180 menit Bersama Efek Rumah Kaca di Comfest 2018

Efek Rumah Kaca on stage Comfest 2018

Mulai dari album Sinestesia, Kamar Gelap, sampai Efek Rumah Kaca mereka suguhkan ke penonton.


LonglifemagzBaru pukul 18.00 Wib ribuan penonton sudah memadati Hall Student UIN Syarif Hidayahtullah, Jakarta (13/7) pekan lalu. Banyak diantaranya tersebar di spot-spot sekitaran Hall, terdapat pula yang sedang duduk di pelataran samping hall, tempat foodtruck berjajar. Selebihnya mereka semua sama terlihat menyibukan diri dengan segala rutinitas. Sembari menunggu konser tunggal Efek Rumah Kaca di Comfest 2018, sebuah hajatan Hima Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Syarif Hidayahtullah, Jakarta.

Konser tunggal Efek Rumah Kaca kali ini sekaligus menyambut kedatangan Cholil dan Irma (voc dan Backing Vocal) kembali ke Indonesia. “Acara Comfest untuk tahun ini memang bertepatan dengan #Turkemarau2018 nya Efek Rumah Kaca, dan ternyata antusias penontonnya sangat baik.”, ujar Hilman salah seorang panitia yang sesekali bercerita tentang acaranya.

BACA : RIEN JAMAIN, BERBICARA TENTANG PANGGUNG PERTAMA, PERJALANAN BERMUSIKNYA, PERAN PEREMPUAN, SAMPAI KESAN HUMORIS YANG MELEKAT

Hilman mengungkapkan, “Nantinya dalam konser tersebut mereka akan memainkan set panjang”, seraya tersenyum dan tak lupa sesekali ia menghisap rokok yang ada ditangannya.

Terdengar acara sudah di mulai, suara sayup-sayup dari dalam hall kian keras memanggil penonton untuk masuk kedalam. Mengetahui itu penonton kian bergegas memasuki hall. Namun sayang harus sedikit menunggu, antrian ternyata sudah terlanjur panjang.

Untuk mensiasati alur flow pengunjung, terdapat spot merchandise official Efek Rumah Kaca dan Photo booth disamping gate. Sesekali penonton melihat, membeli merchandise yang disediakan, dan  berswafoto di depan mural karakter The Popo yang sedang sinis dengan tagline “Konser Terus Sampai Mampus”.

Doc : Longlife

Sekitar pukul delapan MC sudah mengajak penonton bersorak menyebut nama Efek Rumah Kaca, selayaknya ritual yang banyak dilakukan memanggil rockstar untuk on stage. Dan benar, Akbar, Poppie, Cholil (dan personil Efek Rumah Kaca yang lain) sudah tampak diatas panggung lengkap dengan sambutan gegap gempita dari penonton.

Tanpa basa-basi, segmen Merah yang terdiri dari lagu “Ilmu Politik”, “Lara dimana-mana”, dan “Ada-ada saja” mereka luncurkan secara berurutan. Selesainya Cholil menyapa penonton dan menjelaskan perihal maksud dari segmen merah, ia berujar ”Disituasi (politik yang klinis) kaya gini, kita tuh malah ga terpanggil, kaya tragis banget gitu, kalo kita ga kritis dan ngelawan itu”.

Segmen Biru, Jingga, dan Hijau mereka mainkan setelahnya, sama halnya dengan segmen Merah, mereka kembali menjelaskan maksud dari kumpulan lagu tersebut. Masuk ke segmen Putih, tempo lebih menurun. Lagu yang sarat akan kematian dan kehidupan, mereka lagukan dengan makna lagu yang merasuk.

Doc : Longlife

Diperbantui dengan permainan lighthing yang tematik sesuai segmen lagu, memberikan penghayatan yang lebih. Sing along dengan penuh hayat tak terluapkan, diantara penonton bahkan memejamkan mati dan menggerakan badannya mengikuti alunan nada. Hingga berlanjut segmen kuning dilantunkan, buah tanda ditutupnya set bagian pertama, album sinestesia.

Rehat 15 menit, pertunjukan kembali dilanjutkan. ”Tubuhmu Membiru… Tragis” , ”Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa”, dan “Kamar Gelap”, didapuk sebagai set pembuka, suguhkan album Kamar Gelap.

