1


Seberangi Tebing Hardcore yang Curam: Tiderays Rilis Demo 2018

Apa rasanya jika berjalan di pinggiran tebing yang curam, dengan terpaan angin dingin yang kencang? Bila itu tercurahkan dalam komposisi, Tiderays mewakili itu semua. Band asal Semarang ini merilis debut demonya dengan lantang membawa kejayaan swedish sound dalam hardcore (29/9).

Terbentuk awal tahun 2017 oleh Ghozzy El-Yussa (Vokal), Fauby Duvadilan (Bass), DFAhmad (Gitar) dan Gresia pada drum. Masing-masing departemen instrumen berperan membangun konstruksi yang telah dilakukan pendahulunya dari seberang Skandinavian dan Jerman. Secara kiblat, tersebutlah fragmen dari Entombed, Alpinist, Martyrdöd dan tentu saja His Hero is Gone. Mulanya, formula ini sebelumnya jarang dilirik oleh band-band Semarang. Kuartet ini malah memulainya dengan penuh berang.

Photo doc Tiderays

Terdapat dua komposisi dari demo yang dirilis via Bandcamp. “Syllable Perishable” yang dibuka dengan raungan riff depresif, dengan sontak menghunus melalui raungan gitar chainsaw, membuat darah notasi muncrat dimana-mana. Mendengarnya tak perlu diurai dengan sulit: kotor dan kelam.  Untuk tak menimbulkan syak wasangka, “Proposition Distrait” akan memperkuat pendengar kalau tebing yang curam perlu untuk dilewati, meski bisa saja jatuh mati. Sensasi itulah yang terasa, apalagi derap d-beat dan black metal berpadu dengan beringas.

Menengok energi mereka tak cukup pada musiknya semata. Mereka aktif di skenanya, memberi waktu lebih kepada komunitas. Niscaya, jalan luas terbentang. Tiderays juga memulai langkahnya secara organik. Beberapa waktu silam melakukan tur 11 kota di Jawa-Bali bersama kolega satu kotanya, Hearted. Upaya ini akan membentuk mental dan keberanian untuk konsisten di masa depan, seiring dengan album penuh bertajuk 401 yang rencananya rilis pada penghujung tahun 2018. (*)

Photo doc Tiderays

Tiderays – Demo (2018)
https://tiderays.bandcamp.com/album/demo

All songs written and performed by Tiderays
All lyrics by DFAhmad
Recorded at 4WD Studio Semarang in Juny 2018
Except vocal recorded at Riverse Studio Jepara
Mixed and mastered by I Made Dharma (e: imadedharma27@gmail.com)
Artwork and cover by Bonifasius Rendy (e: rendybonifasius@gmail.com)

Info:
+62 822-4281-8609
E: tiderays401@gmail.com
IG: @tiderays401
FB: Tiderays

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

Album Review : The Trees and the Wild – Zaman, Zaman

h-m-head-bright

doc. SRM Bands

Eksplorasi dan eksperimentasi mengejutkan yang telah lama dinanti.


 

Longlifemagz – Bila kita sekilas melihat rekam jejak The Trees and the Wild (TTATW) sebelumnya, mereka adalah sebuah trio indie fenomenal beranggotakan Remedy Waloni (vokal,gitar), Andra Kurniawan (gitar) dan Iga Massardi (gitar), yang telah melahirkan sebuah album debut yang sangat bagus, Rasuk. Album yang bermaterikan musik folk dengan bumbu-bumbu ambient, post rock dan sedikit experimental. Dalam sekejap mereka banyak dielu-elukan dan menjadi indie darling berkat album tersebut. Lagu-lagunya pun menghiasi playlist orang-orang pada eranya, sebut saja Honeymoon on Ice, Irish Girl dan Berlin. Kini setelah tujuh tahun berlalu dengan segala perubahan yang terjadi di dalam tubuh TTATW, mulai dari kepergian Iga Massardi di tahun 2011 dan sekarang dikenal khalayak luas sebagai founding father band indie yang sedang meroket namanya, Barasuara. Di sisi lain, tambahan personel baru di antaranya Hertri Nur Pamungkas (drum), Tyo Prasetya (bass) juga Charita Utami (vokal, synth, keyboard) yang pada akhirnya mampu menelurkan album kedua yang telah tertunda sekian lama tersebut, Zaman, Zaman via label Blank Orb Recordings pada (16/09).

