1


43 TAHUN SEJARAH NASIDA RIA, DAKWAH DENGAN RIANG GEMBIRA

Photo doc lagu-qosidah.blogspot.com.

 “Nasida itu kan nyanyian, ria itu gembira. Dalam hal ini kita Nasida Ria berdakwah melalui musik, dengan nyanyian riang gembira,” ujar Rien Jamain.


 

Longlifemagz – Siang itu Nasida Ria sedang latihan rutin, untuk persiapan pentas mereka disalah satu event di Demak. Latihan didalam kediaman Gus Choliq Zain, yang tak lain merupakan basecamp dari mereka sekarang. Dibagian depan kediamannya, disulap menjadi Warung Soto, “Kami membuka usaha ini sekaligus menambah-nambah pemasukan,” beliau bercerita membuka obrolan kala itu.

Terlihat disana terdapat sekitar delapan orang pengunjung tampak sedang asyik menyantap soto. Sebagian dari mereka ada pula yang sudah selesai menikmati, dan berbincang hangat sembari menikmati teh yang masih sedikit tersisa.

Empat orang dari kami, tim Longlife Magazine, datang meliput langsung aktivitas dari Nasida Ria. Kami menikmati suguhan kopi hitam yang telah disediakan sembari berbincang banyak dengan Gus Choliq Zain, yang saat ini merupakan manager dari Nasida Ria, sekaligus anak dari (Alm) H. Muhammad Zein, penggagas Nasida Ria awal kali terbentuk.

Kini Nasida Ria memang sedang sibuk-sibuknya. Selain jadwal pentas yang padat, nantinya mereka juga akan mengeluarkan album baru ditahun ini.

Awal Mula

Adalah Nasida Ria, grup musik qosidah modern yang sudah berdiri sejak 43 tahun silam, tepatnya tahun 1975. Ide untuk membuat grup ini datang dari (Alm.) H. Muhammad Zein sebagai medium berdakwah dalam menyiarkan ajaran islam.Muhammad Zein atau Bapak Zein adalah guru di Departemen Agama (DEPAG) dibagian seni membaca Al-qur’an. Beliau pendidik agama sekaligus orang yang gemar berkesenian, dalam bidang musik. Beliau melihat musik sebagai bagian dari seni, dijadikan medium untuk menyebarkan syiar agama. Hal ini sudah dilakukan beliau bersama grup As-Syabab, grup yang memainkan musik gambus (padang pasir) dan melantunkan syiar Islam, berbahasa Arab.

Mempunyai pondok pesantren, Pak Zein mengajarkan ajaran Islam, mulai dari membaca Al-qur’an sampai Qira’at kepada murid-muridnya. Tidak hanya terfokus di Kota Semarang, beliau juga berkeliling ke kota-kota sekitar Jawa Tengah mulai dari Magelang, Batang, sampai Pekalongan.

Mengaji adalah satu pelajaran yang wajib ditekuni oleh setiap muridnya, sampai benar dalam lafal. “Setiap Jum’at pagi kita membaca Al-qur’an,” ujar Rien Jamain, salah satu anggota awal Nasida Ria yang masih bertahan hingga saat ini. Selain itu etika sebagai muslim juga digenjot sebagai pegangan dalam bersikap dan berpikir. Dalam pembinaan itu dikasih kegiatan bermusik. “Kita dibimbing dan diberikan pelajaran mengaji, seni, dan musik,” ia melanjutkan kisahnya.

Dalam menjalankan rutinitas mendidik di berbagai kota, Pak Zein melihat potensi murid-muridnya dalam membaca Al-qur’an, Qira’at, dan juga bermusik. Dikumpulkanlah murid-murid di pondok pesantrennya, di Jalan Kauman Mustaram No. 58, Semarang.

Pak Zein perlahan tapi pasti mulai membimbing murid-muridnya untuk menyanyikan dan memainkan lagu Arab, gambus, bernuansa padang pasir. “Dulu awal-awal masih pakai rebana,” kata Gus Choliq Zain.

Seiring waktu, potensi murid-muridnya makin terlihat dalam mensyiarkan agama melalui musik, diciptakanlah sebuah grup qosidah, dengan nama Nasida Ria. “Nasida itu kan nyanyian, ria itu gembira. Dalam hal ini kita berdakwah melalui musik, dengan nyanyian riang gembira, ujar Rien sedikit berfilosofis ketika ditanya mengenai ihwal awal mula nama grupnya tersebut.

