CINOFAJRIN & THE SOULMETS RILIS SINGLE KEDUA “KIDS JAMAN NOW”

Photo doc. Cinofajrin & The Soulmets

Lirik jenaka dan sarat akan pesan moral.


 

Longlifemagz – Project solo karir asal Semarang ini dibentuk pada pertengahan tahun 2017 yang digagas sendiri oleh Cino Fajrin. Berawal dari keisengan membuat video lucu di Instagram, tak disangka nama Cino Fajrin melejit bak rocket israel di siang bolong. Bermula dari situ kemudian Cino Fajrin mempunyai gagasan untuk menuangkan semua ide jenakanya ke dalam sebuah lagu.

Meski terbilang baru, Cinofajrin & The Soulmets cukup produktif dalam berkarya. Terbukti dalam beberapa bulan terakhir, Cinofajrin & The Soulmets mampu menggarap single andalan yang berjudul “Keblondrok” dan kini Cino fajrin kembali mengeluarkan single terbaru yang berjudul “Kids Jaman Now” dengan balutan musik yang menggabungkan antara unsur Reggae, ska, dan Jamaican music.

Dengan lirik yang sedikit jenaka dan sarat akan pesan sosial, Cino Fajrin berusaha mengajak para penikmat musiknya agar lebih mudah memahami pesan yang tersirat dalam lagu-lagunya tersebut. Single “Kids Jaman Now” sudah bisa didengar & di download secara streaming di Spotify, itunes, sampai google play.

Berbekal dari banyaknya influence musik, yang sampe saat ini Cino Fajrin sendiri masih belum mengerti apa nama genre yang spesifik dari musiknya. Karena Cino Fajrin sendiri tidak pernah membatasi pengaruh terhadap musiknya dari awal berdiri hingga saat ini.

Untuk rencana selanjutnya Cinofajrin & The Soulmets akan melaksanakan tour promo single terbarunya ke berbagai radio di Semarang dan Jawa Tengah. Karena dinilai daerah tersebut mempunyai cukup banyak fanbase.

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

GUNS RILIS ALBUM PERTAMANYA “TELIEVISION”

doc. GUNS

Debut Album Rock Ugal-Ugalan dari Malang.

 

Longlifemagz – Setelah 2 tahun berkarya, Guns akhirnya merilis album pertamanya yang bertajuk Telievision. Album yang berisikan 8 lagu ini, kembali menggambarkan sisi nyeleneh dari para personil Guns. Alif pada vokal, Refo dan Farhan di gitar, Eldy di bass dan Eben pada drum.

Nama Telievision yang merupakan plesetan dari televisi ini menjadi pesan yang ingin disampaikan kepada para pendengarnya. Berawal dari kekesalan atas pemberitaan televisi yang simpang siur dan kerap kali menyebarkan isu kebohongan, dan juga menciptakan keresahan tersendiri di mata kelompok sulit diatur asal Malang ini. Digambarkan lewat musik rock yang tetap konsisten ugal-ugalan dengan mengandalkan ritem musik ala punk rock dan melodi rock yang kental dicampurkan hingga terdengar seperti campuran antara era 70an hingga 90an. Lirik lagu yang didasari pengalaman dan keresahan sehari-hari para personil Guns, mengisi 8 track yang ada di album ini. Beberapa artwork simpel juga dimasukkan sebagai pemanis untuk menjaga kenikmatannya.

Baca : Siapkan Album Mini, Provokata Rilis “Manusia x Tuhan”

Guns mengemas album Telievision secara indie dengan produksi secara keseluruhan dilakukan secara mandiri oleh pihak band dan timnya, mulai dari proses rekaman, mixing dan mastering, hingga produksi album dan merchandise dilakukan langsung di kota asal band ini, Malang.

Album ini melengkapi 3 single yang telah rilis lebih dahulu, yakni “Melawan Arus”, “Roda Dua” dan “Jennytalia”. 5 lagu baru yang ada di album ini dibuat untuk mendobrak industry musik lokal yang masih terpusat pada kota-kota besar. Telievision siap menjadi peluru bagi Guns untuk dimuntahkan ke industri musik nasional.

Baca : Bimo Aryo (Elegi), Menutup Akhir Tahun Yang Sendu Dengan Manis

Perlawanan terhadap kebohongan para oknum pertelevisian juga ditunjukkan lewat aksi panggung Guns dengan membawa TV keatas panggung tanpa menyalakan channel TV apapun dan hanya membiarkannya menyala agar nyentrik di mata penonton. Dengan gaya khas urakan para personil melengkapi pertunjukan musik Guns yang tak jarang dibumbui dengan gimmick membanting gitar di akhir lagu yang memancing teriakan antusias para penonton.