Album yang berisikan tujuh lagu ini dibuka dengan epik oleh lagu “Zaman/Zaman” yang seperti mewakili identitas baru TTATW. Lupakan sejenak euforia album pertama dan hilangkan semua ekspektasi, karena album ini tak lagi memanjakan telinga kalian dengan petikan-petikan manis dari gitar dan mampu membuat kita ber sing along, sebaliknya mereka malah mencoba menjejali telinga kita dengan efek-efek yang tebalnya berlapis-lapis maupun lirik repetitf yang membius seperti tertuang dalam lagu yang sekaligus memiliki durasi terpanjang dalam album ini, “Empati Tamako”. Lagu tersebut juga merupakan salah satu lagu yang sering dimainkan saat live jauh sebelum album ini lahir di samping “Tuah/Sebak” dan juga “Saija” yang terinspirasi dari kisah rakyat legendaris dari tanah Banten era kolonial tentang kisah cinta dua pribumi yakni Saijah dan Adinda.

Baca : Album Review: Barasuara – Taifun

Eksplorasi dan eksperimentasi. Dua kata kunci untuk menggambarkan keseluruhan album ini. Mereka seakan benar-benar mendobrak batasan-batasan yang ada dengan membuat lagu-lagu yang berdurasi cukup panjang. Hanya dua lagu yang durasinya di bawah lima menit, bisa dibilang lagu-lagu tersebut merupakan semacam jembatan penghantar ke lagu selanjutnya. Seperti dalam trek “Srangan” yang cukup untuk membuat kita rehat sejenak untuk kemudian kuping kita dihajar lagi di lagu selanjutnya, “Monumen”.

Tujuh tahun pun rasanya dapat dimaklumi untuk sebuah album yang telah lama dinanti dari sebuah grup band. Karena mereka jelas mampu membayar lunas penantian panjang itu dengan menghadirkan album berkualitas yang tetap mampu mempesona para pendengarnya. Butuh sedikit waktu untuk menyelami kreativitas TTATW di “Zaman, Zaman”, dan kalian akan menemukan jawabannya setelah beberapa kali mendengarkan album ini dari awal hingga akhir.

Baca : Album Review: Knurd Hamsun – Slauerhoff (EP)

 

mahasis(w)a semester dua digit, music digger, classic movie maniac, regular reader

Album Review: Panic! at the Disco – Death of a Bachelor

Panic at the Disco

Sebuah album pembuktian dari Brendon Urie untuk tetap mengibarkan bendera Panic!


Longlifemagz – Sangat menarik untuk menyelami eksplorasi musik Panic! at the Disco (selanjutnya disingkat PatD) yang selalu menawarkan cita rasa berbeda dari awal karir mereka yang langsung melejit lewat sebuah album breakthrough, A Fever You Can’t Sweat Out kemudian menjadi band yang terilhami oleh The Beatles, The Beach Boys dan musik-musik psychedelic pop era 60-an yang akhirnya dapat terciptalah album Pretty. Odd. Di album ketiga, Vices and Virtues, mereka mencoba kembali menyuguhkan racikan theatrical pop punk dalam musik mereka seperti yang terkemas dalam album pertama namun dengan sedikit sentuhan modern. Bermain-main di album Too Weird to Live, Too Rare to Die dengan mencampurkan unsur musik dance, electronica, dan sedikit hip-hop. Dan, sepertinya di album terbaru yang berjudul Death of a Bachelor kali ini, PatD yang sekarang hanya tinggal Brendon Urie seorang akan kembali bereksplorasi dengan musiknya.

Death of a Bachelor sendiri merupakan album perkenalan wajah dari PatD yang baru dimana hanya sang frontman, Brendon Urie saja yang masih tersisa untuk melanjutkan perjuangan setelah Spencer Smith meninggalkan band untuk bisa lebih fokus melawan ketergantungan alkoholnya dan juga obat-obatan dan juga status anggota lain, Dallon Weekes yang diturunkan kembali  menjadi touring member lagi . Dengan demikian, secara tak langsung Brendon mempunyai otoritas penuh dalam proses kreativitas album ini, dimana dia memainkan hampir keseluruhan instrumen dalam album ini, kecuali alat musik tiup, di samping selain sebagai produser dan juga penulis lirik.

Baca : Album Review: Shura – Nothing’s Real

Oleh karena itu, tak heran album ini juga bisa dibilang merupakan sebuah manifestasi dari musical taste dan perjalanan hidup Brendon sendiri selama ini.  Semua influence bermusik dalam hidup Brendon terserak dalam berbagai sisi album ini. Ambil contoh di nomor “Death of a Bachelor” yang juga menjadi titel album ini dimana dia memadupadankan pengaruh dari idola masa kecilnya, Frank Sinatra dengan balutan musik yang lebih up-to-date. Di “Crazy=Genius”, Brendon menganalogikan tokoh di dalam lagu tersebut di departemen liriknya dengan nama para personel The Beach Boys, yang mana juga merupakan salah satu pahlawan bermusiknya. Judul lagunya pun bisa dibilang menggambarkan sosok jenius di balik megahnya musik The Beach Boys itu sendiri yakni Brian Wilson. Selain sosok-sosok besar dalam musik yang mempengaruhi penulisan lagu, ada juga sebuah lagu yang berangkat dari kecintaan Brendon akan kota Los Angeles dan dituangkan dalam “L.A. Devotee”.