Maka berdirilah Nasida Ria, dengan 9 personil wanita didalamnya, Mudrikah Zein, Muthaharah, Rien Jamain, Umi Khalifah, Musyarrofah, Nunung, Alfiyah, Kudriyah dan Nur Ain.

Hingga memasuki tahun 1978, mereka merilis album “Alabadil Makabul”. Berisikan lagu-lagu yang kental akan nuansa Arab dan musik padang pasir, melambungkan nama Nasidaria hingga makin dikenal masyarakat.

Belakangan Nasida Ria mengalami perubahan, baik itu dalam penggunaan bahasa yang dipakai didalam syair. “Kita gunakan bahasa Indonesia, lugas dan merakyat, agar lebih mudah tersampaikan,” terang Gus Choliq. “Sampai musik yang sebelumnya kental akan irama gambus (padang pasir), kita kembangkan lagi” beliau menambahkan. Bertambahlah instrumen baru berpadu-padan dengan qosidah, mulai dari gitar, kendang, bass, organ, sampai biola. Warna musik ini menghasilkan perpaduan unik, yang hanya dimiliki oleh Nasida Ria.

 

Perjuangan Musik dan Dakwah Nasida Ria

Jalan mulus tidak langsung ditemukan dalam karir Nasida Ria, walau mereka mempunyai tujuan baik dalam bermusik. Pertentangan kian muncul dipermukaan. Banyak yang mempertanyakan jalan yang diambil dari Nasida Ria “Yang nyanyi kok perempuan? Berdakwah kok melalui musik?”

Dengan keseluruhan personil yang terdiri dari perempuan dan tampil bermusik didepan publik. Belum lagi sistem patriarki yang masih dominan dipercaya kala itu yang masih belum terlalu banyak menampilkan wanita di ruang publik dalam konteks bermusik. Ditambah dengan stigma usang tentang perempuan yang harus mengurus rumah tangga dan anak semakin menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat yang masih memandang sinis terhadap apa yang mereka lakukan.

Namun atas keteguhan prinsip, iktikad yang baik, dan dukungan dari berbagai pihak, “Banyak juga kiai-kiai yang mendukung ,“ ujar Gus Choliq, Nasida Ria tetap memilih jalannya. “Yang penting tujuan kita berdakwah,” Gus Choliq menambahkan dengan yakin.

Nasida Ria dalam proses bermusiknya mengalami transformasi dari gambus menuju qosidah modern. Hal ini bermula dari sumbangan alat musik organ, gitar dan juga drum dari Imam Suparto (Walikota Semarang pada saat itu). Selanjutnya, Rien bercerita bahwa instrumen kembali berubah setelah ada guru dari RRI (Radio Republik Indonesia) Semarang yang mengajari mereka bermain biola. Seterusnya drum dihilangkan, hingga terbentuklah format bermusik mereka seperti sekarang ini dalam bentuk qosidah modern.

Untuk menunjang keberhasilan mereka berdakwah melalui musik, latihan terus dilakukan untuk menghasilkan karya yang bagus. Gus Choliq mengatakan personil Nasida Ria jika sudah menguasai satu alat musik, harus bisa juga memainkan instrumen lainnya. Setiap pergantian lagu ada personil yang digilir bermain dengan posisi yang berbeda. “Kondisional tergantung kebutuhan dari lagu tersebut,” Rien mengiyakan.

Setidaknya atas ketekunan mereka hingga kini selebihnya sudah 34 volume album yang dikeluarkan Nasida Ria, dengan total kurang lebih 300 buah lagu yang diciptakan.

Baca :

Benci Tapi Rindu, Perjalanan Dangdut Yang Berliku

Raja Dangdut, Polemik Dakwah, Musik, dan Goyang

Sederet lagu Nasida Ria, masih terus diputar mulai dari televisi, radio, dari rumah ke rumah, sampai acara-acara pengajian maupun pernikahan. Lagu “Pengantin Baru” yang terdapat dalam volume ke-4, album “Sholawat Nabi”, masih menjadi themesong dalam hajatan pernikahan. Tilik volume ke-5 dari Nasida Ria, album “Perdamaian”, terdapat nomor-nomor yang kian memperkenalkan Nasida Ria dalam lingkup nasional. Seperti lagu “Perdamaian”, yang pada medio 2000-an dinyanyikan ulang oleh band Gigi. “Kota Santri” turut pula dicover ulang oleh beberapa musisi, salah satunya Anang Hermansyah dan Ashanty.

