1


UNFEST 3.0 MENGAJAK SAYA UNTUK BERNOSTALGIA

Ipang Lazuardi saat tampil di acara Unfest (20/5/18) / doc. Unfest

Nostalgia menikmati hit-hit andalan Sheila on 7 dan Ipang Lazuardi di Unfest, membuat saya merasa senang.


 

Longlifemagz – Malam yang penuh nostalgia, sungguh tidak ada kata lain yang dapat keluar dari mulut saya kamis malam (11/05) kemarin. Sepanjang jalan pulang, saya dan beberapa teman saya kembali menyenandungkan lagu-lagu lama baik dari Sheila on 7 maupun dari Ipang Lazuardi, yang merupakan hideliner dalam perhelatan Unfest.

Seperti tema yang mereka usung, “Anarchronous Fantasysta: Cross The Lost Precious Time” mencoba menghidupkan kembali kenangan-kenangan jaman 90-an. Dan, tema itu tepat sasaran! Sebagai seorang yang tumbuh kembang di kisaran akhir 90-an sampai awal 2000-an, tentu saja saya merasa puas kembali mengingat kenangan-kenagan semasa dulu, diantaranya menikmati reportoar hit-hit perjalanan Sheila on 7 dan Ipang lazuardi.

Selain itu, bukan cuma bintang tamu yang menjadi senjata andalan untuk mengajak orang bernostalgia, namun juga dekorasi dan beberapa spot didalam venue. Dekor panggung yang mengusung tema pac man (sebuah video game yang laris tahun 90an) dan ornament-ornament lainnya pun menambah nuansa nostalgia malam itu.

Yang paling saya senang, adanya jajanan-jajanan yang mendukung tema itu.Tidak percaya? Saya seperti kembali kejaman SD dulu, bernyanyi lagu “Itu Aku” dari Sheila on 7, sembari mengunyah telur gulung (jajanan yang biasa dijual depan SD) dengan pipi yang masih blepotan saus sambal.

Dimulai dari sore hari, lapangan FIK UNNES yang notabane-nya adalah venue acara belum begitu tampak ramai meski sudah ada beberapa pengunjung yang memenuhi sudut lapangan. Penampilan musik diawali dengan band band local Semarang, yaitu Light of Glory, Funpedia, Sound of Soul, dan New Face New Wave. Hingga hari mulai gelap, kali ini giliran VOC UNNES yang memukau para penonton. Band Phiavia yang tampil setelah itu cukup menarik perhatian saya. Mereka membawakan medley lagu-lagu Glenn Fredly dengan balutan Pop Jazz yang friendly ditelinga. Unnes Dancetination juga tidak kalah menariknya. Terbukti, para penonton dibuat terhibur dengan suguhan dance heboh a la mereka.

Wah! Kini sudah sampai di pamungkas acara. Setelah penampilan dance, giliran Ipang Lazuardi yang menghibur penonton. Dan langsung saja, penonton yang sudah memenuhi lapangan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang meringsek kedepan untuk melihat idolanya.

Penampilan Ipang yang sangat karismatik benar-benar membius semua penonton malam itu. Hit-hit kencang seperti “Gak Ada Takutnya” dan “Bukan Mereka” dibawakan dengan seru ditengah lagu-lagu mellow seperti “Ada yang hilang”, “Sahabat kecil”, dan “tentang cinta” yang membuat seisi venue bernyanyi.

Setelah Ipang, kita semua menantikan bintang tamu satu lagi yaitu Sheila on 7. Meskipun mereka sedikit terlambat, namun penonton tetap terhibur oleh guyonan MC kondang Obin dan Chino fajrin. Hingga tiba terlihat Sheila on 7 menghajar panggung Unfest 3.0.

Lewat hit “Pejantan Tangguh” langsung membuat semua orang disitu bersenandung. Mereka terus membawakan tembang-tembang seperti “Lapang dada”, “Seberapa Pantas”, “Betapa”, dan “Pria-pria Kesepian” yang sudah melekat pada hati penonton. Tidak luput, mereka juga membawakan single terbarunya “Film Favorit”. Mereka menutup performance mereka malam itu dengan tembang “Itu Aku”. Hingga membuat semua penonton melambaikan tangan mengikuti alunan lagu sampai acara Unfest berakhir.

 

RIEN JAMAIN, BERBICARA TENTANG PANGGUNG PERTAMA, PERJALANAN BERMUSIKNYA, PERAN PEREMPUAN, SAMPAI KESAN HUMORIS YANG MELEKAT

Rien Jamain, personil Nasidaria saat ditemui dikediamannya ll Photo by Fakhri Hardianto

Adalah generasi pertama dari Nasidaria, grup musik qosidah modern yang sempat menyita perhatian publik dalam kurun tahun 2016-2017, melalui video musik mereka yang berselebaran didunia maya yang berlirik lelaki kampret (dengan judul Wajah Ayu Untuk Siapa).


 

Longlifemagz – Jika anda kelahiran era 70-an akhir sampai 90-an awal mungkin tidak asing dengan grup musik ini. Nomer-nomer hits mereka pastilah menemani telinga-telinga anda, seperti lagu “Kota Santri”, “Bom Nuklir”, “Jilbab Putih”, sampai “Perdamaian”. Atau setidaknya sekelibat terlintas mampir ditelinga, saat bulan puasa tiba.

Namun bagi para generasi millennial, Y, sampai mungkin Z, banyak juga tahu mereka dari unggahan-unggahan akun dimedia sosial, yang akhirnya menimbulkan rasa penasaran, mencari tahu siapa mereka, mendengarkan lagunya, sampai-sampai mandaulat diri jadi fans mereka.

Tampil di RRRC Festival tahun 2016 adalah diantara faktor lain kenapa mereka kembali gaung, terkhusus dianak muda generasi sekarang ini. “Alhamdulillah, saya banyak terimakasih sekali kepada remaja-remaja sekarang yang mau mendengarkan lagu qosidah,” ujar Rien dengan tegas.

