1


M Bloc: Ruang Urban Terjadinya Berbagai Gagasan dan Aktivitas Kreatif Generasi Milenial

Suasana M Bloc Space // Doc : @mblocspace


Longlifemagz – Setelah mengalami proses renovasi fisik selama lebih kurang empat bulan lamanya, M Bloc yang berlokasi di Jl Panglima Polim Raya No.37, Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan akhirnya mulai resmi dibuka untuk umum pada hari ini (26/9). Acara pembukaan resmi M Bloc akan dilakukan pada petang hari oleh Menteri Negara BUMN Rini Soemarno dan malam harinya akan dilakukan Grand Opening Party yang akan menampilkan Krontjong Toegoe, White Shoes and the Couples Company dan Glenn Fredly.

Proyek M Bloc ini mengalih-fungsikan lahan seluas 6.500 meter persegi milik Perusahaan Umum Percetakan Uang RI (Peruri), yang awalnya berfungsi sebagai komplek perumahan karyawan dan gudang tempat produksi uang yang sudah tidak beroperasi menjadi sebuah creative hub multi-fungsi bagi komunitas milenial. Proyek kreatif yang digarap oleh PT Ruang Riang Milenial ini berlokasi di sebagian area kantor Peruri yang terletak di kawasan Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Sebanyak 16 unit bekas rumah karyawan bergaya post-colonial berlantai dua yang telah eksis sejak dekade 1950-an ini akan dimanfaatkan sebagai shophouse oleh berbagai brand lokal ternama seperti Tokyo Skip Jack, Demajors, Beyoutiful, Kedai Tjikini, Mata Lokal, UnionWell, Titik Temu Coffee, Kebun Ide Gelato, Mr. Roastman, Rumah Lestari, Chickro, Suwe Ora Jamu, Mbok Ndoro, hingga Connectoon.

Sedangkan dua unit gudang bekas produksi uang berukuran sekitar 900 meter persegi yang berada di bagian dalam telah disulap menjadi restoran dan roastery bernama _Oeang serta M Bloc Live House, sebuah venue musik berkapasitas maksimal 350 orang yang digunakan untuk konser musik serta berbagai pertunjukan seni lainnya.

“Program reguler kami di M Bloc nanti nyaris setiap harinya menyuguhkan konser musik lintas genre dari artis-artis ternama dalam negeri atau band-band pendatang baru berpotensi yang terkurasi dengan baik. Jakarta di masa depan harus memiliki sirkuit musik lokal yang walaupun kecil namun mampu melahirkan nama-nama besar yang di kemudian hari bakal memenuhi stadion, salah satunya dimulai dari M Bloc. Kota ini juga berpotensi menjadi destinasi utama wisata malam musik di Asia Tenggara. Artis-artis dalam negeri maupun manca negara yang sedang menggelar tur konser kini memiliki rumah singgah untuk bermain di depan public Jakarta. Selain itu, kami sangat terbuka untuk berkolaborasi dengan berbagai stakeholder industri kreatif di tanah air,” ujar Wendi Putranto selaku Direktur Program M Bloc. 

Lokasi M Bloc sangat strategis dan mudah dijangkau oleh beragam jenis transportasi public. Berdekatan dengan kawasan niaga dan pusat perbelanjaan Blok M yang sekaligus diapit oleh dua stasiun MRT, yaitu Stasiun Blok M dan ASEAN. Pada sisi kiri bersebelahan dengan Terminal Bus Blok M dan pada sisi kanan terdapat terminal bus Transjakarta Koridor 13 yang melayani rute Ciledug-Tendean.

“Perum Peruri yang memiliki lokasi di tengah kota Jakarta, yaitu Kebayoran Baru, memiliki lahan-lahan luas yang perlu dioptimalkan. Melalui kerja sama dengan PT Ruang Riang Milenial, Peruri melakukan kerja sama optimalisasi aset menjadikan lahan tersebut sebuah creative hub dengan konsep-konsep yang baru. M Bloc merupakan wadah generasi milenial dan komunitas kreatif untuk saling berinteraksi, pertunjukan musik yang lebih intim, lebih dekat dengan para musisi yang dapat dinikmati setiap hari. Memberikan kesempatan kepada musisi-musisi baru untuk berekspresi agar menjadi lebih dikenal di Indonesia. Pada akhirnya saya berharap M Bloc ini akan dapat memberikan banyak manfaat, khususnya kepada generasi Milenial,” jelas Nungki Indraty, Direktur Keuangan Peruri.