“Dia (Pak Zein) nulis lagu ‘Kota Santri’, sambil jualan bensin eceren. Nah ada situasi santri-santri Kaliwungu (Semarang) itu ngaji. Jadilah itu lagu,” kenang Zain seraya tertawa kecil. Lirik lagu “Kota Santri” yang sederhana, dan dekat dengan realita, membuat lagu tersebut masih terasa relevan dan terus dinyanyikan sampai sekarang.

Nomor-nomor lainnya, tidak kalah terkenal dan bagus untuk didengar. Sebut saja “Mashitoh Indonesia” (Vol 10 – Dunia Dalam Berita), “Tahun 2000” dan “Jangan Jual Ginjalmu” (Vol. 12 – Rumahku Surgaku) , “Bom Nuklir” (Vol. 14 – Anakku), “Keadilan” (Vol. 18 – Keadilan), sampai “Nabi Muhammad Mataharinya Dunia” (Vol. 24 – Nabi Muhammad Mataharinya Dunia).

Lagu dan liriknya, banyak diapresiasi oleh publik, salah satunya oleh media Vice Indonesia. Tidak hanya kental akan dakwah, Vice Indonesia melalui artikel yang dimuatnya menyatakan lirik-lirik Nasida Ria lekat akan nilai futuristik. Rien merasa dulu dia juga tidak mengira bahwa lagu-lagunya akan seperti itu, menjadi suatu fenomena yang benar-benar terjadi didalam masyarakat. ”Terkadang saya ketika merenung sampai merinding mengapa lagu- lagu Nasidaria benar-benar menyentuh dalam kehidupan” ucap Rien merespon fenomena tersebut.

Selain Zain, Abu Ali Haidar alias KH. Ahmad Bukhari adalah salah satu pencipta dari lirik-lirik yang terkandung dalam Nasida Ria. “Sangat cemerlang banget itu bapak Ali Haydar, kadang mengambil dari Umi Kalsum sama Bapak Zein (Alm) kadang bahasa Arab di Indonesiakan, kadang idenya lahir sendirinya dari realita disekitar” Rien berujar dengan penuh kagum. Dia bercerita lagu-lagu yang diciptakan Abu Ali Haidar tersebut hadir atas renungan-renungan yang ia lakukan.

Pernah pada suatu waktu Abu Ali berkata ke Rien “Mbak Rien, besok tak buatkan lagu dari mempertanyakan, sopo ngerti (siapa yang tahu), siapa yang bilang?. ”Eh jadi lagu Siapa Bilang,” kenang Rien. Lagu yang mempertanyakan dan melawan wacana bahwa anak muda telah merosot akhlaknya.

Tidak hanya menyebarkan syiar agama, lirik lagu Nasida Ria juga humanis, peka akan realita dan isu-isu disekitar. Bergelut di era Orde Baru, tidak membuat mereka takut untuk mengkritik apa yang salah, seperti lagu “Keadilan”, “Reformasi”, maupun “HAM HAM HAM” adalah sedikit diantaranya. “Tidak ada larangan pada waktu itu,” kata Gus Choliq. “Kita hanya berbicara tentang pemerintahan, tidak menyinggung ataupun melanggar aturan,” tandas Rien.

Konsistensi berdakwah dalam musik, mensyiarkan agama, humanis, menyebarkan nilai-nilai kebaikan membuat Nasida Ria mendapatkan penghargaan. Mulai dari penghargaan Pengemban Budaya Islam dari PWI Pusat Jakarta (1989), Penghargaan Seni dari PWI Jateng (1992) sampai Anugrah Keteladanan 2004 dari PPP Jateng (2004).

 

Busana, Fans dan Panggung.

Dari acara satu ke acara lain, dari satu panggung ke panggung lainnya, Pak Zein terus melatih mental para personil Nasida Ria pentas didepan orang banyak. Bukan suatu yang mudah bagi para personil yang notabene perempuan dan anak pesantren.