Selangnya “Bukan Lawan Jenis”, “Menjadi Indonesia”, dan “Laki-laki Pemalu” dimainkan secara bergilir, yang disambut dengan dansa-dansi kecil oleh penonton. Masuk lagu “Di Udara”, artmosphere meluap tak terbendung. Crowd surfing terjadi beberakali, tepat di depan panggung seorang penonton juga memakai topeng Munir (aktivis yang dibunuh dengan racun didalam pesawat) menaiki punggung yang lain, seraya mengepalkan tangan dan bernyanyi “tapi aku tak pernah mati, tak akan terhenti.”.

“Jalang” , “Seperti Rahim Ibu”, dan “Merdeka”  yang dimainkan selanjutnya. Tidak henti-hentinya membuat penonton mengepalkan tangan, sekaligus sing along meramaikan part vocal. “Balerina” dan “Cinta Melulu” diperdengarkan kemudian, membuat penonton kembali menari dan menggila. Sesekali Irma dan Natasha Abigail jadi kordinator tarian bak acara pagi, penonton di sisi kiri stage mangikuti gerakannya dengan selaras.

BACA : ROCKET ROCKERS, BERCERITA TENTANG ALBUM BARUNYA

Tidak terasa waktu hampir menunjukan pukul 23.00 Wib, menandakan acara akan berakhir. Dipilih “Desember” dan “Sebelah Mata” sebagai lagu penutup. Penonton tidak menyia-nyiakan moment terkahir itu. Hall bergema dengan suara penonton yang bernyanyi dengan kekuatan terakhir, walau sudah tiga jam bernyanyi, mereka memilih untuk tidak perduli.

Memang penonton malam itu, merupakan salah satu penonton yang paling atraktif yang pernah saya temui selama konser Efek Rumah Kaca berlangsung. Mereka bernyanyi, menari, moshing sampai surfing saat acara berlangsung, sesekali juga terjadi interaksi dialog antara penonton menimpali obrolan Cholil diatas stage.

Hingga berakhirnya lagu “Sebelah Mata”, penonton masih tetap stay didepan stage, seraya berujar we want more tanda meminta lagu tambahan. Hingga selesainya lagu terakhir, permintaan itu tidak terwujud dan masih saja tengiang. Semoga tahun berikutnya atau dilain kesempatan dapat dikabulkan. Terimakasih Efek Rumah Kaca untuk 180 menit quality time-nya.

Doc : Longlife

 

 

 

Tayangan Film Jadul di Hari Raya Lebaran Memang Berkesan

Kasino, Dono, dan Indro berpose di belakang jeep (doc. Warkop DKI)

Berkumpul, Menonton Tayangan Film Jadul Spesial, dan Beberapa Moment Kebersamaan di Hari Raya.

 

 Longlifemagz – Hari Raya Lebaran pasti selalu dinanti bagi setiap pemeluk agama Islam. Lebaran sendiri memiliki banyak interpretasi. Namun bagi saya Lebaran itu moment dimana dapat berkumpul bersama keluarga dan sanak saudara, menikmati hari dengan penuh kebersamaan dan suka cita.

Duduk bersama di ruang keluarga pasti jadi agenda wajib di Hari Raya Lebaran. Menyantap sayur ketupat dan opor ayam dengan kuah santan nikmat, sembari bersahut-sahut obrolan dengan orang di sekitar adalah ritual didalamnya.

Terlebih ditambah tayangan televisi yang menyajikan film jadul sinema spesial lebaran, bagai vitamin untuk melengkapi kebutuhan hidup. Bagi seorang anak yang dibesarkan di kurun waktu 2000-an awal, tampaknya lazim bila menunggu-nunggu film yang di tayangkan di televisi saat hari raya.

Televisi yang menjadi salah satu sumber hiburan mampu memanjakan hidup, menghibur hati minimal berhasil memberi bumbu pemanis di sela waktu (karena memang  diera ini, internet dan youtube belum se booming sekarang).

Tidak jarang kesempatan itu di maksimalkan televisi dengan memutar film jadul secara masif. Bagaimana tidak, dalam kurun waktu seminggu selama hari raya biasanya televisi nasional menampilkan film-film terbaik Indonesia jaman dulu, yang sudah pasti jadi langganan untuk di siarkan.