Album Telievision akan dipasarkan secara nasional melalui teknologi media sosial dan digital serta rilisan fisik CD untuk mempermudah para penikmat musik Indonesia.

 

 

BIMO ARYO (ELEGI), MENUTUP AKHIR TAHUN YANG SENDU DENGAN MANIS

Lepas Single” Rindu Yang Kita Tangisi”, bocoran album terbaru “Merayakan Sepi”.

 

Longlifemagz – Solois folk asal Kota Depok, Bimo Aryo atau dengan nama panggung Elegi, yang akhir-akhir ini sedang naik daun menghiasi kanca musik folk/pop, tengah mempersiapkan peluncuran album terbarunya.

Tepat tanggal 30 November 2017, pria yang identik dengan style rambut gondrong yang tergerai itu membocorkan kisi-kisi album terbarunya dengan melepas single pertamanya “Rindu Yang Kita Tangisi”.

Seperti yang dilansir dari laman Provoke, Bimo mengatakan bahwa dalam single yang telah di rilisnya itu Sedikit mengulas ingatan yang pernah di kubur secara paksa lalu ditinggal pergi dan selesai. Bisa sedikit mengulas ingatan tentang cinta dahulu yang sering dianggap remeh temeh dan lain sebagainya.

Cukup unik solois folk satu ini, bahwasannya pria ini mengklaim dirinya sendiri sebagai “folk penyendiri”. Hal itu senada seperti statement yang ia ujar “Saya ingin menyediakan sebuah lagu yang bisa mewakili apa yang pendengar pernah rasakan, melalui lirik sederhana yang saya buat”.

Baca : Siapkan Album Mini, Provokata Rilis “Manusia X Tuhan

Dalam rangka merilis single “Rindu Yang Kita Tangisi”, Bimo mengajak masyarakat luar untuk berlomba-lomba menerjemahkan setiap lirik yang ada dalam bentuk suatu artwork. Lalu artwork tersebut dapat diunggah kedalam media sosial masing-masing peserta. Kika beruntung maka artwork yang terpilih, akan masuk dalam sleeve album terbarunya, “Merayakan Sepi”.

Dalam penggarapan Single “Rindu Yang Kita Tangisi” dibantu oleh Khalif Fadhel untuk gitar dan vokal pendukung. Menjadi salah satu dari 12 lagu yang disiapkan sebagai materi di debut album nanti “Merayakan Sepi” yang akan dirilis oleh Senandung Records nanti.

Untuk ingin tau lebih jelas tentang Bimo Aryo atau Elegi, kalian mungunjungi Instagramnya di @suaraelegi atau search di Youtube dengan ketik ELEGI Official. Selamat menikmati.

 

Text by Rizki Ardiansyah

Photo by Instagram @suaraelegi

 

Siapkan Album Mini, Provokata Rilis “Manusia X Tuhan”

Jalan pembuka berupa mini album yang akan dirilis dalam waktu dekat.

 

Longlifemagz – Setelah perilisan album Catatan dari Sudut Kota pada 2014 lalu, pundi karya yang dimiliki Provokata dapat dikatakan kering. Berdasarkan latar belakang itu, mereka pun berupaya mengumpulkan satu demi satu lagu untuk menindaklanjuti proses kreatif selama berada di dalam studio. Pada akhir 2015, Provokata merekam dua lagu yang diproyeksikan untuk album kedua, berjudul “Vox Acta Diurna, Vox Dei” dan “Silenus (27:2)”. Namun, dua lagu itu malah termaktub dalam album kompilasi And No One Can Prevent This Rage to Born! (Stonedzombies, 2016).

Sindikat pseudo-grindcore asal Semarang yang beranggotakan Galang Aji Putro (vokal), Gagas Agung Sedayu (gitar), Vivid Wicaksono (bass), dan Rudy Kusdiyanto (dram) itu pun tampak “terganggu” dengan situasi yang mereka ciptakan sendiri. Pada akhir 2016, mereka melanjutkan sesi perekaman untuk proyek album mini secara nyata. Kabarnya, proyek album mini itu akan dirilis menjelang akhir 2017. Sebagai pemanasan, Provokata memperkenalkan salah satu lagu yang nantinya terdapat dalam album mini itu, berjudul “Manusia X Tuhan”. Terhitung sejak Minggu (19/11/2017) Provokata resmi meluncurkan lagu itu melalui kanal Bandcamp mereka.