Untuk mempersiapkan penampilan didepan orang banyak, tidak jarang setiap personil berlatih sesering mungkin. “Karena Bapak (Zein) itu orangnya detail banget,” tutur Rien.

Segala bentuk latihan dilakukan untuk menghasilkan penampilan maksimal diatas panggung, mulai dari latihan musik, berbicara didepan banyak orang, sampai latihan bergaya kala memainkan musik. “Pakai dipan itu dulu saya sering latihan, Pokoknya waktu itu lucu-lucu,” kenang Rien tersenyum.

Tiba dipanggung pertamanya, Nasida Ria mampu tampil dengan cukup sukses, “Salah satu tempat pertama adalah saat acara yang digelar oleh Departemen Agama Kota Semarang,” Gus Choliq berujar. “Hingga berlanjut di Balaikota, kantor Kementerian, sampai di RRI. Lama kelamaan diundang di alun-alun, di masjid masjid besar. Itu sekitar tahun 75an akhir,” ucap Rien mencoba mengingat.

Rasa grogi tak lepas dirasakan setiap personil, kala banyak mata yang menyorot mereka. Manusiawi memang, namun pertunjukan harus tetap dilakukan, panggung harus tetap ditaklukkan. Berdoa adalah salah satu kewajiban yang mereka lakukan, “Doa apa saja pokoknya. Supaya gak dredek (grogi),” kenang Rien sembari tertawa. Ya, doa adalah obat mujarab untuk hilangkan rasa grogi dipanggung.

Nasida Ria semakin mendapat sorotan dari masyarakat, terlebih juga dalam trend berbusana, mereka menjadi trendsetter pada masa itu. Rien mengatakan belum banyak perempuan pakai jarit (kain batik panjang), baju, kerudung sekaligus bermain musik pada saat itu.

Berbondong-bondong wanita mengikuti gaya berbusana Nasida Ria, “Itu sampai di Johar (pasar di Semarang), banyak itu (perempuan) yang nyari jarit Nasida Ria, kerudung Nasida Ria”, ucap Rien. “Padahal saya sendiri tidak punya, karena waktu itu banyak banjir, jadi dulu jarit kita kumpulkan, untuk disumbangkan” beliau lanjut menambahkan. Saking hype nya gaya Nasida Ria dalam berbusana, selain masyarakat umum, grup-grup musik qosidah perempuan lainnya turut terpengaruh oleh mereka.

Ada kesadaran dalam diri mereka untuk mengubah gaya penampilan berbusana, dari yang sebelumnya sedikit terbuka, menjadi lebih tertutup. Selain banyaknya masukan yang diberikan dari para kiai/alim ulama, dan juga efek Nasida Ria yang kian dijadikan salah satu contoh oleh perempuan pada masa itu, sampai hidayah yang diperoleh sehabis pulang berhaji.

“Kita cari model yang lain, sekarang mulai tertutup saja. Kita semua berjilbab, menutup aurat”, ucap Rien. Model baru telah disepakati, Nasida Ria tampil lengkap dengan busana muslim, kerudung, dengan model dan warna yang catchy.

Dari satu album ke album lainnya mendapat sambutan yang baik, lagu-lagu Nasida Ria makin dikenal publik. Job untuk pentas, kian bertambah intensitasnya. “Dalam sebulan manggung bisa 30 kali” ungkap Gus Choliq.

Berbagai kota-kota di Indonesia tidak luput mereka sambangi, mulai dari kota-kota disekitar Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, sampai Ibukota Negara Republik Indonesia, Jakarta.

Berbagai sambutan dari penonton menyambut kedatangan Nasida Ria di berbagai kota, “Semarang, diluar kota juga, apalagi kota di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat”, Rien berujar. Selalu ada ritual khusus sebelum mereka manggung, mereka diarak-arak keliling kota oleh para penonton. “Kita awal datengnya, nanti pas sore kita sudah diarak pake mobil terbuka” ia menambahkan. Bila sudah begitu, penonton langsung mengerubungi dan dapat dipastikan saat pentas sudah berlangsung penonton ramai memadati.