“Kami sangat gembira dapat menjalin kolaborasi ini dengan Peruri. Dukungan dan antusiasme Peruri atas gagasan kami untuk membuka ruang publik kreatif di sebagian wilayah kantor mereka merupakan kontribusi besar bagi keberlanjutan kreativitas generasi milenial. Apalagi dengan mulai beroperasinya MRT, gaya hidup dan budaya baru akan bertumbuh, kota Jakarta sangat membutuhkan ruang publik yang mampu menjadi ruang ekspresi yang positif. Para milenial khususnya, membutuhkan ruang interaksi yang sifatnya kolaboratif untuk berkreasi dan eksis bersama.” ujar Handoko Hendroyono, Direktur Utama PT Ruang Riang Milenial.

“Sebagai Badan Usaha Milik Negara, Peruri dituntut tidak hanya memberikan keuntungan usaha yang maksimal bagi para stakeholders, namun juga memiliki kepekaan sosial dan kualitas lingkungan masyarakat dimana kami berada. Dengan didukung sinergi BUMN dan kolaborasi dengan pihak swasta dan berbagai komunitas kreatif, M Bloc hadir tidak hanya sebagai optimalisasi aset idle perusahaan namun juga menjadi solusi bagi kelangkaan wadah kreatif bagi anak muda di perkotaan. M Bloc berupaya menghidupkan kembali kawasan Blok M yang pernah berjaya sebagai pusat kegiatan kreatif anak muda Jakarta Selatan pada tahun 80-an sekaligus melestarikan arsitektur post-colonial Kebayoran Baru. Diharapkan M Bloc tidak hanya menjadi showcase bagi musisi-musisi muda berbakat dan brand-brand lokal yang potensial namun juga menjadi urban space atau ruang aktivitas kreatif tempat terjadinya dialog berbagai gagasan kreatif generasi milenial. M Bloc juga mendukung gaya hidup sehat milenial yang berwawasan lingkungan dan mendorong budaya baru penggunaan transportasi umum Jakarta yang sudah maju. Dari tempat bersejarah dimana Indonesia mencetak simbol kedaulatannya, terimalah M Bloc, persembahan Peruri bagi generasi milenial dan komunitas kreatif Indonesia,” ujar Direktur Utama Peruri Dwina Septiani Wijaya. 

Didi Kempot hingga Para Jenderal Musik Melayu Menjadi Penampilan Spesial di Synchronize Festival 2019

Suasana Konfrensi Pers di Beer Garden – SCBD // Doc : @synchronizefest


Longlifemagz.com — Dalam waktu kurang dari dua pekan, Gambir Expo Kemayoran, Jakarta, akan kembali dihadiri oleh puluh ribuan festival-goers Indonesia. Mereka akan merayakan musik Tanah Air lewat perhelatan Synchronize Festival 2019 yang tepatnya diselenggarakan pada 4, 5, dan 6 Oktober mendatang. Tercatat ada 131 musisi Indonesiayang telah diumumkan, lintas generasi, genre, dan daerah kelahiran yang siap untuk meramaikan. (25/09)

Memasuki edisi keempat Synchronize Festival, pihak penyelenggara yaitu demajors dan Dyandra Promosindo tetap konsisten menghadirkan deretan penampilan spesial yang pantang untuk dilewatkan. Bagi yang mengikuti sepak terjang festival ini sejak edisi perdananya, pasti masih ingat betul perasaan tak terbayarkan menyaksikan langsung sang raja Rhoma Irama beraksi di atas panggung. Ada pun di edisi kedua, giliran getaran meneduhkan dari legenda folk pop, Ebiet G Ade, hingga maestro jazz, Bob Tutupoly. Sedangkan di edisi ketiganya pada tahun lalu, Synchronize Festival mendatangkan reuni yang sangat jarang terjadi antara Dewa19 dengan Ari Lasso sekaligus Once Mekel.

Tahun ini daftar penampil Synchronize Festival juga memiliki daya kejut yang tak diantisipasi sebelumnya. Salah satunya datang dari nama sang veteran campursari, Didi Kempot. Musisi yang menjabat sebagai The Godfather of Broken heart ini siap memandu keluh kesah kehidupan percintaan ribuan penonton Synchronize Festival 2019.

Tidak hanya sang pelantun “Cidro” sebagai musisi berstatus legenda yang akan tampil di festival ini, konduktor kawakan, Erwin Gutawa, akan tampil dalam tema spesial yaitu membawakan karya-karya mendiang Chrisye dengan tetap menghadirkan vokal aslinya. Gitaris jazz Tanah Air, Jopie Item, pun akan tampil bersama kolektif gitaris andal Six Strings. Ada pula kehadiran sang vokalis bosanova veteran, Rien Djamain, yang akan berkolaborasi dengan penulis lagu teruji, Mondo Gascaro.