“Manusia X Tuhan” merupakan representasi sebuah klaim terhadap kebenaran hakiki. Provokata memandang adanya upaya dan gelagat kelompok masyarakat hari ini yang berusaha keras memaksakan kebenaran sesuai dengan perspektif satu pihak saja. “Kami berusaha memahami bahwa segala keyakinan merupakan pengalaman pribadi yang tak harus dipandang dari mata yang sama,” ujar Galang.

Bagi mereka, ada pertanyaan arkais yang pernah diajukan, bahkan setua langit. “Lebih dahulu mana dalam proses penciptaan; siapa menciptakan siapa? Lalu, kepada siapa doa-doa yang terlantun itu ditujukan; kepada kebenaran absolut ataukah kepada pembenaran terhadap ego manusia?” Gagas menimpali. Segala kelam dan keresahan tersebut—kata-kata yang kemudian dirakit merupa serapah—dirapal Provokata di sepanjang arteri dan vena sehingga mengotori pembuluh-pembuluh itu. (*)

 

Photo by doc. Provokata

 

 

 

 

 

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

Unit Rapcore Bandung Resmi Rilis Album Perdana

Setelah cukup lama tertunda, album perdana ini akhirnya resmi keluar.

 

 

Longlifemagz – Trio asal Bandung bernama Weelee telah mengambil keputusan yang sangat berani dalam perjalanan musiknya. Saat ini, unit rapcore asal Bandung ini memantapkan keputusan untuk membuat sebuah album dengan label rekaman yang menaungi mereka sekarang, yaitu Omegawave Record. Mereka pun baru saja merampungkan album perdana yang bertajuk “Gray” tersebut dan merilisnya pada 10 November 2017 kemarin.

Sebenarnya, penggarapan materi “Grey” sudah dimulai sejak awal tahun 2016 dan akan di rilis di tahun yang sama. Namun, karena ada satu dan lain hal, maka penggarapan album ini pun menjadi mundur dan di sela-sela waktu penggarapan album mereka pun sempat merilis single pembuka untuk album mereka yang berjudul “General Party” pada 4 September tahun lalu. Tak lama berselang, pada awal tahun ini, single kedua yang berjudul “Eyesitation” resmi diluncurkan bersamaan dengan video klip dari lagu tersebut. Kemudian, pada bulan Juli kemarin, video klip untuk lagu “Talk” juga turut dirilis.

Pemilihan nama “Gray” sebagai judul album didasari dari sudut pandang dalam hal apapun, mereka mencoba menganalogikan dengan orang-orang yang sedang mengambil gambar seekor gajah dalam cover artwork garapan Jarwo Jear ini yang menurut mereka semuanya sama memiliki muatan kebenaran seekor gajah meski dari sudut yang berbeda-beda.

Mereka yang mengambil gambar seekor gajah tersebut akan puas dengan tiap foto yang mereka abadikan. Akan tetapi, mereka tak menyadari bahwa mereka hanya melihat gajah tersebut dari satu sisi saja dan itu justru membuat mereka tak bias melihat gajah tersebut dengan utuh. Lebih lanjut, pihak band menyatakan sudut padang adalah hal yang menurut mereka tak bisa dihitamkan maupun diputihkan. Tidak hitam tidak putih tapi mencoba menjadi abu-abu. Tidak membela tidak membiarkan tapi mencoba untuk mempertimbangkan.

Mereka menyadari bahwa jarak kita semua sebagai manusia dengan kebenaran itu begitu jauhnya. Dalam kitab suci pun telah dituliskan “Tunjukkanlah kami jalan yang benar”. Maka berangkat dari pemikiran-pemikiran tersebut, akar ataupun fondasi pada lagu-lagu di album ini tercipta. Dalam album ini, di setiap lagunya, Weelee mencoba untuk berdamai dengan diri sendiri, berdamai atas hal yang telah dilakukan, mempertanyakan apakah mereka semua itu hitam, putih atau abu-abu.

Dalam proses pembuatan album, Delano (bass/vokal), Boy (gitar/vokal) dan Tama (drum) menggarapnya di sebuah studio rumahan bernama Omegawave Record, berlokasi di Bandung. Mereka juga dibantu oleh Japs SEA (Saxa Et Aqua) untuk mengisi gitar. Untuk lebih lanjut mengenai mereka, bisa kalian ikuti medsos mereka seperti yang tertera di bawah ini.

 

Instagram : @weeleeofficial

Facebook :Weelee Official

Twitter : @weeleeofficial

Bandcamp :weeleeofficial.bandcamp.com

Youtube :Weelee Official

 

Text by Redaksi

Photo by doc. Weelee

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

FIND US ON

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.

 

Pin It on Pinterest