Entah apa penyebabnya film-film jaman dulu selalu jadi daftar tayang saat lebaran. Padahal dari sinematografi, editing, efek, maupun suara yang di hasilkan outputnya beberapa kurang maksimal dan tampak kurang modern bila di nilai sekarang. Begitupun perbincangan antar aktornya terlalu kaku, atau kadang bila bergenre komedi lawakannya slapstick. Yang saat ini sering di singgung oleh komika (stand up comedy) sebagai lawakan kurang cerdas. Namun peduli apa, toh tujuan film terlebih komedi untuk menghibur. Dan memang mereka terlampau berhasil untuk itu.

Yang saya yakini setiap film selalu mempunyai tempat tersendiri di hati para penikmatnya, begitupun dengan film jadul, tidak di pungkiri segala umur dapat menikmatinya. Siapa yang tidak suka kelucuan dalam film Warkop (Dono, Kasino, Indo, dkk), kelakukan Biang Kerok Benyamin Sueb, sampai ulah Kadir dan Doyok yang kadang terjeremban sial dalam narasi filmnya. Ataupula kisah epic Rhoma Irama dengan gitar tuanya.

Saya masih ingat di beberapa tahun belakangan, disaat saya tertawa terbahak-bahak bersama ayah saat melihat ulah Dono, Indro, dan Kasino menaiki becak dan tercebur empang (danau) dalam film Bagi-Bagi Dong. Kemudian saat melihat ulah Benyamin Sueb yang memerankan tokoh Samson dalam film Samson Betawi yang kuat namun kalap bila bulu ketiaknya di cabut, atau saat malam hari sepulang dari rumah nenek, sesampainya di rumah dengan sigap melahap cerita menarik Rhoma Irama dengan gitar yang di patahkan oleh Ibunya. Semua masih membekas, dan menjadi teringat.

Dulu, saking asyiknya menonton, saya pernah menghiraukan ajakan teman-teman semasa kecil untuk berkeliling sekitar. Setelah selesai langsung bermain bedug di mushola samping rumah. Padahal bila di ingat mungkin jika mengikuti ajakan mereka, pulang berkeliling saya sudah bisa membawa pulang uang dua puluh lima ribu dan langsung bisa dibelikan tamiya dengan batrai alkalin.

Karena memang tradisinya, di lingkungan rumah bila anak anak ikut salim atau datang berkunjung ke rumah warga saat lebaran pasti di beri persenan (duit) oleh orang yang lebih tua ataupun sang pemilik rumah. Apalagi lingkungan sekitar rumah, mayoritas masih keluarga bapak dan ibu, jadi rasa empati untuk memberi pastilah lebih besar. Namun tetap iman saya kokoh duduk menghadap televisi, menonton film-film terbaik itu yang cukup sulit di akses.

Kadang sampai berjam-jam, kadang dapat lebih dari 2 film bisa saya lahap dalam satu hari. Entah mengapa. Terlebih filmnya Warkop DKI atau Benyamin Sueb, sulit rasanya untuk absen. Nomor-nomor mereka yang saya suka dan biasa di putar diantaranya, Setan Kredit (Warkop), Bagi-Bagi Dong (Warkop), Maju Kena Mundur Kena (Warkop), Mana Tahan (Warkop), Tukang Ngibul (Benyamin), sampai Sama Gilanya (Benyamin).

Hingga tidak terasa sudah sekitar 15 tahun berselang sejak saya mulai kesaayikan melakukan hal itu di ruang keluarga. Walau banyak perubahan yang teradi terlebih sejak internet dan media online streaming bermunculan, namun adakalanya saya masih lebih suka mengingat. Hanya duduk bersama keluarga, ditemani kudapan lebaran, dengan mulut menguyah nastar. Sambil menatap layar televisi, sembari memindah-mindahkan chanel yang bisa membawa kami bernostalgia lagi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

20 Tahun Reformasi: Beberapa Karya Yang Dibelenggu

 

Photo doc. Kompas

Era pra-Reformasi dan rezim Orde Baru menjadi jalan gelap untuk beberapa musisi.

 

Longlifemagz – Tepat tanggal 21 Mei 1998, Soeharto akhirnya turun dari jabatannya sebagai Presiden. Buah dari tuntutan dan unjuk rasa berbagai lapisan masyarakat Indonesia yang dilakukan secara masif ini berhasil menumbangkan kekuasaan “The Smiling General” yang sudah terlalu nyaman berkuasa selama 32 tahun.