Dalam sektor bernostalgia, Synchronize Festival 2019 menembus di segala sisi. Clubeighties, band pop besar kelahiran ‘The School of Rock’ Institut Kesenian Jakarta, akan tampil bersama dua mantan personelnya yaitu Deddy Mahendra Desta dan Vincent Ryan Rompies. Sedangkan pasukan death metal nomor satu Indonesia, Deadsquad, akan merayakan album Horror Vision bersama drummer Andyan Gorust dan pemain bas Bonny Sidharta.

Di sisi lain, terdapat band-band yang merayakan usia eksistensi dari karya yang pernah mereka ciptakan. Unit new wave kebanggaan Ibu Kota, The Upstairs, akan tampil secara khusus membawakan album Energi. Solois folk asal Bandung, Adhitia Sofyan, akan merayakan satu dekade album Quiet Down. Begitu pula band post-rock asal Bekasi, The Trees and The Wild, yang akan mengenang usia 10 tahun karya perdananya yang lebih bernuansa folk bertajuk Rasuk.

Di Synchronize Festival 2019 juga akan datang melalui tren kebangkitan emo yang membuncah dalam setahun terakhir. Band-band berjaya di era 2000-an kembali dihidupkan dari alamnya, mulai dari Jakarta Flames, Too Late To Notice, The Side Project, Speak Up, Seems Like Yesterday, Killed By Butterfly, Killing Me Inside Reunion, Alone At Last, hingga pemandu pesta emo asal Jakarta bernama Dieunderdogg – Emo Revival.

Salah satu kehebatan Synchronize Festival memang menjadi titik temu tren musik Indonesia yang tengah dan pernah berlangsung. Jika Anda para penganut folk kopi senja, Syarikat Idola Remaja dapat menambah daftar penampil yang wajib Anda tonton. Bukan tanpa alasan, pasukan folk asal Bandung ini terbentuk dari gabungan band-band folk lain seperti Teman Sebangku, Mr. Sonjaya, Balaruna, Tetangga Pak Gesang, Parahyena, hingga Orkes Midaleudami. Sedangkan bagi Anda yang sangat antusias dengan meroketnya musik dangdut, koplo, hingga fangkot di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, nama-nama yang harus Anda ramaikan mulut panggungnya adalah Club Dangdut Racun, Feel Koplo, hingga Prontaxan.

Deretan penampilan spesial tidak berhenti sampai di situ. Salah satu yang menjadi pamungkasnya adalah kehadiran para Jenderal Musik Melayu yaitu Radja, Setia Band, Wali, hingga Babang Andika eks-Kangen Band. Mereka akan meramaikan pesta karaoke yang dipandu oleh sang pionir, Oom Leo Berkaraoke. Semua deretan penampilan spesial ini akan tersebar di Synchronize Festival 2019 selama tiga hari, bersama lebih dari 100 musisi Indonesia lainnya yang juga pantang untuk dilewatkan aksi panggungnya.

Kolaborasi Menjalankan Misi Green Movement di Synchronize Festival 2019 Seperti yang pernah disiarkan sebelumnya, edisi keempat Synchronize Festival menjadi wadah bagi seluruh pihak yang terlibat untuk menjalankan bersama misi Green Movement. Dengan tema ‘Memanusiakan Alam, Mengalamikan Manusia’, seluruh penonton, pengisi acara, hingga anggota penyelenggara dapat menunjukkan kepeduliannya akan hubungan manusia dengan manusia, juga manusia dengan alamnya. “Kini, Synchronize Festival tak hanya menjadi sebuah perayaan musik Indonesia, tetapi juga pergerakan budaya urban dan populer. Selaras dengan jargon yang selalu dipegang teguh; bukan sekadar festival, tetapi juga sebuah pergerakan. Dimulai dari diri kita sendiri, dan bersama-sama untuk tetap melihat bumi kita di masa depan” Jelas David Karto, selaku Festival Director Synchronize Festival.

Misi ini merupakan salah satu alasan platform kredit digital terkemuka di Indonesia, Kredivo, untuk berpartisipasi sebagai Paylater App Partner mendukung Synchronize Festival. “Kredivo dan Synchronize Festival memiliki semangat yang sama untuk menggerakkan dan mengedukasi kaum milenial dengan cara yang berbeda namun menyenangkan dan musik terbukti menjadi media yg efektif untuk menyuarakan aspirasi,” ujar Indina Andamari, Head of Marketing Kredivo.

