1


20 Tahun Reformasi: Beberapa Karya Yang Dibelenggu

 

Photo doc. Kompas

Era pra-Reformasi dan rezim Orde Baru menjadi jalan gelap untuk beberapa musisi.

 

Longlifemagz – Tepat tanggal 21 Mei 1998, Soeharto akhirnya turun dari jabatannya sebagai Presiden. Buah dari tuntutan dan unjuk rasa berbagai lapisan masyarakat Indonesia yang dilakukan secara masif ini berhasil menumbangkan kekuasaan “The Smiling General” yang sudah terlalu nyaman berkuasa selama 32 tahun.

Enam tuntutan sekaligus dilayangkan mengecam kesewenang-wenangan beliau selama berkuasa, mulai dari penegakan supremasi hukum, pemberantasan KKN, mengadili Soeharto dan kroninya, pencabutan Dwifungsi TNI/ Polri, pemberian otonomi daerah seluas-luasnya, sampai amandemen konstitusi yang di dalamnya terdapat hak dalam mengemukakan pendapat.

Soeharto sebagai presiden terkesan menganggap negara sebagai rumah, dimana terdapat bapak, ibu, maupun anak. Dan peran bapaklah yang diambil oleh Soeharto, tentunya sebagai bapak yang otoriter dan terkesan bertindak represif, demi tercapainya sistem tata negara sesuai visi misinya. Oleh karenanya, tidak jarang ekspresi, aspirasi, bahkan kritik masyarakat yang dianggap bertolak belakang dengan dalih cita-cita pembangunan yang telah ia rancang, akan tidak didengarkan, ditolak, atau bahkan dibalas dengan tindakan yang tak jarang melibatkan fisik didalamnya.

Tak ada pihak yang mampu bersembunyi darinya dibawah matahari. Begitupun para musisi sebagai segelintir bagian dari masyarakat bila melakukan tindakan yang bertolak belakang sesuai wacana yang telah dibangun oleh pemerintah akan pula menerima akibatnya, minimal merasa diawasi aktivitasnya oleh aparat yang berwenang.

Dalam memperingati 20 tahun reformasi Indonesia, Longlifemagz akan memberikan beberapa contoh karya para musisi yang dicekal akibat terlalu vokal dalam mengkritik rezim Orde Baru.

 

Iwan Fals yang Diinterogasi

Iwan Fals adalah salah satu musisi yang konsisten menyuarakan masalah-masalah sosial yang terjadi dan mendokumentasikannya dalam lirik-lirik lagunya. Sederet lagu, baik dari album solo maupun bersama grup Kantata Takwa dan Swami bernuansa protes sosial disajikannya lewat beberapa karya, diantaranya “Bongkar”, “Bento”, “Kesaksian”, “Ambulance Zig-Zag”, “Sugali” dan “Wakil Rakyat”.

Tidak hanya moral maupun kesewenangan pemerintah Soeharto yang diprotes Iwan, Kebobrokan dan masalah di sektor transportasi juga dijadikan bahan celotehannya. Misalnya, tentang musibah kapal Tampomas II di perairan Masalembo karena mendayagunakan kapal bekas pada lagu “Celoteh Camar Tolol dan Cemar”, ada juga tentang musibah kereta api Bintaro yang akhirnya dijadikan judul album yang dirilis setahun setelah tragedi tersebut, yakni 1910

Aktivitas bermusik yang dilakukan oleh Iwan pun akhirnya dimonitor ketat oleh pemerintah, sampai puncaknya adalah pencekalan dan larangan mengadakan tur di berbagai kota. Selain itu, Iwan Fals juga pernah berurusan dengan pihak berwajib, ia pernah diinterogasi selama 14 hari saat konser di Pekanbaru, dengan tuduhan menghina negara dan ibu negara akibat lagu “Demokrasi Nasi” dan “Mbak Tini” yang dibuatnya.

 

Rhoma Irama dan Pencekalan

Dibalik tema lagu cinta, moral, dan dakwah agama, dangdut melalui sang raja dangdut Rhoma Irama membahas pula tentang kritik dan masalah sosial, itu yang membuat pihak pemerintah gerah. Terlebih pada waktu itu Rhoma Irama adalah idola masyarakat umum, dengan musik yang sepopuler itu mampu menggerakkan massa ratusan ribu orang.