Enam tuntutan sekaligus dilayangkan mengecam kesewenang-wenangan beliau selama berkuasa, mulai dari penegakan supremasi hukum, pemberantasan KKN, mengadili Soeharto dan kroninya, pencabutan Dwifungsi TNI/ Polri, pemberian otonomi daerah seluas-luasnya, sampai amandemen konstitusi yang di dalamnya terdapat hak dalam mengemukakan pendapat.

Soeharto sebagai presiden terkesan menganggap negara sebagai rumah, dimana terdapat bapak, ibu, maupun anak. Dan peran bapaklah yang diambil oleh Soeharto, tentunya sebagai bapak yang otoriter dan terkesan bertindak represif, demi tercapainya sistem tata negara sesuai visi misinya. Oleh karenanya, tidak jarang ekspresi, aspirasi, bahkan kritik masyarakat yang dianggap bertolak belakang dengan dalih cita-cita pembangunan yang telah ia rancang, akan tidak didengarkan, ditolak, atau bahkan dibalas dengan tindakan yang tak jarang melibatkan fisik didalamnya.

Tak ada pihak yang mampu bersembunyi darinya dibawah matahari. Begitupun para musisi sebagai segelintir bagian dari masyarakat bila melakukan tindakan yang bertolak belakang sesuai wacana yang telah dibangun oleh pemerintah akan pula menerima akibatnya, minimal merasa diawasi aktivitasnya oleh aparat yang berwenang.

Dalam memperingati 20 tahun reformasi Indonesia, Longlifemagz akan memberikan beberapa contoh karya para musisi yang dicekal akibat terlalu vokal dalam mengkritik rezim Orde Baru.

 

Iwan Fals yang Diinterogasi

Iwan Fals adalah salah satu musisi yang konsisten menyuarakan masalah-masalah sosial yang terjadi dan mendokumentasikannya dalam lirik-lirik lagunya. Sederet lagu, baik dari album solo maupun bersama grup Kantata Takwa dan Swami bernuansa protes sosial disajikannya lewat beberapa karya, diantaranya “Bongkar”, “Bento”, “Kesaksian”, “Ambulance Zig-Zag”, “Sugali” dan “Wakil Rakyat”.

Tidak hanya moral maupun kesewenangan pemerintah Soeharto yang diprotes Iwan, Kebobrokan dan masalah di sektor transportasi juga dijadikan bahan celotehannya. Misalnya, tentang musibah kapal Tampomas II di perairan Masalembo karena mendayagunakan kapal bekas pada lagu “Celoteh Camar Tolol dan Cemar”, ada juga tentang musibah kereta api Bintaro yang akhirnya dijadikan judul album yang dirilis setahun setelah tragedi tersebut, yakni 1910

Aktivitas bermusik yang dilakukan oleh Iwan pun akhirnya dimonitor ketat oleh pemerintah, sampai puncaknya adalah pencekalan dan larangan mengadakan tur di berbagai kota. Selain itu, Iwan Fals juga pernah berurusan dengan pihak berwajib, ia pernah diinterogasi selama 14 hari saat konser di Pekanbaru, dengan tuduhan menghina negara dan ibu negara akibat lagu “Demokrasi Nasi” dan “Mbak Tini” yang dibuatnya.

 

Rhoma Irama dan Pencekalan

Dibalik tema lagu cinta, moral, dan dakwah agama, dangdut melalui sang raja dangdut Rhoma Irama membahas pula tentang kritik dan masalah sosial, itu yang membuat pihak pemerintah gerah. Terlebih pada waktu itu Rhoma Irama adalah idola masyarakat umum, dengan musik yang sepopuler itu mampu menggerakkan massa ratusan ribu orang.

Baca : Raja Dangdut, Polemik Dakwah, Musik, dan Goyang

Banyak lagu Rhoma yang vokal menyuarakan masalah sosial dan tak jarang diantaranya menyentil pihak penguasa. Seperti misalnya “Hak Asasi” yang berbicara tentang adanya hak-hak asasi setiap manusia. Selain itu “Rupiah”, lagu yang berbicara tentang pendewaan orang-orang akan uang dan menggunakan berbagai cara untuk mendapatkannya.