Selain itu, Authenticity juga turut berpartisipasi dengan Green Movement yang diinisiasi oleh Synchronize di area. Akan ada Anak-anak muda yang menjadi volunteer peduli sampah, penampungan puntung rokok yang akan diolah menjadi finish good yang bermanfaat, edukasi pengolahan sampah, dan masih banyak lagi. “Authenticity akan menjadi wadah dimana tiap orang dapat memperlihatkan keunikan mereka, dan mengekspresikan diri sebebas-bebasnya, Authenticity selalu membawa pesan dan mendorong kaum muda millenials di berbagai daerah di Indonesia yang creative, passionate, uptodate, dan open minded agar selalu berkarya dan menginspirasi dengan memaksimalkan apa yang ada pada diri mereka” jelas Anes Rembes.

Ada pun aktivitas-aktivitas yang dapat dilakukan oleh seluruh pihak dalam Synchronize Festival 2019 demi memenuhi misi Green Movement, mereka adalah: Crowdsourcing Project: Sebuah proyek terbuka bagi para penonton untuk mengirimkan pakaian (berwarna) bekas pakai yang masih layak untuk digunakan. Pakaian ini akan dijadikan sebuah instalasi karya di District Stage, yang kemudian akan didonasikan kepada khalayak membutuhkan. Upcycling Project: Sebuah upaya demi menyiasati pengolahan bahan bekas promosi seperti umbul-umbul maupun baliho bekas untuk dijadikan sebuah produk dengan nilai tambah. Bring Your Own Tumbler: Penonton diperbolehkan membawa botol minuman yang dapat diisi di water refill station yang akan disediakan oleh pihak penyelenggara. Penonton hanya perlu membayar seikhlasnya agar tetap menghargai nilai dari air yang telah disediakan. Bike to Synchronize Festival: Sebuah kegiatan bersepeda bersama menuju Synchronize Festival 2019. Seluruh pihak yang ingin mengikuti kegiatan ini, dapat bertemu di Plaza Blok M pada pukul 15:00 WIB sebagai titik kumpulnya. Pihak penyelenggara akan menyediakan area parkir khusus dan loker penyimpanan khusus bagi para pesepeda. Selain menyediakan water refill station dan bike parking area demi memenuhi misi Green Movement, Synchronize Festival 2019 juga akan menyediakan fasilitas-fasilitas lain untuk seluruh penonton seperti difabel viewing area & toilet, kids & nursery room, movie area, record market, merchant area, dan food & beverage area. Green Power Electricity: Seluruh kebutuhan listrik Synchronize Festifal 2019 dengan total 2,7 juta Volt Ampere (VA) ini menggunakan sumber listrik yang ramah lingkungan dari PLN, dan tidak lagi menggunakan generator set. Sehingga tidak ada polusi udara maupun polusi suara di lokasi acara.

Exclusive Merchandise dan Kemudahan Pembelian Tiket & Transaksi di Synchronize Festival Synchronize Festival 2019 bekerjasama dengan Rusushop juga menginisiasi kolaborasi menarik dalam bentuk merchandise. Terdapat delapan merchandise hasil kolaborasi delapan musisi dengan delapan seniman yang patut untuk dimiliki diantaranya Tuan Tigabelas x Bujangan urban; Efek Rumah Kaca x Adi Dhigelz; Oomleo Berkaraoke bersama Radja, Wali, Setia Band, Babang Andika x Oomleo; Pamungkas x Kobelita; Reality Club x alienpang; Ardhito Pramono
x Rifky Krismon; Didi Kempot x Ahmad Oka (Wirosatan); dan Frau x Ika Vantiani. Merchandise bisa didapatkan di area merchandise booth selama 3 hari pelaksanaan festival.

Dengan didukung penuh oleh Kredivo, tiket.com, Authenticity, OVO dan PLN, Synchronize Festival tahun ini akan memberikan pengalaman baru menikmati festival musik.

Aji Wicaksono, Senior Brand Manager OVO menjelaskan dukungan di perhelatan festival musik ini. “Dalam ajang ini, OVO menghadirkan promo menarik bagi pengunjung berupa cashback 30% untuk merchant di Synchronize Festival. Sebagai platform pembayaran dan layanan digital terdepan di Indonesia, OVO berharap dapat memberikan kemudahan dan keseruan saat menikmati festival musik ini, lewat pembayaran non-tunai yang saat ini semakin diminati.”, jelasnya.

Kesempatan menonton Synchronize Festival masih tersedia dengan melakukan pembelian tiket melalui situs resmi www.synchronizefestival.com. Beberapa kategori tiket yang masih dapat di beli diantaranya: KATEGORI 3 DAYS PASS Regular Rp500.000, DAILY PASS – Rp250.000, On The Spot 3 DAYS PASS (4-6 Oktober 2019) Rp685.000, On The Spot DAILY PASS Rp350.000.