Siang itu, Longlife Magazine mengunjungi rumah dari salah satu personil legenda musik grup qosidah Indonesia Nasidaria, Rien Jamain. Tepat dikediamannya daerah Gunungpati, Semarang yang cukup asri dengan pohon besar diperkarangan rumah. Cukup jauh dari pusat kota (kurang lebih 30 menit), suasana lingkungan dikediamannya terbilang tentram dan nyaman.

Busana muslim dengan warna yang cerah, lengkap dengan jilbabnya, terlihat datang menyambut kami. Kesan awal, bahwa ia akan tertutup, seadanya, dan serius hilang disaat disela perbincangan ada saja keluar canda dari mulut beliau, kadang tertawalah kami dibuatnya. “Alhamdulillah ini dari sananya mas.”, ujar Rien sembari tertawa. Ya, memang benar beliau itu ramah, terbuka, menyenangkan dan humoris.

Dalam asyiknya bercerita, ditengah waktu ia sempat terhenti saat ada seorang yang bernyayi didepan pintu kediamannya, pengamen pria dengan gitar kopongnya. Sejenak ia terdiam, merenung, dan berujar kepada kami dengan lirih : kadang saya kalau melihat pengamen, jadi inget waktu dulu (masa awal dimana Nasidaria tampil didepan umum, dan merintis mencari panggung).

Hingga kini beliau menjadi salah satu orang yang dituakan di Nasidaria, 43 Tahun aktif digrup qosidah modern itu. selama 42 tahun ia bermain dengan bass-nya, lengkap dengan gaya khasnya ala Rhoma Irama, mengganti pemain bass lamanya yang beralih ke guitar. Kini lebih banyak Rien menjadi MC dikala manggung, namun sesekali tetap bermain bass.

Selama 43 tahun tergabung dalam grup Nasidaria terlalu banyak moment yang beliau kenang dan berkesan yang diceritakan, mulai dari bagaimana ia belajar musik, bergaya saat bermain bass seperti Rhoma Irama yang merupakan idolanya dalam bermusik, peran perempuan, sampai dirinya yang menjadi tempat curhat bagi teman-temannya. Berikut adalah wawancara kami dengan beliau.

Awal temen-temen dan Ibu masuk Nasidaria gimana?

Nasidaria kan Awalnya asrama, kita pertama itu belajarnya seni membaca al-quran, lokasinya di Kauman 58 semarang. Terus yang pertama itu bapak (Alm) H. Muhammad Zein adalah penggagas sekaligus guru. Beliau ini kerjannya di DEPAG (Departemen Agama) dibagian seni membaca Al-Qur’an. Setiap jumat pagi kita membaca Al-Quran dengan lagu – lagu. Dan kemudian di kumpulkan oleh bapak dari berbagi daerah yang kira – kira anak itu bisa dibimbing dan diberikan pelajaran mengaji dengan lagu – lagu.

Setelah itu, banyak juga ternyata anak – anak yang menguasai itu. Bapak kan orangnya seni sekali. Bapak mencoba membimbing untuk menyanyikan lagu-lagu dari arab atau qasidahan. Karena kan setiap orang yang bisa ngaji pasti kan bisa nyanyi, tetapi orang yang nyanyi belum tentu bisa ngaji. Sampai akhirnya itu terus dibimbing dan dilatih oleh Bapak. Dan bisa.

Berarti posisisnya Bapak Zein yang mencari sendiri personil Nasidaria atau sebaliknya?

Bapak kan mengajar sampai kota dimana saja(khususnya jawa tengah). Karena bapak itu ngajar jadinya bapak tau potensi-potensi yang ada, bibit yang bisa membaca alquran lah. Akhirnya dikumpulkan di semarang (pondok di Kauman, Semarang) dan diajak bergabung dengan Nasidaria. Setelah jadi Nasidaria, kita dipanggung juga mengumpulkan Nasidaria untuk generasi berikutnya. Siapa yang mau ikut nasidaria boleh bergabung dengan kami. Syaratnya adalah perempuan, mempunyai akhlaq yang baik, usia sekian, kalau masalah wajah ya alhamdulillah. Kalau dulukan tidak diutamakan, yang penting itu mempunyai akhlaq yang baik. Karena akhlaq yang bagus itu bisa menjaga keimanan. Kalau anak muda sekarang kan wajah di dahulukan, tapi buat apa kalau punya wajah tapi gapunya kemampuan. Ya kita mencari juga langsung dites disitu.

Waktu konser pertama itu dimana Bu berarti?

Ya karna bapak itu orang DEPAG, jadinya kalau ada kegiatan yang dilangsungkan di DEPAG itu kita diundang. Acara – acara seperti pengajian atau bahkan perayaan hari besar agama Islam. Nah, kita juga sekalian promosi dari situ. Kita tidak mencari uang, tapi latian berani tampil didepan panggung. Kadang di Balaikota, Kantor Kementrian, di RRI dan sebagainya. Lama kelamaan kita diundang di alun – alun, di Masjid-Masjid besar, dan juga konteks yang lebih besar. Itu sekitar tahun 75-an akhir.

Waktu konser pertama itu umurnya berapa?

Sekitar umur 19 – 20

Waktu manggung pertama kali itu ada perasaan malu?

Yah pasti malu dong, makanya kalau di Kauman itu bener-bener latian panggung. Dulu tuh saya dikamar sampai latihan berdiri, bergaya-bergaya, latihan berbicara, bagaimana supaya orang bisa seneng. Cara berjalan juga saya latihan. Pakai dipan itu, saya sering latihan, Ya karna bapak (Bapak Zein) itu orangnya detail banget itu. Pokoknya waktu itu lucu-lucu prosesnya. Kita juga doa baca apa saja biar ga dredeg (grogi).

Dokumentasi Nasidaria, disaat mereka berkunjung tampil di Jerman.

