirilis Langen Srawa records ini seolah menjadi tanda kembali produktifnya The Upstairs setelah album Katalika yang dirilis pada tahun 2012 lalu.

BACA : BAND MATH-ROCK MURPHY RADIO RILIS “GRACIAS” SEBAGAI SINGLE PERTAMA DI ALBUM PERDANA

EP ini menjadi pertanda karena beberapa waktu yang akan datang The Upstairs juga akan melakoni beberapa rangkaian tour, tour yang akan dijalani juga tidak sembarang tour karena tour ini akan sekaligus memperingati 17 tahun dari The Upstairs ini sendiri, lawatan tournya yang pertama akan ada di Kota kelahiran mereka sendiri yaitu Jakarta dalam gelaran Synchronize fest pada tanggal 5 oktober bertepatan dengan 17 tahun The Upstairs ini sendiri, kemudian dilanjutkan dengan kota Bandung dan Bali, The Upstairs juga mengajak teman teman kota lain untuk menghubungi kontak yang tertera di Instagram The Upstairs apabila ingin turut serta mengundang The Upstairs dalam rangkaian tournya kali ini.

Photo doc : Instagram @theupstairs

Tak berhenti sampai disitu, The Upstairs juga akan mengisi soundtrack film layar lebar yang bergenre komedi romantis garapan produser john de rantau, film yang diangkat dari cerpen karya Gumira Ajidarma ini akan diangkat dengan judul yang sama yaitu “Dilarang menyanyi di kamar mandi”, film yang diproduksi oleh Himaya Pictures ini tak hanya mengajak The Upstairs untuk mengisi theme song, namun juga untuk mengisi background background musik yang ada di film, rencananya The Upstairs akan membawakan beberapa lagu lama dan juga beberapa lagu baru untuk mengisi film tersebut.

Seberangi Tebing Hardcore yang Curam: Tiderays Rilis Demo 2018

Photo doc Tiderays

Apa rasanya jika berjalan di pinggiran tebing yang curam, dengan terpaan angin dingin yang kencang? Bila itu tercurahkan dalam komposisi, Tiderays mewakili itu semua. Band asal Semarang ini merilis debut demonya dengan lantang membawa kejayaan swedish sound dalam hardcore.


Longlifemagz – Terbentuk awal tahun 2017 oleh Ghozzy El-Yussa (Vokal), Fauby Duvadilan (Bass), DFAhmad (Gitar) dan Gresia pada drum. Masing-masing departemen instrumen berperan membangun konstruksi yang telah dilakukan pendahulunya dari seberang Skandinavian dan Jerman. Secara kiblat, tersebutlah fragmen dari Entombed, Alpinist, Martyrdöd dan tentu saja His Hero is Gone. Mulanya, formula ini sebelumnya jarang dilirik oleh band-band Semarang. Kuartet ini malah memulainya dengan penuh berang.

Terdapat dua komposisi dari demo yang dirilis via Bandcamp. “Syllable Perishable” yang dibuka dengan raungan riff depresif, dengan sontak menghunus melalui raungan gitar chainsaw, membuat darah notasi muncrat dimana-mana. Mendengarnya tak perlu diurai dengan sulit: kotor dan kelam.  Untuk tak menimbulkan syak wasangka, “Proposition Distrait” akan memperkuat pendengar kalau tebing yang curam perlu untuk dilewati, meski bisa saja jatuh mati. Sensasi itulah yang terasa, apalagi derap d-beat dan black metal berpadu dengan beringas.

BACA :  EP PERDANA SORE TENGGELAM “OBAT TIUS” – PERJALANAN MENCARI PENYEMBUHAN LARA

Menengok energi mereka tak cukup pada musiknya semata. Mereka aktif di skenanya, memberi waktu lebih kepada komunitas. Niscaya, jalan luas terbentang. Tiderays juga memulai langkahnya secara organik. Beberapa waktu silam melakukan tur 11 kota di Jawa-Bali bersama kolega satu kotanya, Hearted. Upaya ini akan membentuk mental dan keberanian untuk konsisten di masa depan, seiring dengan album penuh bertajuk 401 yang rencananya rilis pada penghujung tahun 2018. (*)

Photo doc Tiderays

Tiderays – Demo (2018)
https://tiderays.bandcamp.com/album/demo

All songs written and performed by Tiderays
All lyrics by DFAhmad
Recorded at 4WD Studio Semarang in Juny 2018
Except vocal recorded at Riverse Studio Jepara
Mixed and mastered by I Made Dharma (e: imadedharma27@gmail.com)
Artwork and cover by Bonifasius Rendy (e: rendybonifasius@gmail.com)


Info:
+62 822-4281-8609
E: tiderays401@gmail.com
IG: @tiderays401
FB: Tiderays

 

 

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

FIND US ON

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.

 

Pin It on Pinterest