Serta calon penonton juga dapat membeli tiket harga khusus melalui tiket.com. Pada Synchronize Festival tahun ini, tiket.com bekerja sama sebagai Official Flight & Hotel Sponsor. Tiket.com akan membuat gerakan CSR yang akan melibatkan instalasi karya Diela Maharanie, seorang illustrator kawakan yang membuat sebuah karya instalasi kreatif. Instalasi ini menceritakan tentang pentingnya menjaga kelestarian alam. Karya ini nantinya bisa kita nikmati langsung di booth tiket.com dalam perhelatan Synchronize Festival. Sampai jumpa di Synchronize Festival 2019.

It’s Not Just A Festival, It’s A Movement!

Mahasiswa Ilkom USM Kenalkan Potensi Sepakung Lewat “Sepakung Coffee Days”

Doc : Imam Supriono

Mahasiswa Ilkom USM Kenalkan Potensi Sepakung Lewat “Sepakung Coffee Days”


SEMARANG – Ditengah hingar bingar perhelatan pensi Semarang, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Semarang malah memilih untuk banting setir. Tepat pada Sabtu, 15 Desember, Mahasiswa Fakultas Teknologi dan Ilmu Komunikasi Universitas Semarang sukses membuat sebuah kegiatan yang bertajuk “Sepakung Coffee Days: Will you Coffee Me?”. Seperti namanya, Sepakung Coffee Day sendiri dibuat lantaran mereka melihat bahwa Sepakung adalah sebuah desa wisata yang memiliki potensi bagus di industry kopinya. Dihelat di Teko Deko Koffiehuis, Kota Lama Semarang, kegiatan yang digelar pada jam 3 sore itupun cukup ramai dijubeli anakmuda khususnya yang tertarik dengan dunia kopi.

BACA : ELEPHANT KIND SAMPAI THE LIBERTINES MERIAHKAN HODGEPODGE SUPERFEST HARI PERTAMA

“Jadi sebenarnya ini adalah sebauh campaign dari kami (Mahasiswa USM, red) terhadap sebuah desa wisata yaitu Sepakung. Kami melihat bahwa Sepakung memang memiliki potensi yang cukup bagus di industry kopinya. Mereka punya kopi Arabika yang ditanam di ketinggian tanah 1.450 mdpl. Tapi sayangnya nggak banyak yang tahu tentang itu. Jadi kenapa nggak kita kenalkan ke masyarakat,” kata Eza Desinta, project leader Sepakung Coffee Days.

Doc : Imam Supriono

Ditambahkan oleh Eza, bahwa Sepakung yang terletak di Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang ini memang tak bisa dipungkiri masih jauh dari awareness masyarakat luas. Padahal kurang lebih sudah 3 tahun sejak 2015, Sepakung di daulat sebagai desa wisata oleh Kabupaten Semarang. Pun inilah salah satu yang menjadi alasan bagi mahasiwa Ilkom USM untuk menjalankan niat suci mereka.

BACA : ALL TIME LOW AKHIRI FESTIVAL MUSIK HODGEPODGE SUPERFEST 2018

Adapun kegitan yang dilakukan dalam helatan Sepakung Coffee Days sore itu. Pun yang cukup mencuri perhatian adalah Cupping Coffee sekaligus workshop kopi yang dipandu oleh Bayu Angga. Semua yang hadir langsung khusuk begitu sesi workshop dimulai. Perlahan Bayu yang juga seorang mantan barista di salah satu café di Semarang dan Solo memberikan petuahnya. Dengan v60 yang ia gunakan, satu persatu kopi pun dihasilkan dan dibagikan kepada pengunjung yang hadir. Tak mau ketinggalan juga, Kepala Desa Sepakung, Ahmad Nuri yang turut hadir bersama rombongan sore itu juga ikut mencicipi.

Selain membuat kopi, kegiatan lainnya seperti give away berhadiah kopi Sepakung, pemutaran VT, pameran foto topografi Sepakung oleh Pengky Soe hingga sambutan-sambutan dilakukan. Foto bersama pun menjadi penutup acara. Diharapkan, bahwa Sepakung Coffee Days tak hanya selesai di 15 Desember saja. Tapi ada juga project selanjutnya yang lebih dari itu. Selain itu, juga semoga dengan digelarnya Sepakung Coffee Days, setidaknya menambah ketertarikan masyarakat terhadap Sepakung dan segala kearifannya.