Manggung yang paling berkesan dimana?

Beda-beda yaa, setiap tempat punya ciri khasnya sendiri-sendiri. Seperti di Malaysia misalnya, waktu kita manggung ya, gaboleh ada gerakan, hanya diam saja, karena tidak boleh. Jadi saya waktu ngebass itu, gabisa gaya gitu, heheh. Beda lagi waktu di Jerman. Orang Jerman itu gaperduli, ada musik seperti ini dijoged. Waktu itu selain lagu Nasidaria, kami selipkan juga lagu “Kopi Dangdut”. Wah lagu itu diulang-ulang, orang senengnya bukan main itu. Wah luar biasa waktu itu. Termaksud yang terakhir itu, RRRC fest dan Holy Market itu.

Ada perbedaan ga antara manggung waktu dulu sama yang sekarang? Ya kan waktu zaman dulu perempuan di angagap sebelah mata.

Kalau sekarang kan perempuan sudah diangkat derajatnya, emansipasi wanita. Nah ada lagunya juga tuh emansipasi wanita. Dulu kan perempuan masih dijadikan budak, pada zaman rosul juga begitu. Padahal wanita juga perannya berat, jangan diangagap enteng. Laki – laki yang mencari nafkah dan perempuan mengaturnya.

Kalau misalkan waktu bisa diulang di fase Nasidaria, Ibu pengen balik di waktu apa?

Wah itu ya. Waktu umur 25 tahun. Pokoknya itu lagi saat Masyaallah, Subhanallah seneng-senengnya itu di Nasidaria. Syuting sana, syuting sini. Baru berdiri Masjid Istiqomah yang di Ungaran itu, kita jadi poster. Trus di Bandungan, kemana saja waktu itu kita jalan-jalan, heheh. Pokoknya senengnya kita mau jadi apa, mau seperti apa, nanti kedepannya seperti apa, kita belum terpikirkan pada waktu itu. 20-25 tahun, itu pokoknya berkesanlah, heheh, belum mikir yang susah-susah.

Berarti waktu tahun itu, Nasidaria lagi terkenal-terkenalnya ya bu?

Iya itu, heheh. Kita dulu kalau main (manggung) dimana gitu, sorenya kita dikelilingkan (pawai) dahulu. “Jangan lupa saksikanlah Nasidaria”, seperti pakai pengeras suara. Itu dimana-mana seperti itu. Ya di Semarang, diluar kota juga. Apalagi di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, pasti seperti itu. Jadi kita awal datengnya, nanti pas sore kita sudah diarak pake mobil terbuka tuh, trus ada pamfletnya gitu Nasidaria Semarang gitu. Wah itu sudah ramai itu nanti yang datang.

Kalau diluar kesibukan ibu sebagai perempuan, aktif juga engga berkegiatan di luar nasidaria?

Oh iya pasti ikut berpartisipasi dalam bermasyarakat. Seperti pengajian dari RT, RW, di Gunungpati (daerah kediamannya) juga ada. Ya namanya kita bermasyarakat ya “ojo dumeh” jangan sombong intinya. Kamu masuk tv, cuman tidak mau bermasyarakat. Jadi tetap bermasyarakat. Kalo kita punya ilmu walau sedikit ya harus diamalkan. Jangan seperti, ibarat ”Pohon yang lebat daunnya, namun tidak berbuah,” .

Pendapat ibu untuk perempuan sekarang seperti apa?

Sekarang banyak ya pengajian-pengajian perempuan seperti itu. Dan banyak juga yang memakai jilbab. Insyallah berani memakai jilbab, berani mulai menata dirinya. Jangan lupa juga ditata keimanannya, jangan sampai sudah berjilbab, tapi Alhamdulillah sekarang sudah ada kemajuan ya, banyak yang sudah berjilbab. Sudah mulai ditanamkan pondasi-pondasi agama seperti itu. Berdakwah itu tidak mudah, kalau kita sudah bicarakan, harus bisa dijalankan juga. Insyaallah kita bisa menjalankan. Tidak terlalu fanatik, asalkan kita tidak melanggar norma-norma agama, dan bisa menjaga batasan-batasan norma.

Dari sembilan personil, yang paling deket, temen nongkrong, sampai temen curhat yang mana Bu?

Dulu mereka pada curhat semuanya ko ke saya, hehe.

Berarti jadi tempat curhat gitu bu?

Oh iya itu. Sampai sekarang tuh pada curhat. Belum lama mba Nunung kemari, habis cerita. mengundang juga anaknya mau ada pernikahan. Dulu saya juga gatau si, kenapa saya jadi tempat curahan temen-temen ya. Sampai sekarang mas masih banyak yang meminta pendapat gitu kalau ada apa-apa. Mungkin saya kalau ada yang cerita, cukup tahu gitu ya. Apa itu, tidak bocor ya seperti itu. Kalau saya bisa menulis itu bisa jadi berapa tumpuk buku itu, heheh. Karena memang pada seneng sama saya mungkin ya.

Mungkin karena ibu humoris kali bu?

Iya mungkin yaa, dulu ada yang bilang “ko waktu saya dirumah keinget bu Rien jadi tertawa sendiri”. Apa yang saya lakukan ko, pada senengnya, ya Alhamdulillah ini dari sananya mas, hehe. Dibalik kekurangan saya, Allah selalu memberi kelebihan dari sesuatunya. Mungkin itu.

 

Reporter : Dirham Rizaldi & Fakhri Hardianto

 

 

 

 

Selain project serabutan, mencoba peruntungan pula sebagai penulis lepas, buruh event, dan usaha kecil clothing.

43 TAHUN SEJARAH NASIDA RIA, DAKWAH DENGAN RIANG GEMBIRA

Photo doc lagu-qosidah.blogspot.com.

 “Nasida itu kan nyanyian, ria itu gembira. Dalam hal ini kita Nasida Ria berdakwah melalui musik, dengan nyanyian riang gembira,” ujar Rien Jamain.