Lagu “Rupiah” dicekal oleh pemerintah karena  menurut mereka liriknya mengandung hinaan terhadap mata uang nasional. Seperti yang dikutip dalam Lifestyle Ecstasy : Kebudayaan Pop Dalam Masyarakat Komoditas Indonesia. Lagu ini dilarang di televisi, dan menurut sejumlah pedagang kaset, kasetnya di singkirkan secara halus terutama karena tekanan pemerintah.

 

Elpamas dan Pak Tua-nya

Dekade 80-an merupakan rentang tahun dimana banyak band rock berkualitas yang bermunculan. Salah satu penyebabnya adalah diselenggarakannya Festival Rock se-Indonesia yang diprakasai oleh Log Zhelebour, seseorang yang mempunyai peran dalam memajukan musik rock di tanah air. Berkat festival tersebut makin banyak terpantau band-band rock baru bermunculan dan mendapat atensi publik. Elpamas adalah satu di antara band rock berkualitas tersebut.

Salah satu lagu yang mengantarkan Elpamas makin di kenal publik adalah “Pak Tua”, lagu kontroversial yang bercerita tentang penguasa tua yang belum juga pensiun. Lewat lagu itu pula Elpamas sempat mendapatkan pencekalan akibat dituduh menghina penguasa, dalam hal ini Soeharto.

 

Pop Mendayu Yang Mengancam

Tidak hanya lagu yang mengkritik secara langsung terhadap rezim, lagu dengan lirik yang cengeng dan musik yang mendayu-dayu tak luput dari incaran pemerintah. Ada lagu Hati Yang Luka” yang dipopulerkan oleh Betharia Sonata. Kemudian, “Gelas-Gelas Kaca” buatan Rinto Harahap yang dinyanyikan oleh Nia Daniati turut pula dikomentari oleh Menteri Penerangan kala itu, Harmoko.

Lagu bernada cengeng dituding oleh pemerintah melalui Deperteman Penerangan sebagai lagu yang melemahkan sekaligus mematahkan semangat dan tidak berjiwa pembangunan seperti yang didengung-dengungkan dalam jargon ekonomi pembangunan pada era orde baru. Menurut beliau, lagu tersebut adalah lagu ratapan patah semangat berselera rendah dan menghimbau agar lagu kelas krupuk dan cengeng seperti itu dihentikan penayangannya.

Dalam penelitian Irfan R. Darajat yang diunggah dalam website JurnalRuang juga menyebutkan banyak indikasi hal itu terjadi diantaranya karena dapat mengguncang imaginasi keluarga bahagia Orde Baru yang dibayangkan oleh negara.

 

 

 

5 PENAMPIL SPESIAL JAVA JAZZ FESTIVAL YANG BERHASIL MEMBAWA NOSTALGIA

Photo by doc pophariini.com

Suguhan para penampil legend yang membuat penonton terbius nostalgia romansa semasa muda.

 

 

Longlifemagz – Perhelatan yang diselenggarakan selama 3 hari, sedari tanggal 2-4 Maret 2018 di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta berhasil menarik puluhan ribu pengunjung. Tidak habis-habisnya Java Jazz Festival memberi berbagai kejutan bagi para penikmatnya.

Kali ini dengan peluru, suguhan para penampil legend yang membuat penonton terbius nostalgia romansa  semasa muda. Begitupula dengan berbagai kombinasi atau kolaborasi penampil yang mereka suguhkan kala mendendangkan hits lagu-lagu pamungkas era 70-90an nya.

Berbagai penyanyi legenda, kolaborasi maupun kombinasi lintas usia maupun genre mereka suguhkan dengan berbagai cara, dengan spesial membawakan tembang-tembang hits semasa dulu. Berikut diantaranya kami rangkum, mereka-mereka yang dengan epic mengajak penonton bernostalgia bersama.

  1. The Music of Chandra Darusman

Chandra Darusman dan Erwin Gutawa dalam Karimata saat tampil di Java Jazz Festival ll Photo by Beritatagar

The Music of Chandra Darusman adalah Salah satu penampil yang berhasil meraup ribuan orang. Bagaiaman tidak sekaliber Chandra Darusman, musisi legend 70-an dengan berbagai hit seperti “kau dan kekagumanku”, pastilah ditunggu kehadirannya di BHI hall, Java Jazz Festival. Terdapat pula sederet artis yang menyanyikan lagunya pada saat itu, mulai dari Mondo Gascaro, Monita Tahalea, sampai Adikara.