Dalam beberapa lagu di album ini juga semakin menunjukkan kemampuan olah suara Brendon yang semakin mengukuhkan statusnya sebagai salah satu vokalis terbaik di jalurnya, simak saja dalam lagu “Victorious”, “Hallelujah” dan juga “Emperor’s New Clothes” yang juga merupakan single-single jagoan untuk album kelima band Las Vegas tersebut. Dan, setelah rangkaian lagu upbeat yang satu demi satu bergantian mengisi album ini, hadirlah sebuah ballad ala PatD yang cukup megah untup menutup keseluruhan album ini dengan manis.

Dengan album ini, mereka berusaha untuk menjaring fans-fans baru dengan menghadirkan kejutan-kejutan tak terduga pada musiknya yang diramu dan diracik dengan cukup baik oleh the main creator, the one and only Brendon Urie. Kami pun tak ragu untuk menyebut bahwa album ini merupakan salah satu highlights dalam rentang karir PatD yang telah memasuki umur ke-12 tahun dan juga personal achievement untuk Brendon yang tetap berkeyakinan teguh untuk tetap membawa nama besar PatD dan mampu memikul tanggung jawab sangat besar yang dialamatkan kepadanya dan album ini adalah pembuktian Brendon bahwa PatD belum habis dan akan semakin melebarkan sayapnya.

Baca : Album Review: Chewing Sparkle – Hugger Mugger (EP)

Panic at the Disco 3

Panic at the Disco 2

 

 

 

mahasis(w)a semester dua digit, music digger, classic movie maniac, regular reader

Album Review: Shura – Nothing’s Real

Photo by: NME

Sebuah diari harian gadis nerd yang diramu dengan musik 80’s electropop 


Longlifemagz – Saya tak  pernah akan bisa melupakan sebuah kebetulan yang mempertemukan telinga saya dengan musik indah nan menghanyutkan dari seorang musisi electro-pop wanita yang menurut saya akan menjadi the next big thing, Shura. Tak pernah terbersit satu pun keraguan saat pertama kali mendengarkan salah satu lagunya yang bertitel “2Shy”, dimana dalam lagu yang bertempo agak sendu ini wanita keturunan Inggris-Rusia mampu langsung membius saya. Fyi, lagu tersebut bersama 2 lagu lainnya yang masing-masing berjudul “White Light” dan “Indecision” adalah lagu-lagu yang termasuk dalam mini albumnya, White Light, untuk kemudian dimasukkan lagi ke dalam one of the most anticipating albums in 2016, Nothing’s Real.

Ada semacam perasaan nostalgic yet magical ketika mendengarkan album ini. Wajar saja, karena saat anda mulai mendengarkan album ini maka anda seperti ziarah waktu dan dibawa ke suasana 80’s vibes dimana suara-suara dari synthesizer menjadi pondasi utama sebuah lagu, diikuti gitar yang minimalis dan drum machine tentunya dengan mengambil influence dari beberapa nama seperti Madonna, Janet Jackson, Prince. Namun, tetap di sisi lain tak menghilangkan sisi ke-modernitasannya dengan mengambil Blood Orange dan HAIM sebagai patokan. Ringan tapi memikat.

Baca : Album Review: Panic! at the Disco – Death of a Bachelor

Lagu-lagunya begitu terdengar lugu dan kadang menggebu seperti liriknya yang menceritakan keluh kesah lika-liku percintaan remaja dengan lugas, dimana ia melantunkan “if you’ve got feelings for me, you’ve got to speak honestly” dalam lagu “What’s It Gonna Be?”.  Dalam lagu ini, Shura yang memiliki nama asli Aleksandra Lilah Denton mencoba mengeluarkan curahan hatinya dengan dibalut musik yang cukup simpel dan danceable. Tapi tetap terdengar easy listening mengingatkan saya sekilas akan Carly Rae Jepsen ataupun Sky Ferreira.

Di beberapa kesempatan, terselip beberapa breakup song ala Shura yang cukup menyayat, di antaranya “Kidz N Stuff”, “What Happened to Us?”, “Nothing’s Real”. Overall, album yang memuat 13 lagu (termasuk sebuah secret track berjudul “311215”) ini tak bisa dipandang sebelah mata dan layak mendapat spotlight dan apresiasi karena Shura berhasil menampilkan musik 80’s pop revivalist  dengan ramuan yang pas, tidak ada yang dilebih lebihkan juga tidak berasa kurang. Dari segi lirik yang sebagian besar ia tulis sendiri juga tak ada masalah yang berarti, dengan lirik lirik yang mudah dicerna, ini akan memudahkan orang-orang yang mendengarnya menjadi semacam terkait dengan lagunya.