Doc : Imam Supriono

“Kami sangat berharap terhadap teman-teman semua, untuk ayo bareng-bareng kita buat perubahan dari hal paling sederhana. Paling gampangnya adalah ikutan support satu sama lain. Harapan lainnya sih, semoga Sepakung dengan segala kearifan lokalnya bisa dikenal oleh masyarakat yang lebih massif,” pungkas Eza.

Doc : Imam Supriono

“Kalau untuk cerita tentang Sepakung akan jadi lama ya. Bisa dua hari hehehe. Hanya saja, untuk informasi, kami baru saja membuat brand kopi namanya Jakung Coffee. Dan harapannya bisa dikenal, serta banyak yang suka. Maka dari itu, saat ini kami juga sedang focus mengelola promosi Sepakung,” imbuh Ahmad Nuri, Kepala Desa Sepakung.

Tak hanya memiliki Kopi, Sepakung juga memiliki kekayaan alam yang sangat amat luar biasa. Pemandangan yang masih hijau dan asri, akan membuat siapapun betah berlama-lama disana.

More Information
082136135924
mailtomamsu@gmail.com

 

 

Get up Stand up : Perlawanan dalam Musik

Doc : bbc.com

Sebenarnya, apakah ada musik yang mampu menciptakan perubahan sosial? Atau jangan-jangan musisi menciptakan protest song hanya ingin terlihat intelektual?


Longlifemagz – Sesungguhnya tidak ada apa yang dinamakan sebagai lagu protest song atau kalau memaknai Guruh Soekarnoe Putra dalam video yang diunggah oleh sound form the corner tidak boleh memakai bahasa asing, Sesungguhnya tidak ada apa yang dinamakan sebagai lagu protes sosial.

Tentang ini, Bob Dylan, musisi yang bisa dikatakan sebagai bengawan dalam urusan ini, mengatakan beberapa saat sebelum menyanyikan “Blown’ in the Wind” untuk pertama kalinya, “This here ain’t a protest song”. Rekan seangakatan Dylan, Joan Baez, yang paling kita kenal karena menyanyikan lagu-lagu tentang perjuangan persamaan hak-hak sipil serta anti Perang Vietnam juga mengatakan bahwa, “I hate protest songs, but some songs do make themselves clear”

Bahkan banyak orang yang curiga dengan musik protes sosial. Tom Robinson, seorang penulis lagu-lagu politis yang juga terkenal di dekade 1970-an, mengemukakan kecurigaan bahwa jangan-jangan orang menulis protest song hanya untuk “peddle your second-rate pop music or peddling your second-rate political ideals on the back, of your political carrer.” Atau jangan-jangan musisi menulis lagu-lagu protes sosial hanya ingin dianggap pintar, dan mengutip isitilah netizen Indonesia, hanya ingin eksis belaka.

BACA : PERJALANAN AWAL INDUSTRI MUSIK INDOENSIA

Indonesia, sebagai negara dunia ketiga dengan jumlah penduduk yang sangat majemuk, tidak terlepaskan juga dengan apa itu yang dinamakan lagu-lagu protes sosial. Hampir tidak ada musik protes sosial yang gagal secaara artistik. Jawabanya sebenernya sederhana: karena lagu protes sosial adalah musik pop yang bagus.

Komposisi-komposisi mutakhir pop yang berisi social commentary seperti Efek Rumah Kaca atau musik Rap dari Homicide atau bahkan Pandji Pragiwaksono adalah musik-musik dengan komposisi nomor wahid yang tidak akan pernah mati di gerus zaman.

Saya tidak akan pernah bisa berhenti mengamini  semua lagu-lagu yang diciptkan oleh Bob Dylan, Joan Baez, Efek Rumah Kaca atau bahkan Merah Bercerita. Namun rasa penasaran saya tentang protest song lebih besar kepada seorang musisi yang selalu membawa perdamaian, entah itu karena musiknya atau ideologinya yang tidak terlihat namun terasa dimana-mana.

BACA : SWEET SEVENTEEN THE UPSTAIRS

Siapa yang tidak kenal dengan Robert Nesta “Bob” Marley, sebagai seseorang yang lahir dari rahim seorang budak kulit hitam, Bob Marley tidak akan pernah lepas dengan kata ‘Perjuangan’. Ketimpangan kelas sosial yang sangat tajam dalam masyarakat Jamaika menjadikan alasan dalam kata perjuangan itu.

Tapi saya tidak akan menceritakan bagaimana Bob Marley besar dengan segala karya, pengaruh ia terhadap masyarakat, atau bahkan dengan Rastafaria yang ia imani.