Kejutan tak kunjung surut kala Karimata dan Chaseiro hadir dalam satu panggung. Terlihat Erwin Gutawa yang asik melakukan atraksi solo bassnya disambut oleh kebolehan skill dari Candra Darusman di piano. Decak kagum tak kunjung surut terpancar dari wajah penonton, kala melihat atraksi mereka. Hingga diakhir performance The Music of Chandra Darusman ditutup dengan lagu “Pemuda” oleh Chaseiro dan para penampil-penampil lain. Dan sing-along dari penonton tidak terbantahkan.

 

  1. Java Jive X Fariz Rm

Fariz RM on stage ll Photo by doc. Java Jazz Festival

Nostalgia kembali terjadi Java Jazz Festival 2018, tepat di Garuda Indonesia stage malam itu (03/03), Java Jive dan Faris RM tampil. On stage tepat pukul 23.00 Wib, Java Jive yang mengambil alih panggung terlebih dahulu. “Sisa Semalam”, “Kau Yang Terindah” sampai “Keliru” sederet obat mutakhir, membuat penonton terbuai dan kembali ingatannya kemasa lalu.

Sampai akhirnya, Faris RM pun turut on stage, terciptalah kolaborasi diantara mereka berdua. “Gadis Malam” adalah lagu pembuka kebersamaan mereka berdua. Hingga tiba di tiga lagu pamungkas, “Sakura”, “Barcelona”, dan ”Dansa Yo Dansa” penampilan mereka masih terbayang dan berkesan.

  1. The Rollies

Penampilan The Rollies saat di Java Jazz Festival ll Photo by doc detik

Mereka adalah salah satu panutan dijamannya, hadir memberi warna baru di belantika music Indonesia era 60-80an akhir, terkhusus bagi genre jazz rock, pop, dan soul funk. Kehadiran mereka malam itu (04/03) di Avrist hall, Java Jazz Festival disambut hangat oleh para penonton yang sudah mengerubungi stage.

Sederet nomor-nomor andalan mereka lancarkan, mulai dari Ke “Astuti”, “Kau Yang Ku Sayang”, “Kemarau”, sampai “Dansa Yo Dansa”. Nostalgia terjadi tak tertahan, sing along terdengar tak terbendung. Diantara penonton yang menikmati penampilan The Rollies, adalah Rhesa bassist dari Endah And Rhesa yang sumriah melihat penampilan mereka.

Baca : Live Review: Warna-Warni Java Jazz 2018

  1. Indonesian Legend Reuni: 80/90

Memes dan Addie Ms, kala menghibur penonton di BNI hall ll Photo by doc tempo

Bagaimana bila sederet legenda Indonesia dihadirkan dalam waktu yang bersamaan ditempat yang sama? Ya, sama halnya seperti kamu memasuki lorong waktu dan kembali kemasa lalu. Begitupun yang terjadi di Tebs hall, Java Jazz Festival, malam itu (04/03). Bagaimana tidak, sekaliber Fariz RM, Mus Mudjiono, Deddy Dhukun,Christe, Kinan Nasution, Addie MS, sampai Memes berada di satu panggung.

Hasilnya, hall crowded, penuh dan riuh yang terasa. Membawakan tembang-tembang hit dijamannya, “Terlanjur Sayang” yang dibawakan oleh duet emas Memes dan Addie MS, “Masih Ada” duet Deddy dan Christe, Fariz RM dengan “Sakura”, hingga “Arti Kehidupan” dari Mus Mudjiono yang menutup manis malam itu dibantu dengan penampil legend lainnya.

  1. Iwa K X Neutronic

Iwa K x Neurotic on stage MLD spot hall ll Photo by doc metronews

Tampil dihari terakhir (04/03) dengan sederet hideliner dipanggung berbeda, tidak menyebabkan Iwa K kehilangan masanya. Terlihat penonton sudah memadati MLD spot hall, stage Iwa K dan Neutronic tampil.

