1


Band Math-rock Murphy Radio Rilis “Gracias” Sebagai Single Pertama Di Album Perdana

Setelah cukup mencuri perhatian melalui single Sports Between Trenches tahun lalu, band math-rock asal Samarinda, Murphy Radio siap tepati janji mereka untuk merilis album di tahun ini. Bekerjasama dengan record label independent dari Singapura, An ATMOS Initiative, album perdana Murphy Radio akan dirilis pada tanggal 18 Agustus mendatang.

Dan sebagai permulaan, Gracias ditunjuk sebagai single pertama yang dilepas 10 hari lebih awal. Sama seperti judulnya, lagu ini adalah sebuah komposisi musik yang berangkat dari rasa terima kasih para personil Murphy Radio kepada semua orang yang telah mendukung dan mengapresiasi serta menjadi bagian dalam perjalanan mereka.

“Banyak hal yang dilalui dalam perjalanan bermusik Murphy Radio, pengalaman yang perlahan membangun kami untuk tetap konsisten berkarya serta achievement yang tak terduga. Ada juga pengalaman pahit yang dilewati dengan berat hati, dihadapkan oleh satu pilihan untuk harus berpisah.” ujar Wendra sang gitaris. “Semua tidak luput dari dukungan keluarga, teman-teman dan orang-orang terdekat yang tidak akan pernah cukup hanya diungkapkan dengan kata terima kasih saja, sebab itu Gracias lahir untuk mewakilkan rasa terima kasih Murphy Radio kepada semua orang yang pernah mendukung kami dalam hal apapun.” tambahnya.

Single Gracias bisa didengarkan melalui link berikut https://www.youtube.com/watch?v=_4DdV3IxhH8

Bersamaan dengan rilisnya single Gracias, sesi pre-order untuk format CD dan digital album Murphy Radio juga mulai dibuka melalui Bandcamp An ATMOS Initiative: https://anatmosinitiative.bandcamp.com/album/s-t

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

One day trip di Surokonto Kulon

Hiruk pikuk kesibukan yang selalu ada di kehidupan perkotaan selalu menghantui dalam pikiran seseorang dengan segala kerumitan di dalamnya , oleh karena itu banyak orang mencari tempat wisata untuk menghilangkan kepenatan dalam kesibukannya , bukan hanya untuk menghilangkan kepenatannya saja orang orang pergi ke tempat wisata namun mulai muncul kebiasaan baru untuk sekedar foto foto entah itu anak muda maupun orang dewasa.

Content goes here

Di desa Surokonto Kulon kecamatan Pageruyung tepatnya di sebelah selatan Kabupaten Kendal sekitar 1-2 jam dari kota Semarang , desa menawarkan sebuah destinasi wisata yang masih asli untuk di kunjungi , dari perjalanannya kita dapat temui sebuah pemandangan perkebunan palawija dan perkebunan pohon karet yang tertata , membuat kenyamanan dalam perjalanan menuju ke desa ini.

Setelah kita di suguhi oleh perkebunan palawija dan perkebunan pohon karet yang asik kita bisa datang ke sebuah warung mie ayam yang jarang di temui di Kota Semarang , biasanya mie ayam ini kita temui di Kota Jakarta yang biasanya di sebut mie yamin , citra mie yamin yang biasanya di santap dengan kuah yang sedikit di ubah oleh pengusaha warung di desa ini dengan mie yamin yang menyajikan kuah yang bisa kita atur sendiri entah kita mau sedikit atau banyak menaruh kuahnya tanpa mengubah citra rasa authentic mie yamin yang terkenal di kota megapolitan tersebut.

Doc Andrew Trinanda

Sehabis menyatap lezatnya mie yamin yang khas di desa ini kita akan datangi sebuah curug/air terjun yang masih asri dan belum tersentuh di desa ini , pada air terjun ini memeliki beberapa tingkatan dan bisa di akses dari beberapa jalan dari desa ini kalo kita melalui dari mie yamin sekitar 10 menit perjalan menaiki kendaraan dan 10 menit menitih jalan setapak , walaupun perjalanan menuju air terjun/curug ini cukup menantang andrenalin hal tersebut akan terbayar lunas dengan sampai ke tujuan curug/air terjun yang memiliki ketinggian sekitar 15 meter tersebut di desa ini curug tersebut memeliki beberapa nama yang populer di desa ini beberapa warga menyebutnya curug simolor juga beberapa orang menyebut curug simolor.

