1



Kasino, Dono, dan Indro berpose di belakang jeep (doc. Warkop DKI)

Berkumpul, Menonton Tayangan Film Jadul Spesial, dan Beberapa Moment Kebersamaan di Hari Raya.

 

 Longlifemagz – Hari Raya Lebaran pasti selalu dinanti bagi setiap pemeluk agama Islam. Lebaran sendiri memiliki banyak interpretasi. Namun bagi saya Lebaran itu moment dimana dapat berkumpul bersama keluarga dan sanak saudara, menikmati hari dengan penuh kebersamaan dan suka cita.

Duduk bersama di ruang keluarga pasti jadi agenda wajib di Hari Raya Lebaran. Menyantap sayur ketupat dan opor ayam dengan kuah santan nikmat, sembari bersahut-sahut obrolan dengan orang di sekitar adalah ritual didalamnya.

Terlebih ditambah tayangan televisi yang menyajikan film jadul sinema spesial lebaran, bagai vitamin untuk melengkapi kebutuhan hidup. Bagi seorang anak yang dibesarkan di kurun waktu 2000-an awal, tampaknya lazim bila menunggu-nunggu film yang di tayangkan di televisi saat hari raya.

Televisi yang menjadi salah satu sumber hiburan mampu memanjakan hidup, menghibur hati minimal berhasil memberi bumbu pemanis di sela waktu (karena memang  diera ini, internet dan youtube belum se booming sekarang).

Tidak jarang kesempatan itu di maksimalkan televisi dengan memutar film jadul secara masif. Bagaimana tidak, dalam kurun waktu seminggu selama hari raya biasanya televisi nasional menampilkan film-film terbaik Indonesia jaman dulu, yang sudah pasti jadi langganan untuk di siarkan.

Entah apa penyebabnya film-film jaman dulu selalu jadi daftar tayang saat lebaran. Padahal dari sinematografi, editing, efek, maupun suara yang di hasilkan outputnya beberapa kurang maksimal dan tampak kurang modern bila di nilai sekarang. Begitupun perbincangan antar aktornya terlalu kaku, atau kadang bila bergenre komedi lawakannya slapstick. Yang saat ini sering di singgung oleh komika (stand up comedy) sebagai lawakan kurang cerdas. Namun peduli apa, toh tujuan film terlebih komedi untuk menghibur. Dan memang mereka terlampau berhasil untuk itu.

Yang saya yakini setiap film selalu mempunyai tempat tersendiri di hati para penikmatnya, begitupun dengan film jadul, tidak di pungkiri segala umur dapat menikmatinya. Siapa yang tidak suka kelucuan dalam film Warkop (Dono, Kasino, Indo, dkk), kelakukan Biang Kerok Benyamin Sueb, sampai ulah Kadir dan Doyok yang kadang terjeremban sial dalam narasi filmnya. Ataupula kisah epic Rhoma Irama dengan gitar tuanya.

Saya masih ingat di beberapa tahun belakangan, disaat saya tertawa terbahak-bahak bersama ayah saat melihat ulah Dono, Indro, dan Kasino menaiki becak dan tercebur empang (danau) dalam film Bagi-Bagi Dong. Kemudian saat melihat ulah Benyamin Sueb yang memerankan tokoh Samson dalam film Samson Betawi yang kuat namun kalap bila bulu ketiaknya di cabut, atau saat malam hari sepulang dari rumah nenek, sesampainya di rumah dengan sigap melahap cerita menarik Rhoma Irama dengan gitar yang di patahkan oleh Ibunya. Semua masih membekas, dan menjadi teringat.

Dulu, saking asyiknya menonton, saya pernah menghiraukan ajakan teman-teman semasa kecil untuk berkeliling sekitar. Setelah selesai langsung bermain bedug di mushola samping rumah. Padahal bila di ingat mungkin jika mengikuti ajakan mereka, pulang berkeliling saya sudah bisa membawa pulang uang dua puluh lima ribu dan langsung bisa dibelikan tamiya dengan batrai alkalin.

Karena memang tradisinya, di lingkungan rumah bila anak anak ikut salim atau datang berkunjung ke rumah warga saat lebaran pasti di beri persenan (duit) oleh orang yang lebih tua ataupun sang pemilik rumah. Apalagi lingkungan sekitar rumah, mayoritas masih keluarga bapak dan ibu, jadi rasa empati untuk memberi pastilah lebih besar. Namun tetap iman saya kokoh duduk menghadap televisi, menonton film-film terbaik itu yang cukup sulit di akses.

Kadang sampai berjam-jam, kadang dapat lebih dari 2 film bisa saya lahap dalam satu hari. Entah mengapa. Terlebih filmnya Warkop DKI atau Benyamin Sueb, sulit rasanya untuk absen. Nomor-nomor mereka yang saya suka dan biasa di putar diantaranya, Setan Kredit (Warkop), Bagi-Bagi Dong (Warkop), Maju Kena Mundur Kena (Warkop), Mana Tahan (Warkop), Tukang Ngibul (Benyamin), sampai Sama Gilanya (Benyamin).

Hingga tidak terasa sudah sekitar 15 tahun berselang sejak saya mulai kesaayikan melakukan hal itu di ruang keluarga. Walau banyak perubahan yang teradi terlebih sejak internet dan media online streaming bermunculan, namun adakalanya saya masih lebih suka mengingat. Hanya duduk bersama keluarga, ditemani kudapan lebaran, dengan mulut menguyah nastar. Sambil menatap layar televisi, sembari memindah-mindahkan chanel yang bisa membawa kami bernostalgia lagi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selain project serabutan, mencoba peruntungan pula sebagai penulis lepas, buruh event, dan usaha kecil clothing.

Keyword :



FIND US ON

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.

 

Pin It on Pinterest

Share This