Sederet lagu mereka hempaskan kepenonton, namun tetap yang paling epic didua lagu penutup, “Bebas” dan “Malam Ini Indah”. Crowd yang sebelumnya sedikit tenang, kian bergolak kala lagu itu dimainkan. Generasi 90-an yang girang bukan kepalang, hadir memberi warna baru.

 

LIVE REVIEW: WARNA-WARNI JAVA JAZZ 2018

 Perpaduan perhelatan festival jazz dan berbagai genre yang penuh daya pikat.


 

Longlifemagz Sudah 3 minggu lamanya perhelatan festival jazz terbesar di Asia Tenggara, Java Jazz Festival (FFS) 2018 digelar,. Selama itu pula momen-momen dan keseruan acaranya masih terekam di dalam benak kepala setiap penontonnya.

Ya, Java Jazz Festival (JJF), tahun ini diselenggakan sedari tanggal 2-4 Maret 2018 di Jiexpo Kemayoran, Jakarta. Menyuguhkan lebih dari 300 penampil penuh performance art yang menghibur dan memukau, dengan paduan sound dan pertunjukan warna lighthing yang indah, ditambah dengan spot-spot area maupun dekorasi tematik penuh konsep, menyambut kehadiran puluhan ribu penonton yang memadati pagelaran umat Jazz setiap tahunnya.

Lebih dari 11 stage diantaranya Demajor Stage, Garuda Indonesia Stage, MLD Stage Bus, Tebs Hall, sampai BNI Hall, lengkap dengan berbagai konsep yang ditawarkan, hadir diperhelatan ini. Mulai dari berkonsep outdoor, mini bus, sampai ekslusif vip didalam hall, memberi warna dan artmosphere tersendiri.

Walau terdapat sekitar 300 penampil, terdiri dari 3 hari dengan jumlah 11 panggung, tidak membuat JJF keteteran soal waktu, alias on time secara keseluruhan diwaktu tampil setiap pengisi acaranya. Ini salah satu yang patut diapresiasi, ketelitian crew dalam me-manage waktu patut diacungi jempol!

Sederet hideliner terpampang menghibur memberi pertunjukan yang menawan dan penuh daya pikat. Dira Sugandi, Mateus Asato, Glenn Fredly, Larry Carlton, Fariz RM, Andien, Tohpati, The Rollies, Incognito, sampai Chandra Darusman. Berhasil memuaskan hasrat ribuan pengunjung untuk bernyanyi dalam alunan pertunjukan atau mendengar lantunan suara dan menonton performance art sederet artis.

Tidak hanya sekedar jazz, para musisi baik skala nasional atau internasional dari genre lain juga hadir menyemarakan festival ini, dari pop, blues, folk, hip-hop/ Rnb, sampai rock. Mulai dari Gugun Blues Shelter, Daniel Caesar, Fourtwnty, Lauv, Iwa K X Neurotric, sampai Goo Goo Dolls tidak kalah spektakulernya berhasil meraup crowd yang banyak.

Memang perhelatan JJF tidak hanya menyajikan para penampil bergenre jazz saja, dan dibeberapa live performance penampil diluar Jazz mampu menyedot ribuan pengunjung. Seakaan JJF tidak percaya diri untuk berkreatifitas sendiri dan mesti merangkul penampil multi genre. Namun ini strategi yang baik, demi untuk mengembangkan pangsa pasar baru, dan yang terpenting dapat menghibur dan mengedukasi para pengunjung tentang musik jazz dan gaya hidupnya, membuat upaya regenerasi diperhatikan oleh JJF ini. Dan itu penting bagi keberlangsungan musik ini di tanah air Indonesia.

Tidak sekedar itu, sajian JJF bak ibarat makanan mewah lengkap dengan dessert manis pelengkap. Begitupun yang dihadirkan dalam tahun ini, tidak hanya penampilan, namun juga dekorasi stage lengkap dengan warna-warna paduan lighthing, spot-spot maupun area lengkap dengan tema yang disuguhkan, sampai kerjasama yang baik antara pihak eo (Java Festival production) dan sponsor dimana setiap sponsor patut bersaing, menghias booth-nya masing-masing, lengkap dengan acara maupun live performance artis yang ditawarkan. Ini membuat JJF kian semarak.