Baca : Raja Dangdut, Polemik Dakwah, Musik, dan Goyang

Banyak lagu Rhoma yang vokal menyuarakan masalah sosial dan tak jarang diantaranya menyentil pihak penguasa. Seperti misalnya “Hak Asasi” yang berbicara tentang adanya hak-hak asasi setiap manusia. Selain itu “Rupiah”, lagu yang berbicara tentang pendewaan orang-orang akan uang dan menggunakan berbagai cara untuk mendapatkannya.

Lagu “Rupiah” dicekal oleh pemerintah karena  menurut mereka liriknya mengandung hinaan terhadap mata uang nasional. Seperti yang dikutip dalam Lifestyle Ecstasy : Kebudayaan Pop Dalam Masyarakat Komoditas Indonesia. Lagu ini dilarang di televisi, dan menurut sejumlah pedagang kaset, kasetnya di singkirkan secara halus terutama karena tekanan pemerintah.

 

Elpamas dan Pak Tua-nya

Dekade 80-an merupakan rentang tahun dimana banyak band rock berkualitas yang bermunculan. Salah satu penyebabnya adalah diselenggarakannya Festival Rock se-Indonesia yang diprakasai oleh Log Zhelebour, seseorang yang mempunyai peran dalam memajukan musik rock di tanah air. Berkat festival tersebut makin banyak terpantau band-band rock baru bermunculan dan mendapat atensi publik. Elpamas adalah satu di antara band rock berkualitas tersebut.

Salah satu lagu yang mengantarkan Elpamas makin di kenal publik adalah “Pak Tua”, lagu kontroversial yang bercerita tentang penguasa tua yang belum juga pensiun. Lewat lagu itu pula Elpamas sempat mendapatkan pencekalan akibat dituduh menghina penguasa, dalam hal ini Soeharto.

 

Pop Mendayu Yang Mengancam

Tidak hanya lagu yang mengkritik secara langsung terhadap rezim, lagu dengan lirik yang cengeng dan musik yang mendayu-dayu tak luput dari incaran pemerintah. Ada lagu Hati Yang Luka” yang dipopulerkan oleh Betharia Sonata. Kemudian, “Gelas-Gelas Kaca” buatan Rinto Harahap yang dinyanyikan oleh Nia Daniati turut pula dikomentari oleh Menteri Penerangan kala itu, Harmoko.

Lagu bernada cengeng dituding oleh pemerintah melalui Deperteman Penerangan sebagai lagu yang melemahkan sekaligus mematahkan semangat dan tidak berjiwa pembangunan seperti yang didengung-dengungkan dalam jargon ekonomi pembangunan pada era orde baru. Menurut beliau, lagu tersebut adalah lagu ratapan patah semangat berselera rendah dan menghimbau agar lagu kelas krupuk dan cengeng seperti itu dihentikan penayangannya.

Dalam penelitian Irfan R. Darajat yang diunggah dalam website JurnalRuang juga menyebutkan banyak indikasi hal itu terjadi diantaranya karena dapat mengguncang imaginasi keluarga bahagia Orde Baru yang dibayangkan oleh negara.

 

 

 

Selain project serabutan, mencoba peruntungan pula sebagai penulis lepas, buruh event, dan usaha kecil clothing.

RAJA DANGDUT, POLEMIK DAKWAH, MUSIK, DAN GOYANG

Photo by Liputan 6

Berdakwah lewat dangdut dan bergoyang mendengar dangdut.

 

Longlifemagz -Tahun 70-an menjadi tahun pendobrak bagi musik dangndut. Oma Irama atau dikenal dengan nama Rhoma Irama menjadi pionir pertama yang mengoplos musik rock kedalam musik yang ia kombinasikan, dandut. Musisi muda nan ambisius itu disekitar tahun yang sama juga mendirikan O.M Soneta. Tidak lupa, ia mengajak Elvy Sukaesih sebagai temannya bernyanyi. Sekiranya tahun 1971 menjadi titik awal Rhoma berkiprah di industri musik Indonesia.