Doc : rosshalfin.com

Saya bukan penikmat musik Bob Marley yang sangat fanatik, saya tidak berambut gimbal, atau bahkan saya bukan seseorang yang vegetarian. Namun, lagu dalam album Burnin’ yang bertajuk “Get Up Stand Up” membawa saya kedalam pemahaman bahwa musik bisa menjadi sebuah alat perlawanan hingga saya harus menuliskan artikel ini.

“get up stand up, stand up for your right!
get up, stand up, don’t give up the fight!

Demikian sebuah penggalan lirik dari salah satu lagu tersebut. Lagu yang dirilis pada tahun 1973 dan menjadi lagu terlaris di album Burnin’. Versi semua orang yang mengimani Bob Marley sebagai “Nabi”, lagu ini sering dibawakan oleh Marley di tengah-tengah masyarakat kelas bawah Jamaika. Lagu ini merupakan representasi perlawanan masyarakat kulit hitam terhadap segeregasi dan diskriminasi rasial. Selain itu, lagu ini juga mengambarkan karakter Marley yang menganut ajaran Rastafarian.

Penindasan memang marak terjadi pada mereka, bahkan aturan Jim Crow di amerika serikat berkumandang pada tahun 1876 yang tujuannya adalah membatasi orang-orang kulit hitam untuk menikmati fasilitas publik. Fasilitas yang diberikan oleh mereka lebih jelek dibandingkan dengan orang-orang kulit putih. Lebih tragisnya, mereka dipinggirkan dari kehidupan modern.

Kembali ke persoalan protest song, aliran musik yang diusung oleh Marley dalam lagu ini membuat cita rasa ‘Seruan terhadap gerakan” menjadi kian nikmat,santai, dan tidak ada gejolak yang tinggi dalam sebuah gerakan.

Marley menggambarkan masyarakat kulit hitam yang tertindas dalam lagu ini dalam liriknya; “I know you don’t know, what life is really worth.” Mereka benar-benar tidak tahu bagaimana hgarus hidup dengan layak. Mereka dibawa dari Afrika menuju Amerika dan dijadikan budak bagi orang-orang kulit putih.  Mereka dijadikan barang dagangan, dijadikan sebagai media pertunjukan layaknya binatang sirkus. Jika berontak terhadap majikannya, mereka seketika dianggap kriminal dan pantas untuk dibunuh.

BACA : ANTARA MOSHING, UNDERGROUND, DAN BUTA MAKNA

Tapi apa yang lebih indah dari itu, bahwa Marley membantah anggapan bahwa “jangan-jangan musisi menulis protest song karna ingin dilihat pintar atau bahkan ini hanya ada kepentingan belaka”. Marley bukan lagi musisi kelas teri, ia berhasil menagkap semua permasalahan yang ada di sekitar, bahkan dirinya sendiri dan dikemas menjadi sebuah lagu atau sajak yang bisa saja meng-gugah bagi pendengar. Sampai mungkin pendengar berkata, “anjir, gue banget nih lagu”.

Satu hal yang harus kita sepakati, bahwa dari lagu ini saja banyak sesuatu edukasi yang kita ambil –khususnya musik sebagai gerakan sosial. Belum lagi, kita mengkaitkan lagu ini kepada lagu berikutnya yang juga diciptakan oleh Bob Marley –Redemption Song- pada tahun 1980 yang mungkin saja diulas untuk artikel berikutnya.

Untuk selanjutnya, apakah Get Up Stand Up, Redemption Song, dan lagu lain yang diciptkan Bob Marley untuk menuntut kesetaraan berhasil atau tidak, kita harus kembalikan lagi terhadap bagaimana perlawanan yang sesungguhnya terjadi. Menurut saya, musik ini menjadi pengikat, atau di ibaratkan bensin yang mampu membakar semangat perjuangan dalam suatu gerakan sosial.

Pahlawan – pahlawan Indonesia, seperti Merah Bercerita, Efek Rumah kaca juga tidak pernah berhenti menyuarakan kegelisahan mereka terhadap penegakan HAM entah itu berupa lagu atau aksi langsung mereka turun kejalan misalnya. Tapi setidaknya, lagu-lagu yang mereka ciptakan menjadi notif bagi para penguasa.

Mungkin hal ini yang saya selalu tanamkan bagi diri saya, bahwa musik tidak hanya sekedar media hiburan namun juga menjadi bagian komunikasi yang pastinya terdapat pesan didalamnya, terserah pesan apa saja, cinta, politik, kesetaraan gender, atau bahkan kampanye.