 

Longlifemagz – Siang itu Nasida Ria sedang latihan rutin, untuk persiapan pentas mereka disalah satu event di Demak. Latihan didalam kediaman Gus Choliq Zain, yang tak lain merupakan basecamp dari mereka sekarang. Dibagian depan kediamannya, disulap menjadi Warung Soto, “Kami membuka usaha ini sekaligus menambah-nambah pemasukan,” beliau bercerita membuka obrolan kala itu.

Terlihat disana terdapat sekitar delapan orang pengunjung tampak sedang asyik menyantap soto. Sebagian dari mereka ada pula yang sudah selesai menikmati, dan berbincang hangat sembari menikmati teh yang masih sedikit tersisa.

Empat orang dari kami, tim Longlife Magazine, datang meliput langsung aktivitas dari Nasida Ria. Kami menikmati suguhan kopi hitam yang telah disediakan sembari berbincang banyak dengan Gus Choliq Zain, yang saat ini merupakan manager dari Nasida Ria, sekaligus anak dari (Alm) H. Muhammad Zein, penggagas Nasida Ria awal kali terbentuk.

Kini Nasida Ria memang sedang sibuk-sibuknya. Selain jadwal pentas yang padat, nantinya mereka juga akan mengeluarkan album baru ditahun ini.

Awal Mula

Adalah Nasida Ria, grup musik qosidah modern yang sudah berdiri sejak 43 tahun silam, tepatnya tahun 1975. Ide untuk membuat grup ini datang dari (Alm.) H. Muhammad Zein sebagai medium berdakwah dalam menyiarkan ajaran islam.Muhammad Zein atau Bapak Zein adalah guru di Departemen Agama (DEPAG) dibagian seni membaca Al-qur’an. Beliau pendidik agama sekaligus orang yang gemar berkesenian, dalam bidang musik. Beliau melihat musik sebagai bagian dari seni, dijadikan medium untuk menyebarkan syiar agama. Hal ini sudah dilakukan beliau bersama grup As-Syabab, grup yang memainkan musik gambus (padang pasir) dan melantunkan syiar Islam, berbahasa Arab.

Mempunyai pondok pesantren, Pak Zein mengajarkan ajaran Islam, mulai dari membaca Al-qur’an sampai Qira’at kepada murid-muridnya. Tidak hanya terfokus di Kota Semarang, beliau juga berkeliling ke kota-kota sekitar Jawa Tengah mulai dari Magelang, Batang, sampai Pekalongan.

Mengaji adalah satu pelajaran yang wajib ditekuni oleh setiap muridnya, sampai benar dalam lafal. “Setiap Jum’at pagi kita membaca Al-qur’an,” ujar Rien Jamain, salah satu anggota awal Nasida Ria yang masih bertahan hingga saat ini. Selain itu etika sebagai muslim juga digenjot sebagai pegangan dalam bersikap dan berpikir. Dalam pembinaan itu dikasih kegiatan bermusik. “Kita dibimbing dan diberikan pelajaran mengaji, seni, dan musik,” ia melanjutkan kisahnya.

Dalam menjalankan rutinitas mendidik di berbagai kota, Pak Zein melihat potensi murid-muridnya dalam membaca Al-qur’an, Qira’at, dan juga bermusik. Dikumpulkanlah murid-murid di pondok pesantrennya, di Jalan Kauman Mustaram No. 58, Semarang.

Pak Zein perlahan tapi pasti mulai membimbing murid-muridnya untuk menyanyikan dan memainkan lagu Arab, gambus, bernuansa padang pasir. “Dulu awal-awal masih pakai rebana,” kata Gus Choliq Zain.

Seiring waktu, potensi murid-muridnya makin terlihat dalam mensyiarkan agama melalui musik, diciptakanlah sebuah grup qosidah, dengan nama Nasida Ria. “Nasida itu kan nyanyian, ria itu gembira. Dalam hal ini kita berdakwah melalui musik, dengan nyanyian riang gembira, ujar Rien sedikit berfilosofis ketika ditanya mengenai ihwal awal mula nama grupnya tersebut.

Maka berdirilah Nasida Ria, dengan 9 personil wanita didalamnya, Mudrikah Zein, Muthaharah, Rien Jamain, Umi Khalifah, Musyarrofah, Nunung, Alfiyah, Kudriyah dan Nur Ain.

Hingga memasuki tahun 1978, mereka merilis album “Alabadil Makabul”. Berisikan lagu-lagu yang kental akan nuansa Arab dan musik padang pasir, melambungkan nama Nasidaria hingga makin dikenal masyarakat.

Belakangan Nasida Ria mengalami perubahan, baik itu dalam penggunaan bahasa yang dipakai didalam syair. “Kita gunakan bahasa Indonesia, lugas dan merakyat, agar lebih mudah tersampaikan,” terang Gus Choliq. “Sampai musik yang sebelumnya kental akan irama gambus (padang pasir), kita kembangkan lagi” beliau menambahkan. Bertambahlah instrumen baru berpadu-padan dengan qosidah, mulai dari gitar, kendang, bass, organ, sampai biola. Warna musik ini menghasilkan perpaduan unik, yang hanya dimiliki oleh Nasida Ria.

 

Perjuangan Musik dan Dakwah Nasida Ria

Jalan mulus tidak langsung ditemukan dalam karir Nasida Ria, walau mereka mempunyai tujuan baik dalam bermusik. Pertentangan kian muncul dipermukaan. Banyak yang mempertanyakan jalan yang diambil dari Nasida Ria “Yang nyanyi kok perempuan? Berdakwah kok melalui musik?”

Dengan keseluruhan personil yang terdiri dari perempuan dan tampil bermusik didepan publik. Belum lagi sistem patriarki yang masih dominan dipercaya kala itu yang masih belum terlalu banyak menampilkan wanita di ruang publik dalam konteks bermusik. Ditambah dengan stigma usang tentang perempuan yang harus mengurus rumah tangga dan anak semakin menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat yang masih memandang sinis terhadap apa yang mereka lakukan.