Penampilannya sangat flamboyan, dengan pengaruh musik rock dari barat, lirik moralis nan agamis, ditambah goyangan estetis dengan gerakan sopan namun tetap berpola, menjadi nilai tambah dalam membangun musik dangdut.

Rhoma Irama masih menjadi nama yang pas ketika semua orang mambahas tentang dangdut. Sebagai musisi dangdut, Rhoma teristimewakan karena punya akar musikalitas yang berbeda ketimbang penyanyi dangdut yang lain. Meski Rhoma kecil suka berdendang musik india, kian besar ia tumbuh dengan musik rock.

Disini kita sepakat bahwa ada dua arus besar di dalam dunia musik pada era tersebut. Dalam pemberitaan Aktuil No. 200 tahun 1976, salah satu penggemar Rhoma Irama marah karena pegiat rock (Benny Soebardja) menyebut dangdut sebagai musik tai anjing.

Belakangan Benny sudah meminta maaf secara langsung kepada Rhoma. Namun pertikaian tidak selesai sampai disitu. Kalau kita amati lebih detail film – film Rhoma akhir 70-an sampai awal 80-an sangat sering menggambarkan musisi rock sebagai berandalan, belum lagi pengaruh pertikaian itu terhadap penggemarnya masing – masing.

Melabeli sosok Rhoma Irama sebagai pionir dalam meleburkan musik dangdut dan rock sangat sederhana. Kita harus mencoba menelusuri kembali masa awal, bagian mengoplos rock ini tampak jelas pada awal karier.

Pada saat itu Rhoma menenteng gitar Fender putih yang mengesankan terpengaruh Ritchie Blackmore dari Deep Purple hingga peralihan Steinberger hitam andalannya.

“Rhoma banyak melakukan persilangan. Sebuah crossover yang memperkaya anasir musik dangdut itu sendiri. Rhoma melakukan perubahan besar – besaran pda semua aspek dengan melakukan elektronisasi. Unsur gitar dan drum yang menjadi ciri musik rock, begitu kental mewarnai musik dangdut ini.” tulis Shofan dalam Rhoma Irama: Politik Dakwah Dalam Nada (2014).

Tidak bisa dipastikan bagaimana musik dangdut menggeser musik rock pada masa itu. Tetapi yang sudah sangat valid, teradpat dua arus besar di Indonesia. Dangdut semakin mencuat namanya dengan kemunculan aktor-aktor dangdut seperti Rita Sugiarto, Elvy Sukaesih, Meggy Z, sampai Camelia Malik.

Musik dangdut terus berkembang, Rhoma terus diangkat namanya menjadi ikon. Bak presiden musik dangdut, masyarakat melabeli dirinya dengan Raja Dangdut. Bendera Soneta terus berkibar, dengan manifesto berdakwah melalui musik, Rhoma terus merangkul group yang berlandaskan islami, seperti Nasidaria diantaranya. Platform terus dibangun sang raja dangdut sampai melewati masa keemasannya.

Baca :

Benci Tapi Rindu, Perjalanan Dangdut Yang Berliku

43 Tahun Nasidaria: Dakwah Dengan Riang Gembira

Berlahan tapi pasti segala pakem yang dibangun sang raja akhirnya mulai terkikis. Indonesia mulai teracuni musik koplo. Ah persetan apalagi itu koplo. Sang raja gamang bukan kepalang, kemunculan musik koplo seperti merusak trivium yang ia bangun.

Penampilan musik koplo yang kental dengan kata “seronok” menjadi penyebabnya. Sang raja sepertinya selalu meletakan di posisi yang sama antara agama, dengan politik dan dagdut.

Orkes dangdut koplo menjadi lawan yang seimbang untuk ini. Muncul ketika masa orde baru berakhir, daerah pantura menjadi bukti pertama orkes koplo melejit. Siapa yang tidak tahu O.M Pallapa (1998), O.M Monata (1999) yang terkenal dengan karena penyanyi mereka, Via Vallen, hinnga O.M Serra (2003) yang berasal dari nganjuk, Jawa Timur.

Besar didaerah pantura, koplo terus menyombongkan diri tanpa harus masuk kedalam pusaran Ibu Kota. Koplo yang bersifat organik, terus membangun masa keemasannya sendiri. Musik dangdut koplo terlalu idealis dengan membawa slogan musik rakyat, musik kaum urban, musik rakyat kecil dan sebagainya.