Saya sepakat dengan beberapa anggapan dari Taufiq Rahman sebagai pengamat musik yang luar biasa, bahwa musik tidak hadir di ruang kosong. Musik secara intrinsik tidak ada yang baik dan buruk, hanya subjek yang bisa memberi makna makna. Musik, sebagaimana produk budaya lain, menjadi cermin dari masyarakat yang melingkupinya. Dan musik bisa menjadi alat protes sosial atau agen perubahan hanya ketika subjek pendengarnya memberinya makna dan menginginkannya menjadi musik protes sosial.


Refrensi :

  1. Jude Wanniski, “Tim Russett Interview with Farrakhan, NBC – Meet the Press” (www.polyconomics.com/memos/mm-970416/, diakses 18 – November – 2018, 1997).
  2. Lokasi tidak ditemukan: Mencari Rock and Roll sampai 15.000 Kilometer

 

 

ALL TIME LOW AKHIRI FESTIVAL MUSIK HODGEPODGE SUPERFEST 2018

Doc : Longlifemagz

All Time Low menguasai panggung utama Supermusic Stage dan membuka penampilannya dengan lagu “Damned If I Do Ya (Damned If I Don’t)“.


LonglifemagzHodgepodge Superfest 2018 resmi berakhir. Festival multi-genre yang di selenggarakan selama 2 hari dari 1 sampai 2 September 2018 diakhiri oleh penampilan grup musik asal Amerka, All Time Low. Selain All Time Low, hari terakhir Hodgepodge Superfest 2018 dimeriahkan oleh Gallant, Lil Yachty, Cloud Nothings, The Hunna, Tayla Parx, Park Hotel, Kid Francescoli, The SIGIT, The Brandals, Rendy Pandugo, Endah N Rhesa Extended, Tomorrow People Ensemble x Eka Annash, Pee Wee Gaskins, Onar, SoftAnimal, dan M.A.t.S.

BACA : RAISA PECAHKAN SUASANA SCOOTER 2018

Di sore hari, Tomorrow People Ensemble x Eka Annash menampilkan lagu-lagu David Bowie dan mempersembahkan lagu Heroes untuk para atlet di Asian Games.Walaupun sempat terhentikan karena cuaca, penampilan Gallant di Supermusic Stage tetap memukau dengan vokalnya yang kuat. Bahkan, saat menyanyikan lagu andalannya Weight in Gold, Gallant sempat turun panggung dan bersalaman dengan fansnya.Tidak basa basi, selesainya Gallant tampil, Rendy Pandugo menaiki panggung CBN Stage dan pengunjung pun memenuhi area panggung tersebut dan bernyanyi bersama Rendy.

Menjelang pukul 11 malam dimana grup musik asal Amerika, All Time Low dijadwalkan terdengar lagu Indonesia Raya dan pengunjung diminta untuk menyanyikan lagu kebangsaan negara Indonesia sambil menunggu All Time Low menaiki panggung. Tidak lama kemudian, All Time Low menguasai panggung utama Supermusic Stage dan membuka penampilannya dengan lagu “Damned If I Do Ya (Damned If I Don’t)“. Alex Gaskarth, vokalis All Time Low cukup aktif berbicara dengan penggemarnya dari atas panggung. Karena sudah 5 tahun lamanya All Time Low terakhir ke Jakarta, Alex bertanya kepada para penggemarnya apa yang telah mereka lakukan selama 5 tahun tersebut.

Menjelang akhir penampilannya, All Time Low sempat mengibuli penggemarnya dengan keluar dari panggung diwaktu yang cukup lama. Hustlers, sebutan untuk para penggemar All Time Low memanggil mereka untuk kembali ke atas panggung dengan menyanyikan lagu andalan mereka, “Dear Maria, Count Me In“. Tidak lama kemudian, Alex Gaskarth, Jack Barakat, Zack Merrick dan Rian Dawson kembali ke atas panggung. Saat menampilkan lagu terakhir, sang gitaris, Jack Barakat turun dari panggung dan membuat penggemar mereka histeris.

Doc : Longlifemagz

Hodgepodge Superfest 2018 resmi berakhir, festival multi-genre tahun pertama ini ternyata dikunjungi oleh beragam orang mulai dari warga lokal sampai warga asing. Java Festival Production akan kembali menghibur masyarakat pada 1 – 3 Maret 2019 untuk merayakan 15 tahun Jakarta International Java Jazz 2018.

 

 


FIND US ON

[et_social_follow icon_style="slide" icon_shape="circle" icons_location="top" col_number="auto" custom_colors="true" bg_color="#a70a0d" bg_color_hover="" icon_color="" icon_color_hover="" outer_color="dark"]

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.