Namun atas keteguhan prinsip, iktikad yang baik, dan dukungan dari berbagai pihak, “Banyak juga kiai-kiai yang mendukung ,“ ujar Gus Choliq, Nasida Ria tetap memilih jalannya. “Yang penting tujuan kita berdakwah,” Gus Choliq menambahkan dengan yakin.

Nasida Ria dalam proses bermusiknya mengalami transformasi dari gambus menuju qosidah modern. Hal ini bermula dari sumbangan alat musik organ, gitar dan juga drum dari Imam Suparto (Walikota Semarang pada saat itu). Selanjutnya, Rien bercerita bahwa instrumen kembali berubah setelah ada guru dari RRI (Radio Republik Indonesia) Semarang yang mengajari mereka bermain biola. Seterusnya drum dihilangkan, hingga terbentuklah format bermusik mereka seperti sekarang ini dalam bentuk qosidah modern.

Untuk menunjang keberhasilan mereka berdakwah melalui musik, latihan terus dilakukan untuk menghasilkan karya yang bagus. Gus Choliq mengatakan personil Nasida Ria jika sudah menguasai satu alat musik, harus bisa juga memainkan instrumen lainnya. Setiap pergantian lagu ada personil yang digilir bermain dengan posisi yang berbeda. “Kondisional tergantung kebutuhan dari lagu tersebut,” Rien mengiyakan.

Setidaknya atas ketekunan mereka hingga kini selebihnya sudah 34 volume album yang dikeluarkan Nasida Ria, dengan total kurang lebih 300 buah lagu yang diciptakan.

Baca :

Benci Tapi Rindu, Perjalanan Dangdut Yang Berliku

Raja Dangdut, Polemik Dakwah, Musik, dan Goyang

Sederet lagu Nasida Ria, masih terus diputar mulai dari televisi, radio, dari rumah ke rumah, sampai acara-acara pengajian maupun pernikahan. Lagu “Pengantin Baru” yang terdapat dalam volume ke-4, album “Sholawat Nabi”, masih menjadi themesong dalam hajatan pernikahan. Tilik volume ke-5 dari Nasida Ria, album “Perdamaian”, terdapat nomor-nomor yang kian memperkenalkan Nasida Ria dalam lingkup nasional. Seperti lagu “Perdamaian”, yang pada medio 2000-an dinyanyikan ulang oleh band Gigi. “Kota Santri” turut pula dicover ulang oleh beberapa musisi, salah satunya Anang Hermansyah dan Ashanty.

“Dia (Pak Zein) nulis lagu ‘Kota Santri’, sambil jualan bensin eceren. Nah ada situasi santri-santri Kaliwungu (Semarang) itu ngaji. Jadilah itu lagu,” kenang Zain seraya tertawa kecil. Lirik lagu “Kota Santri” yang sederhana, dan dekat dengan realita, membuat lagu tersebut masih terasa relevan dan terus dinyanyikan sampai sekarang.

Nomor-nomor lainnya, tidak kalah terkenal dan bagus untuk didengar. Sebut saja “Mashitoh Indonesia” (Vol 10 – Dunia Dalam Berita), “Tahun 2000” dan “Jangan Jual Ginjalmu” (Vol. 12 – Rumahku Surgaku) , “Bom Nuklir” (Vol. 14 – Anakku), “Keadilan” (Vol. 18 – Keadilan), sampai “Nabi Muhammad Mataharinya Dunia” (Vol. 24 – Nabi Muhammad Mataharinya Dunia).

Lagu dan liriknya, banyak diapresiasi oleh publik, salah satunya oleh media Vice Indonesia. Tidak hanya kental akan dakwah, Vice Indonesia melalui artikel yang dimuatnya menyatakan lirik-lirik Nasida Ria lekat akan nilai futuristik. Rien merasa dulu dia juga tidak mengira bahwa lagu-lagunya akan seperti itu, menjadi suatu fenomena yang benar-benar terjadi didalam masyarakat. ”Terkadang saya ketika merenung sampai merinding mengapa lagu- lagu Nasidaria benar-benar menyentuh dalam kehidupan” ucap Rien merespon fenomena tersebut.

Selain Zain, Abu Ali Haidar alias KH. Ahmad Bukhari adalah salah satu pencipta dari lirik-lirik yang terkandung dalam Nasida Ria. “Sangat cemerlang banget itu bapak Ali Haydar, kadang mengambil dari Umi Kalsum sama Bapak Zein (Alm) kadang bahasa Arab di Indonesiakan, kadang idenya lahir sendirinya dari realita disekitar” Rien berujar dengan penuh kagum. Dia bercerita lagu-lagu yang diciptakan Abu Ali Haidar tersebut hadir atas renungan-renungan yang ia lakukan.

Pernah pada suatu waktu Abu Ali berkata ke Rien “Mbak Rien, besok tak buatkan lagu dari mempertanyakan, sopo ngerti (siapa yang tahu), siapa yang bilang?. ”Eh jadi lagu Siapa Bilang,” kenang Rien. Lagu yang mempertanyakan dan melawan wacana bahwa anak muda telah merosot akhlaknya.

Tidak hanya menyebarkan syiar agama, lirik lagu Nasida Ria juga humanis, peka akan realita dan isu-isu disekitar. Bergelut di era Orde Baru, tidak membuat mereka takut untuk mengkritik apa yang salah, seperti lagu “Keadilan”, “Reformasi”, maupun “HAM HAM HAM” adalah sedikit diantaranya. “Tidak ada larangan pada waktu itu,” kata Gus Choliq. “Kita hanya berbicara tentang pemerintahan, tidak menyinggung ataupun melanggar aturan,” tandas Rien.