Tidak semua pentas, mempunyai kenangan yang teramat baik. Perilaku penonton yang tak bisa ditebak, atmosfer dari crowd yang berbeda di tiap venue mereka pentas dan aturan mainnya. Ada saja penonton khususnya anak muda yang tidak mendengarkan, meresapi makna lagu, dan dakwahnya. Hanya berjoget saja. Kericuhan dan ribut antar penonton juga dialami. “Saya bilang, tolong mas, Nasida Ria kan qosidah, gausah lah ngadu kekuatan (berantem),” kenang Rien. Ditempat berbeda, lain lagi ceritanya, Gus Chaliq berkata dulu pernah ada yang melempar botol kecil dan mengarah ke dia, dikarenakan request lagu yang diminta tak kunjung dimainkan oleh Nasida Ria, “Untungnya tidak kena,” ujar beliau sembari tertawa.

Selalu ada cerita berbeda dan menarik dari berbagai kota. Mulai dari main di Desa Sanganjaya (daerah Tegal, Jawa Tengah) dan di daerah Dieng dengan sound system yang kurang enak didengar (noise) karena akses jalan yang susah.”Saya sempet tinggal tidur itu karena tidak enak” ucap Gus Choliq. Namun ternyata euforia penonton tetap meriah dan tinggi, “Kekecewaan saya hilang gitu aja, lihat penonton senang, nikmatnya luar biasa,” kata Gus Choliq.

Setiap personil juga memiliki kisah personal tersendiri dengan para fans. Dari mulai ada fans yang banyak memberi bingkisan dan bunga, sampai “Ada juga (personil) yang cinta lokasi waktu manggung, dan sampai sekarang telah menjadi pasangan suami istri,” Rien bercerita sembari tersenyum.

Semua pengalaman dan cerita yang telah dilewati mereka jadikan pelajaran dalam berseni dan dakwah di Nasida Ria. Hingga datanglah sebuah kesempatan, dari seringnya pentas di berbagai kota, konsistensi dalam berkarya, dan dukungan dari berbagai pihak, Nasida Ria mendapat undangan untuk pentas di Kerajaan Malaysia pada tahun 1988, dalam rangka memperingati 1 Muharam.

Dibulan Maret tahun 1994 atas undangan Haus de Kulturen der Welt (Lembagai Kebudayaan Jerman) dalam event yang bertajuk Die Garten des Islam (Pameran Islam Dunia), Nasida Ria menjadi perwakilan Indonesia dalam event tersebut.

Selang 2 tahun, Juli 1996 Nasida Ria kembali berangkat ke Jerman dalam rangka Festival Heimatklange ’96 “Sinbad Travel”, mereka juga melakukan tur di beberapa kota, mulai dari Reclinghausen, Mulheim, sampai Dusseldorf. ”Kita seneng banget waktu itu,” kenang Rien. Menurut beliau, orang Jerman itu tidak peduli mereka dari mana, asal usul mereka, ada musik seperti ini mereka joget. Waktu itu selain lagu Nasida Ria, mereka menyelipkan pula lagu “Kopi Dangdut” dalam setlist nya. “Wah lagu itu diulang-ulang, orang senengnya bukan main itu,” tambahnya.

Hingga kini Nasida Ria, masih tetap eksis sebagai grup musik qosidah modern. Walau sempat mengalami fase kesunyian, di medio 2000an. RRReC Festival dapat disebut sebagai salah satu faktor ramainya kembali Nasida Ria diperbincangkan, bahkan melebarkan pasar pendengar mereka hingga sampai ke telinga generasi muda, ABG sampai para hipster indie.

Setelah menjadi salah satu headliner dalam event RRReC Fest pada tahun 2016, mendapat kesan istimewa tersendiri oleh Nasida Ria. “Banyak orang yang dulunya tidak kenal jadi kenal, yang dulunya tidak suka jadi suka,” Rien berkata.

Begitupun dengan fenomena ditahun 2017 akhir, dimana banyak meme yang diambil dari video lagu Nasidaria di kanal Youtube, sampai lagu “Wanita Kampret” (Lagu aslinya berjudul “Wajah Ayu Untuk Siapa”).

Rien berujar wanita boleh berdandan berhias dengan sepantasnya, namun juga perlu untuk menjaga diri. Kemudian, dia menambahkan “Ya kecantikan wanita itu kan untuk suami, jadi jangan sampai hanya dimanfaatkan oleh para lelaki yang hanya mengambil keuntungan demi penuhi hasrat” (dianalogikan seperti kampret yang habis memakan sedikit mangga dipohon, lalu ditinggalkan ternoda).

