1


BENCI TAPI RINDU, PERJALANAN DANGDUT YANG BERLIKU

Illustration by tirto.id

Mulai dari akulturasi musik,  polemik “tai anjing” sampaI keberhasilan memikat hati rakyat.

 

Longlifemagz – Dunia sudah berkembang, Proyek MRT (Mass Rapid Transit) yang tadinya mangkrak sekarang sudah terpampang. Dunia musik juga demikian, dari bajakan sampai orisinil, dari piringan hitam sampai spotify. Terlebih, perjalanan musik ter-khusus dangdut di Indonesia juga sangat mencekam, harus jauh-jauh kembali pada era 1970-an, ketika Benny Soebardja salah satu musisi Rock Progresive menyatakan dangdut adalah “Musik tai anjing”. Setidaknya kita harus bisa membayangkan bagaimana Musik Dangdut rela terhakimi dengan nuansa rock yang lagi jaya-jayanya pada masa itu.

Akar sejarah dangdut bisa ditarik jauh lebih ke belakang, mengutip Buku Dangdut: Musik, identitas, dan budaya Indonesia (2012), Weintrub mengatakan bahwa leluhur melayu musik dangdut adalah orkes keliling dari Malaya (Malaysia) yang berlabuh ke Pulau Jawa pada 1980-an. Orkes ini memainkan banyak jenis musik dari Melayu, Tiongha, India, Timur Tengah, sampai Eropa.

Tercatat pada dekade 1930-an, Pulau Jawa masih menjadi pergulatan pertama dalam perjalanan Orkes keliling, tidak lama kemudian mereka melakukan perjalanan menuju pulau Sumatra. Pada masa itu, Sumatra menjadi pasar musik yang paling bergairah. Promosi mereka juga tidak sebatas di Indonesia saja, namun karena banyak penyanyi yang bermain di Malaya hingga singapura, sehingga terjadinya akulturasi budaya secara alamia.

Pada 1930-an, radio berpengaruh besar terhadap popularitas tiga jenis musik yang jadi pondasi awal dangdut: Orkes Harmonium, Orkes gambus dan Orkes melayu.

Orkes Harmonium disebut – sebut juga sebagai asal usul musik dangdut. Harmonium sendiri juga adalah nama alat musik sejenis organ asal Eropa yang masuk melalui India dan menyebar ke banyak negara. Sebenernya tidak jauh berbeda ketika membahasa Orkes harmonium (OH) dengan membahas Orkes Melayu. Bahkan beritanya, pada era 1940an perkembangan musik OH juga kian meredup, dan beberapa aktornya melabeli dirinya dengan Orkes Melayu bukan OH lagi.

Pondasi dangdut yang kedua datang dari Orkes Gambus, Musik yang dimainkannya adalah musik ala Timur Tengah, mengandalkan alat musik gambus serta kendang – kendang bermembran sederhana, atau biasa dikenal dengan musik marawis.

Poin penting dalam Orkes Gambus adalah Syech Albar (merupakan ayah dari Ahmad Albar, voc. Duo Kribo, God Bless). Surabaya, sebagaimana yang sudah diberitakan, menjadi lokasi pertama lahirnya musik gambus di Indonesia. Isu – isu yang di dengar, Syech Albar harus jauh–jauh berguru ke negeri tempat dimana musik gambus di populerkan, Yaman. Perjalanan Albar tidak terbuang percuma, ditahun 1931 alunannya sudah direkam dengan piringan hitam “His Master Voice”. Jalan rintisannya kemudian diteruskan dari beberapa Orkes Gambus dari berbagai daerah yang muncul setelah mencuatnya musik gambus di Indonesia.

Dan yang terakhir dari perkembangan musik dangdut di Indonesia adalah musik Melayu. Orkes Melayu atau biasa disingkat dengan O.M mencoba merangsek masuk di tengah arus musik Rock tanah air. Meleburkan musik gambus dengan kebudayaan India, dan Melayu mampu menerbikan group semacam O.M Sinar Medan yang sangat trend pada masa itu.

Orkes Melayu juga semakin berkembang, sebenernya yang jelas terjadi adalah akulturasi secara alamiah antara Melayu, India, Arab bahkan Eropa. Hal ini sebenarnya yang menjadi cikal bakal musik dangdut lahir di Indonesia.

Labeling nama dangdut sendiri masih menimbulkan perdebatan. Dangdut sejatinya baru lahir ketika era 1970-an. Menurut sumber, nama dangdut merupakan Onomatope (sekelompok kata yang menirukan bunyi) kendang : dang-dut. Dalam majalah tempo edisi 5 Mei 1979, Said Effendi, pimpinan OM Sinar Agung, mengatakan bahwa istilah dangdut “muncul karena perasaan sinis dari mereka yang anti musik melayu.” Sebenernya disini bisa disimpulkan bahwa kata “Dangdut” adalah kalimat ejekan terhadap pencinta musik melayu.

Atau kembali ke asumsi Weintraub bahwa istilah dangdut dipopulerkan oleh majalah musik Aktuil. Namun dalam wawancaranya dengan Meggy Z, Mansyur S dan Dadang S, istilah dangadut jadi popular berkat jasa Bung Mangkudilaga, salah satu penyiar radio yang kerap mempromosikan musik dangdut di Radio Agustina, Tanjung Priok, Jakarta pada dekade 1973 – 1974.

Orkes Melayu semakin kuat, setelah namanya dipermudah penyebutannya menjadi dangdut. Selain itu liriknya yang dekat dengan masyarakat menjadi utama mengapa musik dangdut banyak disukai beberapa golongan masyarakat. Bak seperti hiburan murah di tengah transisi sebuah bangsa, dangdut lahir dengan membawa manifesto dangdut. Ialah musik untuk rakyat kecil, rakyat jelata, atau bahkan rakyat yang terpinggirkan secara sosial dan ekonomi.

Sampai disini harusnya kita sepakat bahwa musik dangdut adalah transformasi dari Irama Melayu yang sudah di kenal sebelumnya. Tidak heran, jika cengkok suara yang aduhay sampai suara suling yang sederhana menjadi bahan utama dalam penyajian musik dangdut. Kita bisa mendengar beberapa karya dari O. M Sinar Medan, O. M Gupusta Ria, hingga O. M Irama Agung yang dikenalkan oleh Said Effendi.

Bahkan jauh sebelum itu, mengutip dalam 100 Tahun Musik Indonesia (2006), Indonesia telah memiliki sosok yang tersohor sebagai penyanyi Melayu, seperti Emma Gangga, Hasnah Thahar, Djuhana Satar dan banyak lagi sosok yang berkecimpung di dunia Melayu.

 


FIND US ON

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.

 

Pin It on Pinterest