Konsistensi berdakwah dalam musik, mensyiarkan agama, humanis, menyebarkan nilai-nilai kebaikan membuat Nasida Ria mendapatkan penghargaan. Mulai dari penghargaan Pengemban Budaya Islam dari PWI Pusat Jakarta (1989), Penghargaan Seni dari PWI Jateng (1992) sampai Anugrah Keteladanan 2004 dari PPP Jateng (2004).

 

Busana, Fans dan Panggung.

Dari acara satu ke acara lain, dari satu panggung ke panggung lainnya, Pak Zein terus melatih mental para personil Nasida Ria pentas didepan orang banyak. Bukan suatu yang mudah bagi para personil yang notabene perempuan dan anak pesantren.

Untuk mempersiapkan penampilan didepan orang banyak, tidak jarang setiap personil berlatih sesering mungkin. “Karena Bapak (Zein) itu orangnya detail banget,” tutur Rien.

Segala bentuk latihan dilakukan untuk menghasilkan penampilan maksimal diatas panggung, mulai dari latihan musik, berbicara didepan banyak orang, sampai latihan bergaya kala memainkan musik. “Pakai dipan itu dulu saya sering latihan, Pokoknya waktu itu lucu-lucu,” kenang Rien tersenyum.

Tiba dipanggung pertamanya, Nasida Ria mampu tampil dengan cukup sukses, “Salah satu tempat pertama adalah saat acara yang digelar oleh Departemen Agama Kota Semarang,” Gus Choliq berujar. “Hingga berlanjut di Balaikota, kantor Kementerian, sampai di RRI. Lama kelamaan diundang di alun-alun, di masjid masjid besar. Itu sekitar tahun 75an akhir,” ucap Rien mencoba mengingat.

Rasa grogi tak lepas dirasakan setiap personil, kala banyak mata yang menyorot mereka. Manusiawi memang, namun pertunjukan harus tetap dilakukan, panggung harus tetap ditaklukkan. Berdoa adalah salah satu kewajiban yang mereka lakukan, “Doa apa saja pokoknya. Supaya gak dredek (grogi),” kenang Rien sembari tertawa. Ya, doa adalah obat mujarab untuk hilangkan rasa grogi dipanggung.

Nasida Ria semakin mendapat sorotan dari masyarakat, terlebih juga dalam trend berbusana, mereka menjadi trendsetter pada masa itu. Rien mengatakan belum banyak perempuan pakai jarit (kain batik panjang), baju, kerudung sekaligus bermain musik pada saat itu.

Berbondong-bondong wanita mengikuti gaya berbusana Nasida Ria, “Itu sampai di Johar (pasar di Semarang), banyak itu (perempuan) yang nyari jarit Nasida Ria, kerudung Nasida Ria”, ucap Rien. “Padahal saya sendiri tidak punya, karena waktu itu banyak banjir, jadi dulu jarit kita kumpulkan, untuk disumbangkan” beliau lanjut menambahkan. Saking hype nya gaya Nasida Ria dalam berbusana, selain masyarakat umum, grup-grup musik qosidah perempuan lainnya turut terpengaruh oleh mereka.

Ada kesadaran dalam diri mereka untuk mengubah gaya penampilan berbusana, dari yang sebelumnya sedikit terbuka, menjadi lebih tertutup. Selain banyaknya masukan yang diberikan dari para kiai/alim ulama, dan juga efek Nasida Ria yang kian dijadikan salah satu contoh oleh perempuan pada masa itu, sampai hidayah yang diperoleh sehabis pulang berhaji.

“Kita cari model yang lain, sekarang mulai tertutup saja. Kita semua berjilbab, menutup aurat”, ucap Rien. Model baru telah disepakati, Nasida Ria tampil lengkap dengan busana muslim, kerudung, dengan model dan warna yang catchy.

Dari satu album ke album lainnya mendapat sambutan yang baik, lagu-lagu Nasida Ria makin dikenal publik. Job untuk pentas, kian bertambah intensitasnya. “Dalam sebulan manggung bisa 30 kali” ungkap Gus Choliq.

Berbagai kota-kota di Indonesia tidak luput mereka sambangi, mulai dari kota-kota disekitar Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, sampai Ibukota Negara Republik Indonesia, Jakarta.

Berbagai sambutan dari penonton menyambut kedatangan Nasida Ria di berbagai kota, “Semarang, diluar kota juga, apalagi kota di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat”, Rien berujar. Selalu ada ritual khusus sebelum mereka manggung, mereka diarak-arak keliling kota oleh para penonton. “Kita awal datengnya, nanti pas sore kita sudah diarak pake mobil terbuka” ia menambahkan. Bila sudah begitu, penonton langsung mengerubungi dan dapat dipastikan saat pentas sudah berlangsung penonton ramai memadati.

Tidak semua pentas, mempunyai kenangan yang teramat baik. Perilaku penonton yang tak bisa ditebak, atmosfer dari crowd yang berbeda di tiap venue mereka pentas dan aturan mainnya. Ada saja penonton khususnya anak muda yang tidak mendengarkan, meresapi makna lagu, dan dakwahnya. Hanya berjoget saja. Kericuhan dan ribut antar penonton juga dialami. “Saya bilang, tolong mas, Nasida Ria kan qosidah, gausah lah ngadu kekuatan (berantem),” kenang Rien. Ditempat berbeda, lain lagi ceritanya, Gus Chaliq berkata dulu pernah ada yang melempar botol kecil dan mengarah ke dia, dikarenakan request lagu yang diminta tak kunjung dimainkan oleh Nasida Ria, “Untungnya tidak kena,” ujar beliau sembari tertawa.

Selalu ada cerita berbeda dan menarik dari berbagai kota. Mulai dari main di Desa Sanganjaya (daerah Tegal, Jawa Tengah) dan di daerah Dieng dengan sound system yang kurang enak didengar (noise) karena akses jalan yang susah.”Saya sempet tinggal tidur itu karena tidak enak” ucap Gus Choliq. Namun ternyata euforia penonton tetap meriah dan tinggi, “Kekecewaan saya hilang gitu aja, lihat penonton senang, nikmatnya luar biasa,” kata Gus Choliq.