Terlepas dari itu, personil Nasida Ria tidak terlalu ambil pusing begitupun dengan Rien Jamain sebagai salah satu personil dari generasi awal Nasida Ria terbentuk, pun ia banyak berterimakasih kepada remaja-remaja sekarang ini yang mau mendengarkan lagu qosidah. “Sekarang Alhamdulillah,” ucap Rien.

Hingga sekarang Nasida Ria masih tetap ada, berkarya, dan tetap eksis ditengah masyarakat Indonesia. Terlalu besar namanya untuk sebuah grup musik terlebih qosidah modern yang sudah berkarya selama 43 tahun lamanya. Ada baiknya selalu perhatikan pepatah yang berbunyi “makin tinggi pohon maka akan semakin kencang angin yang menerpa”. Bisa berlaku juga di Nasida Ria, namun yang perlu diingat adalah salah satu pesan yang diberikan oleh seorang panutan mereka, diantaranya Rhoma Irama. Ia berkata : tetap jaga kerukunan dan kekompakan, dan bila ada masalah selalu selesaikan dengan bermusyawarah. ”Semoga semua dimudahkan oleh Allah SWT, Insha Allah,” tutup Rien dengan penuh harap.

 

 

Reportase        : Musa Hakam, Dipto, Fakhri, dan Dirham

Penulis             : Dirham Rizaldi

Editor              : Musa Hakam

Siapkan Album Mini, Provokata Rilis “Manusia X Tuhan”

Jalan pembuka berupa mini album yang akan dirilis dalam waktu dekat.

 

Longlifemagz – Setelah perilisan album Catatan dari Sudut Kota pada 2014 lalu, pundi karya yang dimiliki Provokata dapat dikatakan kering. Berdasarkan latar belakang itu, mereka pun berupaya mengumpulkan satu demi satu lagu untuk menindaklanjuti proses kreatif selama berada di dalam studio. Pada akhir 2015, Provokata merekam dua lagu yang diproyeksikan untuk album kedua, berjudul “Vox Acta Diurna, Vox Dei” dan “Silenus (27:2)”. Namun, dua lagu itu malah termaktub dalam album kompilasi And No One Can Prevent This Rage to Born! (Stonedzombies, 2016).

Sindikat pseudo-grindcore asal Semarang yang beranggotakan Galang Aji Putro (vokal), Gagas Agung Sedayu (gitar), Vivid Wicaksono (bass), dan Rudy Kusdiyanto (dram) itu pun tampak “terganggu” dengan situasi yang mereka ciptakan sendiri. Pada akhir 2016, mereka melanjutkan sesi perekaman untuk proyek album mini secara nyata. Kabarnya, proyek album mini itu akan dirilis menjelang akhir 2017. Sebagai pemanasan, Provokata memperkenalkan salah satu lagu yang nantinya terdapat dalam album mini itu, berjudul “Manusia X Tuhan”. Terhitung sejak Minggu (19/11/2017) Provokata resmi meluncurkan lagu itu melalui kanal Bandcamp mereka.

“Manusia X Tuhan” merupakan representasi sebuah klaim terhadap kebenaran hakiki. Provokata memandang adanya upaya dan gelagat kelompok masyarakat hari ini yang berusaha keras memaksakan kebenaran sesuai dengan perspektif satu pihak saja. “Kami berusaha memahami bahwa segala keyakinan merupakan pengalaman pribadi yang tak harus dipandang dari mata yang sama,” ujar Galang.

Bagi mereka, ada pertanyaan arkais yang pernah diajukan, bahkan setua langit. “Lebih dahulu mana dalam proses penciptaan; siapa menciptakan siapa? Lalu, kepada siapa doa-doa yang terlantun itu ditujukan; kepada kebenaran absolut ataukah kepada pembenaran terhadap ego manusia?” Gagas menimpali. Segala kelam dan keresahan tersebut—kata-kata yang kemudian dirakit merupa serapah—dirapal Provokata di sepanjang arteri dan vena sehingga mengotori pembuluh-pembuluh itu. (*)

 

Photo by doc. Provokata

 

 

 

 

 

Salah satu media digital yang membahas berita seputar lifestyle remaja terkini.

FIND US ON

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.

 

Pin It on Pinterest