Doc Andrew Trinanda

 

Text : Bagas Herlambang

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

AK//47 Rilis Video Musik “Lempar Petasan ke Podium”

Doc : AK//47

Band grindcore Semarang, AK//47 merilis single baru berjudul “Lempar Petasan ke Podium” yang diambil dari album barunya mendatang bertajuk “Loncati Pagar Berduri.”

Dalam lagu tersebut merupakan respon dari momentum politik yang diwarnai dengan mobilisasi sentimen SARA yang kerap terjadi saat ini. “Seolah kita hanya bisa duduk diam, menyaksikan keblunderan yang dilakukan politisi dan pemuka agama. Mereka mudah berbicara sambil membual dan masyarakat meyakini delusi-delusi tersebut sebagai pemecah persoalan. Lambat laun membenarkan aksi-aksi mereka dan lupa mempertanyakan untuk apa patuh terhadap mereka,” ujar Garna Raditya, vokalis dan gitaris AK//47.

AK//47 formasi di Semarang, Indonesia. Terdiri dari Yogi Ario (drum), Garna Raditya (vokal, gitar), Novelino Adam (vokal, bas). Foto: Rifqi Fadhlurrahman

 

Dalam video tersebut ditampilkan instalasi boneka-boneka yang sudah rusak yang menggambarkan ironi masyarakat. Lalu terdapat sosok yang sedang berpidato di podium. Adapun petasan yang dilempar merujuk pada keberanian untuk menyanggah di tengah pidato.

Proses pembuatan video tersebut dilakukan di Indonesia dan Amerika Serikat (AS) saat mereka menggelar tur di kedua negara tersebut. Terdapat cuplikan aksi panggung pada tur tersebut bersama Novelino Adam (bas, vokal), Yogi Ario (drum) dengan personel di AS, Damian Talmadge (bas) dan Mark Miller (drum). Sebelumnya band yang berdiri tahun 1999 ini sukses menyelesaikan tur ke 25 kota di AS pada 22 April-1 Juni 2018 yang lalu.

Direncanakan dalam bulan Oktober mendatang akan menggelar tur kembali ke AS di bagian East Coast untuk mempromosikan album baru. Pagelaran tur nya direncanakan akan melibas belasan panggung bersama Antigama (Polandia), Rottenness (Meksiko) dan Violent Opposition dari Oakland, California.(*)

http://facebook.com/ak47grind http://instagram.com/ak47grind http://ak47grind.wordpress.com http://ak47grind.bandcamp.com

Merespon Alam dengan Rindu, Inspirasi Single Terbaru Dari Olski

Photo doc. Olski

Setelah banyak mendapat respon positif untuk single Tunggu (2017) dan juga Datang Bulan (2017), Olski merilis Rindu, pada bulan Juli 2018 sebagai single ketiga.

 

 

Longlifemagz – Alam dan manusia hidup berdampingan, sejatinya dua hal yang saling bertautan satu sama lain. Salah satu contohnya adalah, hujan yang dipercaya mampu membawa kenangan bagi manusia. Hal ini yang coba direspon juga oleh Olski, melalui single terbarunya “Rindu”.

Rindu, yang ditulis oleh Dicki (Guitalele, Gitar), Shohih (Pianika, Glockenspiel), dan juga Atika (Perkusi) ini menceritakan tentang seseorang yang mencoba berkomunikasi dengan alam, melalui rasa rindu terhadap orang yang dia tunggu. “Di sisi lain, kami percaya Alam juga akan memberi respon positif kepada manusia jika memang manusia juga tidak bersifat destruktif.” Ungkap Dea (Vokal).

Lagu Rindu ini cukup berbeda dengan lagu-lagu sebelumnya. Dengan sedikit sentuhan melayu, agak keroncong, membuat Dicki yang biasanya bermain gitar kali ini bermain guitalele. Begitu juga dengan Shohih yang kian memperkuat komposisi dengan memberi sentuhan Castanyet didalamnya.

Yang menarik adalah, walaupun belum dirilis sebagai single, lagu ini termasuk yang banyak mendapat respon positif dari pendengar dan followers olski di sosial media.

Video Lirik Rindu tersedia di youtube channel olski inthewood pada hari jumat 6 Juli 2018. Video lirik tersebut dibantu oleh Luthfiahra, yang dulunya merupakan personil Olski juga. Saat ini lagu rindu sudah tersedia di kanal kanal digital seperti Spotify , Joox, sampai I-tunes. Sedangkan Untuk Music Video sedang dalam proses penggarapan, dan diharapkan bisa selesai dalam waktu dekat.