Setiap personil juga memiliki kisah personal tersendiri dengan para fans. Dari mulai ada fans yang banyak memberi bingkisan dan bunga, sampai “Ada juga (personil) yang cinta lokasi waktu manggung, dan sampai sekarang telah menjadi pasangan suami istri,” Rien bercerita sembari tersenyum.

Semua pengalaman dan cerita yang telah dilewati mereka jadikan pelajaran dalam berseni dan dakwah di Nasida Ria. Hingga datanglah sebuah kesempatan, dari seringnya pentas di berbagai kota, konsistensi dalam berkarya, dan dukungan dari berbagai pihak, Nasida Ria mendapat undangan untuk pentas di Kerajaan Malaysia pada tahun 1988, dalam rangka memperingati 1 Muharam.

Dibulan Maret tahun 1994 atas undangan Haus de Kulturen der Welt (Lembagai Kebudayaan Jerman) dalam event yang bertajuk Die Garten des Islam (Pameran Islam Dunia), Nasida Ria menjadi perwakilan Indonesia dalam event tersebut.

Selang 2 tahun, Juli 1996 Nasida Ria kembali berangkat ke Jerman dalam rangka Festival Heimatklange ’96 “Sinbad Travel”, mereka juga melakukan tur di beberapa kota, mulai dari Reclinghausen, Mulheim, sampai Dusseldorf. ”Kita seneng banget waktu itu,” kenang Rien. Menurut beliau, orang Jerman itu tidak peduli mereka dari mana, asal usul mereka, ada musik seperti ini mereka joget. Waktu itu selain lagu Nasida Ria, mereka menyelipkan pula lagu “Kopi Dangdut” dalam setlist nya. “Wah lagu itu diulang-ulang, orang senengnya bukan main itu,” tambahnya.

Hingga kini Nasida Ria, masih tetap eksis sebagai grup musik qosidah modern. Walau sempat mengalami fase kesunyian, di medio 2000an. RRReC Festival dapat disebut sebagai salah satu faktor ramainya kembali Nasida Ria diperbincangkan, bahkan melebarkan pasar pendengar mereka hingga sampai ke telinga generasi muda, ABG sampai para hipster indie.

Setelah menjadi salah satu headliner dalam event RRReC Fest pada tahun 2016, mendapat kesan istimewa tersendiri oleh Nasida Ria. “Banyak orang yang dulunya tidak kenal jadi kenal, yang dulunya tidak suka jadi suka,” Rien berkata.

Begitupun dengan fenomena ditahun 2017 akhir, dimana banyak meme yang diambil dari video lagu Nasidaria di kanal Youtube, sampai lagu “Wanita Kampret” (Lagu aslinya berjudul “Wajah Ayu Untuk Siapa”).

Rien berujar wanita boleh berdandan berhias dengan sepantasnya, namun juga perlu untuk menjaga diri. Kemudian, dia menambahkan “Ya kecantikan wanita itu kan untuk suami, jadi jangan sampai hanya dimanfaatkan oleh para lelaki yang hanya mengambil keuntungan demi penuhi hasrat” (dianalogikan seperti kampret yang habis memakan sedikit mangga dipohon, lalu ditinggalkan ternoda).

Terlepas dari itu, personil Nasida Ria tidak terlalu ambil pusing begitupun dengan Rien Jamain sebagai salah satu personil dari generasi awal Nasida Ria terbentuk, pun ia banyak berterimakasih kepada remaja-remaja sekarang ini yang mau mendengarkan lagu qosidah. “Sekarang Alhamdulillah,” ucap Rien.

Hingga sekarang Nasida Ria masih tetap ada, berkarya, dan tetap eksis ditengah masyarakat Indonesia. Terlalu besar namanya untuk sebuah grup musik terlebih qosidah modern yang sudah berkarya selama 43 tahun lamanya. Ada baiknya selalu perhatikan pepatah yang berbunyi “makin tinggi pohon maka akan semakin kencang angin yang menerpa”. Bisa berlaku juga di Nasida Ria, namun yang perlu diingat adalah salah satu pesan yang diberikan oleh seorang panutan mereka, diantaranya Rhoma Irama. Ia berkata : tetap jaga kerukunan dan kekompakan, dan bila ada masalah selalu selesaikan dengan bermusyawarah. ”Semoga semua dimudahkan oleh Allah SWT, Insha Allah,” tutup Rien dengan penuh harap.

 

 

Reportase        : Musa Hakam, Dipto, Fakhri, dan Dirham

Penulis             : Dirham Rizaldi

Editor              : Musa Hakam

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

RILIS LAGU “GADIS PEMBENCI HUJAN”, WEEKENDERS AGOGO KIAN BERIKAN KEJUTAN

Photo by Doc. Weekenders Agogo

Ode Patah Hati bagi para pengagum dan pemuja wanita.

Longlifemagz – Memasuki awal 2018, Weekenders Agogo merilis single dan klip video berjudul “Gadis Pembenci Hujan”. Lagu ini merupakan amunisi keempat yang dilontarkan oleh grup asal Semarang sejak terbentuk pada pertengahan 2016 lalu.

Hingga kini grup yang mengaku memainkan bunyi-bunyian ala nu school jamaican tersebut telah merilis single sekaligus klip video yang masing-masing berjudul “Aku, Kau, & Pagi”, “Senyumkan Dunia”, “Stasiun Kota” (bonus track), dan yang terakhir “Gadis Pembenci Hujan”.