Baca : Album Review: The Trees and the Wild – Zaman, Zaman

Untuk anda yang mengalami insomnia, dan banyak deadline yang menghantui anda, maka rasakan kemagisan album ini di tengah malam hari dengan segelas susu hangat dan sebatang cokelat. You can thank me later.

 

 

mahasis(w)a semester dua digit, music digger, classic movie maniac, regular reader

Album Review: DDHEAR – Parahita (EP)

DDHEAR

Photo by: kasetlalu.com

 

Kolaborasi Dua Raksasa Indie Folk Tanah Air yang Menyejukkan


 

Longlifemagz – Bila disuruh menyebutkan siapa saja grup band beraliran indie folk lokal yang paling diperhitungkan, tak afdol rasanya bila tak menyebutkan nama Dialog Dini Hari dan juga Endah N Rhesa. Dua grup musik yang memang sudah cukup lama malang melintang di genrenya ini selalu mampu memberikan karya-karya yang mampu menenangkan jiwa dengan lagu-lagunya yang damai dan bisa dibilang ear-catching.

Namun, apa jadinya bila mereka berdua berkolaborasi ? Tentu saja hasilnya adalah sebuah album (mini album tepatnya) yang bisa dibilang sarat akan kualitas dengan judul Parahita. Mini album dari proyek yang dinamakan DDHEAR, yang merupakan akronim dari kedua nama band jika digabungkan ini berhasil menjawab ekspektasi dengan cukup baik dan secara musikalitas bisa dibilang unik dengan menghadirkan dua bassist dan dua gitaris yang secara style berbeda, ditambah dengan satu drummer.

Baca : Album Review : The Trees and the Wild – Zaman, Zaman

EP ini dibuka dengan lantang oleh nomor “Jangan Berhenti Engkau Bernyanyi” yang mengajak pendengarnya untuk terus bermimpi dan terus menggantungkan asa di tengah rintangan yang ada. Yang menjadi highlight dari lagu ini adalah bassline yang cukup ciamik dari Rhesa Aditya, dengan suara gitar yang saling mengisi antara Dadang SH Pranoto a.k.a. Pohon Tua dan Endah Widiastuti. Tidak salah rasanya jika lagu ini dipilih menjadi single pertama sekaligus perkenalan dengan “supergroup” ini.

Yang juga menarik dari EP ini adalah dua lagu lama yang kemudian coba diinterpretasikan ulang sesuai dengan karakter masing-masing band yang tergabung dalam proyek ini, salah satu diantaranya adalah “Temui Diri” yang asalnya adalah lagu dari Dialog Dini Hari yang termaktub dalam rilisan terakhir mereka, Tentang Rumahku. Meskipun begitu, interpretasi ulang ini menjadi agak sedikit berbeda dengan style ala Endah N Rhesa.

Baca : Album Review – Shura – Nothing’s Real

Lalu, di nomor selanjutnya ada “Terang, Berpijar Harapan” yang juga menjadi single kedua dari EP ini. Di lagu ini nuansa yang dihadirkan cukup melankolis dengan Brozio Orah yang berprofesi awal bassist dari Dialog Dini Hari, mencoba mengeluarkan kepiawaiannya memainkan piano ditambah sedikit bebunyian slide gitar dari Dadang. Liriknya pun membuat kita untuk mencoba meresapi lagunya saat mereka sedikit berfilosofis dalam bait “sederhana tanpa arti dan tak seindah puisi melipur sepi”.

Sebagai penutup perjalanan yang cukup singkat ini hadir sebuah repertoar yang tak asing buat penggemar Endah N Rhesa, yakni “Wish You Were Here” yang ada di album kedua mereka, Look What We’ve Found. Namun, apabila pada lagu “Temui Diri” yang dimainkan dengan style ala Endah N Rhesa, maka di tembang penutup ini, lagu ini dihadirkan dan digubah sesuai dengan style ala Dialog Dini Hari. Dimulai dengan denting nada piano yang murung kemudian diikuti permainan drum yang haunting lalu perlahan-lahan atmosfer lagu ini terbangun hingga akhirnya memudar dan berakhirlah petualangan indah bersama proyek kolaborasi yang tercipta dari sebuah festival di Bali ini.

 

 

mahasis(w)a semester dua digit, music digger, classic movie maniac, regular reader

FIND US ON

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.

 

Pin It on Pinterest