1



Photo by doc. Kompasiana

Biarkan generasi tua menghabiskan jatah waktunya. Setelah itu, kami generasi muda menggantikan dengan kejayaan baru untuk Indonesia. Korupsi bukan budaya!


 

Longlifemagz – Korupsi bukan suatu perkara baru dimasyarakat, hingga muncul idiom korupsi adalah budaya. Begitu ungkapan genit yang sering terpampang, baik dimedia surat kabar maupun elektronik, sehingga persoalan korupsi seolah-olah menjelma sebagai budaya di Indonesia.

Korupsi sudah menjadi bagian dari “budaya” bangsa. Inilah yang perlu kita perhatikan secara seksama. Bagaimana suatu tindakan melahirkan budaya sebagai kebiasaan yang melekat dan dilaksanakan secara turun temurun. Dan korupsi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perkembangan masyarakat.

Perang melawan korupsi seolah-olah telah menjadi pertempuran semua orang. Terlebih lagi di Indonesia, yang merupakan bagian dari negara-negara dunia ketiga. Kampanye-kampanye anti-korupsi memang menempatkan laku menyimpang yang satu ini sebagai persoalan bersama, baik bagi kelas borjuis, kelas menengah maupun kelas buruh (John Maya, 2011).

Mari kita perhatikan bagaimana korupsi itu berjalan dan di mana posisinya. Watak rakus dari individu-individu telah berkembang luas, tidak hanya kepada mereka yang telah memiliki kesempatan untuk melakukan korupsi, tapi juga kepada calon-calon pemimpin yang terjadi di tataran elit, oleh Robert Klitgaardkorupsi dirumuskanC= D + M – A.

Terungkapnya berbagai kasus korupsi menjadikan isu ini sebagai headline di media baik lokal maupun Nasional setelah keberhasilan KPK menangkap 5 kepala daerah sepanjang bulan September, Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti, Bupati Pamekasan Achmad Syafii, Wali Kota Tegal Siti Masitha, Bupati Batubara OK Arya Zulkarnaen danWali Kota Batu Eddy Rumpoko.

Hal ini telah jelas menggambarkan bahwa korupsi hanya terjadi di lingkup elitis, artinya korupsi tidak berada di lingkungan masyarakat tetapi pada kepentingan pribadi (elit). Korupsi bukan budaya, karena kebudayaan merupakan keseluruhan sistem gagasan tindakan dan hasil karya manusia dalam kehidupan masyarakat, seperti yang diungkap Koentjaraningrat (2009:144).

Baca : Nasionalisme Negara Dunia Ketiga

Data riset TII, Indonesia berada di peringkat 90. Mencerminkan bahwa korupsi merupakan “penyakit” yang saat ini mewabah di negara-negara berkembang. Korupsi tidak tumbuh-kembang di negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika. Karena di negara-negara maju tersebut sudah terbentuk mekanisme kontrol yang kuat melalui modal sosial (socialcapital).

Persoalan korupsi seringkali menumpukan pandangannya pada subjektivitas pelaku, menitik beratkan pada persoalan cultural. Nampaknya pendapat dan tarikan solusinya berpijak pada diskursus pembangunan masyarakat (communitydevelopment) dan mengaburkan situasi sosio-kultur Indonesia. Pertama masyarakat Indonesia belum lepas dari watak feodal. Kedua pada rezim orde baru berlakunya kebijakan floatingmass, dan ketiga Indonesia adalah negara semi-kapitalisme.

Kasus korupsi yang setiap saat bisa dilakukan siapa saja seringkali membuat hati dan perasaan ini kecewa karena apa yang janjikan pada saat masa kampanye hanya menjadi janji manis belaka. Sebagai pengambil kebijakan tidak becus, bekerja bersikap oportunis.

Banyak yang bilang korupsi soal moral. Atau pula agama yang dijadikan nilai dasar untuk menghapus sifat-sifat korupsi. Ternyata itu tidak mengubah situasi. Sejumlah fakta ini membuktikan bahwa tidak ada keterkaitan erat antara keberagamaan seseorang dengan tindakan korupsi. Artinya persoalan korupsi bukan persoalan keimanan.

Berdasarkan data Kompasiana.com, agama yang menjadi benteng terakhir ternyata juga tak ampuh. Para tokoh agama terjebak dalam pusaran korupsi seperti kasus Menteri Agama Suryadharma Ali sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi terkait penyelenggaraan haji, Luthfi Hasan Ishaaq anggota DPR yang juga Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai tersangka kasus suap impor daging kepada Kementerian Pertanian. Fahd A Rafiq menjadi terdakwa ketiga dalam kasus pengadaan Al-Quran di Kementerian Agama pada APBNP 2011 dan APBN 2012.

Baca : Rocker dan Rockabilly: Sejarah Musik Rockabilly dan 8 Lagu Rockabilly yang Bersejarah

Rasa keadilan jauh dari pandangan hidup mereka. Yang penting menimbun kekayaan sebanyak-banyaknya dengan “menghalalkan segala cara”. Berapa banyak orang tua yang dulu tak berbuat apa-apa mengusir penjajah, sekarang menjadi orang berpangkat. Hidup kaya raya dan masih saja saling berebutan kekayaan dengan cara yang tak benar, dengan jalan yang tidak bermoral, tanpa rasa malu dan rasa bersalah. Melalui korupsi, penipuan dan berbagai penyelewengan terhadap hukum dilakukan.Dari waktu ke waktu kesenjangan sosial dan ekonomi semakin kentara, ketika itulah individualisme tumbuh (Pramoedya,2013:51).

Korupsi ialah tindakan yang mengambil hak orang lain melalui kekuatan politik. Korupsi tidak bisa dilakukan oleh individu-individu atau kelompok-kelompok yang tidak memiliki kekuatan politik. Korupsi lahir dari sebuah sistem ekonomi-politik yang kapitalistik, bukan lahir dari proses kultural (budaya).

Logika korupsi adalah logika dari sebuah ‘kelas’ yang berorientasi pada akumulasi, eksploitasi dan ekspansi. Korupsi secara materialis berorientasi pada hitung-hitungan besar kecil modal kampanye, arena politik jadi lahan memperkaya diri sendiri/ sanak saudara, mencari lahan baru mulai dari pengadaan, penyusunan hingga pelaksanaan kebijakan.

Ketiga watak dasar kapitalisme tersebut akan membentuk watak-watak turunan yang juga berkarakter kriminal: Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. Pendekatan kultural tidak akan pernah mampu menyelesaikan persoalan korupsi, kolusi dan nepotisme. Karena kultur sendiri adalah seperangkat ide yang dibentuk, bukan aktivitas individu dalam kehidupan masyarakat.

Keyword :



FIND US ON

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.

 

Pin It on Pinterest

Share This