Untuk mengimplementasikan itu, dangdut koplo tidak perlu jauh-jauh ke wilayah barat. Namanya terus berkembang di wilayah pesisir timur seperti Rembang, Semarang, Pati, Surabaya, Jombang dan sebagainya.

Namun, kecanggihan informasi dan teknologi tidak mampu membendung idealis dari dangdut koplo. Lewat inul, dengan ciri goyang “ngebor” dangdut koplo tembus pasar nasional, dan diwaktu yang sama Inul sukses dengan album yang bertajuk goyang ngebor.

Kesukses besar diraih, tapi tidak membuat “Biduanita” ini tenang. Protes keras datang dari Sang Raja secara bertubi-tubi. Protes dilayangkan kepada inul juga kepada biduanita lain di daerah pantura. Kehadiran dangdut koplo di klaim merusak iklim musik dangdut “tertib dan terkontrol” yang sudah di bangun Sang Raja.

Salah satu meradangnya sang raja adalah, inul dan biduanita datang dengan arah berlawanan dari sang raja. Mereka datang dengan busana yang ketat, memiliki goyangan yang arbitrer, dan terpaku kepada gerak khas tertentu, seperti goyang ngebor, ngecor, gergaji dan banyak nama nyentrik yang asik dan kadang vulgar.

Yang lebih menarik dari ini, protes juga tidak datang hanya dari banyak sepupuh – sepupuh dangdut, melainkan dari masyarakat. Seperti terjadi panik moral, seakan – akan di hindari, tetapi beberapa stasiun televisi malah terus mengamati dan menjadi tidak asing di khalayak.

Media menjadi cikal bakal ketegangan antara sang raja dengan Inul. Penampilan inul di televisi membuat sang raja menghimpun PAMMI–Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia– untuk memboikot sang Ratu Ngebor tersebut dengan dalih Joged yang terlalu vulgar.

Merasa terdesak dan menghormati sang raja, di tahun yang sama, Inul mengunjungi sang raja, bukan maksud apa-apa hanya sebatas sowan belaka. Belakangan terdengar bahwa sang raja terus menasihati sang ratu ngebor dengan beberapa dakwah, dan mengaitkan tindakan kriminalitas seperti pemerkosaan, pelecehan seksual yang diakibatkan pertunjukannya inul di VCD maupun di panggung.

Sedikit otoriter sang raja memaksa Inul untuk mengikuti jejak penyanyi perempuan seperti Ikke Nurjanah, Iis Dahlia, Cici Paramida dan sebagainya. Mereka adalah penyanyi yang sukses di era ketika sang raja berkuasa.

Inul resah, kurun waktu 2003 – 2006 perubahan terjadi sangat signifikan. Inul mulai menghilangkan goyang ngebornya. Tidak hilang, sebatas mengurangi intesitas dan ditutupi dengan busana glamour a la eropa.

Sang Raja Masih kepanasan, di tahun 2006, ketika komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat menggelar rapat untuk membahas Rancangan Undang Undang (RUU) anti pornografi dan pornoaksi, Sang Raja, Inul dan beberapa artis lainnya turut diundang untuk memberi masukan.

Dalam kesempatan tersebut, sang raja kembali bercerita tentang goyang ngebor. Menurut sumber, “goyang ngebor Inul sudah termasuk bagian dari pornoaksi yang dilarang. Goyang sensasional itu tidak boleh dilakukan, karena menimbulkan keresahan dan syahwat penonton” ujar sang raja dalam masukannya. Alhasil, RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi tahun 2006 terbentuk, dan ditetapkan. Sang raja masih begitu kuat bahkan dalam dunia sekaliber pemerintahan.

Rasa – rasanya tidak cukup membahas Sang Raja Dangdut hanya dengan beberapa lembar tulisan. Dengan nama besarnya, sang raja sangat mendambakan budaya dangdut yang sederhana. Meskipun trivium yang sudah ia buat semakin terkikis oleh perkembangan. Alih – alih mempertahankan, sanga raja membentuk Partai Idaman. Tampaknya, sang raja tahu betul begitu banyak loyalis soneta, selama ia berkarya kurang lebih setengah abad.