Weekenders Agogo yang diperkuat Adit (vokal), Ijan dan Farras (rap), Kun (gitar), Lutfan (bas), Benjis (kibor), Jomes (trumpet), Refi (saxofon), Cipo (trombon), dan Bayu (dram) pun memiliki konsep tersendiri sebelum benar-benar merilis album penuh atau album mini. Padahal, sebenarnya empat lagu saja sudah cukup bagi Weekenders Agogo jika ingin merilis album (mini) perdana. Namun, tentu mereka punya alasan lain di balik pemberlakuan konsep tersebut.

“Kami punya konsep, setiap tiga bulan sekali merilis single sekaligus klip videonya. Nah, karena salah perhitungan, ‘Stasiun Kota’ kami jadikan bonus saja, agar ‘Gadis Pembenci Hujan’ ini bisa dirilis pada awal tahun,” ujar Adit.

Menurut mereka, “Gadis Pembenci Hujan” adalah ode patah hati seperti halnya lagu-lagu cinta yang ringan dan mudah ditebak alurnya. Melalui lagu ini, Weekenders Agogo bercerita tentang seorang gadis yang mengalami trauma berlatar belakang cinta. “Lalu ya begitulah, setiap ada laki-laki dengan gestur yang tampak ingin mendekati atau semacamnya, gadis itu justru menutup diri,” tambah Bayu.

Namun, tak ingin melulu menyuguhkan hal-hal cengeng di dalam “Gadis Pembenci Hujan”, Weekenders Agogo pun menyelipkan pesan ke dalam bridge lagu. Bagi mereka—tentunya semua orang—cinta merupakan hal yang patut dirasakan oleh segenap makhluk hidup. “Kenapa sih, kita—misalkan mengalami trauma sejenis—nggak bisa berdamai dengan masa lalu? Ya, meskipun sulit keluar dari trauma, bukankah cinta merupakan anugerah? Kita pun berhak mendapatkannya,” kata Adit.

 

 

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

Event Review : Muka Baru, Tampilan Baru Reinkarnation Di Tahun 2017

PSX_20170924_104603_2

Photo by Luqman Afif dan Dega Bintang

Tidak hanya sekedar Konser Musik, mulai dari spot wahana, Haunted House, sampai pameran motor dengan berbagai modifikasi, menjadikan Reinkarnation 2017 semakin seru.

 

Longlifemagz – Acara tahunan yang selalu disajikan oleh para murid SMAN 1 Semarang dari tahun ketahun, Reinkarnation selalu menarik perhatian masyarakat terkhusus anak muda di Kota Semarang. Diselenggarakan hari Sabtu 23 September 2017 di Lapangan Sepakbola SMA Negeri 1 Semarang, mengusung tema baru, “Retrovolution”, menjadikan Reinkarnation terkesan akan hal-hal baru yang disuguhkan.

Ditahun ini, pengunjung kembali dimanjakan dengan berbagai sentuhan-sentuhan manis Reinkarnation, dari berbagai aspek, mulai dari spot wahana, sampai pengisi acara. Sebelum menuju ke venue utama, flow pengunjung diarahkan menuju spot pameran motor. Berbagai modifikasi terlihat disana, memanjakan mata para pengunjung ketika memasuki aula besar dari SMAN 1 Semarang.

Diluar aula, pengunjung sudah disambut dengan Food and Bavarage Area. Dihiasi berbagai macam stand maupun booth para penjual makanan dan minuman, tentunya dengan harga yang terjangkau. Selain itu bagi para anak muda yang senang untuk berfoto ria dan suka selfie, terdapat pula spot photobooth yang telah terfasilitasi.

Beberapa penampilan dari siswa dan siswi SMAN 1 Semarang, mulai dari Smansa Band, Smansa Modern Dance, Smansa Cheerleader sampai Chorale Smansa sudah menunjuk kebolehan kepada para pengunjung sedari acara dimulai.

Ketika malam menjelang, terlihat kondisi semakin ramai. Semakin banyaknya pengunjung yang datang. Terbukti dengan penuh sesaknya para pengunjung dari pintu masuk, yang semakin padat. Namun hal itu tak menyurutkan semangat para pengunjung untuk dapat melihata Reinkarnation ditahun ini.

Venue Reinkarnation terlihat semakin penuh dan sesak, kala Olly Oxen naik panggung. Dengan lagu pembuka, Self Preaching (When Nobody Else Thinking the Way Up) dan ditutup dengan, Mr. Dunnowattudu. Membuat gemuruh seisi Lapangan Sepakbola SMAN 1 Semarang semakin terdengar.

EDIT-123

Riuh gemuruh pengunjung semakin menjadi-jadi, kala penyanyi ibukota yang sedang naik daun dengan karya lagu easy listenin-nya on stage, JAZ. Membawakan beberapa lagu yang telah di cover ditambah tembang andalannya Kasmaran dan Dari Mata, membuat seluruh pengunjung Reinkarnation ikut beryanyi dan berjoget ria.

Hingga tiba waktunya para punggawa dari band Kelompok Penerbang Roket bergantian panggung dengan Jaz merubah suasana crowd dari mellow menjadi panas. Lagu andalan, mulai dari Mati Muda, sampai Anjing Jalanan tak lupa mereka bawakan. Dengan penuh hentakan akan nada-nada tinggi disetiap lagunya, buahkan moshing para penggemar tak terhindarkan.

PSX_20170924_104000

EDIT-128(1)Pada malam itu Reinkarnation 2017 ditutup dengan penampilan dari RAN. Membawakan song-list yang mampu menghipnotis para pengunjung yang datang, kian lama sing along pengunjung pun makin terdengar tak terbantahkan.

Disela-sela performance dari RAN, tidak diduga mereka mengajak satu penonton untuk naik keatas panggung dan bernyanyi bersama mereka. Sampai tiba di closing performance, RAN meminta untuk seluruh pengunjung menyalakan flashlight dan bernyanyi bersama kembali, menutup Reinkarnation di Tahun 2017 dengan manis, penuh akan tampilan yang berbeda.

PSX_20170924_105254

 

 

 

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

FIND US ON

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.

 

Pin It on Pinterest