Beberapa Diantara Yang Memukau

Sejak hari pertama (02/03) JJF sudah dipadati pengunjung, kian malam pengunjung makin terlihat memenuhi crowd beberapa penampil. Diantaranya adalah penampilan dari Dira Sugandi, di Mitsubishi Hall. Tampil dengan menawan, Dira Sugandi melancarkan tembang-tembang andalannya. Disela-sela performance, tak luput ia menyanyikan sebuah lagu untuk anaknya yang sedang berulang tahun pada malam itu, kian membuat pertunjukan lebih manis dan hangat akan kekeluargaan.

Dilain sisi terlihat juga Nona Ria di Java Jazz Stage, yang berhasil menceriakan suasana malam itu. Sayur Lodeh, adalah diantara nomor cantik yang dimainkan. Tak terasa penonton ikut terhanyut dalam suasana riang, kadang kala ikut berdendang.

Glenn Fredly tidak kalah kerennya memukau Garuda Indonesia Stage. Walau ia terbilang sebagai salah satu artis yang sudah sering bermain di JJF disetiap tahunnya, namun panggungnya selalu dipadati penonton. Kala itu ia membawakan beberapa nomor-nomor hits dari Slank, dan berhasil mengajak penonton bernostalgia dengannya, terlebih singalong bersama.

Menuju tengah malah, giliran Kunto Aji menutup panggung Kopi Kapal Api Hall. Diantaranya adalah lagu hit “Terlalu Lama Sendiri” yang jadi pamungkasnya.

“Katanya orang-orang jomblo itu kuat karena teman-temannya sendiri karena teman-temannya sama-sama jomblo juga. Tapi emang jujur, teman-teman itu membantu kita untuk lupa akan kesendirian. Tapi kadang ada juga teman kita yang reseh yang bertanya seperti ini..” ujar disela lagu Kunto Aji.

Ia meneruskan sapanya dengan lirik, ‘teman-temanku berkata yang kau cari seperti apa, kuhanya bisa tertawa nanti pasti ada waktunya..’.

Hari kedua JJF (03/03) dibuka apik oleh Tashoora, Petra Sihombing, dan Syaharani & QueenFireworks di panggung berbeda. 

Tashoora band asal Jogja yang cukup menawan. “Kami mengajak teman-teman semua kembali ke zaman Ahmad Dhani masih waras,” kata Gusti Arirang sang bassist, sebelum membawakan lagu cover “Roman Picisan”.

Dipanggung berbeda terdapat kolaborasi yang memukau, Glenn Fredly, Tompi, Andra Ramadhan,Sandhy Sandoro, dan Kavin Sultani dengan nama Yamaha Music Project di BNI Hall dan Yura Yunita with Ron King Horn Section di MLD spot hall.

Begitupun Daniel Caesar, salah satu hideliner yang ditunggu-tunggu kehadirannya di BNI hall,yang sudah dipadati ribuan pengunjung. Ketika ia onstage, riuh suara penonton hysteris menyambutnya terdengar menggema. Sederet nomor sakti, “Neuroses”, “Transfrom”, “We Find Love”, sampai “Blessed”, tidak henti-hentinya membuat penonton ikut bernyanyi bersama.

Keseluruhan penampil di BNI Hall hari kedua ditutup The Music of Candra Darusman yang menampilkan Monita Tahalea, Teddy Adhitya, Danilla, Mondo Gascaro, Adikara Fardy, dan Nina Tamam serta penampilan khusus Chaisero dan Karimata dan Chaisero. Diakhir performance mereka ditutup dengan lagu “Pemuda”, Chaisero yang dinyanyikan oleh semua artis. Kunjung hal itu membuat penonton nostalgia dan turut pula ber singalong ria.

Java Jazz Festival dihari keempat ini (04/03) sangat berkesan. Andien dengan ribuan penonton yang memadati di MLD spot hall, The Rollies yang berhasil membuat mengajak penong bersing along bersama, sampai BJ The Chicago yang turun panggung menghampiri penonton dan bergoyang bersama mereka. Lauv yang berhasil menyihir ribuan penonton lewat aksinya di BNI hall dan Goo Goo Dolls yang mewarnai JJF dengan nuansa rock n roll nya.

Hingga ditutup oleh Maliq & D’Essentials dan Iwa K x Neurotic dipanggung yang berbeda, menandakan selesainya perhelatan JJF tahun ini dengan beragam warna yang membuat berkesan dimana-mana.