Biarkan ketegangan musik dangdut koplo dan musik dangdut, menjadi cerita yang paling romantis di masa perkembangan budaya musik popular terkhusus dangdut di Indonesia. Kita harus sepakat bahwa “dangdut is the music of my country,” Sang Raja memang sangat berjasa dalam merangseknya musik dangdut di tanah air, pondasi identitas yang dibentuk sang raja juga diamini oleh beberapa penonton dan pegiat dangdut pada masa itu bahkan saat ini.

Pada hakikatnya, sang raja pun tidak mampu membendung proses ini. Proses urbanisasi kebudayaan tepatnya. Setelah bertahun – tahun seusai konflik dengan Inul Daratista, dangdut koplo tidak mati, malah terus mewabah hingga ke lapisan masyarakat, tidak mengenal kelas bahkan gender.

Dangdut yang sangat indentik dengan musik rakyat menengah ke atas, sekarang mampu menembus pasar. Kita harus akui keseriusan itu terlihat, di beberapa stasiun TV Lokal dengan tajuk “Liga dangdut”, belum lagi yang menggaet dangdut sebagai komunikasi dengan masyarakat.

BENCI TAPI RINDU, PERJALANAN DANGDUT YANG BERLIKU

Illustration by tirto.id

Mulai dari akulturasi musik,  polemik “tai anjing” sampaI keberhasilan memikat hati rakyat.

 

Longlifemagz – Dunia sudah berkembang, Proyek MRT (Mass Rapid Transit) yang tadinya mangkrak sekarang sudah terpampang. Dunia musik juga demikian, dari bajakan sampai orisinil, dari piringan hitam sampai spotify. Terlebih, perjalanan musik ter-khusus dangdut di Indonesia juga sangat mencekam, harus jauh-jauh kembali pada era 1970-an, ketika Benny Soebardja salah satu musisi Rock Progresive menyatakan dangdut adalah “Musik tai anjing”. Setidaknya kita harus bisa membayangkan bagaimana Musik Dangdut rela terhakimi dengan nuansa rock yang lagi jaya-jayanya pada masa itu.

Akar sejarah dangdut bisa ditarik jauh lebih ke belakang, mengutip Buku Dangdut: Musik, identitas, dan budaya Indonesia (2012), Weintrub mengatakan bahwa leluhur melayu musik dangdut adalah orkes keliling dari Malaya (Malaysia) yang berlabuh ke Pulau Jawa pada 1980-an. Orkes ini memainkan banyak jenis musik dari Melayu, Tiongha, India, Timur Tengah, sampai Eropa.

Tercatat pada dekade 1930-an, Pulau Jawa masih menjadi pergulatan pertama dalam perjalanan Orkes keliling, tidak lama kemudian mereka melakukan perjalanan menuju pulau Sumatra. Pada masa itu, Sumatra menjadi pasar musik yang paling bergairah. Promosi mereka juga tidak sebatas di Indonesia saja, namun karena banyak penyanyi yang bermain di Malaya hingga singapura, sehingga terjadinya akulturasi budaya secara alamia.

Pada 1930-an, radio berpengaruh besar terhadap popularitas tiga jenis musik yang jadi pondasi awal dangdut: Orkes Harmonium, Orkes gambus dan Orkes melayu.

Orkes Harmonium disebut – sebut juga sebagai asal usul musik dangdut. Harmonium sendiri juga adalah nama alat musik sejenis organ asal Eropa yang masuk melalui India dan menyebar ke banyak negara. Sebenernya tidak jauh berbeda ketika membahasa Orkes harmonium (OH) dengan membahas Orkes Melayu. Bahkan beritanya, pada era 1940an perkembangan musik OH juga kian meredup, dan beberapa aktornya melabeli dirinya dengan Orkes Melayu bukan OH lagi.

Pondasi dangdut yang kedua datang dari Orkes Gambus, Musik yang dimainkannya adalah musik ala Timur Tengah, mengandalkan alat musik gambus serta kendang – kendang bermembran sederhana, atau biasa dikenal dengan musik marawis.