 

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

UNFEST 3.0 MENGAJAK SAYA UNTUK BERNOSTALGIA

Ipang Lazuardi saat tampil di acara Unfest (20/5/18) / doc. Unfest

Nostalgia menikmati hit-hit andalan Sheila on 7 dan Ipang Lazuardi di Unfest, membuat saya merasa senang.


 

Longlifemagz – Malam yang penuh nostalgia, sungguh tidak ada kata lain yang dapat keluar dari mulut saya kamis malam (11/05) kemarin. Sepanjang jalan pulang, saya dan beberapa teman saya kembali menyenandungkan lagu-lagu lama baik dari Sheila on 7 maupun dari Ipang Lazuardi, yang merupakan hideliner dalam perhelatan Unfest.

Seperti tema yang mereka usung, “Anarchronous Fantasysta: Cross The Lost Precious Time” mencoba menghidupkan kembali kenangan-kenangan jaman 90-an. Dan, tema itu tepat sasaran! Sebagai seorang yang tumbuh kembang di kisaran akhir 90-an sampai awal 2000-an, tentu saja saya merasa puas kembali mengingat kenangan-kenagan semasa dulu, diantaranya menikmati reportoar hit-hit perjalanan Sheila on 7 dan Ipang lazuardi.

Selain itu, bukan cuma bintang tamu yang menjadi senjata andalan untuk mengajak orang bernostalgia, namun juga dekorasi dan beberapa spot didalam venue. Dekor panggung yang mengusung tema pac man (sebuah video game yang laris tahun 90an) dan ornament-ornament lainnya pun menambah nuansa nostalgia malam itu.

Yang paling saya senang, adanya jajanan-jajanan yang mendukung tema itu.Tidak percaya? Saya seperti kembali kejaman SD dulu, bernyanyi lagu “Itu Aku” dari Sheila on 7, sembari mengunyah telur gulung (jajanan yang biasa dijual depan SD) dengan pipi yang masih blepotan saus sambal.

Dimulai dari sore hari, lapangan FIK UNNES yang notabane-nya adalah venue acara belum begitu tampak ramai meski sudah ada beberapa pengunjung yang memenuhi sudut lapangan. Penampilan musik diawali dengan band band local Semarang, yaitu Light of Glory, Funpedia, Sound of Soul, dan New Face New Wave. Hingga hari mulai gelap, kali ini giliran VOC UNNES yang memukau para penonton. Band Phiavia yang tampil setelah itu cukup menarik perhatian saya. Mereka membawakan medley lagu-lagu Glenn Fredly dengan balutan Pop Jazz yang friendly ditelinga. Unnes Dancetination juga tidak kalah menariknya. Terbukti, para penonton dibuat terhibur dengan suguhan dance heboh a la mereka.

Wah! Kini sudah sampai di pamungkas acara. Setelah penampilan dance, giliran Ipang Lazuardi yang menghibur penonton. Dan langsung saja, penonton yang sudah memenuhi lapangan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang meringsek kedepan untuk melihat idolanya.

Penampilan Ipang yang sangat karismatik benar-benar membius semua penonton malam itu. Hit-hit kencang seperti “Gak Ada Takutnya” dan “Bukan Mereka” dibawakan dengan seru ditengah lagu-lagu mellow seperti “Ada yang hilang”, “Sahabat kecil”, dan “tentang cinta” yang membuat seisi venue bernyanyi.

Setelah Ipang, kita semua menantikan bintang tamu satu lagi yaitu Sheila on 7. Meskipun mereka sedikit terlambat, namun penonton tetap terhibur oleh guyonan MC kondang Obin dan Chino fajrin. Hingga tiba terlihat Sheila on 7 menghajar panggung Unfest 3.0.

Lewat hit “Pejantan Tangguh” langsung membuat semua orang disitu bersenandung. Mereka terus membawakan tembang-tembang seperti “Lapang dada”, “Seberapa Pantas”, “Betapa”, dan “Pria-pria Kesepian” yang sudah melekat pada hati penonton. Tidak luput, mereka juga membawakan single terbarunya “Film Favorit”. Mereka menutup performance mereka malam itu dengan tembang “Itu Aku”. Hingga membuat semua penonton melambaikan tangan mengikuti alunan lagu sampai acara Unfest berakhir.

 


FIND US ON

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.

 

Pin It on Pinterest