Poin penting dalam Orkes Gambus adalah Syech Albar (merupakan ayah dari Ahmad Albar, voc. Duo Kribo, God Bless). Surabaya, sebagaimana yang sudah diberitakan, menjadi lokasi pertama lahirnya musik gambus di Indonesia. Isu – isu yang di dengar, Syech Albar harus jauh–jauh berguru ke negeri tempat dimana musik gambus di populerkan, Yaman. Perjalanan Albar tidak terbuang percuma, ditahun 1931 alunannya sudah direkam dengan piringan hitam “His Master Voice”. Jalan rintisannya kemudian diteruskan dari beberapa Orkes Gambus dari berbagai daerah yang muncul setelah mencuatnya musik gambus di Indonesia.

Dan yang terakhir dari perkembangan musik dangdut di Indonesia adalah musik Melayu. Orkes Melayu atau biasa disingkat dengan O.M mencoba merangsek masuk di tengah arus musik Rock tanah air. Meleburkan musik gambus dengan kebudayaan India, dan Melayu mampu menerbikan group semacam O.M Sinar Medan yang sangat trend pada masa itu.

Orkes Melayu juga semakin berkembang, sebenernya yang jelas terjadi adalah akulturasi secara alamiah antara Melayu, India, Arab bahkan Eropa. Hal ini sebenarnya yang menjadi cikal bakal musik dangdut lahir di Indonesia.

Labeling nama dangdut sendiri masih menimbulkan perdebatan. Dangdut sejatinya baru lahir ketika era 1970-an. Menurut sumber, nama dangdut merupakan Onomatope (sekelompok kata yang menirukan bunyi) kendang : dang-dut. Dalam majalah tempo edisi 5 Mei 1979, Said Effendi, pimpinan OM Sinar Agung, mengatakan bahwa istilah dangdut “muncul karena perasaan sinis dari mereka yang anti musik melayu.” Sebenernya disini bisa disimpulkan bahwa kata “Dangdut” adalah kalimat ejekan terhadap pencinta musik melayu.

Atau kembali ke asumsi Weintraub bahwa istilah dangdut dipopulerkan oleh majalah musik Aktuil. Namun dalam wawancaranya dengan Meggy Z, Mansyur S dan Dadang S, istilah dangadut jadi popular berkat jasa Bung Mangkudilaga, salah satu penyiar radio yang kerap mempromosikan musik dangdut di Radio Agustina, Tanjung Priok, Jakarta pada dekade 1973 – 1974.

Orkes Melayu semakin kuat, setelah namanya dipermudah penyebutannya menjadi dangdut. Selain itu liriknya yang dekat dengan masyarakat menjadi utama mengapa musik dangdut banyak disukai beberapa golongan masyarakat. Bak seperti hiburan murah di tengah transisi sebuah bangsa, dangdut lahir dengan membawa manifesto dangdut. Ialah musik untuk rakyat kecil, rakyat jelata, atau bahkan rakyat yang terpinggirkan secara sosial dan ekonomi.

Sampai disini harusnya kita sepakat bahwa musik dangdut adalah transformasi dari Irama Melayu yang sudah di kenal sebelumnya. Tidak heran, jika cengkok suara yang aduhay sampai suara suling yang sederhana menjadi bahan utama dalam penyajian musik dangdut. Kita bisa mendengar beberapa karya dari O. M Sinar Medan, O. M Gupusta Ria, hingga O. M Irama Agung yang dikenalkan oleh Said Effendi.

Bahkan jauh sebelum itu, mengutip dalam 100 Tahun Musik Indonesia (2006), Indonesia telah memiliki sosok yang tersohor sebagai penyanyi Melayu, seperti Emma Gangga, Hasnah Thahar, Djuhana Satar dan banyak lagi sosok yang berkecimpung di dunia Melayu.

 


FIND US ON

ABOUT US

Longlife Magazine merupakan salah satu media digital seputar lifestyle remaja terkini. Kami memiliki beberapa rubrik mengenai lifestyle, event terkini, dan cerita inspirasi  dari para pelaku industri kreatif yang menarik untuk kalian ikuti.

Media ini diterbitkan sejak Februari 2015 sebagai media alternatif, efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi bagi para pembacanya.

 

Pin It on Pinterest